Chrisye 65 tahun

Posted: September 16, 2014 in Opini

Tadi pagi saat Jakarta diterpa kemacetan dengan sengatan mentari yang merebak ,sayup-sayup suara lirih Chrisye menyeruak dari beberapa radio swasta.Mulai lagu dari era paruh 70an hingga awal 90an, bagaikan sebuah retropeksi perjalanan panjang musik Chrisye.Ternyata hari ini 16 September adalah hari kelahiran Chrisye, pemusik dan penyanyi populer Indonesia yang telah merengkuh hampir tiga dekade khazanah musik Indonesia.Jika masih hidup,lelaki bernama Christian Rahadi yang dilahirkan 16 September 1949, hari ini berusia 65 tahun.Dan saya yakin jika Chrisye masih hidup, dia masih tetap eksis dalam gugus musik Indonesia.

chrisye

Kedigdayaannya dalam musik memang tak usah diperdebatkan lagi.Metamorfosa musikal yang ditapaki Chrisye menghadirkan dan mengimbuh pelbagai warna dalam karya-karyanya.Saya kira,elemen-elemen basis itulah yang membuat sosok Chrisye tetap bertahan meski tren telah silih berganti,generasi pun telah berganti estafet. Rasanya,memang jarang para pemusik yang mampu bertahan dalam perubahan iklim bermusik bak pancaroba di Indonesia.Fleksibilitas dan kompromi dalam mengayun langkah musiknya merupakan kunci jawaban kenapa Chrisye bisa bertahan selama itu.
Jika kita tilik, jejak karya Chrisye dalam dunia musik berwarna-warni bak bianglala.Saat bersama Gipsy membawakan era classic rock.Lalu memainkan musik eksperimen east meet west bersama Guruh Gipsy.Selanjutnya mulai berkiprah dalam musik pop dalam berbagai bingkai sesuai tren zaman.
Kehidupan Chrisye hanya diisi oleh musik dan musik. Saya yakin,passion Chrisye terhadap musik menjulang tinggi dibanding ketertarikan-ketertarikan lainnya dalam meniti kehidupan.
Chrisye mulai bermain musik saat tergabung dalam band sekolahan di PSKD Jakarta.Saat itu,menurut penuturan Chrisye semasa hidup,Chrisye memainkan lagu-lagu The Beatles hingga The Rolling Stones.Ketika kemudian Rahadi ayah Chrisye bersama keluarga pindah ke Jalan Pegangsaan BaratNo.12 A Menteng Jakarta, ketertarikan Chrisye terhadap musik kian menjadi-jadi.Pasalnya, dari tetangganya yaitu keluarga Saidi Hasjim Nasution selalu terdengar musik yang riuh bergema.Ternyata putra putra Saidi Hasjim Nasution mulai dari Zulham,Gauri,Keenan,Oding dan Debby Nasution gemar bermain band bersama sahabat-sahabatnya.Salah satu sahabat mereka bernama Pontjo Sutowo putra pejabat Pertamina Ibnu Sutowo ikut bergabung sebagai pemain organ.Anak-anak Menteng tetangga Chrisye itu lalu membentuk band Sabda Nada.Pontjo Sutowo menyediakan fasilitas perangkat band yang mewah dan lengkap.
Antara rumah keluarga Nasution dan keluarga Rahadi dipisah oleh sebuah bangunan pavilliun yang dihuni keluarga Darmaatmadja.Salah satu putera Darmaatmaja,termasuk remaja yang terkena virus musik keluarga Nasution juga .Namanya Barin Darmaatmadja.Pada akhir era 70-an,Barin bermain gitar dan bergabung dalam kelompok Swara Maharddhika Band yang dibentuk Guruh SoekarnoPutera.
Chrisye yang pemalu hanya mengintip dari beranda .Suatu hari Gauri Nasution mengajak Chrisye untuk nongkrong,ngobrol dan memetik gitar akustik.Keduanya lalu melakukan semacam jamming membawakan lagu-lagu instrumental band The Ventures dan The Shadows yang lagi ngetop-ngetopnya pada aruh 60an. ”Saya masih ingat,saya dan Chrisye begiu bersemangat memainkan lagu berjudul ”Apache” walaupun hanya menggunakan gitar akustik.Tapi kami merasa seperti pemusik beneran aja” tutur Gauri Nasution pada saya suatu ketika.
Formasi Sabda Nada kemudian mulai mengalami perubahan.Edi Odek sang pemain bass jatuh sakit dan digantikan oleh Chrisye,sahabat karib Gauri yang tinggal di sebelah kiri rumah keluarga Nasution.Tak lama kemudian Sabda Nada berganti nama menjadi Gipsy.Sejak saat itulah Chrisye mulai kerasukan musik.
Gairah bermain band memang tengah berpusar dengan derasnya.Tumbangnya rezim Orde Lama membuat semangat bermain band pun kian menjadi-jadi bagaikan percikan air yang tumpah ruah kemana-mana.Bermain band,bagi sebahagian besar anak muda termasuk Chrisye seolah sebuah euphoria yang tertunda selama bertahun-tahun.Gipsy mulai menyanyikan The Beatles hingga The Rolling Stones tapi dengan gaya sendiri.”Kata orang band kita punya karakter sendiri” ungkap Chrisye ketika saya wawancara di tahun 1996.

”Saya menyanyikan I Can’t Get NoSatisfaction-nya The Rolling Stones.Saya pun berusaha memalsu suara Mick Jagger” cerita Chrisye dulu.
Memasuki era Orde Baru Gipsy kian berani menyanyikan lagu-lagu Barat yang dulu diharamkan oleh rezim Orde Lama. Gipsy yang didukung oleh Gauri Nasution (gitar),Chrisye (bas),Keenan Nasution (drum),Onan Soesilo (organ),Tammy Daudsyah (saxophone,flute) mulai memainkan berbagai repertoar asing.Umumnya bercorak blues,soul dan rock seperti Wilson Pickett,TheEquals,John Mayall & The Heartbreakers,Sam and Dave,Jimi Hendrix & The Experience,Blond,Jethro Tull,Chicago Transit Authority,The Moody Blues hingga King Crimson.
Walupun masih sebatas band cover version atau membawa karya artis musik mancanegara,namun Gipsy punya kiat dan pendirian yang lain.”Mereka sengaja membawakan lagu lagu yang justeru tak dikenal orang.Bahkan lagu lagu yang dibawakan Gipsy biasanya diarransemen ulang.Jadi tidak sama dengan versi aslinya.Gipsy dalam hal ini menempatkan interpretasi sebagai bagian integral dari kreativitas.
Dalam hal ini Gipsy memang telah memperhitungkan yang namanya sisi kreativitas.Semuanya diolah lagi.Tak hanya dimainkan mentah-mentah.Kelak,filosofi bermusik seperti itulah yang menjadi modal utama Chrisye dalam meniti karir pada industri musik Indonesia.Chrisye adalah penyanyi yang selalu tepat dalam menafsirkan lagu dari siapa saja. Sudah banyak komposer yang menyodorkan berbagai perangai lagu untuk Chrisye, mulai dari Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, Oddie Agam, Rinto Harahap, Dian Pramana Poetra, Adjie Soetama, Younky Soewarno, Andi Mapajalos, Bebi Romeo, Ahmad Dhani, Pongky Jikustik,Naif,Tohpati ,Aryono Huboyo Djati,Bagoes AA dan sederet panjang lainnya. Ketika lagu-lagu ciptaan mereka dinyanyikan Chrisye, atmosfernya lalu berubah menjadi atmosfer Chrisye.
Itu pun terjadi ketika Chrisye dalam album Dekade (2002) membawakan lagu dangdut karya A. Rafiq berjudul Pengalaman Pertama hingga Kisah Kasih di Sekolah dari Obbie Messakh, semuanya meleleh menjadi karakter Chrisye.Suara Chrisye pada akhirnya menjadi sesuatu yang signatural.
Kemampuan menginterpretasikan karya adalah salah satu titik kekuatan Chrisye, di samping timbre vokal yang khas.. Konon, semasa bergabung di Gipsy antara 1969 dan 1973,Chrisye paling sering membawakan repertoar grup brass rock Chicago dan pemusik blues kulit putih John Mayall. Karakter vokalis Peter Cetera dan John Mayall yang mengandalkan napas panjang dalam mendaki lengkingan vokal yang tinggi tampaknya membentuk karakter vokal khas Chrisye yang dikenal banyak orang hingga akhir hayatnya.
Chrisye banyak meninggalkan jejak karya juga teladan bagi para penghibur dalam dunia musik.
Selamat ulang tahun Chrisye.Musikmu masih terus kita kenang.

Saat Memandu Konser Slank

Posted: September 14, 2014 in Kisah

Saya ingin berbagi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup,yaitu memandu konser Slank.Jelas ini pengalaman yang tak bernilai,mengingat Slank adalah band besar dengan jemaah yang melimpah ruah dari segala ranah.Setidaknya, dalam ingatan saya, ada dua kali konser Slank yang saya pandu.Pertama,di tahun 1991 saat Slank baru saja merilis album debutnya bertajuk Suit Suit He….He…. (1990),mereka menggelar konser untuk pertamakali di Ujung Pandang (sekarang Makassar) yang mengambil tempat di Gedung Kemanunggalan ABRI- Rakyat di Jalan Jenderal Sudirman .

Saat saya memandu talk show dan konser mini Slank di @atamerica lantai 3 Pacific Place Jalan Jenderal Sudirman Jakarta

Saat saya memandu talk show dan konser mini Slank di @atamerica lantai 3 Pacific Place Jalan Jenderal Sudirman Jakarta

Sembilan Tahun Mengenal Sore

Posted: September 14, 2014 in Opini, Kisah

Ternyata telah 9  tahun saya bersahabat dengan band bernama SoreMasih saya ingat ketika David Tarigan ,A & R Aksara Record dan juga produser musik suatu hari mengajak saya keliling Jakarta dengan mobil sedannya.David lalu mengambil CD dan memperdengarkan sebuah rekaman musik dari sebuah band baru.

SOREbaru

Saya terperanjat,ini band mana ? Wow musiknya depth .Pop tapi dengan pemanfaatan akor yang lebih luas.Ada harmonisasi yang membuat saya seolah deja vu.Dibilang rock,kagak,dibilang jazz juga kagak,ini pop yang eklektik agaknya.Akhirnya David Tarigan yang bekerja di Aksara Record memberikan saya album dari band yang namanya unik Sore.Album debutnya bertajuk Centralismo.Lalu saya minta David agar dipertemukan dengan band Sore.Dan diambang sore,saya bersama David akhirnya bersua untuk pertamakali dengan Sore di Plaza Semanggi.Kami ngobrol musik dengan penuh sukacita.Kemudian sekitar selama seminggu saya spinning CD dari Sore, lalu saya memutuskan untuk menulis Sore dimajalah berwibawa Tempo.Tengah Agustus tulisan saya tentang Sore bertajuk “Para Pemuja Masa Silam” dimuat di majalah Tempo.Ini merupakan pertamakali Sore di tulis di media cetak mainstream.Beberapa waktu setelahnya,akhirnya saya juga melihat majalah TIME Asia juga menulis Sore dalam ulasannya.Kini dalam usia 9 tahun,Sore yang tinggal berempat  merilis album baru.Musik mereka masih tetap menggigit,sarat dengan ketidakterdugaan,serta lirik yang kadang majemuk tafsir.

Saat Pertama Nonton Bharata Band

Posted: September 14, 2014 in Kisah, Liputan

Sebetulnya usia Bharata Band itu bisa dianggap sama dengan usioa The Beatles, band Liverpool yang mereka kagumi dan mereka pilih sebagai band yang dijadikan sebagai impersonator.Menurut Tato Bharata,gitaris Bharata,.band yang dibentuknya bersama sauidara-saudara kandungnyta itu terbentuk tahun 1963.Bharata Band juga sempat merasakan tembok penjara di zaman Orde Lama Bung Karno karena kena razzia aparat saat menyanyikan lagu-lagu dari The Beatles seperti halnya yang dialami Kus Bersaudara di tahun 1965.

Bharata Band yang sekian lama vakuum mulai muncul lagi pada tahun 1984 namun dengan menambahkan dua anggota baru yaitu Jelly Tobing (drum) dan Abadi Soesman (gitar,keyboard dan vokal).Kembalinya Bharata Band dalam dunia hiburan panggung pada paruh dasawarsa 80an serta merta mendap[at sambutan hangat luar biasa.Bharata Band lalu mulai tampil dimana-mana dengan jadwal manggung yang luar biasa padat.

Saat itu rasa penasaran saya semakin menggebu membaca berita-berita tentang konser-konser Bharata Band yang membawakan lagu-lagu The Beatles sejak tahun 1984.Sebagai penggemart The Beatles pastilah saya memendam hasrat meluap untuk menyaksikan salah satu tribute band The Beatles terbaik di negeri ini.

Pucuk dicinta ulam tiba, di tahun 1987,saya memetik kabar bahwa Bharata Band akan manggund di Ujung Pandang.Saat itu saya masih bermukim di ibukota provinsi Sulawesi Selatan itu.Saya masih kluliah di Fakultas Ekonomiu Universitas Hasanuddin.Saya pun tak menyia-nyiakan peluang untuk nonton konser  Bharata Band.

Abadi Soesman memprovokasi penonton Bharata Band di Ujung Pandang tahun 1987 (F oto Denny Sakrie)

Abadi Soesman memprovokasi penonton Bharata Band di Ujung Pandang tahun 1987 (F
oto Denny Sakrie)

Bharata Band mel;akukan konser di Gedung Kemanunggalan ABRI & Rakyat di Jalan Jendereal Sudirman Ujung Pandang.Selain nonton,saya ingin menulis  liputan konser Bharata Band ini untuk majalah Vista Jakarta.Saat itu saya memang jadi kontributor atau istilahnya saat itu adfalah koresponden,majalah Vista dari Ujung Pandang..

Saat Jelly Tobing menghajar drum dan muncul introduksi Twist and Shout,aura The Beatles pun merebak di ruang berkapasitas sekitar 1500 penonton itu.Semuanya larut dengan lagu-lagu era awal The Beatles seperti I Saw Her Standing There,She Loves You hingga Oh Darling yang justru dinyanyikan Jelly Tobing.

Konser ini bisa diosebut sukses,komunikasi yang dilakukan Abadi Soesman memang mampu memprovokasi penonton yang semula dingin dan adem ayem merespon penampilan Bharata Band yang tampil sekitar 2 jam tanpa jeda. Sebuah tontonan yang tak terlupakan sepanjang zaman.

Sekitar 28 tahun silam,saya nyaris tak percaya ketika melihat kaset Indra Lesmana “For Earth and Heaven” yang dirilis oleh Alpine Record berada di rak kaset Duta Suara di Jalan Sabang Jakarta.

Cover depan album For EWarth and Heaven - Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Cover depan album For EWarth and Heaven – Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Apalagi setelah melihat nama-nama pemusik yang tertera dalam sampul kaset merupakan nama-nama mumpuni dalam konstelasi musik jazz seperti almarhum Charlie Haden (bass),Vinnie Colaiuta (drums),Michael Landau (gitar elektrik),Airto Moreira (perkusi) dan masih sederet nama-nama kesohor lainnya.Terbersit kekaguman yang luar biasa terhadap sosok Indra Lesmana yang telah mengharumkan nama bangsa. Tapi sayangnya kaset yang saya beli itu adalah hasil bajakan Alpine Record terhadap rekaman yang dirilis oleh Zebra/MCA Record Amerika Serikat.Uhhhh. Tapi,karena piringan hitam Indra Lesmana itu memang tidak masuk ke wilayah pasaran Indonesia,ya dengan terpaksa album jazz fenomenal karya pemusik Indonesia itu saya beli juga.

Cover belakang album solo kedua Indra Lesmana di Zebra/MCA Reciord AS For Earth and Heaven (Foto Denny Sakrie)

Cover belakang album solo kedua Indra Lesmana di Zebra/MCA Reciord AS For Earth and Heaven (Foto Denny Sakrie)

Bagaimana hingga Indra Lesmana berhasil memikat perhatian salah satu label jazz ternama di Amerika Serikat saat itu ? Kabarnya, Indra Lesmana memperoleh rekomendasi dari pianis jazz ternama Chick Corea,pemusik yang jadi idola Indra Lesmana sekaligus menjadi sahabatnya.Ricky Schultz dari MCA Record tertareik dengan musikalitas Indra Lesmana.Tahun 1983 Ricky lalu meminta Indra Lesmana untuk merekam album debutnya di Zebra/MCA.
Bersama dengan kolega musiknya dari Australia Nebula yang terdiri atas Andy Evans (drums) ,Steve Hunter (bass),Ken James (saxophone), Carlinhos Goncalves (perkusi),dan Vince Genova (piano) ,Indra Lesmana lalu menghasilkan album bertajuk No Standing yang dirilis oleh Zebra/MCA Record pada tahun 1984 yang berisikan 5 komposisi, 4 diantaranya adalah karya Indra Lesmana seperti No Standing,Sleeping Beauty,First dan Tis Time For Part,satu lagu lainnya Samba For E.T ditulis oleh Steve Hunter.

IL2
Di tahun yang sama,Indra Lesmana segera masuk studio rekaman untuk album solo yang kedua.Kali ini Indra Lesmana menggunakan studio rekaman milik Chick Corea Mad Hatter Studio.Sederet pemusik jazz papan atas siap berkolaborasi dengan Indra Lesmana yang saat itu baru berusia 18 tahun.Masih sangat muda, memasuki usia remaja. Sudah barang tentu ini merupakan pengalaman jazz yang sangat luar biasa bagi Indra Lesmana yang memainkan seluruh instrumen keyboard dan menuliskan semua komposisi lagunya. Di album ini Indra Lesmana didukung oleh Jimmy Haslip (bass),Charlie Haden (bass),Vinnie Colaiuta (drums),Michael Landau (gitar elektrik),Martin Lund (flute),Joel Peskin (saxophone),Airto Moreira (perkusi),Bobby Shew (trumpet),Moqie Lund (vokal) dan Albert Tootie Heath (drums).Nama yang disebut terakhir itu adalah drummer be bop legendaris.Makanya album ini merupakan puncak pencapaian musik dari Indra Lesmana.Ada 9 komposisi di album For Earth And Heaven yang dirilis Zebra/MCA pada tahun 1986 yaitu Stephanie,L.A,Corrbores,Song For,For Earth and Heaven,Morro Rock,Dancing Shoe serta First Glance karya Martin Lund dan Christmas Songs karya Mel Torme dan Robert Wells.

Cover belakang album No Standing - Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Cover belakang album No Standing – Indra Lesmana (Foto Denny Sakrie)

Sayangnya setelah merilis album ini Indra Lesmana akhirnya memilih kembali ke Indonesia dan bergabung dengan kelompok Krakatau.Sangat disayangkan.Tapi mungkin itulah pilihan terbaik dari Indra Lesmana.

Tjitjiek Soewarno Yang Terlupakan

Posted: September 9, 2014 in Kisah, Sosok

Tjitjiek Soewarna selalu lekat dengan band pengiring Zaenal Combo pimpinan . Zaenal Arifien  terutama lewat lewat EP (Extended Play) format 7 inch  bertajuk “Yoshida” karya Asmoengin produksi Remaco  di tahun 1965 serta  tiga lagu lainnya, “Terlena di Senja Indah” (karya Sugiarto), “Kota Jakarta”, dan “Di Mana” (karya Harry. Soewarno).
Penyanyi wanita asal Yogyakarta kelahiran  18 Oktober 1945 ini memulai karirnya lewat  lagu “Terpaut di Jogya”  karya penulis lagu asal Bali Wedhasmara) yang diambil dari album “Sebiduk di Sungai Musi” karya Zaenal Arifien. Ternyata lagu ini justru lebih populer  dibanding “Selamat Jalan Kawan” maupun lagu karya Neneng Salmiah (“Malam Tiada Bintang” dan “Hampa”.

Album debut Tjitjiek Soewarno (Foto Denny Sakrie)

Album debut Tjitjiek Soewarno (Foto Denny Sakrie)

Ketenaran  Tjitjiek Soewarno bahkan melesat jauh diatas sederet  penyanyi seangkatannya  seperti Neneng Salmiah, Retno, Lena, Finny Rosita, Shinta Dungga, serta Tutty Thaher.Teruatama ketika “Remaco” merilis piringan hitam kompilasi“Aneka 12”.

Tjitjiek Soewarno saat ini tinggal di kawasan Puri Anjasmopro Semarang Jawa Tengah.

Dan inilah liner notes EP Tjitjiek Soewarno yang ditulis Ferry Iroth dari Remaco :

Beraneka warna pengalaman para penjanji kita dalam perdjoangannja untuk mentjapai ketenaran.
Tidak selamanja menjenangkan, tapi pula tidak seluruhnja memedihkan.
Begitu pula halnja dengan biduanita jang kini ingin kami perkanalkan kepada Anda:

TJITJIEK SOEWARNO

jang mungkin ada jang belum pernah dengar nama dan suaranja. Pada hal Tjitjik Soewarno sering mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah di Semarang dalam tahun 1960 hingga tahun 1963, dalam djenis seriosa. Namun sajang sekali, ia hanja dapat keluar sebagai djuara ke II dan ke III pada waktu itu.

Di Djokja, pada tahun 1964 ia pun pernah mengikuti pemilihan Bintang Radio Daerah dalam djenis Krontjong, dan untuk djenis ini ia hanja dapat keluar sebagai djuara harapan.

Disamping itu, Tjitjik Soewarno dalam siaran RRI di Semarang, Djokja dan Surabaja atjapkali menghibur masjarakat setempat dengan iringan orkes studio RRI atau lain2nja. Itulah sekelumit dari sekian banjak pengalaman2 Tjitjik Soewarno dalam bidang seni suara.

Dan untuk lebih menikmati alunan suara lintjah dan merdu dari biduanita ini, melalui EP ini kami hidangkan lagu2:

1. YOSHIDA,
2. TERLENA DISENDJA INDAH,
3. DIMANA.

Sebagai selingan Zaenal Combo menghibur Anda pula dalam sebuah lagu instrumental, jaitu:

4. KOTA DJAKARTA.

Sebagai ¬penutup kata kami harapkan:
Muntjulnja Tjitjip Soewarno dengan iringan orkes Zaenal Combo dalam EP ini semoga dapat memuaskan selera dan melipur Anda sekeluarga.

Cynomadeus dan Kebebasan Berkarya

Posted: September 3, 2014 in Kisah, Opini

Selasa malam 2 September 2014  sekitar jam 19.30 Arry Syafriadi vokalis Cynomadeus terlihat menguak pintu Abbe Studio yang terletak di Jalan Gandaria Kebayoran Jakarta Selatan.Ternyata malam itu Cynomadeus,band rock dengan susupan aura klasik itu yang digagas almarhum Iwan Madjid ,dan hanya sempat merilis satu album saja,akan melakukan latihan.Ini adalah reuni Cynomadeus sejak tahun 1991.Sebuah kekosongan yang panjang,sekitar dua dasawarsa.
Reuni ini terjadi lantaran sahabat-sahabat dekat Iwan Madjid dalam ranah musik mengupayakan untuk mengenang Iwan Madjid dan karya-karyanya dalam konser bertajuk Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid yang berlangsung jumat 5 September 2014 di Airman Loung Sultan Hotel Jakarta.

Acara Tribute To Our Beloved Friend ini pun jadi ajang reuni bagi Cynomadeus,band yang dibentuk Iwan Madjid tahun 1989 (Foto Denny Sakrie)

Acara Tribute To Our Beloved Friend ini pun jadi ajang reuni bagi Cynomadeus,band yang dibentuk Iwan Madjid tahun 1989 (Foto Denny Sakrie)

Tak lama berselang,Fajar Satritama,yang sehari-hari adalah seorang banker tiba pula di studio lengkap dengan dandanan kantoran,kemeja putih dan celana hitam.Lewat jam 20.00 muncul gitaris Eet Sjahranie, yang ditahun 1989 berinisiatif membentuk Cynomadeus bersama Iwan Madjid.Iwan dan Eet mulai berkenalan saat mereka dilibatkan dalam proyek operette rock Cikini yang memanggungkan opera rock berdasarkan kisaah-kisah legenda seperti Mahabarata dan Ramayana di akhir era 70an dan masuk era 80an.Ketika Iwan Madjid membentuk Wow pada tahun 1983 sebetulnya Eet pun diajak Iwan Madjid untuk ikut bergabung dalam formasi Wow, namun urung lantaran Eet Sjahranie harus mengenyam pendidikan di Amerika Serikat. Sepulang dari Amerika ,Iwan Madjid kembali mengajak Eet untuk mendukung album solonya bertajuk “Pesta Reuni”.

Iwan Madjid dan Eet Sjahranie di studio Syailendra

Iwan Madjid dan Eet Sjahranie di studio Syailendra

Terakhir,bassist Todung Panjaitan dengan rambut panjang putih menjuntai memasuki studio.Cynomadeus malam itu mempersiapkan 4 lagu yang diambil dari album mereka yang dirilis JEPS pada tahun 1990 diantaranya adalah Circus Show dan Cynomadeus.

Cynomadeus terbentuk atas gagasan Iwan Madjid

Cynomadeus terbentuk atas gagasan Iwan Madjid

Boleh dibilang, banyak orang yang tak mengenal kiprah dari Cynomadeus di awal 90an.Penyebabnya adalah kesibukan dari personilnya yang menyebabkan mereka cepat dilanda kekosongan.Saat itu,Eet Sjahranie juga menerima tawaran sebagai gitaris Ian Antono yang mengundurkan diri dari God Bless.Iwan Madjid pun memiliki banyak kesibukan sebagai jingle maker hingga penggubah musik sinetron dan layar lebar.Dan Cynomadeus pada akhirnya betul-betul terabaikan ketika Eet Sjahranie bersama Fajar Satritama membentuk EdanE dan Iwan Madjid kembali mengaktifkan Wow bersama Fariz RM,Darwin B ranchman dan Musya Junus.

Dari kiri penulis lirik Wisnu Suyono,gitaris Eet Sjahranie dan sound engineer Bonny Alamsyah

Dari kiri penulis lirik Wisnu Suyono,gitaris Eet Sjahranie dan sound engineer Bonny Alamsyah

Mereka memakai nama Cynomadeus, karena tertarik pada karya tulis Wisnu Soeyono, yaitui sebuah komik mengenai seorang musisi yang dijuluki Cynomadeus.Cynomadeus ini merupakan akronim dari Cycle Neo Amadeus, dan perjalanan dalam menyusuri lorong waktu.Cynomadeus adalah tokoh masa depan yang mengacu pada sosok komponis musik klasik Wolfgang Amadeus Mozart.Iwan Madjid lalu meminta Wisno Soeyono untuk menuliskan lirik-lirik lagu pada album debut Cynomadeus tersebut .
Tema liriknya cukup menyempal dari arus besar industri musik saat itu.Ada yang bernuansa surealis dan berperangai gugat dalam balutan metafora yang mistikal .Termasuk pula bagaimana upaya Cynoamdeus untuk memainkan gelegak rock dalam dimensi yang agak berbeda.Iwan Madjid yang menyukai musik klasik banyak menyusupkan elemen klasik.,meskipun tidak sekental saat Iwan Madjid menggarap repertoar lagu pada grup sebelumnya semisal Abbhama.
Dengan setumpuk gagasan dan idealisme ,Cynomadeus pun berupaya untuk merekam karya-karya yang selama ini telah mereka garap.

Cynomadeus

Cynomadeus

Menurut Eet Sjahranie. dalam kurun waktu sekitar 3 bulan pertemuan kelima musisi ini menghasilkan sekitar 10 komposisi .Semasa hidupnya.Iwan Madjid pernah bertutur bahwa kuruna waktu yang sangat pendek untuk proses penulisan lagu dan sesi rekaman ini bukan mengada-ada,namun karena prosesnya mengalir secara deras.

Kaset album Cynoamdeus yang dirilis tahun 1990

Kaset album Cynoamdeus yang dirilis tahun 1990

Padahal,jelas Eet Sjahranie,sesungguhnya setiap personel yang berada dibawah paying Cynomadeus berasal dari selera dan genre musik yang tak sama. Agaknya ini justri memperlihatkan sebuah persenyawaan yang saling mendukung. Bahkan hubungan erat anta sesame pemusik malah jauh melebihi perbedaan genre musik. Alhasil karya mereka menembus tradisi straight-beat rock di Indonesia. Mereka pun mungkin tak menyadari akan menjadi titik awal dari perubahan era musik rock di Indonesia saat itu.Cynomadeus tampaknya menjadi anti-trend.Sekedar catatan ,saat itu dunia tengah diguncang dengan kehadiran grunge dari Seattle Amerika Serikat.Namun Cynomadeus hanya mengutamakan berkarya dalam ekspresi kesenimanan yang mutlak tanpa memperhitungkan pernak pernik industrial.
Mereka seperti asik sendiri dengan dunianya.Cynomadeus melaju dengan ide-ide music yang merupakan hasil saling bentur antar genre musik, mulai dari rock,funk hingga klasik sekalipun .Kesepuluh lagu di album Cynomadeus seperti Cynomadeus,Circus Show,Potret Hujan,Profesi Trend Mode,Opera Kota Naga,Wowverture,Strawberry Pink ,Angel Rose,65 serta Era 1214 Saka.
Saya yang hadir malam itu melihat latihan Cynomadeus di Studio Abbe merasakan getaran yang menyenangkan dari sebuah band yang sudah sekian lama menghilang dan nyaris terlupakan banyak orang.Cynomadeus menampilkan aransemen musik yang lugas namun tetap menyisakan ruang harmoni yang memberikan neraca setara bagi penikmatnya maupun pemusiknya itu sendiri.

Poster Cynomadeus

Poster Cynomadeus

Di era sekarang,musik-musik dengan tingkat kreativitas yang idealis dan mengabaikan perilaku pasar seperti yang diperlihatkan Cynomadeus atau yang kerap dijuluki music cutting edge memang cukup banyak bertebaran.Seperti halnya kredo bermusik Cynomadeus,mereka – para pemusik era masa kini pun tak haus popularitas dan tetap mengedepankan kebebasan berkarya.Ini yang pantas dibanggakan.Saya sendiri sudah tak sabar ingin menyaksikan konser reuni Cynomadeus dalam rangka mengenang sosok Iwan Madjid,sang penggagas Cynomadeus.Apakah Cynomadeus masih punya keinginan untuk merekam karya-karyanya lagi seperti dahulu ?.