18 Juli 2014 lalu TV One mewawancara saya untuk acara Tempo Hari, sebuah acara yang merekam jejak sejarah.Acara ini kabarnya ditayangkan setiap hari rabu pagi jam 9.Mereka ingin mengangkat kiprah orang-orang Belanda Depok dalam kiprah Internasional.Dan salah satu yang sukses berkarir secara internasional pada era 60an adalah sebuah duo yang mengikuti gaya The Everly Brothers yaitu The Blue Diamonds.The Blue Diamonds mencatat reputasi internasional pada saat singles Ramona yang merupakan cover atas lagu yang pernah dibawakan Dolores Del Rio dalam film “Ramona”  di tahun 1927 berhasil menembus peringkat atau chart ke 72 dalam Billboard Hot 100 Singles Chart.

Duo The Blue Diamonds

Duo The Blue Diamonds

Saya sedang diwawancarai TV One tentang The Blue Diamonds untuk acara Tempo Hari (Foto Ekky  Imanjaya)

Saya sedang diwawancarai TV One tentang The Blue Diamonds untuk acara Tempo Hari (Foto Ekky Imanjaya)

The Blue Diamond memang lebih banyak ,dalam karir musiknya, menyanyikan atau menginterpretasikan lagu-lagu orang yang sebelumnya telah menjadi populer diantaranya adalah lagu milik The Everly Brothers bertajuk Till I Kissed You yang dinyanyikan ulang The Blue Diamonds pada tahun 1959.

Dua bersaudara Ruud dan Riem dilahirkan di Jakarta pada era 40an .Ruud DeWolf dilahirkan pada (12 May 1941  dan telah meninggal dunia pada tanggal 18 December 2000.Adiknya yang bernama Riem DeWolf  pada tanggal 15 April 1943.

Lalu pada tahun 1949 keluarga mereka hijrah ke negeri Belanda.Di Belanda lah karir musik duo ini melesat secara pesat. Saat remaja The Blue Diamonds mengikuti audisi penyanyi yang dilakukan oleh label rekaman terbesar di Belanda yaitu Phillips. Tahun aktif dan keemasan The Blue Diamonds berlangsung antara tahun 1959 -1971.

Harmoni vokal Ruud dan Riem memang sangat khas.Walaupun awalnya mereka adalah follower The Everly Brothers, namun seiring berjalannya waktu, The Blue Diamonds justru memiliki karakter yang sangat kuat.Meskipun lebih cenderung menyanyikan lagu-lagu cover version,namun The Blue Diamonds seolah memberi sukma yang berbeda dengan versi aslinya. Bahkan konon,The Everly Brothers saat ke Belanda sempat menemui The Blue Diamonds dan meminta agar Ruud dan Riem tidak lagi mengcover lagu-lagu The Everly Brothers.Kenapa ? Karena The Everly Brothers menyebutkan bahwa versi The Blue Diamonds justeru lebih  disukai orang. Entah benar atau tidak, tapi kenyataan itu memang tersimak jelas saat The Blue Diamonds mengcover lagu-lagu populer milik orang lain.

Jabat tanganku untuk terakhir kali

Kita berpisah di dalam liang kubur yang sama

 

Tanpa sadar saya mengingat bait awal lirik lagu “Armageddon” dari kelompok Wow yang dinyanyikan Iwan Madjid dalam album Produk Hijau yang dirilis Musica Studio tahun 1983,ketika tadi siang saya mendapat kabar bahwa sahabat saya Iwan Madjid telah berpulang kerahmatullah.Saya tercenung sejenak terutama menelusuri momen-momen terakhir bersama Iwan Madjid yang bernama lengkap Iwan Sutritjondro Madjid  dikenal sebagai anggota beberapa band bernuansa rock progresif seperti Abbhama,Wow,Cynomadeus dan Shagi.

Lirik lagu “Armageddon “ walaupun temanya bertutur tentang hancurnya peradaban sebuah bangsa karena peperangan, terasa seperti isyarat kepergian Iwan Madjid yang lahir 27 Maret 1957,.

Saya terakhir bersua dengan Iwan Madjid di kediamannya di bilangan Ciracas pada 10 Juni 2014.Saat itu saya bersama Agus dan Ridwan dari Majemuk Records bertandang menemui Iwan Madjid untuk memberikan album “Alam Raya” milik Abbhama yang dirilis ulang dalam format compact disc dan vinyl oleh Strawberry Rain (Kanada) dan Majemuk Record (Indonesia).Album yang pertamakali dirilis dalam bentuk kaset oleh Tala & Co Studio pada tahun 1979 ternyata mendapat respon yang bagus dari penikmat musik dunia.Ini terlihat jelas jika melihat berbagai review yang memuji-muji kualitas musik Abbhama band underrated Indonesia yang memiliki konsep musik cemerlang.  .\

Ketika ngobrol panjang lebar dengan Iwan Madjid terbersit kenyataan baru bahwa Iwan mulai memperlihatkan kegairahan untuk kembali menerjuni musik setelah sekian lama vacuum dari ingar bingar dunia musik.Beberapa tahun belakangan ,Iwan memang memperlihatkan perubahan dengan menekuni dunia spiritual dan religius.Saya melihat Iwan mulai sholat 5 waktu kembali.

“Gua mulai bikin lagu lagi nih.Kebanyakan lagu itu gua bikin bareng Fariz.tapi sekarang gua lebih cenderung menulis lagu dengan tempo upbeat.Yang agak bernuansa dance” tutur Iwan Madjid bulan lalu sambil memperdengarkan demo tape lagunya  yang masih belum berlirik.

“Rencananya kalo lagu-lagu sudah jadi, ada niat gua dan Fariz untuk menghidupkan lagi Wow” urainya.Wow adalah band prog-rock berbentuk trio yang dibentuk Iwan Madjid bersama Darwin B.Rachman,bassist yang juga ikut mendukung Abbhama, serta Fariz RM.

Iwan Madjid mengakui bahwa gairah musiknya tercetus saat menyimak karya-karya band progresif seperti Yes,King Crimson,Emerson ,Lake and Palmer dan Genesis.Jadi tak heran jika kita akan menemui benang merah pengaruh musik band band tadi dalam karya-karya Iwan Madjid pada Abbhama,Wow maupun Cynomadeus. Selain menggandrungi rock,Iwan pun menyukai musik klasik terutama dari karya-karya Bach hingga Debussy. Iwan yang pernah mengenyam pendidikan musik di Institut Kesenian Jakarta pada paruh era 70an terampil bermain piano hingga flute dan memiliki suara yang bening saat bernyanyi.tak sedikit review yang bisa kita baca di dunia maya yang memuji suara Iwan sebagai angelic voice.

Ketika saya memaparkan perihal kekagaman penikmat musik mancanegara terhadap materi album Alam Raya Abbhama,Iwan tergelak seolah tak percaya.”Masak sih ?” sergahnya tak percaya.

Dengan adanya respon yang bagus seperti akhirnya membuat Jason Connoy dari Strawberry Rain Record di Kanada tertarik dan berminat merilis ulang album milik Abbhama tersebut.

Abbhama adalah band yang digagas Iwan di lingkungan kampus IKJ Jalan Cikini Raya.”Saat itu saya ingin memberikan semacam wadah pelampiasan para mahasiswa IKJ jurusan musik untuk bermain musik” ungkap Iwan Madjid.

Sebelum membentuk Abbhama,Iwan Madjid sudah sering terlibat dalam penggarapan operette berbasis musik rock yang mengangkat tema-tema hikayat seperti Ramayana dan Mahabarata bersama kelompok Operette Cikini yang digagas para alumnus SMA Perguruan Cikini pada sekitar tahun 1976-1979.

Sayangnya Abbhama hanya sempat merilis satu album saja, setelah itu para personilnya berpencar entah kemana kecuali Iwan dan Darwin yang kemudian melanjutkannya dengan membentuk Wow bersama Fariz RM pada dasawarsa 80an.

Niat mereka baru terwujud pada tahun 1983 setelah bersua dengan multi-instrumentalis, Fariz RM. Iwan menganggap Fariz adalah sosok yang tepat untuk mengakomodasikan warna musik mereka. ”Kami satu selera dalam bermusik” ujar Iwan Madjid . Tak lama berselang, mereka bertiga Iwan (vokal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) mendeklarasikan terbentuk Wow yang merilis album bertajuk Produk Hijau. Popularitas Fariz RM rasanya banyak pula membantu. Terutama ketika Wow harus berhadapan dengan khalayak. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti Pekik Merdeka, Armageddon hingga Purie Dhewayani.

Di tahun 1988, Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk Pesta Reuni yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman (bass, keyboard), dan Eet Syahrani (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini terasa ringan. Cenderung ngepop. Iwan Madjid malah menyanyikan kembali lagu Asmara, yang pernah dibawakan pada album Abbhama.

Ketika menggarap album solo Iwan Madjid ini, Fariz RM, ternyata tertarik untuk bergabung lagi bersama Wow yang ditandai dengan merilis album Rasio dan Misteri. Salah satu lagu di album ini yakni ‘Lapangan Merah’ sempat menjadi hit di radio-radio Jakarta, seperti di Prambors Rasisonia. Saat itu, Wow diberi kepercayaan untuk menggarap soundtrack film remaja Lupus IV yang dibintangi Ryan Hidayat.

Sejak merilis album soundtrack Lupus IV, Wow kembali vakuum panjang. Namun, Iwan Madjid telah siap dengan sebuah band baru dengan nama Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bas), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi (vokal). Kelompok yang juga berkonsep menautkan elemen musik klasik dan rock ini pun usianya tak panjang. Cynomadeus hanya merilis sebuah album saja. Fajar dan Eet lalu membentuk grup bernuansa metal bernama E dan E. Iwan Madjid masih terus berkutat di dunia musik, antara lain mendukung proyek solo mantan vokalis Cynomadeus, Ary Safriadi bertajuk Mercurius (1992).

 

Iwan Madjid sendiri juga melebarkan kegiatannya dengan membuat music score film-film layar lebar seperti “Lupus IV” (1990),”Olga dan Sepatu Roda” (1991) dan “Ojek” (1991) termasuk membuat musik tema serial sinetron “Rumah Masa Depan” di TVRI.

Tahun 2014 ini Iwan Madjid memang telah berupaya kembali ke musik, ini terlihat ketika ikut mendukung album solo Baruna,penyanyi rock yang pernah menjadi vokalis El Pamas dan Jagat .Iwan pun sangat bangga ketika album Abbhama yang masuk dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia itu dirilis secara internasional, termasuk betapa bersemangatnya Iwan untuk kembali menyentuh piano tua yang teronggok di sudut kamarnya sembari menulis lagu-lagu baru serta persiapan untuk reuni Wow bersama Fariz RM. Namun saying rencana-rencana itu tak jadi terwujud, karena Sang Khalik telah memanggilnya. Selamat Jalan Iwan  Madjid.

 

 

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Kenang kenangan bersama almarhum Iwan Madjid

Pemusik rock era 70an Benny Soebardja, 15 Juni 2014 lalu merilis ulang album Ghede Chokra’s dari Sjarkmove,band yang pernah dibentuknya pada sekitar awal era 70an sebelum munculnya Giant Step.Rilis ulang album Sharmove ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada tahun 2007 album Sharkmove itu sudah pernah dirilis oleh Shadoks Record,sebuah label dari Jerman.Di tahun 2014 ini Ghede Chokra’s  Sharkmove di rilis ulang dalam bentuk piringan hitam atau vinyl oleh Rockpod,label milik Rhamadita Nalendra Soebardja,putra Benny Soebardja.

Cover dalam vinyl Sharkmove :Ghde Chokra;s" yang dirilis ulang oleh Rockpod Record

Cover dalam vinyl Sharkmove :Ghde Chokra;s” yang dirilis ulang oleh Rockpod Record

Album dengan sentuhan progresif rock 70an ini berisikan lagu-lagu seperti My Life,Madat,Bingung,Evil War,Butterfly,Insan dan Insan.Sharkmove didukung oleh Benny Soebardja (gitar,vokal),Janto “Diablo” Suprapto (bass),Sammy Zakaria (drums),Bhagu Ramchand (vokal), dan Soman Lubis (organ).Album reissue ini dibantu dengan konsultasi rekaman oleh Simon Gibson, salah seorang sound engineer yang pernah menghabiskan banyak waktu di studio EMI atau lebih dikenal dengan nama Abbey Road.Simon Gibbs lewat tangan dinginnya pernah menggarap ulang rekaman-rekaman milik Paul McCartney and Wings seperti album RAM dan Band On The Run.Simon juga yang mendandani album milik George Harrison “Living In The Material Wold”.

Menerjemahkan Lagu Tanpa Izin

Posted: Juli 17, 2014 in Opini

Beberapa waktu lalu dalam kampanye Pilpres banyak sekali ditemukan pelanggaran Hak Cipta terutama penggunaan lagu-lagu yang tanpa izin dari penulis lagu maupun publishingnya.Dan yang paling menyita perhatian adalah ketika Ahmad Dhani dengan tanpa merasa bersalah secara membabi buta memperkosa lagu We Will Rock You milik Queen yang ditulis oleh gitaris Brian May menjadi Indonesia Bangkit.Perilaku konyol Ahmad Dhani yang tanpa izin memakai lagu Queen tersebut pada akhirnya menuai malu terutama kita sebagai orang Indonesia.Apalagi Brian May dalam akun twitternya mengatakan bahwa penggunaan lagu We Will Rock You tanpa sepengatahuan dia dan tanpa izin dari publishing musicnya.
Masalah jiplak menjiplak lagu hingga mengganti lirik lagu milik karya orang lain sepertinya memang telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia dari jaman dahulu kala hingga saat sekarang ini.Masih ingat ketika Ismail Marzuki hanya mengganti lirik komposisi Black Eyes atau Dark Eyes karya  komposer Russia bertajuk Очи чёрные, Ochi chyornye  menjadi Panon Hideung yang menggunakan lirik berbahasa Sunda ? Dark Eyes liriknya ditulis dalam bahasa Russia oleh penyair bernama Yeven Hebrinka dari Ukraina. Nah ini adalah satu dari sekian banyak contoh kasus tentang pelanggaran hak cipta di dalam dunia musik yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Kaset Indonesia lagu-lagu terjemahan Barat (Foto Galeri Malang Bernyanyi)

Kaset Indonesia lagu-lagu terjemahan Barat (Foto Galeri Malang Bernyanyi)

Saat itu boleh jadi kita belum begitu memahami mengenai Hak Cipta Lagu, hingga seenaknya mengganti lirik lagu tanpa izin sama sekali.Ini juga terjadi dalam musik dangdut yang saat itu,terutama mulai akhir era 50an hingga 70an, banyak sekedar menggnati lirik lagu, contohnya Boneka Dari India yang dipopulerkan Ellya Khadam hingga Pandangan Pertama yang diadaptasi oleh A.Rafiq.

Di tahun 1970 misalnya,Titiek Sandhora mengadapatsi lagu milik  Jane Birkin dan Serge Gainsbourg  ” J’etaime…moi non plus” berubah menjadi Mimpi Diraju. Remaco, adalah label terbesar di Indonesia yangh kerap kali merilis lagu-lagu dengan dalih adaptasi yang menampilkan lirik berbahasa Indonesia.Hebatnya, semua dilakukan tanpa ada izin dari baik dari komposer maupun publishingnya sama sekali.

Disekitar paruh era 80an, muncul sebuah kaset kompilasi bertajuk Heavy Slow Rock Of The Year Versi Indonesia.Kaset ini dirilis oleh Remaco tanpa ada keterangan siapa artis penyanyi atau band yang menyanyikannya.Sampul kaset hanya menuliskan judul lagu setelahb diterjemahkan atau diganti dengan lirik bahasa Indonesia serta judul lagu asli dalam bahasa Inggris.

Misalnya lagu Three Dog Night “Cowboy” berubah menjadi Kau,lalu ada Always Somewhere nya Scorpion yang diubah menjadi Akhirnya Aku Kembali atau I’d Rather Go Blind-nya Chicken Shack dipelintir  menjadi Lebih Baik Mataku Buta.Tak ada keterangan yang dicantumkan pada kredit album ini.Belakangan saya baru tahu bahwa yang menyanyikan lagu di album ini adalah Johan Oentoeng.

Rupanya kesadaran untuk menghormati karya cipta musik di negeri ini sangatlah minim bahkan bisa dibilang tak ada sama sekali.Dan kejadian itu terulang lagi beberapa waktu lalu saat berlangsungnya Kampanye Pilpres 2014.

Saya mendengar berita berpulangnya trumpetis jazz legendaris Indonesia Karim Tess dari drummer jazz Benny Mustafa van Diest melalui satus Facebooknya yang mewartakan bahwa pemusik yang bermukim di Cibadak,Sukabumi telah pergi untuk selamanya pada hari minggu 13 Juli 2014.

Sekelebat langsung ingatan saya mengawang ke sekitar Desember 2004, ini merupakan terakhir kalinya saya bertemu dengan sosok trumpetis yang humoris dan penuh canda.Saat itu adalah sesi shooting acara kuis musik Berpacu Dalam Melodi karya Ibu Ani Sumadi yang hak siarnya dipegang Metro TV.Karim Tess, termasuk salah satu pemusik yang ikut mendukung acara kuis musik yang dipandu MC dan penyanyi bersuara emas Koes Hendratmo,bersama Ireng Maulana All Stars adalah kelompok musik yang mengawal Berpacu Dalam Melodi sejak era 80an.

Karim Tess dan Tetty Tess jadi cover majalah hiburan era 70an

Karim Tess dan Tetty Tess jadi cover majalah hiburan era 70an

Mungkin,generasi sekarang banyak yang tak mengenal kiprah musik Karim Tess yang telah bermusik sejak dasawarsa 60an.Karim berasal dari keluarga pemusik,beberapa saudara kandungnya juga ikut terlibat sebagai pemusik mulai dari Tetty Tess hingga Arie Tess. Karakter permainan Karim Tess memang mencuat,terutama saat almarhum diajak bergabung dalam band instansi bernama The Tankers. Band yang kerap tampil sebagai band pengiring dalam berbagai acara hiburan musik di TVRI ini pada akhirnya memilih sosok Karim Tess sebagai leader of the band disamping tetap meniup trumpet.

The Tankers yang juga didukung sederet pemusik mumpuni seperti Aldin dan Willy Sumantri ini akhirnya tampil sebagai band papan atas di Jakarta, bahkan di tahun 1973 The Tankers sempat sepanggung dengan band rock God Bless dalam sebuah pertunjukan di Istora Senayan Jakarta.

Di era 70an Karim Tess juga ikut mendukung berbagai kelompok jazz antara lain ikut mendukung Jack Lesmana Combo,Bubi Chen serta Didi Tjia.

Pada tahun 1978,Karim Tess bergabung dengan Ireng Maulana All Stars yang tampil dalam beberapa rekaman jazz maupun penampilan-penampilan di atas panggung maupun TVRI.Formasi Ireng Maulana All Stars saat itu adalah Ireng Maulana (gitar,banjo),Benny Mustafa van diest (drums),Benny Likumahuwa (trombone,saxophone,flute),Maryono (saxophone),Hendra Widjaja (piano) serta Ronni Isani (bass)

Selamat jalan om Karim Tess.

Lagu dan Kampanye Presiden

Posted: Juli 9, 2014 in Opini

Kampanye pemilihan presiden Indonesia 2014 diriuhkan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sederet pemusik. Malah beberapa pemusik sengaja membuat lagu orisinal untuk capres dan cawapres yang didukungnya, misalnya Slank menulis lagu Salam Dua Jari untuk pasangan Jokowi dan Jusuf Kalla. Kelompok Jogja Hip Hop Foundation juga menulis lagu khusus untuk Jokowi dan Jusuf Kalla bertajuk Bersatu Padu Coblos Nomor 2.

Namun yang mengundang kontroversi adalah ketika pemusik Ahmad Dhani menyanyikan lagu We Will Rock You, milik grup rock Inggris, Queen, sebagai melodi lagu kampanye untuk pasangan capres-cawapres Prabowo-Hatta yang diberi judul Indonesia Bangkit yang ternyata tidak meminta izin kepada penulis lagu tersebut, yaitu gitaris Queen, Brian May.

Sebetulnya tak ada yang salah, jika saja Ahmad Dhani meminta izin kepada penulis lagu We Will Rock You untuk digubah menjadi lagu kampanye. Ketika Brian May berkicau di akun Twitter mengenai penggunaan lagu We Will Rock You tanpa izin, dalam sekejap merebaklah berita ke seantero jagat yang pada akhirnya membuat malu Indonesia di mata dunia. Peristiwa ini setara dengan kejadian pada 1985 ketika Bob Geldof menuntut pemerintah Indonesia karena ditemukan banyak perekam kaset di Indonesia yang sengaja membajak rekaman konser amal Live Aid dan dijual secara komersial.

Presiden John F Kennedy dan Penyanyi Frank Sinatra

Presiden John F Kennedy dan Penyanyi Frank Sinatra

Di Amerika Serikat sendiri sejak kampanye presiden Andrew Jackson pada 1824 memang telah berlangsung tradisi membuat lagu kampanye untuk presiden. Saat itu Andrew Jackson menggunakan lagu The Hunters of Kentucky karya Samuel Woodworth sebagai bagian dari kampanyenya. Pada 1960 Presiden John F. Kennedy menggunakan lagu High Hopes (1959) milik Frank Sinatra sebagai lagu kampanye presiden. Frank Sinatra lalu mengganti lirik lagunya sesuai dengan kepentingan kampanye Kennedy. Presiden Bill Clinton malah menggunakan lagu Don’t Stop milik band Inggris, Fleetwood Mac, sebagai lagu kampanye. Sebetulnya lagu Don’t Stop tersebut liriknya bertutur tentang perceraian. Namun Bill Clinton mengambil sari pati optimisme dari lirik tersebut sebagai bagian dari kampanyenya: Don’t stop, thinking about tomorrow/ Don’t stop, it’ll soon be here/ It’ll be, better than before/ Yesterdays gone, yesterdays gone.

Kita, di Indonesia, sering kali lupa dan tidak peduli terhadap hak cipta sebuah karya lagu dengan seenaknya menggunakan lagu-lagu yang populer sebagai bagian dari kampanye politik. Dua tahun lalu, saat kampanye pemilihan Gubernur DKI, para pendukung Jokowi dan Ahok malah menggunakan lagu What Makes You Beautiful yang dipopulerkan boyband Inggris, One Direction, tanpa izin sama sekali. Apalagi yang menggunakan lagu-lagu rakyat atau tradisional yang tak diketahui siapa penciptanya, semisal lagu Apuse yang kemudian judul dan liriknya diubah menjadi Garuda di Dadaku.

Meskipun sebuah lagu telah masuk kategori public domain setelah melewati kurun lebih dari 50 tahun, tetap ada yang namanya etika dan kewajiban menuliskan nama penulis lagunya. Bahwa sebuah lagu tak mungkin jatuh dari langit begitu saja tanpa ada yang menuliskannya, mungkin perlu lebih jauh dipahami dengan kesadaran yang tinggi pula.

 

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 30 Juni 2014

Musik dan Kampanye Politik

Posted: Juli 9, 2014 in Opini

45 tahun silam, tepatnya 1 Juni 1969, John Lennon menuliskan sebuah lagu bernuansa politik. Lagu tersebut ditulis Lennon khusus untuk kampanye politik Dr. Timothy Leary yang saat itu head to head dengan mantan aktor Hollywood, Ronald Reagan untuk meraih kursi Gubernur California.

Saat menulis lagu itu John Lennon bersama Yoko Ono tengah melakukan kampanye perdamaian yang diberi nama Peace Bed In yang berlangsung di Montreal. Dr. Tim Leary ikut bergabung pula dalam kampanye damai John Lennon tersebut. Lalu Tim Leary menulis slogan kampanyenya “Come Together, join the party!”

Tim Leary yang kehidupannya banyak tersangkut paut dengan penyalahgunaan narkotika akhirnya kalah. Pada 21 Januari 1970, Dr. Timothy Leary dijebloskan ke dalam penjara selama 10 tahun lamanya. Namun, lagu kampanyenya “Come Together” menjadi hit besar The Beatles dan tak pernah mati.

Jadi sesungguhnya keterlibatan atau keterkaitan seniman musik dalam agenda politik bukanlah sesuatu yang aneh.

Dalam pilpres Republik Indonesia tahun 2014 ini musik memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kampanye politik para capres dan cawapresnya. Bahkan mungkin kali ini merupakan Pilpres paling panas dalam sejarah politik Indonesia, dimana perang fitnah dan perang lagu menjadi bagian dari kampanye politik yang kian hari kian memanas.

Sebuah fenomena luar biasa dari para pendukung Jokowi JK di Gelora Bung Karno 5 Juli 2014 (Foto Jay Subiyakto)

Sebuah fenomena luar biasa dari para pendukung Jokowi JK di Gelora Bung Karno 5 Juli 2014 (Foto Jay Subiyakto)

Termasuk menghangatnya kasus Ahmad Dhani yang tanpa seizin Brian May sebagai komposer lagu “We Will Rock You” dari album News Of The World (Queen, 1977) langsung mengganti liriknya dengan judul “Indonesia Bangkit” yang diunduh di sosial media termasuk Twitter dan merebaklah kasus konyol di mata dunia. Apalagi kemudian Brian May lalu berkicau melalui akun Twitter resminya bahwa penggunaan lagu “We Will Rock You” tersebut tanpa sepengetahuan dan izin darinya.

Dan setelah itu Ahmad Dhani kembali merilis lagu bertajuk “Ojo Kuwi” yang sepintas terdengar seperti menyebut nama Jokowi dan yang mengejutkan kembali menggunakan melodi lagu orang lain. Kali ini adalah lagu “Gendjer Gendjer” karya M. Arief, salah satu seniman LEKRA asal Banyuwangi yang lagunya oleh rezim Orde Baru sempat dilarang keras karena dianggap menjadi simbol dari kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Bahkan konon dalam sejarah versi Orde Baru lagu “Genjer Genjer” yang awalnya dinyanyikan oleh Bing Slamet dalam album Mari Bersuka Ria dalam Irama Lenso (dirilis Irama pada tahun 1965) dinyanyikan oleh para anggota Gerwani dalam ritual penyiksaan para jenderal Korban Gerakan 30 September di Lubang Buaya. Sejak saat itu lagu “Genjer Genjer” yang liriknya bertutur tentang sayur mayur itu termasuk lagu yang diharamkan untuk diputar atau dinyanyikan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dan sekarang ketika lagu “Ojo Kuwi” dengan berlatar melodi “Genjer Genjer” yang dinyanyikan Ahmad Dhani seolah ingin menyindir akan isu bahaya laten komunis yang sesungguhnya sudah kadaluawarsa itu kepada kubu capres dan cawapres yang lain.

Musik pada akhirnya mewarnai hiruk pikuk ritual politik.

Sejak Pemilu yang dilakukan rezim Orde baru pada 1971, bisa jadi merupakan fenomena baru dimana sederet partai politik meminang sejumlah artis untuk dijajakan di garda depan mulai mencuat. Karena mereka mahfum kalangan selebritas ini memiliki massa kuat. Lewat nyanyian mereka yang mencandu khalayak atau tampilan wajah yang good looking akan menyihir benak khalayak untuk memilih partai partai mereka.

Dan formula semacam ini masih terus dipergunakan hingga detik ini. Bahkan sekarang, para selebritas tak lagi dipakai sebagai pajangan namun diberi peluang menjadi caleg walau dengan kapasitas intelektual yang sering dipertanyakan. Ini sebuah simbiose mutualisme yang sarat dengan aroma kekonyolan.

Musik pada galibnya, akhirnya justru merupakan komoditas yang luar biasa laris hingga menjadi bagian dari sebuah kegiatan ekonomi berskala raksasa di seluruh dunia. Patut pula dicatat bahwa selain berfungsi ekonomis, secara politis musik berfungsi pula sebagai medium yang jitu untuk menggalang solidaritas komunitas atau kelompok yang mengajak orang untuk bersatu padu menjadi sebuah kesatuan.

Jadi semakin yakinlah kita bahwa sebuah lagu kebangsaan yang anthemic menjadi media untuk mengingatkan rakyat agar setia terhadap negara dan bangsanya serta memompa nasionalisme.

Mari kita telaah sebuah artikel bertajuk ”Why Music ?” yang dimuat oleh The Economist edisi 18 Desember 2008:

Nah, fakta-bahwa dia, atau dia, adalah seorang remaja-mendukung satu hipotesis tentang fungsi musik. Sekitar 40% dari lirik lagu-lagu populer berbicara tentang asmara, hubungan seksual dan perilaku seksual. Teori Shakespeare, musik yang setidaknya salah satu makanan cinta, memiliki klaim yang kuat untuk menjadi kenyataan. Semakin merdu penyanyi, semakin terampil pemain harpa, semakin banyak pasangan yang menarik. Ide kedua yang banyak disebut-sebut adalah bahwa musik mengikat sekelompok orang bersama-sama. Solidaritas yang dihasilkan, pendukungnya menyarankan, mungkin telah membantu band manusia purba untuk berkembang dengan mengorbankan orang-orang yang kurang musikal.

Di Amerika Serikat sendiri sejak jaman kampanye presiden yang dilakukan Andrew Jackson pada 1824 memang telah berlangsung tradisi membuat lagu kampanye untuk presiden. Saat itu Andrew Jackson menggunakan lagu “The Hunters of Kentucky” karya Samuel Woodworth sebagai bagian dari kampanyenya. Lagu-lagu yang dipakai sebagai lagu kampanye pada galibnya menggunakan irama yang upbeat dan memiliki unsur unsur pengulangan atau repetitive dan cenderung sing along. Ada yang menggali dari lagu-lagu rakyat maupun tradisional serta lagu-lagu yang pernah yang menjadi hits.

Lalu yang cukup fenomenal adalah pada 1960 ketika John F. Kennedy menggunakan lagu “High Hopes” (1959) karya Jimmy ban Heusen dan Sammy Cahn dan dipopulerkan oleh penyanyi Frank Sinatra menjadi lagu kampanye presiden. Lirik “High Hopes” lalu digantinya sesuai dengan kepentingan kampanye John F. Kennedy.

Pada 1992 kandidat presiden Bill Clinton malah menggunakan lagu “Don’t Stop” milik band Inggris, Fleetwood Mac, sebagai lagu kampanye. Uniknya, lagu “Don’t Stop” tersebut liriknya bertutur tentang perceraian. Namun Bill Clinton mengambil sari pati optimisme dari lirik tersebut sebagai bagian dari kampanyenya: Don’t stop, thinking about tomorrow/ Don’t stop, it’ll soon be here/ It’ll be, better than before/ Yesterdays gone, yesterdays gone.

George H. W. Bush dalam kampanye kepresidenan tahun 1988 untuk memikat para pendukungnya malah menggunakan lagu folk protes karya Woody Guthrie “This Land Is Your Land”. Pada 2012 Bruce Springsteen menuliskan lagu bertajuk “We Take Care Of Our Own” untuk kampanye presiden Barack Obama. Lirik lagu ini merupakan bentuk kegeraman dan kegelisahan Bruce Springsteen terhadap problematika politik dan ekonomi yang semakin memburuk di Amerika Serikat.

I’ve been stumblin’ on good hearts turned to stone
The road of good intentions has turned dry as a bone.

Beberapa pemusik di Indonesia dengan kesadaran yang tulus dan tinggi bergabung dalam Revolusi Mental mendukung pasangan Jokowi – Jusuf Kalla. Mereka, di antaranya Slank dan Jogja Hip Hop Foundation malah tergerak menuliskan lagu kampanye untuk Jokowi dan Jusuf Kalla secara sukarela tanpa imbal bayaran. Ini merupakan sebuah fenomanena baru, jika mau dibandingkan dengan kejadian atau peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu di saat kampanye Pemilu tahun 1971.

Saat itu Bing Slamet dan para seniman musik yang tergabung dalam Artis Safari binaan Golkar mulai menyanyikan puji-pujian dalam bentuk lagu. Bing Slamet lalu menyanyikan lagu “Pohon Beringin” yang dikemas dalam piringan hitam bertajuk Souvenir Pemilu 1971.

Dan pada akhirnya, musik tak bisa dicegah lagi sebagai alat kampanye dalam sebuah perhelatan politik.