Kaset Jazz Rilisan Team Record

Posted: Oktober 6, 2013 in Koleksi

Terus terang dulu di era 80an saya selalu mrngupdate wawasan musik jazz saya dengan selalu membeli serial rekaman jazz mancanegara yang dirilis oleh Team Record,sebuah label perekam album- album  Barat yg merupakan merger dari 3 label yaitu Saturn,Top’s dan Prambors Cassette.Harganya memang rekatif murah dibanding membeli kaset impornya ataupun vinylnya yang relatif lebih mahal.Lewat serial kaset jazznya ini mulailah saya mengakrabi nama nama sosok jazz maupun kelompok jazz mulai dari genre swing,be bop,post bop,jazz rock hingga fusion.

Katalog kaset kaset jazz Barat yang dirilis Team Record disepanjang era 80an (Foto Denny Sakrie)

Katalog kaset kaset jazz Barat yang dirilis Team Record disepanjang era 80an (Foto Denny Sakrie)

 

.Dan kita pun semua tahu ini adalah pembajakan yang ilegal tapi dilindungi pemerintah bahkan pemerintah mengambil cukai dan pajak dari usaha rekaman semacam ini.

Di era 80an para penggemar album album  jazz mancanegara dimanjakan dengan album album jazz dari label Connosseure Bandung.Label khusus jazz manacnegara ini masih satu group dengan label Hidayat Audio milik Bill Firmansyah.Saat itu kaset bajakan legal ini masih bisa didapatkan dengan mudah di negeri ini,karena Indonesia sejak thn 1958 keluar dari Konvensi Hak Cipta Bern.Pemerintah pun memberikan izin kepada label-label 

Kaset kaset bajakan legal khusus musik jazz yang di dirilis label Connoseur Bandung (Foto Denny Sakrie)

Kaset kaset bajakan legal khusus musik jazz yang di
dirilis label Connoseur Bandung (Foto Denny Sakrie)

perekam musik mancanegara ini sebagai sebuah perusahaan resmi.Jadilah kaset ilegal tapi legal.

Searching For Sarong Man

Posted: Oktober 2, 2013 in Tinjau Album

Melalui surat elektronik saya dihubungi Jason Connoy, lelaki kelahiran tahun 1977 yang bermukim di Ontario Kanada.Connoy yang berambut gondrong ini adalah pemilik label kecil Strawberry Rain.Label ini mengkhususkan diri merilis album-album reissue yang langka dan telah lama hilang diperedaran. Banyak karya-karya pemusik yang berasal dari berbagai belahan dunia dirilis oleh Strawberry Rain.Isi surat elektronik Connoy itu meminta bantuan saya untuk menjadi penghubung kepada Kelompok Kampungan, kelompok musik  folk etnik asal Yogyakarta yang pernah merilis album “Mencari Tuhan” lewat label Akurama Record tahun 1980.Saya lalu bertanya pada Jason Connoy :”

Bram Makahekum Kepala Suku Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Bram Makahekum Kepala Suku Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

”Apa yang membuat anda tertarik untuk merilis ulang album Kelompok Kampungan ini ? “. Jason Connoy yang pernah membantu Now Again Record merilis kompilasi Those Shocking  Shaking Day yang berisikan lagu-lagu rock dan folk band Indonesia era 70an lalu menjawab :

“ Well, Musiknya unik,sebuah karya folk yang progresif dan original.Karena saya sama sekali belum menemukan padanan musik dari Kelompok Kampungan ini.Mereka berusaha menampilkan bunyi bunyian musik yang natural.”  .

Tukang Tabuh Kelompok Kampungan InniSiSri (Foto Dahlan Rebo pahing)

Tukang Tabuh Kelompok Kampungan InniSiSri (Foto Dahlan Rebo pahing)

 

Apabila kita menyimak  perpaduan antara musik dan lirik-lirik lagunya  terlihat bahwa disamping menempatkan medium  sebagai penyaksi,Kelompok Kampungan pun menempatkan aura berkeseniannya sebagai penggugat.Iman mereka bisa jadi setara  dengan Woody Guthrie atau Bob Dylan sekalipun yang dengan medium musik  folk melontarkan gugat terhadap apapun,baik dalam tata kehidupan hingga sosial dan politik.

Saya mengenal Jason Connoy melalui media sosial .Awalnya Connoy menghubungi  saya melalui inbox Facebook, menawarkan ketertarikan untuk merilis beberapa album album klasik Indonesia.Tapi saya saat itu entah kenapa saya tak tertarik dan  tak pernah merespon maksud Connoy yang punya obsesi ingin membuat katalog musik Indonesia terutama era 70an. Tak lama berselang  saya mendengar Jason Connoy ikut terlibat merancang kompilasi Those Shocking Shaking Day bersama Egon dari  Now Again Record yang mendapat tanggapan positif dari pencinta musik mancanegara.Berbagai review baik di media online maupun media cetak diberbagai belahan dunia memuji album kompilasi tersebut. Lalu saya juga mendengar Connoy lewat labelnya sendiri Strawberry Rain kemudian merilis album kompilasi AKA Hard Beat disusul 3 album solo Benny Soebardja.Kesemuanya dibikin dalam format CD dan vinyl.

Jason pun meminta saya untuk membuat liner notes album reissue Kelompok Kampungan “Mencari Tuhan” itu.Ternyata Connoy diam diam melakukan browsing atas berbagai tulisan-tulisan musik yang saya tulis di beberapa blog pribadi saya. Saya menyanggupi tawaran Jason Connoy.Nah,yang jadi persoalan sekarang  adalah bagaimana menemui dedengkot Kelompok Kampungan yaitu Bram Makahekum. Saya betul-betul tak mengetahui keberadaannya secara pasti.Yang saya ingat Bram bermukim di Yogyakarta.Antara tahun 2011 dan 2012 saya ke Yogyakarta dalam rangka diskusi dan workshop musik, kesempatan ini saya gunakan untuk menelusuri keberadaan Bram Makahekum.Ternyata komunitas pemusik di Yogyakarta malah banyak yang tak mengenal beliau. Tapi saya tetap berusaha mencari si Sarong Man, lelaki yang kerap menggunakan sarung itu.  Menurut kabar mas Bram ini masih hidup dalam aura kesenimanan yang kuat.Dia bahkan tak tersentuh teknologi.Bayangkan alamat email dan rekening bank saja dia tak punya.Saya cari informasi kiri kanan tentang keberadaan Bram Makahekum.Saya teringat,setelah Reformasi 1998,Bram Makahekum sempat merilis ulang album Mencari Tuhan terutama lagu Bung Karno atas permintaan sebuah Partai Politik di Jakarta .Saat peluncuran album itu sebetulnya saya diundang oleh almarhum Innisisri drummer Kelompok Kampungan.Namun sayangnya,saat itu saya tak sempat untuk menghadirinya.        

Kelompok Kampungan di TVRI tahun 1981 (Foto Dahlan Rebo pahing)

Kelompok Kampungan di TVRI tahun 1981 (Foto Dahlan Rebo pahing)

                    

Saya yakin banyak yang tak mengenal atau pernah mendengar kelompok musik yang menamakan dirinya Kelompok Kampungan.Padahal sesungguhnya kelompok musik inilah yang menjadi cikal bakal Sirkus Barock,Kantata Takwa,Dalbo hingga Swami.Kelompok musik yang tampil dengan aura sangat Indonesia ini lahir dari komunitas Bengkel Teater WS Rendra di Yogyakarta.  Ketika Rendra dan Bengkel Teater melakukan pentas pertunjukan teater, selalu ada sekelompok barisan pemusik yang menjadi barikade scoring musiknya yang dinamai Nyai Pilis.dalam Nyai Pilis ini terdapat Sunarti Rendra,isteri Rendra yang terampil nyinden, juga ada beberapa nama lain seperti Sawung Djabo ,Edi Haryono serta Bram Makahekum. Pada paruh era 70an dari Nyai Pilis menyeruaklah kelompok musik lainnya yang kemudian diberi nama Kelompok Kampungan. Kenapa disebut Kelompok Kampungan ? Bram Makahekum (64 tahun) sang penggagas melontar jawab : “Di masyarakat kita hal-hal yang disharmonis,norak atau lugu disebut kampungan.Tapi menurut kami kampungan memiliki makna yang lain,kampungan adalah kejujuran,menerima apa adanya,tapi tetap memiliki semangat kreatif.”.

Secara panjang lebar Bram Makahekum yang berasal dari Flores ini menyebutkan bahwa apabila pemuda pemuda kampung berkumpul dan mencoba berkreasi dalam bidang kesenian bisa jadi keseniannya menjadi Kampungan.
Kampungan lahir dari orang orang kota yang mengartikan Kampungan sebagai ungkapan dari ketidaksiapan, naif, bodoh, atau  kurang ajar,
“ Kelompok ini bernama Kampungan karena bagaimanapun juga kami berasal dari kampung, kesenian kami bertolak dari spontanitas dalam menanggapi situasi yang mengelilingi dan melibatkan kami dalam permasalahan hidup sehari-hari
Permasalah hidup yang menantang adalah masalah kebudayaan, masalah pergaulan antar manusia, masalah ekonomi, masalah sosial politik, ilmu pengetahuan yang kami serap semampu kami. Musik sebagai letusan pengalaman, lahir begitu saja dan menjadi tanggung jawab kami.
Kami tidak berpretensi menggali musik tradisi ini dan itu, mencipta musik yang berkepribadian nasional, tapi yang jelas Kelompok Kampungan mencoba bikin musik berjiwa Kampungan, artinya kami siap dalam ketaksiapan, memanfaatkan peralatan yang bisa dijangkau, mempertanyakan keadaan sekarang dan masa depan. Lirik kami tidak manis manis, tinggi tinggi, seadanya saja.” Itu yang ditulis Bram Makahekum sebagai prakata  di sampul kaset “Mencari Tuhan” yang dirilis Akurama Record 33 tahun  yang lalu .

Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Kelompok Kampungan (Foto Dahlan Rebo Pahing)

Lalu saya menghubungi mas Otig Pakis,seniman yang berasal dari komunitas Bengkel Teater yang kerap nongkrong pula di kediaman Yockie Surjoprajogo dibilangan Bumi Serpong Damai .dari mas Otig Pakis inilah akhirnya saya mendapatkan nomor handphone Bram Makahekum. Beberapakali saya menelpon mas Bram Makahekum tapi tak pernah diangkat.Menurut Otig, Bram itu masih tetap berkelana ke berbagai daerah.Darah kesenimanannya masih menggelegak walaupun sebetulnya dia masih menetap di Yogyakarta.Hingga suatu hari Bram Makahekum lalu menghubungi saya melalui telepon genggamnya . Pencarian Sarong Man tampaknya segera berakhir  Selanjutnya saya utarakan pesan dari Jason Connoy yang ingin merilis ulang album Mencari Tuhan.Bram terperanjat.”Hah…..album kayak gitu kok ada yang mau rilis.Bule lagi ?” sergah Bram dengan logat Jawa yang medok,padahal Bram ini asli Flores.Mulailah saya menyampaikan tawaran nominal yang diajukan Jason ke Bram Makahekum.Setelah beberapa kali negosiasi  akhirnya muncul kesepakatan .Pucuk dicinta ulam tiba, Bram Makahekum dengan perantara saya menyetujui tawaran reissue album Kelompok Kampungan  dari Jason Connoy.

Ketika saya bersiap-siap berangkat ke Yogyakarta untuk melakukan pembayaran royalty yang dititipkan Connoy, tiba-tiba Bram Makahekum menelpon saya dan mengatakan bahwa besok dia tiba di Jakarta dengan menggunakan kereta api.Saya lalu mengajak Bram Makahekum untuk bertemu di sebuah mall di Jakarta Selatan tapi dia menolak.”Kita bertemu di Wapres (Warung Apresiasi) Bulungan aja Den” ujar Bram Makahekum.

Saya akhirnya bersua dengan Bram Makahekum si Sarong Man di Bulungan.Tubuhnya terlihat ringkih, dan kerap terbatuk-batuk.Rambutnya yang luruh pun tertutup topi.Sosoknya di era 70an yang gagah perkasa,bertelanjang dada,berambut gondrong dan mengenakan sarung tak terlihat lagi.Bram mengaku sering keluar masuk rumah sakit karena didera penyakit.Tapi semangatnya masih bersemayam dalam jiwanya yang berapi-api.

Setelah dua tahun berselang ,barulah di tahun 2013 ini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan dirilis oleh Strawberry Rain dalam bentuk cakram padat dan piringan hitam.Ternyata cukup lama bagi Jason Connoy untuk mencari sound yang paling bagus dari sekian banyak materi piringan hitam yang dibelinya di Jakarta sebagai materi album reissue itu. ”Saya tidak berhasil mendapatkan reel masternya yang asli” ungkap Jason Connoy.Menurut Bram Makahekum,materi asli rekaman Kelompok Kampungan ikut terbakar pada saat terjadi kerusuhan besar pada tahun 1998 silam.Kini album Mencari Tuhan dari Kelompok Kampungan itu dirilis Strawberry Rain Record sebanyak 1000 copy CD dan 700 copy  vinyl.Sepenggal sejarah musik Indonesia yang nyaris pudar ditelan zaman masih bisa kita simak, walaupun gagasan merestorasi dokumentasi rekaman musik Indonesia apa boleh buat masih datang dari orang asing yang terpesona dengan karya-karya kita. 

 

 

Bersilaturahmi Dengan Munif Bahasuan

Posted: September 29, 2013 in Sosok

Sebetulnya sudah cukup lama saya ingin menemui Munif Bahasuan,salah satu tokoh penggagas Irama Melayu atau yang kemudian lebih dikenal sebagai musik dangdut.Namun baru pertengahan September 2013 lalu saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke rumah Munif yang berada di bilangan Petojo Barat itu.Keinginan saya bertemu Munif memang menggebu-gebu,mengingat beliau adalah salah satu tokoh penggagas dangdut yang menurut saya memiliki wawasan dan pergaulan yang luas sejak akhir era 50an hingga sekarang ini.Munif Bahasuan (78 tahun) adalah salah satu peletak dasar musik dangdut .Namun wawasan musiknya tak hanya dangdut .Di era akhir 50an hingga paruh 60an Munif adalah salah satu crooner yang disegani.Bersama iringan Nick Mamahit,Munif menyanyikan lagu-lagu Johnny Mathis di Hotel Des Indes (sekarang Pusat Pertokoan Duta Merlin).Saat itu Munif disebut sebagai Johnny Mathis Indonesia.Disis lain Munif juga terampil menyanykikan lagu lagu Gambus dengan bahasa Arab yang fasih.Menurut Munif,sang ayah mengirim Munif ke Irak untuk memperlancar bahasa Arab saat duduk di bangku SD.

Munif Bahasuan dan album solonya Nada dan Doa (Foto Denny Sakrie)

Munif Bahasuan dan album solonya Nada dan Doa (Foto Denny Sakrie)

Munif juga ikut rombongan The Lensoist yang dibentuk Presiden Soekarno bersama nama-nama tenar seperti Bing Slamet,Idris Sardi,Titiek Puspa,Nien Lesmana,Jack Lesmana,Bubi Chen,Benny Benny Mustafa serta Loddy Item.The Lensoist sempat melakukan tur ke Eropah dan Amerika Serikat bersama Presiden Soekarno.Salah satu lagu karya Munif yang terkenal adalah Bunga Nirwana .Di era 2000,Munif masih menghasilkan sebuah hit bertajuk Rekayasa Cinta yang dinyanyikan Camellia Malik.

Saya bersama Munif Bahasuan serta dua album Munif pada label Irama milik Soejoso Karsono (foto Samson Pho)

Saya bersama Munif Bahasuan serta dua album Munif pada label Irama milik Soejoso Karsono (foto Samson Pho)

Menurut Munif, ayahnya yang memiliki pabrik ubin teraso itu tak menyetujui anaknya menggeluti dunia musik.Namun sekujur tubuh Munif telah bersatu dengan musik.Munif terpaksa mengabaikan keinginan orang tuanya yang melarangnya bermain musik.Lalu berbagai upaya dilakukan Munif antara lain pergi bermain musik diam-diam dan setiap pulang malam sehabis menyanyi di Hotel Des Indes,setelan jas yang dipakainya dititipkan ke sahabatnya agar tak ketahuan sang ayah.

86 Tahun Bing Slamet

Posted: September 27, 2013 in Ulang Tahun Pemusik

Jika Bing Slamet masih hidup, hari ini 27 September 2013 dia akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke 86.Beda satu tahun dengan usia Tony Bennet crooner legendaris yang beberapa pekan silam menggelar konser di sebuah tempat mewah di Jakarta.Saat menyaksikan Tony Bennet yang berpendar dalam benak saya justru sosok Bing Slamet, seniman besar negeri ini yang salah satu kemampuannya adalah bernyanyi.Bing Slamet memiliki suara emas.Tak syak lagi Bing adalah crooner terbaik Indonesia yang hingga saat sekarang ini belum ada yang menandingi.Ketika Tony Bennet melantunkan I Left My Heart In San Fransisco dengan aksentuasi suara yang elegan, yang ada dalam benak saya adalah sosok Bing Slamet.Ah senadainya Bing Slamet masih hidup,mungkin dia akan berduet dipanggung dengan Tony Bennet yang berusia 87 tahun.Bing dan Tony jelas sepantaran.Mereka dibesarkan dalam aura musik yang sama dalam bingkai orkestra maupun big band  .Zaman mereka berdua adalah era golden voice, dimana seorang penyanyi harus memiliki teknik vokal yang mumpuni, sesuatu yang saat sekarang ini bias diselesaikan dengan kecanggihan teknologi.

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Bing Slamet dan Idris Sardi di acara Festival Film Asean Tahun 1973

Anak muda sekarang mungkin akan bergidik jika menelaah lika liku perjalanan seorang Bing Slamet dalam menapak dunia seni tanpa memanfaatkan aji mumpung tapi kerja keras dalam arti harafiah.Bisa jadi bakat hanya 10 persen, sisanya adalah kerja keras.Bing Slamet dibesarkan dalam suasana negara yang tengah bergejolak.Asap mesiu masih mengepul dimana-mana.Negeri ini masih mencari jatidiri.Dan disaat yang krusial seperti itu Bing Slamet tetap kokoh dalam dunia hiburan.Bing bernyanyi,bermusik,berakting bahkan melawak.Suatu pencapaian yang rada muskil,bahkan Bing Crosby yang diidolakan Bing Slamet mungkin tak memiliki kemampuan seni yang beragam seperti Bing Slamet.Semua ditekuninya dengan sungguh-sungguh.Sekali lagi,bukan aji mumpung.

Karya karya Bing Slamet terukir dalam kelebat adegan film layar lebar,piringan hitam,kaset serta layar kaca.Sejak wafatnya Bing Slamet pada 17 Desember 1974, jejak karya-karya Bing Slamet sempat pupus dikarenakan kita semua adalah bangsa yang kurang telaten,kurang menghargai sosok seniman yang sebetulnya begitu berjasa menghibur kita disaat mereka masih hidup.Era putus generasi memang selalu menjadi bagian dalam apresiasi seni di negeri ini, salah satu contoh konkretnya adalah karya karya Bing Slamet yang nyaris hilang ditelan zaman begitu saja. Namun untunglah masih ada segelintir orang yang masih berupaya untuk menghadirkan Bing Slamet sebagai salah satu saksi sejarah budaya pop Indonesia.Beberapa karya karya Bing Slamet dalam dunia musik,film dan komedi mulai terlihat bertebaran di kanal Youtube.Ini tentu sebuah fenomena menarik,pusaka budaya pop masalalu Indonesia sedikit demi sedikit mulai mengemuka.

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Bing Slamet dalam film Koboi Cengeng (1974) bersama Vivi Sumanti,Iskak dan Mieke Wijaya

Beberapa anak muda,meski tak terlalu banyak, mulai menafsir ulang karya-karya musik Bing Slamet.Jika menuliskan keyword Bing Slamet pada kolom Google kita mulai banyak menemukan arsip arsip perihal Bing Slamet meski tak terlalu banyak.Sekitar 5 tahun sebelumnya banyak yang kecewa tak menemukan data siapa itu Bing Slamet saat melakukan googling pada mesin pencari yang canggih itu.

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Bing Slamet (Foto Dokumentasi Irama )

Kini orang mulai mengetahui bahwa nama lengkap Bing Slamet adalah Raden Slamet dilahirkan di Cilegon Jawa Barat 27 September 1927.Dan Bing adalah nama depan yang dipasangnya sebagai jatidiri dalam dunia hiburan yang diambil dari nama Bing Crosby seniman serba bisa Amerika yang digandrunginya.

Kita pun mulai mengetahui bahwa Bing Slamet telah bermain film layar lebar sejak tahun 1950 lewat film bertajuk Irawati dan ditahun yang sama Bing untuk pertamakali masuk studio rekaman di Singapore menyanyikan lagu bertajuk Cemas.Bahkan sebetulnya sejak tahun 1939 saat masih berusia 12 tahun Bing Slamet telah bergabung dalam kelompok musik Terang Boelan pimpinan Husin Kasimun atau yang lebih dikenal dengan nama Husin Bangka dan ditahun 1944 bergabung dalam kelompok sandiwara Pantja Warna.

Seni adalah kehidupan Bing Slamet. Bing menampik keinginan orang tuanya agar dia menjadi dokter maupun insinyur. Meski sempat bersekolah di  HIS Pasundan, HIS Tirtayasa, Sjugakko, dan STM Pertambangan. Tekad Bing bulat: mengabdi untuk seni. Bing Slamet lalu bergabung pula pada Divisi VI Brawidjaja sebagai Barisan Penghibur. Di sini, kemampuannya bermusik dan melawak mulai terasah. Seolah tanpa pamrih, Bing lalu bersedia ditempatkan di kota mana saja. Bing yang mulai masuk Radio Republik Indonesia (RRI) kemudian ditempatkan di Yogyakarta dan Malang. Ia pun sempat bergabung di Radio Perjuangan Jawa Barat. Di tahun 1949, untuk pertamakali suara baritone Bing Slamet menghiasi soundtrack film Menanti Kasih yang dibesut Mohammad Said dengan bintang A Hamid Arief dan Nila Djuwita .

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Karya karya musik Bing Slamet (Foto Denny Sakrie)

Kariernya di bidang tarik suara sebetulnya terlecut ketika memasuki dunia radio. Di RRI, Bing Slamet banyak menyerap ilmu dan pengalaman dari pemusik Iskandar dan pemusik keroncong tenar, M Sagi, serta sahabat-sahabat musikal lainnya seperti Sjaifoel Bachrie, Soetedjo, dan Ismail Marzuki. Dan, yang banyak memengaruhinya adalah penyanyi Sam Saimun yang dikenalnya sejak bertugas di Yogyakarta pada tahun 1944. Bagi Bing, Sam Saimun adalah tokoh penyanyi panutannya.

Antara tahun 1950 sampai 1952, Bing Slamet aktif pada Dinas Angkatan Laut Surabaya dan Jakarta. Di tahun 1952 saat Bing ditempatkan lagi di Jakarta, dia bergabung di RRI Jakarta dan mulai aktif mengisi acara bersama Adi Karso. Bakat dan kemapuan musiknya mulai memuncak saat bergabung di RRI hingga tahun 1962.

Rekaman rekaman single Bing Slamet di era 50-an diiringi oleh Orkes Keroncong M Sagi dan Irama Quartet yang didukung Nick Mamahit (piano), Dick Abell (gitar), Max Van Dalm (drum), dan Van Der Capellen (bas). Bing Slamet pun membangun sebuah kelompok musik yang diberi nama Mambetarumpajo, merupakan akronim dari Mambo, Beguine, Tango, Rhumba, Passo Double, dan Joged, yang saat itu adalah jenis musik untuk mengiringi dansa.

Tahun 1962, Bing bersama sahabatnya sejak kecil Amin Widjaja sang pemilik label Bali Record  membentuk sebuah grup musik yang diberi nama Eka Sapta dengan pendukungnya, antara lain Bing Slamet (gitar, perkusi, vokal), Idris Sardi (bass,biola), Lodewijk ‘Ireng’ Maulana (gitar, vokal), Benny Mustapha van Diest (drum), Itje Kumaunang (gitar), Darmono (vibraphone), dan Muljono (piano). Eka Sapta menjadi fokus perhatian, karena keterampilannya memainkan musik yang tengah tren pada zamannya. Eka Sapta lalu merilis sejumlah album pada label Bali Record, Canary Record, dan Metropolitan Records, yang kelak berubah menjadi Musica Studio’s. Eka Sapta adalah kelompok musik pop yang terdepan di negeri ini pada era 60-an hingga awal 70-an.Bing Slamet hebatnya mampu membagi konsentrasi antara bermain musik, menyanyi, bikin lagu, melawak, dan main film layar lebar. Setidaknya ada 20 film layar lebar yang dibintanginya, mulai dari era film hitam putih hingga berwarna. Bing pun tercatat beberapa kali membentuk grup lawak antara era 50-an hingga 70-an di antaranya Trio Los Gilos, Trio SAE, EBI, dan yang paling lama bertahan adalah Kwartet Jaya bersama Ateng, Iskak, dan Eddy Soed.

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Bing Slamet dan Adi Karso bermain musik di pesta yang diadakan Soejoso Karsono pemilik label Irama (Foto Dokumentasi Keluarga Soejoso Karsono)

Untuk pengabdian dalam seni budaya , Bing, pada 10 Juni 1972 menerima Piagam Penghargaan dari Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Dan baru pada  pemerintahan Presiden Megawati Soekarno Puteri, Bing Slamet memperoleh Anugerah Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma di Istana Negara tanggal 7 November 2003.

Dan hari ini,27 September 2013, kita kembali merayakan hari lahir Bing Slamet yang ke 86

Sejak kapankah mulai berlangsung industri musik di Indonesia ? Lalu siapakah yang mempeloporinya.

Piringan Hitam produksi Tio Tek Hong Record di awal abad ke 20.

Piringan Hitam produksi Tio Tek Hong Record di awal abad ke 20.

Namun sebetulnya jika menilik lebih jauh,sebelum menginjak ke era 50an yang secara politis kerap disebut era Orde Lama, di zaman kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda cikal bakal industri hiburan musik telah memperlihatkan keberadaannya. Saat itu phonograph Colombia buatan Amerika Serikat telah diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad 20 tepatnya di tahun awal 1900an .Di tahun 1903 beberapa album rekaman phonograph mulai masuk ke Indonesia dengan berbagai label rekaman seperti  BeKa Record,HomoKord Record dan Parlophone Record  . Dimasa itu setidaknya ada 3 saudagar Tionghoa yang menggeluti dunia musik dengan mendirikan perusahaan rekaman.Dua pengusaha rekaman itu berada di Batavia yaitu Tio Tek Hong di Pasar baru dan Lie A Kon di Pasar Senen dan satu lagi di Surabaya , meskipun sebetulnya ruang lingkup pasarnya sangatlah  terbatas yaitu pada kaum urban elit saja . Phonograph dan Grammophone adalah perangkat pemutar rekaman yang mewah dengan harga yang relatif sangat mahal tentunya.Salah satu dari pedagang Tionghoa yang tersohor saat itu adalah Tio Tek Hong yang berdagang aneka ragam barang kelontong .

Gedung Tio Tek Hong di zaman Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1905 di daerah Passer Baroe

Gedung Tio Tek Hong di zaman Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1905 di daerah Passer Baroe

Musik-musik yang berasal dari rekaman phonograph itu lalu dimainkan oleh  para pemusik Belanda ,Tionghoa,Ambon dan Manado  melalui berbagai pertunjukan panggung.Lagu-lagu Amerika yang populer dimainkan saat itu antara lain adalah Lazy Moon  yang dinyanyikan Oliver Hardy dalam film Pardon Us (1901), atau  Mother O’Mine lagu yang diangkat dari puisi karya Rudyard Kipling . Saat itu patut diakui kiblat bermusik adalah ke Amerika Serikat.Para penyanyi wanita yang ada di zaman Hindia Belanda disebut crooner bukan singer bahkan di depan nama para penyanyi wanita di beri embel-embel seperti Miss Tjitjih,Miss Riboet,Miss Roekiah,Miss Dja dan seterusnya. Dan ini berlangsung hingga akhir era 1940an.Mungkin hampir sama dengan keadaan sekarang ini dimana hampir semua penyanyi wanita bersematkan predikat diva.

Suara mendayu para miss ini lalu direkam oleh perusahaan rekaman seperti Tio Tek Hong yang berlokasi di Passer Baroe. Tio Tek Hong memulai bisnis rekaman di sekitar tahun 1904, dimana saat itu saudagar kaya ini mulai mengimpor phonograph  dengan memakai roll lilin.Setahun kemudian,tahun 1905, perusahaan rekaman Tio Tek Hong mulai merilis plaatgramofoon  atau piringan hitam ke seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke.Adapun lagu-lagu yang direkam Tio Tek Hong mencakupi jenis Stambul,Keroncong,Gambus,Kasidah,Musik India,Swing hingga Irama Melayu.

Gedung Tio Tek Hong di Passer Baroe September 2013 (Foto Denny Sakrie)

Gedung Tio Tek Hong di Passer Baroe September 2013 (Foto Denny Sakrie)

Penyanyi dan kelompok musik yang direkam Tio Tek Hong Record cukup beragam.Untuk musik keroncong ada Orkest Krontjong Park,Orkest Moeridskoe ,Krontjong Sanggoeriang,Kerontjong Aer Laoet,Krontjong Deca Park .Untuk musik Kasidah ada Kasida  Sika Mas,Orkese Gamboes Metsir,Kasida Rakbie Mas,Gamboes Boea Kana  serta Gamboes Turkey. Lagu-lagu yang populer saat itu antara lain  Tjente Manis,Boeroeng Nori,Djali Djali, Tjerai  Kasih,Paioeng Patah,Dajoeng Sampan,Kopi Soesoe,Sang Bango,Inang Sargie,Gelang Pakoe Gelang dan masih banyak lagi.Lagu-lagu ini direkam dalam bentuk vinyl berukuran 10 inci.Disamping itu Tio Tek Hong Record juga merekam sandiwara Njai Dasima yang dikemas dalam boxset berisikan sebanyak  5 keping  piringan hitam.

Tio Tek Hong ini memiliki trademark tersendiri pada album-album rekaman yang diproduksinya. Pada setiap vinyl produksi Tio Tek Hong di setiap sebelum lagu pada track pertama berkumandang, terdengar suara rekaman Tio Tek Hong : Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”. Pembeli piringan hitam saat itu memang sangat terbatas,karena harganya relatif mahal. Belum lagi harga gramophone yang hanya terjangkau oleh kalangan menengah keatas.Karenanya masyarakat sebagian besar bisa  menikmati rangkaian lagu-lagu populer Inonesia saat itu justeru  dengan menonton pertunjukan yang digelar dan berlangsung di panggung-panggung hiburan yang berada  di Pasar Gambir,Globe Garden,Stem En Wyns,Maison Versteegh dan Prinsen Park,

Hari Ini, 62 Tahun Harry Roesli

Posted: September 10, 2013 in Uncategorized

Bersama almarhum Harry Roesli Agustus 1997 di Radio M9&FM (Foto Denny Sakrie)

Bersama almarhum Harry Roesli Agustus 1997 di Radio M9&FM (Foto Denny Sakrie)

Hari ini pemusik serba bisa Harry Roesli berulang tahun yang ke 62.Dilahirkan dengan nama  Djauhar Zaharsjah Fachruddin Roesli.Dia adalah cucu dari pujangga Marah Roesli yang menghasilkan karya sastra Siti Nurbaja dan Kasih Tak Sampai. Bagi saya Harry Roesli bukan hanya sekedar pemusik jenius tayang yang paham lekak lekuk music dalam berbagai ragam angle tapi Harry Roesli adalah pemikir yang banyak menjejalkan karya karya seni mulai dari seni musik,teater hingga hasil pembenturan-pembenturan dari berbagai cabang seni lainnya.Harry Roesli yang sejak era 70an kerap disebut Biang Bengal Bandung memang laksana petualang seni yang kerap gelisah dan selalu melakukan pencarian-pencarian dalam berbagai kemungkinan-kemungkinan yang terkadang mendahului zamannnya.  Garis turunan keluarganya memperlihatkan bahwa keluarga Roesli adalah turunan cerdik cendekia.Saudara saudara kandungnya adalah sarjana dari berbagai disiplin ilmu termasuk Harry Roesli yang pernah mengenyam pendidikan Teknik Mesin Penerbangan di Institut Teknologi Bandung.Namun karena keghelisahan akan eksplorasi seni yang kian berbuncah-buncah menyebabkan dia nekad meningglkan kampus ITB yang menjadi impian orang banyak ditahun 1975.Antara tahun 1975 – 1977 Harry Roesli malah pindah ke Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini dikenal sebagai Institut Kesenian Jakarta (IKJ) mengambil jurusan Komposisi Musik.Setahun berselang Harry malah memilih mengambil beasiswa musik yang ditawarkan  Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk  di Rotterdam Conservatorium Belanda pada tahun 1978.

Sejak itulah Harry Roesli menghambakan dirinya pada seni.Kesenimanannya pun mebnjadi totalitras yang tak terbantahkan lagi.Harry Roesli selalu berada dalam peristiwa seni apa pun di negerin ini .Sebuah kelenturan dalam berkesenian yang rasanya jarang ditemukan dalam sosok seorang seniman di negeri ini.Harry Roesli kadang menjembatani antara seni arus besar dan oposisinya tanpa rikuh sedikit pun.Tak ada yang mencerca Harry Roesli ketika dia tampil sebagai juri dalam kompetisi vokal berbasis sms di layar kaca AFI Indosiar pada awal era 2000an.Tak sedikit penonton yang terpingkal-pingkal menyimak komentar Harry Roesli yang nyeleneh dan kerap diluar pakem atau kaedah-kaedah yang mainstream.Belum lagi ketika Harry Roesli selalu menampilkan alter ego bernama Drs.Arief.Sebetulnya tanpa kita sadari Harry Roiesli telah melakukan permainan ganda dalam tugasnya sebagai juri kompetisi vokal,yaitu kritik sosial. Kritik sosial berbalut humor adalah hal yang telah dilakukannya sejak era 70an

 

  Dimata saya sosok   Harry Roesli adalah seniman yang mengaduk aduk banyak dimensi seni,entah itu musik,teater hingga film menjadi medium untuk bercermin,medium untuk menera perilaku kita termasuk medium untuk kritisi.Walaupun banyak yang kerap tidak nyaman dengan idiom idiom Harry Roesli dalam mengkritik tapi dia tak pernah lelah melakoni sosok kesenimanannya untuk mengabarkan ketimpangan-ketimpangan serta berbagai telikung telikung yang berpendar diman-mana. , karya-karyanya masih tertoreh kuat dalam ingatan kita. Harry Roesli adalah sosok jenius yang banyak berkutat dalam pelbagai peristiwa budaya maupun sosial. Ketajaman intuisinya banyak melahirkan karya-karya fenomenal yang tak jarang cenderung ke pola kritik sosial. Ia acapkali melakukan gugat. Gugat terhadap ketimpangan sosial. Gugat terhadap kesewenangan. Gugat terhadap keculasan, dan seterusnya.
Lagu Jangan Menangis Indonesia itu sendiri tercetus setelah mencuatnya Peristiwa Malari pada 1974 yang banyak melibatkan protes dari para mahasiswa, termasuk Harry Roesli yang tengah mengenyam kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Harry Roesli yang kerap dijuluki biang Bengal Bandung ini juga sempat merasakan penjara yang pengap.
Jika menilik karya-karyanya yang terangkum pada sekitar 20-an lebih album, sederet karya musik panggung hingga teater, maka kita bisa menangkap benang merah kerangka berpikir Harry Roesli yang lugas, tegas, tanpa tedeng aling-aling, terhadap hipokritas, tapi disajikan dalam semangat bercanda. Harry Roesli memang akrab dengan bingkai yang satirikal. Kadang, ia mengungkap tematik dengan menjungkirbalikkan logika.
Rasanya tak jauh berbeda dengan tokoh musik Amerika Serikat yang dikaguminya, Frank Zappa. Semangat humor terus terpompa dalam karya karyanya yang sarat simbol-simbol beratmosfer parodi. Lihat bagaimana Harry Roesli memotret jalan kehidupan Ken Arok, tokoh dari Singosari yang dikenal dengan kredo menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan dalam rock opera bertajuk Ken Arok.
Ken Arok berselingkuh dengan Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung. Ken Arok bahkan menghabisi nyawa Tunggul Ametung dengan menggunakan keris bikinan Empu Gandring. Simak penggalan liriknya ini :
Kubunuh suamimu
kurebut tahtanya
dan engkau kujadikan isteriku!
Kritik demi kritik menyemburat dalam sejumlah album-albumnya, seperti Phylosophy Gang (1973), Titik Api (1975), Ken Arok (1977), Gadis Plastik (1977), Tiga Bendera (1977), LTO (1978), Daun (1978), Jika Hari tak Berangin, (1978) dan masih banyak lagi.
Tahun 1978, Harry Roesli bertolak ke Belanda untuk menjalani studi musik di Rotterdam Conservaorium Den Haag, Belanda. .Setelah meraih gelar doktor  dalam bidang musik 1981 , semangat berkarya Harry Roesli seolah tak terbendung lagi.

Semangat berkarya Harry Roesli  menyemburat bagai keran yang telah dibuka katupnya. Beberapa karyanya memang mulai banyak memihak pada ragam kontemporer seperti Musik Rumah Sakit hingga Musik Sikat Gigi. Harry bahkan mulai berkolaborasi dengan beberapa kelompok teater, seperti Teater Koma milik N Riantiarno maupun Teater Mandiri yang dikelola Putu Wijaya. Harry secara serius terlibat dalam pementasan teater Opera Kecoa maupun Opera Ikan Asin yang menyedot banyak penonton.
Di samping itu, ekspresi musik dan teaternya diwujudkan dalam Depot Kreasi Seni Bandung yang bermarkas di rumahnya, di Jalan WR Supratman Bandung. Rumah besar milik keluarga Ruslan Roesli ini seolah menjadi mata air kegiatan seni di wilayah Bandung.
Di saat-saat terakhir, Harry Roesli yang pergi meninggalkan seorang isteri dan dua putra kembar sempat menitipkan pesan yang bisa bermakna luas: ‘Jangan matikan lampu di kamar kerja saya’. Dan, karya-karya Harry Roesli sesungguhnya memang tak pernah mati.Tetap hidup hingga akhir zaman.

Saya yakin Harry Roesli adalah seniman yang cinta negerinya.Harry Roesli,tak berlebihan jika saya sebut sebagai seorang nasionalis sejati.
Jangan menangis Indonesia kami berdiri membelamu Pertiwi.
Itulah penggalan lirik Jangan Menangis Indonesia, karya Harry Roesli yang berkumandang membelah langit nan mendung saat pemakaman tokoh musik Indonesia, Ahad 12 Desember 2004 di Ciomas, Bogor, Jawa Barat. Pemusik yang doyan bercanda,jahil dan jagoan makan  ini menghembuskan napas terakhirnya pada hari sabtu 11 Desember 2004 di Rumah Sakit Jantung Yayasan Harapan Kita Jakarta.
Seperti halnya banyak sosok sosok jenius dan berbakat lainnya,Harry Roesli telah cepat pergi meninggalkan kita semua.

 

Denny Sakrie