Symphony Band Yang Menyiasati Tren

Posted: April 16, 2014 in Kisah, profil

Banyak yang menyangka bahwa penggagas dan pendiri Symphony adalah Fariz RM.Sebetulnya Symphony ini tercetus atas gagasan dua alumni SMA 3 Setiabudi Jakarta yaitu almarhum Jimmy Paais dan Herman “Gelly” Effendy yang saat itu tengah kasak kusuk bikin band.Secara kebetulan baik Jimmy Paais maupun Herman Gelly menyukai music rock terutama yang bernuansa progresif rock.Keduanya semasa SMA ikut tergabung dalam kegiatan vokal group SMA 3 Setiabudi Jakarta. Jadi tak heran ketika membentuk Symphony yang terpikir dalam benak mereka dalah Fariz RM,alumnus SMA 3 juga dan sama-sama ikut aktif dalam kegiatan vokal grup SMA 3. Sekedar informasi,vocal grup SMA 3 ini didukung oleh sederet pemusik tenar Indonesia pada akhirnya seperti Fariz RM,Adjie Soetama,Raidy Noor,Addie MS dan Ikang Fauzi.Di tahun 1977 Vokal Grup SMA 3 ini mencetak prestasi mengagumkan,dimana 3 lagu karya mereka yang diambil dari sebuah opera karya mereka berhasil masuk 10 Besar dalam Lomba Cipta Lagu Remaja yang diadakan radio Prambors Rasisonia .

Symphony formasi pertama tahun 1982 dari kiri Fariz RM,Ekki Soekarno,Herman Gelly dan Jimmy Paais (Foto Koleksi Herman Gelly)

Symphony formasi pertama tahun 1982 dari kiri Fariz RM,Ekki Soekarno,Herman Gelly dan Jimmy Paais (Foto Koleksi Herman Gelly)

Ketika Jimmy dan Gelly menawarkan pada Fariz RM untuk bergabung dalam Symphony, Fariz yang telah tergabung dalam beberapa band seperti Badai Band hingga Transs, ternyata memenuhinya.Akhirnya Fariz RM pun bergabung dengan Symphony sebagai vokalis utama dan pemetik bass gitar.Selanjutnya Symphony mengajak drummer yang kental nuansa rock nya yaitu Ekki Akadhita Soekarno.Saat itu Ekki Soekarno juga berprofesi sebagai instruktur kursus drum di sebuah sekolah musik.
Tahun 1982 Symphony merilis album perdana bertajuk Trapesium.Kuartet ini tampaknya ingin menyusupkan tren musik yang tengah berkumandang di dunia.Pilihan jatuh pada gaya New Wave atau yang kerap juga disebut SynthPop.Di era awal 80an, band-band seperti The Clash,The Police,The Specials hingga Duran Duran tengah berada diatas permukaan industry music internasional.Musik reggae dan ska menjadi benang merah beberapa band new wave terutama The Police. Inspirasi ini lalu ditebar Symphony pada beberapa komposisinya seperti Astoria atau Sirkus Optik dan Video Game. Pengaruh dari band-band bergaya pop rock seperti Asia pun tersimak dalam karya-karya Symphony.Bahkan dalam komposisi instrumental bertajuk Sepertigapuluh Dua Symphony bahkan terlihat memasuki wilayah progresif rock.Komposisi ini mengingatkan saya pada tipikal musik progresif rock ala Emerson ,Lake and Palmer maupun kelompok epigon ELP asal Jerman Triumvirat.
Ekki Soekarno memperlihatkan kemampuannya dalam menghentak drum dalam pattern rock yang cenderung complicated, sepintas kita bisa merasakan bahwa Ekki meraup pengaruh dari gaya bermain drum dari Carl Palmer maupun Rod Morgenstein.Demikian pula halnya Herman Gelly yang melakukan solo keyboard baik piano maupun synthesizers ala Keith Emerson. Meskipun demikian Symphony tetap patuh menapak pakem industri musik antara lain dengan menulis komposisi lagu yang lebih kompromistis misalnya pada lagu Interlokal yang kemudian menjadi hits besar Symphony.
Symphony tampaknya bisa menyelaraskan antara idealisma dan komersialisme secara imbang dalam produksi albumnya.
Symphony menghasilkan 3 album yaitu “Trapesium” (Akurama,1982),”Metal” (Akurama,1983) dan “N.O.R.M.A.L” (1987).
Formasi Symphony sempat beberapa kali mengalami pergeseran.Saat merilis album kedua,Symphony menyertakan Tony Wenas,keyboardis dan vokalis Solid 80.Pada album N.O.R.M.A.L Symphony tinggal bertiga dengan mundurnya Tony Wenas dan Ekki Soekarno yang mulai sibuk dengan proyek solo albumnya.
Memasuki akhir 80an, formasi Symphony berubah lagi dengan masuknya Budhy Haryono (drums),Adi Adrian (keyboard) dan Sonny Subowo (keyboard programming).
Formasi Symphony era 1982-1983 yang terdiri atas Fariz RM,Jimmy Paais,Herman Gelly Effendy,Tony Wenas dan Ekki Soekarno sempat melakukan reuni tahun 2009. Saat itu mereka tengah merancang untuk tampil kembali secara utuh namun saying pada tanggal 2 Agustus 2010 Jimmy Paais sang penggagas Symphony telah berpulang kerahmatullah.

Mungkin banyak yang tidak mengetahui keberadaan album ini.Mungkin ini adalah album solo dari bassist sekaligus vokalis Koes Bersaudara atau Koes Plus Yok Koeswoyo yang berbeda dengan konsep musik Koes Plus.Tajuk album ini yaitu “Nyanyian Hitam” agaknya telah menyiratkan isi lagu-lagu dalam album ini yang merupakan kolaborasi antara Yok Koeswoyo dan novelis Teguh Esha.Sosok Teguh Esha mulai diperbincangkan anak muda pada paruh era 70an saat meluncurkan novel Ali Topan Anak Jalanan yang kemudian dilayarlebarkan pada tahun 1977.

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 "Nyanyian Hitam" berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Album solo Yok Koeswoyo di tahun 1982 “Nyanyian Hitam” berkolaborasi dengan novelis Teguh Esha dan musik oleh Maroesja Naninggolan (Foto Denny Sakrie)

Teguh Esha juga dikenal sebagai penyebar istilah bahasa Prokem di kalangan anak muda terutama lewat narasi novel Ali Topan Anak Jalanan.
Syair-syair lagu yang ditulis Teguh Esha memang berkesan lugas dan terkadang gelap.Tersimak elemen protes maupun kritik sosial dalam karya-karya Teguh Esha, ambil contoh misalnya saat Teguh Esha berkolaborasi dengan penyanyi Mogi Darusman di tahun 1978 lewat album Aje Gile yang kemudian dibreidel pihak berwajib karena lirik-lirik lagunya yang mengkritik Pemerintah tanpa tedeng aling aling semisal pada lagu Rayap-Rayap yang liriknya mengkritik para koruptor di negeri ini.
Nah, nuansa seperti itulah yang tertuang dalam 9lagu yang ditulis Yok Koeswoyo bersama Teguh Esha pada album yang dirilis Purnama Record.
Lagu lagu itu adalah ,Lagu Anak Gedongan,Nyanyian Hitam,Balada Pondok Indah,Optimisme,Selamat Pagi Bunga Muda,Teratai Ditengah Luka,Buanglah Dukamu,Buku Biru dan Percintaan Selesai
Dari departemen musik sendiri album ini juga mengedepankan warna musik yang tak lazim dimainkan Yok Koeswoyo saat bersama Koes Bersaudara maupun Koes Plus.Di album ini,aransemen music digarap oleh pianis dan komposer klasik/kontemporer Maroesja Nainggolan dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Maruiesja yang khatam bermain piano klasik itu mengajak rekan-rekannya sealmamater dari IKJ ikut mendandani album Nyanyian Hitam Yok Koeswoyo ini.Mereka adalah Harry Sabar Tobing yang bermain drum dan perkusi,Robin Simangunsong juga bermain drum dan perkusi serta Jose memetik gitar dan menggesek cello.Baik Robin dan Jose adalah mahasiswa jurusan ilmu seni musik di IKJ dan juga anggota dari band progresif yang dibentuk Iwan Madjid yaitu Abbhama. Maroesja sendiri selain menjadi music director,menulis arransemen juga memainkan berbagai perangkat keyboard mulai dari piano hingga synthesizers.

Sayangnya album solo yang memikat ini ironisnya nyaris tak dikenal orang.Popularitas lagu-lagu Koes Plus yang massive agaknya menutup permukaan album Nyanyian Hitam ini.

tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

tigapagi di @atamerica 12 April (foto @atamerica)

Tajuk yang saya gurat diatas mungkin terkesan agak serius.Tapi saya tak menemukan tajuk yang tepat untuk menyimpulkan tontonan bertajuk “Sound Of Saturday” yang berlangsung di @atamerica sabtu 12 April kemarin. Sejak beberapa minggu sebelum acara digelar saya dihantui rasa waswas, moga moga kali ini tak ada lagi halangan untuk menyaksikan dua kelompok musik yang mampu menggoyang khalwat jiwa saya yaitu Pandai Besi dan tigapagi.

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Penonton konser Sounds Of Saturdat di @atamerica (Foto @atamerica)

Beberapa waktu sebelumnya,ketika Pandai Besi maupun tigapagi menggelar konser di Jakarta maupun Bandung, selalu ada saja halangan untuk datang menikmati konser musik mereka yang gurih.Dari album Daur Baur yang digarap Pandai Besi di studio Lokananta dengan memberdayakan crowfunding hingga album “Roekmana’s Repertoire” nya kelompok folk tigapagi ini sesungguhnya saat itu saya penasaran ingin melihat bagaimana jadinya konsep musik mereka jika dipindahkan dari album rekaman ke pentas pertunjukan. Secara kebetulan, baik Pandai Besi dan tigapagi, merupakan dua kelompok musik dari paguyuban bebas merdeka (baca :indie) telah terpilih sebagai dua kandidat Album Pilihan Majalah Tempo 2013.Dua kelompok musik yang mencuatkan harmoni musik secara cerlang cemerlang ini seolah saling bersaing ketat untuk menjadi Album Of The Year versi majalah berita berwibawa di negeri ini.

Kebetulan lagi, saya dan David Tarigan diundang oleh majalah yang digagas oleh Goenawan Mohamad itu sebagai tim penilai bersama tim redaksi seni budaya Tempo. Jam 18.30 saya menginjakkan kaki di lantai 3 Pacific Place dimana @atamerica berada.Ruangan pertunjukan yang berkapasitas sekitar 250 penonton itu mulai terlihat menyemut. Agaknya pesona dua kelompok musik ini mampu menyeret perhatian mereka ,para penikmat music dari berbagai usia untuk datang menyaksikan mereka . Ada satu ketentuan mutlak jika sebuah kelompok musik atau pemusik menggelar konser di @atamerica yaitu diharuskan untuk mengcover atau meremake sebuah karya musik dari khazanah musik popular di Amerika Serikat. Dan malam itu Sigit dari tigapagi berhasil mereka ulang lagu milik Nirvana Something In The Way yang ditulis dan dinyanyikan oleh sang frontman Kurt Cobain dari album fenomenal “Nevermind” (1991) yang menandai lanskap grunge, mazhab yang berkecambah di Seattle. Pandai Besi diluar dugaan mengcover lagu anthem era hippies di penghujung dasawarsa 60an yaitu California Dreaming yang dipopulerkan The Mamas and The Papas.kelompok folk rock pada tahun 1965.Sebuah era yang diwarnai menyeruaknya counterculture di kalangan anak muda terutama lewat idiom musik bernafas psikedelik.Pandai Besi memberi nafas baru dari lagu yang di eranya menjadi salah satu jatidiri dari generasi bunga. Entah kenapa saya tiba-tiba teringat dengan gaya Mama Cass atau Cass Elliot salah satu personil dari The Mamas and The Papas yang bertubuh subur saat melihat gaya Nastasha Abigail salah satu vokalis Pandai Besi .Abigail terlihat ekspresif dan lepas saat menginterpretasikan lagu yang menceritakan kehangatan California disaat musim dingin tiba. Menyaksikan tigapagi dan Pandai Besi di konser “Sounds Of Saturday” ini seperti menyaksikan sebuah festival folkrock dengan bingkai psikedelia. Saya sangat menikmati konser kedua paguyuban musik yang menyulam benang folk dalam rajutan musiknya. Dibuka dengan tigapagi yang seperti album cakram padatnya bermain tanpa jeda dari lagu ke lagu.Tigapagi yang terdiri atas Eko Sakti Oktavianto (gitar,Bass), Prima Dian Febrianto (gitar), dan Sigit Agung Pramudita (gitar,vokal) didukung chamber music yang terdiri atas cello dan dua biola. Sayangnya microphone yang dipakai Sigit agak kurang memadai, bahkan sound strings terutama biola terlalu kencang. Saya duduk paling depan berdampingan dengan Eric Wirjanatha dari Death Rock Star disebeklah kiri saya, serta di kanan saya ada Hasief Rolling Stone dan Ade Firza Paloh dedenngkot Sore.Saya membatin, agaknya Ade Paloh pasti akan diajak ke panggung untuk berduet dengan Sigit terutama karena di album “Roekamana’s Repertoire”,Ade Paloh jadi penyanyi tamu pada lagu “Alang-Alang”. Dan ternyata memang benar.Sigit lalu mengajak Ade paloh untuk ke panggung berduet lirih pada lagu Alang Alang. Sebuah komposisi yang sangat folkie.Tigapagi menyuntikkan rasa Indonesia dalam olahan musik folknya yang terbingkai dari bunyi-bunyian akustik dari gitar dan seksi strings.Ditengah-tengah tata musiknya tiba-tiba kita bisa tersodorkan dengan ritme kroncong hingga notasi Sunda yang cenderung minor. Sigit pun mengajak Paramita Sarasvati dari kelompok Nadafiksi untuk berduet.Sayangnya,sekali lagi disayangkan sound yang terdengar dari tata suara sangat buruk.Bukan penyanyinya lho, tapi dari tata suara. Padahal tigapagi telah memberikan sentuhan baru pada lagu Interpol “NYC”.Sebuah penafsiran yang pantas dipuji. Di konser ini tigapagi seolah mempertemukan Roekmana dalam aura peristiwa di Indonesia sekitar tahun 1965 dengan Kurt Cobain yang bunuh diri di tahun 1994 dalam bingkai tutur yang gelap tentunya lewat lagu cover Nirvana “Something In The Way”.Seminggu sebelum konser “Sounds Of Saturday”,para penggemar Nirvana memperingati tragedi meninggalnya Kurt Cobain pada 5 April 1994.

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Abigail Pandai Besi terlihat seperti Mama Cass Elliot dari The Mamas and The Papas (Foto @atamnerica)

Panggung lalu berganti ke Pandai Besi yang malam itu tampil tanpa Cholil Machmud sang vokalis yang saat ini tengah menuntut ilmu di Amerika Serikat.Tapi Cholil tetap hadir menyapa penonton lewat skype bersama isterinya.Pasangan suami isteri ini bahkan menyanyikan lagu “Hujan Jangan Marah” lewat petikan gitarlele Cholil.Lagu ini pun menjadi lagu pembuka konser Pandai Besi yang terdiri atas Akbar Akbar Bagus Sudibyo (drum), Muhammad Asranur (keyboard), Andi “Hans” Sabarudin (gitar), Airil ”Poppie” Nurabadiansyah (bas), Agustinus Panji Mahardika (terompet), dan Natasha Abigail serta Monik (vokal) .Mereka juga dibantu dua pemusik additional. Pandai Besi seperti yang mereka perdengarkan pada album Daur Baur, mereka menginterpretasikan ulang sebagian besar lagu-lagu dari Efek Rumah Kaca seperti Insomnia,Laki Laki Pemalu hingga Desember serta Menjadi Indonesia dalam balutan aransemen yang eklektik. Baik tigapagi maupun Pandai Besi terlihat ligat dan terampil memberi jiwa pada lagu yang mereka bawakan

Rencananya pada tanggal 2 April 2014 dijadwalkan Lionel Richie akan melakukan konperensi pers di depan media sehubungan dengan konsernya bertajuk “All The Hits,All Night Long World Tour 2014″.Pihak promotor Black Rock Entertainment meminta saya untuk menjadi moderator konpers Lionel Richie tersebut.Tentunya saya sangat antusias menerima ajakan promotor yang beberapa waktu sebelumnya menggelar konser Metallica di Gelora Bung Karno.

Saat berbincang dengan Lionel Richie di be lakang panggung 3 April 2014 (Foto Denny Sakrie )

Saat berbincang dengan Lionel Richie di be
lakang panggung 3 April 2014 (Foto Denny Sakrie )

Saya akui masa remaja saya diisi oleh beberapa hits dari Lionel Richie termasuk lagu-lagu saat penyanyi,komposer,pianis dan saxophonis ini bergabung dalam kelompok musik soul funk The Commodores yang bernaung dibawah lable Motown Record.Lagu lagu yang saya sukai saat duduk dibangku SMP hingga SMA itu kebanyakan bertema ballad atau anak-anak muda sekarang menyebutnya lagu-lagu galau mulai dari Three Times A Lady,Still,Sail On,Oh No termasuk Easy yang pernah dicover oleh band Faith No More.Di era 80an,setelah Lionel mundur dari Commodores, popularitasnya seperti tak terbendung lagi lewat lagu-lagu ballad yang romantis seperti Endless Love yang berduet dengan Diana Ross, Truly,My Love,Stuck On You,Hello dan banyak lagi.Dan jangan lupa Lionel Richie kian berkibar ketenarannya terutama saat menyanyikkan lagu All Night Long yang diiringi sejumlah para penari breakdance menutup Olimpiade Los Angeles tahun 1984. Lionel juga menulis lagu We Are The World yang fenomenal bersama Michael Jacksons untuk proyek kemanusiaan membantu korban kelaparan di Ethiopia lewat USA For Africa.

Singkat cerita,saya cukup akrablah dengan karya-karya Lionel Richie.Makanya saya agak antusias diminta menjadi moderator konpers Lionel Richie tersebut.Saya bahkan telah menyiapkan 4 piringan hitam untuk ditandatangani Lionel Richie. Namun ternyata rencana berubah karena Lionel terjebak macet dalam perjalanan dari Bandara Cengkareng ke Ritz Carlton Pacific Place Sudirman tempat dia menginap.Akhirnya konpers batal dihadiri Lionel Richie, melainkan hanya diwakili pihak promotor dan agen dari Lionel Richie.

Seusai konperensi pers saya berencana ingin menyambangi Lionel Richie di Ritz Carlton,tapi karena kemacetan yang luar biasa akhirnya saya memutuskan mengurungkan niat saya itu.”Toh besok masih bisa bertemu Lionel ” batin saya dalam hati.

Tayek Mansur dari Black Rock mengatakan pada saya :” Besok aja mas Den di acara meet and greet sebelum Lionel manggung”.

Akhirnya saya mendapat privillege untuk menemui Lionel Richie dibelakang panggung sebelum konser digelar pada jam 20.00 WIB.

vinyl

Pihak Black Rock memang menyiapkan meet and greet secara terbatas yang hanya dihadiri sekitar 20 orang saja.Kesempatan ini tentunya saya pergunakan dengan sebaik-baiknya.Sekitar jam 19.15 Lionel yang menggunakan T Shirt dan celana hitam telah hadir ditengah-tengah kami yang telah menunggunya sejak jam 18.00. Lionel orangnya ramah,mudah bergaul dan humoris.

 

Lionel Richie sempat kegirangan bercampur haru saat saya menyodorkan 4 album milik saya yaitu dua album solonya yaitu “Lionel Richie” (Motown 1981) dan “Can’t Slow Down” (Motown 1983) dan dua album Commodores yaitu Natural High (1978)  yang berisikan hits “Three Times A Lady” serta album “Midnight Magic” (1979) yang berisikan hits Still dan Sail On.

 

Neonomora3

Neonomora membawakan lagu Fight (Foto BerisikRadio)

Neonomora membawakan lagu Fight (Foto BerisikRadio)

Bersama Neonomora saat peluncuran singlenya Fight di tahun 2013 (Foto BeriskRadio)

Bersama Neonomora saat peluncuran singlenya Fight di tahun 2013 (Foto BeriskRadio)

Sekitar tahun 2012 Ryann sahabat saya yang dikenal sebagai seorang promoter konser asing menghubungi saya.Ryann yang bertubuh gempal dan berambut kribo lalu mengirimkan saya sebuah lagu melalui surat elektronik.”Mas Den saya minta pendapat mas tentang penyanyi ini.Namanya Neonomora”.Kemudian saya menyimak sample lagu bertajuk You Want My Love.Suaranya berat,ekspresif,kadang melengking,menyergah,soulful.Saya mereka-reka siapakah jatidiri penyanyi wanita yang menggunakan nama Neonomora ini.Lagunya ditulis dalam bahasa Inggris.Pengucapan dan aksentuasinya lumayan.Tampaknya penyanyi ini sangat pasasionate dalam dunia music.Dia bukan penyanyi kemarin.Agaknya dia telah lama berkutat di dunia tarik suara.
Kemudian saya kembali berkomunikasi dengan Ryann.”Siapa penyanyi ini Ryann ?” sergah saya.”Saya lagi mencoba untuk menggarap rekamannya mas” timpal Ryann.”Ketemu dimana,penyanyi ini Ryann ? Tanya saya lagi.Ryann tak langsung menjawab,dia seperti ragu-ragu menjawab.Tapi dari mulutnya lalu keluar pernyataan dari Ryann.”Neonomora itu nama aslinya Ratih.Dia pacar saya.Saya berminat untuk memproduseri karya-karyanya” pungkas Ryann.
Suara Neonomora memang unik.Neonomora memilika letupan dinamika,tapi juga memiliki ekspresi yang soulful.Agaknya dia dengan lentur mampu berlenggang dari lagu berkarakter soul hingga rock tanpa kesan memaksa.
“Ryann, Neonomora ini sudah jadi,sudah matang.Langkah selanjutnya tinggal memilih,kemasan seperti apa yang ingin diarahkan ke Neonomra” komentar saya ke Ryann.
Tak lama berselang wanita yang memiliki nama lengkap Ratih Suryahutamy mulai menjadi bahan perbincangan tahun 2013.Sosoknya mulai terlihat tampil di pentas-pentas bergengsi seperti Java Soulnation hingga Java Rockingland termasuk manggung secara terbatas di pusat kebudayaan Amerika Serikat @atamerica di Pacific Place Jakarta.
Bahkan pada November 2013 Neonomora merilis album debutnya dalam format mini album yang kemudian dinyanyikannya secara ekspresif di konser 280 Festival yang berlangsung di Lapangan D Senayan, Jakarta .
Musik Neonomora terdengar eklektik.Ada electronic,ada folk,ada soul bahkan terasa aura rocknya.
Kiprah perdana Neonomora ini pun berbuah hasil.Majalah Rolling Stone Indonesia lalu memilih sosok Neonomora yang sejak Oktober 2013 dipersunting Ryann, sebagai Young Guns 2013.Neonomora terpilih karena dianggap sebagai sosok anak muda yang gigih meletupkan perubahan dan memantik kreativitas.
Penampilan musiknya menyeruakkan sesuatu yang berbeda.Neonomora seperti ingin melepas bebat sekat genre atau subgenre musik.Dia seperti ingin mentasbihkan diri mampu bermain musik apa saja dengan jatidiri yang kuat.

Demajors tampaknya memiliki kepedulian terhadap dokumentasi musik Indonesia diantaranya merilis beberapa album jazz misalnya album Bubi Chen Kuartet yang pernah dirilis tahun 1963 oleh perusahan milik Negara Lokananta Solo, direstorasi serta direissue dalam bentuk CD pada tahun 2006.

Album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa rilisan Demajors (Foto Denny Sakrie)

Album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa rilisan Demajors (Foto Denny Sakrie)

Kini Demajors berupaya membuat serial rekaman jazz dengan tajuk Rekam Jejak yang diawali dengan merilis Rekam Jejak Vol.1 featuring Benny Likumahuwa Jazz Connection yang menampilkan pemusik multi bakat Benny Likumahuwa.Di album Rekam Jejak ini Benny Likumahuwa memainkan trombone didampingi Indra Aziz (vokal,alto saxophone),Jordy Warlauwuru (trumpet),Doni Joesran (piano,keyboards),Dimas Pradipta (drums) dan putranya Barry Likumahuwa (bass elektrik).Juga ikut mendukung dua bintang tamu gitaris jazz legendaris Oele Pattiselanno dan pianis muda Joey Alexander.

Like Father Like Son, Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa (Foto Bob Rose)

Like Father Like Son, Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa (Foto Bob Rose)

Di album ini Benny Likumahuwa menulis sebuah komposisi Jack & Bubi yang didedikasikan ke mitra bermainnya dalam Jack Lesmana Combo dan Indonesian All Stars yaitu almarhum Jack Lesmana dan Bubi Chen.Benny juga menuliskan komposisi yang diberi tajuk Like Father Like Son dengan ikhwal kisah ayah dan anak yang disatukan oleh bakat bermusik,yakni antara Benny Likumahuwa dan Barry Likumahuwa putranya.Komposisi komposisi lainnya adalah Not A Jazz Tune,Naik Naik Ke Gunung Nona yang mengetengahkan petikan gitar Oele Pattiselanno serta Glory,Glory yang menampilkan dialog gitar dan piano antara Oele Pattiselanno dan Joey Alexander serta Show Them What You Got. Album Rekam, Jejak Vol.1 ini seperti menyinambungkan dua generasi jazz, dari yang dulu dan sekarang dalam satu sajian music jazz yang ekspresif dan apresiatif.
Lalu siapakah sosok Benny Likumahuwa ini ? Coretan ini moga moga bisa pula menjembatani antara generasi muda dan generasi masa lalu yang terkadang mengalami missing link atau putus mata rantai.

Di album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa memainkan instrumen trombone (Foto Bob Rose)

Di album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likumahuwa memainkan instrumen trombone (Foto Bob Rose)

Benny Likumahuwa dilahirkan di Kediri 18 Juni 1946.Seorang multi-instrumentalis yang mampu memainkan instrumen bass,gitar,piano,trombone,saxophone,flute,klarinet hingga trombone.Lelaki berdarah Maluku ini juga pernah tinggal di Ambon pada era 60an.Tahun 1965 Benny Likumahuwa meninggalkan Ambon dan bermukim di Bandung.
Di tahun 1966,Benny Likumahuwa yang juga menguasai teori musik dengan baik mulai bergabung dengan kelompok Crescendo.

Benny Likumahuwa di era 70an saat bergabung dengan band jazz rock The Rollies

Benny Likumahuwa di era 70an saat bergabung dengan band jazz rock The Rollies

Ada pergeseran besar yang terjadi pada tahun 1968 manakala Benny Likumahuwa diajak bergabung dalam band rock The Rollies. Benny Likumahuwa lalu melontarkan gagasan untuk menambahkan instrumen tiup dalam formasi The Rollies.Benny lalu mengajarkan cara meniup instrumen tiup pada seluruh personil The Rollies tanpa terkecuali mulai dari Deddy Stanzah sang pendiri The Rollies hingga Delly Djoko Alipin,Tengku Zulfiyan Iskandfar,Iwan Krisnawan,Bangun Sugito serta Bonnie Nurdaya .
Di tahun 1969 The Rollies mulai memasuki industry rekaman dengan merilis sekaligus dua album pada label Pop Sounds di Singapore.Kemampuan Benny Likumahuwa sebagai arranger sangat membekas dalam corak musik The Rollies saat itu terutama ketika The Rollies mulai mengibarkan jatidiri sebagai jazz rock band dengan dominasi horn section seperti Chicago maupun Blood Sweat and Tears..
Di awal 1970an Benny Likumahuwa kerap mondar mandir di beberapa kota Asia Tenggara untuk bermain musik diberbagai klab.Saat itu dia membentuk band bernama The Augersindo yang merupakan akronim dari Australia,German,Singapore dan Indonesia.Karena pendukungnya berasal dari keempat negara tersebut.

Benny Likumahuwa menguasai semua instrumen tiup

Benny Likumahuwa menguasai semua instrumen tiup

Di awal 70an Benny diajak Jack Lesmana bergabung dalam The Indonesian All Stars menggantikan posisi bassist Jopie Chen.Benny Likumahuwa pun bergabung dalam Jack Lesmana Combo.Di era 80an Benny Likumahuwa tergabung dalam Abadi Soesman Jazz Band serta Ireng Maulana All Stars. Benny Likumahuwa juga membentuk kelompok musiknya sendirti yang diberinama Benny Likumahuwa Jazz Connection.
Jika anda belum mengenal sosok Benny Likumahuwa dalam khazanah musik jazz, maka menyimak album Rekam Jejak Vol.1 Benny Likuamhuwa ini seperti sebuah risalah yang mengetenghkan perjalanan musiknya dari era 60an hingga saat sekarang ini.

 

Rudi Gagola Bassist Yang Terlupakan

Posted: Maret 24, 2014 in Sosok

Mungkin banyak yang tidak mengetahui sepak terjang pemusik yang bernama Rudi Gagola.Rudy Gagola adalah adik kandung Donny Fattah Gagola.Sama-sama jago main bass dan bikin lagu.

Rudi Gagola bersama Vina Panduwinata di studio Golden Handa saat rekaman album debut Vina Panduwinata "Citra Biru" di tahun 1981

Rudi Gagola bersama Vina Panduwinata di studio Golden Handa saat rekaman album debut Vina Panduwinata “Citra Biru” di tahun 1981

The Steel adalah band yang pernah didukung Rudy Gagola di paruh era 70an.Lalu di tahun 1976 bersama Donny,Rudy membentuk proyek D&R pada label Pramaqua yang dirilis tahun 1977 dan menghasilkan hits “Mimpi” yang dibawakan Ida Noor.”Cindy” oleh Keenan Nasution dan “Bawalaj Aku Bersamamu” oleh Achmad Albar.

Setahun kemudian D&R merilis album “Episode” (Jackson Records & Tapes 1978) dan “Sesuatu yang Indah” (Irama Tara,1981). Tahun 1978 Rudy Gagola berperan sebagai Music Supervisor pada label Jackson Records & Tapes milik almarhum Jackson Arief.

D & R adalah proyek yang digagas Donny Fattah Gagola dan Rudi Gagola sejak tahun 1976 (Foto Firman Ichsan)

D & R adalah proyek yang digagas Donny Fattah Gagola dan Rudi Gagola sejak tahun 1976 (Foto Firman Ichsan)

Saat itu Rudi juga terlibat sebagai music director dan session player artis-artis musik yang dikontrak Jackson Records seperti Iis Soegianto,Vina Panduwinata,Farid Hardja,Priyo Sigit dan banyak lagi.Rudi  Gagola juga tercatat sebagai bassist kelompok  bernuansa jazz rock Drakhma bersama Dodo Zakaria,Dani Mamesah,Gideon Tengker  dan Wawan Tagalos yang sempat menghasilkan 3 album yaitu “Hari Esok” (1980,Sky Record),”Citra Bahagia” (1982) dan “Tiada Kusadari” (1984).

Rudi Gagola pun sempat mengisi posisi bass dalam God Bless menggantikan Donny Fattah Gagola kakak kandungnya yang sempat cuti dari God Bless di awal era 80an.

Di tahun 1984 Rudi Gagola merilis debut album solonya yang dikemas dalam musik rock bertajuk “Indonesian Rock ’84″ (Jackson Records & Tapes 1984).
Sayangnya setelah tahun 1985 nama Rudi Gagola menghilang begitu saja tanpa kabar yang pasti.Saat itulah mungkin khalayak mulai melupakan Rudi Gagola dalam arti sesungguhnya.