Didadaku Ada Dodo

Posted: Desember 7, 2013 in Obituari, Sosok
Kawan seandainya dunia ini tak lagi berputar 
yah, habislah kita  terkubur'
semua kembali menghadap yang Esa
lalu kemana kita akan  ditempatkan sebagai imbalan?
surga atau neraka?
coba tanyakan pada hati  yang paling dalam
sudah cukupkah bekal untuk kesana nanti?
 Penggalan lirik lagu Lalu Kemana yang ditulis dan dinyanyikan Dodo  Zakaria berduet dengan Vina
Panduwinta kembali terngiang-ngiang di kepala saya  manakala mendengar berita berpulangnya Dodo
Zakaria pada Senin 22 Oktober 2007,  jam 15.40 WIB di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Lagu yang terdapat
pada album  solo perdana Dodo Zakaria bertajuk Malissa itu, tanpa terasa telah genap  21 tahun. 
 Almarhum Dodo Zakaria Sujadi yang dilahirkan 7 Juli 1960 itu patut diakui  acapkali menorehkan sejumput
lirik yang memiliki kedalaman makna, walau pun ia  terkadang menjejalkan lirik yang cenderung
berkonotasi jenaka. Contoh yang  paling tepat adalah tembang Lalu Kemana, yang seolah diciptakannya
untuk  mengiringi kepergiannya menghadap Sang Khalik.
 Tak syak lagi, Dodo Zakaria merupakan seniman musik yang terampil dan piawai.  Dia adalah pianis yang
mumpuni. Dia juga komposer yang andal. Lihatlah, nyaris  sebahagian besar penyanyi sohor negeri ini
telah menyanyikan karya-karya Dodo  mulai dari genre pop hingga rock sekalipun, seperti Vina
Panduwinta, Utha  Likumahuwa, Kiki Maria, Dian Pramana Poetra, Deddy Dhukun, Achmad Albar, Nicky 
Astria, Neno Warisman, Fariz RM, Malyda, Euis Darliah, dan Gito Rollies. Artis  lainnya yang juga
menyayikan karya almarhum, adalah Deddy Stanzah, Tika Bisono,  Lydia & Imaniar, Peter F Gontha,
Syaharani, Iis Dahlia, January Christy,  Andi Meriem Mattalatta, Chrisye, Grace Simon, Emiliia
Contessa, Irianti  Erningpraja, Ismi Aziz, Henry Manuputty, Molluccas, Glen Fredly, dan Ratu.  Sebagian
di antaranya 
 menjadi hit besar, seperti Di Dadaku Ada  Kamu dan Kumpul Bocah melalui Vina Panduwinata maupun Esokkan 
Masih Ada dan Mereka Bukan Kita dari Utha Likumahuwa.
 Bina Musika
Denting dan alunan musik telah menyita perhatian Dodo  Zakaria sejak kecil. Instrumen piano yang elegan
merupakan tambatan hati Dodo  dalam bermusik. Dodo tak hanya menyukai musik klasik, tapi juga menyimak
pop,  rock, bahkan yang beraroma tradisional. Kesenangannya terhadap musik kian  berbuncah, ketika Dodo
ikut bergabung dalam Bina Musika yang diasuh oleh Agus  Rusli dan Obby. Dalam Bina Musika, Dodo lalu
tergabung dalam sebuah Combo Band  yang sempat tampil secara berkala di TVRI. Formasi Combo Band ini
adalah  Dodo Zakaria (keyboard), Erwin Gutawa (bass,piano), Yoyok (saxophone), dan Cendy  Luntungan
(drum). Kelak, keempat pemusik belia ini menjadi bagian dalam kancah  musik tanah air.
 Beruntung, Dodo Zakaria memiliki orang tua yang memberikan restu bermain  musik pada anaknya. Ketika
masih duduk di bangku SMP, dia telah diajak bergabung  dalam grup rock asal Malang, Ogle Eyes, yang
didukung almarhum Mickey Michael  Merkelbach dan Lexy Rumagit. Dodo memang juga sangat menyukai musik
rock. Ia pun  sangat mengagumi jago keyboard, seperti Jon Lord dari Deep Purple, hingga Keith  Emerson dari
Emerson Lake & Palmer.
Di tahun 1977 Dodo Zakaria bergabung dalam Kaloka Band bersama  Opop (drums),Emmand Saleh (gitar),Jack Kasbi (bass)daYusuf Alwi (vokal).
 Tak hanya rock, Dodo pun mulai mencicipi musik jazz dengan bergaul dalam  komunitas Jopie Item, Abadi
Soesman, Wempy Tanasale, Alex Faraknimela, dan Karim  Suweilleh. ''Saya kagum dengan mereka. Mungkin,
karena mereka mampu memadukan  jazz dan rock dengan bagus,'' tutur Dodo Zakaria. Ketika duduk di bangku
SMA,  Dodo mulai bermain di klab-klab malam yang tumbuh bak jamur di Jakarta, seperti  Latin Quarter, LCC,
hingga Tropicana. Saat itu ia bergabung bersama Emmand Saleh  (gitar), Opop (drum), serta Roedy Damhudi (vokal).
 Suatu ketika, di saat manggung di klab LCC, tiba-tiba Dodo dikunjungi  pemusik Billy J Budiardjo yang saat
itu tengah mencari seorang pianis untuk  mendukung album perdana Ebiet G.Ade di tahun 1978. ''Saya
meminta pada Billy  agar dicarikan pemain piano yang memiliki nuansa klasik,'' tutur Ebiet G Ade.  Dan,
setelah melihat permaianan pianonya, Ebiet langsung merasa cocok. Jika Anda  menyimak permainan
akustik piano yang bening pada lagu Berita Kepada  Kawan, Camellia 1, dan Lagu untuk Sebuah Nama milik
Ebiet G  Ade, maka itulah permainan piano Dodo Zakaria.
 Sejak saat itulah, Dodo mulai banyak tampil sebagai pianis, arranger,  bahkan komposer pada sederet artis
yang bernaung di bawah bendera Jackson  Records & Tapes, seperti Kiki Maria, Vina Panduwinata, Utha
Likumahuwa,  Franky & Jane, Henry Manuputty, Dian Pramana Poetra, dan banyak lagi.
 Masuk jazz rock
Menguak dasawarsa 80-an, Dodo kembali terkait dalam  sebuah grup band. Kali ini sebuah band bernuansa jazz
rock dengan dominasi alat  tiup yang kemudian diberi nama Drakhma. Drakhma yang diambil dari nama mata
uang  Yunani ini terdiri dari Dodo Zakaria (keyboard), Dani Mamesah (drum), Ricky  Basuki (vokal), Rudy
Gagola (bass), Giedon Tengker (gitar), Wawan Tagalos  (trombone,flute), Chalik (saxophone) dan Eddy
(trumpet), serta sederet penyanyi  latar wanita: Rieta Amelia, Uce Anwar, Christine Budiardjo, Daisy
Maengkom, dan  Eva Diana Sari. Kelompok ini sempat merilis tiga album masing-masing bertajuk  Hari Esok,
Citra Bahagia, dan Tiada Kusadari.
 Sayangnya, memasuki 1985 formasi Drakhma yang juga sempat didukung Jelly  Tobing dan Ekki Soekarno, ini,
mengalami keretakan. Dani Mamesah dan Ricky  Basuki membentuk kelompok Niagara. Rudy Gagola dan Rieta
Amelia bersolo karier,  dan Dodo Zakaria diajak bergabung dalam grup rock God Bless. Sayangnya, ketika 
bergabung bersama Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, dan Teddy Sujaya, God  Bless lebih sering
menyanyikan lagu-lagu mancanegara milik Def Leppard, Kiss,  Bon Jovi, Van Halen, Autograph, Opus, dan
lain sebagainya. Karena tak memiliki  aura kreatif dalam berkarya, Dodo akhirnya mengundurkan diri dari
God Bless.
 Dodo akhirnya memang lebih intens dalam berkarya. Lagu-lagunya kian banyak  dinyanyikan penyanyi era
80-an hingga 90-an. Ia pun ikut aktif tergabung dalam  wadah Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan
Penata Musik Indonesia  (PAPPPRI). Kepeduliannya terhadap perkembangan musik pop Indonesia telah pula 
diwujudkannya dalam kompetisi bertajuk Indonesia Song Festival 2006  (Insof) yang digagasnya untuk
menjaring bakat-bakat baru dalam dunia karya cipta  lagu Indonesia.
 Dodo Zakaria memang telah pergi untuk selamanya. Namun, karya-karyanya tetap  menggema. Di dada kita ada
Dodo Zakaria. Di kejauhan terdengar harmoni vokal  Lydia dan Imaniar menyanyikan Ironi, lagu yang
ditulis Dodo Zakaria dan  sahabatnya James F Sundah :
Kucoba untuk dapat menerima semua kodrat  ini
sampai di batas waktu yang ku sendiri pun
tak pernah tahu.

 Diskografi
 Album Solo
1.Malissa (Aquarius Musikindo 1986)
2.D.D.O (Atlantic  Records 1990)
3.20 Karya Sukses Dodo Zakaria (Union Artist 1990)
4.A Touch  Of Dodo Zakaria (Target Pop - Unreleased)
 Bersama Drakhma
1.Hari Esok (Sky Record 1980)
2.Citra Bahagia  (Sky Records 1982)
3.Tiada Kusadari (RCA Records 1984)
 Penata Musik
1.Pelangi - Deddy Stanzah (Sky Record 1979)
2.Citra  Pesona - Vina Panduwinata (Jackson Records 1983)
3.Aku - Rieta Amelia (Union  Artist 1984)
3.Lorong-lorong Hitam - Jayanthi Mandasar (Bens & Olympindo  1985)
4.Imajinasi Titi Dwijayati (Jackson Records 1985)
5.Esok Milik Kita  - Kiki Maria (Jackson Records 1985)
6.Catatan Si Boy (Team Records  1987)
7.Goyah - Gito Rollies (Sokha 1988)
8. Duet Plus (Eka Records  1988)
9. Dengar-dengarlah, Jawab-jawablah (Atlantic Record 1989)
10  Kolaborasi- Peter F Gontha (HP Records/Musica Studio 2000)
 Album Kompilasi 
1.Festival Lagu Populer Indonesia 1982 (DD  Records)
2.Festival Lagu Populer Indonesia 1985 (Irama Asia  Records)
3.Kharisma Indonesia (Atlantic Records 1989)

Music Score
1. Idola Remaja, PT Rapi Film (1985)
2. Catatan Si  Boy, PT Bola Dunia Film (1987)
3. Tatkala Mimpi Berakhir, PT Virgo Putra Film  (1987)
4. Cinta Anak Zaman, PT Virgo Putra Film (1988)
5. Terang Bulan di  Tengah Hari, PT Rembulan Semesta (1988 )
(Denny Sakrie

Kaset-Kaset Jazz Legal Tapi Ilegal

Posted: Desember 7, 2013 in Kisah

Di era 80an para penggemar album2 jazz mancanegara dimanjakan dengan album album jazz dari label Connosseure Bandung.Label khusus jazz manca

Kaset kaset jazz yang direkam secara ilegal karena tidak mennggunakan lisensi dari labelnya tapi legal karena pemerintah menguitip pajak dari usaha perekam kaset ini (Foto Denny Sakrie)

Kaset kaset jazz yang direkam secara ilegal karena tidak mennggunakan lisensi dari labelnya tapi legal karena pemerintah menguitip pajak dari usaha perekam kaset ini (Foto Denny Sakrie)

negara ini masih satu group dengan label Hidayat Audio milik Bill Firmansyah.

Saat itu kaset bajakan legal ini masih bisa didapatkan dengan mudah di negeri ini,karena Indonesia sejak thn 1958 keluar dari Konvensi Hak Cipta Bern.Pemerintah pun memberikan izin kpd label2 perekam musik mancanegara ini sebagai sebuah perusahaan resmi.Jadilah kaset ilegal tapi legal.

Raidy Noor (vokal,bass,gitar) dan Maully Gagola (gitar) di studio Jackson Records & Tapes Pluit Jakarta (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Raidy Noor (vokal,bass,gitar) dan Maully Gagola (gitar) di studio Jackson Records & Tapes Pluit Jakarta (Foto Dokumentasi Denny Sakrie)

Staff adalah band bagus era 80an.Musik yang mereka mainkan elegan, lebih ke percampuran antara R&B soul dan funk dan sedikit rock.

Piringan Hitam Staff Band produksi Jackson Records and Tapes (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Staff Band produksi Jackson Records and Tapes (Foto Denny Sakrie)

Para pendukungnya memiliki kemampuan musikalitas diatas rata.Kemampuan songwriting dan aransemen mereka perlihatkan dengan genial.Namun sayangnya band yang terdiri dari Raidy Noor (bass,gitar,vokal),Ikang Fawzi (vokal,drums),Addie MS (keyboard),Maully Gagola (gitar),Riza Noor (bass) dan Cendi Luntungan (drum) ini hanya sempat merilis satu album saja lewat label Jackson Records and Tapes.Setelah itu  Staff, nama yang diambil dari terminologi partitur musik , menghilang entah kemana.Sangat disayangkan memang.

Maully Gagola saat take part gitar akustik ditemani Addie MS disebelah pojok kanan (Foto Dok.Denny Sakrie)

Maully Gagola saat take part gitar akustik ditemani Addie MS disebelah pojok kanan (Foto Dok.Denny Sakrie)

Hikayat terbentuknya band Staff ini bermula dari beberapa alumni SMA 3 Setiabudi, Jakarta, pada 1981 sepakat membentuk sebuah band jazz rock dengan nama Staff. Kelompok rada idealis  ini awalnya merupakan penambahan dari trio AIR, singkatan Addie MS, Ikang Fawzy, dan Raidy Noor, yang merupakan alumni SMA 3. “Dulu kami tergabung dalam Kelompok Vokal Group SMA 3 dan berniat melanjutkannya dalam bentuk band,” ungkap Raidy Noor.

. Selanjutnya, para personel Staff memilih jalan karier musiknya sendiri-sendiri. Ikang Fawzi bersolo karier dengan warna pop rock. Addie MS menjadi penata musik dan kini memimpin sebuah orkestra bergengsi di Tanah Air, Twilite Orchestra. Cendy Luntungan aktif menjadi drummer jazz dalam berbagai kelompok musik. Raidy Noor menjadi penata musik di berbagai album artis rekaman.

Arransemen musiknya memang padat.Staff menyertakan brass section dan string sections.Jelas mereka serius.Addie MS bertanggung jawab menuliskan arransemen seksi alat gesek,sedang Raidy Noor menulis .arransemen alat tiup.

Saat itu musik yang diracik trio David Foster,Bill Champlin & Jay Graydon memang banyak mempengaruhi arah musik Staff.Simak saja petikan gitar elektrik yang cenderung bermuara pada gaya jazz rock Jay Graydon.Addie MS jelas ikut menulusuri jejak pola bermain piano David Foster.

Ikang Fawzi berduet bersama Vina Panduwinata membawakan lagu karya Addie MS bertajuk Iblis (Foto Dok.Denny Sakrie)

Ikang Fawzi berduet bersama Vina Panduwinata membawakan lagu karya Addie MS bertajuk Iblis (Foto Dok.Denny Sakrie)

Jika anda menyimak secara keseluruhan album ini maka pasti akan teringat dengan warna khas Earth Wind & Fire terutama pada pola arransemen brass section yang rapat.Bahkan  dibeberapa lagu,Ikang Fawzy mencoba menduplikasi gaya nyanyi Maurice White (vokalis Earth Wind & Fire).

Dan kalo anda lihat sampul album Staff dengan pose berbentuk piramida,mau tak mau mengingatkan kita pada sampul album “Faces” nya Earth Wind & Fire” (1980).Ikang Fawzy dan Raidy Noor bertindak sebagai vokalis utama.Warna vokal keduanya memang kontras.Ikang lebih raw sedang Raidy cenderung soft.Raidy bahkan membentuk harmonisasi vokal ala Noor Bersaudara dengan pecahan pecahan vokal yang sarat harmonisasi.

Vina Panduwinata pun hadir sebagai vokalis tamu pada lagu “Iblis” yang ditulis oleh Addie MS.

Jika saat ini anda tengah kepayang menyimak penampilan The Groove, Maliq N D’essensial,Soulvivbe,Sisterduke atau yang sejenisnya,maka saya sarankan agar menyimak album Staff ini.Kenapa ? karena mereka sesungguhnya telah meletakkan pondasi musik soul R&B plus jazzy pada awal dasawarsa 80-an.

Ketika membuka dan bongkar-bongkar tumpukan foto yang teronggok di box plastik di rumah saya,untuk dipilih sebagai ilustrasi buku saya nanti “100 Tahun Musik Indonesia 1905 – 2005″ yang bakal diterbitkan GagasMedia, saya kembali menemukan foto penyanyi rock sohor era 70an Deddy Stanzah.Foto ini bukan hasil jepretan saya, bahkan hingga detik ini saya tidak tahu siapa fotografer foto Deddy Stanzah ini.Kenapa foto ini bisa ada ditangan saya ?

Nah, itulah yang akan saya tuturkan .Foto ini saya terima dipertengahan bulan Desember tahun 1982 di Makassar.Saat itu saya masih bermukim di kota Anging Mamiri, saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.

Sampai saat ini saya belum mengetahui siapakah fotografer yang membuat foto tentang almarhum Deddy Stanzah ini.(Dokumentasi Denny Sakrie).

Sampai saat ini saya belum mengetahui siapakah fotografer yang membuat foto tentang almarhum Deddy Stanzah ini.(Dokumentasi Denny Sakrie).

Saat itu saya dan teman-teman dari alumni SMA Negeri 1 Makassar angkatan tahun 1982 mengadakan sebuah konser rock tutup tahun yang berlangsung selama dua malam berturut-turut yaitu tanggal 31 Desember 1983 dan 1 Januari 1984 di Gedung Olahraga Mattoanging di Jalan Cenderawasih Makassar.Konser rock itu selain menampilkan band-band lokal seperti Ground Fire dan Dekres, juga mengundang band-band rock dari Jakarta dan Bandung, ada Acid Speed Band yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones, ada Tony Wenas yang mewakili Solid’80,juga ada Aba Bong dari Bandung serta duo legendaris Deddy Stanzah dan Gito.

Saat itu saya kebagian tugas sebagai Humas.Lalu saya membuat press release untuk acara tersebut,serta menulis sejumlah artikel tentang acara tersebut di koran-koran lokal seperti Pedoman Rakyat,Tegas  dan Harian Fajar.Dari setiap pemusik dan band yang tampil telah menyertakan foto-foto untuk keperluan promosi acara.

Salah satu foto tersebut adalah foto Deddy Stanzah tengah berpose santai dengan tatapan yang tajam.Foto inilah yang kemudian dipakai untuk pembuatan leaflet serta dipakai sebagai illustrasi tulisan-tulisan saya yang dimuat di koran-koran Makassar saat itu. Jelas foto Deddy Stanzah ini banyak menyimpan kenangan yang tak mungkin terlupakan sepanjang hayat dikandung badan. Hingga akhirnya saya menemukan foto itu kembali  di bulan Desember 2013, tepat 30 tahun yang silam.

Sosok Theodore KS di dasawarsa  70an dikenal sebagai jurnalis rock dari majalah TOP,dan kini menjadi kontributor harian Kompas  tapi selain itu lelaki berkacamata ini ternyata memiliki sisi yang berbeda yaitu sebagai penulis lirik dari beberapa album rock maupun pop.

Menurut pengakuan Theodore orang yang pertamakali memintanya untuk menulis lirik lagu adalag Donny Fattah.Theo lalu menyanggupi dan menulis lirik bertajuk “Mimpi” yang kemudian dimasukkan dalam album D&R yang dirilis Pramaqua tahun 1977 dan dinyanyikan oleh almarhumah Ida Noor dari Noor Bersaudara.Diluar dugaan lagu ini menjadi hits.Tahun 1977 Ira Puspita menyanyikan lagu yang liriknya tentang tema ekspresi juvenille.Di akhir era 90an sebuah band indie pop Klarinet kembali menyanyikan lagu bernuansa folk itu.Di album D& R Theo juga menulis lirik yang terinspirasi dari anak perempuan Donny Fattah yang baru lahir dengan nama “Cindy” yang kemudian dinyanyikan Keenan Nasution.Melihat kemampuan menulis lirik yang bagus dari Theo Keenan pun sempat meminta Theo untuk menulis lirik lagu yaitu lagu “Embun” yang terdapat dalam album “Tak Semudah Kata Kata” (DD Record 1979).

Theodore KS dan Ian Antono (Foto Denny Sakrie)

Theodore KS dan Ian Antono (Foto Denny Sakrie)

 Namun Theo ternyata banyak berkolaborasi dengan Ian Antono dalam menulis lagu.”Saya dulu bertetangga dengan Ian di Tebet,jadi kami akrab dan Ian lalu meminta saya menulis lagu.Kadang saya bikin lirik lagu untuk God Bless saat mereka tengah mau rekaman di studio” papar Theodore Ks.Lagu “Selamat Pagi Indonesia” yang diambil dari album Cermin (JC Record 1980),Theo mengambil inspirasi dari Kusni Kasdut,perampok yang menghadapi eksekusi tembak mati pada tahun 1979.Kusni Kasdut sebetulnya adalah prajurit desertir yang kemudian melakukan tindakan kriminal.Di album Cermin,Theo juga menulis lirik “Balada Sejuta Wajah”.Di tahun 1987 Ian Antono kembali meminta Theo menulis lirik lagu yang kemudian dikenal dengan “Rumah Kita“.Yockie Surjoprajogo juga pernah meminta Theo menuliskan lirik lagu,akhirnya muncul lagu “Dia” yang dinyanyikan almarhum Chrisye dari album “Jurang Pemisah” (Pramaqua 1977) serta juga dinyanyikan oleh kelompok Aria Junior.

Theodore KS mengingatkan saya pada Pete Sendield, penulis lirik yang banyak menulis lirik-lirik lagu untuk berbagai band bercorak rock progresif mulai dari King Crimson,Emerson Lake and Palmer,Roxy Music,PFM bahkan juga menulis lirik untuk penyanyi penyanyi pop seperti Celine Dion,Cliff Richard,Cher hingga Leo Sayer.

 

Indonesia Adalah Musikimia

Posted: Desember 3, 2013 in Liputan

Sebagian besar personil Musikimia adalah personil Padi, mulai dari vokalis Fadly,drummer Yoyo dan bassist Rindra ditambah Stephan Santoso,orang belakang layar yang sebelumnya banyak membidani rekaman-rekaman Padi, mengisi posisi gitar.Stephan sebelumnya adalah gitaris dari band All Size yang hanya sempat rilis satu album itu.

Musikimia saat membawakan lagu Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Musikimia saat membawakan lagu Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Senin 2 Desember 2013  kemarin saya diundang Musikimia dan labelnya Sony Music Indonesia untuk peluncuran album kecil bertajuk “Indonesia Adalah…..” yang berisikan 5 lagu masing masing “Ini Dadaku” yang menurut Fadly terisnpirasi dari jargon Ir Soekarno mengobarkan semangat patriotisme dan nasionalisme “ini dadaku mana dadamu”, lalu ada lagu yang terisnpirasi dari puisi karya aktivis Widji Thukul “Merdeka Sampai Mati”,juga “Apakah Harus Seperti Ini” dan dua lagu klasik yaitu Tanah Airku karya Ibu Sud dan Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari album Koes Plus Vol.8 (Remaco 1973).

Yoyo drummer Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Yoyo drummer Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Musikimia tampaknya ingin merekonstruksi aura musik masa lalu yang dilumuri pembacaan puisi yang penuh gugat dan menimbulkan semangat.Di lagu “Merdeka Sampai Mati” muncul dua puisi Widji Thukul yaitu “Sajak Suara ” dan “Peringatan”.

Fadly dan Rindra (Foto Denny Sakrie)

Fadly dan Rindra (Foto Denny Sakrie)

Lalu di lagu “Tanah Air” kembali muncul sebuah puisi tanpa tajuk karya seorang siswa SMP di Cirebon yang secara tak sengaja ditemukan Fadly di laman Facebook beberapa waktu silam.

Album kecil, demikian istilah yang dipakai Musikimia untuk mini album atau EP, merupakan pemanasan sebelum rilis album besar yang direncanakan dirilis pada tahun 2014.

Dalam peluncuran album “Indonesia Adalah” yang dilengkapi dengan bonus DVD ini Musikimia juga tampil menyanyikan ke 5 lagu dalam album yang covernya menampilkan peta Indonesia dalam sketsa bati.

Inilah personil Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Inilah personil Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Tampaknya Musikimia ingin menampilkan wajah Indonesia dan semangat kebangsaan yang mulai terlihat memudar belakangan ini.

Mungkin ini untuk pertamakali saya diminta jadi pembicara musik membahas tentang Musik Rai dan Hiphop.Beberapa bulan lalu sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Sastra Prancis meminta kesediaan saya untuk menelusuri budaya pop di Prancis dalam hal ini adalah konstelasi musik Rai yang berkembang di Aljazair,salah satu koloni Prancis  yang ternyata pada akhirnya justru memberikan kontribusi tersendiri pula dalam lingkup budaya pop di Prancis.Dan pada akhirnya musik Rai yang bermuasal dari tradisi kaum muslim itu bersenyawa dengan hip hop yang berkembang pesat di Prancis.Ini sebuah fenomena menarik tentunya lewat pembenturan-pembenturan untaian budaya yang berbaur dalam sebuah cawan kontemporer.Saya lalu mengiyakan tawaran menjadi pembicara tersebut, karena pada dasarnya saya memang suka dan mengakrabi produk-produk bernuansa eklektik,pembenturan tradisi dan budaya yang bermuara pada kekinian yang berbingkai pola kontemporer.

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Talkshow musik ini diberi tajuk “Seminar Rap,Rai,Hip Hop & Beatbox” dan merupakan rangkaian dari event FestiFrance 2013 yang digagas Mahasiswa Fakultas Sastra Prancis Universitas, berlangsung pada kamis 14 November 2013 mulai dari jam 10 hingga 12 siang bertempat di Auditorium Gedung   9 Kampus Depok Universitas Indonesia. Selain saya,seminar ini juga menghadirkan dua wakil dari komunitas beatbox Indonesia yaitu MouthFx.

Diskusi Rai2

Mungkin masih banyak yang merasa asing dengan musik Rai.Tapi saya yakin sebetulnya banyak yang telah mendengarkan musik Rai tanpa sengaja misalnya saat berada di mall-mall.Di saat bulan suci Ramadhan biasanya secara tak sengaja banyak lagu-lagu rai yang berkumandang.Mungkin mereka mengira lagu-lagu Rai itu liriknya tentang syiar Islam, padahal liriknya sama sekali tak berkaitan dengan suasana religi kaum muslimin.Cengkok Arab dari sang Cheb atau Cheba,demikian julukan untuk penyanyi Rai .Cheb untuk lelaki dan Cheba untuk wanita.

Dis Rai 4 Saya sendiri baru menyadari Rai ketika Sting menyanyikan lagu Desert Rose dengan nuansa Arab Aljazair lewat penyanyi rai bernama Cheb Mami di album “Brand New Day” nya Sting yang dirilis tahun 1999.

Di ruangan FIB UI itu ,saya mulai dengan memaparkan asal muasal musik Rai yang berkecambah dari Aljazair yang merupakan Negara koloni Prancis.

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Rai yang mulai berkembang pada era 30an ini merupakan musik  hibrida dari Arab,Afrika,Spanyol dan Prancis.Musik Rai ini adalah representasi budaya dari kaum Maghribi yang ada di Prancis. Musik Rai  mulai memperlihatkan sebuah grafik popularitas yang membumbung tinggi pada saat event Festival De Bobigny et La Vilette   yang digelar pada 26 januari 1986.Menyusupnya elemen Rai ke Prancis ini berkaitan dengan migrasi dari kaum imigran Maghribi di Prancis pada abad ke 20.

Manakala rai mulai melakukan penetrasi di wilayah Prancis, mulai terlihat dan dirasakan adanya pergeseran-pergeseran dalam konsep rai walau tak sampai mengubah bunyian dasar secara menyeluruh.Masuknya instrument elektronik seperti drum machine,looping hingga scratch vinyl diatas turntable serta rappin’ mulai terdengar menyeruak.Tapi instrument klasik seperti dabourka maupun akordeon masih tetap dipertahankan,dan sebetulnya merupakan elemen penguat jatidiri dari Rai itu sendiri.Imbuhan-imbuhan yang memperkaya Rai ini bahkan mulai ditaburi nuansa hip hop yang kental seperti tersimaknya elemen beatbox yang inovatif .

Secara historis musik Rai itu lahir dari masyarakat kecil yang ingin menyuarakan suara hatinya.Polos,tanpa basa-basi,apa adanya bahkan mungkin bisa terdengar nyaris vulgar.

Kenapa rai bisa menyeberang ke Prancis ? Penyebabnya adalah ketika para pemusik dan penggiat musik Rai justru tak mendapat tempat di Aljazair yang menyebabkan mereka lalu hijrah ke Prancis untuk mengekespresikan musik rai tersebut.Di Aljazair konten musik Rai dianggap amoral dengan tema-tema seperti seksualisme,minuman keras dan penderitaan hidup.Hal yang juga mungkin memiliki kesamaan dengan musik  dangdut di Indonesia.Musik Rai pada akhirnya dianggap berseberangan dan bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.dan akhirnya eksoduslah Rai ke Prancis.Disinilah Rai mulai mengalami pergeseran-pergeseran dalam bingkai modernitas yang absolut.

Diskusi yang dipandu oleh dosen FIB UI itu memang membuka wawasan orang tentang Musik Rai yang kemudian berubah menjadi budaya urban.Apalagi dua beatboxer dari Mouthfx secara detil dan terperinci menguraikan tentang kemempelaian Raid an Hiphop termasuk beatbox di Prancis dan pengaruhnya di Negara-negara Eropah lainnya.