Java Jazz, Sebuah Deja Vu Fusion

Posted: Desember 20, 2013 in Konser

Sekitar Jam 15.10 saya memasuki ruang Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta kamis 10 Desember 2009.Di atas pentas terlihat Indra Lesmana,Dewa Budjana,Gilang Ramadhan,AS Mates dan Donny Suhendra tengah melakukan final reherseal untuk konser “Java Jazz” yang akan disajikan jam 20.00 WIB.

Indra Lesmana (Foto Djajusman Joenoes)

Indra Lesmana (Foto Djajusman Joenoes)

Saat itu mereka berlima tengah memainkan komposisi yang ditulis Indra Lesmana pada awal dekade 90-an “Bulan Di atas Asia”.

Dewa Budjana (Foto Djajusman Joenoes)

Dewa Budjana (Foto Djajusman Joenoes)

Geletar komposisi yang seolah merangkum nuansa etnik musik Asia ini seolah mencubit kuping saya.Saya seperti terjerembab ke kawah deja vu.Kenapa ? karena atmosfer musik seperti ini,mungkin lebih tepat disebut fusion,syahdan dahulu antara paruh 80-an hingga awal 90-an pernah mengguncang degup nurani saya.

Gilang Ramadhan (Foto Djajusman Joenoes)

Gilang Ramadhan (Foto Djajusman Joenoes)

Saat itu juga,saya seolah telah merasakan keriaan apa yang akan saya peroleh dari persembahan Java Jazz yang seperti kebanyakan band-band era sebelumnya,pada giat melakukan ritual reuni.
Dan untungnya Java Jazz bisa menyelamatkan perahu mereka dari tudingan :”ah……sekedar nostalgia aja “.Mereka seolah menjahit kembali kain dan benang yang sempat terkoyak dalam rentang 11 tahun.Karena dalam kekiniannya,Java Jazz menyempatkan diri merekam komposisi komposisi baru yang sebahagian dibawakan dalam konser bahkan sudah terangkum dalam album terbaru mereka bertajuk “Joy Joy Joy”
Dalam kekiniannya pula,Java Jazz terlihat seperti menyeruakkan ambience baru dalam permukaan tata musiknya.Ada kesan bahwa mereka ini ingin lebih cenderung meniupkan ruh anasir musik rock terutama jika menyimak duo dynamic gitar yang dipintal Dewa Budjana dan Donny Suhendra.
Kesan itu telah terasa saat Java Jazz memulai pertunjukan pada jam 20.27 WIB dengan komposisi “Drama” yang diambil dari album “Java Jazz” di tahun 1993 silam.

Donny Suhendra

Donny Suhendra

Java Jazz tampil lugas dan ketat.Rhythm section-nya padu dan pipih.Gilang Ramadhan menampilkan aura seorang rock star mengingatkan kita pada gaya Tony Williams dalam proyek berbasisa rock atau Bill Bruford yang mengimbuh jazz dalam bingkai rock.Kurang lebih seperti itula analoginya.
Keputusan untuk meniadakan ruang untuk bunyi saxophone yang dulu diisi oleh almarhum Embong Rahardjo merupakan keputusan berani dan sarat ranjau spekulatif.Tapi toh dengan konsep yang agak bergeser,meski tak sampai menguburkan jatidiri yang tertoreh sejak awal,membuat tampilan Java Jazz lebih bernas,bergairah dan bermagnet pula.

Java Jazz

Java Jazz

Di sektor keyboard Indra Lesmana memang banyak menyeruakkan sound vintage dari perangkat piano elektrik Lender Rhodes Stage 73 maupun miniMoog synthesizers,Little Phatty Moog,Hammond XB2 termasuk Hammond Melodica.Dalam beberapa segmen Indra Lesmana pun tak pernah lepas dengan breathe controller-nya,sesuatu yang mungkin dilakukan untuk sedikit mengisi ruang yang pernah diisi almarhum Embong Rahardjo.
Dewa Budjana sendiri banyak mengdopsi riffing yang beratmosfer rock lewat gitar Parker-nya serta menggerayangi dawai Hofner Banjo yang kadang membuat saya jadi teringat dengan sosok Bela Fleck dengan Flecktones-nya itu.Kenapa ? karena oleh Bela Fleck maupun Budjana,mampu menepiskan imaji bahwa banjo hanya tepat untuk musik country,bluegrass atau dixieland belaka.

jj6
Musik Java Jazz relatif bisa diterima oleh bukan penyimak jazz advanced.Mungkin karena Java Jazz masih hirau dengan keramahtamahan notasi yang melodik.Mereka pun kerap melakukan repetisi.
Serta beat yang masih “masuk akal”.Walau terkadang pergeseran dari multi-tempo yang terecerabut dalam sebuah komposisi seperti “Exit Permit”,sebuah lagu baru karya Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan yang terdapat dalam album “Joy Joy Joy”,kadang bisa membuat penonton Java Jazz terkejut.Semisal pergeseran dari pola 7/8 lalu kemudian menukik lagi ke dalam pola normal 4/4.Bahkan di sini bassline yang dihadirkan Mates seperti membawa kita pada lagu “Do It Again” nya Steely Dan di paruh era 70-an.Degup jantung kita seolah diaduk disini.
Java Jazz pun terampil menata set list,dengan memperhitungkan dinamika dan mood .Ini terlihat ketika Jav Jazz yang kemudian memainkan The Seeker,karya lama mereka yang mengingatkan kita pada lagu-lagu jazz friendly yang kerap diputar di radio-radio dengan bersematkan label smooth jazz.

jj7
Pengaruh rock,terasa lagi pada komposisi baru karya Dewa Budjana dan Indra Lesmana bertajuk “Border Line” yang membawa imaji penonton pada adegan kejar kejaran dalam film layar lebar.
Riffing gitar berbingkai distorsi yang digetarkan Budjana terasa adalah bentuk adopsi Budjana terhadap karakter gamelan Bali yang agresif.Ini mungkin seperti ingin meneruskan tradisi adopsi musik etnikal yang terjadi pada lagu “Bulan Di Asia” : mereka menghasilkan atmosfer etnik tanpa harus menyemaikan instrumen tradisional.Hal ini juga pernah dikembangkan Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan dalam proyek Kayon beberapa waktu silam.
Dalam “I Wish”,Java Jazz terasa sekali ingin memperlihatkan bahwa mereka tak sekedar hanya ingin mengulang jejak yang pernah ditapak beberapa tahun silam.Setidaknya bagi generasi sekarang yang mungkin telah berakrab akrab dengan Medeski Martin & Wood mampu menyelami kaarkter Java Jazz disini.Namun,dalam beberapa sajiannya Java Jazz justeru mengingatkan saya pada Steps Ahead atau setidaknya Weather Report.Mulai dari penelusuran departemen keyboard,bass line hingga kemitraan duo gitarnya.Strumming gitar Budjana terasa tajam,bagaikan strumming gitar yang kerap diperlihatkan oleh band-band beraliran prog-met seperti Dream Theater misalnya.
Unsur funk yang fun pun terasa merembes dalam komposisi “Joy Joy Joy”.Penonton pun ikut terseret dalam pola riang yang dikedepankan Java Jazz.
Terlebih saat menyimak encore “Java’s Weather” yang ditampilkan dipenghujung konser Java Jazz.Karya Indra Lesmana ini memang diperuntukkan buat almarhum Josep Zawinul,dedengkot Weather Report,salah satu band fusion berpengaruh di dekade 70-an.

Setlist

1.Drama
2.Exit Permit
3.Lembah
4.The Seeker
5.I Wish
6.Crystal Sky
7.Border Line
8.Bulan Di Atas Asia
9.Violation
10.Joy Joy Joy

Encore :

11.Java’s Weather

Tika Penyanyi Oposisi

Posted: Desember 20, 2013 in Sosok, Tinjau Album

Jika anda tak mengenal sosok Tika itu berarti anda kerap terbuai musik-musik bergula yang bertebaran di tabung tabung televisi.Tika seperti anti hero. Tika selalu menentang arus.Dia selalu menghardik kelaziman.Itu yang saya tahu sejak menyimak album perdananya dulu dengan tajuk Frozen Love Songs yang kemudian bermetamorfosis menjadi “Defrosted Love Song“.Tika bertikas gelap,muram,galau dan meradang.
Sosok Tika seolah beroposisi dengan gemerlapnya para diva palsu yang mengumbar glamour dan sensasi imitasi.Tapi saya seperti disergah dengan penampilan Tika yang lebih mempanglimakan suara lirik dan dentam musik.

Tika (Foto Komunitas Salihara)

Tika (Foto Komunitas Salihara)

Tika tak ubahnya ikon yang tergurat disampul albumya “The Headles Songstress”…….bidadari tanpa kepala yang menyandang pengeras suara di tangan kanannya.Takwilnya adalah,sesungguhnya suara lebih penting dari wajah nan berpupur kepalsuan.
Lihatlah bagaimana Tika menempatkan lagu diurutan pertama pada lagu yang sama sekali terbebas dari beat bahkan terlepas dari iringan instrumen musik.Simaklah “Tentang Tirani” sebuah lagu dengan lirik yang nyata provoke dengan pola a capella yang mengingatkan saya pada eksplorasi Laurie Anderson di era silam.Di lagu ini Tika seperti ingin membuktikan bahwa suara atau resonansi mulut adalah instrumen musik tertua di dunia yang dipergunakan manusia.
Eklektika bermusik masih tetap terpancang di album ini.Pertanyaan dungu : apa sih aliran musik Tika ? justeru akan terjawab disaat kuping anda memahami ekspresi musiknya secara arif.Setidaknya disini akan terdengar ragam rentak blues,rock,jazz,march,tango,waltz,klasikal dan entah apalagi.
Begitupula dengan keragaman tema yang ditawarkan dalam lirik Indonesia dan Inggeris.Terdengar sangat provokatif.Tika tak lagi galau atawa gundah tapi dia berani menerjang dan menyergap berbagai isu yang terpampang tiap hari di sudut mata kita.

Tika - The Headless Songstress

Tika – The Headless Songstress

Ambil contoh lagu “Polpot” dimana Polpot sendiri mungkin merupakan konotasi terhadap sebuah pembantaian tak berperi kemanusiaan.Di lagu yang dikemas dalam tempo tango serta diimbuh tiupan trumpet bernuansa Spanyol,Tika ingin mengungkit perihal pembantaian intelektualitas massal oleh the magic box a.k.a televisi. Sebuah metafora yang cerdas :

Lady drama queen is getting hair and make up
Jerk you off with her tears
And redemption is for sale on channel 9
Heaven on channel 2
Loved into hyper reality

Lalu pandangan stereotipikal masyarakat terhadaphomoseksualitas yang terekam gamblang dalam lagu “Clausmophobia” : hipokrisi.
Tika pun menyindir perihal pola tingkah pseudonomik para selebritis yang dahaga popularitas dalam lagu “Red Red Cabaret” dengan ditingkahi style musik era 1930-an :

Yes,I’m the starring role
You ain’t got nothing on me

Ini masih ditambah lagi dengan lagu bernuansa provokatif “Mayday” yang cenderung ke zona kaum buruh.
Simaklah liriknya yang lugas dan gamblang :

And we are the one who who work their fields
And we are the one who who fight theirwars
And we are the one who who drop their bombs
And we are the one to cut this crap
And we are the one to bring the hell
Labour of the world unite

Tapi Tika tetap pula menyodorkan tema romansa namun dengan pola penulisan lirik yang tak seragam.Idiomnya beda .Simak “Waltz Muram” :

Ku dilanda badai rindu
Oh logika lindungi aku
Beri aku amnesia
Ku tak mau ingat dia.

Sebuah kepedihan cinta yang tak dangkal tentunya.
Menyimak album ini,kita seolah bertualang pada megarnya rimba lirik yang ekspresif serta musik yang beratmosfer jelajah,menelusuri sekat genre yang sarat jurang mengangang di kiri kanan.
Ah,siapa bilang pemusik Indonesia kualitasnya menurun ?

Tracklist

1.Tentang Tirani
2.Polpot
3.Venus Envy
4.20 Hours
5.Uh Ah Lelah
6.Red Red Cabaret
7.Ol’ Dirty Bastard
8.Infidel Castratie
9.Waltz Muram
10.Tentang Perang
11.Mayday
12.Clausmophobia

Menyimak Musim Bunga Franky & Jane

Posted: Desember 20, 2013 in Tinjau Lagu

Franky Sahilatua memang cerdas.Dia mengadopsi gaya country dan folk dalam atmosfer Indonesia.Bersama dengan adik kandungnya Jane Sahilatua,Franky membentuk harmoni vokal yang padu dan serasi.Keduanya,seperti lazimnya para penyanyi country,mengedepankan suara yang cenderung nasal tapi dalam cengkok yang terasa kuat kesan Indonesianya.

Musim Bunga - Franky & Jane 1978

Musim Bunga – Franky & Jane 1978

Seperti halnya penyanyi folk,duo Franky & Jane banyak bertutur tentang alam dan lingkungan serta kritik sosial.Interaksi sosial yang dilakukan Franky sebagai komposer memang banyak memihak ke nuansa yang marginal misalnya kehidupan kaum marginal yang papah atau keeksotisan suasana perkampungan yang indah dan belum tersentuh alam modern yang sarat rekayasa.

Franklin Hubert Sahilatua yang banyak dipengaruhi John Denver maupun Simon Garfunkel ini memang lancer menghadirkan narasi yang diangkat dari keseharian.Dan dengan ungkapan yang apa adanya.Kalimatnya sederhana tapi memiliki makna yang dalam.

Ini kelebihan utama Franky & Jane yang antara lain tertumpah pada tema lagu “Musim Bunga”,sebuah tema bertabir oase ditengah hiruk pikuk polusi kehidupan kota yang metropolis.Lagu “Musim Bunga” dikuakkan oleh bunyi recorder sopran dibarengi ritme castanet yang seolah mewakili aura sebuah perkampungan yang damai dan sejahtera.

 Telah dua kali saya terpaksa batal untuk menyaksikan konser Slank.Pertama,ketika Slank tampil sebagai salah satu performer dalam ajang Jakarta Blues Festival 2013 yang berlangsung di Istora Senayan 16 November 2013.Kedua, ketika Slank menggelar konser akbar untuk pertamakali dalam rangka ulang tahun yang ke 30 di Gelora Bung Karno Senayan 13 Desember 2013 lalu. Kenapa saya batal nonton konser Slank ? Bukan karena hujan atau bukan karena macet yang belakangan ini kerap membatalkan appointment orang-orang di kota metropolitan ini.Tapi karena konser Slank sudah terkontaminasi polusi politik dengan munculnya cameo politik dari para politikus yang tiba-tiba mendadak Slank,mendadak memuja-muji Slank,mendadak satu visi,satu wawasan,satu perjuangan dengan Slank.Phuihhhh……Semua narsisme politik berlatar dengan pernak-pernik Slank itu kemudian disebar dalam format pencitraan paling menjijikkan yang tersebar di media massa hingga media sosial.

Konser Slank dengan cameo politikus (Foto Tribunews)

Konser Slank dengan cameo politikus (Foto Tribunews)

Penampilan Slank dengan menggunakan cameo politikus ini menjadi semakin memualkan karena jika kita teliti secara seksama, bahwa sosok politikus yang tiba-tiba merasa seperti bersaudara dan seperjuangan dengan Slank ini memang memiliki agenda politik yang kuat yaitu mencalonkan  diri sebagai Presiden Republik Indonesia dalam Pemilu 2014.

Anak kecil juga paham kok,kenapa sosok seperti Gita Wirjawan yang  tiba-tiba merasa seia-sekata dengan Slank.Slank,band rock and roll dengan komunitas terbesar di negeri ini pastilah menjadi angan-angan vote getter pak Menteri yang lulusan Berklee Music Of College itu.

Jika sang politikus itu memang berjiwa Slank, kenapa baru sekarang membaur dengan Slank dalam pentas-pentas pertunjukan massal ?.Ketika Slank dirundung kemalangan yang berkepanjangan dengan adanya larangan manggung dan dicekal dimana-mana, dimanakah sang pemain kibor tamu itu ?.

Nah dengan alasan-alasan yang saya kemukakan diatas itulah pangkal persoalan saya membatalkan niat untuk nonton konser Slank.Saya bukan anti Slank.Tapi rasanya mata kepala saya tak rela dan tak ikhlas Slank menjadi tameng dan topeng politikus.Slank pada akhirnya ibarat gula yang dikerubuti oleh para semut politikus yang ingin mencapai tujuan politik mereka.

Apalagi dari media sosial dan media massa akhirnya terbetik kabar bahwa Konser Slank Nggak Ada Matinya itu dipenuhi dengan cameo-cameo politik mulai dari Menpora yang memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya (padahal beberapa waktu sebelumnya Pak Menpora sempat lupa syair lagu kebangsaan yang ditulis oleh WR Supratman itu),Gubernur Jokowi yang membacakan Manifesto 13 Ajaran Slank hingga Gita Wirjawan yang seolah Billy Preston dalam The Beatles maupun The Rolling Stones bermain keyboard sekitar 5 lagu.

Secara pribadi saya merasakan dua konser Slank ini sudah tak murni konser rock yang slenge’an tetapi sebuah konser sarat rekayasa dengan aura simbiose mutualisme yang sangat kuat menjerat.

Saat Slank menggelar konser di GBK 13 Desember 2013, komentar-komentar bernada penyesalan dengan sikap Slank yang manggung dengan cameo politik bertebaran di media sosial dan twitter.Sejujurnya,memang banyak yang menyayangkan konser ini bertaburan pernak-pernik cameo politik.

Namun hal semacam ini patut diakui bukan terjadi untuk pertamakali di negeri ini tapi telah berlangsung berkali-kali apalagi jika telah mulai memasuki masa musim kampanye Pemilu yang sudah pasti setiap kandidat atau partai partai politik peserta Pemilu membutuhkan banyak dukungan suara.Slank adalah kelompok musik yang kesekian yang mungkin telah menjadi tameng kepentingan suara politik. Bahwa sebetulnya musik sudah dianggap sebagai sebuah kekuatan  dalam membentuk opini politik,bahkan menggalang kekuatan politik.

Agaknya jemaah penonton konser musik yang tumpah ruah ,juga merupakan sebuah inspirasi bagi para politisi untuk menggalang massa.Para frontman musik atau sang vokalis memang terlihat bagai pemimpin informal yang menakjubkan. Tampil bagaikan sosok messiah yang mampu menggerakan jemaahnya dengan  jumlahnya alang kepalang itu.

Tak heran jika dalam setiap kampanye,sosok artis atau pemusik pun didekati oleh para politisi.Karena mereka yakin sosok para penghibur merupakan magnet kuat untuk menggalang massa sebanyak-banyaknya.

Di Negara kita itu telah terlihat pada arena kampanye Pemilu di tahun 1971,disaat Orde Baru mulai mengambil tampuk kekuasaan yang berlanjut hingga lebih dari 3 dasawarsa.

Bing Slamet lalu menyanyikan lagu “Pohon Beringin” yang dikemas dalam piringan hitam bertajuk “Souvenir Pemilu 1971”.Pemujaan terhadap Golkar menyeruak dalam lirik lirik pretensius yang dinyanyikan Bing Slamet. .

Sejak itulah fenomena sederet partai politik meminang sejumlah artis untuk dijajakan di garda depan mulai mencuat.Karena mereka mahfum kalangan selebritas ini memiliki massa kuat.Lewat nyanyian mereka yang mencandu khalayak atau tampilan wajah yang good looking akan menyihir benak khalayak untuk memilih partai partai mereka.

Dan formula semacam ini masih terus dipergunakan hingga sekarang ini.Bahkan.sekarang,para selebritas tak lagi dipakai sebagai pajangan namun diberi peluang menjadi caleg  walau dengan kapasitas intelektual yang sering dipertanyakan.Ini sebuah simbiose mutulisme yang sarat dengan aroma kekonyolan.

Musik ,pada galibnya ,akhirnya justeru merupakan komoditas yang  luar biasa laris hingga menjadi bagian dari sebuah kegiatan  ekonomi berskala raksasa di seluruh dunia. Patut pula dicatat bahwa  selain berfungsi ekonomis, secara politis musik berfungsi pula sebagai medium  yang jitu untuk menggalang solidaritas komunitas atau kelompok yang mengajak orang untuk bersatu padu menjadi sebuah kesatuan. Jadi semakin yakinlah kita bahwa sebuah  lagu kebangsaan yang anthemic menjadi media untuk mengingatkan rakyat agar setia terhadap  negara dan bangsanya serta memompa nasionalisme yang lunglai terkulai.Musik memang memiliki sihir lewat notasi lagu serta torehan lirik.

Deretan lirik lagu atau syair merupakan anasir vital dalam struktur komposisi lagu. Tanpa lumuran  lirik, makna musikal sebuah lagu bisa jadi seolah tanpa nyawa.Walupun sebetulnya lewat bunyi-bunyian instrumen musik saja sebetulnya mampu memvisulaissasikan visi sang pencipta lagu.Namun kekuatan lirik justeru lebih dahsyat,lebih menohok karena konteks verbalisme nya itu.Lirik adalah mantra yang mempengaruhi benak siapa saja yang mendengar atau menyimaknya. Penulis lirik yang indah dan bernas bisa disetarakan dengan para  penulis pidato-pidato yang inspiratif. Penyanyi  yang tampil di medium  panggung pertunjukan rasanya memiliki pesona yang  sama dengan para  orator kawakan yang siap menyihir massa.

Sebuah lagu dengan lirik yang memukau baru memilki arti jika disampaikan oleh penyanyi yang tepat.Peran penyanyi atau frontman sama dan sebangun dengan keanggunan dan wibawa seorang pemimpin.Bob Dylan,John Lennon,Johhny Rotten hingga Mick Jagger bisa dideretkan dengn Kennedy,Castro,Mao atau Obama sekalipun.Harry Roesli,Iwan Fals atau Slank pun tak bisa dibedakan lagi dengan Bung Karno,Bung Tomo atau siapa saja.

Idealnya,sosok pemusik atau politikus tetap harus menjalin sebuah komunikasi dengan para penggemar atau penyanjungnya.Obama atau Dylan hanyalah sebuah sosok kosong.Demikian juga Bung Karno atau Rhoma Irama,tanpa adanya para jemaah,tanpa eksistensi dari para pengikutnya yang senantiasa mengelu-elukannya : rakyat.

Politisasi  terhadap musik mungkin lebih berkembang di belahan bumi sana.Bukan disini.Maraknya gerakan protest song di Amerika Serikat misalnya di era 60-an hingga awal 70-an,merupakan sebuah kontribusi mengenai pentingnya musik tak hanya sebagai sebuah medium penghibur belaka.Protest songs ini berkumandang mengcounter isu abolisi,gerakan buruh,gerakan hak zazi manusia,anti perang ,gerakan feminis,gerakan lingkungan hidup dan entah apa lagi.

Bob Dylan lalu menyanyikan “Blowin’ In The Wind”,John Lennon meneriakkan “Give Peace Us Chance” hingga penyanyi kulit hitam Marvin Gaye mendendangkan “What’s Going On” untuk memprotes keterlibatan Amerika Serikat dalam kancah Perang Vietnam.Di bagian dunia yang lain tercatat nama nama seperti pemusik protes Victor Jara di Chili,Silvio Rodriguez di Kuba,Karel Kyryl di Ceko,Jacek  Kacmarzki di Polandia ataupun Vuyusile Mini di Afrika Selatan yang melantankan protest anti-apartheid.

Di Indonesia,Tonny Koeswoyo sekeluarnya dari penjara Glodok pada tahun 1965 setelah dipenjara karena memainkan musik ngak ngik ngok telah berteriak lantang pada tahun 1967 lewat lagu “To The So Called Guilties :

They judge the right against the wrong

While you don’t know what happened behind

Bahkan di tengah kejayaan rezim Orde Baru yang cenderung represif,Iwan Fals telah melantangkan “Surat Buat Wakil Rakyat” :

Wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
wakil rakyat bukan paduan suara
hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”

Dan Slank pernah membuat kuping para wakil rakyat di Senayan memerah karena lirik lagu “Gossip Jalanan ” :

Mau tau gak mafia di Senayan.

Kerjanya tukang buat peraturan.

Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Jelas sudah,bahwa pemusik bukanlah boneka pemikat dan bukan magnet penarik ummat.Pemusik adalah seniman yang punya sikap.Sesunguhnya,para pemusik memiliki kontribusi besar untuk menggiring khalayak ke sikap yang benar.Pemusik memiliki kekuatan yang sama dengan para pemimpin atau para politisi.

Salah besar jika seorang pemusik,seorang frontman,justeru membiarkan diri dan karya-karyanya  menjadi bagian dari politisasi oleh para politisi untuk mendukung Pemilu .Ingat musisi bukan politisi.Karena,seyogyanyalah,posisi politik atau sikap politik mereka justeru independen.Tidak berpihak kesana kemari.

Saya jadi teringat dengan sikap Yok Koeswoyo dari Koes Plus yang menolak untuk tampil bersama bersama SBY.”Koes Plus kan milik semua partai” kilah Yok Koeswoyo.Dan itu sebuah sikap yang harus dihormati.

Saat Vina Merekam Citra Biru

Posted: Desember 14, 2013 in Kisah, Musik Indonesia

Tahun 1979 Vina Sastaviyana Panduwinata pulang kampung setelah bertahun-tahun bermukim di Jerman Barat.Kerabat dekat maupun keluarganya meminta agar Vina lebih baik menjalani karir musik di Indonesia saja. Pemusik Mogi Darusman bahkan membujuk agar Vina lebih bagus berkiprah di Indonesia saja.Vina yang telah melahirkan singles Java/Singles Bar pada label RCA Jerman Barat akhirnya luluh,dan pulang ke Jakarta Indonesia.

Vina Panduwinata saat rekaman album Citra Biru di Golden Hand Studio (Dokumentasi Denny Sakrie)

Vina Panduwinata saat rekaman album Citra Biru di Golden Hand Studio (Dokumentasi Denny Sakrie)

Suaranya yang khas,kenes,sexy dan manja menjadi daya tarik yang memikat banyak kalangan di Jakarta pada awal 80an termasuk Jackson Arief pendiri dan pemilik label Jackson Records and Tapes yang berdomisili di Pluit Jakarta itu.Jackson Arief memiliki persyaratan utama untuk mengontrak penyanyi atau band dibawah label Jacksons Record.”Mereka harus memiliki suara yang unik dan berbeda dari penyanyi yang telah ada.Karakternya harus kuat” kurang lebih demikianlah yang dipaparkan Jackson Arief.

Maka lihatlah para penyanyi yang dikontrak pada saat Jackson Record pertamakali berdiri pada tahun 1977 antara lain adalah Farid Hardja bersama Bani Adam hingga Deddy Stanzah bersama Silver Train.Keduanya memiliki warna suara yang unik dan berkarakter.

Vina Panduwinata dan bassist serta komposer Rudy Gagola (Dok.Denny Sakrie)

Vina Panduwinata dan bassist serta komposer Rudy Gagola (Dok.Denny Sakrie)

Akhirnya Vina Panduwinata pun dikontrak oleh Jackson Record & Tapes.Suara Vina yang lentur,sexy dan manja ini memang dekat dengan musik bernuansa R&B kontemporer.Musik pop yang berkecemndrungan seperti itulah yang kemudian menyarungi nuansa album debut Vina Panduwinata bertajuk “Citra Biru” itu.

Carry Poetirai,Chris manuel Manusama dan Morgan Sigarlaki sebagai penyanyi latar Vina Panduwinata (Dok.Denny Sakrie)

Carry Poetirai,Chris manuel Manusama dan Morgan Sigarlaki sebagai penyanyi latar Vina Panduwinata (Dok.Denny Sakrie)

Sederet pemusik muda berbakat ditunjuk untuk mengiringi vokal Vina Panduwinata yang khas.Mereka adalah Billy Budiardjo,Rudy Gagola,Dodo Zakaria,Chris Manuel Manusama,Jose,Morgan Sigarlaki dan Carry Poetirai. Adapun lagu-lagu yang dinyanyikan Vina ditulis oleh Billy J Budiardjo,Rudy GagolaDarwin,Dodo Zakaria serta dua komposer alumni Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors James F Sundah yang dikenal lewat lagu Lilin Lilin Kecil serta Chris Manuel Manusama yang dikenal lewat lagu Kidung.

Billy Budiardjo dan Dodo Zakaria (Dok.Denny Sakrie)

Billy Budiardjo dan Dodo Zakaria (Dok.Denny Sakrie)

Album ini berhasil mencuatkan lagu Citra Biru karya James F Sundah yang saat itu mulai kerap di putar diberbagai radio swasta .Bahkan setelah  album perdana ini dirilis  Vina Panduwinata  memperoleh penghargaan sebagai  “Penyanyi Wanita Terbaik” dari hasil polling pembaca majalah remaja Gadis.

Muka A

  1. “Mawar Merah (Rudy Gagola) 
  2. “Citra Biru”(James F Sundah)
  3. “Aku Cinta Kau” (James F Sundah
  4. “Bahagia” (Rudy Gagola)
  5. “Rindu” (Rudy Gagola)

Muka  B

  1. “Khusuk” (Chris M Manusama)
  2. “Denny” (Rudy Gagola)
  3. “Jejaka Sendu” (Billy J Budiardjo/Amir ) 
  4. “Murka” (Rudy Gagola)
  5. “Salam Kami Dalam Lagu” (Chris M Manusama)

Album dengan sampul didominasi warna hijau dan menampilkan aktris Christine Hakim tengah berlari ini merupakan album yang tak pernah lekang ditelan zaman. Album yang digarap Eros Djarot bersama Yockie Soeryoprayogo (arranger/ kibor/drum), Chrisye (bas/vokal), Debby Nasution (kibor/ komposer), Berlian Hutauruk (vokal), Keenan Nasution (drum), dan Fariz RM (drum)  pada tahun 1977 .   Apa yang membuat album ini istimewa?.

Kaset Badai Pasti Berlalu (Foto Denny Sakrie)

Kaset Badai Pasti Berlalu (Foto Denny Sakrie)

Kehadirannya memang pada saat yang tepat, saat industri musik tengah booming dengan lagu-lagu pop yang pada zamannya sering diledek sebagai pop cengeng atau pop kacang goreng. Lagi pula, pada saat itu sebuah grup musik yang tengah berjaya diperas habis-habisan kreativitasnya oleh perusahaan rekaman yang menaunginya untuk produktif mencetak album. Korban pun
berjatuhan, di antaranya Koes Plus yang akhirnya terjebak dalam pola musik yang sama dan tak pernah berubah.   Peluang itu lalu diisi BPB, album yang dibuat mengikuti rilis film berjudul sama yang digarap mendiang Teguh Karya dari novel karya Marga T. Sebetulnya BPB tak diperhatikan orang. Namun, setelah stasiun-stasiun radio memutarnya terus-menerus, album ini langsung jadi pembicaraan khalayak.

Dan memang ada atmosfer yang beda jika menyimak album ini. Eros sebagai pengarah musik menampilkan nuansa yang terasa berbau Eropa. Lihatlah betapa instrumen kibor mendominasi tata musiknya. Eros bahkan menampilkan torehan lirik lagu yang romantis tanpa terjebak dengan pola-pola yang standar: patah hati berkepanjangan, meratap-ratap, dan cengeng.   Alhasil, dengan nuansa yang terasa beda, Eros bisa dianggap berhasil. “Padahal, enggak ada niat yang muluk-muluk ketika membuat album ini. Saya bersenandung, lalu Yockie dan Chrisye mengimbuhkan musiknya. Sangat sederhana, hampir
tidak istimewa,” ujar Eros awal September 2006.

Menurut Eros, album ini lahir setelah pembuatan music score BPB bersama dukungan tata musik Yockie. “Ide dasar semuanya datang dari Eros. Padahal, ia justru tak terampil memainkan alat musik. Eros menyenandungkan melodi, lalu saya dan Chrisye mencari akor-akornya,” ungkap Yockie.   Lalu, ketika menggarap kasetnya bertambahlah jumlah repertoar seperti Cintaku (Eros/Debby), Merepih Alam (Eros/ Chrisye), Semusim (Eros/Debby), Serasa (Eros/Chrisye), Khayalku (Eros/Debby), Pelangi (Eros/Debby), dan sebuah instrumental bertajuk E&C&Y. Lagu bercorak disko ini urung ditulisi lirik karena Chrisye menganggap sukar menyanyikannya.   Debby, yang pernah berkolaborasi dengan Eros menulis music score film Kawin Lari dan Perkawinan dalam Semusim, menjelaskan bahwa sebagian lagu yang terdapat dalam kaset BPB (Irama Mas) itu melodi dasarnya sebetulnya sudah pernah digunakan pada music score Perkawinan dalam Semusim (1976), seperti Angin
Malam, Semusim, Khayalku, Cintaku, dan Pelangi.

“Sayangnya, film itu memang kurang sukses di pasaran,” tutur Debby. “Sebetulnya Teguh Karya membuat film BPB untuk mengambil hati produsernya karena Perkawinan dalam Semusim dianggap kurang laku dan berat,” ungkap Slamet Rahardjo, 4 Januari 2007.   BPB direkam di Studio Irama Mas dengan penata rekaman top Stanley dan menghabiskan waktu 21 hari serta dana sekitar Rp 2 juta. Menariknya, para pemusik yang terlibat dalam pembuatan album ini adalah mereka yang telah tenar dan bermain di beberapa grup rock, seperti Eros (Barong’s Band), Yockie (God Bless), Chrisye dan Keenan (Gipsy), serta Debby (Young Gipsy dan Barong’s Band).

“Beberapa melodi dari lagu Pelangi saya comot dari lagu instrumental Genesis, After the Ordeal,” ungkap Debby, yang menggemari pemusik klasik Johann Sebastian Bach. Bahkan, jika menyimak versi awal “Khayalku”, orang teringat pada komposisi instrumental Procol Harum bertajuk Repent Walpurgis.   Bahkan tak
jarang kita seolah menemukan kemiripan “Merpati Putih” dengan “Leonie” nya Arjan Brass.  Menariknya,lagu “Pelangi” dibuat dengan pengaruh arransemen musik ala “Baby What A Big Surprise” nya Chicago.Dan secara kebetulan Chrisye memiliki timbre yang mendekati Peter Cetera,mantan vokalis Chicago.Pengaruh Bob James dan Patrick Moraz tersimak pada karya instrumental “E&C&Y”.  Pengaruh semacam itu pun lumrah.  Perpaduan antara suara tenor Chrisye dan suara sopran Berlian Huaturuk menjadikan album ini bernuansa classy.  Sebuah album yang sangat inspiratif bagi musik pop Indonesia.

TRACK LIST

1.Pelangi

2.Merpati Putih

3.Matahari

4.Serasa

5.Khayalku

6.Angin Malam

7.Merepih Alam

8.Semusim

9.Baju Pengantin

10.E&C&Y (Instrumental)

11.Cintaku

12.Badai Pasti Berlalu

13.Merpati Putih (Instrumental)

Menelusuri Tapak Musik Gito Rollies

Posted: Desember 14, 2013 in Sosok

Perjalanan musik dan hidup Gito Rollies memang penuh warna. Berawal dari pentas pertunjukan musik rock yang hedonistik hingga ke dunia religius di jelang usia ke-60 pada 1 November nanti. Lelaki berparas keras dengan nama lengkap Bangun Soegito Toekiman ini dilahirkan di Biak, Irian Barat.

Gito Rollies (Dokumentasi Denny Sakrie)

Gito Rollies (Dokumentasi Denny Sakrie)

Meskipun sekarang Gito lebih menekuni kehidupan Islami sebagai seorang dai, namun, Gito yang pertamakali bergabung di kelompok Bandung The Rollies di akhir dasawarsa 60-an itu, masih belum meninggalkan dunia musik. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), meski tak selesai ini, bahkan baru saja merilis album solo terbarunya bertajuk Kembali Pada-Nya di bawah label Sony BMG Indonesia.
Menariknya, di album yang beratmosfer religius ini, Gito menyanyikan ulang dua hit The Rollies yaitu Cinta yang Tulus (Kau yang Kusayangi), karya Ignatius Hadianto dan Hari Hari, karya Oetje F Tekol. Lirik kedua lagu ini memang sengaja diubah.
Lagu Cinta yang Tulus, yang dulu dinyanyikan almarhum Delly Rollies, bertutur tentang perasaan cinta seorang pria terhadap wanita pujaan, kini beralih makna menjadi cinta seorang makhluk Illahi terhadap Allah SWT. Lagu Hari Hari, yang dahulu liriknya mencerminkan sikap hedonistik materialistik berubah menjadi bagaimana seorang ummat memaknai perbuatannya sehari-hari untuk dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.
Napas rock memang masih terasa di album terbaru Gito ini, meski tidak dalam bentuk yang ekstrim. Di sini ia berkolaborasi mulai dari Yockie Soerjoprajogo mantan personel God Bless hingga kelompok Gigi.
Asam garam
Gito memang telah banyak melahap asam garam dunia pentas pertunjukan dan rekaman. Sosoknya mulai dikenal khalayak ketika bergabung dengan The Rollies di tahun 1968. Dengan rambut bergaya afro-look, Gito memang terlihat bagaikan James Brown, superstar berkulit hitam yang kesohor dengan musik soul dan funk.
Gito pada akhirnya memilih mengikuti gaya dan teknik bernyanyi James Brown. Suaranya yang serak lalu menyanyikan lagu-lagu James Brown, seperti It’s A Man’s Man’s Man’s World, I Feel Good, dan Cold Sweat pada album perdana The Rollies yang direkam Phillips Productions Singapore.
Selain terampil bernyanyi, Gito pun memiliki aksi pentas yang memikat. Apalagi, ia ternyata menguasai permainan instrumen trompet, hingga biola. Tak pelak, namanya pun dielu-elukan penggemar fanatiknya. Sayangnya, tindak-tanduk Gito saat itu cenderung dalam konotasi buruk. Bersama rekan segrupnya, Deddy Stanzah, Gito mulai berkubang dengan minuman keras dan narkoba. Bahkan, baik Deddy Stanzah maupun Gito sempat didepak dari The Rollies, karena ketergantungan narkoba.
Saat itu, di sekitar tahun 1973, Gito Rollies sempat menjadi vokalis kelompok Cockpit di Jakarta. Tak lama berselang, karena berjanji akan berdisiplin dalam bermain musik, Gito pun kembali bergabung dengan The Rollies. Di sela-sela waktu luang, terkadang Gito ikut mendukung konser Superkid, kelompok trio yang dibentuk sahabat dekatnya, Deddy Stanzah bersama Deddy Dorres, dan Jelly Tobing. Di tahun 1976, ia malah resmi berduet dengan Deddy Stanzah dalam album berbahasa Inggris dengan tajuk Higher and Higher yang keseluruhan lagunya ditulis oleh Denny Sabri, wartawan majalah Aktuil.
Salah satu yang menarik di album ini terdapat lagu yang diciptakan khusus oleh Denny Sabri setelah terinspirasi mengamati gerakan gerakan tubuh Gito bila sedang manggung, berjudul Do The Gito Dance. Lagu ini pun dikemas dalam aransemen musik soul dan funk, seperti penyanyi yang ditiru Gito: James Brown.
Penyanyi solo
Pada paruh dasawarsa 80-an, Gito Rollies mulai menjajaki karier musik sebagai penyanyi solo dengan merilis album Tuan Musik. Di album ini Gito didukung oleh sahabat-sahabatnya dari The Rollies, seperti Oetje F Tekol dan Jimmie Manoppo.
Ternyata, karier solo Gito Rollies bisa dianggap berhasil. Dan, pihak Sokha Records tetap merilis album-album solonya, termasuk berduet dengan Farid Hardja maupun dengan Deddy Stanzah. Harpa Record dan Atlantic Record bahkan menggandeng Gito berduet dengan vokalis God Bless, Achmad Albar lewat lagu-lagu, seperti Kartika dan Donna Donna yang menjadi hit di dasawarsa 90-an.
Pada album Goyah dan Nona, penampilan Gito Rollies didukung sederet pemusik dan komposer mumpuni, seperti Ian Antono, Dodo Zakaria, Billy J Budihardjo, Jimmie Manoppo, dan banyak lagi.
Layar lebar
Selain menuai sukses cemerlang di ranah musik, Gito pun ternyata memiliki bakat dalam seni peran. Di tahun 1978, ia tampil dalam film layar lebar bertajuk Perempuan tanpa Dosa bersama aktris laris saat itu, Yenny Rachman. Karakter yang dimainkan Gito cenderung pada sosok antagonis. Misalnya di film ini, ia berperan sebagai Freddie, seorang penjahat yang berobsesi hingga memasuki dunia rekaman. Tapi dalam film Kereta Api Terakhir, Gito malah berperan sebagai prajurit Tigor.
Di dasawarsa 2000, sosok Gito masih berkibar di layar lebar. Misalnya, ia berperan sebagai penjual buku bekas yang bijaksana dalam film Ada Apa dengan Cinta yang disutradarai Rudy Sujarwo. Atau berlaku sebagai Pak Ucok, yang bekerja sebagai pemutar film di bioskop sinepleks dalam film Janji Joni yang dibesut Joko Anwar. Di film ini pula, Gito berhasil meraih Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.
Gito Rollies tetap berkutat di dunia seni, walau dalam dimensi yang berbeda. Lelaki ini masih tetap berada di kerumunan khalayak. Jika dari era 70-an hingga 90-an Gito Rollies dikerubuti penonton dan penggemarnya, kini Gito dikelilingi oleh para jamaahnya.
DISKOGRAFI
Bersama The Rollies
1.The Rollies – The Rollies (Phillips,1968)
2.Halo Bandung – The Rollies (Philips,1969)
3.Let’s Start Again – The Rollies (Remaco,1971)
4.Bad News – The Rollies (Remaco,1972)
5.Sign of Love – The Rollies (Purnama Record,1973)
6.Live in TIM – The Rollies (Hidajat & Co 1976)
7.Tiada Kusangka – The Rollies (Hidajat & Co,1976)
8.Keadilan – New Rollies (Musica Studios,1977)
9.Dansa Yok Dansa – New Rollies (Musica Studios,1977)
10.Bimbi (Vol 3) – New Rollies (Musica Studios,1978)
11.Kemarau – New Rollies (Musica Studios,1978)
12.Kerinduan – New Rollies (Musica Studios,1979)
13.Pertanda – New Rollies (Musica Studios,1979)
14.Rollies ’83 (Mabuk Cinta) – Rollies (Sokha,1983)
15.Rollies (Astuti) – Rollies (Sokha,1984)
16.Rollies’86 (Problema) – Rollies (Sokha,1986)
17.Iya Kan? – Rollies (Sokha,1990)
18.New Rollies ’97 – New Rollies (Musica Studio,1997)
ALBUM SOLO
1.Tuan Musik (Sokha Records 1986)
2.Permata Hitam/Sesuap Nasi (Sokha Records 1987)
3.Aku Tetap Aku (Sokha Records 1987)
4.Air Api (Sokha Records 1987)
5.Tragedi Buah Apel (Sokha Records 1987)
6.Goyah (Sokha Records 1987)
7.Nona/Esmiran (Sokha Records 1989)
8.Hari Dansa (Bursa Musik 1990)
9.Kembali Pada-Nya (Sony BMG Indonesia 2007)
ALBUM DUET
1.Higher and Higher – Bersama Deddy Stanzah (SM Recording 1976)
2.Koq (Lepas Sensor) – Bersama Deddy Stanzah (Sokha/DS Records 1988)
3.Sop Dihidangkan – Bersama Farid Hardja (Sokha Records 1988)
4.Donna Donna – Bersama Achmad Albar (Bursa Musik,1990)
5.Kartika – Bersama Achmad Albar (Harpa/AR 1990)
ALBUM TRIO 1.Jangan Cemberut – AGE (Achmad Albar,Gito Rollies,Eet Syahrani) (AR 1991)
ALBUM SOUNDTRACK
1.Valentine (Blackboard 1990)
BINTANG TAMU/KOMPILASI
1.Festival Lagu Populer Indonesia 1980 (Pramaqua 1980)
2.Festival Lagu Populer Indonesia 1986 (Billboard 1986)
3.Heavy Slow Rock (Atlantic Records/Sokha 1988)
4.Bintang Rock Indonesia (Atlantic Record 1989)
5.Kharisma Indonesia 2 (Atlantic Record 1989)
6.Tembang Peduli (Ceepee Records 1998)
7.Pop Muslim (Blackboard 2000)
8.Kita untuk Mereka (Sony BMG Indonesia 2005)
9.Istighfar – Opick (Forte 2005)
FILMOGRAFI
1.Buah Bibir (PT Sarinande Films 1973),Cameo
2.Perempuan tanpa Dosa (PT Isae Film 1978) Aktor
3.Di Ujung Malam (PT Garuda Film 1979) Aktor
4.Sepasang Merpati (PT Gramedia Film 1979) Aktor
5.Permainan Bulan Desember (PT Matari Film 1980) Aktor
6.Kereta Api Terakhir (PPFN 1981) Aktor
7.Halimun (Remaja Ellynda Film 1982) Aktor
8.Puteri Duyung (PT Budianta Film 1985) Aktor
9.Ada Apa dengan Cinta (Miles Production 2001) Aktor
10.Gerbang 13 (Revol Film 2004) Aktor
11.Janji Joni (Kalyana Shira Films,2005) Aktor

(Denny Sakrie )

Tulisan ini dimuat di koran Republika 17 September 2007