33 tahun silam Lionel Richie Jr bersama Diana Ross mencetak hits terbesar mereka di sepanjang karir musik mereka saat menyanyikan lagu Endless Liove karya Lionel Richie secara duet.Lagu yang dijadikan soundtrack film “Endless Love” yang dibintangi Brooke Shields dan Mertin Hewitt ini berhasil menempati peringkat no.1 dalam Hot 100 Singles Billboard pada 15 Agustus 1981 selama 9 pekan berturut-turut hingga 10 Oktober 1981.
Menurut Lionel Richie,saat saya wawancarai April 2014, lagu bertema romansa ini awalnya hanya diciptakan untuk love theme film Endless Love dalam bentuk instrrumental yang digarap Richie bersama arranger Gene Page.Tapi sutradara Franco Zeffirelli dan produser film Dyson Levell lalu meminta agar lagu instrumental tersebut diberi lirik.Lionel Richie menyanggupi.Permintaan lainnya muncul yaitu,Lionel Richie diminta untuk mencari penyanyi wanita,karena lagu ini diinginkan menjadi sebuah lagu duet cinta.Richie lalu ingat Diana Ross. Tapi permasalahan lain timbul,saat Diana Ross baru saja cabut dari label Motown Record.Untunglah tercapai kesepakatan antara Motown dan label RCA yang mengontrak Diana Ross.Saat akan melakukan rekaman ,muncul lagi masalah baru.Diana Ross yang tengah melakukan tur di Lake Tahoe Nevada, tidak diizinkan untuk melakukan rekaman bersama Lionbel Richie yang melakukan sesi rekaman di Los Angeles.Tapi akhirnya terjadi kesepakatan Richie dan Ross akhirnya melakukan rekaman di Reno.Namun muncul lagi masalah lainnya : Diana Ross hanya ingin menyanyikan part yang dinyanyikan Lionel Richie.”Saya sendiri mengalami kesulitan untuk bernyanyi dengan key yang memang tewlah saya pilih untuk dinyanyikan Diana Ross.Untunglah Ross mau mengikuti apa yang saya katakan ” jelas Lionel

Bersama Lionel Richie (Foto Arief Rahman)

Bersama Lionel Richie (Foto Arief Rahman)

Richie.
Akhirnya single spektakuler itu pun direkam jam 3.30 dini hari dan berakhir pada jam 5 subuh.Hasilnya Endless Love menjadi lagu duet tersukses disepanjang masa.

Bagi generasi penikmat musik pop 80an Atauw dikenal sebgai gitaris band Lolypop yang dibentuk Rinto Harahap sebagai homeband bagi semua artis musik pop yang merilis album pada label Lolypop milik Rinto Harahap itu,mulai dari Eddy Silitonga,Rita Butar Butar,Diana Nasution,Victor Hutabarat,Christine Panjaitan hingga Iis Soegianto.Pola permainan gitarnya khas terutama menghasilkan nada-nada yang merayu dan mendayu.

Tapi untuk generasi penikmat musik era 70an terutama ingar bingar musik rock,maka sosok Atauw ini selalu disebut sebagai impersonator dari Ritchie Blackmore gitaris Deep Purple yang kemudian membentuk Rainbow.Lewat grup rocknya bernama Equator Child, Atauw yang kemudian dikenal dengan nama Achmad Taufik setelah memilih masuk Islam, itu terlihat jelas banyak dipengaruhi gaya permainan gitar Ritchie Blackmore yang saat itu dielu-elukan sebagai salag satu gitaris rock papan atas yang memiliki pesona tersendiri.

Equator Child yang didukung oleh Atauw (gitar),Jimmy Wemay (drums),Joseph (bass),Jusuf (gitar) dan Imron (vokalis) ini terbentuk di kota Pontianak,ibukota provinsi Kalimantan Barat yang dijuluki kota Khatulistiwa.”Makanya band kami ini dinamakan Equator Child,artinya anak kota khatulistiwa” urai Atauw.

Sejak awal 70an Equator Child selalu membawakan lagu-lagu Deep Purple di sekitar Pontianak hingga Singkawang.Alhasil Equator’s Child menjadi band kebanggaan Pontianak saat itu.

Tak lama berselang disekitar tahun 1974 Equator’s Child lalu menembus Jakarta.Mereka tetap memainkan repertoar Deep Purple semirip mungkin.Equator’s Child mulai tampil di Taman Ria Senayan Jakarta .”Seingat saya kami dulu dibayar sekitar Rp 75 ribu” kenang Atauw yang memiliki atrkasi panggung atraktif mengikuti gaya Ritchie Blackmore. 

“Cuma saat itu saya masih belum memiki keberanian menghabcurkan gitar Fender saya seperti yang dilakukan Ritchie Blackmore” ungkap Atauw.

Atauw saat menjadi gitarois Equator's Child di era 70an (Foto Aktuil)

Atauw saat menjadi gitarois Equator’s Child di era 70an (Foto Aktuil)

Tapi toh,saya sempat terkejut ketika di sekitar tahun 1998 Atauw dengan gagah berani menghancurkan gitar Fendernya sampai patah dua.Ini serius.Kejadiannya berlangsung di Waroeng Kemang yang terdapat di Jalan Kemang Raya Jakarta Selatan.Saat itu,,saya masih bekerja di radio M97FM Classic Rock Station dan kami tiap bulan bikin acara yang diberinama Legend of The Month dengan menampilkan karya-karya band-band classic rock era 70an.Suatu ketika radio saya memilih tema Legend Of The Month nya adalah sosok gitaris Ritchie Blackmore yang di era 70an dikenang publik saat bergabung dalam band Deep Purple hingga Rainbow.Kami lalu meminta Jelly Tobing dkk untuk mengisi acara Tribute To Ritchie Blackmore ini.Jelly lalu menghadirkan dua gitaris sebagai impersonator Ritchie Blackmore yaitu Donny Suhendra dan Atauw. Diluar dugaan penampilan Atau membawakan lagu-lagu Deep Purple dan Rainbow sangat memukau para penonton yang memadati ruangan Waroeng Kemang.Lalu tanpa disangka-asangka Atauw saat bersolo gitar,mulai membanting gitar Fendernya ke lantai panggung.Menginjak-injak fretnya berulang ulang dan kemudian mengangkat gitar tersebut seraya membenturkan leher gitar ke bibir panggung.Gitar Fender itu lalu patah berkeping-keping.Sorak sorai penonton membahana membarengi atraksi penghancuran gitar ala Ritchie Blackmore yang dilakukan Atauw.Sadis nian.

Usai pertunjukan Atauw buka rahasia bahwa sebelum naik panggung dia telah mengganti leher gitar Fendernya dengan leher gitar imitasi.”Jadi saya tetap masih memiliki gitar Fender kesayangan saya” ucapnya sambil tersenyum.

Di paruh era 70an Rinto Harahap mengajak Atauw mendukung band Lolypop .Atauw lalu mengajak rekannya dari Equator’sChild yaitu drummer Jimmy Wemay.Ditambah dengan masuknya Adhi Mantra,keyboardis Golden Wing,band rock asal Palembang, Lolypop lalu berkibar sebagai band pop yang tugasnya mengiringi artis-artis yang dikontrak Lolypop Record.  

Di akhir Agustus 2014 ada konser rock yang rasanya sayang untuk dilewatkan yaitu konser salah satu band rock tertua Indonesia God Bless yang bakal tampil di Convention Hall Harris Hotel Jalan Peta 241,Kopo,Bandung.Kenapa saying untuk dilewatkan ?.

Gitaris Ludwig Lemans God Bless di GOR Saparua Bandung Agustus 1973 (Foto Yitno Sularko)

Gitaris Ludwig Lemans God Bless di GOR Saparua Bandung Agustus 1973 (Foto Yitno Sularko)

Karena menurut saya konser God Bless kali ini memuat aura historik bagi band rock yang dibentuk oleh Achmad Albar bersama gitaris Ludwig LeMans dan drummer Fuad Hasan pada tahun 1973. Terutama karena,entah sengaja atau tidak konser God Bless yang akan berlangsung pada tanggal 30 Agustus 2014 ini seperti sebuah napak tilas atas perjalanan musik God Bless dalam rentang waktu sepanjang 41 tahun. Setelah memilih sekian banyak nama untuk jatidiri bandnya mulai dari The Balls,The Road hingga The God bahkan sempat menggunakan Crazy Wheels , triumvirat penggagas yaitu Achmad  Albar,Ludwig LeMans dan Fuad Hasan lalu sepakat menggunakan nama God Bless yang diambil dari kalimat pada kartu ucapan selamat tahun baru,God bless you.Konser debut God Bless berlangsung di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki (TIM) jalan Cikini Raya pada 5 Mei 1973 dengan formasi Achmad Albar (vokalis),Ludwig LeMans (gitar),Fuad Hasan (drums).Donny Gagola (bass) dan Yockie Surjoprajogo (keyboard).God Bless mendapat sambutan hangat dari penggemar musik rock yang mulai merengsek dalam jumlah yang banyak.Tak satu pun karya lagu sendiri yang mereka bawakan melainkan mengcover setumpuk lagu-lagu karya orang lain mulai dari Edgar Winter,Sly & The Family Stone,James Gang,Focus,Yes,The Beatles termasuk pula Frank Zappa .Keterpukauan penonton musik rock negeri ini memang baru sebatas euphoria terhadap aksi impersonator yaitu tampil dengan memirip-miripkan diri dengan band-band rock yang tengah membahana di berbagai penjuru jagad. Sejak bertahtanya rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto katup musik Barat yang dahulu disumbat oleh rezim Orde Lama dibawah perintah Presiden Soekarno,kini terbuka lebar dan tumpah ruah tiada terbendung.Lagu-lagu berlirik bahasa asing terutama Inggris, yang dianggap antek kapitalis dan ngak ngik ngok oleh Presiden Soekarno mulai menggelegak dan membelah angkasa.Band-band Indonesia yang banyak meniru band-band rock Amerika dan Inggris dari era akhir 60an hingga 70an mulai timbuh subur bak jamur.Dimana-mana, terutama di kota-kota seperti Jakarta,Bandung dan Surabaya.

Tiga anggota God Bless dari kiri ke kanan Ludwig LeMans,almarhum Fuad Hasan dan Achmad Albar di pelataran GOR Saparua Bandung (Foto Gunadi Haryanto)

Tiga anggota God Bless dari kiri ke kanan Ludwig LeMans,almarhum Fuad Hasan dan Achmad Albar di pelataran GOR Saparua Bandung (Foto Gunadi Haryanto)

Achmad Albar yang tengah berlibur ke Jakarta bersama Ludwig LeMans gitarisnya dalam band Clover Leaf di Belanda sempat terperangah dan terkaget-kaget melihat respon penonton Indonesia terhadap konser-konser rock yang mulai kerap ditampilkan di Jakarta dan Bandung.Albar pun seperti terpicu untuk ikut larut dalam euphoria rock yang terjadi saat itu, terutama ketika melihat pertunjukan The Rollies,band papan atas dari Bandung.Achmad Albar lalu mengajak Ludwig LeMans untuk membentuk band rock di Jakarta. Suasana di Jakarta sejak Orde Baru mulai memperlihatkan perubahan dan pergeseran dalam gaya hidup terutama dengan berkecambahnya konser-konser rock. Dengan kondisi larangan dari rezim Orde Baru yang anti ngak ngik ngok pada era 60an sesunggunya merupakan alas an bagi Achmad Albar meninggalkan Jakarta menuju Belanda pada tahun 1965. Di Belanda Achmad Albar yang ingin mendalami music mulai ikut bergabung dalam sejumlah band seperti Take Five hingga Clover Leaf yang mengantarnya masuk ke dunia rekaman.

Berubahnya music rock menjadi santapan yang massive,akhirnya merupakan pemicu utama terbentuknya God Bless.Dengan waktu singkat God Bless seperti telah mendapat pengakuan dari khalayak penikmat music maupun media sebagai sebuah grup rock yang menjanjikan.Pada tanggal 16 Agustus 1973 God Bless menjadi salah satu band rock yang mendapat sorotan dalam acara music udara terbuka Summer ’28 yang berlangsung di sebuah lahan milik Inter Studio Film dikawasan Ragunan Pasar Minggu. Summmer ’28 yang merupakan akronim dari Suasana Menjekang Kemerdekaan RI ke 28 itu memang seperti ingin meniru gerakan Summer of Love di belahan barat sana yang menghasilkan Monterey Pop Festival pada tahun 1967 dan Woodstock Music Festival pada tahun 1969.

Dengan didukung Deddy Dorres pemain keyboard dari Freedom Of Rhapsodia,band rock asal Bandung,God Bless kembali menebar pesona pada khalayak cadas .Achmad Albar memilih sosok Deddy Dorres setelah melihat penampilan Deddy Dorres bersama Freedom of Rhapsodia yang tampil di Mini Disco Jakarta.Masuknya Deddy Dorres kedalam tubuh God Bless menggantikan posisi Yockie Surjoprajogo yang mengundurkan diri dan bergabung dengan band Bandung Giant Step yang dibentuk Benny Soebardja mantan The Peels dan Sharkmove.

God Bless yang didukung pemusik Bandung ini lalu menggelar konser perdana mereka pada akhir Agustus 1973 di Gedung Olahraga Saparua Bandung yang terletak di Jalan Ambon .Tempat yang biasa dipergunakan untuk pertandingan bola basket dan badminton ini justru menjadi saksi sejarah perjalanan musik God Bless yang malam itu tampil bersama Gang Of Harry Roesli dari Bandung serta band Bentoel dari Malang.Saat itu Ian Antono,yang kemudian bergabung dengan God Bless di tahun 1975, masih tergabung sebagai personil band Bentoel.

Kejadian 41 tahun silam itu juga menandai sebuah keterkaitan yang kuat antara God Bless dan Bandung.Kenapa ? Karena ternyata ada beberapa pemusik rock terdepan Bandung yang sempat hilir mudik memperkuat formasi God Bless. Dimulai dengan masuknya Deddy Dorres sebagai keyboardist menggantikan Yockie pada tahun 1973, kemudian masuknya pemain keyboard berbakat Bandung almarhum Soman Lubis yang menggantikan posisi Deddy Dorres.Deddy Dorres masuk ke formasi Giant Step menggantikan posisi Yockie Surjoprajogo. Soman Lubis sendiri saat itu adalah pemain keyboard yang disegani di Bandung.Soman pernah memperkuat The Peels dan Sharkmove.”Terus terang saya saat itu merasa kehilangan ketika God Bless merekrut Soman Lubis masuk God Bless” ungkap Benny Soebardja yang kemudian membubarkan Sharkmove dan membentuk God Bless.

Salah satu permainan keyboard menawan yang dipertontonkan Soman Lubis saat bergabung dengan God Bless adalah ketika melakukan atraksi solo keyboard dengan memainkan repertoar Emerson,Lake and Palmer bertajuk “Promenade” dan “The Gnome” sebuah interpretasi rock Keith Emerson atas karya klasik Modest Mussorgsky dari album “Pictures An Exhibition” (1971).

Ketika masa visa Ludwig LeMans berakhir untuk keduakalinya di Indonesia,akhirnya God Bless harus merelakan kepergian giatris berdarah Indo Belanda itu kembali ke kampong halamannya pada tahun 1974 .Posisi gitar lalu diambil alih oleh Donny Gagola.Lalu siapakah yang mengisi posisi bass ? Lagi-lagi God Bless terpukau dengan  Deddy Stanzah sosok bassist rock Bandung yang saat itu mengundurkan diri dari band yang dibentuknya The Rollies.Sosok Deddy Stanzah dalam pertunjukan panggung dinilai pantas dan sesuai dengan gaya God Bless.Sayangnya Deddy Stanzah hanya sempat bergabung selama 4 bulan serta sempat sekali tampil dalam sebuah konser di Palembang pada tahun 1974.God Bless merasa terganggu dengan kebiasaan lama Deddy Stanzah yang masih mengkonsumsi narkoba.

Disayangkan pula formasi awal God Bless juga tak sempat didokumentasikan dalam sebuah album rekaman satupun.Saat itu para pemilik label rekaman  tak tertarik untuk merilis sebuah album rock yang dianggap tidak memiliki nilai jual .Disamping itu God Bless memang tengah menikmati masa panen konser dari satu panggung ke panggung lainnya.

Kembalinya God Bless menggelar konser di Bandung pada akhir Agustus 2014 ini selain memiliki nilai historis yang sarat nostalgia juga merupakan ajang reuni yang sangat ditunggu-tunggu terutama karena munculnya Yockie Surjoprajogo,pemain keyboard God Bless yang tercatat berkali-kali keluar masuk formasi God Bless serta kehadiran drummer Teddy Sudjaja dan gitaris Eet Sjahranie yang pernah mendukung God Bless dari tahun 1989 – 1997. Meskipun ketiga mantan personil God Bless ini akan manggung bersama Achmad Albar,Donny Fattah dan Ian Antono di panggung nanti, kehadiran mereka hanya sebatas bintang tamu dan bukan sebuah reuni permanen. Namun hal ini merupakan peristiwa rock yang penting untuk ditonton.Setidaknya kita akan menikmati perjalanan sebuah band rock dengan pelbagai suka dan dukanya selama 41 tahun.Semuanya berlangsung di Bandung.   

Green Pub, Menyemaikan Jazz di era 80an

Posted: Agustus 10, 2014 in Kisah

Di awal 80-an,belum ada yang namanya Kafe apalagi Mall.tapi sudah banyak yang namanya Pub.Tempat menikmati minuman sambil berleha leha nonton semaraknya sajian live band.Saat itu Live band yang paling menarik,kalo gak sajian Top 40 ya…..jazz.Itu pasti.
Beberapa pub yang kita kenal antara lain saat itu adalah Jaya Pub hingga Captain’s Bar yang berada dalam Mandarin International HotelJakarta .Dan satu lagi tempat favorit yang ada di Jakarta adalah Green Pub,yang berada di kaki gedung bioskop Djakarta Theater.

Almarhum Helmie Indrakesuma dari Chaseiro diiringi perkusionis Adi Prasodjo dari Black Fantasy di Green Pub (Foto Dion)

Almarhum Helmie Indrakesuma dari Chaseiro diiringi perkusionis Adi Prasodjo dari Black Fantasy di Green Pub (Foto Dion)

Green Pub ini sebetulnyasudah mulai ada sejak tahun 1978.Saat itu secara perlahan mulai terlihat demam jazz pop berjangkit di Jakarta.Kaset-kaset berlabel jazz vocal,fusion,jazzy tunes dan lain lain mulai menyergap kuping konsumen kita.Sosok seperti George Benson,Al Jarreau,Patti Austin,Michael Franks,The Manhattan Transfers ,Sergio Mendes,Angela Bofill,Gino Vannelli,Jimmy Messina,Kenny Loggins dan masih sederet lainnya, mulai banyak dikenal termasuk band band fusion Jepang Casiopea maupun Uzeb dari Kanada.

Green Pub kalo kita liat tempatnya sih kecil.Tapi disitulah banyak bercokol nama-nama yang pada akhirnya mencuat sebagai insan jazz Indonesia .Di Green Pub inilah merupakan ajang candradimuka bagi Jacky,Emile S Praja,Utha Likumahuwa,Embong Rahardjo,Chris Kaihatu,Karim Suweileh,Mates,Joko WH,Jopie Reinhardt ItemYance Manusama,Chandra Chasmala,Ruth Sahanaya, dan masih banyak lagi.

Di Green Pub ada homeband-nya yang diberinama Gold Guys.Terdiri atas almarhum  Embong Rahardjo (flute,saxophone,picollo),Joko WH (gitar),Chandra Chasmala (keyboards),Mates (bass).Drummernya gonta ganti,ada Inang Noorsaid,Yaya Moektio hingga Aldy.Ketika dikirim sebagai wakil Indonesia ke North Sea Jazz Festival di Den Haag pada tahun 1986,gold Guys berubah nama jadi Wongemas.

 

Banyak memori yang tercipta di Green Pub.Saat itu ikon Green Pub adalah Jacky yang mampu meniru persis gaya bernyanyi Al Jarreau hingga George Benson .Disini juga sering terlihat Johan Oentoeng,vokalis yang mampu meniru secara persis karakter penyanyi apapun dan manapun.

Jacky Bahasoan penyanyi tetap di Green Pub (Foto Dion)

Jacky Bahasoan penyanyi tetap di Green Pub (Foto Dion)

Rasanya belum ada ya yang menggantikan Green Pub ? Atau gua aja yang terlalu emosional sebagai pemuja masa lalu ? He he he

Seolah terseret ke sebuah masa di akhir era 70-an.Setidaknya ada juga label Indonesia yang mencoba mene-rapkan kiprah yang dilakukan label seperti Rhino, yang tiada henti merilis dan me-remaster album-album back catalog. Prambors Band adalah band yang dibentuk Mochammad Noor Aroembinang, salah satu dedengkot Radio Prambors yang juga ikut membidani ajang kompetisi Lomba Cipta Lagu Remaja di tahun 1977. Terdiri atas gitaris Oding Nasution, drummer Yaya Moektio, bassis Sudibyo, kibordis Dondy SM serta Eben dan Sarah Hutauruk sebagai penyanyi. Ada sederet hits dari empat album Prambors Band yang dirangkum di sini, yaitu Jakarta Jakarta (1978), Sebentuk Keresahan (1979), 10 Pencipta Remaja (1979), serta Kemarau II (1986). Untuk album yang keempat, formasi Prambors Band berubah dengan masuknya bassis Suresh Ariesta, kibordis Kicky Marakarma dan vokalis Roedy Damhudy. Menariknya, di album ini, terutama yang diambil dari 10 Pencipta Remaja, terdapat hit seperti ”Sepercik Air” yang dipopulerkan almarhum Deddy Stanzah,”Kehidupan” oleh Louise Hutauruk dan ”Cinta Diri” oleh Utha Likumahuwa.
Pengaruh dari sukses album LCLR 1977 dan LCLR 1978 serta album solo Chrisye dan Keenan yang kebetulan dirilis pada tahun 1978 banyak mempengaruhi perangai musik Prambors Band. Mochammad Noor Arumbinang mendominasi penulisan lagu dan lrik Prambors Band. Pada album Jakarta Jakarta, tampak jelas mereka ingin lain dari segi pengungkap-an lirik. Mulai dari isu gender yang terungkap dalam ”Pria dan Wanita”, juga lagu ”Jakarta Jakarta” yang disajikan dalam tema hustle yang riang. Lagu ini menjadi tema film Jakarta Jakarta yang dibesut almarhum Ami Priyono dan dibintangi Ricca Rachim dan El Manik.

CD kompilasi lagu-lagu terbaik Prambors Band

CD kompilasi lagu-lagu terbaik Prambors Band

Aransemen musik patut diakui mencoba mendekati gaya simfonik rock yang ditorehkan Yockie Soerjoprajogo dalam LCLR 1978. Keyboard agak mendominasi sebagai pengganti bunyian orkestral diimbuh permainan gitar elektrik Oding Nasution yang progresif. Nyata benar dalam menghasilkan solo melodi, Oding banyak menyimak pattern yang pernah diperkenalkan Jan Akkerman dan Steve Hackett. Permainan drum yang dimainkan Yaya memang akurat tapi kadang suka berlebihan. Pengaruh warna kelompok musik progresif se-perti Kayak dan Ekseption terasa terutama pada penonjolan unsur keyboard di album kedua bertajuk Sebentuk Keresahan.

Di tahun yang sama, Prambors Band kembali tampil dalam album 10 Pencipta Lagu Remaja yang berisikan 10 lagu yang masuk semi finalis dalam LCLR 1978. Lagu-lagu ini dianggap gagal untuk masuk Dasa Tembang Tercantik, tapi oleh panitia, kesepuluh lagu di album ini memiliki kualitas yang tak kalah dengan 10 Finalis LCLR 1979. Insting panitia ternyata berbukti lagu se-perti ”Sepercik Air” karya Iman A. Brata, ”Kehidupan” karya Michael Panggabean, maupun ”Cinta Diri” karya Harry Dea dari Balagadona Vokal Group. Lalu ada juga sequel dari Kemarau yang diberi judul ”Kemarau II” dengan mengedepankan vokalis pop beratmosfer rock Roedy Damhudi. Apabila Anda ingin menelusuri sekeping warna musik yang menggelayut di akhir dasawarsa ‘70-an, maka album ini layaklah berada di genggaman Anda.

DENNY SAKRIE

(Review ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2009)

Benny Soebardja ,founder sekaligus leader band rock 70an asal Bandung Giant Step tetap gigih ingin menyatukan keutuhan bandnya.Entah untuk keberapa kalinya Benny Soebardja berupaya melakukan hal itu.Seingat saya, Benny Soebardja pernah datang menemui saya pada sekitar tahun 1996 di tempat saya bekerja saat itu Radio M97FM Classic Rock Station yang berada di kawasan Jalan Borobudur Menteng Jakarta Pusat.Saat itu, Benny mengutarakan niatnya untuk kembali ke dunia musik dengan berkuat kembali ke dunia rekaman dan panggung.Saya menyambut dengan antusias keinginan Benny Soebardja untuk kembali lagi bermusik.Karena menurut saya, Benny Soebardja masih memiliki dan menyimpan kemampuan menulis lagu sekaligus bernyanyi dengan baik.Suaranya masih lantang dengan artikulasi yang jernih.Namun.yang patut disayangkan adalah beberapa personil Giant Step agak susah untuk disatukan kembali.Misalnya Triawan Munaf yang lebih berkonsentrasi pada bisnis periklanan ,Albert Warnerin yang sibuk bermain blues dengan grupnya Big City Blues Band maupun Adhi Sibolangit yang telah meninggalkan dunia musik dengan menjamah dunia spritualisme. Tapi toh Benny Soebardja tetap gigih untuk kembali tampil di panggung dengan Giant Step. Di tahun 1997 dengan didukung Jelly Tobing pada drum, Benny Soebardja juga mengajak beberapa pemusik muda seperti Krisna Prameswara (keyboard) dan Shankan (gitar) untuk melahirkan kembali formasi Giant Step.Formasi ini sempat manggung di Classic Rock Cafe yang berada di bilangan Blok M Jakarta.

Benny Soebardja (gitar,vokal) dan Adhi Sibolangit (bass) di Musro Music Lounge Borobudur Hotel 15 Juni 2014 (Foto Denny Sakrie)

Benny Soebardja (gitar,vokal) dan Adhi Sibolangit (bass) di Musro Music Lounge Borobudur Hotel 15 Juni 2014 (Foto Denny Sakrie)

Saya sangat memahami keinginan dan tekad Benny Soebardja untuk memanggungkan kembali Giant Step meskipun dengan tertatih-tatih.Pada zamannya ,era 70an hingga 80an, Giant Step adalah band rock yang agak menjurus ke progresif rock,yang sarat dengan idealisme.Mereka,saat itu, dalam berbagai konser-konser yang digelar di Jakarta,Malang,Bandung,Surabaya dan beberapa kota besar lainnya,pantang atau mengharamkan mebawakan karya-karya orang lain.Dengan rasa percaya diri yang tinggi,Giant Step yang terbentuk di tahun 1973 lebih bangga membawakan lagu-lagu karya sendiri.Dan itu harga mati yang tak bisa diganggu gugat lagi. Ini pula yang membuat saya respek atau menaruh rasa hormat setinggi lagi pada Benny Soebardja dan Giant Step.Mereka tak mau kompromi dalam mengusung karya-karya lagu sendiri.

Benny Soebardja membawakan My Life dari album Giant Step Mark 1 (Foto Denny Sakrie)

Benny Soebardja membawakan My Life dari album Giant Step Mark 1 (Foto Denny Sakrie)

Jelly Tobing tengah menyaksikan Benny Soebardja dan Adhi Sibolangit yang melakukan rehearsal di Musro Borobudur Hotel (Foto Denny Sakrie)

Jelly Tobing tengah menyaksikan Benny Soebardja dan Adhi Sibolangit yang melakukan rehearsal di Musro Borobudur Hotel (Foto Denny Sakrie)

Di sekitar tahun 2009, kembali Benny Soebardja berupaya untuk memanggungkan Giant Step.Saat itu Erwin Badudu,keyboardis yang masuk menggantikan TriawanMunaf pada tahun 1977 malah telah mengacungkan jari untuk siap bermain lagi dengan Giant Step.Erwin bahkan sempat menghubungi saya dan kita ngobrol tentang dimana konser Giant Step akan digelar.Sayangnya ide reuni Giant Step kembali gagal,karena Erwin Badudu disibukkan dengan kegiatan musik gereja. Diantara rentang waktu tersebut sebuah label indie Strawberry Rain yang berada di Toronto Kanada berminat merilis album-album solo Benny Soebardja di era 70an dalam format vinyl dan CD.Jason Connoy sang pemilik label langsung merilisnya dalam 3 album vinyl.Rilisan dalam bentuk reissue ini ternyata mendapat sambutan hangat dari penikmat musik rock di belahan sana.Terlihat jelas dari review-review yang bertebaran di dunia maya. Peristiwa ini tentu saja kembali menyemangati Benny Soebardja untuk kembali muncul dengan Giant Step. Terbetik kabar Benny Soebardja bersama Jelly Tobing,drummer Giant Step era 80an telah menemui gitaris Albert Warnerin.Sayangnya kondisi Albert Warnerin yang didera penyakit,justru tak memungkinkan untuk tampil kembali di panggung pertunjukan bersama Giant Step.

Namun Benny Soebardja tetap tak mundur sejengkal pun.Suatu hari Benny melemparkan pesan ke saya via BBM.Dalam pesannya itu Benny mengatakan bahwa dia telah berhasil mengajak Deddy Dorres,pemain keyboard yang pernah mendukung Giant Step di tahun 1973, untuk ikut manggung.Bahkan Benny pun berhasil membujuk Adhi Sibolangit sang bassist yang sudah meninggalkan dunia musik untuk turun gunung.

Formasi Giant Step yang terdiri atas Benny Soebardja (gitar,vokal utama),Adhi Sibolangit (bass),Deddy Dorres (gitar),Erwin Badudu (keyboard) serta Jelly Tobing (drum) itu menurut Benny Soebardja siap untuk melakukan reuni.Mendengar kabar itu,saya merasa tidak sabaran untuk nonton konser reuni Giant Step tersebut. Akhirnya terbetik kabar formasi Giant Step ini akan tampil dalam acara launching reissue album Sharkmove “Ghede Chokra’s pada tanggal 15 Juni 2014 di Musro Music Lounge Borobudur Hotel.

Benny Soebardja (Foto Denny Sakrie)

Benny Soebardja (Foto Denny Sakrie)

Saya bahkan menawarkan diri untuk memandu acara tersebut. Namun sayang Deddy Dorres yang telah menyanggupi untuk ikut bermain bersama Giant Step mengabarkan bahwa dia tengah berada dalam sebuah acara politik.Blam……Erwin Badudu jauh sebelum acara juga menyatakan berhalangan.Walhasil malam itu Giant Step hadir dengan formasi Benny Soebardja (vokal,gitar),Adhi Sibolangit (bass) dan Jelly Tobing yang malah bermain gitar.Drum dimainkan Rhama Nalendra putra Benny Soebardja serta Krisna Prameswara yang memainkan keyboard.

Meskipun tampil dengan formasi yang tak utuh,toh aura Giant Step tetap menyembul dalam pola permainan mereka malam itu yang membawakn lagu-lagu dari album Giant Step Mark 1 (1975) seperti My Life,Childhood and Seabird, Fortunate Paradise serta Persada Tercinta.

5 Maret 2011 saya dijadwalkan untuk mewawancarai bassist Nathan East.Adib Hidayat dari Rolling Stone meminta saya untuk mewawancara Nathan East.Saya menyanggupi permintaan ini karena bassist murah senyum ini memiliki jejak rekam yang fantastik dalam industri musik dengan mendukung banyak rekaman dan pentas pertunjukan sebagai bassist .Mulai dari soul,funk,jazz hingga rock sekalipun. Tempat wawancara berlangsung di Gedung Yamaha Music Foundation yang beralamat di bilangan Jalan Gatot Subroto Jakarta.Saat wawancara saya ditemani oleh fotografer Putra Djohan.Djohan ini adalah fotografer yang banyak mermbuat foto-foto berkaitan dengan dunia musik mulai dari foto cover kaset atau CD  hingga foto-foto konser.Saya baru berkenalan dengan Djohan saat berlangsungnya wawancara tersebut.Orangnya ramah dan punya banyak ide.Dia paham dengan obyek yang akan dipotretnya. Bahkan Djohan jauh hari sebelum berlangsungnya wawancara telah mempersiapkan sebuah playlist yang berisikan lagu-lagu favorit dari Nathan East.Djohan melakukan googling dan menemukan lagu-lagu yang disukai oleh Nathan East. Playlist tersebut lalu diputar oleh Djohan saat saya mulai melakukan wawancara dengan Nathan East termasuk saat East melakukan pemotretan dibawah arahan Putra Djohan. Dan trick ini ternyata memang manjur bin mustajab.

Nathan East dengan senang melakukan wawancara bersama saya (Foto Putra Djohan)

Nathan East dengan senang melakukan wawancara bersama saya (Foto Putra Djohan)

Karena saya merasakan betapa Nathan East terlihat sangat menikmati sesi wawancara dan pemotretan yang dilatari pemutaran lagu-lagu kesayangannya tersebut yang kebanyakan didominasi oleh lagu-lagu bernuansa soul funk mulai dari Tower of Power,Earth Wind & Fire serta repertoar milik gitaris jazz legendaris Wes Montgomery. East terlihat enjoy dan terkadang disela-sela obrolan,East mengalihkan pembicaraan ke soal bagaimana teknik ngebass dari bassist Rosco Prestia yang bermain dalam kelompok Tower Of Power.”I like Prestia” ucap Nathan East sambil kepalanya ikut bergoyang kecil.

Pose ini adalah ide dari saya.Dan Nathan East pun menyetujuinya (Foto Putra Djohan)

Pose ini adalah ide dari saya.Dan Nathan East pun menyetujuinya (Foto Putra Djohan)

Waktu wawancara yang disediakan sekitar 15 menit,akhirnya jadi panjang hingga 45 menit,karena Nathan East seolah terbawa dalam suasana yang menyenangkan.Ketika seorang panitia masuk ke ruangan tempat wawancara untuk memberitahu bahwa di ruangan lain telah menunggu acara klinik bass yang sore itu diisi oleh Nathan East, bassist yang kini mendukung band Toto itu justru minta waktu sedikit lagi untuk menuntaskan sesi wawancara dan pemotretan. Ternyata Nathan East merasa nyaman dalam sesi wawancara yang diiringi lagu-lagu kesayangannya. Sebuah trick jitu dari fotografer Putra Djohan.Sore itu saya dapat satu pelajaran baru lagi tentang memberikan suasana nyaman terhadap orang yang tengah saya wawancarai.Terimakasih Djohan.

Nah,jika ingin mengetahui susunan playlist lagu yang disusun fotografer Putra Djohan saat mewawancarai dan memotret Nathan East ini catatannya :

1. Wes Montgomery – How Insensity

2. Earth Wind and Fire – Boogie Wonderland

3. Earth Wind and Fire – Fantasy

4. Earth Wind and Fire – reasons

5. Earth Wind and Fire – in the stone

6. Earth Wind and Fire – every now and then

7. Good Times 2 – So very hard to go

8. Tower of Power – I like your style

9. Tower of Power – so very hard to go

10. Tower of Power – Soul with a capital ‘S’

11. Tower of Power – What is Hip?

12. Tower of Power – Play That Funky Music White Boy

13. Wes Montgomery – Windy

14. Earth Wind and Fire – Let’s Groove

15. Earth Wind and Fire – September