Barusan saya bongkar bongkar tumpukan piringan hitam pagi in.Dan saya menemukan sebuah album bertajuk “Christmas Song (1970) yang dirilis oleh PT Metropolitan Studio milik Yamin Widjaja,yang sekarang telah berubah menjadi PT MusicaStudio’s.

Album ini memuat lagu-lagu Natal seperti “Jingle Bells”,”White Christmas” hingga “I’ll Be Gome For Christmas”.Dinyanyikan sederetartis yang dikontrak oleh Metropolitan Studio’s yaitu Vivi Sumanti,Inneke Kusumawati,Tanty Josepha,Maya Sopha,Ernie Djohan dan satu satunya penyanyi pria Bing Slamet.Uniknya album ini rasanya lebih mencuat karena adanya tarikan suara yang khas dan elegan dari almarhum Bing Slamet.

Diiringi band Eka Sapta serta orkestrasi oleh Idris Sardi.

Acung jempol buat Bing Slamet terutama ketika menyanyikan lagu “I’ll Be Home For Christmas”yang populer di tangan Bing Crosby.Tak pelak Bing Salmet adalah pengagum berat Bing Crosby.Penghayatan Bing pun mendalam,padahal Bing bukanlah seorang Nasrani.

Piringan Hitam Christmas Songs (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Christmas Songs (Foto Denny Sakrie)

Lagu “I’ll Be Home For Christmas” ini memang istimewa.Lagu ini pertamakali direkam Bing Slamet eh….Bing Crosby pada tahun 1943,pada saat Perang Dunia ke II tengah berkecamuk.Lagu yang ditulis oleh pasangan James “Kim” Gannon dan Walter Kent ini memang bisa tak hanya sekedar sebuah lagu natal belaka,karena liriknya memang terasa humanis.Sebuah kerinduan akan kampung halaman,maupun kerinduan terhadap kehangatan sebuah keluarga yang lama ditinggalkan.Apalagi para prajurit yang tengah berlaga di medan perang.

I’ll be home for Christmas;
You can count on me.
Please have snow and mistletoe
And presents on the tree.

Christmas Eve will find me
Where the love-light gleams.
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams.

Carol of the Bells
Hark! How the bells
Sweet silver bells
All seem to say,

“Throw cares away.”
Christmas is here
Bringing good cheer
To young and old
Meek and the bold

Ding, dong, ding, dong
That is their song
With joyful ring
All caroling
One seems to hear
Words of good cheer
From ev’rywhere
Filling the air

Oh how they pound,
Raising the sound,
O’er hill and dale,
Telling their tale,
Gaily they ring
While people sing
Songs of good cheer
Christmas is here
Merry, merry, merry, merry Christmas
Merry, merry, merry, merry Christmas

On, on they send
On without end
Their joyful tone
To ev’ry home

Di tahun 1967 Herman Effendy putra bapak Soeharsono yang bermukim di Jalan Pekalongan Menteng Jakarta Pusat tengah menjalani acara khitanan. Mungkin karena tinggal di kawasan elit Menteng, keluarga Soeharsono malah mengundang band terkenal di kawasan Pegangsaan Menteng Jakarta sebagai atrksi hiburan.Saat itu band Gipsy dikenal sebagai band yang suka diundang dalam acara-acara seperti pesta ulang tahun atau pesta anak muda yang kerap disebut Pesta Dayak. Gipsy saat itu baru saja ganti nama dari Sabda Nada menjadi Gipsy.Selain ganti nama, dalam band  Gipsy pun terjadi beberapa kali bongkar pasang pemain hingga akhirnya muncul formasi yang cukup solid dan tangguh yang terdiri atas Keenan Nasution (drums),Chrisye (bass),Tammy Daud (saxophone,flute),Onan Susilo (organ) serta Gauri Nasution (gitar elektrik).

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Saat dikhitan Herman Effendy baru berusia 10 tahun.Herman Effendy atau yang kerap dipanggil Herman Gelly ini tidak tahu secara persis kenapa keluarganya mengundang Gipsy sebagai hiburan acara khitanan.Tapi ada yang menarik jika kita mengamati garis takdir dari peristiwa sebuah band bermain di sebuah acara khitanan. Siapa yang menyangka anak kecil bernama Herman yang tengah menjalankan ritual khitanan itu justru kelak akan dipertemukan kembali dengan dua dari personil band Gipsy itu yaitu Chrisye dan Gauri Nasution. Antara tahun 1986-1987, Herman adalah salah satu pemusik dan arranger yang menata dan mengiringi 3 album solo Chrisye yaitu Aku Cinta Dia,Hip Hip Huran dan Nona Lisa. Dan ketiga album Chrisye tadi menyertakan Gauri Nasution sebagai perancang grafis cover album. Nah, siapa yang menyangka ?

Ketika Oma Irama Menyanyikan Lagu-Lagu Pop

Posted: November 19, 2013 in Kisah

Om IrBetul, dulu Oma Irama sama sekali tidak suka dangdut,atau irama melayu istilahnya dulu.Lelaki kelahiran Tasikmalaya ini malah lebih ligat bernyanyi lagu-lagu pop.Oma menyukai Paul Anka hingga Tom Jones.I Who Have Nothing yang dipopulerkan Tom Jones adalah satu dari sekian banyak lagu yang kerap dinyanyikannya di panggung pertunjukan termasuk ketika berhasil meraih gelar juara pertama dalam Pop Singer Festival South East Asia yang berlangsung meriah di Singapore tahun 1972.

Dalam beberapa album-album popnya yang dirilis Bali Record atau Canary, Oma Irama kerap berduet dengan Inneke Kusumawati maupun Lily Junaedhy. Band-band yang mengiringinya mulai dari Zaenal Combo pimpinan gitaris Zaenal Arifin  hingga De Galaxies pimpinan gitaris Jopie Item.Amin Widjaja sang pemilik label Bali Record tertarik dengan kualitas vokal Oma Irama dalam membawakan lagu-lagu pop  .Oma Irama menyanyikan lagu-lagu pop mulai sejak zaman rezim Orde Baru pada tahun 1967 hingga masuk era 70an

“Memang, awalnya saya tidak tertarik bernyanyi dangdut..” kata Oma Irama disebuah majalah hiburan .Tapi ternyata justru musik Melayu yang kemudian lebih popular dengan sebutan  dangdut lalu menjadi dunianya. Bersama Orkes Melayu  “Purnama” pimpinan Awab Abdullah, pamornya mulai bersinar saat menyanyikan lagu  “Ke Bina Ria”, duet dengan Titing Yeni. Oma Irama lalu putar haluan  membentuk  “Soneta Group” pada 13 Oktober 1973, seraya  menggamit Elvy Sukaesih sebagai pasangan duetnya.

 

Mengusik Musik Warkop

Posted: November 19, 2013 in Wawasan

kas

Warung Kopi Prambors Tahun 1979 (Foto Dokumentasi Warkop )

Warung Kopi Prambors Tahun 1979 (Foto Dokumentasi Warkop )

Oke selamat malam Jakarta Indonesia…inilah Warkop Bless” demikian teriakan Kasino berperan sebagai MC dengan aksen yang dibarat-baratkan.Inilah adalah tipikal panggung rock Indonesia di paruh 70-an yang ditiru Kasino.Lalu berdentamlah musik dengan gitar berdistorsi serta gebukan drums menghentak dinamis.Warkop Bless adalah plesetan dari God Bless,band rock Jakarta yang jika tampil sering dielu-elukan bak supergrup dari belahan bumi Barat sana.Introduksi music yang dimainkan Abadi Soesman dkk itu seolah ingin menyaingi “Highway Star” nya Deep Purple.Tapi ketika memasuki bait pertama,music berubah seketika,secara drastic menjadi irama langgam.Sebuah gaya keroncongan lengkap dengan aksentuasi cuk dan ukulele segala.Kasino lalu bertukar peran menjadi penyanyi.Meluncurlah dari mulutnya :”Jenang gulooo……..”.Penonton pun gerrrr berkepanjangan.
Sebuah penampilan musik dengan penjungkirbalikan.Sebuah parodi yang menggelikan.Telah ditampilkan Warung Kopi Prambors dalam rekaman kasetnya di tahun 1979 yang dirilis Pramaqua,sebuah label kongsi antara radio Prambors dan Aquarius yang kerap merilis album-album mancanegara. Ketertarikan Pramaqua ,yang sejak tahun 1975 merilis jenis musik yang hanya mensasar komunitas tertentu,semisal merilis album God Bless,Noor Bersaudara,Yockie Suryoprayogo,Jopie Item dan sejenisnya – merilis dua labum lawak warung Kopi pun kadang bagai sebuah paradoksal yang meruntuhkan logika.Kenapa Pramaqua mau merilis album lawak ? Yang posisinya dalam industry hiburan seolah berada di kasta terendah ?.”Saya memang tertarik dengan konsep lawakan Warung Kopi sejak mendfengarkan mereka siaran di radio Prambors pada tahun 1975.Ada yang menarik dari celutukannya.Bahwa mereka memilki visi yang jelas.Meluncurkan humor yang cerdas.Ya intelektualitas yang terjaga.Tidak mengumbar ejek-ejekan seperti cacat fisik seseorang.Atau slapstick.Itu tidak ada pada Warung Kopi.Makanya saya tertarik untuk merilis rekaman lawak mereka.Karena ternyata Warkop pun bernuansa musikal.Kasino,misalnya bisa main gitar sambil bernyanyi.Begitu juga Nanu .”komentar Johannes Suryoko yang saat itu menggawangi label Pramaqua.
Dalam pentas lawak nya Warkop senantiasa membumbui dengan selingan music.Mungkin karena mereka berasal dari tembok kampus yang rada kritis.Celutukannya memang kerap menyindir hal hal yang tak wajar dalam kehidupan sehari-hari mulai dari problematika kaum papa hingga konstelasi politik.Mereka cerkas dalam bertutur.Selain saling umpan dalam bingkai humor yang padat dan cerdas.Warkop juga banyak mencuatkan joke reading hingga penjungkir balikan nalar bermusik dalam bingkai satiris dan komikal tentunya.
Karkaterisasi humor Warkop yang berjelujur music itu pun sebetulnya juga sudah mencuri perhatian Mus Mualim,seorang pemusik yang dijejali pikiran kreatif.Ketika Mus Mualim diminta untuk mengemas sebuah gagasan tontona music khas remaja,suami Titiek Puspa ini lalu mendatangi Radio Prambors di Jalan Borobudur yang masih sekawasan dengan kediaman Mus Mualim di Jalan Sukabumi Menteng Jakarta.Disitulah awal pertemuan Mus Mualim dengan Sys NS anak muda yang men jadi kuncen Prambors Rasisonia saat itu.Pucuk cinta ulam tiba,terbersiutlah ide memanggungkan acara bertajuk “Terminal Musikal Tempat Anak Muda Mangkal” di TVRI.Sebuah variety show khas anak muda yang membaurkan tontonan musik dan komedi.Satu diantara pendukung tersebutlah Warung Kopi Prambors yang terdiri atas Nanu Muljono,Kasino,Wahyu Sardono dan Indro.
Ketika telah akrab dengan dunia hiburan di luar tembok radio Prambors,Warung Kopi memang mulai kerap manggung.Di tahun 1979 Warung Kopi banyak melakukan pentas pertunjukan di beberapa kota luar Jawa seperti Palembang,Pontianak hingga Makassar.Saat itu Warkop kerap bersanding dengan gitaris,vokalis dan komposer Chris Manusama yang baru saja berjaya ketika lagu karyanya “Kidung” yang masuk dalam deretan Dasa Tembang Tercantik LCLR Prambors 1978 mulai menjadi hit nasional.
Dalam pentas hiburan Warung Kopi plus Chris Manusama.Kasino kerap memplesetkan lagu “Kidung” menjadi :
“Tak selamanya Doris itu Callebaut nyatanya kali ini zoes Doris Inem Pelayan Sexy” dari kalimat lagu Chris Manusama : “Tak selamanya mendung itu kelabu nyatanya hari ini kulihat begitu ceria”.
Memasukkan anasir music dalam pola lawakan sebetulnya bukan ditemukan atau digagas secara orisinal oleh Warung Kopi.jauh sebelum Warkop menjadi isu nasional saat itu,Bing Slamet telah melakukan hal yang sama : memintal lawakan dalam sepotong music.Itu fakta manakala Bing Slamet bersama Drs Purnomo a.k.a mang Udel melawak sambil sesekali bernyanyi .Bing memetik gitar sembari bernyanyi dengan vocal baritonenya,ditingkahi permainan ukulele dari Mang Udel.Lagu “Keroncong Moritsko” hingga “Love Is A Many Splendored Thing” pun mengalun tapi tetap dalam koridor humor yang segar.
Hal semacam ini pun terulang ketika Bing Slamet bersama Eddy Sud,Ateng dan Iskak membentuk Kwartet Jaya.Bing yang kerap meniru aksen cadel bule biasanya menyanyikan lagu yang tengah hits semisal “Hey Jude” nya The Beatles tapi dengan gaya crooner yang menggelitik.
Jadi sebetulnya dalam penampilan sketsa humor yang mencuat dari sebuah ritual lawak,unsur music memang seolah menjadi simbiose mutualisme.Musik jadi jodoh dengan lawak yang serba gerrrrr…..
Warung Kopi sendiri dalam selusin kaset rekamannya pun selalu menampilan formula bersandingnya lawak dan musik.Menariknya lagi para pemusik yang mengiringi Warung Kopi termasuk mengendapkan kualitas.Misalnya musisi serba bisa Abadi Soesman yang mencampur adukkan berbagai genre music saat tampil mengiringiu Kasino dan rekan berdendang.Pada dua kaset yang dirilis Pramaqua,Abadi bereksperimen menggabungkan perangai music hard rock dan keroncong dalam “Jenag Gulo” bahkan menyusupkan gaya Dixieland lengkap dengan piano honky-nya dalam lagu “John Tralala”.Jahilnya Abadi bahkan meminjem intro lagu Billy Preston “Nothing From Nothing” untuk lagu “John Tralala”.Kasino bahkan mencoba meniru suara Louis Armstrong yang dibuat rada serak. Selain itu dengan dukungan OM Pengantar Minum Racun,Kasino pun menyanyikan lagu dangdut.Luar biasa.
Pada album ketiga bertajuk “Mana Tahan” yang dirilis Purnama Record,Warkop didampingi Yockie Suryoprayogo menyanyikan lagu ”Mana Tahan”.Yockie,seperti halnya,Abadi juga bertindak jahil dan usil antara lain memasukkan gaya glissando ala Patrick Moraz melalui Solina Strings pada interlude lagu dangdut tersebut.Setidaknya hal ini bisa disebut sebagai sebuah music humor.,Walaupun tidak sesinting music humor ala Frank Zappa,namun sajian music Warkop yang didukung sederet pemusik berkualityas adalah catatan tersendiri disepanjang karir Warung Kopi Prambors.
Dalam catatan saya beberapa pemusiki papan atas negeri ini telah ikut memberikan kontribusi dalam kaset lawak Warung Kopi diantaranya Rezky Ichwan,Dodo Zakaria,Narendra,Gilang Ramadhan,Mates ,Sonny Soemarsono,dan banyak lagi.
Bahkan di tahun I988 Harpa Record merilis album musik perdana Warung Kopi bertajuk “Kunyanyikan Judulku”.Warkop betul-betul bernyanyi.Ada 10 lagu yang dibawakan,dengan gaya dangdut,disko hingga blues sekalipun.Ditulis oleh Yan Roesli,Dian Soneta,Sonny Soemarsono,Oddie Agam dan lirik yang ditulis wartawan music Yudhi NH.
Rasa rasanya apa yang dicapai Warkop saat ini belum ada yang menggantikan saat sekarang ini.Bahkan kaset lawak pun tak pernah lagi diproduksi.Padahal kita masih membutuhkannya untuk sekedar tertawa…..gerrrrrr.

Sekitar jam 16.30 saat saya masih berada di Timor Room Hotel Borobudur dalam press conference Java Jazz International Festival 2010,tiba tiba menyelinap sebuah sms dari Omen Chaseiro.Isinya begini :”Nanti malam sibuk gak ? Kalo gak sibuk mampir22 ke DSS dong kita ngumpul2,nemenin Candra take vokal”.

Wah,ternyata Candra Darusman ada di Jakarta lagi.Belakangan ini Candra memang kerap mondar mandir di Jakarta.Terakhir ketemu dia di Horison Hotel Desember 2009 .Saat itu dia bilang bahwa mulai 2010 akan pindah tempat tugas dari Geneva ke Singapore.Sejak Februari 2010,Candra Darusman,pemusik yang membesarkan Chaseiro dan Karimata itu resmi ngepos di Singapore.Kepindahan Candra ini kian meluruskan niat Chaseiro untuk mengadakan konser tunggal yang digelar besar besaran serta rilis album baru.

Malam ini tepatnya jam 21.00 WIB Candra Darusman telah masuk di bilik rekaman DSS Studio milik Donny Hardono,yang juga penggasagas Audiensi Band.Candra membawakan lagu ciptaan terbarunya bertajuk “Salah Cinta”,sebuah ballad dengan larik yang lugas tapi puitik.”Ini adalah lagu cinta yang gak biasa This is not ordinary love song ” ucap Omen.

Sebelum ke DSS Studio saya sempat bersms an dengan Candra.”Bos ! Besok pagi udah haruis balik” itu sms Candra ketika saya tanya sampai kapan ada di Jakarta.”Kok cuma rekam satu lagu ? ” sergah saya.”Stamina bos…!” kata Candra tersenyum.

Candra sendiri agaknya memang telah siap untuk kembali menapak dunia musik setelah sekian lama bergelut dengan problematika HAKI dalam wadah WIPO di Geneva.Seperti yang sering saya kemukakan bahwa bermusik itu adalah kodrat.Kodrat tak bisa kita hindari.Sekali menjadi pemusik maka akan tetap menjadi pemusik.Bukti nyata ya Candra Darusman.

Selamat bergabung lagi di dunia musik Indonesia Candra !

Bersama Candra Darusman di DSS Studio

Bersama Candra Darusman di DSS Studio

Video  —  Posted: November 16, 2013 in Sosok

Poster Film Duo Kribo tahun 1978 (Foto Kineforum)

Poster Film Duo Kribo tahun 1978 (Foto Kineforum)

Judul Film : Duo Kribo
Tahun Edar : 1978
Produksi : PT Interstudio Film Jakarta
Durasi : 116 menit

Pemain : Achmad Albar,Ucok AKA Harahap
Pemain : Eva Yanti Arnaz,Marlia Hardy,Ita Mustafa,Yolanda Sulaiman,Micky Jaguar,Fadhil Usman,Innisisri,Chitra Dewi,AN Alcaff,Ida Kusumah,Komalasari.
Musik : Achmad Albar & Ucok AKA Harahap
Ide Cerita : Ucok AKA Harahap
Skenario : Remy Sylado
Sutradara :Edward Pesta Sirait

Tak pelak lagi Achmad Albar dan Ucok Aka Harahap adalah dua bintang rock yang banyak menumpah ruahkan sensasi panggung pada paruh dasawarsa 70-an.Apalagi.dengan band masing masing : God Bless dan AKA,keduanya sering diskenariokan dalam panggung sarat sensasi bertajuk duel meet.

Lalu muncullah wartawan Masherry Manshur yang kemudian memempelaikan kedua paduka berambut kribo itu dalam sebuah album bertajuk “Duo Kribo”.

Masih belum cukup ? Lalu dirancanglah sebuah film musikal (lebih tepatnya mungkin disebut film berlatar musik,dalam hal ini pastilah musik rock).

Ceritanya memang ringan dan mengalir bahkan memang dimirip-miripkan dengan latar belakang para tokoh utamanya.Yaitu Achmad Albar yang baru saja pulang ke tanah air setelah menimba ilmu musik di sebuah konservatori musik (ini pun tak dijelaskan,musik apa yang dipelajari Albar) di Eropah.Bahkan hebatnya lulus dengan cum laude pula.Achmad Albar akhirnya memang dicitrakan sebagai penyanyi rock.”Saya belajar klasik,tapi memilih rock” tutur Albar di layar lebar.Gaya tuturan ala Remy Syulado terungkap dalam dialog dialog dalam film.Terutama perbincangan mengenai musik klasik.Serta kegilaan Albar terhadap beat rock n’roll di era 50-an.Tentunya lengkap dengan tribute untuk Elvis Presley segala.

Disisi lain,Ucok Harahap dari Medan bermuhibah ke Jakarta untuk mencari peruntungan sebagai penyanyi rock pula.Mulailah terjadi persaingan yang mudah ditebak.Untuk pemanis dimunculkanlah bintang baru bertubuh sintal dan tatapan mata menggoda,Eva Yanti Arnaz.
Di ujung cerita persaingan itu pun berakhir ketika dua penyanyi kribo itu menyatu dalam Duo Kribo.

Film ini pun menyertakan album soundtrack yang dirilis Musica Studio’s dan melejitkan hits “Panggung Sandiwara” karya Ian Antono dan Taufiq Ismail.
Beberapa setting berlangsung di Musica Studio’s di Jalan Perdatam Jakarta.Beberapa pemusik rock era 70-an ikut pula tampil di film ini semisal Fadhil Usman,gitaris The Minstrels Medan yang menjadi gitaris band Achmad Albar.Juga terlihat rocker kontroversi asal Malang Mickey Michael Merkelbach yang berperan sebagai gitaris band Ucok AKA Harahap.Bahkan drummer Kantata Takwa dan Kelompok Kampungan Innisisri juga tampil sebagai drummer Achmad Albar.
Film ini tepat pula dianggap sebagai dokumentasi fiksi perjalanan musik rock Indonesia di jelang akhir era 70-an

Engkaulah mutiaraku
Tempat curahan kasih sayangku
Engkau mahligai cintaku
Tempat pengharapan yang terakhir

Dalam hatiku berdoa selalu
Semoga kekal abadi
Cintamu cintaku milikmu jua
Sehidup semati kita

Lagu melankolis dengan tempo 3/4 ini judulnya “Mutiaraku” hampir tiap hari muncul di acara TVRI “Mana Suka Siaran Niaga” di tahun 1977 .Suara penyanyinya agak aneh.hampir tanpa bas samasekali.Melengking dan cenderung mirip ambitus suara wanita.Tubuhnya gemuk dengan pipi yang tembem serta rambut yang gondrong tanggung.
Terus terang saya tidak suka mendengar lagunya.Apalagi suaranya yang melengking tinggi itu.Tapi entah kenapa saya jadi bisa hafl lagu itu.Mungkin karena lagu ini menjadi semacam heavy rotation oleh TVRI.Saat itu Yukawi,label milik Dharmwan yang berada di Bogor bersaing ketat denga Remaco milik Eugene Timothy yang saat itu tengah terjebak mendagangkan kaset 1000 Tiga nan fenomenal itu.
Dan oh iya akhirnya saat itu saya pun mulia hafal dengan namanya : Pance.Tak lebih tak kurang.Hanya satu kata saja.Saat itu Pance belum menyertakan marganya dibelakang namanya.darfi pemberitaan koran akhirnya saya mengetahui siapa itu Pance.
Lelaki Manado ini bernama lengkap Frans Pondaag dan kerap dipanggil Pance.Dia mulai meniti karir musik di Ujung Pandang.Bahkan kemudian Pance pun menemukan jodoh seorang gadis Ujung Pandang.
Penampilan perdananya melalui album yang dirilis Yukawi itu ternyata meledak.Disaat yang bersamaan,dengan perangai musik yang berbeda muncul ke permukaan nama Chrisye yang baru saja ngetop lewat “Lilin Lilin Kecil” dan album “Badai Pasti Berlalu”.
Gebrakan Pance ternyata hanya pada album debut dengan lagu andalan yang ditulisnya sendiri “Mutiaraku”.Nama Pance pun tak terangkat tinggi tinggi.Kata orang mediocre lah.
Setelah itu nama Pance yang kini ditulis lengkap Pance Pondaag mulai berkibar justeru sebagai seorang hitmaker yang seolah membayangi Rinto Harahap yang telah menjadi raja musik pop lewat label Lolipop Record.
Pance pun membayani Rinto lewat sederet hits yang dinyanyikan sederet penyanyi wanita cantik yang bernaung dibawah label JK Record milik Judhi Kristanto.
Pance saat itu tak ubahnya Raja Midas mitologi Yunani.Setiap yang disentuhnya berubah menjadi emas.Lagu lagu Pance mulai berkibar dikerongkongan Dian Piesesha,Meriem Bellina,Chintami Atmanegara dan banyak lagi.Susah untuk ngingetnya.Yang saya ingat lagu “Tak Ingin Sendiri” merupakan hits terbesar Pance yang dinyanyikan Dian Piesesha.Kabarnya album yang dirilis JK Record itu berhasil tembus pada penjualan diatas 1 juta keping .Luar biasa.
Singgasana Rinto pun mulai terbagi ke Pance dan juga seoarng follower Rinto bernama Obbie Messakh.Baik Pance maupuh Obbie banyak memberi lagu-lagunya ke label JK Records.
Di era paruh 80-an itu,setidaknya triumvirat penguasa industri musik pop “cengeng” dipegang oleh Rinto,Obbie dan Pance.
Pance pun kian giat menghasilkan hits.Apalagi setelah Pance membagun studio mewah miliknya yang diberinama Ramsa.
Tapi sayang ending perjalanan seniman hiburan negeri ini selalu berakhir dengan nestapa.Kegemilangan yang berhasil diraih seolah cepat sirna dengan sekejap saja.
Dalam kerentaannya Pance bahkan mengalami 9 kali stroke.Ah sebuah antiklimaks yang kerap terapmapang dimuka kita dari dunia hiburan yang penuh silau kegemilangan.
Dan tadi sore saya pun terperanjat dengan berita duka cita berpulangnya Pance,seniman musik yang telah banyak memberikan inspirasi bagi jutaan orang yang nelangsa menghadapi cobaan hidup,dikhianati pasangan,sosok yang dilanda kerinduan karena kekasih terpisah jarak lewat tema tema lagunya yang oleh sebagian orang “pintar” dipojokkan sebagai karya cengeng atau menye menye kata anak jaman sekarang.
Selamat Jalan bung Pance……..Karya karyamu sudah pasti tak mungkin terhapus pergeseran waktu dan jaman.
Dan saya merasa lagu Pance yang sekarang terdengar di sebuah stasiun radio ini sama sekali tak terbersit kecengengan.Tetapi adalah sekeping fragmen kehidupan yang bisa jadi banyak dialami banyak orang :

Mengapa harus begini
Tiada lagi kehangatan
Memang ku sadari sering kutinggalkan
Kau seorang diri

Bukannya aku sengaja
Meninggalkan kau sendiri
Aku menyadari
Bukan sandiwara kasihku kepadamu

Tiap malam engkau ku tinggal pergi
Bukan, bukan, bukannya aku sengaja
Demi kau dan si buah hati
Terpaksa aku harus begini
Tiap hari hingga malam berakhir
Ku tahu kau tersiksa karena diriku
Sejujurnya aku katakan
Tiada satu pengganti dirimu

Bukannya aku sengaja
Meninggalkan kau sendiri
Aku menyadari
Bukan sandiwara kasihku kepadamu

Tiap malam engkau ku tinggal pergi
Bukan, bukan, bukannya aku sengaja
Demi kau dan si buah hati
Terpaksa aku harus begini
Tiap hari hingga malam berakhir
Ku tahu kau tersiksa karena diriku
Sejujurnya aku katakan
Tiada satu pengganti dirimu

Album solo pertama Pance Pondaag pada label Yukawi Record di paruh era 70an

Album solo pertama Pance Pondaag pada label Yukawi Record di paruh era 70an