Selamat Datang Presiden Rock N’ Roll

Posted: Oktober 20, 2014 in Opini

Hari ini agaknya merupakan hari penuh sukacita bagi segenap rakyat Indonesia.Pemeo I don’t like Monday tak pantas untuk dgaungkan .Hari ini Presiden kita yang ketujuh dengan penampilan anti hero Ir Djoko Widodo menjadi perbincangan siapa saja, mulai dari atas hingga bawah.Tak hanya di negeri kita tercinta tapi menyeruak hingga ke seantero jagad, dalam berbagai mass media hingga sosial media.Trending topic tereus menerus menyertakan kicauan perihal Djoko Widodo yang akrab dengan panggilan Jokowi. “Orangnya asik,banyak senyum dan apa adanya.Sangat rock n’roll” itu komentar yang meluncur dari banyak orang tentang lelaki Jawa yang menggemari musik keras sejak di bangku SMP dulu. Jokowi kian memikat perhatian anak muda saat mengetahui bahwa Jokowi adalah penikmat musik rock.Kabar ini telah mencuat ketika Jokowi masih menjabat walikota Solo.Dengan cepat,kegemaran terhadap music rock dari seorang pejabat yang lazimnya kaku dan kerap mengutamakan protokoler ini menjadi buah bibir.Semua takjub.Apalagi,memang sosok Jokowi kerap terlihat dalam pelbagai perhelatan rock maupun metal.Jokowi dengan mengenakan kaos band berdasar warna hitam memang terlihat berbeda.Dia tak lagi seorang pejabat yang harus terlihat berwibawa,namun membaur dengan para metalhead di sekitar bibir panggung atau di area festival.Jokowi menampik fasilitas nonton di tempat VVIP. Jelas ini sebuah pemandangan langka bagi siapa saja.

Presiden RI ke 7 Ir Djoko Widodo ak.k.a  Jokowi (Foto Semut Prasidha)

Presiden RI ke 7 Ir Djoko Widodo ak.k.a Jokowi (Foto Semut Prasidha)

Namun ternyata banyak pula yang bertutur nynyir berbalut fitnah bahwa kegemaran dan kecintaan Jokowi terhadap musik rock adalah skenario pencitraan belaka.Fitnah itu berlanjut dengan menyebut bahwa pencitraan peseanan itu dilakukan atas gagasan Stanley Greenberg,sosok yang menjadi konsultan yang memoles sosok Bill Clinton ,presiden Amerika Serikat yang kerap ditampilkan piawai bermain saxophone dalam berbagai kesempatan. Jokowi ,kabarnya,pun dipoles sedemikian rupa oleh Stanley Greenberg sebagai sosok penggemar musik rock sejati.Meskipun pada galibnya seperti yang diketahui masyarakat, sesungguhnya sejak menjabat Walikota ,Jokowi memang kerap terlihat dalam berbagai perhelatan konser rock baik yang berskala lokal maupun internasional.Jokowi terlihat diantara kerumunan penonton konser Lamb Of God,Judas Priest,Sting,Guns N Roses dan Metallica.Di tahun 2012 Jokowi bahkan telah membeli tiket konser Dream Theater, tapi karena harus menjalani rapat yang panjang akhirnya Jokowi batal menyaksikan kepiawaian kelompok prog metal Amerika Serikat Dream Theater.
Sosok Jokowi sebagai seorang metalhead merupakan pemandangan baru di Indonesia maupun dunia,karena tak lazim seorang pejabat menyukai musik rock yang selalu dikaitkan dengan kredo kebebasan dan anti kemapanan.Dan manakala Jokowi keluar sebagai pemenang dalam Pilpres 2014, ucapan selamat pun mulai berdatangan dan berjejal dari para pemusiki rock dunia di jejaring sosial mulai dari facebook hingga twitter seperti Sting,gitaris Guns N Roses Ron Thal,band Arkarna dan banyak lagi.
Apakah Jokowi satu-satunya sosok pemimpin dunia yang gandrung tak terkira terhadap ingar bingar musik rock ?.Ternyata tidak. Jokowi ternyata tak sendirian. Dibelahan dunia sana terbetik kabar bahwa Perdana Menteri Rusia Dmitri Medvedev yang juga menggemari musik rock.
Adapun Band rock yang digemari Perdana Menteri Dimitri Medvedev nyaris sama dengan yang disukai Jokowi yaitu band-band rock yang berasal dari Inggris Raya Black Sabbath,Deep Purple hingga Led Zeppelin. Apabila kita telaah kesamaan selera dalam menggemari musik rock ini mungkin karena keduanya , baik Jokowi maupun Medvedev adalah Generation X yang dilahirkan di era 60an yang kemudian mengisi masa remaja di era 70an dengan musik-musik rock mulai paruh era 60an hingga 70an.
Jokowi dillahirkan pada tahun 1961 ,sementara Dmitri Medvedev di lahirkan pada tahun 1965. Keduanya pun punya tekad yang nyaris sama : memberantas korupsi dan ingin melakukan perubahan.
Sejak duduk di bangku SMP Jokowi kerap terlihat menyambangi markas Ternchem band rock era 70an di Solo diseberang Stadion Manahan Solo .Selama berjam-jam Jokowi terperangah dan terangguk-angguk melihat band Ternchem yang dibentuk oleh drummer Bambang Espe Manahan membawakan lagu-lagu dari band hard rock Inggris Deep Purple.
Dalam buku “Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker” yang ditulis Yon Thayrun,Jokowi bertutur :” “Musik rock adalah kebebasan. Musik rock itu liriknya liar, tegas semangat, dan mampu mendobrak perubahan,”.
Banyak hal-hal baru yang mencuat saat nama Jokowi pada akhirnya menjadi pilihan mutlak rakyat Indonesia yang memang telah begitu lama menantikan kehadiran seorang pemimpin yang tak memiliki jarak dengan rakyatnya.Disamping itu saya selama ini memang menaruh harapan terhadap para pemimpin yang memiliki ketertarikan dan kegemaran terhadap dunia music.Apapun genre dan subgenrenya .Sebagai cabang seni yang merepresentasikan ekspresi, musik boleh jadi akan menginspirasi para pemimpin dalam menjalankan konsep dan pola kepimpinannya.Musik bisa menjadi jembatan sugestif apa saja termasuk dalam pengambilan keputusan.
Beberapa presiden Indonesia yang memerintah sebelum Jokowi resmi dilantik sebagai presiden terpilih RI pada 20 Oktober ini juga memiliki keterkaitan dengan musik.Presiden Soekarno yang dengan semangat berkobar hendak membangkitkan supremasi budaya kita adalah seorang pianis dan menggubah lagu “Bersuka Ria” dalam album “Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso” (1965) serta membentuk grup musik The Lensoist dan melakukan muhibah ke beberapa negara.
Ketika berlangsung konfrontasi dengan Malaysia, Bung Karno melalui siaran RRI pernah memainkan lagu “Terang Bulan” untuk menyindir lawan politiknya Perdana Mentero Tengku Abdul Rachman. “Terang Bulan” adalah lagu yang pernah dinyanyikan artis Indonesia Roekiah dalam film “Terang Boelan” yang kemudian diubah menjadi “Negaraku” dengan syair yang
.Presiden Soeharto juga suka music dan mampu memetik gitar. Presiden Gus Dur menyukai musik klasik dan menggemari ratu blues rock Janis Joplin.
Dan yang paling menyita perhatian adalah Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang dimasa pemerintahannya masih sempat meluangkan waktu menulis lagu serta menghasilkan 5 album rekaman.
Susilo Bambang Yudhoyono yang dimasa mudanya pernah menjadi bassist ini kerap menuai kritik karena merilis album begitu banyak dalam kondisi yang tidak tepat. Musik memang milik siapa saja. Entah itu rakyat kecil, alim ulama, politikus, negarawan dan entah siapa lagi. Namuni jika sang pemimpin hanya bernyanyi dan bermain musik, sementara sebahagian rakyatnya masih berkubang dalam kesusahan dan kemelaratan. Apakah masalah bangsa dan Negara bisa pupus terhapus begitu saja hanya dengan bernyanyi ?. Disaat Negara tengah didera berbagai konflik, presiden SBY malah meluncurkan album-album karyanya secara berkesinambungan.
Lalu bagaimana dengan Jokowi yang oleh para penikmat musik metal dikukuhkan sebagai seorang penggemar metal alias metalhead ? Harapan memang banyak digantungkan pada pundak Jokowi sesuai dengan perangai musik rock yang sangat digandrunginya itu : tegas,lugas,tanpa kompromi dan anti kemapanan .Kredo musik rock yang disesaki elemen kebebasan pada akhirnya merupakan elemen dasar untuk mencapai garis perubahan disegala bidang.Perubahan adalah hal yang begitu lama didamba rakyat Indonesia. Selamat bekerja pak Jokowi. Salam Tiga Jari.

Musik dan Presiden

Posted: Oktober 19, 2014 in Opini

Belakangan ini banyak yang berceloteh bahwa kesukaan Jokowi terhadap musik rock adalah skenario pencitraan belaka yang dilakukan Stan Greenberg,sosok yang menjadi konsultan yang memoles sosok Bill Clinton ,presiden Amerika Serikat yang kerap ditampilkan piawai bermain saxophone. Jokowi ,kabarnya,pun dipoles sedemikian rupa oleh Greenberg sebagai sosok penggemar musik rock sejati.Walaupun seperti yang kita ketahui, sesungguhnya sejak menjabat Bupati Solo,Jokowi memang telah sering terlihat dalam berbagai konser rock baik skala lokal maupun internasional.Jokowi terlihat diantara kerumunan penonton konser Lamb Of God,Judas Priest,Sting,Guns N Roses dan Metallica.
Sosok Jokowi sebagai seorang metalhead merupakan pemandangan baru di Indonesia maupun dunia,karena tak lazim seorang pejabat menyukai musik rock yang selalu dikaitkan dengan kredo kebebasan dan anti kemapanan.

Tak heran ketika Jokowi dinyatakan menang dalam Pilpres 2014,ucapan selamat pun berdatangan dari para pemusiki rock dunia di jejaring sosial mulai dari facebook hingga twitter seperti Sting,gitaris Guns N Roses Ron Thal,band Arkarna dan banyak lagi.
Tapi Jokowi tak sendiri,dibelahan dunia sana ada Perdana Menteri Rusia Dmitri Medvedev yang juga menggemari musik rock.Band rock yang digemari Dimitri Medvedev nyaris sama dengan yang disukai Jokowi yaitu Black Sabbath,Deep Purple hingga Led Zeppelin.

Artwork by Iskandar Salim

Artwork by Iskandar Salim

Jika dilihat dari kesamaan selera ini mungkin karena keduanya adalah generasi yang dilahirkan di era 60an yang kemudian mengisi masa remaja di era 70an dengan musik-musik rock 70an.Jokowi lahir tahun 1961 dan Dmitri Medvedev lahir tahun 1965. Keduanya pun punya tekad yang nyaris sama : memberantas korupsi dan ingin melakukan perubahan.
Sejak duduk di bangku SMP Jokowi kerap terlihat menyambangi markas Ternchem band rock era 70an di Solo diseberang Stadion Manahan Solo .Berjam-jam Jokowi terperangah melihat Ternchem membawakan lagu-lagu dari band hard rock Inggris Deep Purple.

Dalam buku “Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker” yang ditulis Yon Thayrun,Jokowi pun berucap :” “Musik rock adalah kebebasan. Musik rock itu liriknya liar, tegas semangat, dan mampu mendobrak perubahan,”.
Tentunya ada sebersit harapan yang menguak saat Jokowi yang menggemari musik rock ini akhirnya terpilih sebagai Presiden. Saya sendiri memang menaruh harapan terhadap para pemimpin yang memiliki ketertarikan pada dunia musik.Sebagai cabang seni yang merepresentasikan ekspresi, musik boleh jadi akan menginspirasi para pemimpin dalam menjalankan konsep dan pola kepimpinannya.
Beberapa presiden Indonesia yang memerintah sebelum Jokowi resmi menjalani tampuk kepemimpinan sebagai presiden terpilih RI pada 22 Oktober ini juga memiliki keterkaitan dengan musik.Presiden Soekarno yang dengan semangat berkobar hendak membangkitkan supremasi budaya kita adalah seorang pianis dan menggubah lagu “Bersuka Ria” dalam album “Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso” (1965) serta membentuk grup musik The Lensoist dan melakukan muhibah ke beberapa negara. Dua putra Soekarno adalah pemusik,Guntur bermain dalam band Ria Remaja,Aneka Nada dan Kwartet Bintang.Guruh membentuk band G Beat dan The Flower Poetman.Presiden Soeharto juga suka musik,begitupula putrinya Siti Hardiyanti yang berbakat menulis lagu serta Bambang Trihatmojo yang menjadi bassist band The Crabs. Presiden Gus Dur menyukai musik klasik dan menggemari ratu blues rock Janis Joplin.Dan yang paling menyita perhatian adalah Presiden SBY yang dimasa pemerintahannya masih sempat meluangkan waktu menulis lagu serta menghasilkan 5 album rekaman.SBY yang dimasa mudanya pernah menjadi bassist ini kerap menuai kritik karena merilis album begitu banyak dalam kondisi yang tidak tepat.
Lalu bagaimana dengan Jokowi yang oleh para penikmat musik metal dikukuhkan sebagai seorang penggemar metal alias metalhead ? Harapan memang banyak digantungkan pada pundak Jokowi sesuai dengan perangai musik yang digandrungi : tegas,lugas dan anti kemapanan .Selamat bekerja pak Jokowi.Salam Tiga Jari !.
\

Minggu lalu sekelompok mahasiswa Universitas Pelita Harapan angkatan tahun 2013 mendatangi saya untuk meminta komentar tentang sosok pemusik jazz Indonesia legendaris Benny Likumahuwa.Elvina Lie,salah satu dari mahasiswa yang tengah mengerjakan tugas kampus itu mengatakan bahwa mereka sedang menggarap pembuatan film dokumenter tentang sosok pemusik jazz.”Kami memilih musik jazz,karena film dokumenter tentang musik jazz Indonesia masih sangat kurang”.

Bersama Benny Likumahuwa di Summarecon DigitalCenter 12 Oktober 2014 (Foto Elvina Lie)

Bersama Benny Likumahuwa di Summarecon DigitalCenter 12 Oktober 2014 (Foto Elvina Lie)

Sosok Benny Likumahuwa rasanya memang tepat untuk dijadikan obyek pendokumentasian tentang musik jazz di Indonesia,karena kontribusi yang telah diberikannya termasuk panjang.Ini jika dihitung,saat pertamakali menggeluti musik jazz sejah pertengahan era 60an,di saat rezim Orde Lama tumbang. Benny Likumahuwa,pun tak hanya dikenal sebagai pemusik andal yang nyaris menguasai berbagai alat musik terutama ragam instrumen tiup, tapi Benny juga seorang tutor yang aktif memberikan edukasi jazz, mulai dari tingkat remaja hingga dewasa.

DS2

Kelugasan Benny Likumahuwa tentang pentingnya bermain musik terutama jazz yang harus dibekali pendidikan musik yang menmadai merupakan salah satu bukti kesungguhan Benny Likumahuwa dalam menghasilkan generasi baru dalam musik jazz di negeri ini.

Benny Likumahuwa dilahirkan di Kediri 18 Juni 1946.Seorang multi-instrumentalis yang mampu memainkan instrumen bass,gitar,piano,trombone,saxophone,flute,klarinet hingga trombone.Lelaki berdarah Maluku ini juga pernah tinggal di Ambon pada era 60an.Tahun 1965 Benny Likumahuwa meninggalkan Ambon dan bermukim di Bandung.
Di tahun 1966,Benny Likumahuwa yang juga menguasai teori musik dengan baik mulai bergabung dengan kelompok Crescendo.Ada pergeseran besar yang terjadi pada tahun 1968 manakala Benny Likumahuwa diajak bergabung dalam band rock The Rollies. Benny Likumahuwa lalu melontarkan gagasan untuk menambahkan instrumen tiup dalam formasi The Rollies.Benny lalu mengajarkan cara meniup instrumen tiup pada seluruh personil The Rollies tanpa terkecuali mulai dari Deddy Stanzah sang pendiri The Rollies hingga Delly Djoko Alipin,Tengku Zulfiyan Iskandfar,Iwan Krisnawan,Bangun Sugito serta Bonnie Nurdaya .
Di tahun 1969 The Rollies mulai memasuki industry rekaman dengan merilis sekaligus dua album pada label Pop Sounds di Singapore.Kemampuan Benny Likumahuwa sebagai arranger sangat membekas dalam corak musik The Rollies saat itu terutama ketika The Rollies mulai mengibarkan jatidiri sebagai jazz rock band dengan dominasi horn section seperti Chicago maupun Blood Sweat and Tears..
Di awal 1970an Benny Likumahuwa kerap mondar mandir di beberapa kota Asia Tenggara untuk bermain musik diberbagai klab.Saat itu dia membentuk band bernama The Augersindo yang merupakan akronim dari Australia,German,Singapore dan Indonesia.Karena pendukungnya berasal dari keempat negara tersebut..
Di awal 70an Benny diajak Jack Lesmana bergabung dalam The Indonesian All Stars menggantikan posisi bassist Jopie Chen.Benny Likumahuwa pun bergabung dalam Jack Lesmana Combo.Di era 80an Benny Likumahuwa tergabung dalam Abadi Soesman Jazz Band serta Ireng Maulana All Stars. Benny Likumahuwa juga membentuk kelompok musiknya sendirti yang diberinama Benny Likumahuwa Jazz Connection.

Pengambilan gambar beserta wawancara dan testimoni untuk film dokumenter Benny Likumahuwa ini dimulai sejak hari minggu 12 Oktober di kawasan Sumarecon Digital Center yang berada di wilayah Serpong Tangerang, dimana di kawasan perbelanjaan ini Benny Likumahuwa dan kelompok jazznya yang dilabeli nama Jazz Connection seminggu sekali bermain secara gratis dihadapan pengunjung.

Perjalanan karir Benny Likumahuwa yang panjang,penuh liku dan perjuangan merupakan jal menarik dari materi yang akan dijejalkan kepada publik dalam film dokumenter ini.

DS1

Dengan kian banyaknya upaya mendokumentasikan sejarah maupun kegiatan musik di Indonesia,tentunya tak akan lagi mengaburkan sejarah musik populer di negeri kita.Film dokumenter yang digagas para mahasiswa Universitas Peloita Harapan ini pantas dan patut diikuti.

Memberdayakan Katalog Lama

Posted: Oktober 13, 2014 in Opini

Ada peristiwa menarik pada rabu 2 Oktober 2014 silam,label tertua di Indonesia Musica Studios untuk pertamakalinya sejak 3 dasawarsa silam kembali merilis album rekaman dalam format piringan hitam atau vinyl untuk album terbaru band d’Masiv bertajuk Hidup Lebih Indah.

Salah satu kios musik di Blok M Square (Foto Rian Ekky P)

Salah satu kios musik di Blok M Square (Foto Rian Ekky P)

Kenapa menarik ? Karena label musik sebesar Musica Studios ditengah merebaknya distribusi musik secara digital, pada akhirnya memiliki keberanian untuk merilis album pop mainstream seperti d’Masiv dalam bentuk piringan hitam sebanyak 500 keping cakram. Dalam catatan saya,major label Sony Music di tahun 2012 telah memulai merilis album Superman Is Dead bertajuk 1997 – 2009 sebanyak 1000 keping cakram.
Memang banyak yang menyangsikan rilisan vinyl ini akan mendapat respon yang bagus dari masyarakat penikmat musik, disaat penjualan fisik seperti CD menurun bahkan format kaset yang telah lama hilang. Namun label-label besar seperti Sony Music atau Musica Studios tetap melakukannya.Semuanya,baik Superman Is Dead maupun d’Masiv,justru yang mengusulkan pada label masing masing untuk dibuatkan rilisan album mereka dalam format vinyl. Bisa jadi mereka terinspirasi dengan gerakan “back to vinyl” yang tengah merebak di Amerika Serikat dan belahan dunia lainnya.

Dan pihak label menyikapi hal ini sebagai test case terhadap respon masyarakat terhadap format yang pernah Berjaya pada beberapa dasawarsa silam. Jika ditilik secara seksama ,momentumnya memang tepat.Kerinduan akan format fisik seperti vinyl memang tengah melanda dunia walau tidak dengan skala yang sensasional.
Di Amerika Serikat, tercatat sekitar 4 tahun terakhir penjualan format vinyl naik 300 persen dengan penjualan di tahun 2006 sebesar 858.000, menjadi 2,5 juta di tahun 2009. Menurut data Nielsen SoundScan, pada tahun 2010, penjualan vinyl berkisar 2,8 juta keping .
Bahkan jika melongok data pada Juni 2011 penjualan vinyl mencapai 40 persen melebihi tahun sebelumnya.
Indrawati Widjaja, pemilik Musica Studios, setelah merestui merilis album terbaru d’Masiv dalam format vinyl, kini telah mencangkan rencana untuk merilis katalog-katalog lama (back catalog) yang pernah dirilis Musica Studios pada era 70an dan 80an seperti album karya Guruh Sukarno Putra,Iwan Fals,Chrisye dan Harry Roesli. Ini sebuah upaya yang pantas didukung,mengingat begitu banyak karya-karya seniman musik Indonesia yang dimasa lalu menjadi landmark perjalanan musik popular di Indonesia menjadi punah begitu saja. Pencapaian musik dimasa lalu sepatutnya diberdayakan kembali dalam bentuk fisik seperti vinyl.
Karena vinyl dengan kemasan art work yang menampilkan cover beserta liner note dan detil data musik bisa dianggap memiliki sifat yang sama dengan buku atau karya senirupa lainnya yang mampu merefleksikan sekaligus merekam sejarah budaya popular di suatu masa. Karena musik sebagai sejarah budaya populer tak hanya dinikmati sebagai produk bunyi saja tanpa bentuk fisik yang memadai seperti halnya vinyl atau piringan hitam.
Upaya merilis katalog-katalog lama dalam bentuk vinyl bukan lagi untuk kepentingan nostalgia belaka,melainkan merupakan upaya pengarsipan yang memiliki urgensi.Selama ini sejarah musik popular di Indonesia memang nyaris agak berantakan dengan data-data yang berserakan bagai puzzle yang tercerai berai entah kemana.Kita sama sekali tak memiliki data maupun pencatatan yang akurat seperti yang dilakukan oleh negara-negara maju.
Beberapa label kecil independen seperti Majemuk Records serta Rockpod Record yang kembali merilis ulang (reissue) beberapa katalog lama seperti “Alam Raya” (Abbhama) atau “Gede Chokras” (Sharkmove) merupakan indikasi yang melegakan, karena beberapa tahun belakangan ini justru label-label asing seperti Shadoks Record,Now Again Record,Sublime Frequencies dan Strawberry Rain yang berinisiatif melakukan rilis ulang terhadap album-album seperti Guruh Gipsy,Ariesta Birawa,Sharkmove,AKA dan Kelompok Kampungan serta kompilasi lagu-lagu pop dan rock Indonesia “Those Shocking Shaking Day”.
Dan yang jelas,jika banyak label di Indonesia mulai mengikuti apa yang dirintis Musica Studios,Majemuk Record maupun Rockpod Record , setidaknya ini akan menangkal upaya dari beberapa label mancanegara yang merilis album-album Indonesia tanpa izin resmi alias membajak.

The Rollies edisi Typo

Posted: Oktober 13, 2014 in Kisah, Opini

Banyak hal menarik yang muncul saat mencermati sampul album atau cover album piringan hitam, salah satu diantaranya adalah mengenai salah tulis atau yang kerap kita kenal dengan istilah TYPO.Nah,jika anda perhatikan secara seksama ada dua album dari band asal Bandung The Rollies yang menurut saya memiliki typo.

Ada typo pada judul lagu Gone Are The Songs of Yesterday yang ditulis Gone Are The Days of Yesterday di cover album The Rollies pada tahun 1969 (Foto Denny Sakrie)

Ada typo pada judul lagu Gone Are The Songs of Yesterday yang ditulis Gone Are The Days of Yesterday di cover album The Rollies pada tahun 1969 (Foto Denny Sakrie)

Pertama, adalah album debut The Rollies yang direkam dan dirilis oleh label PopSound Phillips Record di Singapore, dimana dalam salah satu judul lagu yang tercantum pada cover depan tertulis Gone Are The Days Of Yesterday.Seharusnya lagu milik Love Affair yang diremake The Rollies itu judulnya adalah Gone Are The Songs of Yesterday.

Yang kedua, salah tulis atau typo terjadi pada album the Rollies bertajuk Sign of Love yang dirilis oleh label Purnama Record pada tahun 1972 yuang ditulis Sing Of Love..Typo ini jelas bisa mengubah makna, dari makna Tanda Cinta berubah menjadi menyanyikan lagu cinta.

Seharusnya judul album the Rollies ini adalah Sign of Love tapi justeru tertulis Sing Of Love.

Seharusnya judul album the Rollies ini adalah Sign of Love tapi justeru tertulis Sing Of Love.

Tapi konon kabarnya,para kolektor vinyl atau piringan hitam justru memburu album-album yang dipenuhi kata typo ini.Harganya bisa melambung tinggi tak terhingga.

Apakah anda pernah menemui album typo seperti yang saya paparkan diatas ? Let me know.

Tetabuhan Kata Trubadur Jawa

Posted: Oktober 13, 2014 in Opini

Rangkaian kata berbalut rima memiliki gaung yang sama dengan tambur yang ditabuh penuh ekspresi. Kata per kata yang digaungkan memiliki ruh laksana mantra .Tetabuhan kata bisa menjadi penyemangat bahkan bisa menggalang sebuah gerakan.
Dalam olahan musik hip hop bernuansa Jawa seperti yang diumandangkan Kill The DJ bersama Jogja Hip Hop Foundation, barisan kata-kata adalah panglima.Kata-kata menyeruak kedalam pelbagai aspek kehidupan.Seperti halnya derau musik yang ditebar troubadour, maka lagu-lagu yang dibawakan kelompok hip hop asal Yogyakarta ini justru memiliki nafas gugat yang kuat,menyeruak ke sendi-sendi kehidupan mulai dari telusur ke ranah sosial hingga politik sekalipun .Mereka adalah penyaksi yang memberikan kesaksian, baik tentang kebaikan maupun kebathilan.
Dalam drama Pilpres RI 2014 yang gegap gempita beberapa waktu lalu,juga menyisakan ruang untuk Jogja Hip Hop Foundation yang digagas Marzuki Mohamad, pemuda bertubuh kurus dengan tampang kebanyakan dan susah untuk dikenali , menggunakan nickname Kill The DJ. Juki,demikian panggilan akrabnya, mencuri perhatian dalam perhelatan Revolusi Mental mendukung pasangan Jokowi – JK yang berlangsung di stadion Gelora Bung Karno Jakarta 5 Juli 2014 Dalam blognya,Juki menulis : .
Bahwa kegembiraan politik yang didengungkan Jokowi yang telah melahirkan gelombang kreatifitas dan aksi simpatik yang bergairah itu, ternyata harus dihadapkan dengan berbagai bentuk kejahatan demokrasi yang berlangsung terus menerus dan sistematis.
Pada akhirnya,Juki bersama Jogja Hiphop Foundation bisa seperti air, yang mengalir dan tumpah kemana-mana.Mereka tak hanya di panggung hiphop menyemaikan hiphop berlatar kultur Jawa, tapi mereka bisa ada di ranah sosial, juga bisa ada di ranah politik sekalipun .Ini juga sekaligus membuktikan bahwa musik bias berdetak maupun berdenyut dalam waktu dan ruang apa pun. Dan Juki memahami hal itu, musik pada akhirnya bagai kemasan muslihat yang mampu mempengaruhi benak kita,mulai dari sekedar memahami hingga melakukan sebuah aksi.
Gagasan dan aksi hiphop Jawa yang dicetuskan Juki ini,pada akhirnya mengingatkan saya pada beberapa sosok pemusik era 70an yang kerap menyusupkan pesan-pesan social maupun politik dalam karya-karyanya di era rezim Soeharto yang represif, mulai dari Harry Roesli,Remy Sylado,Leo Kristi,Gombloh ,Eros Djarot hingga Guruh Sukarno Putra.Jauh sebelum Juki dan kawan-kawan menggunakan bahasa Jawa untuk menyampaikan pesan-pesan dalam lagu-lagu hiphopnya, Gombloh maupun Guruh telah melakukan hal yang sama .Dalam bahasa Jawa,Gombloh menampilkan karya-karyanya yang juga bernuansa gugat dalam album “Sekar Mayang” (Golden Hand 1981) yang antara lain berisikan lagu-lagu seperti Prahoro & Prahoro,Babad Dharmawulan,Sabdo & Wejangan atau Sekaring Jagad.Guruh Sukarno Putra menggunakan bahasa Bali dan Sansekerta dalam lagu Chopin Larung yang temanya menggugat budaya bangsa yang tercemar modernisasi di Bali. Jauh sebelum Juki dan Jogja Hiphop Foundation membuat lagu-lagu tentang korupsi, Harry Roesli telah menulis lagu “Fraksi Pencuri” dan Eros Djarot telah menulis lagu “Negara Kita” dan “Negeriku Cintaku”.
Kehadiran Juki dalam konstelasi musik jaman sekarang memang seperti mewarisi gemerutuk gugat dari para pendahulunya yang saya paparkan diatas tadi.Bahkan Juki pun melakukan hal yang sama dengan para pelaku musik masa lalu yaitu melakukan adaptasi musik luar hingga berubah menjadi musik bernuansa khas Indonesia.Harry Roesli bereksperimen memadukan rock dan jazz dalam karawaitan Jawa Barat atau Guruh Gipsy menyatukan musik Bali dan rock .progresif .Langkah kreatif ini pada akhirnya seperti warisan turun-temurun.
Energi Juki bersama Jogja Hiphop Foundation seperti tak ada habis-habisnya. Selain mendukung Revolusi Mental lewat pertunjukan musik spekatuler di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, sosok Juki juga terlihat dalam Konser Amal Untuk Solidaritas Palestina, juga ikut mendukung
Konser Amal Gugur Gunung Untuk Sinabung.Mereka pun terlihat dalam Sidang rakyat Yogyakarta yang menentang Rancangan Undang Undang Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah Pusat ,13 Desember 2010.
Gagasan Juki membentuk Jogja Hiphop Foundation rasanya memang tak sekedar ingin tampil beda saja.Dalam sebuah tulisan Juki pernah bertutur :” Sebuah mimpi yang terlintas di benak saya ketika pertama kali mendirikan Jogja Hip Hop Foundation 2003, adalah bagaimana membantu aktivitas rapper-rapper berbahasa Jawa, mencoba membuka pikiran dan wawasan komunitas ini lebih luas, untuk semakin sadar tentang pilihan dan resiko, sekaligus benefit yang bisa diraih.”

Keberadaan hip hop Jawa ini lalu diperkuat dengan munculnya Poetry Battle yang digelar pada tahun 2006 dan 2009) dengan Jogja Hip Hop Foundation sebagai penggagas . Peserta ditantang melakukan rapping dengan memakai sajak-sajak Indonesia.Jelas ini merupakan gagasan cemerlang memperkenalkan kembali pada generasi muda tentang sajak-sajak yang sekian lama hilang dari pergaulan budaya.
Saat itu penyair Sindhunata yang karya-karyanya kerap dihiphopkan oleh Jogja Hiphop Foundation sempat berujar bahwa fenomena hip hop yang menggunakan bahasa Jawa ini merupakan wujud kerinduan generasi muda kembali ke akar budayanya.
Meskipun tradisi rap dan hiphop berasal dari Amerika Serikat, Juki malah tak menghiraukan teknik rapping bercengkok Afro American,melainkan lebih menggali kekuatan kultur Jawa yang kental.Kenapa Juki memilih bahasa Jawa ? Secara teknis,menurut Juki, bahasa Indonesia kurang enak untuk dihiphopkan.Bahasa Jawa kerapkali menjadikan bunyi sehari-hari menjadi kata.Bunyi gedubrak,pada akhirnya berubah menjadi kata.
Disisi lain,Juki gemar berpetualang mengumpulkan kitab atau serat Jawa seperti Babad Tanah Jawi,Serat Centhini,Darmogandul maupun Gatholoco.Konon Juki memiliki sekitar 40 kitab berbahasa Jawa.Semuanya dijadikan referensi dalam mengolah kata pada sebagian besar lirik-lirik lagunya.r
Khazanah bertutur Jawa pun memiliki dan mengenal banyak perangai mantra, mulai dari mantra memikat perempuan hingga mantra menidurkan bayi.Mantra memiliki rima yang khas dan kuat.Anasir rima ini memang dekat dengan wujud rapping.
Rima inilah sesungguhnya yang merupakan daya pikat dalam karya-karya yang digurat Juki bersama Jogja Hiphop Foundation.Simak salah satu rima berikut ini :
Petani Tidak Lagi Punya sawah
Anak-anaknya Jadi TKI
Sumber Alam Yang Melimpah
Digadaikan utang luar negeri.
Juki bersama Jogja Hiphop Foundation telah melanglangbuana mulai dari Singapura hingga negara muasal hiphop Amerika Serikat, menyuguhkan musik hiphop.Pada akhirnya genre atau subgenre musik tak lagi memiliki semacam orang biologis, jazz bukan lagi milik kaum kulit hitam,rock bukan lagi milik kaum kulit putih,reggae bukan lagi milik Jamaika bahkan gamelan bukan lagi milik Indonesia, begitupula halnya dengan hiphop.Hiphop juga bisa berasal dari Indonesia.Dan Juki bersama Jogja Hiphop Indonesia adalah lascar yang gigih memperjuangkannya.Dengan hiphop mereka berjuang, bersaksi dan menggugat tentang ketimpangan-ketimpangan yang terjadi disekitar kita.Mereka adalah para trubadur yang pantang mundur.

Jogja Hiphop Foundation adalah fenomena dalam sejarah musik popular di Indonesia.Dengan menyerap budaya hiphop dari seberang dan kemudian disemaikan dalam baluran tradisional Jawa,upaya Kill The DJ dan kawan-kawan dari Yogyakarta ini akhirnya memiliki media berekspresi yang tepat dan kontekstual, bertolak dari semangat gugat yang kritis dan cerdas.Mereka membicarakan apa saja dalam sederet lagu yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Jawa.Ada 20 lagu mereka yang saya simak dan saya catat, seperti berikut ini.
1.Jogja Istimewa
Lagu bernuansa gugat ini seolah menjadi lagu rakyat Jogjakarta.Lagu ini seperti sebuah penyemangat bagi pelbagai lapisan masyarakat terutama gerakan sadar akan hak-hak mereka sebagai warga Jogja.Menariknya,lagu Jogja Istimewa berkumandang dipelosok Jogja termasuk dalam sidang rakyat Yogyakarta menentang upaya Rancangan Undang Undang (RUU) Keistimewaan Yogyakarta oleh Pemerintah Pusat pada 13 Desember 2010.
Dengan membaurkan beat hip hop dan groove tradisional,lagu ini menggelegar laksana pasukan tambur yang ditabuh rakyat.Kill The DJ sebagai penulis lirik mentakwilkan bahwa 70 persen lirik Jogja Istimewa diambil dari quote tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno,Ki Hadjar Dewantoro serta Sultan Hamengkubowono IX.”Sisanya adalah tulisan saya berdasarkan teks-teks tradisional Jawa” urai Marzuki Mohamad.Ini cuplikannya :
“Tambur wis ditabuh suling wis muni
Holopis kuntul baris ayo dadi siji
Bareng para prajurit lan senopati
Mukti utawa mati manunggal kawula Gusti”
Yang maknanya kurang lebih berarti :” Tambur telah ditabuh, seruling sudah berbunyi, Bersatu padu menjadi satu, Bersama prajurit dan senopati, Mulia atau mati rakyat dan raja adalah satu”
2.Jogja Ora Didol
Lagu ini bermaksud mengkritik perihal kesemrawutan yang terpampang di Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai terjarahnya ruang publik dengan menjamurnya hotel dan mall secara tak berimbang hingga teror sampah visual dalam bentuk iklan-iklan berskala besar yang menyeruak di ruang publik serta menggelegaknya premanisme dan kekerasan dengan kedok agama yang mengingkari keberagaman.
Lagu Jogja Ora Didol atau Jogja Tidak Dijual ini memang merupakan protes keras Jogja Hiphop Foundation atas pengrusakan nilai-nilai dan harkat budaya.Lirik lagunya yang bernada gugat ini memang mengingatkan saya terhadap upaya serupa yang dilakukan Guruh Gipsy di tahun 1977 terhadap westernisasi yang terjadi di Bali lewat lagu Djanger 1897 Saka. Simak lirik Jogja Ora Didol berikut ini :
Lan, lan, hotel, hotel bermunculan
Suk-suk pari ambruk karo pemukiman
Lahan hijau makin dihilangkan
Ruwet, macet, Jogja berhenti nyaman

Dan simak lirik Djanger 1897 Saka nya Guruh Gipsy :

Art shop megah berleret memagar sawah.
Cottage mewah berjajar dipantai indah.
Karya cipta nan elok indah
Ditantang alam modernisasi
Jogja Ora Didol dirilis berkaitan dengan satu dasawarsa berdirinya kelompok Jogja Hiphop Foundation.
3.Bersatu Padu Coblos No.2
Ini adalah sikap yang ditunjukkan Kill The DJ mengenai pemimpin pilihannya, yang telah lama menjadi dambaan rakyat.Dalam blog pribadinya,Juki panjang lebar mengangsur pendapat kenapa dia memiliki Jokowi sebagai Presiden NKRI :” “Di tengah demokrasi yang tersandera oleh partai-partai politik yang busuk ini, harapan dan cita-cita untuk lebih baik itu dititipkan kepada siapa? Jawabannya pertama adalah kepada diri kita sendiri, kepada peran kita dalam sebagai warga negara untuk membuatnya lebih baik. Tidak usah muluk-muluk, paling tidak beguna buat lingkungan sosial di sekitar kita. Jawaban kedua adalah, kepada orang-orang baik yang rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam sistem politik yang busuk tersebut untuk membawa cahaya perubahan ke arah yang lebih baik.”.
Lagu ini pula yang membayangi kampanye pasangan Capres Cawapres No.2 Jokowi –JK :
Badannya kurus wajah kampungan
Namun hatinya tulus sinar harapan
Dengan kerja nyata kau jawab keraguan
Karena janji-janji sudah membosankan.
4.Jula Juli Lolipop
Kolaborasi antara Jogja Hiphop Foundation dengan penyair dan rohaniawan Sindhunata menurut saya merupakan salah satu elemen menarik dari kehadiran hiphop bernunasa Jawa ini.Ada celutukan,sindiran hingga kritikan yang tepat sasaran dalam guratan-guratan kata yang ditoreh Sindhunata.Semisal,lagu Jula Juli Lolipop, yang dari judulnya saja mungkin kita telah bisa menerka dengan seksama kemana alur atau tema liriknya. Lagu ini liriknya memang terasa menampar , dimana isinya menyindir kehidupan para perupa Yogya yang kini hidup bergelimang materi.Sarat kilau kemilau yang bikin silau . Jula-juli adalah tembang dari tradisi ludruk Jawa Timur. Tembang ini kini juga sangat dikenal luas di pelosok pedesaan Yogya.Simak liriknya yang satir :
Ngemut permen, permen Lolipop,
bunder tur gepheng, kepengin beken
, kepengin dadi ngetop, karyane laris, senine mati.
5.Gurindam 12 Raja Ali Haji
Memasukkan elemen musik Melayu dengan musik dan cengkok yang kas berpadu dengan perangai musik hip hop merupakan gagasan yang patut diacung jempol,apalagi menyerap Gurindam 12 karya pujangga asal Pulau Penyengat Riau, Raja Ali Haji .Gurindam 12 berisikan pasal dan dikategorikan sebagai Syi’r al-Irsyadi atau puisi didaktik, karena berisikan nasehat dan petunjuk menuju hidup yang diridhai oleh Sang Khalik.Penggalian budaya yang dilakukan Kill The DJ bersama Jogja Hiphop Foundation ini pada akhirnya menempatkan music hiphop pada tatanan budaya lokal. Cengkok vokal yang disenandungkan Soimah Pancawati memberikan nuansa beda pada lagu hiphop ini.
6.Negara Dalam Keadaan Bahaya
Gemerutuk kegeraman Juki tersirat jelas dalam lagu bertajuk Negara Dalam Keadaan Bahaya yang pertama kali dirilis pada tahun 2011, kemudian diremake lagi pada tahun 2014 .Menurut Juki,lagu yang bernuansa panas ini merupakan salah satu bentuk empatinya terhadap rakyat termasuk petani di daerah Rembang yang menolak atas didirikannya an pabrik semen, juga untuk para petani yang bermukim di Karawang yang berjuang menolak eksekusi lahan milik mere Bahaya! Bahaya!
Negara dalam keadaan bahaya
Karena penguasa dan mafia bekerjasama
Demokrasi digadaikan dan tersandra
Di mimbar mengumbar janji
Janji bohong dan bohong lagi
Rakyat sudah lelah memaklumi
Mau dibawa kemana negeri ini?
7. Cintamu Sepahit Topi Miring
Di era 70an lazim kita dengar istilah musikalisasi puisi, dimana puisi-puisi diberi sebuah busana baru yaitu :melodi lagu.Dan hal ini dilakukan lagi oleh Jogja Hiphop Foundation yang tampaknya kerap berupaya menggali kedigdayaan sastrawi dalam bentuk puisi yang kemudian dileburkan dalam kuali hiphop nan kemistris.Kill The DJ lalu member ruh baru pada deretan puisi karya Sindhunata : hip hop.
Memang enak jadi wedhus daripada manusia
bila mati, manusia dikubur di gundukan tanah
kepalanya dikencingi wedhus yang merumput
Nasib manusia hanyalah sengsara sampai akhirnya
mengapa kita mesti bersusah?
8.Pakai Otakmu
Tak pelak lagi Kill The DJ cukup akrab dengan karya karya sastrawi baik lokal maupun dunia.Inspirasi sastra yang menguak dari sebuah lakon monolog bertajuk Endgame karya Samuel Beckett .Monolog rekaan Beckett ini menghadirkan absurditas dalam 4 karakter berbeda yaitu Hamm,Clov,Nagg dan Neil .Karya absurd Samuel Beckett ini lalu ditumpahkan dalam cernaan lirik yang didominasi kehampaan nuansa gugat dan berpadu dengan tafsir hiphop.Ini lirik yang ditulis Juki yang agaknya tak semua orang akan cepat memahami :
Sepanjang hidupku penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang sama
Dengan jawaban jawaban yang sama
Namun kita harus terus memainkannya
Orang menangis dan menangis
Menangis tidak untuk apa apa
Menangis hanya agar tak tertawa
Kemudian sedikit demi sedikit mulai berduka
Begitulah seseorang makin penuh dirinya
9..Song Of Sabdatama.
Ada kesamaan tematik antara Song of Sabdatama (2012) dengan Jogja Istimewa (2010) yang menyentuh relung hati rakyat Yogya terutama mengenai persaudaraan yang lekat serta memompa semangat warga memperjuangkan hak-haknya serta betapa pentingnya menjunjung tinggi saling menghormati dalam sebuah keragaman yang majemuk.
Judul lagu ini diambil dari Sabdatama (Sabda Utama) yang dikeluarkan oleh Sri Sultan Hamengkubhuwono X pada bulan Mei 2012 lalu, selaku raja Yogyakarta, untuk meneguhkan sikap terhadap kusutnya status keistimewaan Yogyakarta. Sabdatama kemudian juga dibaca oleh warga Yogyakarta sebagai simbol penolakan atas beberapa tindak kekerasan atas nama suku dan agama yang bermotif konspirasi politik yang terjadi di Yogyakarta beberapa bulan terakhir. Song of Sabdatama ditulis dalam tiga bahasa; Jawa, Indonesia dan Inggris.Song of Sabdatama dirilis dalam dua versi, yang kedua versi kolaborasi dengan rapper Inggris, Akala (The Hip Hop Shakespeare).Jika tak memahami problematika yang mencuat di Yogya, mungkin tak sedikit yang berprasangka tema lagu ini memaparkan kejumawaan dan chauvinism berlebihan.
We are from Jogja
The heart of Java
Our culture is weapon
Yeah, this Song of Sabdatama
10.Sembah Raga
Lagu ini dibuat dalam dua versi.Pertama versi Jogja Hiphop Foundation dan yang membuat saya terpikat adalah versi kedua bersama seniman serba bisa Slamet Gunodono.Dimulai dengan intro ambience bunyi synthesizers yang terdengar backward berimbuh denting piano dan gesekan string,lagu Sembah Raga yang menampilkan seniman serba bisa Slamet Gundono dan Yasuhiro terasa memiliki aura berbeda.Di lagu ini rapping hanya ditemani piano dan gesekan strings tanpa beat sama sekali. Sebuah kolaborasi yang memikat antara Kill The DJ dengan Slamet Gundono.Liriknya diangkat dari Sembah Raga” dari puisi karya Sindhunata.”Cintamu Sepahit Topi Miring” adalah sebuah sindiran tentang masa muda yang hanya dihabiskan dengan menyembah “berhala” yang bernama minuman keras.
Ragaku iki sukmaku, ragaku iki rasaku
Kowe kena ora nggugu ning aja maido aku
Sukma iku semar, rasa iku samar
Dadi wong sing sabar, aja waton sangar .
11.Busung Lapar Di Lumbung Padi
Ini sebuah lagu gugat yang paling lugas dari Jogja Hiphop Foundation yang memotret kondisi perilaku pemerintah di titik kritis.Sebuah paradox yang berkepanjangan dari era rezim Soeharto hingga sekarang ini,dimana korupsi bukan lagi aib tapi wajib.Siapapun akan terperangah menyimak lirik lagu ini :
Anak Bangsa Mati, Pemerintah Tak Peduli
Busung lapar di lumbung padi
Negri Subur Makmur, Hancur Karna Korupsi .
Kata Orang, Indonesia Negeri Subur Makmur
Tongkat Kayu dibatu Bisa Jadi Tanaman
Tapi Jika Para Pemimpin Kita Takabur
Merintislah Abang Jalan Menuju Kehancuran
Sebuah lagu yang memaparkan fakta berbeda dengan jingoisme lagu Kolam Susu nya Koes Plus atau Zamrud Khatulistiwa-nya Guruh Sukarno Putra di era 70an.

12.Gitu Saja Kok Repot ?
Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang dikagumi Marzuki Mohamad.Ungkapan Gus Dur yang terkenal “Gitu Saja Kok Repot” lalu disematkan menjadi judul lagu yang bertutur tentang sikap dan perilaku Gus Dur yang pantas diteladani.Gus Dur yang berbicara ceplas ceplos tapi memiliki selaksa makna.Dan Juki pun membingkainya dengan lirik yang genial :
Hanya orang bijaksana
Yang berani berkata
Bahwa Tuhan tidak perlu dibela
Karena dia yang maha kuasa
Jihadmu lebih akbar dari bom bunuh diri
Karena kau adalah humanis sejati
Menyapa kawan, menyambagi lawan,
Silaturrahmi, tanpa pandang golongan.
13.Cecak Nguntal Boyo
Apapun bisa dijadikan tema lagu.Dengan demikian Jogja Hiphop Foundation pastilah tak akan kekeringan ide untuk melahirkan lagu-lagu dengan tema-tema yang terus berkembang sesuai ritme kehidupan. Kill The DJ bertutur ,pada saat mendengar rekaman telepon antara Anggodo Widjojo dengan beberapa orang yang diputar dalam sidang Mahkamah Konstitusi, dia merasa saatnya untuk mengungkapkan kegelisahan yang mengkristal dalam benaknya.Itulah ikhwal munculnya gagasan lagu Cecak Nguntal Boyo, yang di nyanyikannya pada saat ikut berunjuk rasa di Jakarta mendukung KPK :
Ini cerita negeri bedebah
Pemimpinya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan susah
Hasil dari mengais sampah.
Di negeri para bedebah
Yang baik dan bersih bisa salah
Kebohongan itu lumrah
Rakyat kecil hanya bisa pasrah
Lagu Cecak Nguntal Boyo kemudian didaftarkan menjadi ring back tone (RBT). dan hasilnya disumbangkan untuk dana kampanye antikorupsi.
14.Asmaradhana 388 (Serat Centhini)
Keterkaitan Jogja Hiphop Foundation dengan narasi sastrawi memang fenomenal.Sebuah benturan dua kutub budaya yang terasa kontras namun toh memiliki nuansa yang senyawa.Menggodok karya sastra dalam kuali hiphop merupakan eksplorasi anak muda yang ingin menelusuri akar budayanya.Gagasan Kill The DJ memusikalissikan serat Jawa seperti Centhini tak lagi sekedar eksotisme belaka. Tatkala Among Raga bersanggama, agar Gusti Allah hadir dalam persetubuhan, maka dia pun menembang :
Allah iku siji
kang amengkoni
ora ana lawan
Sadurunge sauwise sepala segala gung
Purba wisesa siji
Anaoran siji
Durung lawan sampun sepala lawan segala
Yeku yayi sijining isbat lan napi .
15.Liga Indonesia
Saya mencatat setidaknya ada 2 lagu tentang sepakbola yang pernah dirilis dalam pola penulisan lirik bergaya satir yaitu Sepakbola yang dinyanyikan Bimbo di tahun 1977 dan Kop dan Headen dari kelompok parodi P Project di tahun 1994.Dan kini, Kill The DJ bersama Jogja Hiphop Foundation juga memotret carut marut dunia persepakbolaan di Indonesia pada lagu Liga Indonesia.
Penonton berbondong – bondong
Menuju setadion menonton sepak bola
Liga Indonesia (Ayo)
Ayolah ayo kawan (Ayo) Menjaga Ketertiban (Ayo)
Jangan ribut dan tauran, majulah sepak bola indonesia (Ayo).
16.Jangan Ada Anarki Diantara Kita
Ini sebuah lagu politik yang memplesetkan tafsir pola lagu romansa.Kill The DJ memperlihatkan kemampuannya sebagai penulis lagu yang memiliki kepedulian terhadap perilaku politik yang kerap menjadikan rakyat traumatik
Indonesia belajar demokrasi
Menang kalah jangan ada anarki
Sabarlah sabar jangan memaksa diri
Jodoh pasti akan datang sendiri
Huru hara di pilkada itu biasa
Selama politik uang masih merajalela
Jangan ada anarki di antara kita
Cinta itu jujur tidak bisa dipaksa .
17.Jula Juli Jaman Edan.
Ini sebuah lagu gugat yang lugas tanpa tedeng aling aling.Sebuah tema yang rasanya sangat kontekstual dengan konstelasi politik sekarang.Dunia politik yang terkadang tak lagi memiliki bingkai logika.
tiwas mbelani (milih DPR)
jebul ngantukan (ro mbolosan)
politik umup (rakyate mumet)
rodok gremat gremet (rejekine mampet)
sepur gluthuk kecemplung kali
negorone ambruk elite lali.
18.Ngelmu Pring
Saya suka lagu ini karena tersusup sederet makna filosofis yang menggelitik.Mereka bertutur tentang hakikat bambu dalam kehidupan sehari-hari yang bisa kita jumpai :
Pring iku mung suket, ning omah asale seka pring, usuk seka pring,
cagak seka pring,
gedhek iku pring,
lincak uga pring,
kepang cetha pring, tampare ya mung pring.
Kalo, tampah, serok, asale seka pring.
Pikulan, tepas, tenggok, digawe nganggo pring.
Mangan enak mancing iwak, walesane ya pring.
Jangan bung aku gandrung, jebule bakal pring.
Dan, bambu memang ada dimana-mana serta bisa dijadikan apa saja .Lagu yang diangkat dari puisi karya Sindhunata ini akhirnya bisa menggapai pendengarnya dari berbagai segmen.
19.Ora Cucul Ora Ngebul
Lirak-lirik karepe ngejak turu kelonan
Koalisi politike mung perselingkuhan
Beras larang minyak mundhak ra karu-karuan
Politike nglambrang mung ribut ngurus gendakan
Sajak berbahasa Jawa karya Sindhunata ini menjadi kian ekspresif ketika dibawakan dalam gaya hiphop dengan musik yang menghentak raga.Sajak yang memiliki rima ini pada akhirnya memang menjadi bagian yang paling penting dalam hiphop Jawa ini.Semuanya menyatu dalam raga hiphop.Saya terkesiap saat pertamakali melihat penampilan Rotra menghiphopkan Ora Cucul Ora Ngebul dalam Poetry Battle 02 di Taman Ismail Marzuki pada November 2008.
20.Balada Orgen Tunggal
Kill The DJ memotret fenomena organ tunggal yang menjadi bagian dari masyarakat menengah ke bawah yang kerap tampil dalam perhelatan-perhelatan mulai pesta khitanan , pernikahan hingga Pilkada.
Ini hiburan rakyat jelata
Seperti mie instan selera bangsa
Orgen tunggal pun membahana
Dimana-mana, di kota dan di desa
Dari kawinan sampai pemilu
Semua bergoyang tanpa ragu
Bersama orgen tunggal ayo kita maju
Lagu yang menampilkan duet Kill The DJ dan Soimah Pancawati ini diambil dari album Kumpulan Lagu-Lagu Jelek Semiotika Pantura.