Hampir Seperempat Abad Tonny Koeswoyo Berpulang

Posted: Maret 24, 2011 in Kisah, Sosok

Dinasti Koeswoyo 1987
Tonny Koeswoyo 1983
Koes Bersaudara di Selekta Pop TVRI Maret 1987 (foto Martha Boerhan)

27 Maret 1987 silam, hampir seperempat abad  Koestono Koeswojo atau lebih dikenal dengan Tonny Koeswojo telah menghembuskan nafas terakhir karena kanker usus yang diidapnya.Rasanya tak berlebihan jika saya menyebut pria tampan dan simpatik ini sebagai sumber inspirasi bagi band-band yang tumbuh kembang di Indonesia sejak paruh dasawarsa 60-an bahkan mungkin hingga saat sekarang ini.Popularitas Koes Bersaudara hingga Koes Plus yang fenomenal adalah bukti nyata yang tak terbantahkan.
Dimata  saya sendiri sosok  Tonny Koeswoyo tak hanya seorang pemusik yang terampil bermain gitar,main keyboard,bikin lagu dan menyanyi sekalipun,tapi Tonny  Koeswoyo pun seorang visioner.Dalam setiap wawancara mengenai music Indonesia saya selalu menekankan bahwa almarhum Tonny adalah seorang visioner yang sesungguhnya .Tonny Koeswoyo,saya naggap bagaikan almarhum  John Lennon di belahan dunia sana.Walaupun  tak seradikal dan seekstrim John  Lennon namun Tonny memiliki konsep kesenian yang jelas terutama seni pop .Dia adalah seniman sejati.Dia betul betul menggantgngkan segenap jiwa raga dan hidup pada musik dan musik.Sesuatu yang bagi adiknya sendiri Koesnomo atau Nomo Koeswoyo dianggap sesuatu yang berada diambang ketidak warasan.”Bagaimana bisa musik menghidupi ?” mungkin itu yang terbersit dibenak Nomo saat harus meninggalkan Koes Bersaudara pada akhir dekade 60-an.
Tapi hingga ajal menjemput Tonny ternyata telah membuktikan bahwa musik adalah bagian dari kehidupan itu sendiri.Dan Tonny pun meninggal dunia dan dikenang khalayak sebagai sosok pemusik.
Tonny Koeswoyo dilahirkan  di daerah  Tuban ,Jawa Timur pada 19 Januari 1936, sebagai putera keempat dari sembilan bersauadara anak pasangan Koeswoyo dan Atmini. Lima diantaranya lalu bergabung dalam band Koes Bersaudara yaitu Koesjono (John),Koestono (Tonny), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), dan Koesroyo (Yok).
Titisan darah musik menurun dari Koeswojo sang ayah yang terampil memetik gitar dan main musik Hawaiianl. Tony sendiri disaat berusia empat tahun bisa berjam-jam menabuh ember dan baskom dengan pemukul lidi-lidi yang ujungnya ditancapkan bunga jambu yang masih kuncup.
Saat memasuki usia akil balik , Tonny Koeswoyo  tak mau lagi menabuh ember. Intuisi  musiknya kian menderu-deru tanpa ada yang mampu menghalangi .Tonny lalu  memohon minta dibelikan gitar, biola, dan buku-buku musik. Pak Koeswoyo memenuhi permintaan itu dengan  pertimbangan sebagai alternative untuk mengalihkan kegiatan anak-anaknya supaya jangan ikut-ikutan tren berkelahi maupun jadi crossboy.Saat itu demam ngegang tengah berlangsung di kota-kota besar seperti Jakarta,Bandung maupun Surabaya.
Disi lain Tonny pun ternya cukup  rajin mengikuti berbagai kegiatan kesenian mahasiswa seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), dan berpartisipasi sebagai pemusik. Tonny Koeswoyo juga senantiasa  suka hadir di pesta-pesta dan ikut memainkan lagu-lagu yang sedang digandrungi anak-anak muda waktu itu semisal The Beatles dan sejenisnya.

Secara otodidak, Tonny belajar memetik gitar, ukulele, piano, termasuk meniup suling.Kabarnya Tonny pun mahir meniup perangkat saxophone.

.Ketika duduk di bangku SMA, Tonny membentuk band di sekolahnya, Gita Remaja. Lalu bersama pelukis komik Jan Mintaraga- yang sempat ikut Kus Bersaudara-dan Sophan Sophiaan,Tonny malah mendirikan band Teenage’s Voice dan Teruna Ria.Band yang lalu sering tampil diperhelatan remaja di sekolah-sekolah.
Tonny Koeswoyo pun pada akhirnya  menjadi bintang pesta karena begitu mahir membawakan lagu-lagu asing (Inggeris dan Amerika Serikat)  yang sedang populer waktu itu. Namun, Tonny toh  tetap berusaha memenuhi harapan kedua orang tuanya  untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke bangku kuliah Sastra Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta.Walaupun semangat bermusik tak padam jua.
Dengan memakai nama Kus Bros, sekitar tahun 1958 mereka malang-melintang dalam berbagai acara ulang tahun atau pesta pernikahan hingga sunatan. Honor bagi mereka saat itu urusan yang kesekian.Yang penting bisa tampil di depan publik dan menyantap makanan enak.
Keempat saudaranya mulai dari yangt tertua Jon, Nomo, Yon, dan Yok menganggap pikiran Tonny tak warasa. Namun Tonny Koeswoyo berprinsip  pantang mundur, bahkan Tonny nekad keluar dari di Perkebunan Negara tempatnya bekerja agar memilikii banyak waktu untuk menulis lagu.
Kus Brothers sebagai band sudah sering tampil di berbagai pesta, dan Soejoso Karsono atau kerap dipanggil Mas Yos san g pemilik label Irama juga telah mendengar tentang Kus Brothers. Mas Yos dan supervisor musik Irama Jack Lemmmers atau Jack Lesmana lalu menerima Kus Brothers sebagai grup rekaman yang mereka kontrak pada tahun 1962.
Tonny Koeswoyo memetik perangkat  gitar melodi, bersama Jon (bas), Nomo (drum), Jan Mintaraga (gitar) mengiringi duet vokal Yon dan Yok. Baru tiga lagu Jan Mintaraga mengundurkan diri, lebih memilih melanjutkan sekolahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta dan kemudian menjadi komikus. Sementara Jon dijadikan gitaris, dan bas dimainkan Yok.
Mas Yos pun segera  menyarankan Kus Brothers yang sekarang anggotanya empat orang itu diganti namanya menjadi Kus Bersaudara karena dianggap kebarat-baratan . Dengan nama baru inilah album pertama Tonny Koeswoyo beserta  adik-adiknya diterbitkan pada tahun 1963.
“Kalau seandainya dalam penyajian musik saya Saudara menemukan pengaruh-pengaruh dari penyanyi Barat terkenal Kalin Twin dan Everly Brothers, atau barangkali asosiasi Saudara dalam mendengar musik kami tertuju ke arah mereka, itu tidak kami sangkal dan salahkan karena memang mereka-lah yang mengilhami kami hingga terbentuk orkes kami ini,” itu kalimat panjang yang ditulis Tonny sebagai liner notes pada cover vinyl atau iringan hitam (PH) pertama Kus Bersaudara yang diedarkan Irama Record.

PH yang bernomor register  IML 150 berisikan 12 lagu yang diproduksi tepat 40 tahun yang lalu itu adalah Dara Manisku, Jangan Bersedih, Hapuskan, Dewi Rindu, Bis Sekolah, Pagi Yang Indah, Si Kancil, Oh Kau Tahu, Telaga Sunyi, Angin Laut, Senja, dan Selamat Tinggal.
Waktu itu usia Tonny Koeswoyo telah berusis  26 tahun, Nomo (23tahun ), Yon (19 tahun ), dan Yok (17 tahun ). Makanya  tidak heran lagu-lagu mereka berisikan lirik-lirik tentang harapan, cinta, kebahagiaan, dan kesepian.Romansa memang menjadi bagian tak terpisahkan dari notasi lagu-lagu mereka di saat itu.
Selain itu, yang perlu dicatat lagi bahwa ke , 12 lagu Kus Bersaudara itu semuanya merupakan karya cipta Tonny Koeswoyo . Demikian juga dalam beberapa PH single seperti yang berkode IME-121 berisikan empat lagu: Dara Berpita, Untuk Ibu, Di Pantai Bali  (lagu yang diadaptasi dari lagu “Kon Tiki-nya The Ventures) dan sebuah lagu karya Pak Daldjono bertajuk , Bintang Kecil. Piringan Hitam  single lainnya yang bernomo register  IMC-1868 hanya berisikan dua lagu, Kuduslah Cintaku dan Harapanku.
Walaupun sudah memiliki lagu-lagu sendiri dalam bentuk rekaman, Kus Bersaudara masih dibayar dengan honor yang seadanya kalau menyanyi di panggung. Lagu-lagu Tonny  Koeswoyo boleh saja populer, tetapi kehidupan ekonomi keluarga Koeswoyo tidak banyak berubah.
Yang berubah justru Kus Bersaudara menjadi Koes Bersaudara. Demikian juga musik dan vokal Yon dan Yok, dari gaya Kalin Twin dan Everly Brothers ke The Beatles. Bahkan, mereka sampai merasa perlu berjas tanpa leher seperti yang dikenakan oleh John Lennon,Paul McCartney,George Harrison dan Ringo Starr.
Pada tahun 1965 Koes Bersaudara menjadi kelomor  musik sohor tanah air dan nyaris tanpa saingan sama sekali.Tapi Koes Bersaudara masih merasa perlu manggung secara berkala di gedung bioskop sebagai selingan pemutaran film atau di International Airport Restaurant Kemayoran dua kali seminggu. Penonton nyang berjubel dan tumpang tindih  selalu merequest lagu-lagu dari kelompok n The Beatles.
Padahal, pemerintah memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang melarang musik “ngak- ngik-ngok” yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. tetapi, Tony sulit mengelak permintaan penggemarnya.
Bersama Dara Puspita dan Quarta Nada, Koes Bersaudara tanggal 25 Juni 1965 diundang ke sebuah pesta yang diadakan oleh Kolonel Koesno . Ketiga band  top itu membawakan lagu-lagu Barat secara bergantian.
Ketika Koes Bersaudara yang tampil terakhir baru saja mulai membawakan nomor The Beatles, I Saw Her Standing There, lemparan batu-batu menyasar ke atap rumah  Kolonel Koesno yang  diikuti teriakan teriakan berbau kekiri-kirian seperti : “Ganyang Nekolim! Ganyang Manikebu! Ganyang Ngak-ngik- ngok!”
Pertunjukan pun terhenti seketika . Koes Bersaudara dipaksa minta maaf dan Tonny dan tenang segera  memenuhi permintaan itu serta dipaksa berjanji tak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Setelah nama-nama personel dari band penghibur itu dicatat oleh pengunjuk rasa, semua yang hadir dalam pesta tersebut membubarkan diri.

Tonny, Nomo, Yon, dan Yok pulang dengan perasaan lega. Tetapi, empat hari kemudian, tepatnya  pada tanggal 29 Juni 1965, keempat bersaudara Koeswoyo ini  ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Glodok. Perintah penangkapan disertai sebuah  Surat Perintah Penahanan Sementara Nomor 22/023/K/ SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani L Aroen SH.
Kurang 100 hari keempat bersaudara itu mendekam di Penjara Glodok, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan Glodok yang antara lain menjajakan dengan bebas lagu-lagu Tony yang diproduksi para pembajak. Mereka dibebaskan  pada  tanggal 29 September 1965.,tepat sehari sebelum pecahnya Gerakan 30 September PKI yang dramatic itu.
Pengalaman selama 100 hari itulah yang antara lain dituangkan ke dalam dua album Koes Bersaudara, Jadikan Aku DombaMu dan To The So Called The Guilties yang diterbitkan Dimita Moulding Company dengan label Mesra milik pengusaha berdarah Minang Dick Tamimi.
Kedua album itu berisi 20 lagu karya  Tonny Koeswoyo  dan satu ciptaan Yon yaitu : Untuk Ayah Ibu, Lonceng Yang Kecil, Rasa Hatiku (Yon), Jadikan Aku DombaMu, Aku Berjanji, Balada Kamar 15, Bidadari, Bilakah Kamu Tetap Di Sini, Mengapa Hari Telah Gelap, Untukmu, Bunga Rindu, Lagu Sendiri, Voorman, Hari Ini, Three Little Words, To The So Called The Guilties, Apa Saja, Di Dalam Bui Poor Clown, dan Bintang Mars. Tony mengakui terus terang, musik dalam album-album ini banyak dipengaruhi The Beatles.
Hingga era Koes Plus, lirik lagu Tonny Koeswoyo dinilai sejumlah kritikus tidak mengalami kemajuan, kecuali beberapa saja seperti Nusantara. Namun, dalam penyusunan nada dan aransemen, Tonny Koeswoyo  diakui banyak kalangan.
Mereka bahkan menjadi tambang emas  roda industri musik Indonesia sampai saat ini. Jelas tak banyak  pencipta lagu yang bukan hanya menciptakan lagu pop berbahasa Indonesia, namun juga dalam bahasa Jawa, keroncong, kasidahan, Natal, anak-anak, pop Melayu dan bosanova. Koeswoyo Senior yang tadinya menentang, ikut menciptakan lagu dan mendorong Tonny mempopulerkan keroncong bagi anak-anak muda generasinya.
Pergeseran  iklimpolitik dari Orde Lama ke Orde Baru membuka peluang lebih luas bagi Koes Bersaudara untuk berkembang sehingga mereka mendapat panggilan pentas di mana-mana. Tonny Koeswoyo  dan adik-adiknya tampil sebagai lambang kebebasan atas penindasan dan kesewenang-wenangan politik.
Pada  Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Hasilnya, keluarga Koeswoyo bisa pindah rumah yang lebih luas, Jalan Sungai Pawan 21 Blok C, masih di Kebayoran. Tetapi, setelah itu kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan. Nomo Koeswoyo , misalnya, mulai berinistiatif meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum dan memilih berusaha di luar bidang musik untuk menghidupi keluarganya.Nomo tampaknya bersikap  lebih pragmatis.Nomo jelas memiliki prinspi yang sangat berbeda dan bertolak belakang dengan Tonny Koeswoyo.
Posisi drummer yang diduduki Nomo Koeswoyo  kemudian beralih ke  Kasmuri dan dikenal dengan panggilan Murry  ,yang saat itu masih tergabung dalam Patas Band bersama Maxi Mamiri,Edmond Rumapar dan Wempy Tanasale . Tak lama berselang muncullah kelompok  Koes Plus pada tahun 1969 lewat debut album Dheg Dheg Plas yang dirilis Dick Tamimi bersama label Dimita/Mesra.Tapi Koes Plus sebetulnya mulai dikenal dan dielu-elukan khalayak setelah tampil membawakan lagu Derita serta Manis Dan Sayang dalam acara Jambore Band di Istora Senayan November 1970.Saat itu Koes Plus tampil bersama Panbers dan beberapa band sohor lainnya.Sejak itu popularitas Koes Plus seolah tak terbenbdung,menggelegak dan merajai industry music Indonesia terlebih setelah Koes Plus berpindah ke label Remaco yang dipimpin alamrhum Eugene Timothy.Koes Plus akhirnya menjadi mesin hits yang terus dipacu tiada henti oleh Remaco.Dalam catatam pada tahun 1974 Koes Plus merilis sekitar 24 album.Itu berarti setiap sebulan sekali Koes Plus merilis 2 album.Terbayang betapa kreativitas Koes Plus diperah bagai sapi.Di tahun 1976-1977 popularitas Koes Plus mulai menukik kebawah.Banyak yang menduga  Koes Plus mengalami paceklik gagasan bermusik.Eugene Timothy mengajukan gagasan untuk menghidupkan kembali Koes Bersaudara.Keempat Koeswoyo bersaudara ini menyetujuinya.
Tonny, Nomo, Yon, dan Yok pada akhirnya memang berkumpul untuk menyelesaikan sejumlah lagu dalam album rekaman Koes Bersaudara bertajuk  Kembali pada tahun 1977 . Tetapi, usaha itu ternyata tidak mampu juga mengembalikan pamor dan kedigdayaan  Koes Bersaudara di masa silam .Di tahun 1978,panji Koes Plus justeru dibangkitkan lagi. Tonny Koeswoyo kemudian terus melangkah bersama Yon, Yok, dan Murry mengibarkan bendera Koes Plus hingga akhir hayatnya.
Tonny Koeswoyo menghembuskan nafas terakhir  pada 27 Maret 1987 setelah dirawat selama dua bulan karena mengidap kanker usus yang akut . Tonny Koeswoyo  berpulang meninggalkan dua istri, Astrid Tobing dan Karen, serta lima orang putera puteri,satu diantaranya malah berkarir di jalur music sebagai seorang gitaris yaitu Damon Koeswoyo.. Sebelum meninggal Tonny Koeswoyo  bersama Koes Bersaudara sempat merilis album “Dia Permata Hatiku” dan tampil bersama Chicha Koeswoyo  dan Sari Koeswoyo di acara Selekta Pop Artis Safari TVRI.Dan hari ini minggu 27 Maret 2011,kita terpekur kembali mengenang kepergian Tonny Koeswoyo.

About these ads
Komentar
  1. giewahyudi mengatakan:

    Koes Bersaudara itu Koes Plus kan ya?

    Sepertinya dulu pernah mengikuti musikografi Mas Koes ini di metrotv..

  2. Krisna Shop mengatakan:

    salah satu musisi handal kebanggaan Indonesia :)

    btw.. ganyang ngak ngik ngok itu serius ada kata-kata begitu :mrgreen:

    Salam kenal ya pak Denny :razz:

  3. jphotoworks mengatakan:

    he is a legend!

  4. ekky jagger mengatakan:

    Kalo ada yg bilang musik KoesPlus itu gampang, berarti pengetahuan dan pendalaman musiknya cetek…
    Kedalaman musiknya Tony (Koes bersaudara/Plus) sampai sekarang di Indonesia ga ada tandingannya….
    Semoga akan lahir Tony-Tony baru, biar musik Indonesia bisa berbicara di dunia Internasional lagi (ingat lagu Why do you love me?)

  5. Hendro Suranto,SH mengatakan:

    Mas Deny Sakri Yth,

    Saya salut atas kreativitas dan kepemimpinan Mas Tony Koeswoyo sehingga berhasil membawa nama Koes Bersaudara/Koes Plus ke kancah permusikan di Indonesia dan melegenda hingga saat ini.

    Sebagai rasa hormat saya kepada Mas Tony Koeswoyo saya menciptakan sebuah lagu yang saya beri judul “Mas Tony Koeswoyo”

    Bila memungkinkan bolehkah saya minta foto mas Tony yang bagus untuk keperluan membuat vedio klip yang akan saya up load di Youtube.

    Terimakasih.

  6. muhammad arbi mengatakan:

    hampir semua lagu ciptaan tony koeswoyo enak untuk didengar…hebat dan salut buat mas ton…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s