Ketika Rekaman Fisik Menolak Punah

Posted: April 21, 2014 in Opini

Masih segar ingatan kita ketika akhir tahun 2013 gerai musik terbesar dan terlengkap di Jakarta Aquarius tutup untuk selamanya.Beberapa tahun sebelumnya sebetulnya sudah banyak gerai musik yang tutup, bukan hanya di Indonesia tapi di negara-negara yang industri musiknya telah mapan seperti Amerika Serikat atau Jepang juga mengalami hal yang sama.Sebut saja gerai musik raksasa seperti Tower Record maupun Virgin Music Store yang akhirnya membubarkan diri.

Rusty Gordon pemilik Canterbury Record di Pasadena California (Foto Mark Spitz)

Rusty Gordon pemilik Canterbury Record di Pasadena California (Foto Mark Spitz)

Penyebabnya adalah pergeseran paradigma dalam industri musik dengan menyeruaknya teknologi digital dimana format era lalu seperti compact disc,kaset dan piringan hitam mulai ditinggalkan konsumen musik.Pembelian produk musik kini lebih popular dilakukan secara digital.

Record Store Day 2013 di Amoeba Record,Los Angeles California (Foto Mike Spitz)

Record Store Day 2013 di Amoeba Record,Los Angeles California (Foto Mike Spitz)

Namun beberapa pihak mulai melakukan semacam gerakan untuk kembali melakukan sosialisasi menghidupkan penggunaan format fisik seperti piringan hitam yang dimulai pada tahun 2008.Beberapa pemilik gerai musik independen seperti Eric Levin, Michael Kurtz, Carrie Colliton, Amy Dorfman, Don Van Cleave and Brian Poehner lalu melakukan pertemuan di Baltimore .Tercetuslah gagasan Record Store Day yang kemudian dirayakan setiap tahun pada minggu ketiga April yang didukung oleh gerai musik independen ,label rekaman ,artis musik dan penikmat musik.Dalam acara Record Store Day ini berlangsung jual beli piringan hitam dan cd,meet and greet,diskusi serta pertunjukan musik .

Suasana Record Store Day Indonesia di Jakarta sabtu 19 April 2014 (Foto Agus WM)

Suasana Record Store Day Indonesia di Jakarta sabtu 19 April 2014 (Foto Agus WM)

Sekitar 300 gerai musik termasuk Waterloo Record,Vintage Vinyl dan School Kids Records ikut mendukung Record Store Day yang pertamakali diadakan pada 19 April 2008 di Amerika Serikat serta di Inggris yang didukung Picadilly Records,Jumbo Records serta Avalanche Records.Tercatat sekitar 10 album baru yang diluncurkan dalam Record Store Day ini.
Pada penyelenggaraan berikutnya 18 April 2009, tercatat sekitar 85 album dirilis dalam Record Store Day serta sekitar 500 artis musik berpartisipasi dalam pertunjukan musik. Di tahun ini Record Store Day juga diadakan di Jepang,Kanada,Irlandia,Italia,Belanda,Jerman ,Norwegia dan Swedia.
Di tahun 2010 ,Record Store Day diikuti lebih dari 1400 gerai musik independen ,sekitar 1000 gerai berasal dari Amerika.
Dari tahun ke tahun Record Store Day memperlihatkan grafik yang meningkat mulai dari jumlah album yang dirilis serta artis musik yang tampil di pentas.Di tahun 2012 sekitar 400 judul album dirilis di acara ini mulai dari album baru hingga reissue atau rilis ulang.
Di Indonesia sendiri,Record Store Day mulai digelar sejak tahun 2013 oleh komunitas musik independen di Jakarta .Tahun ini Record Store Day tak hanya di Jakarta tapi juga dibeberapa daerah mulai dari Bandung,Malang,Makassar  hingga ke Purwokerto. Jumlah rilisan album yang mencakup piringan hitam dan cd tercatat lebih dari 20 judul album. Ini tentunya sangat menggembirakan.Karena kelesuan dalam produksi rekaman fisik yang dialami oleh label-label besar justru berbanding terbalik dengan produksi rekaman fisik yang dihasilkan oleh label maupun penggiat musik independen.

Selebrasi Record Store Day di Jakarta (Foto Agus WM)

Selebrasi Record Store Day di Jakarta (Foto Agus WM)

Event Record Store Day ini pada akhirnya seolah menjadi ajang selebrasi kembalinya rekaman musik dalam format piringan hitam di tengah berlangsungnya paradigma musik digital . Dalam kurun waktu 4 tahun belakangan penjualan piringan hitam naik 300 persen dengan penjualan di tahun 2006 sebesar 858.000, menjadi 2,5 juta di tahun 2009. Menurut data yang dikeluarkan oleh Nielsen SoundScan tahun 2010, penjualan piringan hitam telah mencapai 2,8 juta keping .

Agus pemilik gerai musik Warung Musik Blok M Square dan Majemuk Record bersama Denny Sakrie dan David Tarigan.

Agus pemilik gerai musik Warung Musik Blok M Square dan Majemuk Record bersama Denny Sakrie dan David Tarigan.

Bahkan data per juni 2011 penjualan album vinyl terjual 40 persen melebihi tahun sebelumnya.
Dan Record Store Day yang berlangsung di Indonesia pada 19 dan 20 April 2014 dan diikuti 16 gerai musik independen dan 11 label musik independen ini setidaknya bisa dianggap sebagai salah satu upaya penggerak untuk mengatasi kelesuan dalam industri musik di Indonesia.

 

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo edisi Minggu 20 April 2014

Pianis jazz muda Indonesia Joey Alexander  (10 tahun) akhir April ini direncanakan menuju Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian konser jazz. Ini tentunya sebuah warta yang membanggakan bagi dunia jazz negeri ini terutama juga kebanggaan untuk Indonesia.

Joey Alexander (Foto Tempo)

Joey Alexander (Foto Tempo)

Kehadiran Joey Alexander di Amerika Serikat atas undangan dari trumpetis jazz sohor Wynton Marsalis dalam sebuah konser dan gala dinner bertajuk “Love,Loss and Laughter: The Story of Jazz” yang mengambil tempat di Frederick P Rose Hall “The House Of Swing” yang berlokasi di Broadway 60 th Street,New York .Acara ini merupakan event tahunan dari Jazz At Lincoln Center yang digagas oleh Wynton Marsalis.Acara ini berbentuk musical revue yang menampilkan highlight karya-karya musik jazz dalam sejarah musik jazz yang berkembang dari New Orleans dan menjalar ke New York hingga pada akhirnya menyeruak dalam budaya global ke seantero jagad. Acara yang dipandu oleh aktor Billy Crystal ini menampilkan banyak tokoh-mulai dari tokoh jazz,blues hingga actor seperti Jon Faddis,Bill Cosby,Jonathan Batiste,Marcus Roberts,Dianne Reeves,Mark O’Connor,Taj Mahal,Dominick Farinacci,Pedrito Martinez,Brian Stokes Mitchel,Cecile McLorin Salvant serta Fairview Baptist Church Brass Band.Dan tentunya Wynton Marsalis with Jazz At Lincoln Center Orchestra.

JOEY
Joey Alexandera sendiri adalah satu-satunya pemusik yang datang dari luar Amerika Serikat.Direncanakan Joey akan memainkan dua komposisi jazz ,sebuah solo piano serta sebuah penampilan yang membanggakan karena Joey akan bermain piano diiringi Jazz At Lincoln Orchestra yang dipimpin Wynton Marsalis.
Lalu bagaimana Joey Alexander bisa diundang bermain di acara jazz bergengsi itu ?
Ikhwalnya bermula ketika Wynton Marsalis melihat permaianan piano solo Joey yang membawakan komposisi karya Thelonius Monk “Round Midnight” lewat video bertajuk “Son Of The Future” yang diunggah dikanal youtube dan kemudian ditampilkan lewat The Good News With The Ellen DeGeneres Show. Kemudian Jason Olaine Director of Programming and Touring dari Jazz At Lincoln Center menghubungi pihak Joey Alexander melalui facebook dan meminta kesediaan Joey Alexander tampil di New York Amerika Serikat.
Wynton Marsalis,pemusik jazz peraih 9 Grammy Award ini tertarik dan kagum melihat ekspresi dan karakter permainan piano jazz Joey Alexander.Lalu Wynton Marsalis bersama Jazz At Lincoln Center tertarik untuk mengajak Joey Alexander tampil sebagai “surprising guest” di acara gala dinner “Love ,Loss and Laughter :The Story Of Jazz” pada 1 Mei 2014 nanti.

Saya sedang berbincang dengan pianis Joey Alexander di Goethehaus Agustus  2013 (Foto Jazzuality)

Saya sedang berbincang dengan pianis Joey Alexander di Goethehaus Agustus 2013 (Foto Jazzuality)

Joey Alexander pun dijadwalkan akan tampil bermain solo piano jazz pada tanggal 7 Mei di Paul Roberson Center For The Arts , 102 Witherspoon Street Princeton,New Jersey, Amerika Serikat.Konser yang ini atas prakarsa dari Leonardo Pavkovich, pemilik label Moonjune Record di New York, yang juga merilis album-album jazz dari simakDialog,Dewa Budjana hingga Tohpati secara internasional.
Joey Alexander memang pianis jazz berbakat.Joey belajar jazz secara otodidak. Bakat musik terutama jazz yang dimiliki Joey memang telah ditelisik oleh kedua orang tuanya Denny Sila dan Farah Sila .Menurut ayahnya Denny, Joey , telah memperlihatkan talenta dan minatnya yang tinggi terhadap permainan piano sejak berusia 6 tahun. Di bawah asuhan ayahnya, Joey Alexander pun mengikuti berbagai festival jazz antara lain Java Jazz International Festival, Jakarta I, World Youth Jazz Festival di Kuala Lumpur. Hingga suatu hari tepatnya tanggal 23 Desember 2011 Joey juga diundang oleh UNESCO untuk bermain di depan tokoh jazz dunia yang juga berperan sebagai Unesco Goodwill Ambassador , Herbie Hancock, di @atamerica
Herbie Hancock terperangah saat Joey memainkan komposisi karyanya Watermelon Man dengan fasih diatas tuts grand piano.

Joey Alexander (Foto Jazzuality)

Joey Alexander (Foto Jazzuality)

Joey Alexander  tercatat berhasil meraih prestasi dalam event dunia dengan meraih Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill yang diselenggarakan pada 5-8 Juni 2013 di Odessa, Ukraina.
Dalam situs resmi International Festival–Contest of Jazz Improvisation Skill disebutkan, para juri akhirnya menyimpulkan penghargaan tidak hanya diberikan untuk musisi jazz profesional dan berbakat, tetapi juga untuk mereka yang menjadi fenomena di dunia jazz. Joey Aleaxander adalah pemusik jenius muda yang dimaksud. Joey merupakan peserta termuda dan mampu mengalahkan 43 peserta final dari 15 negara yang rata-rata musisi jazz mumpuni.
Semoga penampilan pianis belia Joey Alexander Sila membuka mata dunia terhadap konstelasi musik jazz di Indonesia.
Denny Sakrie

Symphony Band Yang Menyiasati Tren

Posted: April 16, 2014 in Kisah, profil

Banyak yang menyangka bahwa penggagas dan pendiri Symphony adalah Fariz RM.Sebetulnya Symphony ini tercetus atas gagasan dua alumni SMA 3 Setiabudi Jakarta yaitu almarhum Jimmy Paais dan Herman “Gelly” Effendy yang saat itu tengah kasak kusuk bikin band.Secara kebetulan baik Jimmy Paais maupun Herman Gelly menyukai music rock terutama yang bernuansa progresif rock.Keduanya semasa SMA ikut tergabung dalam kegiatan vokal group SMA 3 Setiabudi Jakarta. Jadi tak heran ketika membentuk Symphony yang terpikir dalam benak mereka dalah Fariz RM,alumnus SMA 3 juga dan sama-sama ikut aktif dalam kegiatan vokal grup SMA 3. Sekedar informasi,vocal grup SMA 3 ini didukung oleh sederet pemusik tenar Indonesia pada akhirnya seperti Fariz RM,Adjie Soetama,Raidy Noor,Addie MS dan Ikang Fauzi.Di tahun 1977 Vokal Grup SMA 3 ini mencetak prestasi mengagumkan,dimana 3 lagu karya mereka yang diambil dari sebuah opera karya mereka berhasil masuk 10 Besar dalam Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan radio Prambors Rasisonia .

Symphony formasi pertama tahun 1982 dari kiri Fariz RM,Ekki Soekarno,Herman Gelly dan Jimmy Paais (Foto Koleksi Herman Gelly)

Symphony formasi pertama tahun 1982 dari kiri Fariz RM,Ekki Soekarno,Herman Gelly dan Jimmy Paais (Foto Koleksi Herman Gelly)

Ketika Jimmy dan Gelly menawarkan pada Fariz RM untuk bergabung dalam Symphony, Fariz yang telah tergabung dalam beberapa band seperti Badai Band hingga Transs, ternyata memenuhinya.Akhirnya Fariz RM pun bergabung dengan Symphony sebagai vokalis utama dan pemetik bass gitar.Selanjutnya Symphony mengajak drummer yang kental nuansa rock nya yaitu Ekki Akadhita Soekarno.Saat itu Ekki Soekarno juga berprofesi sebagai instruktur kursus drum di sebuah sekolah musik.
Tahun 1982 Symphony merilis album perdana bertajuk Trapesium.Kuartet ini tampaknya ingin menyusupkan tren musik yang tengah berkumandang di dunia.Pilihan jatuh pada gaya New Wave atau yang kerap juga disebut SynthPop.Di era awal 80an, band-band seperti The Clash,The Police,The Specials hingga Duran Duran tengah berada diatas permukaan industry music internasional.Musik reggae dan ska menjadi benang merah beberapa band new wave terutama The Police. Inspirasi ini lalu ditebar Symphony pada beberapa komposisinya seperti Astoria atau Sirkus Optik dan Video Game. Pengaruh dari band-band bergaya pop rock seperti Asia pun tersimak dalam karya-karya Symphony.Bahkan dalam komposisi instrumental bertajuk Sepertigapuluh Dua Symphony bahkan terlihat memasuki wilayah progresif rock.Komposisi ini mengingatkan saya pada tipikal musik progresif rock ala Emerson ,Lake and Palmer maupun kelompok epigon ELP asal Jerman Triumvirat.
Ekki Soekarno memperlihatkan kemampuannya dalam menghentak drum dalam pattern rock yang cenderung complicated, sepintas kita bisa merasakan bahwa Ekki meraup pengaruh dari gaya bermain drum dari Carl Palmer maupun Rod Morgenstein.Demikian pula halnya Herman Gelly yang melakukan solo keyboard baik piano maupun synthesizers ala Keith Emerson. Meskipun demikian Symphony tetap patuh menapak pakem industri musik antara lain dengan menulis komposisi lagu yang lebih kompromistis misalnya pada lagu Interlokal yang kemudian menjadi hits besar Symphony.
Symphony tampaknya bisa menyelaraskan antara idealisma dan komersialisme secara imbang dalam produksi albumnya.
Symphony menghasilkan 3 album yaitu “Trapesium” (Akurama,1982),”Metal” (Akurama,1983) dan “N.O.R.M.A.L” (1987).
Formasi Symphony sempat beberapa kali mengalami pergeseran.Saat merilis album kedua,Symphony menyertakan Tony Wenas,keyboardis dan vokalis Solid 80.Pada album N.O.R.M.A.L Symphony tinggal bertiga dengan mundurnya Tony Wenas dan Ekki Soekarno yang mulai sibuk dengan proyek solo albumnya.
Memasuki akhir 80an, formasi Symphony berubah lagi dengan masuknya Budhy Haryono (drums),Adi Adrian (keyboard) dan Sonny Subowo (keyboard programming).
Formasi Symphony era 1982-1983 yang terdiri atas Fariz RM,Jimmy Paais,Herman Gelly Effendy,Tony Wenas dan Ekki Soekarno sempat melakukan reuni tahun 2009. Saat itu mereka tengah merancang untuk tampil kembali secara utuh namun saying pada tanggal 2 Agustus 2010 Jimmy Paais sang penggagas Symphony telah berpulang kerahmatullah.

Mungkin banyak yang tidak mengetahui keberadaan album ini.Mungkin ini adalah album solo dari bassist sekaligus vokalis Koes Bersaudara atau Koes Plus Yok Koeswoyo yang berbeda dengan konsep musik Koes Plus.Tajuk album ini yaitu “Nyanyian Hitam” agaknya telah menyiratkan isi lagu-lagu dalam album ini yang merupakan kolaborasi antara Yok Koeswoyo dan novelis Teguh Esha.Sosok Teguh Esha mulai diperbincangkan anak muda pada paruh era 70an saat meluncurkan novel Ali Topan Anak Jalanan yang kemudian dilayarlebarkan pada tahun 1977.

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 "Nyanyian Hitam" berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 “Nyanyian Hitam” berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Teguh Esha juga dikenal sebagai penyebar istilah bahasa Prokem di kalangan anak muda terutama lewat narasi novel Ali Topan Anak Jalanan.
Syair-syair lagu yang ditulis Teguh Esha memang berkesan lugas dan terkadang gelap.Tersimak elemen protes maupun kritik sosial dalam karya-karya Teguh Esha, ambil contoh misalnya saat Teguh Esha berkolaborasi dengan penyanyi Mogi Darusman di tahun 1978 lewat album Aje Gile yang kemudian dibreidel pihak berwajib karena lirik-lirik lagunya yang mengkritik Pemerintah tanpa tedeng aling aling semisal pada lagu Rayap-Rayap yang liriknya mengkritik para koruptor di negeri ini.
Nah, nuansa seperti itulah yang tertuang dalam 9lagu yang ditulis Yok Koeswoyo bersama Teguh Esha pada album yang dirilis Purnama Record.
Lagu lagu itu adalah ,Lagu Anak Gedongan,Nyanyian Hitam,Balada Pondok Indah,Optimisme,Selamat Pagi Bunga Muda,Teratai Ditengah Luka,Buanglah Dukamu,Buku Biru dan Percintaan Selesai
Dari departemen musik sendiri album ini juga mengedepankan warna musik yang tak lazim dimainkan Yok Koeswoyo saat bersama Koes Bersaudara maupun Koes Plus.Di album ini,aransemen music digarap oleh pianis dan komposer klasik/kontemporer Maroesja Nainggolan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Maruiesja yang khatam bermain piano klasik itu mengajak rekan-rekannya sealmamater dari IKJ ikut mendandani album Nyanyian Hitam Yok Koeswoyo ini.Mereka adalah Harry Sabar Tobing yang bermain drum dan perkusi,Robin Simangunsong juga bermain drum dan perkusi serta Jose memetik gitar dan menggesek cello.Baik Robin dan Jose adalah mahasiswa jurusan ilmu seni musik di IKJ dan juga anggota dari band progresif yang dibentuk Iwan Madjid yaitu Abbhama. Maroesja sendiri selain menjadi music director,menulis arransemen juga memainkan berbagai perangkat keyboard mulai dari piano hingga synthesizers.

Sayangnya album solo yang memikat ini ironisnya nyaris tak dikenal orang.Popularitas lagu-lagu Koes Plus yang massive agaknya menutup permukaan album Nyanyian Hitam ini.

tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

Tajuk yang saya gurat diatas mungkin terkesan agak serius.Tapi saya tak menemukan tajuk yang tepat untuk menyimpulkan tontonan bertajuk “Sound Of Saturday” yang berlangsung di @atamerica sabtu 12 April kemarin. Sejak beberapa minggu sebelum acara digelar saya dihantui rasa waswas, moga moga kali ini tak ada lagi halangan untuk menyaksikan dua kelompok musik yang mampu menggoyang khalwat jiwa saya yaitu Pandai Besi dan tigapagi.

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Beberapa waktu sebelumnya,ketika Pandai Besi maupun tigapagi menggelar konser di Jakarta maupun Bandung, selalu ada saja halangan untuk datang menikmati konser musik mereka yang gurih.Dari album Daur Baur yang digarap Pandai Besi di studio Lokananta dengan memberdayakan crowfunding hingga album “Roekmana’s Repertoire” nya kelompok folk tigapagi ini sesungguhnya saat itu saya penasaran ingin melihat bagaimana jadinya konsep musik mereka jika dipindahkan dari album rekaman ke pentas pertunjukan. Secara kebetulan, baik Pandai Besi dan tigapagi, merupakan dua kelompok musik dari paguyuban bebas merdeka (baca :indie) telah terpilih sebagai dua kandidat Album Pilihan Majalah Tempo 2013.Dua kelompok musik yang mencuatkan harmoni musik secara cerlang cemerlang ini seolah saling bersaing ketat untuk menjadi Album Of The Year versi majalah berita berwibawa di negeri ini.

Kebetulan lagi, saya dan David Tarigan diundang oleh majalah yang digagas oleh Goenawan Mohamad itu sebagai tim penilai bersama tim redaksi seni budaya Tempo. Jam 18.30 saya menginjakkan kaki di lantai 3 Pacific Place dimana @atamerica berada.Ruangan pertunjukan yang berkapasitas sekitar 250 penonton itu mulai terlihat menyemut. Agaknya pesona dua kelompok musik ini mampu menyeret perhatian mereka ,para penikmat music dari berbagai usia untuk datang menyaksikan mereka . Ada satu ketentuan mutlak jika sebuah kelompok musik atau pemusik menggelar konser di @atamerica yaitu diharuskan untuk mengcover atau meremake sebuah karya musik dari khazanah musik popular di Amerika Serikat. Dan malam itu Sigit dari tigapagi berhasil mereka ulang lagu milik Nirvana Something In The Way yang ditulis dan dinyanyikan oleh sang frontman Kurt Cobain dari album fenomenal “Nevermind” (1991) yang menandai lanskap grunge, mazhab yang berkecambah di Seattle. Pandai Besi diluar dugaan mengcover lagu anthem era hippies di penghujung dasawarsa 60an yaitu California Dreaming yang dipopulerkan The Mamas and The Papas.kelompok folk rock pada tahun 1965.Sebuah era yang diwarnai menyeruaknya counterculture di kalangan anak muda terutama lewat idiom musik bernafas psikedelik.Pandai Besi memberi nafas baru dari lagu yang di eranya menjadi salah satu jatidiri dari generasi bunga. Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan gaya Mama Cass atau Cass Elliot salah satu personil dari The Mamas and The Papas yang bertubuh subur saat melihat gaya Nastasha Abigail salah satu vokalis Pandai Besi .Abigail terlihat ekspresif dan lepas saat menginterpretasikan lagu yang menceritakan kehangatan California disaat musim dingin tiba. Menyaksikan tigapagi dan Pandai Besi di konser “Sounds Of Saturday” ini seperti menyaksikan sebuah festival folkrock dengan bingkai psikedelia. Saya sangat menikmati konser kedua paguyuban musik yang menyulam benang folk dalam rajutan musiknya. Dibuka dengan tigapagi yang seperti album cakram padatnya bermain tanpa jeda dari lagu ke lagu.Tigapagi yang terdiri atas Eko Sakti Oktavianto (gitar,Bass), Prima Dian Febrianto (gitar), dan Sigit Agung Pramudita (gitar,vokal) didukung chamber music yang terdiri atas cello dan dua biola. Sayangnya microphone yang dipakai Sigit agak kurang memadai, bahkan sound strings terutama biola terlalu kencang. Saya duduk paling depan berdampingan dengan Eric Wirjanatha dari Death Rock Star disebeklah kiri saya, serta di kanan saya ada Hasief Rolling Stone dan Ade Firza Paloh dedenngkot Sore.Saya membatin, agaknya Ade Paloh pasti akan diajak ke panggung untuk berduet dengan Sigit terutama karena di album “Roekamana’s Repertoire”,Ade Paloh jadi penyanyi tamu pada lagu “Alang-Alang”. Dan ternyata memang benar.Sigit lalu mengajak Ade paloh untuk ke panggung berduet lirih pada lagu Alang Alang. Sebuah komposisi yang sangat folkie.Tigapagi menyuntikkan rasa Indonesia dalam olahan musik folknya yang terbingkai dari bunyi-bunyian akustik dari gitar dan seksi strings.Ditengah-tengah tata musiknya tiba-tiba kita bisa tersodorkan dengan ritme kroncong hingga notasi Sunda yang cenderung minor. Sigit pun mengajak Paramita Sarasvati dari kelompok Nadafiksi untuk berduet.Sayangnya,sekali lagi disayangkan sound yang terdengar dari tata suara sangat buruk.Bukan penyanyinya lho, tapi dari tata suara. Padahal tigapagi telah memberikan sentuhan baru pada lagu Interpol “NYC”.Sebuah penafsiran yang pantas dipuji. Di konser ini tigapagi seolah mempertemukan Roekmana dalam aura peristiwa di Indonesia sekitar tahun 1965 dengan Kurt Cobain yang bunuh diri di tahun 1994 dalam bingkai tutur yang gelap tentunya lewat lagu cover Nirvana “Something In The Way”.Seminggu sebelum konser “Sounds Of Saturday”,para penggemar Nirvana memperingati tragedi meninggalnya Kurt Cobain pada 5 April 1994.

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Panggung lalu berganti ke Pandai Besi yang malam itu tampil tanpa Cholil Machmud sang vokalis yang saat ini tengah menuntut ilmu di Amerika Serikat.Tapi Cholil tetap hadir menyapa penonton lewat skype bersama isterinya.Pasangan suami isteri ini bahkan menyanyikan lagu “Hujan Jangan Marah” lewat petikan gitarlele Cholil.Lagu ini pun menjadi lagu pembuka konser Pandai Besi yang terdiri atas Akbar Akbar Bagus Sudibyo (drum), Muhammad Asranur (keyboard), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Airil ”Poppie” Nurabadiansyah (bas), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Natasha Abigail serta Monik (vokal) .Mereka juga dibantu dua pemusik additional. Pandai Besi seperti yang mereka perdengarkan pada album Daur Baur, mereka menginterpretasikan ulang sebagian besar lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca seperti Insomnia,Laki Laki Pemalu hingga Desember serta Menjadi Indonesia dalam balutan aransemen yang eklektik. Baik tigapagi maupun Pandai Besi terlihat ligat dan terampil memberi jiwa pada lagu yang mereka bawakan

Rencananya pada tanggal 2 April 2014 dijadwalkan Lionel Richie akan melakukan konperensi pers di depan media sehubungan dengan konsernya bertajuk “All The Hits,All Night Long World Tour 2014″.Pihak promotor Black Rock Entertainment meminta saya untuk menjadi moderator konpers Lionel Richie tersebut.Tentunya saya sangat antusias menerima ajakan promotor yang beberapa waktu sebelumnya menggelar konser Metallica di Gelora Bung Karno.

Saat berbincang dengan Lionel Richie di be lakang panggung 3 April 2014 (Foto Denny Sakrie )

Saat berbincang dengan Lionel Richie di be
lakang panggung 3 April 2014 (Foto Denny Sakrie )

Saya akui masa remaja saya diisi oleh beberapa hits dari Lionel Richie termasuk lagu-lagu saat penyanyi,komposer,pianis dan saxophonis ini bergabung dalam kelompok musik soul funk The Commodores yang bernaung dibawah lable Motown Record.Lagu lagu yang saya sukai saat duduk dibangku SMP hingga SMA itu kebanyakan bertema ballad atau anak-anak muda sekarang menyebutnya lagu-lagu galau mulai dari Three Times A Lady,Still,Sail On,Oh No termasuk Easy yang pernah dicover oleh band Faith No More.Di era 80an,setelah Lionel mundur dari Commodores, popularitasnya seperti tak terbendung lagi lewat lagu-lagu ballad yang romantis seperti Endless Love yang berduet dengan Diana Ross, Truly,My Love,Stuck On You,Hello dan banyak lagi.Dan jangan lupa Lionel Richie kian berkibar ketenarannya terutama saat menyanyikkan lagu All Night Long yang diiringi sejumlah para penari breakdance menutup Olimpiade Los Angeles tahun 1984. Lionel juga menulis lagu We Are The World yang fenomenal bersama Michael Jacksons untuk proyek kemanusiaan membantu korban kelaparan di Ethiopia lewat USA For Africa.

Singkat cerita,saya cukup akrablah dengan karya-karya Lionel Richie.Makanya saya agak antusias diminta menjadi moderator konpers Lionel Richie tersebut.Saya bahkan telah menyiapkan 4 piringan hitam untuk ditandatangani Lionel Richie. Namun ternyata rencana berubah karena Lionel terjebak macet dalam perjalanan dari Bandara Cengkareng ke Ritz Carlton Pacific Place Sudirman tempat dia menginap.Akhirnya konpers batal dihadiri Lionel Richie, melainkan hanya diwakili pihak promotor dan agen dari Lionel Richie.

Seusai konperensi pers saya berencana ingin menyambangi Lionel Richie di Ritz Carlton,tapi karena kemacetan yang luar biasa akhirnya saya memutuskan mengurungkan niat saya itu.”Toh besok masih bisa bertemu Lionel ” batin saya dalam hati.

Tayek Mansur dari Black Rock mengatakan pada saya :” Besok aja mas Den di acara meet and greet sebelum Lionel manggung”.

Akhirnya saya mendapat privillege untuk menemui Lionel Richie dibelakang panggung sebelum konser digelar pada jam 20.00 WIB.

vinyl

Pihak Black Rock memang menyiapkan meet and greet secara terbatas yang hanya dihadiri sekitar 20 orang saja.Kesempatan ini tentunya saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.Sekitar jam 19.15 Lionel yang menggunakan T Shirt dan celana hitam telah hadir ditengah-tengah kami yang telah menunggunya sejak jam 18.00. Lionel orangnya ramah,mudah bergaul dan humoris.

 

Lionel Richie sempat kegirangan bercampur haru saat saya menyodorkan 4 album milik saya yaitu dua album solonya yaitu “Lionel Richie” (Motown 1981) dan “Can’t Slow Down” (Motown 1983) dan dua album Commodores yaitu Natural High (1978)  yang berisikan hits “Three Times A Lady” serta album “Midnight Magic” (1979) yang berisikan hits Still dan Sail On.

 

Neonomora3

Neonomora membawakan lagu Fight (Foto BerisikRadio)

Neonomora membawakan lagu Fight (Foto BerisikRadio)

Bersama Neonomora saat peluncuran singlenya Fight di tahun 2013 (Foto BeriskRadio)

Bersama Neonomora saat peluncuran singlenya Fight di tahun 2013 (Foto BeriskRadio)

Sekitar tahun 2012 Ryann sahabat saya yang dikenal sebagai seorang promoter konser asing menghubungi saya.Ryann yang bertubuh gempal dan berambut kribo lalu mengirimkan saya sebuah lagu melalui surat elektronik.”Mas Den saya minta pendapat mas tentang penyanyi ini.Namanya Neonomora”.Kemudian saya menyimak sample lagu bertajuk You Want My Love.Suaranya berat,ekspresif,kadang melengking,menyergah,soulful.Saya mereka-reka siapakah jatidiri penyanyi wanita yang menggunakan nama Neonomora ini.Lagunya ditulis dalam bahasa Inggris.Pengucapan dan aksentuasinya lumayan.Tampaknya penyanyi ini sangat pasasionate dalam dunia music.Dia bukan penyanyi kemarin.Agaknya dia telah lama berkutat di dunia tarik suara.
Kemudian saya kembali berkomunikasi dengan Ryann.”Siapa penyanyi ini Ryann ?” sergah saya.”Saya lagi mencoba untuk menggarap rekamannya mas” timpal Ryann.”Ketemu dimana,penyanyi ini Ryann ? Tanya saya lagi.Ryann tak langsung menjawab,dia seperti ragu-ragu menjawab.Tapi dari mulutnya lalu keluar pernyataan dari Ryann.”Neonomora itu nama aslinya Ratih.Dia pacar saya.Saya berminat untuk memproduseri karya-karyanya” pungkas Ryann.
Suara Neonomora memang unik.Neonomora memilika letupan dinamika,tapi juga memiliki ekspresi yang soulful.Agaknya dia dengan lentur mampu berlenggang dari lagu berkarakter soul hingga rock tanpa kesan memaksa.
“Ryann, Neonomora ini sudah jadi,sudah matang.Langkah selanjutnya tinggal memilih,kemasan seperti apa yang ingin diarahkan ke Neonomra” komentar saya ke Ryann.
Tak lama berselang wanita yang memiliki nama lengkap Ratih Suryahutamy mulai menjadi bahan perbincangan tahun 2013.Sosoknya mulai terlihat tampil di pentas-pentas bergengsi seperti Java Soulnation hingga Java Rockingland termasuk manggung secara terbatas di pusat kebudayaan Amerika Serikat @atamerica di Pacific Place Jakarta.
Bahkan pada November 2013 Neonomora merilis album debutnya dalam format mini album yang kemudian dinyanyikannya secara ekspresif di konser 280 Festival yang berlangsung di Lapangan D Senayan, Jakarta .
Musik Neonomora terdengar eklektik.Ada electronic,ada folk,ada soul bahkan terasa aura rocknya.
Kiprah perdana Neonomora ini pun berbuah hasil.Majalah Rolling Stone Indonesia lalu memilih sosok Neonomora yang sejak Oktober 2013 dipersunting Ryann, sebagai Young Guns 2013.Neonomora terpilih karena dianggap sebagai sosok anak muda yang gigih meletupkan perubahan dan memantik kreativitas.
Penampilan musiknya menyeruakkan sesuatu yang berbeda.Neonomora seperti ingin melepas bebat sekat genre atau subgenre musik.Dia seperti ingin mentasbihkan diri mampu bermain musik apa saja dengan jatidiri yang kuat.