Ketika membuka dan bongkar-bongkar tumpukan foto yang teronggok di box plastik di rumah saya,untuk dipilih sebagai ilustrasi buku saya nanti “100 Tahun Musik Indonesia 1905 – 2005″ yang bakal diterbitkan GagasMedia, saya kembali menemukan foto penyanyi rock sohor era 70an Deddy Stanzah.Foto ini bukan hasil jepretan saya, bahkan hingga detik ini saya tidak tahu siapa fotografer foto Deddy Stanzah ini.Kenapa foto ini bisa ada ditangan saya ?

Nah, itulah yang akan saya tuturkan .Foto ini saya terima dipertengahan bulan Desember tahun 1982 di Makassar.Saat itu saya masih bermukim di kota Anging Mamiri, saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.

Sampai saat ini saya belum mengetahui siapakah fotografer yang membuat foto tentang almarhum Deddy Stanzah ini.(Dokumentasi Denny Sakrie).

Sampai saat ini saya belum mengetahui siapakah fotografer yang membuat foto tentang almarhum Deddy Stanzah ini.(Dokumentasi Denny Sakrie).

Saat itu saya dan teman-teman dari alumni SMA Negeri 1 Makassar angkatan tahun 1982 mengadakan sebuah konser rock tutup tahun yang berlangsung selama dua malam berturut-turut yaitu tanggal 31 Desember 1983 dan 1 Januari 1984 di Gedung Olahraga Mattoanging di Jalan Cenderawasih Makassar.Konser rock itu selain menampilkan band-band lokal seperti Ground Fire dan Dekres, juga mengundang band-band rock dari Jakarta dan Bandung, ada Acid Speed Band yang membawakan lagu-lagu The Rolling Stones, ada Tony Wenas yang mewakili Solid’80,juga ada Aba Bong dari Bandung serta duo legendaris Deddy Stanzah dan Gito.

Saat itu saya kebagian tugas sebagai Humas.Lalu saya membuat press release untuk acara tersebut,serta menulis sejumlah artikel tentang acara tersebut di koran-koran lokal seperti Pedoman Rakyat,Tegas  dan Harian Fajar.Dari setiap pemusik dan band yang tampil telah menyertakan foto-foto untuk keperluan promosi acara.

Salah satu foto tersebut adalah foto Deddy Stanzah tengah berpose santai dengan tatapan yang tajam.Foto inilah yang kemudian dipakai untuk pembuatan leaflet serta dipakai sebagai illustrasi tulisan-tulisan saya yang dimuat di koran-koran Makassar saat itu. Jelas foto Deddy Stanzah ini banyak menyimpan kenangan yang tak mungkin terlupakan sepanjang hayat dikandung badan. Hingga akhirnya saya menemukan foto itu kembali  di bulan Desember 2013, tepat 30 tahun yang silam.

Sosok Theodore KS di dasawarsa  70an dikenal sebagai jurnalis rock dari majalah TOP,dan kini menjadi kontributor harian Kompas  tapi selain itu lelaki berkacamata ini ternyata memiliki sisi yang berbeda yaitu sebagai penulis lirik dari beberapa album rock maupun pop.

Menurut pengakuan Theodore orang yang pertamakali memintanya untuk menulis lirik lagu adalag Donny Fattah.Theo lalu menyanggupi dan menulis lirik bertajuk “Mimpi” yang kemudian dimasukkan dalam album D&R yang dirilis Pramaqua tahun 1977 dan dinyanyikan oleh almarhumah Ida Noor dari Noor Bersaudara.Diluar dugaan lagu ini menjadi hits.Tahun 1977 Ira Puspita menyanyikan lagu yang liriknya tentang tema ekspresi juvenille.Di akhir era 90an sebuah band indie pop Klarinet kembali menyanyikan lagu bernuansa folk itu.Di album D& R Theo juga menulis lirik yang terinspirasi dari anak perempuan Donny Fattah yang baru lahir dengan nama “Cindy” yang kemudian dinyanyikan Keenan Nasution.Melihat kemampuan menulis lirik yang bagus dari Theo Keenan pun sempat meminta Theo untuk menulis lirik lagu yaitu lagu “Embun” yang terdapat dalam album “Tak Semudah Kata Kata” (DD Record 1979).

Theodore KS dan Ian Antono (Foto Denny Sakrie)

Theodore KS dan Ian Antono (Foto Denny Sakrie)

 Namun Theo ternyata banyak berkolaborasi dengan Ian Antono dalam menulis lagu.”Saya dulu bertetangga dengan Ian di Tebet,jadi kami akrab dan Ian lalu meminta saya menulis lagu.Kadang saya bikin lirik lagu untuk God Bless saat mereka tengah mau rekaman di studio” papar Theodore Ks.Lagu “Selamat Pagi Indonesia” yang diambil dari album Cermin (JC Record 1980),Theo mengambil inspirasi dari Kusni Kasdut,perampok yang menghadapi eksekusi tembak mati pada tahun 1979.Kusni Kasdut sebetulnya adalah prajurit desertir yang kemudian melakukan tindakan kriminal.Di album Cermin,Theo juga menulis lirik “Balada Sejuta Wajah”.Di tahun 1987 Ian Antono kembali meminta Theo menulis lirik lagu yang kemudian dikenal dengan “Rumah Kita“.Yockie Surjoprajogo juga pernah meminta Theo menuliskan lirik lagu,akhirnya muncul lagu “Dia” yang dinyanyikan almarhum Chrisye dari album “Jurang Pemisah” (Pramaqua 1977) serta juga dinyanyikan oleh kelompok Aria Junior.

Theodore KS mengingatkan saya pada Pete Sendield, penulis lirik yang banyak menulis lirik-lirik lagu untuk berbagai band bercorak rock progresif mulai dari King Crimson,Emerson Lake and Palmer,Roxy Music,PFM bahkan juga menulis lirik untuk penyanyi penyanyi pop seperti Celine Dion,Cliff Richard,Cher hingga Leo Sayer.

 

Indonesia Adalah Musikimia

Posted: Desember 3, 2013 in Liputan

Sebagian besar personil Musikimia adalah personil Padi, mulai dari vokalis Fadly,drummer Yoyo dan bassist Rindra ditambah Stephan Santoso,orang belakang layar yang sebelumnya banyak membidani rekaman-rekaman Padi, mengisi posisi gitar.Stephan sebelumnya adalah gitaris dari band All Size yang hanya sempat rilis satu album itu.

Musikimia saat membawakan lagu Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Musikimia saat membawakan lagu Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari Koes Plus (Foto Denny Sakrie)

Senin 2 Desember 2013  kemarin saya diundang Musikimia dan labelnya Sony Music Indonesia untuk peluncuran album kecil bertajuk “Indonesia Adalah…..” yang berisikan 5 lagu masing masing “Ini Dadaku” yang menurut Fadly terisnpirasi dari jargon Ir Soekarno mengobarkan semangat patriotisme dan nasionalisme “ini dadaku mana dadamu”, lalu ada lagu yang terisnpirasi dari puisi karya aktivis Widji Thukul “Merdeka Sampai Mati”,juga “Apakah Harus Seperti Ini” dan dua lagu klasik yaitu Tanah Airku karya Ibu Sud dan Kolam Susu karya Yok Koeswoyo dari album Koes Plus Vol.8 (Remaco 1973).

Yoyo drummer Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Yoyo drummer Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Musikimia tampaknya ingin merekonstruksi aura musik masa lalu yang dilumuri pembacaan puisi yang penuh gugat dan menimbulkan semangat.Di lagu “Merdeka Sampai Mati” muncul dua puisi Widji Thukul yaitu “Sajak Suara ” dan “Peringatan”.

Fadly dan Rindra (Foto Denny Sakrie)

Fadly dan Rindra (Foto Denny Sakrie)

Lalu di lagu “Tanah Air” kembali muncul sebuah puisi tanpa tajuk karya seorang siswa SMP di Cirebon yang secara tak sengaja ditemukan Fadly di laman Facebook beberapa waktu silam.

Album kecil, demikian istilah yang dipakai Musikimia untuk mini album atau EP, merupakan pemanasan sebelum rilis album besar yang direncanakan dirilis pada tahun 2014.

Dalam peluncuran album “Indonesia Adalah” yang dilengkapi dengan bonus DVD ini Musikimia juga tampil menyanyikan ke 5 lagu dalam album yang covernya menampilkan peta Indonesia dalam sketsa bati.

Inilah personil Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Inilah personil Musikimia (Foto Denny Sakrie)

Tampaknya Musikimia ingin menampilkan wajah Indonesia dan semangat kebangsaan yang mulai terlihat memudar belakangan ini.

Mungkin ini untuk pertamakali saya diminta jadi pembicara musik membahas tentang Musik Rai dan Hiphop.Beberapa bulan lalu sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia Jurusan Sastra Prancis meminta kesediaan saya untuk menelusuri budaya pop di Prancis dalam hal ini adalah konstelasi musik Rai yang berkembang di Aljazair,salah satu koloni Prancis  yang ternyata pada akhirnya justru memberikan kontribusi tersendiri pula dalam lingkup budaya pop di Prancis.Dan pada akhirnya musik Rai yang bermuasal dari tradisi kaum muslim itu bersenyawa dengan hip hop yang berkembang pesat di Prancis.Ini sebuah fenomena menarik tentunya lewat pembenturan-pembenturan untaian budaya yang berbaur dalam sebuah cawan kontemporer.Saya lalu mengiyakan tawaran menjadi pembicara tersebut, karena pada dasarnya saya memang suka dan mengakrabi produk-produk bernuansa eklektik,pembenturan tradisi dan budaya yang bermuara pada kekinian yang berbingkai pola kontemporer.

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Suasana diskusi tentang Musik Rai,Rap,Hiphop dan Beatbox dalam event FestiFrance 2013 di Universitas Indonesia

Talkshow musik ini diberi tajuk “Seminar Rap,Rai,Hip Hop & Beatbox” dan merupakan rangkaian dari event FestiFrance 2013 yang digagas Mahasiswa Fakultas Sastra Prancis Universitas, berlangsung pada kamis 14 November 2013 mulai dari jam 10 hingga 12 siang bertempat di Auditorium Gedung   9 Kampus Depok Universitas Indonesia. Selain saya,seminar ini juga menghadirkan dua wakil dari komunitas beatbox Indonesia yaitu MouthFx.

Diskusi Rai2

Mungkin masih banyak yang merasa asing dengan musik Rai.Tapi saya yakin sebetulnya banyak yang telah mendengarkan musik Rai tanpa sengaja misalnya saat berada di mall-mall.Di saat bulan suci Ramadhan biasanya secara tak sengaja banyak lagu-lagu rai yang berkumandang.Mungkin mereka mengira lagu-lagu Rai itu liriknya tentang syiar Islam, padahal liriknya sama sekali tak berkaitan dengan suasana religi kaum muslimin.Cengkok Arab dari sang Cheb atau Cheba,demikian julukan untuk penyanyi Rai .Cheb untuk lelaki dan Cheba untuk wanita.

Dis Rai 4 Saya sendiri baru menyadari Rai ketika Sting menyanyikan lagu Desert Rose dengan nuansa Arab Aljazair lewat penyanyi rai bernama Cheb Mami di album “Brand New Day” nya Sting yang dirilis tahun 1999.

Di ruangan FIB UI itu ,saya mulai dengan memaparkan asal muasal musik Rai yang berkecambah dari Aljazair yang merupakan Negara koloni Prancis.

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Para peserta Seminar Musik Rai,Rap,Hiphop & Beatbox di Universitas Indonesia

Rai yang mulai berkembang pada era 30an ini merupakan musik  hibrida dari Arab,Afrika,Spanyol dan Prancis.Musik Rai ini adalah representasi budaya dari kaum Maghribi yang ada di Prancis. Musik Rai  mulai memperlihatkan sebuah grafik popularitas yang membumbung tinggi pada saat event Festival De Bobigny et La Vilette   yang digelar pada 26 januari 1986.Menyusupnya elemen Rai ke Prancis ini berkaitan dengan migrasi dari kaum imigran Maghribi di Prancis pada abad ke 20.

Manakala rai mulai melakukan penetrasi di wilayah Prancis, mulai terlihat dan dirasakan adanya pergeseran-pergeseran dalam konsep rai walau tak sampai mengubah bunyian dasar secara menyeluruh.Masuknya instrument elektronik seperti drum machine,looping hingga scratch vinyl diatas turntable serta rappin’ mulai terdengar menyeruak.Tapi instrument klasik seperti dabourka maupun akordeon masih tetap dipertahankan,dan sebetulnya merupakan elemen penguat jatidiri dari Rai itu sendiri.Imbuhan-imbuhan yang memperkaya Rai ini bahkan mulai ditaburi nuansa hip hop yang kental seperti tersimaknya elemen beatbox yang inovatif .

Secara historis musik Rai itu lahir dari masyarakat kecil yang ingin menyuarakan suara hatinya.Polos,tanpa basa-basi,apa adanya bahkan mungkin bisa terdengar nyaris vulgar.

Kenapa rai bisa menyeberang ke Prancis ? Penyebabnya adalah ketika para pemusik dan penggiat musik Rai justru tak mendapat tempat di Aljazair yang menyebabkan mereka lalu hijrah ke Prancis untuk mengekespresikan musik rai tersebut.Di Aljazair konten musik Rai dianggap amoral dengan tema-tema seperti seksualisme,minuman keras dan penderitaan hidup.Hal yang juga mungkin memiliki kesamaan dengan musik  dangdut di Indonesia.Musik Rai pada akhirnya dianggap berseberangan dan bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.dan akhirnya eksoduslah Rai ke Prancis.Disinilah Rai mulai mengalami pergeseran-pergeseran dalam bingkai modernitas yang absolut.

Diskusi yang dipandu oleh dosen FIB UI itu memang membuka wawasan orang tentang Musik Rai yang kemudian berubah menjadi budaya urban.Apalagi dua beatboxer dari Mouthfx secara detil dan terperinci menguraikan tentang kemempelaian Raid an Hiphop termasuk beatbox di Prancis dan pengaruhnya di Negara-negara Eropah lainnya.

Roni Harahap memainkan piano akustik dikelilingi anggota Guruh Gipsy

Roni Harahap memainkan piano akustik dikelilingi anggota Guruh Gipsy

Ini peristiwa tahun 1975 dimana Guruh Soekarno Putera dan Roni Harahap hingga larut malam masih berkutat merampungkan sebuah lagu untuk album Guruh Gipsy dikediaman Guruh di Jalan Srwijaya 26 Kebayoran Jakarta Selatan.

”Saya sudah nggak sabar melihat Guruh yang menyenandungkan lagu ciptaannya tentang indahnya Indonesia.Mendayu dayu.Kurang semangat “ ujar Zahrun Hafni Harahap atau lebih dikenal dengan panggilan Roni Harahap pianis Gipsy yang tergila gila dengan Keith Emerson.

“Karena kesal,lalu saya mainkan intro lagu disko yang lagi ngetop saat itu “That’s TheWay I Like It dari KC & The Sunshine Band.Tapi aksentuasinya saya balik” ujar Roni Harahap .

“Wah,itu lagu ciptaanmu Ron ?” Tanya Guruh lirih.

“Iya……yang gini dong Gur biar lebih semangat” pancing Roni.

Alhasil Roni Harahap merampungkan seluruh melodi lagunya.Guruh kemudian beringsut menambahkan barisan lirik.Judulnya pun gagah : Indonesia Maharddhika.Sebuah lagu bercorak Bali rock pun menjelma.

Guruh yang gemar membaca memang terampil menyusun kata untuk lirik lagu.Guruh yang terpengaruh gaya penulisan  Ronggowarsito kemudian menuliskan lirik yang tak lazim..

“Ron,saya membuat lirik lagu dengan mengabadikan nama personil Guruh Gipsy nih” celutuk Guruh.Secara menakjubkan Guruh akhirnya berhasil memasukkan  nama pendukung Guruh Gipsy (Oding,Roni,Kinan,Abadi,Chris dan Guruh)  pada setiap huruf pertama lirik lagu “Indonesia Maharddhika”. :

Om awignam mastu DING aryan ring sasi karo

ROhini kanta padem NIshite redite pratame

KIlat sapte tusteng nante NANte wira megawi plambang

Aku dengar deru jiwa BAgai badai mahaghora DI nusantara raya

Cerah gilang gemilang Harapan masa datang Rukun damai mulia

Indonesia tercinta Selamat sejahtera

GUnung langit samudera RUH semesta memuja

Mungkin berbeda dengan penyanyi-penyanyi sekarang yang sangat berambisi ingin menjadi penyanyi internasional dengan menggembar-gembirkan slogan Go Internasional namun tak berbuah bukti, maka Vina Panduwinata tanpa banyak gembar-gembor malah telah melakukan hal tersebut sekitar 35 tahun yang lalu lewat rilisan singles Java/Singles Bar pada label internasional RCA Jerman di tahun 1978.

Vinyl singles Vina Panduwinata di tahun 1978 "Java" yang dirilis RCA Record (Foto Denny Sakrie)

Vinyl singles Vina Panduwinata di tahun 1978 “Java” yang dirilis RCA Record (Foto Denny Sakrie)

 

 

 

 

 

 

Mungkin banyak yang tak mengetahui hal ini. Dan uniknya, Vina Panduwinata malah memilih untuk kembali ke Indonesia menekuni karir musiknya yang dimulai  sejak tahun 1980 lewat album “Citra Biru” yang dirilis Jackson Records and Tapes.Menurut Vina,ikhwal lembalinya ke Jakarta itu atas anjuran pemusik almarhum Mogi Darusman.Mogi yang juga pernah merilis beberapa rekaman di Austria dan Barcelona itu menganjurkan agar Vina kembali ke Indonesia.

M

 

 

Inilah singles internasional penyanyi (Indonesia Vina Panduwinata (Foto Denny Sakrie)

Inilah singles internasional penyanyi (Indonesia Vina Panduwinata (Foto Denny Sakrie)

ogi yakin bahwa Vina akan menjadi sosok yang lebih dibicarakan orang dalam khazanah musik Indonesia.Apa yang dianjurkan Mogi ternyata memang benar.Vina akhirnya meraih sukses gilang gemilang di negaranya sendiri,Indonesia.

Album ini ada yang mau jual seharga Rp 1,3 Milyar

Album ini ada yang mau jual seharga Rp 1,3 Milyar

Saya langsung ngakak terpingkal-pingkal seketika,saat melihat sebuah iklan terpasang di laman kaskus seperti tertera dibawah ini.Yuk kita lihat bersama isi iklan rada gemblung ini .Silakan  :

Piringan Hitam ‘Bersuka Ria Dengan Irama Lenso’ Ir. Soekarno

18-05-2013 08:22

Kondisi Barang : Second
Harga : Rp. 1.300.000.000
Lokasi Seller : Jawa Barat

Dijual cepat koleksi piringan hitam ‘Bersuka Ria Dengan Irama Lenso’ dengan tanda tangan Ir. Soekarno di belakang PH. Beserta koleksi kaset-kaset lama & antik dengan jenis musik Rock ’70, Jazz, Country, Oldiest, Pop Indonesia lama, dll. kurang lebih ada 20.000 pieces kaset. Barang ada di Bandung.

Dijual dengan harga 1,3 M.
untuk nego atau informasi lebih lanjut silahkan hubungi:
085314812323 atau (022) 70385820

cek lebih lanjut untuk koleksi kaset di:
tokobagus.com | search: Kaset Antik Bandung
kaset-antik.blogspot.com

 
Hmmmm………ini yang jual piringan hitam ini pasti orang baru dan ingin mendadak kaya seketika. Mungkin ketika menemukan piringan hitam ini naluri bisnisnya mencuat seketika karena menyangka tulisan serta tandatangan berwarna merah yang ada di sampul belakang album ini adalah tandatangan asli almarhum Bung Karno. Anda bayangkan jika ada kolektor naif yang berminat dan membeli album ini seharga 1 Milyar.
Beberapa waktu lalu di basemen Blok M Square, seorang pedagang piringan hitam bernama Omen menjual album “Mari Bersuka Ria Dengan Irama Lenso” seharga Rp 700.000.Ada yang bilang itu harganya telah melesat tinggi keatas.Tapi ada yang berargumen rasanya masih masuk akal karena album yang dirilis pada tanggal 14 April 1965 ini dalam kondisi mulus serta dilengkapi semacam buklet tipis tentang isi album yang didukung Jack Lesmana dan kawan-kawan itu.Biasanya jika ada pedagang yang menjual album ini sering tak menyertakan buklet kecil tersebut.
Disekitar tahun 1990an akhir album yang berisikan lagu Gendjer Gendjer yang kontroversial itu harganya masih sekitar 15 ribu atau paling tinggi sekitar 20.000 atau 25.000.
Memasuki era 200an di saat kian banyak orang yang berminat untuk mengumpulkan album-album Indonesia era masa lalu,harganya mulai naik antara Rp 50.000 hingga Rp 150.000 atau Rp 200.000 tergantung kondisi dari piringan hitam tersebut.
Dan akhirnya penawaran sebesar Rp 1,3 milyar di kaskus itu jadi bahan guyonan orang-orang.Ah……sudahlah