God Bless, Inspirasi Rock Indonesia

Posted: Agustus 29, 2014 in Opini

Tak berlebihan jika saya menuliskan judul seperti diatas ini, karena saya melihat band rock yang terbentuk di tahun 1973 dengan nama God Bless ini memang memiliki karakter ideal, sebagai band rock panutan yang membersitkan inspirasi bagi grup band seangkatannnya maupun angkatan-angkatan setelah mereka.

Konser God Bless di tahun 1974 (Foto Aktuil)

Konser God Bless di tahun 1974 (Foto Aktuil)

Yang paling jelas adalah ketika God Bless mulai menampakkan diri dalam sederet konser rock pada sepanjang tahun 1973, kelompok dangdut Soneta yang dimotori Oma Irama mulai mematut-matut musik dan penampilan fashionnya seperti yang diperlihatkan God Bless.Saat itu Oma Irama mahfum bahwa musik rock telah memukau anak-anak muda .Musik rock yang ditampilkan oleh band sekelas God Bless maupun AKA wakau dengan bayangan budaya barat yang sangat kental,merupakan tolok ukur tingkat pergaulan anak muda dalam skala kehidupan sosialnya.

Oma Irama dan Soneta Group yang mengambil inspirasi rock dari God Bless

Oma Irama dan Soneta Group yang mengambil inspirasi rock dari God Bless

Dangdut yang dilecehkan sebagai musik  bernuansa kampungan dan norak,menurut logika Oma Irama harus dipoles dengan dinamika rock yang menggelegar dan menggelegak.Meskipun belum memiliki lagu-lagu karya sendiri, sebetulnya God Bless telah menyemaikan spirit bermain rock yang berembel-embel kebebasan dan anti kemapanan dalam musik rock cover version yang mereka jejalkan ke kerumunan penonton serta tata busana yang saat itu kerap dijuluki busana nyentrik.Soneta Group lalu mulai meniru gaya berbusana God Bless lengkap dengan sepatu boot spacey hingga ke lutut.Peniruan Soneta terhadap God Bless pun terlihat dari jenis instrument yang mereka pakai hingga ke sound system.Tahun 1973 itu pula Oma Irama mendeklarsaikan Soneta sebagai Sound Of Moslem .Bisa saja terminologi tersebut disematkan oleh Oma Irama untuk pembeda bahwa Soneta adalah band rock dengan koridor syariah.

Sosok Achmad Albar dan God Bless mulai menghias lembaran majalah-majalah hiburan termasuk sampul-sampul majalah.Kenapa ? karena secara penampilan saja God Bless telah memiliki nilai lebih.God Bless punya gereget seperti penampilan band-band rock mancanegara yang tengah ngetop pula di era tersebut mulai dari The Rolling Stones hingga Led Zeppelin.Di tahun 1973 God Bless bahkan muncul sebagai cameo dibeberapa film layar lebar seperti Tokoh garapan Wim Umboh,Laki laki Pilihan karya Nico Pelamonia maupun A.M.B.I.S.I yang dibesut Nya’ Abbas Akub .Dan yang pasti Achmad Albar adalah sosok rock star yang paripurna.Dia memiliki kualitas vocal dan penampilan fisik yang setara.

God Bless formasi 1 saat konser di GOR Saparua Bandung akhir Agustus 1973 (Foto Yitno Soelarko)

God Bless formasi 1 saat konser di GOR Saparua Bandung akhir Agustus 1973 (Foto Yitno Soelarko)

Di tahun 1973 itu Achmad Albar dan God Bless adalah role model atau patron bagi anak muda penikmat musik sekaligus yang memiliki minat membentuk band rock. Walaupun sebelum Achmad Albar muncul di Jakarta tahun 1973 setelah selama 8 tahun berada di Belanda (dan sempat bikin band Take Five hingga Clover Leaf), di Indonesia telah terdengar sosok-sosok rock star seperti Ucok Harahap,Deddy Stanzah hingga Bangun Soegito, namun menurut hemat saya Achmad Albar memiliki karakter yang berbeda.Sosok Achmad Albar cenderung mendekati gaya rock star mancanegara.Dan harap diingat sosok bintang musik yang memiripi orang Eropah seperti Achmad Albar ini jauh lebih memukau dan menawan.Tak heran jika saat itu impian anak band adalah ingin menjadi seperti Achmad Albar atau ingin memiliki band rock sekeren God Bless. Karenanya pula ketika Suzi Quatro maupun Deep Purple menggelar konser di Jakarta, pihak promoter memilih God Bless sebagai band pembuka.Karena dalam penilaian mereka,God Bless dianggap setara dengan band rock mancanegara.

Ketika ,akhirnya God Bless merilis album debutnya di tahun 1976, ini pun dianggap sebagai tolok ukur atau parameter bagaimana sikap sebuah band rock berkiprah dalam industri musik.Sebagai catatan, di era 70an tercatat banyak band-band rock yang harus menguburkan idealisme bermusiknya saat menandatangani kontrak rekaman dengan sebuah label rekaman seperti Remaco atau Purnama Record.AKA yang merekam album-albumnya pada label Indra Record harus melakukan kompromi dengan membawakan lagu-lagu ringan bernuansa pop dalam album rekamannya, begitupula dengan Freedom of Rhapsodia.Saat itu AKA lalu menghasilkan lagu pop bertajuk Badai Bulan Desember atau Freedom Of Rhapsodia dengan hits Hilangnya Seorang Gadis. God Bless dengan gagah berani mematahkan mitos yang diciptakan oleh para label bermodal besar tersebut.Di tahun 1976 God Bless merilis album debut pada Pramaqua,label rekaman yang dianggap idealis dalam melahirkan sejumlah album rekaman.Album God Bless ini sama sekali tak ada kompromi dengan lagu-lagu pop yang mendayu-dayu.God Bless membawakan lagu-lagu orisinal seperti Huma Di Atas Bukit,Setan Tertawa,She Passed Away,Gadis Binal dan Rock Diudara serta meremake beberapa lagu mancanegara seperti Eleanor Rigby (The Beatles) hingga Friday On My Mind (The Easybeats) dalam tata aransemen yang berbeda dengan versi aslinya.Jelas ada kreativitas dan idealisme yang diperlihatkan God Bless pada album debutnya tersebut.

God Bless dengan gagah menampilkan musik rock yang utuh dalam sebuah album,walaupun harus diakui album tersebut gagal dalam pencapaian secara komersial. Namun yang menarik,justru album rock God Bless ini menjadi inspirasi bagi label Remaco yang semula alergi dengan music rock total ala God Bless dalam produksinya selama ini.Remaco lalu merilis album-album bernuansa rock dari beberapa kelompok musik yang berada dibawah naungannya,misalnya Koes Plus merilis album Hard Beat,Bimbo mengeluarkan album Pop Rock atau Ge & Ge dengan album Musik Keras.

Koes Plus diupayakan mengikuti tren musik hard rock dengan merilis album Hard Beat  yang dirilis Remaco tahun 1976

Koes Plus diupayakan mengikuti tren musik hard rock dengan merilis album Hard Beat yang dirilis Remaco tahun 1976

Memasuki dasawarsa 80an,God Bless kembali jadi inspirasi anak band yang ingin membaptis diri sebagai pemusik rock.Album God Bless bertajuk “Cermin” yang dirilis JC Record pada tahun 1980 menjadi album wajib bagi anak band yang ingin membentuk band rock.Seingat saya ketika Log Zhelebour mulai secara rutin menggelar kompetisi band Festival Rock Se Indonesia, beberapa lagu God Bless di album Cermin menjadi lagu wajib yang dibawakan oleh para peserta festival.Lagu lagu itu antara lain Selamat Pagi Indonesia dan Musisi serta Anak Adam.Maka bermunculan band-band jebolan Festival Rock yang digagas Log Zheklebour seperti El Pamas hingga Grass Rock yang mengaku terinspirasi dengan konsep musik rock yang digagas God Bless.

Band rock dari Surabaya era 80an, banyak terinspirasi dengan kehadiran God Bless sebagai role model (Foto Dokumentasi Didieth Sakshana)

Band rock dari Surabaya era 80an, banyak terinspirasi dengan kehadiran God Bless sebagai role model (Foto Dokumentasi Didieth Sakshana)

Di usia yang ke 41, God Bless memang layak diteladani oleh anak band dalam genre apapun terutama karena mampu mempertahankan keberadaan band dalam kurun waktu empat dasawarsa.Ini sebuah prestasi yang sangat luar biasa,apalagi mengingat perjalanan God Bless dalam meniti musik Indonesia justru senantiasa berhadapan dengan begitu banyak badai yang menghadang.Mulai dari gonta ganti personil hingga pertikaian dalam wujud perbedaan visi music,egosentris sesama pemusiknya serta konflik antar personal yang bisa diibaratkan sebagai benang kusut.Tapi toh,God Bless dengan kearifan sikap para pendukungnya,mampu mempertahankan diri dari keruntuhan.God Bless telah memberikan teladan yang bagus untuk band-band zaman sekarang yang sangat rentan konflik dan memiliki hidup seumur jagung belaka.

God Bless saat latihan untuk persiapan tampil dalam 41 th Anniversary di Bandung 30 Agustus 2014 (Foto Denny Sakrie)

God Bless saat latihan untuk persiapan tampil dalam 41 th Anniversary di Bandung 30 Agustus 2014 (Foto Denny Sakrie)

Konser God Bless yang menandai perjalanan musik mereka selama 41 tahun di Bandung pada sabtu 30 Agustus merupakan pencapaian terbaik mereka dalam mengatasi begitu banyak kemelut yang kerap menyergah keutuhan mereka sebagai salah satu band rock tertua di negeri ini.Convention Hall Harris Hotel adalah saksi bisu perjalanan panjang band rock berpengaruh Indonesia God Bless.God bless God Bless.            

Iwan Madjid Mempertemukan Mereka

Posted: Agustus 29, 2014 in Opini

Abbhama yang tersisa, Darwin B Rachman dan Robin Simangunsong (Foto Denny Sakrie)

Abbhama yang tersisa, Darwin B Rachman dan Robin Simangunsong (Foto Denny Sakrie)

Pemusik Iwan Madjid telah meninggal dunia pada tanggal 17 Juli 2014.Tanpa dinyaana berpulangnya Iwan Madjid yang semasa hidupnya adalah sosok yang ramah,tepo seliro dan gampang bergaul itu justru merekatkan tali silaturahmi yang hilang diantara sekian banyak sahabat-sahabat Iwan Madjid baik dalam bermusik maupun teman-teman sepergaulan.

Saya masih ingat ketika jenazah Iwan Madjid telah dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada jumat 18 Juli 2014, sahabat-sahabat Iwan Madjid yang mengantar ke pergian Iwan untuk selama-lamanya masih berdiri dan ngobrol diseputar tanah kuburan Iwan Madjid yang masih memerah berselubung taburan kembang.Mereka yang masih nongkrong di sekitar makam Iwan Madjid antara lain ada Tony Wenas,Darwin B Rachman (bassist Wow dan Abbhama),Robin Simangunsong (drummer Abbhama),Dandung Sadewa (26:05 dan Shagi),Hafil Perdanakesuma (Transs,Shagi),Herman Gelly (Symphony ),Ekki Soekarno (Symphony,26:05).

Poster acara Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid

Poster acara Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid

Saat itu,yang saya ingat, pemusik dan pengacara Tony Wenas yang pernah bergabung bersama Iwan Madjid dalam No Daddy’s Gang,melontarkan gagasan :”Kita harus bikin acara mengenang Iwan Madjid”. Dan atas prakarsa Tony Wenas yang didukung teman-teman yang semasa hidup bisa dibilang dekat dengan kehidupan Iwan Madjid secara sepakat mendukung gagasan tersebut hingga terpentanglah tajuk acara Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid  .

Eben Hutauruk akan membawakan dua lagu Abbhama yaitu Asmara dan Alam Raya (Foto Denny Sakrie)

Eben Hutauruk akan membawakan dua lagu Abbhama yaitu Asmara dan Alam Raya (Foto Denny Sakrie)

Seminggu setelah pemakaman saya lalu dapat kabar dari Robin Simangunsong drummer Abbhama, bahwa acara Tribute ToOur Beloved Friend akan berlangsung di Airman Loung Sultan Hotel Jakarta.Ternyata teman-teman bergerak cepat diluar dugaan saya.Mungkin kecintaan dan kerinduan mereka terhadap sosok Iwan Madjid yang mampu menggerakkan semangat mereka untuk mewujudkan acara mengenang Iwan Madjid sekaligus mengapresiasi ulang karya-karya Iwan Madjid yang tersebar cukup banyak mulai dari Operette Cikini,Abbhama,Wow,Jakarta Rhythm Section hingga Cynomadeus dan Suara Persaudaraan maupun Arry Aliance Project.

Sebuah pertemanan atau persahabatan akan bisa jelas terlihat dari upaya-upaya semacam ini.Saya bisa membayangkan betapa sosok Iwan Madjid adalah sosok yang selalu ada di hati maupun sanubari para sahabat-sahabatnya.

Eet Sjaharanie ikut mendukung Cynomadeus (Foto Asra Nur)

Eet Sjaharanie ikut mendukung Cynomadeus (Foto Asra Nur)

Hampir semua para kerabat dekat Iwan Madjid memiliki  komentar yang sama perihal perilaku Iwan Madjid di semasa hidupnya.”Iwan itu sangat peduli dengan teman.Dia itu siap pasang badan demi membantu temannya.Bahkan Iwan lebih suka membela dahulu temannya baru kemudian menanyakan duduk persoalannnya seperti apa,apakah benar atau tidak.Yang dia pentingkan adalah membela habis teman” ungkap Tony Wenas.   

Herman Gelly

Jadi tak heran jika begitu banyak sahabat kerabat Iwan Madjid yang rela bahu membahu untuk mewujudkan acara Tribute To Our Beloved Friend Iwan Madjid.Karena dalam sanubari mereka,masih ada cinta yang tak akan pupus terhadap sosok Iwan Madjid.

Kemurahan hati Iwan Madjid yang menjadi pilar utama terjadinya reuni tanpa sengaja yang disebabkan karena adanya gagasan acara mengenang Iwan Madjid.”Karena meninggalnya Iwan,saya akhirnya bertemu lagi dengan Herman Gelly setelah 30 tahun tanpa ada komunikasi sama sekali.Padahal kita sama-sama masih berada di Jakarta” ungkap Eben Hutauruk vokalis Prambors Band yang pernah bekerjasama dengan Iwan Madjid dalam proyek Operette Cikini.Operette Cikini adalah kelompok operrete yang digagas oleh para alumni SMA Perguruan Cikini dalam membuat beberapa karya operette seperti Mahabarata hingga Ramayana.

“Seingat saya Iwan bukan alumni Perguruan Cikini.Iwan adalah alumni SMA 1 Budi Utomo,tapi karena kemampuan musiknya yang bagus akhirnya diminta oleh teman-teman untuk ikut terlibat dalam penggarapan karya musical Operette Cikini” urai Eben Hutauruk.

Keterlibatan para sahabat Iwan Madjid di acara ini juga memiliki dampak yang luarbiasa karena akhirnya menjadi ajang reuni bagi para pemusik yang sempat berkolaborasi dengan Iwan Madjid dalam berbagai band maupun proyek musik.Band-band yang dipastikan akan reuni diatas panggung antara lain adalah Abbhama,Wow,Cynomadeus termasuk band-band yang kerap tampil di panggung tanpa memiliki album rekaman seperti 26:05,Shagi,Nuclear maupun No Daddy’s Gang.

Tony Wenas penggagas acara (Foto Denny Sakrie)

Tony Wenas penggagas acara (Foto Denny Sakrie)

Sejak tanggal 25 Agustus kemarin,mereka mulai melakukan latihan.Di hari pertama jadwal  latihanyang akan berkangsung hingga tanggal 2 September 2014 itu menampilkan sesi Abbhama Band yang menurunkan dua anggota asli yaitu Darwin B Rachman basssit yang kali ini lebih percaya diri memainkan keyboard dan drummer Robin Siamngunsong serta didukung Herman Gelly (keyboard),Noldy Pamungkas (gitar) dan Joel (bass).Eben Hutauruk tampil menggantikan Iwan Madjid dan menyanyikan lagu Alam Raya dan Asmara.

Untuk sesi Wow, Fariz RM beserta Darwin B Rachman,Ical dan Eet Sjahranie akan tampil membawakan lagu Pekik Merdeka dan Mencari Diri dari album debut Wow di tahun 1983 bertajuk Produk Hijau.

Iwan Madjid pasti akan tersenyum bahagia melihat kesungguhan dan ketulusan para sahabat yang ditinggalkannya mengapresiasi karya-karya peninggalannya.    

Drummer Abbhama Robin Simangunsong (Foto Denny Sakrie)

Drummer Abbhama Robin Simangunsong (Foto Denny Sakrie)

Saya terhenyak pagi ini mendapat berita duka cita tentang berpulangnya Frank Yudowibowo atau kerrap dipanggil Yudo.Almarhum adalah pemusik metal yang berasal dari Semarang.Dengan logat Jawa yang medok Yudo menghubungi saya pertama kali lewat inbox Facebook.

GButo

Dengan santun dia memperkenalkan band metal yang dibentuiknya sejak tahun 1995 Grind Buto.Menurut Yudo,band metalnya mendapat respon bagus di scenew metal Internasional.Dari cara bertuturnya saya menangkap kesan lelaki berambut gondrong ini memiliki tekad dan ambisi kuat untuk membawa band metalnya menembus dunia internasional.Ada kegigihan yang nyata yang saya tangkap dalam narasi yang dituturkan Yudo.Sejak memperkenalkan diri via inbox Facebook,kami saling tukar no telpon genggam.Yudo aktif menelpon saya dan mengajak bertukar pikiran.Bahkan kami sering membuat janji untuk ketemu,terutama saat Yudo tengah berada di Jakarta, tapi entah kenapa selalu ada kendala untuk bertemu.Di saat saya punya waktu,Yudo malah gak bisa,begitu juga sebaliknya.Kekagetan saya pagi ini semakin menggedor nurani,apalagi mengetahui bahwa almarhum sebetulnya punya jadwal manggung di Jakarta pada tanggal 30 Agustus 2014.
Saya masih menyimpan ,inbox Yudo pada tanggal 11 Juli 2013 yang ditujukan pada saya untuk pertamakali pada tahun 2013 silam .Ini inbox almarhum Yudo :

Denny Sakrie Dua

Salam kenal juga
Frank Yudowibowo
11/07/2013 14:44
Frank Yudowibowo

Ya Mas..kamu band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal

Ya Mas..kami band metal dari Indonesia yg telah di kenal di dunia metal scene di luar negri mas..saat ini mau introduce band kami di lokal
Denny Sakrie Dua
11/07/2013 15:22
Denny Sakrie Dua

Ini no hp saya 0818417357
Frank Yudowibowo
11/07/2013 15:24
Frank Yudowibowo

Ok Mas Denny btw saat ini kami mau recording materi album kami terbaru di Westfall Recording di New York City USA.kami lagi cari bapak angkat yg mau danai..kira2 Mas Denny ada link ga ya? ato Mas Denny jd manajer band kami saja?

Dan inilah karya-karya metal peninggalan Frank Yudiwibowo bersama bandnya Grind Buto :

DISCOGRAPHY: 2013 “Mince Core” 3 way split Cd album released at Grindfather UK

2010 “In To The HELL” -Reherseals

2009 “EVILDEMIC” -Reherseals

2007 “FRONTLINE” reherseals

2004 “Welcome To Annihilation” Released by Bloodbath Record TOKYO JAPAN

2001 Tribute To Regurgitate Released by BLP Records Checz Rep/EUROPE

2000. Santa Is Satan SPLIT Cd with Murder Corporation/Deranged ( Sweden ) Released by PSE Records Malay

1999. SPLIT 7′ with Agathocles (Belgium) Released by Uxicon Record Belgium/EUROPE

1998 GRIND BUTO “The Malevolence” Released by GB Records

1997 GRIND BUTO “Extreme Damage” Released by GB Records

1996 GRIND BUTO “In Hell Beast From”

1995 BRUTAL SADISTIC “Savage Predator” – Reherseals

 

 

Akhirul kalam,selamat jalan saudaraku Frank Yudowibowo

Saat  menemani God Bless latihan pada hari selasa 26 Agustus 2014 lalu, saya membawa kepingan single 45 RPM Clover Leaf. Achmad Albar yang akrab dengan panggilan Iyek menyungging senyum saaat saya memperlihatkan  rekaman lawas tersebut.

Di single bertajuk Tell The World,gitaris Ludwig LeMans bergabung dengan Clover Leaf untuk pertamakali (Foto Denny Sakrie)

Di single bertajuk Tell The World,gitaris Ludwig LeMans bergabung dengan Clover Leaf untuk pertamakali (Foto Denny Sakrie)

Sambil memegang single 45 RPM Clover Leaf “Tell The World yang dirilis Imperial Record ,Achmad Albar yang pernah menjadi vokalis band yang terbentuk di Belanda itu lalu bertutur tentang ikhwal Clover Leaf. “Clover Leaf itu sebetulnya memainkan musik pop bukan rock” urainya.Saat itu Clover Leaf hanya membuat vinyl single,imbuh Achmad Albar lagi.Lalu kemanakah personil Clover Leaf ?.”Waktu saya ke Belanda tahun 2011 saya masih bertemu mereka,tapi bassist Jacques Verburgt telah meninggal dunia.Dua tahun lalu Ludwig LeMans malah pernah ke Yogya dan Bali bersama keluarganya” cerita Achmad Albar yang membentuk band Clover Leaf di tahun 1968.Para personil Clover Leaf yaitu Achmad Albar (vokal utama),Ludwig Loetje LeMans (gitar),Roy Stubb (drummer),Eugène den Hoed ( gitaris),Jacques Verburgt(bassist),Marcel Lahaye (keyboard) dan Adrrie Voorheijen-( drummer).

Bersama vokalis Clover Leaf (1968-1972) Achmad Albar (Foto Denny Sakrie)

Bersama vokalis Clover Leaf (1968-1972) Achmad Albar (Foto Denny Sakrie)

Sembari memperhatikan cover Tell The World/Come Home, Achmad lalu mengimbuh cerita :”Di rekaman ini adalah untuk pertamakali muncul gitaris baru Clover Leaf Ludwig LeMans yang masuk menggantikan Eugene De Hoed.Ludwig ini lebih terampil main gitarnya.Dan dia punya touch rock yang kuat.Saat itu saya sudah melihat kemampuan bermain gitar Ludwig saat masih tergabung dalam kelompok  musik 19th Dimensions” urai Achmad Albar.

Disepanjang karirnya, Clover Leaf hanya merilis rekaman dalam bentuk single 45 RPM yang dirilis oleh label Polydor Belanda,Decca Record  dan Imperial Record .antara lain Time Will Show/Girl Where Are You Going To  (1969),Grey Cloud/ Love Really Changed Me  (1969),Don’t Spoil My Day/Sweeter Better  (1970),What Kind Of Man/Time Of Troubles  (1970),Tell The World/Come Home  (1971), Oh What A Day/Such A Good Place (1971) serta Makin’ Believe/Mister Lonesome (1972) dan single terakhir Clover Leaf adalah Woman/If You Meet Her (1973)

Don’t Spoil My Day yang kemudian bisa dianggap yang menjadi parameter kesuksesan Clover Leaf,karena lagu ini menjad hits yang dikenal hampir setiap orang saat itu.

Lagu lagu Clover Leaf sempat masuk chart di negara-negara Eropah.Bahkan Clover Leaf pun telah melakukan tur konser di Belgia,Jerman,Austria  dan beberapa negara Eropa lainnya.”Seingat saya banyak yang memuji Clover Leaf saat tampil diatas panggung” kenang Albar lagi.

 

 

Band ini ,kata Achmad Albar lalu vakuum dan  membubarkan diri tahun 1972.Tahun 1973 Achmad Albar dan sang gitaris Ludwig LeMans berlibur ke Jakarta.”Saat berlibur lalu saya tertarik untuk bikin band rock di Jakarta.Dengan menggunakan visa turis Ludwig LeMans jadi gitaris pertama God Bless.Setelah memperpanjang izin visa dua kali,akhirnya Ludwig saat itu balik ke Belanda dan tercatat hanya 6 bulan jadi anggota God Bless” ucap Achmad Albar siang kemarin di DSS Studio.

 

33 tahun silam Lionel Richie Jr bersama Diana Ross mencetak hits terbesar mereka di sepanjang karir musik mereka saat menyanyikan lagu Endless Liove karya Lionel Richie secara duet.Lagu yang dijadikan soundtrack film “Endless Love” yang dibintangi Brooke Shields dan Mertin Hewitt ini berhasil menempati peringkat no.1 dalam Hot 100 Singles Billboard pada 15 Agustus 1981 selama 9 pekan berturut-turut hingga 10 Oktober 1981.
Menurut Lionel Richie,saat saya wawancarai April 2014, lagu bertema romansa ini awalnya hanya diciptakan untuk love theme film Endless Love dalam bentuk instrrumental yang digarap Richie bersama arranger Gene Page.Tapi sutradara Franco Zeffirelli dan produser film Dyson Levell lalu meminta agar lagu instrumental tersebut diberi lirik.Lionel Richie menyanggupi.Permintaan lainnya muncul yaitu,Lionel Richie diminta untuk mencari penyanyi wanita,karena lagu ini diinginkan menjadi sebuah lagu duet cinta.Richie lalu ingat Diana Ross. Tapi permasalahan lain timbul,saat Diana Ross baru saja cabut dari label Motown Record.Untunglah tercapai kesepakatan antara Motown dan label RCA yang mengontrak Diana Ross.Saat akan melakukan rekaman ,muncul lagi masalah baru.Diana Ross yang tengah melakukan tur di Lake Tahoe Nevada, tidak diizinkan untuk melakukan rekaman bersama Lionbel Richie yang melakukan sesi rekaman di Los Angeles.Tapi akhirnya terjadi kesepakatan Richie dan Ross akhirnya melakukan rekaman di Reno.Namun muncul lagi masalah lainnya : Diana Ross hanya ingin menyanyikan part yang dinyanyikan Lionel Richie.”Saya sendiri mengalami kesulitan untuk bernyanyi dengan key yang memang tewlah saya pilih untuk dinyanyikan Diana Ross.Untunglah Ross mau mengikuti apa yang saya katakan ” jelas Lionel

Bersama Lionel Richie (Foto Arief Rahman)

Bersama Lionel Richie (Foto Arief Rahman)

Richie.
Akhirnya single spektakuler itu pun direkam jam 3.30 dini hari dan berakhir pada jam 5 subuh.Hasilnya Endless Love menjadi lagu duet tersukses disepanjang masa.

Bagi generasi penikmat musik pop 80an Atauw dikenal sebgai gitaris band Lolypop yang dibentuk Rinto Harahap sebagai homeband bagi semua artis musik pop yang merilis album pada label Lolypop milik Rinto Harahap itu,mulai dari Eddy Silitonga,Rita Butar Butar,Diana Nasution,Victor Hutabarat,Christine Panjaitan hingga Iis Soegianto.Pola permainan gitarnya khas terutama menghasilkan nada-nada yang merayu dan mendayu.

Tapi untuk generasi penikmat musik era 70an terutama ingar bingar musik rock,maka sosok Atauw ini selalu disebut sebagai impersonator dari Ritchie Blackmore gitaris Deep Purple yang kemudian membentuk Rainbow.Lewat grup rocknya bernama Equator Child, Atauw yang kemudian dikenal dengan nama Achmad Taufik setelah memilih masuk Islam, itu terlihat jelas banyak dipengaruhi gaya permainan gitar Ritchie Blackmore yang saat itu dielu-elukan sebagai salag satu gitaris rock papan atas yang memiliki pesona tersendiri.

Equator Child yang didukung oleh Atauw (gitar),Jimmy Wemay (drums),Joseph (bass),Jusuf (gitar) dan Imron (vokalis) ini terbentuk di kota Pontianak,ibukota provinsi Kalimantan Barat yang dijuluki kota Khatulistiwa.”Makanya band kami ini dinamakan Equator Child,artinya anak kota khatulistiwa” urai Atauw.

Sejak awal 70an Equator Child selalu membawakan lagu-lagu Deep Purple di sekitar Pontianak hingga Singkawang.Alhasil Equator’s Child menjadi band kebanggaan Pontianak saat itu.

Tak lama berselang disekitar tahun 1974 Equator’s Child lalu menembus Jakarta.Mereka tetap memainkan repertoar Deep Purple semirip mungkin.Equator’s Child mulai tampil di Taman Ria Senayan Jakarta .”Seingat saya kami dulu dibayar sekitar Rp 75 ribu” kenang Atauw yang memiliki atrkasi panggung atraktif mengikuti gaya Ritchie Blackmore. 

“Cuma saat itu saya masih belum memiki keberanian menghabcurkan gitar Fender saya seperti yang dilakukan Ritchie Blackmore” ungkap Atauw.

Atauw saat menjadi gitarois Equator's Child di era 70an (Foto Aktuil)

Atauw saat menjadi gitarois Equator’s Child di era 70an (Foto Aktuil)

Tapi toh,saya sempat terkejut ketika di sekitar tahun 1998 Atauw dengan gagah berani menghancurkan gitar Fendernya sampai patah dua.Ini serius.Kejadiannya berlangsung di Waroeng Kemang yang terdapat di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan.Saat itu,,saya masih bekerja di radio M97FM Classic Rock Station dan kami tiap bulan bikin acara yang diberinama Legend of The Month dengan menampilkan karya-karya band-band classic rock era 70an.Suatu ketika radio saya memilih tema Legend Of The Month nya adalah sosok gitaris Ritchie Blackmore yang di era 70an dikenang publik saat bergabung dalam band Deep Purple hingga Rainbow.Kami lalu meminta Jelly Tobing dkk untuk mengisi acara Tribute To Ritchie Blackmore ini.Jelly lalu menghadirkan dua gitaris sebagai impersonator Ritchie Blackmore yaitu Donny Suhendra dan Atauw. Diluar dugaan penampilan Atau membawakan lagu-lagu Deep Purple dan Rainbow sangat memukau para penonton yang memadati ruangan Waroeng Kemang.Lalu tanpa disangka-asangka Atauw saat bersolo gitar,mulai membanting gitar Fendernya ke lantai panggung.Menginjak-injak fretnya berulang ulang dan kemudian mengangkat gitar tersebut seraya membenturkan leher gitar ke bibir panggung.Gitar Fender itu lalu patah berkeping-keping.Sorak sorai penonton membahana membarengi atraksi penghancuran gitar ala Ritchie Blackmore yang dilakukan Atauw.Sadis nian.

Usai pertunjukan Atauw buka rahasia bahwa sebelum naik panggung dia telah mengganti leher gitar Fendernya dengan leher gitar imitasi.”Jadi saya tetap masih memiliki gitar Fender kesayangan saya” ucapnya sambil tersenyum.

Di paruh era 70an Rinto Harahap mengajak Atauw mendukung band Lolypop .Atauw lalu mengajak rekannya dari Equator’sChild yaitu drummer Jimmy Wemay.Ditambah dengan masuknya Adhi Mantra,keyboardis Golden Wing,band rock asal Palembang, Lolypop lalu berkibar sebagai band pop yang tugasnya mengiringi artis-artis yang dikontrak Lolypop Record.  

Di akhir Agustus 2014 ada konser rock yang rasanya sayang untuk dilewatkan yaitu konser salah satu band rock tertua Indonesia God Bless yang bakal tampil di Convention Hall Harris Hotel Jalan Peta 241,Kopo,Bandung.Kenapa saying untuk dilewatkan ?.

Gitaris Ludwig Lemans God Bless di GOR Saparua Bandung Agustus 1973 (Foto Yitno Sularko)

Gitaris Ludwig Lemans God Bless di GOR Saparua Bandung Agustus 1973 (Foto Yitno Sularko)

Karena menurut saya konser God Bless kali ini memuat aura historik bagi band rock yang dibentuk oleh Achmad Albar bersama gitaris Ludwig LeMans dan drummer Fuad Hasan pada tahun 1973. Terutama karena,entah sengaja atau tidak konser God Bless yang akan berlangsung pada tanggal 30 Agustus 2014 ini seperti sebuah napak tilas atas perjalanan musik God Bless dalam rentang waktu sepanjang 41 tahun. Setelah memilih sekian banyak nama untuk jatidiri bandnya mulai dari The Balls,The Road hingga The God bahkan sempat menggunakan Crazy Wheels , triumvirat penggagas yaitu Achmad  Albar,Ludwig LeMans dan Fuad Hasan lalu sepakat menggunakan nama God Bless yang diambil dari kalimat pada kartu ucapan selamat tahun baru,God bless you.Konser debut God Bless berlangsung di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM) jalan Cikini Raya pada 5 Mei 1973 dengan formasi Achmad Albar (vokalis),Ludwig LeMans (gitar),Fuad Hasan (drums).Donny Gagola (bass) dan Yockie Surjoprajogo (keyboard).God Bless mendapat sambutan hangat dari penggemar musik rock yang mulai merengsek dalam jumlah yang banyak.Tak satu pun karya lagu sendiri yang mereka bawakan melainkan mengcover setumpuk lagu-lagu karya orang lain mulai dari Edgar Winter,Sly & The Family Stone,James Gang,Focus,Yes,The Beatles termasuk pula Frank Zappa .Keterpukauan penonton musik rock negeri ini memang baru sebatas euphoria terhadap aksi impersonator yaitu tampil dengan memirip-miripkan diri dengan band-band rock yang tengah membahana di berbagai penjuru jagad. Sejak bertahtanya rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto katup musik Barat yang dahulu disumbat oleh rezim Orde Lama dibawah perintah Presiden Soekarno,kini terbuka lebar dan tumpah ruah tiada terbendung.Lagu-lagu berlirik bahasa asing terutama Inggris, yang dianggap antek kapitalis dan ngak ngik ngok oleh Presiden Soekarno mulai menggelegak dan membelah angkasa.Band-band Indonesia yang banyak meniru band-band rock Amerika dan Inggris dari era akhir 60an hingga 70an mulai timbuh subur bak jamur.Dimana-mana, terutama di kota-kota seperti Jakarta,Bandung dan Surabaya.

Tiga anggota God Bless dari kiri ke kanan Ludwig LeMans,almarhum Fuad Hasan dan Achmad Albar di pelataran GOR Saparua Bandung (Foto Gunadi Haryanto)

Tiga anggota God Bless dari kiri ke kanan Ludwig LeMans,almarhum Fuad Hasan dan Achmad Albar di pelataran GOR Saparua Bandung (Foto Gunadi Haryanto)

Achmad Albar yang tengah berlibur ke Jakarta bersama Ludwig LeMans gitarisnya dalam band Clover Leaf di Belanda sempat terperangah dan terkaget-kaget melihat respon penonton Indonesia terhadap konser-konser rock yang mulai kerap ditampilkan di Jakarta dan Bandung.Albar pun seperti terpicu untuk ikut larut dalam euphoria rock yang terjadi saat itu, terutama ketika melihat pertunjukan The Rollies,band papan atas dari Bandung.Achmad Albar lalu mengajak Ludwig LeMans untuk membentuk band rock di Jakarta. Suasana di Jakarta sejak Orde Baru mulai memperlihatkan perubahan dan pergeseran dalam gaya hidup terutama dengan berkecambahnya konser-konser rock. Dengan kondisi larangan dari rezim Orde Baru yang anti ngak ngik ngok pada era 60an sesunggunya merupakan alas an bagi Achmad Albar meninggalkan Jakarta menuju Belanda pada tahun 1965. Di Belanda Achmad Albar yang ingin mendalami music mulai ikut bergabung dalam sejumlah band seperti Take Five hingga Clover Leaf yang mengantarnya masuk ke dunia rekaman.

Berubahnya music rock menjadi santapan yang massive,akhirnya merupakan pemicu utama terbentuknya God Bless.Dengan waktu singkat God Bless seperti telah mendapat pengakuan dari khalayak penikmat music maupun media sebagai sebuah grup rock yang menjanjikan.Pada tanggal 16 Agustus 1973 God Bless menjadi salah satu band rock yang mendapat sorotan dalam acara music udara terbuka Summer ’28 yang berlangsung di sebuah lahan milik Inter Studio Film dikawasan Ragunan Pasar Minggu. Summmer ’28 yang merupakan akronim dari Suasana Menjekang Kemerdekaan RI ke 28 itu memang seperti ingin meniru gerakan Summer of Love di belahan barat sana yang menghasilkan Monterey Pop Festival pada tahun 1967 dan Woodstock Music Festival pada tahun 1969.

Dengan didukung Deddy Dorres pemain keyboard dari Freedom Of Rhapsodia,band rock asal Bandung,God Bless kembali menebar pesona pada khalayak cadas .Achmad Albar memilih sosok Deddy Dorres setelah melihat penampilan Deddy Dorres bersama Freedom of Rhapsodia yang tampil di Mini Disco Jakarta.Masuknya Deddy Dorres kedalam tubuh God Bless menggantikan posisi Yockie Surjoprajogo yang mengundurkan diri dan bergabung dengan band Bandung Giant Step yang dibentuk Benny Soebardja mantan The Peels dan Sharkmove.

God Bless yang didukung pemusik Bandung ini lalu menggelar konser perdana mereka pada akhir Agustus 1973 di Gedung Olahraga Saparua Bandung yang terletak di Jalan Ambon .Tempat yang biasa dipergunakan untuk pertandingan bola basket dan badminton ini justru menjadi saksi sejarah perjalanan musik God Bless yang malam itu tampil bersama Gang Of Harry Roesli dari Bandung serta band Bentoel dari Malang.Saat itu Ian Antono,yang kemudian bergabung dengan God Bless di tahun 1975, masih tergabung sebagai personil band Bentoel.

Kejadian 41 tahun silam itu juga menandai sebuah keterkaitan yang kuat antara God Bless dan Bandung.Kenapa ? Karena ternyata ada beberapa pemusik rock terdepan Bandung yang sempat hilir mudik memperkuat formasi God Bless. Dimulai dengan masuknya Deddy Dorres sebagai keyboardist menggantikan Yockie pada tahun 1973, kemudian masuknya pemain keyboard berbakat Bandung almarhum Soman Lubis yang menggantikan posisi Deddy Dorres.Deddy Dorres masuk ke formasi Giant Step menggantikan posisi Yockie Surjoprajogo. Soman Lubis sendiri saat itu adalah pemain keyboard yang disegani di Bandung.Soman pernah memperkuat The Peels dan Sharkmove.”Terus terang saya saat itu merasa kehilangan ketika God Bless merekrut Soman Lubis masuk God Bless” ungkap Benny Soebardja yang kemudian membubarkan Sharkmove dan membentuk God Bless.

Salah satu permainan keyboard menawan yang dipertontonkan Soman Lubis saat bergabung dengan God Bless adalah ketika melakukan atraksi solo keyboard dengan memainkan repertoar Emerson,Lake and Palmer bertajuk “Promenade” dan “The Gnome” sebuah interpretasi rock Keith Emerson atas karya klasik Modest Mussorgsky dari album “Pictures An Exhibition” (1971).

Ketika masa visa Ludwig LeMans berakhir untuk keduakalinya di Indonesia,akhirnya God Bless harus merelakan kepergian giatris berdarah Indo Belanda itu kembali ke kampong halamannya pada tahun 1974 .Posisi gitar lalu diambil alih oleh Donny Gagola.Lalu siapakah yang mengisi posisi bass ? Lagi-lagi God Bless terpukau dengan  Deddy Stanzah sosok bassist rock Bandung yang saat itu mengundurkan diri dari band yang dibentuknya The Rollies.Sosok Deddy Stanzah dalam pertunjukan panggung dinilai pantas dan sesuai dengan gaya God Bless.Sayangnya Deddy Stanzah hanya sempat bergabung selama 4 bulan serta sempat sekali tampil dalam sebuah konser di Palembang pada tahun 1974.God Bless merasa terganggu dengan kebiasaan lama Deddy Stanzah yang masih mengkonsumsi narkoba.

Disayangkan pula formasi awal God Bless juga tak sempat didokumentasikan dalam sebuah album rekaman satupun.Saat itu para pemilik label rekaman  tak tertarik untuk merilis sebuah album rock yang dianggap tidak memiliki nilai jual .Disamping itu God Bless memang tengah menikmati masa panen konser dari satu panggung ke panggung lainnya.

Kembalinya God Bless menggelar konser di Bandung pada akhir Agustus 2014 ini selain memiliki nilai historis yang sarat nostalgia juga merupakan ajang reuni yang sangat ditunggu-tunggu terutama karena munculnya Yockie Surjoprajogo,pemain keyboard God Bless yang tercatat berkali-kali keluar masuk formasi God Bless serta kehadiran drummer Teddy Sudjaja dan gitaris Eet Sjahranie yang pernah mendukung God Bless dari tahun 1989 – 1997. Meskipun ketiga mantan personil God Bless ini akan manggung bersama Achmad Albar,Donny Fattah dan Ian Antono di panggung nanti, kehadiran mereka hanya sebatas bintang tamu dan bukan sebuah reuni permanen. Namun hal ini merupakan peristiwa rock yang penting untuk ditonton.Setidaknya kita akan menikmati perjalanan sebuah band rock dengan pelbagai suka dan dukanya selama 41 tahun.Semuanya berlangsung di Bandung.