Keroncong di Moncong Industri Musik

Posted: Februari 28, 2011 in Opini, Uncategorized

Piringan Hitam Orkres Keroncong Pimpinan Bram “Atjeh” Titaley

Keroncong Protol – Bondan & Fade2Black

Dian HP & Keroncong Tenggara

Piringan Hitam Waldjinah Produksi Lokananta Solo

Perangkat musik Keroncong

oleh  Denny Sakrie,(bukan) Buaya Keroncong

(Tulisan ini dimuat di majalah budaya GONG – Yogyakarta 2008)

 

Jikalau kau nanti lebih tinggi dari raja

Nikmati hidup dengan blangkon di kepala


Memang tak lebih hebat dari Bengawan Solo

Apalagi jika kau dengar alunan Gesang

Tapi please donk ah, yang tenang jangan parno

Demikian kata-kata yang dimuntahkan lagu “Keroncong Protol” dari Bondan Prakoso dan Fade2Black yang memadukan dua kultur musik berbeda,antara keroncong dan hip-hop.Banyak yang tersentak menyimak eksperimen anak-anak muda ini.Dari kalangan purist apa yang dilakukan Bondan Prakoso dan kawan kawan ini seperti menghina pakem keroncong yang sakral.Tapi dari komunitas musik pop,hal ini merupakan terobosan yang cerdas.Yakni mencoba mengangkat pamor musik keroncong kembali ke permukaan.Saya pun mengangap upaya Bondan Prakoso yang memempelaikan keroncong dengan hip hop dan rock sebagai upaya genial.

Jika kita melihat kejadian semacam ini,maka hal ini seperti sebuah repetisi terhadap kejadian yang juga pernah menimpa genre musik lain.Di akhir era 60-an,Miles Davis dikecam habis-habisan manakala dia berupaya menghibridasi musik jazz dengan gelegak musik rock.Miles Davis punya alasan tersendiri melakukan perkawinan antar genre musik tersebut.”Jazz sudah tidak menarik minat anak muda.Kenapa tidak dikawinkan saja dengan rock,yang menmbuat kaum muda seperti kena sihir” ucap Davis.baginya jazz adalah sebuah musik yang terus melakukan progresi dari zaman ke zaman.No look back,itu filosofi bermusik Miles Davis.

Apakah musik keroncong sudah tak sesuai dengan lajunya perkembangan zaman ? Bisa iya,bisa juga tidak.Karena sampai detik ini  toh  keroncong belumm lenyap ditelan bumi.Keroncong masih tetap ada dan selalu ada.Walau patut diakui,keroncong memang sudah tak bias berada di permukaan lagi.Upaya Bondan Prakoso menghadirkan keroncong dalam dimensi industrial,sebetulnya juga merupakan upaya luhur untuk tetap mempetahankan keroncong.Bahkan Nya’ Ina  Raseuki yang kerap dipanggil Ubiet mengajak pemusik pop Dian HP dan pemusik jazz Riza Arshad memainkan keroncong dalam album “Keroncong Tenggara” yang juga menyusupkan beberapa ruh musik lain ke dxalam acuan musik keroncong seperti jazz dan rag am musik etnik.Upaya serupa pun dilakukan Marco Maryadi dengan “congrock” atau keroncong rock.Erwin Gutawa menyanding penyanyi langgam Waljinah dengan Chrisye dalam lagu “Semusim” pada album “Badai Pasti Berlalu” di tahun 1999.

Kelompok Sore dari komunitas indie-pop menyelipkan cengkok dan ritme keroncong pada lagu “Hidup Itu Indah” dalam  album “Mesin Waktu” (Aksara Record,2007)yang merupakan album tribute untuk kelompok Naif.Ada juga “congdut” yang membaurkan keroncong dan dangdut. Di tahun 1996  Rama Aiphama yang menafsirkan kembali lagu “Dinda Bestari” ,”Telomoyo”,”Dewi Murni”,”Gambang Semarang”,”Bandar Jakarta” dan “Jembatan Merah” dalam album bertajuk “Keroncong  Disco Reggae”.Hetty Koes Endang melalui albumnya yang dirilis Musica Studio’s justeru menyanyikan lagu-lagu pop seperti “Tenda Biru” hingga “Kau Tercipta Bukan Untukku” dalam kemasan musik keroncong.

Jika kita mundur kebelakang,sebetulnya keroncong memang  sudah menjadi bahagian dari industri musik pop.Pada akhir dasawarsa 60-an dari industri musik pop Indonesia yang mulai melangkah,mulailah masuk anasir keroncong yang dipadu dengan peerangai musik pop.Kelompok The Steps yang didukung May Sumarna,Didi Hadju,Imron dan Ismet Januar misalnya mulai memperkenalkan istilah “Keroncong Beat”.The Steps memainkan keroncong tanpa menggunakan instrument seperti ukulele,cello maupun seruling.The Steps menggunakan perangkat band yang elektrik,mulai dari bass,gitar,drum hingga keyboards.Suara seruling pun dimanipulir dari bunyi keyboard.Mereka seolah menggabungkan gaya instrumental The Ventures maupun The Shadows tapi dalam nuansa keroncong.Album-album keroncong ini dirilis oleh Phillips/Pop Sound di Singapore.Di perusahaan rekaman yang sama,juga beredar album keroncong milik The Rollies bertajuk “Halo Bandung” (1969),juga kelompok The Peels yang didukung Benny Soebardja,Butje Garna dan Deddy Garna.

Hal yang sama pun dilakukan kelompok Eka Sapta yang didukung Idris Sardi,Ireng Maulana,Itje Kaumonang,Benny Mustafa van Diest dan Bing Slamet.Dalam album “Kerontjong Eka Sapta” (Canary,1968),kelompok musik ini bahkan mengkroncongkan sederet lagu-lagu pop seperti “A Whiter Shade of Pale” (Procol Harum),”Don’t Forget To Remember” (Bee Gees) hingga “Love Is Blue” (Francis Lai).”Apa yang dilakukan Eka Sapta ini ibaratnya menampilkan keju tapi tidak diatas piring yang lengkap dengan sendok dan garpu,tapi dihidangkan diatas daun seperti menikmati gado-gado.Begitu juga sebaliknya,.Artinya Eka sapta memainkan keroncong,tidak menggunakan cello atau ukulele tapi perangkat band komplit” ungkap Idris Sardi,yang saya temui pada awal November 2008 lalu.

Masih ingatkah anda ketika di awal 70-an,hampir semua band-band pop dan rock  seperti Koes Plus,Favorite’s Group,C’Blues ,Ternchem merilis album-album berlabel keroncong.Koes Plus dalam album “Bunga Di Tepi Jalan” (Dimita 1972) membnawakan lagu “Keroncong Pertemuan”.Setahun setelahnya Koes Plus lalu merilis album “Pop Keroncong” dengan lagu-lagu seperti “Keroncong Pulau Kelapa” hingga “Keroncong Sapu Tangan”.Dan tampaknya hal semacam ini berulang terus pada setiap dasawarsa.

Semangat pop dengan rincian seperti aransemen yang simple,melodi yang catchy memang merupakan rumus dagang yang tak terbantahkan.Menyusupnya tren dalam kandungan tata musik semisal rock,rap,hip hop,reggae ,jazz dan entah apa lagi merupakan adonan yang bisa lebih mendekatkan diri pada kuping penikmat musik yang usianya dalam setiap generasi tetaplah dari golongan anak muda.

Rasanya tak perlu lagi kita berteriak perihal pencemaran budaya dan sejenisnya.Karena sebetulnya hibridasasi seperti yang menyentuh keberadaan musik keroncong mau tidak mau adalah salah satu upaya memperpanjang nafas musik keroncong dari kepunahan.Bukan hanya pada musik keroncong.Itu pun terjadi pada ragam musik klasik hingga jazz sekalipun.Yang pantas diingat,jangan samapi akar keroncong itu terbabat habis.Dan dari sebuah radio,sayup terdengar celoteh Bondan Ptrakoso Featuring Fade2black :


Boleh dinikmati, ekplorasi, anti monoton

Kuharap kau suka dan mulailah bertanya

Siapakah mereka, kenapa, eh, asyik juga

One more time

Ciki one, ciki two

Nikmati aja, protesnya disimpan dulu

Kolaborasi hebat 2007

Kroncong Rap Rock ku boleh diadu


About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s