Malam ini 25 November 2014 saya lagi bongkar-bongkar file tulisan.Sekedar untuk beres-beres,agar pengarsipan lebih rapi.Eh tiba-tiba menemukan sebuah draft tulisan berbentuk prakata atau foreword atau liner note istilah yang kerap dipakai untuk sebuah prakata dalam sebuahb rekaman baik dalam format kaset,compact disc maupun piringan hitam (vinyl).Liner Notes yang saya tulis itu adalah pesanan dari Keenan Nasution pada sekitar tahun 2010.4 tahun silam Keenan Nasution berencana akan merilis ulang atau reissue atas album solo debutnya “Di Batas Angan-Angan”.Sayangnya, hingga saat sekarang ini album reissue tersebut belum juga terwujud.Tapi ada baiknya saya share aja liner notes yang saya tulis itu sekarang.Selamat membaca.

KST

32 tahun silam,tepatnya November 1978 muncullah sebuah album yang memiliki kualitas terbaik dalam industri musik pop tanah air.Dengan kemasan seperti kotak pembungkus rokok,album yang didominasi warna sephia brown serta logo khas garapan Gauri Nasution bertuliskan Keenan Nasution. Bertajuk “Di Batas Angan-Angan” yang diangkat dari lagu karya Keenan Nasution dan Rudi Pekerti yang sempat terpilih sebagai finalis Festival Lagu Populer Indonesia 1977.

Keenan Nasution adalah pemusik yang bermukim di Pegangsaan Barat.Dia bersejawat dengan Chrisye bahkan satu band : Gipsy.Di tahun 1975-1976 Keenan bersama Chrisye,Oding Nasution,Roni Harahap,Abadi Soesman dan Guruh Soekarno Putera bersekutu dalam proyek eksperimental “Guruh Gipsy” dengan motto : kesepakatan dalam kepekatan.

DAA

Beberapa sejawat dalam Guruh Gipsy seperti Guruh Soekarno Putera,Abadi Soesman,Roni Harahap dan Oding Nasution ikut terlibat dalam penggarapan album ini.Selain itu,album ini juga didukung oleh Fariz RM,Junaedy Salat (keduanya adalah jebolan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1977),juga ada Debby Nasution,Gauri Nasution dan Eros Djarot dari Barong’s Band yang menyumbangkan lagu bernuansa prog-rock “Negeriku Cintaku”.

Addie MS yang masih duduk dibangku SMA bahkan diberi kesempatan bermain piano dan menata arransemen lagu “Nuansa Bening” dan “Cakrwala Senja”.Juga ada Trio Bebek sebagai penyanyi latar,bassist Hookerman Harry Minggoes,keyboardis Clique Fantastique Yanto hingga drummer Young Gipsy Narry.

Keenan

Tak ketinggalan pula Dr Rudi Pekerti sebagai penulis lirik hampirsemua lagu yang ada di album ini.Pendek kata ,pendukung album solo perdana multi-instrumentalis Keenan Nasution ini adalah kerabat pemusik yang sering nongkrong di Jalan Pegangsaan Barat No.12,Menteng,Jakarata Pusat.

Secara keseluruhan musiknya memang kaya.Arransemen tampak ditata dengan serius.Lagu “Nuansa Bening” menjadi hits terbesar album ini disamping “Zamrud Khatulistiwa karya Guruh Soekarno Putera yang terasa menggelegakka spirit jingoisme.Secara cerdik Keenan menyusupkan tabuhan perkusi Bali dalam rhythm section lagu bernuansa disko .

Lirik lagu yang ditulis Rudi Pekerti seperti berkiblat pada realita namun masih tetap berasyik masyuk dalam bingkai metafora.Simak saja misalnya lagu “Kemana (Hujan)” :

Kemana,musim hujan yang biasa datang diakhir kemarau, oh teman .

Kemana, jalan yang kau pilih dan tentukan dipersimpangan, oh kawan

Dari mana datangnya angin, dari tenggara.

Dari mana datangnya damai,dari selatan

Angin membawa rasa damai, Ketika pikiran yang rusuh,

datang mengganggu tak permisi.

Ada juga yang berceloteh dengan tema keseharian.Bersahaja.tapi memiliki kedalaman makna,seperti lagu “Adikku” :

Negeri yang jauh

tersangkut mimpi

adikku bercerita pengalamannya

ada cemara berbunga lampion

awan yang warna –warni, kian kemari

kanak-kanak bebas berlari

kanak –kanak bebas bernyanyi

Berbeda dengan perangai musik pop yang ada saat itu,Keenan Nasution selain berupaya menyajikan musik yang eklektik (ada pop,rock,folk dan progresif rock) juga menampilkan keragaman dalam tema penulisan lirik.

Lirik tak hanya berkutat persoalan cinta semata.Melainkan merambah ke tema sosial hingga yang bernada protes,seperti kegeraman yang terekam dalam lagu “Negeriku Cintaku” karya Debby Nasution dan Eros Djarot :

Hei kaum muda masa kini,kita berantaslah korupsi

Jangan membiarkan mereka menganiayai hati kita

Album “Di BatasAngan Angan” yang direkam di Gelora Seni Studio ini oleh sound engineer kawakan seperti Alex Kumara ini merupakan album terbaik di sepanjang karir musik Keenan Nasution .Bahkan di tahun 2007 silam,album “Di Batas Angan Angan” termasuk dalam “150 Album Indonesia Terbaik” versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Dan tepat hari ini ”Di Batas Angan-Angan” kembali dirilis memenuhi hasrat rindu para penggemar karya-karya Keenan Nasution.

Selamat menyimak dan menikmati karya yang tak lekang dan tak lapuk ditelan pergeseran nilai dan jaman.

Jakarta Juni 2010

Denny Sakrie,pengamat musik.

Crowdfunding

Posted: November 23, 2014 in Opini

Guruh Gipsy adalah proyek eksperimen musik Bali Rock yang menghabiskan rentang waktu penggarapan album sekitar 2 tahun dari tahun 1975 -1977. Dana produksi rekaman ini jelas tak kepalang tanggung.Proyek idealis ini mampu berjalan dengan lancar karena memperoleh saweran dana dari berbagai kalangan pengusaha papan atas saat itu seperti Pontjo Sutowo,Hasjim Ning,Taufik Kiemas dan beberapa nama lainnya.Eksperimen musik semacam itu memang tak mungkin dibiayai oleh label rekaman yang berorientasi ke bisnis musik secara pragmatis. Terwujudnya album Guruh Gipsy memang karena didukung dana oleh sejumlah pengusaha tadi.

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy (Foto Denny Sakrie)

Menurut hemat saya inilah penggalangan dana untuk seni popular pertama yang ada di Indonesia, jauh sebelum kita mengenal sebuah platform yang diistilahkan sebagai crowfunding. Istilah crowdfunding diperkenalkan oleh Michael Sullivan di tahun 2006 yang menggagas penggalangan dana terhadap proyek videoblog.
Cikal bakal crowdfunding sebetulnya telah dimulai oleh fans loyal band prog Inggris Marillion yang mengumpulkan dana melalui internet untuk membiayai tur Marillion di Amerika Serikat dengan nama “Tour Fund”.Fanbase Marillion akhirnya mengumpulkan sekitar $ 60.000 di tahun 1997 tanpa melibatkan manajemen band tersebut.Selanjutnya Marillion melakukan crowfunding untuk 4 album dalam kurun waktu 2001 -2012.Contoh lain adalah Electric Eel Shock,band rock Jepang yang berhasil mengumpulkan dana sebesar 10 ribu poundsterling dari 100 fansnya untuk keanggotaan eksklusif pada tahun 2004.

Bahkan band ini kemudian tercatat sebagai band yang tercepat menggalang dana sebesar $ 50.000.
Platform crowfunding online mulai berkembang di Amerika dengan munculnya ArtistShare pada tahun 2003 yang kemudian diikuti dengan munculnya sederet crowfunding online seperti Chipin (2005),EquityNet (2005),Pledge (2006),Sellaband (2006),IndieGoGo (2008),GiveForward (2008),Fundrazr (2009),KickStarter (2009),Fundly (2009),GoFundMe (2010),Microventures (2010) dan Fundageek (2011). Kini,secara global, sejak tahun 2012 telah berkembang sebanyak lebih dari 450 platform crowdfunding.
ArtistShare menampilkan contoh produk crowfunding yang berhasil meraih Grammy Award di tahun 2005 tanpa merilis albumnya digerai-gerai musik umum yaitu album “Concert In The Garden” milik pianis jazz Maria Schneider. Album Maria Schneider ini betul-betul didanai oleh penggemarnya sendiri Gagasan ini hampir sama dengan yang dilakukan Komunitas LKers ,wadah penggemar pemusik folk Indonesia Leo Kristi yang melakukan crowdfunding untuk pendanaan album Warm ,Fresh and Helthy di tahun 2010 serta album terbaru Leo Kristi bertajuk “Hitam Putih Orche” (2014) yang diluncurkan 1 November lalu tanpa didistribusikan di gerai musik biasa.
Sebelum crowdfunding yang dilakukan para penggemar Leo Kristi, tercatat beberapa grup musik Indonesia yang telah melakukan crowdfunding yaitu kelompok Pandai Besi dengan album “Daur Baur” (2013) serta dua band rock BIP (Jakarta) dan Navicula (Bali).

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

Kelompok Pandai Besi merilis album Daur Baur berdasarkan sebuah crowdfunding

LK
Kepedulian penggemar terhadap artis atau kelompok musik yang mereka idolakan dalam bentuk crowdfunding ini bukan hanya sebuah fenomena,melainkan juga sebuah solusi dalam problematika industri musik secara global.

Ini ada kisah napak tilas perjalanan musik jazz di Indonesia yang dilakukan oleh sederet pemusik jazz terbaik Indonesia pada dekade 60an. alkisah.di i tahun 1967 kelompok jazz Indonesia The Indonesian All Stars yang terdiri atas Jack Lesmana (Gitar),Bubi Chen (piano,zither),Maryono (saxophone,flute,suling),Jopie Chen (double bass) dan Benny Mustafa van Diest (drums) melakukan tur konser menjelajahi berbagai kota di wilayah Jerman Barat (saat itu) selama kurun waktu hampir sebulan.

Art work piringan hitam Djanger Bali

Art work piringan hitam Djanger Bali

Mereka bermain jazz tanpa henti.”Kami betul betul melakukan tur jazz yang padat termasuk tampil di Berlin Jazz Festival yang juga ditonton Herbie Hancock sampai Miles Davis ” ungkap Benny Mustafa van Diest,satu-satunya anggota The Indonesian All Stars yang masih hidup,ketika ditemui dikediamannya di bilangan Gandul Cinere awal November lalu.Sangat menarik menyimak tutur drummer jazz turunan Belanda ini seputar sepak terjang pemusik jazz Indonesia.Sebersit kebanggaan saat menyimak kisah jazz Indonesia yang dituturkan drummer legendaris ini

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa bersama pianis jazz Rene Helsdingen serta tim Demajors Record yang akan merilis ulang album Djanger Bali (Foto Demajors)

Kedatangan saya bersama David Karto dan David Tarigan dari Demajors Record beserta tim audio visual adalah untuk mewawancarai Benny Mustafa seputar proses penggarapan album Djanger Bali yang dirilis oleh MPS/Saba pada tahun 1967 bersama peniup klarinet asal Amerika Tony Scott.

“Jadi disamping kami melakukan serangkaian tur panjang di Jerman,dua hari diantaranya dipergunakan untuk merekam album Djanger Bali itu bersama Tony Scott” urai Benny Mustafa yang tanggal 22 September lalu genap berusia 75 tahun.

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Piringan Hitam Djanger Bali asli harganya telah mencapau sekitar Ro 2,5 juta di situs e-Bay maupun Discog

Tawaran untuk membuat album Djanger Bali,menurut Benny Mustafa datang dari seorang tokoh dan produser jazz di Jerman.”Namanya Joachim Berendt,dia sangat mengagumi musikalitas pemusik jazz Indonesia.Dia tertarik untuk merekam permainan jazz kita” timpal Benny Mustafa yang sore itu ditemani pianis jazz Belanda Rene Helsdingen.

Joachim Berendt ini yang kemudian berperan sebagai produser album Djanger Bali tersebut.

Lalu bagaimana hingga bisa berkolaborasi dengan Tony Scott ?

“Tony  Scott itu selalu mengajak kita untuk jam session. Kami beberapa kali melakukan pertunjukan . Dia beberapa bulan sempat tinggal di Jakarta ” tutur Benny Mustafa.

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Djanger Bali akan dirilis ulang Demajors dalam format Compact Disc

Peniup klarinet Tony Scott asal New York Amerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand,Taiwan serta Indonesia.Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justeru banyak menyerap musik tradisi yang lalu dibaurkan dengan elemen jazz.
Selama 6 bulan Tony Scott melakukan pendekatan dengan Indonesian All Stars yang didukung Jack Lesmana (gitar),Bubi Chen (piano,zither),Benny Mustafa Van Diest (drums),Maryono (suling,flute,saxophone) dan Jopie Chen (bass).Ternyata antara Tony Scott dan The Indonesian All Stars terdapat chemistry yang tepat.Mereka menemukan bentuk kolaborasi yang tepat.

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Saya mewawancarai Benny Mustafa,drummer The Indonesian All Stars,satu-satunya pemusik jazz yang terlibat proyek tersebut yang masih hidup (Foto Demajors)

Lalu selama 2 hari  di kota  Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album “Djanger Bali”.Album yang covernya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep “East meet West”.
Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti suling bambu,kecapi dan zither dihadirkan pula di album Djanger Bali ini..Adapun sesi rekaman album ini dilakukan oleh sound engineer Rolf Donner di Saba Tonstudio ,Villingen,Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967.

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

The Indonesian All Stars banyak melakukan eksperimen dan eksplorasi saat penggarapan album monumental tersebut.
Jack Lesmana  misalnya, melakukan eksplorasi  dengan memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong.Dan hasilnya memang cemerlang, tanpa gong nuansa etnik Bali bisa tercipta.
Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin  bertajuk “Summertime” dalam perspektif tradisi karawitan.Tak ada intimidasi dua kutub budaya yang berbeda.Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian luar biasa.
Sebahagian besar komposisi di album ini,arransemennya dibuat oleh Bubi Chen,kecuali “Ilir Ilir” digarap oleh almarhum Maryono.Di lagu ini pun Maryono bersenandung.”Kami yang meminta dia menyanyikan lagu tersebut,karena Maryono itu orang Jawa.Kami sendiri selalu memanggil dia Jawa” ujar Benny Mustafa terkekeh.

IMG_1414

Sayangnya ketika album Djanger Bali dirilis pertamakali pada akhir tahun 1967 oleh SABA, album ini bisa dikatakan kurang mendapat perhatian.Belum ada review yang positif atas materi album ini.Kemudian album Djanger Bali dirilis kembali di awal 1969 atau 1970 ketika label SABA mengalami masalah ketika  diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Untuk rilisan kedua Djanger Bali dirilis dengan label MPS. Disekitar dekade 90an album Djanger Bali yang termasuk dalam kategori langka  kembali dirilis ulang  oleh label  MPS dengan tajuk  “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.Di album ini terdapat dua album jazz dalam satu kemasan CD,pertama Djanger Bali dari Tony Scott and The Indonesian All Stars dan album jazz dari pemusik jazz Jepang Terumasa Hino. Dalam rilisan berformat CD ini ternyata ada satu komposisi yang tidak diikutsertakan yaitu “Mahlke” dari “Katz Und Maus” yang ditulis oleh Attilla  Cornellus Zoller gitaris jazz asal Hungaria.

Ada sedikit cerita menarik mengenai dibawakannya lagu “Mahlke” ini oleh The Indonesian All Stars.Ketika produser Joachim Berendt merlakukan muhibah  Indonesia .dia membawa  album milik Attila Zoller yang akan dirilis oleh label  SABA dimana dalam salah satu tracknya termaktub komposisi  ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakan sound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,”  berdasarkan karya Gunter Wilhelm Grass sastrawan Jermain peraih Hadiah Nobel Sastra .

Jack Lesmana tertarik untuk menyimak album Attila Zoller tersebut.Jack Lesmana ternyata menyukai komposisi lagu tersebut dan kemudian menguliknya bersama Indonesian All Stars. Pada saat The Indonesian All Stars bermuhibah  ke Jerman, mereka telah mampu memainkan lagu itu dengan penafsiran jazz yang menarik,dan  Joachim Berendt malah tertarik untuk merekamnya sebagai bagian dari materi album  “Djanger Bali”.
Album Djanger Bali pada akhirnya menjadi album jazz yang dipertimbangkan sebagai musik jazz Indonesia.Banyak review dan tinjauan musik yang memuji eksperimen The Indonesian All Stars bersama Tony Scott.

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Benny Mustafa van Diest dan vinyl Djanger Bali (Foto Demajors)

Sayangnya album ini sudah termasuk langka dan hanya milik para kolektor belaka.Sebuah karya besar pemusik Jazz Indonesia yang patut dikenang sepanjang masa.Beberapa waktu lalu dalam situs e-Bay maupun Discogs harga vinyl original Djanger Bali ini telah memasuki kisaran harga sekitar Rp 2,5 juta jika dikurs dalam nilai rupiah.Sangat fantastik.

Dengan melambungnya  harga atau nilai jual album otentik Djanger Bali yang kian meresahkan serta desakan keinginan untuk mendokumentasikan salah satu artefak terpenting dalam perjalanan musik jazz (di) Indonesia, pihak label Demajors terketuk untuk melakukan reissue atau rilis ulang album jazz yang menjadi target para kolektor dunia itu.

“Kami akan merilis ulang album Djanger Bali dalam format CD.Ini memang ingin meneruskan apa yang telah kami lakukan di sekitar beberapa tahun lalu saat melakukan remaster dan rilis ulang album Kuartet Bubi Chen yang pernah dirilis Lokananta Solo.Sekarang kami merasa terpanggil untuk melakukan hal yang sama lewat album Djanger Bali” jelas David Karto dari Demajors Record.

“Kami ingin agar generasi sekarang bisa mengetahui sejarah musik Indfnesia di masa silam” imbuh David Karto lagi.

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali - Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Usai sesi interview untuk Behind The Scene Reissue Djanger Bali – Tony Scott and The Indonesian All Stars (Foto Demajors)

Banyak yang tak menyangka bahwa keyboardis Yockie Surjoprajogo yang telah malang melintang dalam berbagai band rock mulai dari Zonk,Double 0,Giant Step hingga membekas sebagai tulang punggung band rock fenomenal God Bless, pernah ikut mendukung sejumlah album milik band pop asal Medan The Mercy’s.Saat itu sekitar tahun 1977 untuk kedua kalinya keyboardis dan vokalis utama The Mercy’s mundur.Musik The Mercy’s jelas pincang tanpa adanya elemen organ atau keyboards yang sudah menjadi trademark sejak awal.The Mercy;’s kemudian kasak-kusuk mencari pengganti,karena dalam waktu relatif singkat The Mercy’s yang tinggal bertiga yaitu Rinto Harahap (bass,vokal),Erwin Harahap (gitar) dan Reynlods Panggabean (drums,vokal) harus segera masuk studio untuk merampungkan album baru.

Album The Mercy's Vol.XI yang didukung Yockie Surjoprajogo (Foto Denny Sakrie)

Album The Mercy’s Vol.XI yang didukung Yockie Surjoprajogo (Foto Denny Sakrie)

Drummer Reynold Panggabean kemudian mengajukan sosok Yockie Sujrjoprajogo untuk tampil sebagai additional musician dalam sejumlah album The Mercy’s di label Yukawi setelah hengkang dari label Remaco.Reynold Panggabean yang kerap bergaul dengan personil God Bless tampaknya memang akrab dengan Yockie.Sebelumnya Reynold juga telah meminta dukungan Yockie Surjoprajogo dan gitaris Ian Antono dari God Bless untuk mendukung album solo debutnya “Puber” juga pada label Yukawi Records.

Cover bagian dalam The Mercy's Vol XI (Foto Denny Sakrie)

Cover bagian dalam The Mercy’s Vol XI (Foto Denny Sakrie)

Akhirnya Yockie Surjoprajogo secara profesional menyanggupi tawaran mendukung album The Mercy’s tersebut yang dimulai dengan album The Mercy’s Vol.XI serta dua album Christmas.

Ada sesuatu yang baru dari tata musik yang dihasilkan The Mercy’s saat Yockie tampil sebagai additional musician.Sound keyboards terasa lebih tebal.Mungkin ini perbedaan antara Charles Hutagalung yang sejak album The Mercy’s Vol.1 di tahun 1972 selalu menggunakan organ bermerk Farfisa, sedangkan Yockie Surjoprajogo yang berlatar musik rock lebih cenderung menggunakan organ Hammond B 3.

“Saya hanya tampil dalam rekaman saja ” urai Yockie yang saat itu lebih banyak berkiprah dalam rekaman Badai Pasti Berlalu serta album-album Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977-1978 serta album Sabda Alam dari Chrisye.

Entah untuk yang keberapa kalinya saya diminta untuk jadi moderator atau juga pembicara yang berkaitan dengan film Badai Pasti Berlalu,termasuk pula kaset soundtracknya yang fenomenal itu.Kali ini saya diminta oleh Cinema Inclusive dengan taglinenya Movies Reveal Cultural Identity ,untuk menjadi moderator acara diskusi film Badai Pasti Berlalu yang berlangsung jumat 14 November 2014 di Gedung Auditorium Terapung Perpustakaan Universitas Indonesia Depok.Cinema Inclusive adalah sebuah komunitas film berskala lokal yang beranggotakan mahasiswa dari sejumlah Universitas di Jakarta.

BPB

Para pendiri komunitas ini mengaku ingin melestarikan dan mengapresiasikan film-film Indonesia terutama film-film klasik agar jauh dari kepunahan.Acara ini mereka namakan Tonton,Diskusi Bicarakan !.Sebuah urgensi yang lugas dan patut diacung jempol.Setidaknya upaya mereka adalah menbghalau amnesia budaya yang kerap menjangkiti generasi-generasi sesudahnya yang tuna wawasan pereihal pencapaian seni dan budaya kita di masa silam.

Diskusi Badai Pasti Berlalu bersama Roy Marten,Erros Djarot dan Slamet Rahardjo (Foto Yugo Isal)

Diskusi Badai Pasti Berlalu bersama Roy Marten,Erros Djarot dan Slamet Rahardjo (Foto Yugo Isal)

Bagi saya ini merupakan kegiatan menarik yang berkecambah di sekitar anak muda yang masih belum kering gagasan dan wawasannya dalam berkesenian,termasuk didalamnya bagaimana upaya memaknai sebuah pencapaian dalam pop culture atau budaya populer seperti film atau musik.

DSDS

Dalam tujuan yang mereka paparkan ada satu hal menarik menurut saya,yaitu ketika merekla merasa terpanggil untuk melakukan hal semacam ini dalam hal meningkatkan kesadaran publik terutama anak muda tentang pentingnya kehadiran sebuah karya film sebagai refleksi jatidiri budaya bangsa serta mengangsurpencerahan kepada khalayak,siapa saja, tentangf pentingnya pelestarian budaya dalam hal ini film.

Sebelum diskusi film Badai Pasti Berlau di Auditorium Terapung Universitas Indonesia (Foto Yugo Isal)

Sebelum diskusi film Badai Pasti Berlau di Auditorium Terapung Universitas Indonesia (Foto Yugo Isal)

Menghadirkan para saksi sejarah film Inbdonesia terutama berkaitan dengan tema yang diangkat merupakan daya pikat untuk lebih jauh menanamkan apresiasi yang dalam ke benak para mahasiswa.Sore itu hadir dua aktor yang menjadi pemeran utama film yang diangkat dari novel karya Marga T,sebuah novel populer yang laris manis pada paruh era 70an,yaitu Slamet Rahardjo dan Roy Marten.Christine Hakim sebetulnya juga diundang tapi jadwalnya bentrok dan berhalangan.

Slamet  Rahardjo pemeran Helmi dalam film Badai Pasti Berlalu (Foto Yugo Isal)

Slamet Rahardjo pemeran Helmi dalam film Badai Pasti Berlalu (Foto Yugo Isal)

Juga ada Erros Djarot seniman yang berkubang di dua dunia,musik dan film,dimana dalam film Badai Pasti Berlalu,adik kandung Slamet Rahardjo ini berperan sebagai pembuat music score Badai Pasti Berlalu sekaligus music director album soundtrack Badai Pasti Berlalu.

Suasana diskusi Badai Pasti Berlalu di Auditorium Terapung UI (Foto Denny Sakrie)

Suasana diskusi Badai Pasti Berlalu di Auditorium Terapung UI (Foto Denny Sakrie)

Ketiga pembicara ini menuturkan perihal proses penggarpan film Badi Pasti Berlalu serta romantika dibalik penggarapan film Badai Pasti Berlalu   .Film ini digarap oleh sutradara kawakan Teguh Karya dengan semangat poppish,yangt berbeda dengan film film Teguh Karya sebelumna seperti Wajah Seorang Lelaki,Kawin Lari atau Perkawinan Dalam Semusik.Film film Teguh Karya pada galibnya adalah film yang bertendensi serius dan biasanya gagal dalam memikat penonton massive.Ketika menggarap Badai Pasti Berlalu,Teguh Karya ingin mermberikan nuansa yang lebih segar dan lkebih dekat ke selera pasar tanpoa harus mengorbankan idedalisme.

Poster

Film ini berkisah tentang Siska (Christine Hakim) yang patah hati karena tunangannya membatalkan perkawinan mereka dan menikah dengan gadis lain.Siska yang kehilangan semangat hidup memutuskan keluar dari pekerjaannya dan hidup menyendiri. Leo, sahabat Johnny, kakak Siska, mendekatinya untuk memenangkan taruhan dengan teman-temannya untuk menaklukkan Siska. Leo  (Roy Marten)  sang playboy berhasil membangkitkan semangat hidup Siska yang sudah terlelap dalam apati sdan beku bagaikan gunung es, namun ia sendiri benar-benar jatuh hati kepada gadis itu.

RM

Kesalahpahaman terjadi di antara mereka, menyebabkan mereka tidak bisa bersatu. Lalu, muncul pula Helmi, seniman pegawai niteclub, seorang pemuda yang lincah, perayu, dan licik. Badai demi badai yang hitam pekat melanda hati Siska. Namun, memang badai akhirnya  toh pasti berlalu.

Slamet Rahardjo menuturkan secara global suasana perfilman Indonesia di era 70an dimana kadang iklim berkesenian harus tumpul dan tunduk pada nilai-nilai komersialisme.Di tahun 1977 produksi film Indonesia berada di puncak secara kuantitatif yaitu berada di kisaran 135 judul film.Roy Marten sebagai bintang film tenar saat itu harus bermain dalam 4 judul film sekaligus.”Saya masih ingat,teman-teman harus menunggu saya untuk shooting film Badai Pasti Berlalu,karena saya telah terlibat kontrak dalam 3 film lainnya” ungkap Roy Marten lagi.

Gua

Film Badai Pasti Berlalu memang tidak terpilih sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia yang berlangsung di Ujung Pandang pada tahun 1978, namun berhasil menggiring banyak penonton ke dalam bioskop .Ada 4 Piala Citra yang diraih Badai Pasti Berlalu yaitu untuk kategori  untuk editing, fotografi, editing suara dan penata musik.Film Badai Pasti Berlalu juga berhasil meraih  Piala Antemas dalam Festival Film Indonesia 1979 sebagai film terlaris 1978-1979 dan film terlaris kedua di Jakarta  dengan  perolehan jumlah penonton 212.551 orang.

Nonton Badai Band 35 Tahun Silam

Posted: November 16, 2014 in Kisah, Opini

Ini adalah kjejadian yang berlangsung di bulan November, tapi sekitar 35 tahun yang silam. Saya tiba-tiba teringat ketika pertama kali nonton konser Badai Band itu pada tahun 1979.Saya baru lulus SMP,masih tinggal di Ujung Pandang.

Kaget dan kagum melihat musikalitas mereka yang terdiri atas Yockie Surjoprajogo (keyboard),Chrisye (bass,vokal),Keenan Nasution (drums),Oding Nasution (gitar),Roni Harahap (keyboard) dan Fariz RM (drums).Konsep menggunakan dua keyboard plus dua drum ini rasanya tak terpikirkan oleh band-band lain dijamannya.Saya masih ingat ketika Badai Band naik pentas,setelah dibuka penampilan Andi Meriem Mattalatta yang diiringi Mutiara Band milik Pertamina , Chrisye yang memakai setelan putih putih langsung membuka konser dengan lagu Indonesia Maharddhika karya Roni Harahap dan Guruh Sukarno Putra dari album Guruh Gipsy.Introduksi dengan duo keyboard Roni Harahap dan Yockie  Surjoprajogo terasa megah bak mercusuar.Lalu Chrisye menyanyikan lagu karya Debby Nasution dan Erros Djarot bertajuk “Angin Malam” dari soundtrack Badai Pasti Berlalu dengan memakai aransemen dari album Musik Saya Adalah Saya (Musica Studios 1979).

Suara Chrisye prima.Keenan dan Fariz membentengi rhythm sectiuon dengan pola drumming yang terasa akurat .Oding Nasution dengan aura rock meningkahi dengan lengkingan gitar elektrik.Suasana progresif rock mencuat saat Chrisye membawakan lagu Anak Jalanan karya Guruh Sukarno Putra dari album soundtrack film Ali Topan Anak Jalanan yang kemudian diaransemen ulang oleh Yockie di albumn solo Chrisye Sabda Alam.Konser Badai Band yang berlangsung di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang di Jalan Cenderawasih itu menghadirkan lagu-lagu dari album Guruh Gipsy,Badai Pasti Berlalu dsan Sabda Alam.Entah kenapa,tak satu pun lagu dari album Jurang Pemisah dibawakan Chrisye di panggung.Namun,hadirnya lagu Citra Hitam yang ditulis oleh Yockie Surjoprajogo membuat saya kagum berat dengan band yang dihuni para pemusik mumpuni.

Sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan menyasikan konser berkualitas dari pemusik yang tengah menjadi inspirasi besar dalam industri musik Indonesia.Badai Band ini bisa saya anggap sebagai gerakan pembaharuan dalam musikalitas musik Indonesia terutama jika kita kembali di tahun 1977 dimana saat itu khazanah musik Indonesia lebih cenderung tampil dengan keseragaman dimana-mana yang pada akhirnya menimbulkan rasa jenuh dan titik kulminasi.Yang saya ingat Koes Plus seperti sapi kurus yang telah diperah habis-habisan energi dan kreativitas bermusiknya oleh label besar yang menaunginya : Remaco.

Chrisye sedang menyanyikan lagu Anak Jalanan bersama Badai Band di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang di tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

Chrisye sedang menyanyikan lagu Anak Jalanan bersama Badai Band di Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang di tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

Epigonisme atau perilaku membebek telah mencapai puncaknya di era 1977 tersebut. Dan disaat itu,ketika musik populer di Indonesia mulai memasuki kubangan tunggal nada, muncullah kreativitas anak-anak muda yang rata-rata saat itu berusia 20 tahunan. Dimulai dengan munculnya eksperimen memempelaikan musik Bali dan rock progresif yang dilakukan Guruh Sukarno Putra dan band rock Gipsy dalam proyek Guruh Gipsy.Lalu mencuat kegiatan kompetisi Lomba Cipta Lagu Remaja yang digagas radio Prambors Rasisonia dan menghasilkan hits massal Lilin Lilin Kecil karya James F Sundah dan jelang akhir 1977 muncul album musik soundtrack fenomenal karya Eros Djarot bertajuk “Badai Pasti Berlalu” dengan sederet hits yang dinyanyikan Chrisye mulai dari Pelangi,Serasa ,Merpati Putih,Cintaku,Merepih Alam hingga Angin Malam.

Sebagai anak muda yang mulai memnasuki gerbang remaja, semangat menyimak atau menikmati musik  yang saya alami justru terasa mengalami pergeseran.Mulai ada kegelisahan untuk menyimak karya-karya yang trak sekedar ecek-ecek lagi tapi lebih mencari eksplorasi menyimak musik yang lebih memberikan imbuhan yang terasa kuat dalam notasi melodi,aransemen yang lebih dalam atau pola penulisan lirik yang berputar ke hal-hal yang terlalu remeh temeh.Pada akhirnya pilihan jatuh pada setidaknya 3 album yang dirilis pada tahun 1977 tadi yaitu Guruh Gipsy,LCLR 1977 dan Badai Pasti Berlalu. Pengalaman menyaksikan konser Badai Band bdi Gedung Olahraga Mattoanging Ujung Pandang ini saya anggap merupakan titik balik pergumulan saya dalam menentukan selera bermusik saya.Dan kalau berbicara soal selera, jelas tak ada kesepakatan,karena selera jelas akan selalu berbeda-beda.

Koalisi Musik Pop Kreatif

Posted: November 13, 2014 in Opini

34 tahun silam tepatnya juni 1980 muncul album bertajuk “Sakura” (Akurama Record) dari seorang pemusik pendatang baru dalam industri musik : Fariz RM.Anak muda ini telah dikenal sebagai drummer Badai Band.Ikut menyumbangkan permainan drumnya di album fenomenal Badai Pasti Berlalu (1977),menjadi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1977 bersama SMA III Vokal Grup , serta menyumbangkan lagu ciptaannya Cakrawala Senja di album solo debut Keenan Nasution “Di Batas Angan Angan” (Gelora Seni Record, 1978).Menariknya,album “Sakura” milik Fariz RM,memiliki nuansa musik yang berbeda dengan Badai Pasti Berlalu maupun album Keenan Nasution.Fariz RM dengan kemampuan memainkan banyak instrumen musik ini malah cenderung menjejalkan musik bernuansa R&B,funk serta sedikit rasa jazz dengan aksentuasi pada rhythm section berbumbu sinkopasi.Eklektika musik semacam ini dalam industri musik dan radio kerap dikategorikan sebagai Adult Contemporary Music. Sajian musik ala Fariz RM ini lalu direspon anak muda kalangan menengah keatas.

Dian Pramana Putra dan Fariz Rustam Munaf (Foto Wendi Putranto)

Dian Pramana Putra dan Fariz Rustam Munaf (Foto Wendi Putranto)

Di tahun yang sama,Dian Pramana Poetra berhasil mengukir prestasi sebagai finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia 1980 lewat lagu bertajuk “Pengabdian” yang dinyanyikannya bersama Bourest Vokal Grup.Tahun 1982 Dian Pramana Poetra merilis album solo debut bertajuk Indonesia Jazz Vocal (Jackson Record and Tapes).Musik yang ditampilkan merupakan perpaduan antara jazz,pop dan R&B.
Lagu-lagu yang disebar oleh Fariz RM dan Dian Pramana Poetra memang berhasil memikat penyimaknya yang berasal dari kalangan pelajar maupun mahasiswa dengan status sosial menengaj keatas.Sejak tahun 1977,ketika album Badai Pasti Berlalu dan LCLR Prambors Rasisonia 1977 dengan hits Lilin Lilin Kecil yang dinyanyikan Chrisye, sempat menyeruakkan paradigma baru dalam konstelasi musik popular Indonesia yang saat itu didominasi oleh band-band ala Koes Plus maupun penyanyi-penyanyi solo seperti Bob Tutupoli,Arie Koesmiran,Eddy Silitonga hingga Hetty Koes Endang. Lagu-lagu pop yang dipelopori Chrisye dkk ini dengan pola penulisan lirik yang lebih variatif dan tata musik yang lebih kaya serta elegan oleh media saat itu kerap ditulis sebagai musik gedongan .
Fariz RM dan Dian Pramana Poetra adalah generasi berikutnya dari musik pop yang diistilahkan sebagai musik gedongan tersebut.Di paruh era 80an,industri musik Indonesia kian marak,musik pop dengan gaya mendayu-dayu kian marak.Munculnya label Lolypop Record yang diprakarsai Rinto Harahap di tahun 1975 kini ditambah lagi dengan kehadiran label JK Records yang memiliki arah musik yang sama : musik mendayu-dayu yang dibawakan sederet penyanyi wanita berparas cantik kemayu seperti Dian Piesesha,Meriam Bellina,Heidy Diana,Lydia Natalia,Nindy Ellise dan banyak lagi.
Disisi lain,musik popular yang dihasilkan Guruh Sukarno Putra,Eros Djarot,Chrisye,Keenan Nasution,Chaseiro,Candra Darusman,Junaedi Salat,Harry Sabar,Louis Hutauruk,Vina Panduwinata termasuk Fariz RM dan Dian Pramana Poetra juga memiliki penggemar yang tak sedikit.
Seno M Hardjo,seorang wartawan dari majalah remaja Nona,secara personal ternyata menggemari karya-karya musik dari sederet pemusiki yang saya sebut terakhir tadi.Seno merasa perlu untuk mengkategorikan lagi jenis musik pop yang beredar dikalangan masyarakat.Maka muncullah istilah Pop Kreatif dari benak Seno M Hardjo yang kemudian didukung pula oleh Bens Leo,wartawan dari majaklah Gadis,untuk mengkategorikan musik atau lagu yang disajikan Guruh Sukarno Putra,Eros Djarot,Chrisye,Keenan Nasution,Harry Sabar,Junaedi Salat,Debby Nasution serta Fariz RM dan Dian Pramana Poetra.Logika Seno M Hardjo berbicara bahwa musik-musik mereka ini terasa memiliki aura kreatif mulai dari pemilihan melodi,akord dan tata aransemen hingga thesaurus kata yang dip;ilih saat menuliskan lirik.Tegasnya,Pop Kreatif ini adalah istilah untuk membedakannya dengan musik pop mendayu-dayu atau seperti yang diistilahkan Harmoko saat itu : Pop Cengeng .
30 tahun setelah merebaknya istilah Pop Kreatif yang kermudian menjadi polemik di berbagai media ,Seno M Hardjo bersama label yang didirikannya pada paruh era 90an lalu membuat sebuah album bertajuk Fariz RM & Dian PP In Collaboration With, yang isinya adalah sederet lagu-lagu karya dua ikon musik pop 80an itu yang ditafsir ulang oleh sederet artis musik masa kini.Album ini bisa kita sebut sebagai sebuah napak tilas atau sebuah rekonstruksi darib fenomena musik pop kreatif yang merebak di era 80an dengan mengajak artis musik seperti Glenn Fredly,Sammy Simorangkir,Sandhy Sondoro,Fatin,Maliq N D’Essentials,3 Composer,Ecoutez,Sore dan masih banyak lagi yang lain.
Album ini mungkin lebih tepat disebut sebuah koalisi musik popular dari 3 angkatan pemusik Indonesia,mulai dari Fariz RM dan Dian PP yang mewakili artis musik 80an serta para penyanyi penafsir yang berasal dari era 90an hingga 2000an.
Seno M Hardjo sendiri sebetulnya telah menggagas proyek besar ini sejak tahun 2000.Saat itu Seno yang rajin mengeluarkan rilisan back catalog Fariz RM dan Dian PP,berniat untuk membuat album Tribute To Fariz RM.Gagasan cemerlang itu akhirnya berhenti karena mengalami banyak kendala.
14 tahun berselang barulah gagasan itu bersemi lagi.SenoM Hardjo bersama labelnya Target Pop akhirya menyatukan karya-karya monumental Fariz RM dan Dian PP dalam sebuah album tribute yang sarat warna. Seno pun menuturkan perihal keinginannya membuat album yang memiliki semangat apresiasi ini : “Intinya, buat saya daur ulang bukan sekadar mengulang karena nostalgia atau romantisme belaka. Tapi lebih merupakan kreativitas yang bersinergi. Detilnya, album ini mencoba bertujuan untuk menjadi pustaka musik kontemporer dan futuristik Indonesia. Selain misi visi utama, ingin melestarikan karya Komposer legenda di negeri ini.
Di album kolaborasi ini antara lain menyertakan Sandhy Sondoro penyanyi beraksen soul klasik yang kental berduet bersama Fariz RM dengan aransemen yang digarap Yudis Dwikorana. Menariknya, Barcelona yang dirilis pada 1987 dengan susupan gitar flamenco, hadir berbeda ditangan Maliq D’Essential. Juga Nada Kasih yang awalnya menyatuka suarat Fariz RM dan Neno Warisman Sebuah Obsesi, kini menghadirkan duet Angel Pieters.Dian PP, setelah menguat dengan gaya jazz vokal, pada tahun 1986 atas ajakan Yockie Suryoprayogo melejitkan hits Kau Seputih Melati yang kini ditafsir ulang oleh Sammy Simorangkir.Ecoutez pun member sentuhan lain dari lagu Diantara Kata yang dinyanyikan Fariz RM pada album “Panggung Perak” (Akurama Record 1981).Bahkan lagu “Jawab Nurani” karya Fariz RM dan Jundi Karjadi dari album “Hotel San Vicente” dari Transs (Akurama Record,1981) dinterpretasikan secara bebas oleh Sore.Lagu bernuansa disko ini jadi berubah perangai dalam harmoni vokal yang rapat serta aransemen yang terasa lebih kaya. Gagasan album ini memang bukanlah sesuatu yang baru,namun upaya menautkan lintas generasi musik dan lintas genre ini merupakan upaya untuk mengapresiasi sekaligus melestarikan karya-karya musik yang pernah mencapai kejayaan dalam sebuah era musik.
Menurut produser album Seno M Hardjo ,karya lagu daur ulang, adalah tantangan untuk mengusung sesuatu inovatif. “ Tak muluk, mengingat kehadiran album kolaborasi ini berada di tengah dialektika kontra produktif industri rekaman yang kini memang sedang carut marut” imbuhnya lagi..