Slank Nggak Ada Matinya !

Posted: November 22, 2013 in Kisah, Musik Indonesia, profil

Dulu di era 70an, jika ditanya tentang siapakah band yang sangat dikenal oleh rakyat Indonesia ? , setidaknya 80 persen dari masyarakat Indonesia mengetahui dan mampu menyanyikan lagu-lagunya .Maka jawaban yang pasti adalah Koes Plus.Mulai dari akar rumput hingga menengah keatas mengetahui keberadaan mereka.Namun agaknya,kini kita harus menambah satu lagi band seperti yang saya sebut tadi, yaitu Slank yang sejak awal mulai menebar virus musiknya kemana-mana. Musik Slank memang bagai virus yang tak terhindarkan dan tak ada yang mampu menghalangi, mulai menembus ke sendi-sendi kehidupan.

Slank era 90an

Slank era 90an

Bahkan,diluar dugaan,Slank berhasil membentuk “rakyat” baru yang kemudian dikenal sebagai Slankers.Dalam sejarah industri musik di negeri ini, mungkin baru Slank, kelompok musik yang dianggap berhasil menghimpun jutaan penggemar fanatik dalam fanbase yang tertata dibawah panji Slankers. Band-band sebelum Slank memang memiliki banyak penggemar juga tapi tampaknya belum ada kesadaran untuk menghimpun diri secara lugas seperti Slankers.Jelas ini merupakan sebuah fenomena musik yang menarik tentunya.Mereka tak lagi sekedar mengagumi atau menempatkan Slank sebagai sosok idola, tapi bahkan jauh melesat melebihi batas antara penggemar dan idolanya.Slank dianggap sebagai panutan jalan hidup, semacam way of life yang diimani kredo dan petuah musikalnya secara takzim.

Slank sekarang

Slank sekarang

Slank akhirnya tumbuh sebagai komunal,sebagai wadah dari perjuangan dan penyatuan sikap hidup terutama pada kalangan working class,pada kalangan kaum marjinal yang terpinggirkan.Dalam sudut pandang mereka Slank adalah sahabat seperjuangan yang memperjuangkan atau menyuarakan nasib atau uneg-uneg mereka.Pendek kata,bagi para Slankers, Slank bukan hanya sebagai band rock yang mengisi ruang hati mereka saja.Slank dimata mereka adalah isme atau mazhab yang mereka taati petuah-petuahnya.

Slank formasi 13

Slank formasi 13

Dengan rakyat Slank yang jumlahnya jutaan itulah,mungkin yang menyebabkan banyak kalangan politik mulai membidik Slank sebagai ikon politik yang menurut pikiran dan perkiraan mereka bakal mampu “ menyumbangkan” banyak suara untuk kepentingan politik.Namun,untunglah Slank tak bergeming sedikitpun.Mereka tak tertarik untuk menjalin kemesraan terselubung dengan para pelaku dunia politik.Slank tetap merupakan kelompok musik dengan fanbase terbesar serta kesadaran politik yang tinggi tanpa harus ikut berkubang dalam dunia politik.Slank tetap menebar virus musik.Seperti tagline Slank : Selama Republik Ini Berdiri.Slank Gak Bakal Mati.Titik.
Dan inilah komentar mereka tentang Slank :

Glenn Fredly (pemusik) :
Slank ada dimana-mana mereka lebih dari sebuah band rock n’roll, mereka adalah gaya hidup generasi menolak lupa…..
Erros Djarot (politikus,seniman) :
Mengapa Slank tetap bersemayam di hati penggemarnya ? Karena Slank hadir dengan kepribadian musik yang mampu masuk dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang menghidupinya.Karenanya Slank dapat tumbuh dan mengakar.
Aldo Sianturi (mantan Ketua Slankers Jakarta tahun 1993) :
Slank adalah bola api yang bergulir sesuka hati. Dia mampu membakar dan menghibur dengan pijar api yang menggelora. Slank adalah Slank yang tidak pernah mau diatur dan direkayasa tetapi lentur dalam beradaptasi. Sejak awal, karya cipta yang digulirkan Slank berhasil membentuk anak tangga yang tiada berujung.
Setiawan Djody (Maecenas) :
Aku mendengar,melihat dan memahami musik Slank.Mungkin boleh saja kalau aku disebut Slanker juga he he he it’s fine for me .Melihat sosok Kaka mengingatkan kenangan saya pada Iggy Pop. Slank memunculkan ekpresionisme serta sikap berontak.Slank maju terus berkarya melahirkan produk kebudayaan lewat musik.
Sudjiwotedjo (Seniman,Budayawan) :
Slank itu disegani i …waktu saya tur ngabuburit bareng GIGI di Cirebon, massa ricuh, Armand Maulana lalu bilang, nanti kalian kubilang ke Slank lho”…langsung mereka tertib seketika ..Slank itu PeDe tapi tidak arogan. Terakhir aku seruang dengan mereka dan Bunda Ipet September bulan lalu waktu ada acara di Teater Tanah Air.Mereka ramah….
Indra Yudhistira (sutradara dan praktisi TV) :
Kalau ada virus yang efeknya membuat orang menjadi senasib sepenanggungan, virus itu bernama Slank. Ia bukan cuma musik tapi cara berpikir anak muda Indonesia

Akmal N Basral (sastrawan) :

30 tahun Slank mengisi semesta musik Indonesia adalah 30 tahun yang membuat telinga dan mata penduduk Indonesia terbuka bahwa generasi muda tidak cukup hanya dijejali pelajaran formal di sekolah. Mereka bisa mendapatkan inti nilai-nilai persaudaraan dalam kemanusiaan, kepedulian pada lingkungan, menjauhi sifat munafik dalam politik, selain romansa masa remaja, dari syair-syair Slank yang ditulis tanpa beban teori selain ungkapan hati yang murni. Itu sebabnya mengapa Slank terus bertahan menjadi salah satu dekorator terindah salam cakrawala musik kita. Selamat melangkah ke-30 tahun kedua bagi Slank.”
Peter F Gontha (Pengusaha) :
Waktu saya tampilkan Slank di Java Jazz tahun 2009 banyak yang kaget dan bilang gak salah tuh.Tapi Slank akhirnya tampil memikat,apalagi saya mengajak pemusik jazz Michael Paulo,Tom Luer,Jaques Voyemant dan Tony Monaco untuk berkolaborasi dengan Slank.Dan, ternyata masyarakat terhibur sekali dengan kehadiran Slank.

Budi Schwarzkrone (Insan Film dan TV) :

Sebuah group band bertahan 3 dekade…luar biasa, bisa melembagakan komunitas penggemar yang fanatik dan kreatif..fans yg dikenal dengan sebutan ‘slankers’ …dari anak2 sampai remaja..sangat luar biasa. The rolling stone adalah awal ‘mentor’ bimbim sebelum membentuk slank, bila stone memiliki identitas grafiti bibir dower dan lidah terjulur maka slanks memiliki identitas grafiti lambang kupu2 yg membetuk huruf slank. Perlahan slank membentuk dan menemukan musik identitasnya sendiri..album pertama Suit suit…hehehe..langsung jadi ‘enormous hit’..sangat luar biasa, popularitas melambung, pemasukan berlimpah. Dalam perjalanan slank, sebagaimana kelompok musik remaja pun tidak lepas dari masalah ‘defections’ berseberangan pendapat antar personilnya, terutama dalam hal creative decisions menyangkut pilihan kreatitifitas. Sekalipun dalam warna musik Slank sudah lepas dari the rolling stone selaku mentor idola awal perjalanan karir, namun slank terpaku pada pakem gaya hidup ‘extra ordinary’ idolanya.. termasuk mengkonsumsi suplemen ‘pendongkrak’ kreatifitas dan energi ketika beraksi di panggung. Dalam hal ini peran bunda Iffet lah yang sangat luar biasa, bunda kandung bimbim ini bisa diterima sebagai ‘ibunda’ sekaligus manajer bagi seluruh personil slank..boleh jadi bunda iffet lah ‘perekat’ slank hingga bisa bertahan selama 30 tahun . selama 3 dekade peran bunda iffet bukan sekedar manager atau chaveron pengantar tapi betul2 jadi bagian slank. Pengalaman pahit, ketika menghadapi kenyataan anak dan keponakan terjerat narkoba. tidak ada seorang orangtua pun di dunia yang tak terpukul melihat anaknya menjadi pemakai narkoba. Apalagi ia seorang ibu. Jenisnya putau lagi, yang biasanya berujung maut bagi para pemakainya. Menyerahkah melihat kenyataan ini? Bunda Iffet malah menghadapinya dengan sabar, sampai akhirnya anak dan keponakannya itu terbebas dari jerat narkoba yang mematikan ini. Selamat ulang tahun..selamat berkarya..kembali meluncurkan album2 ‘enormous hit’ lainnya.

Firman (Slankers Palembang) :
Yang gua kenal, Slank mempunyai solidaritas tinggi dibanding band-band yang lain.Semua orang juga tau lagunya Slank selalu merakyat dengan selalu merakyat dengan apa adanya.
Dahlan Iskan (Menteri BUMN) :
Slank berumur panjang adalah karakter Slank yang kuat, Jadi kalau Slank nggak ada matinya itu saya terjemahkan dengan nggak ada matinya terhadap relevansi. Slank tetap relevan karena bisa menyesuaikan dari lagu-lagu perlawanan terhadap keadaan sosial yang berat menjadi lagu-lagu tentang perlawanan kepada yang lebih universal.
Addie MS (pemusik) :
Banyak grup musik yang yang terkenal karena karya-karyanya. Tapi Slank menjadi besar dan bertahan karena karya dan sikapnya yang justeru menginspirasi.
Eggy Melqiansyah (Slankers Indramayu) :
Menurutku Slank bukan sekedar band biasa tapi sangat Luar biasa.Lewat karya-karyanya yang mengangkat soal kehidupan sehari-hari baik lingkungan,politk dan lainnya.Slank juga bias menyatukan para pemuda se Indonesia untuk selalu PLUR.

Ekky Imanjaya (dosen dan peneliti budaya pop)
Tidak hanya bertahan hidup, Slank melakukan lebih dari itu, mengembangkan gaya Sembari mempertahankan semangat independen dan lirik yang selengean dan apa adanya namun kritis dan menghujam. Yang tak kalah menarik adalah bagaimana Slank membentuk sebuah subkultur yang kuat, unik, dan aktif: para penggemarnya.

Naratama (VOA TV Program Director) :

“If Rolling stones plays British rock genre, Slank also has its own Indonesian rock genre. They both have local touch, that’s why their music never dies”.
Mahfud MD (mantan Ketua MK) :
Saya lihat Slank sekarang rasa nasionalismenya sudah tinggi. Dulu lagunya Slank untuk kritik sosial sangat tinggi, birokrasi juga disentuh, lagunya Slank yang kritis juga dicekal.Saya berharap Slank akan tetap konsisten dengan musiknya.
Ade (Slankers Jambi) :
Slank itu rumahku ,tempatku bermain,curhat,senang susah,tempat aku berbagi.Setiap lagu-lagu Slank mengandung arti dalam kehidupan sehari-hari kita.
JJ Rizal ( Sejarawan) :
Slank bukan hanya membuat musik, tetapi dokumentasi sosial-budaya sezaman dengan sikap keberpihakan yang nyata.

Suaranya meliuk-liuk.Kadang menukik tajam dan melesat.Penuh kelokan.Agak glissando.Dan pemilik suara itu adalah Ellya Agus,Ellya Harris dan terakhir lebih dikenal sebagai Ellya Khadam.Namanya konotatif dengan “Boneka dari India” yang diaku sebagai lagu ciptaannya.Tapi,sesungguhnya,Ellya yang memiliki nama asli Siti Alya Husnah ,hanya menulis liriknya saja.Karena melodinya jiplakan dari sebuah lagu India yang diambil dari soundtrack film India kesohor di paruh era 50-an. Hal ini dibenarkan oleh Munif Bahasuan, yang pernah menjadi partner duet Ellya Khadam pada era 60an.”Lagu Boneka dari India itu memang aslinya diambil dari lagu India” imbuh Munif Bahasuan.

ELLYA

Apa boleh buat lagu itu akhirnya menjadi lagu “tanda tangan” Ellya.Hal semacam ini lalu berulang lagi di paruh 70-an ketika A.Rafiq tetangganya di Citayam Bogor, mengaku sebagai pencipta lagu “Pengalaman Pertama” dan “Pandangan Pertama“,padahal seperti halnya Nyonya Khadam,lagu itu pun merupakan plagiat dari lagu India.Ya…..sekali lagi apa boleh buat ?.

Situasi politik Jakarta sejak akhir 1950-an sampai awal 1960-an dalam keadaan bergolak. Bung Karno, yang baru saja mengeluarkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 setelah mendepak demokrasi liberal, mengajak rakyat menjadi kekuatan progresif revolusioner.

Bung Karno pun menghujat kebudayaan Barat, seperti dansa-dansi di Ball Room, rock n’ roll, serta The Beatles yang diledek sebagai ngak-ngik-ngok.Koes Bersaudara dianggap dekaden dan terhempas tiada daya ke penjara. Semua yang berbau Barat dibabat habis habisan tanpa tersisa.

Walhasil, Orkes Melayu menjadi tontonan yang paling digandrungi khayalayak antara lain main di pelbagai pesta hajatan, mulai dari pesta pernikahan hingga khitanan. Disinilah mulai mencuatl penyanyi Melayu, Ellya Agus, yang setelah dipersunting seorang pria India lalu ganti nama menjadi Ellya Khadam.

Arkian, gadis Kampung Kawi, Pedurenan, Jakarta Selatan, itu mulai berkarir di dunia tarik suara bermuasal dari balik jendela.Kejadianyya berlangsung di di Kwitang, Jakarta Pusat, di rumah seorang keturunan Arab. Ellya tidak menyanyi di atas pentas, melainkan mikrofon diangsurkan padanya yang sedang duduk bersimpuh di balik jendela.Sosoknya pun kian sohor dan harum.Gadis kelahiran 1928 itu bahkan menaklukkan penyanyi sohor Melayu saat itu, seperti Johana Satar maupun Hasnah Tahar.

Albumnya bertajuk “Boneka dari India” yang berisikan lagu lagu seperti “Boneka dari India”,”Seia Sekata”,”Pandangan Menggoda” maupun “Harapan Hampa” menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kelas bawah negeri ini.

Ellya, yang mengaku mengilai lagu-lagu India seperti lantunan vokal dari Lata Mageskher, juga belajar bahasa India dari suaminya, Khadam, keturunan India. Ellya sejak 1955 sampai masa kejayaannya dalam tahun 1980-an telah merekam tidak kurang dari 400 lagu. Kecintaannya terhadap lagu-lagu berirama India terlihat dari lagu yang diciptakannya. Ia banyak meniru lagu dari film-film India yang kala itu banyak penggemarnya.Bahkan secara “tak sadar” melakukan penjiplakan atau plagiasi.
Ratusan lagu dan puluhan album telah dirilisEllya Khadam bersama iringan El Sitara,orkes Melayu yang dibentuknya pada era 70-an.
Tapi toh EllyaKhadam toh ternyata tak sendiri,Oma Irama pun melalui proses yang “konyol” itu pula,menjiplak lagu milik Ray D ev Burman hingga Laximant Pyarelal,komposer yang banyak menggubah lagu-lagu dalam film India.

Setelah lagu “Boneka dari India” jadi booming, Ellya lalu ” menciptakan” lagu Kau Pergi Tanpa Pesan yang konon sebagai ungkapan rasa rindu terhadap kekasihnya, seorang keturunan Arab, yang pergi meninggalkannya. Ellya semakin dikenal ketika bersama Orkes Malayu Chandraleka pimpinan Husein Bawafie turut mendampingi penyanyi M Mashabi dan Munif Bahasuan.. Ellya yang selalu menggubakan “sari” busana nasional India termasuk bindi itu pun terhanyut pula dalam bermain di sejumlah film nasional.Dan pada 2 November 2009 sekitar jam 20.00 WIB,   Ellya Khadam yang tak pernah lepas dengan bindi dan busana sarinya itu telah pergi untuk selamanya.
Sayup sayup masih terngiang suara khas Ellya Khadam yang terpengaruh penyanyi India legendaris Lata Maghesker :

Kemanakah ah…akan kucari
gelap terasa ah…dunia ini
bagai tiada matahari

Kau pergi tanpa pesan
kunanti tiada datang
Dimana kau kini.Dimana kau kini
aku tiada berkawan lagi
aduh du du du du…

Apakah kau tak sadar
janji suci kau katakan
Dimana kucari dimana kucari
aku tiada berdaya lagi
aduh du du du du du….

Oh bagai raja-diraja
Dikala seseorang sedang mengalami jaya
Semua orang menyanjung-nyanjung dan memuja
Semua orang mengelu-elu dan memuji

Tapi bila telah tak terpakai
Dia dihina, dicaci
Dinista, dimaki
Seakan tak pernah dia berjasa
Seakan dia makhluk tak berguna

Namun tinta sejarah
Tak akan pernah musnah
Walau dihapuskan
Suatu saat kan tiba
Mata umat terbuka
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesal dan sesal
Oh..

Seakan tak pernah dia berjasa
Seakan dia makhluk tak berguna

Namun tinta sejarah
Tak akan pernah musnah
Walau dihapuskan
Suatu saat kan tiba
Mata umat terbuka
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesan dan sesal
Tinggal kesal dan sesal
Oh..

“Perikemanusiaan” adalah lagu yang ditulis oleh Guruh Soekarno Putera untuk ayahnya Soekarno. Lagu dengan lirik yang bersemburat gugat ini dinyanyikan dengan ekspresi geram,gugat dan gundah oleh penyanyi rock sohor  Achmad Albar dalam konser ” pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera”  yang berlangsung di Balai Sidang Senayan Jakarta pada januari 1979 .Jika kita telusuri lebih dalam lirik lagu ini, maka kita akan membanding-bandingkan dengan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para presiden republik ini di ujung tahta yang berakhir.Tragis dan mengenaskan. Agaknya sejarah terus berulang. lalu timbul pertanyaan apakah SBY akan mengalami hal serupa pula nanti ?Apa yang akan dialami SBY pada tahun 2014 nanti ?

Soekarno dan Soeharto

Soekarno dan Soeharto

Remy Sylado Orang Nakal

Posted: November 19, 2013 in Sosok, Tinjau Album

Jalan Tamblong adalah salah satu sudut jalan yang terpentang di kota Bandung yang kerap disebut Paris van Java itu . jalan Tamblong menjadi sumber inspirasi Remy Sylado menuliskan sebuah lagu yang nakal dan mbeling pada era 70-an.Saat itu,Remy Sylado yang bernama asli Japi Tambajong bekerja di majalah budaya pop Aktuil sekaligus juga mengelola Sanggar Teater dan Kelompok Musik Folk bernama Remy Sylado Company.
Liriknya nakal dan agak kurang ajar.Penuh muatan anti-establishment.Dan semangat menghujat dan menggugat peran orang tua yang kerap digambarkan dekaden.Superioritas anak muda yang berangasan tampak jelas dalam untaian kata hingga kalimat yang ditoreh Remy Sylado .

Remy Sylado saat menjadi penyanyi folk rock atawa gulayak cadas

Remy Sylado saat menjadi penyanyi folk rock atawa gulayak cadas

Remy Sylado melepas lima naskah drama yang menantang pemahaman kita selama ini mengenai moral dan nilai-nilai. Dengan cerdas dan satiristik, Remy Sylado yang bernama asli Japi Tambajong ini berupaya mengaduk-aduk masalah seksualitas sampai etika kekuasaan; dari soal sejarah bahasa Indonesia sampai makna kemerdekaan.
Remy pernah bikin karya sarat gugat anak muda atas kesewenangan orang tua dalam Orexas yang merupakan akronim Organisasi Sex Bebas.Sepertinya,saat itu,Remy Sylado  ingin mentransformasikan gerakan budaya pop anak muda era flower generation yang berpayung ritual ritual komunal seperti hippies yang sarat kliyang-kliyeng psychedellia.
Perhatikan penggalan torehan larik yang dibuat Remy Sylado :

Aku ingin tidur disebuah dusta, ketika aku mabok.
Kupasangkan kuping atas semua bunyi, tapi hatiku bangkang.
Siapa bisa perang lawan harga diri, bila kantuk menjajah,
Kularikan mata dari rasa lapar yang manja.

Salibkan mulutku, dengan sorak-sorai,
Atau tikamkan pisau.
Aku tetap raja atas kecewaku
pada bekas daun hijau.
Matahari boleh lunturkan warnanya, sampai panasnya musnah.
Aku tetap raja atas kecewaku, pada bekas daun hijau.

Dan dokumentasi karya-karya pop mbeling Remy Sylado terangkum dalam buku yang i juga dilengkapi dengan empat keping CD berisi 64 lagu karya asli Remy Sylado diantaranya adalah lagu Jalan Tamblong yang pernah dinyanyikannya dulu dalam beberapa versi di era 70-an.Lagu Jalan Tamblong pun pernah dibawakan penyanyi folk wanita Bandung Ritta Ruby Hartland hingga Doel Sumbang,salah satu pengagum musikalitas Remy Sylado.
Ini pengglan lirik Jalan Tamblong :

Puntung puntung rokok bersatukan ludah
Di jalan tamblong
Dimana tenggelam cinta atau benci
Atau sunyi hati

Berdatanglah disana para teladan
Digoda dingin memeluk surga yang semu
Yang didambanya pada suatu nafsu

Ayam berkokok setan gentayangan
Ranjang bernyanyi hujan
Berapa lama sandiwara usai
Yang bukan aktor tidak ambil bagian

Malam masih hidup tapi tinggal kerangka
Di jalan tamblong
Pulanglah hati yang sunyi pada miliknya
Menawarkan dusta.

Buku

Remy memang sosok multi dimensi.Dia paham musik,dia bikin musik,dia bikin teater,dia bikin puisi,bikin novel,mengkritik musik (dulu bahkan dia punya julukan tukang cari cacat musik Indonesia),dia main film,main sinetron,kadang dia menyebut dirinya seorang munsyi atau ahli bahasa.Dan ah entah apa lagi.
Pada sampul belakang buku “Jalan Tamblong” yang diterbitkan KPG Jakarta tertulis sebuah compliment dari seorang budayawan dan roahaniawan yang kerap menuliskan opini di harian Kompas pada era 70-an,M.A.W Brouwer :

“Remy Sylado orang nakal. Sama nakalnya dengan Voltaire dan Pasternak… Dia mempunyai kenakalan orang yang mau menyelidiki sendiri: kenakalan William Ockham, Erasmus, Martin Luther, dan Calvin. Justru orang itu yang membebaskan Eropa dari tindasan agama dan membuka jalan akan menjadi revolusi besar.”
M.A.W. Brouwer, Kompas, 18 Mei 1972

Barusan saya bongkar bongkar tumpukan piringan hitam pagi in.Dan saya menemukan sebuah album bertajuk “Christmas Song (1970) yang dirilis oleh PT Metropolitan Studio milik Yamin Widjaja,yang sekarang telah berubah menjadi PT MusicaStudio’s.

Album ini memuat lagu-lagu Natal seperti “Jingle Bells”,”White Christmas” hingga “I’ll Be Gome For Christmas”.Dinyanyikan sederetartis yang dikontrak oleh Metropolitan Studio’s yaitu Vivi Sumanti,Inneke Kusumawati,Tanty Josepha,Maya Sopha,Ernie Djohan dan satu satunya penyanyi pria Bing Slamet.Uniknya album ini rasanya lebih mencuat karena adanya tarikan suara yang khas dan elegan dari almarhum Bing Slamet.

Diiringi band Eka Sapta serta orkestrasi oleh Idris Sardi.

Acung jempol buat Bing Slamet terutama ketika menyanyikan lagu “I’ll Be Home For Christmas”yang populer di tangan Bing Crosby.Tak pelak Bing Salmet adalah pengagum berat Bing Crosby.Penghayatan Bing pun mendalam,padahal Bing bukanlah seorang Nasrani.

Piringan Hitam Christmas Songs (Foto Denny Sakrie)

Piringan Hitam Christmas Songs (Foto Denny Sakrie)

Lagu “I’ll Be Home For Christmas” ini memang istimewa.Lagu ini pertamakali direkam Bing Slamet eh….Bing Crosby pada tahun 1943,pada saat Perang Dunia ke II tengah berkecamuk.Lagu yang ditulis oleh pasangan James “Kim” Gannon dan Walter Kent ini memang bisa tak hanya sekedar sebuah lagu natal belaka,karena liriknya memang terasa humanis.Sebuah kerinduan akan kampung halaman,maupun kerinduan terhadap kehangatan sebuah keluarga yang lama ditinggalkan.Apalagi para prajurit yang tengah berlaga di medan perang.

I’ll be home for Christmas;
You can count on me.
Please have snow and mistletoe
And presents on the tree.

Christmas Eve will find me
Where the love-light gleams.
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams.

Carol of the Bells
Hark! How the bells
Sweet silver bells
All seem to say,

“Throw cares away.”
Christmas is here
Bringing good cheer
To young and old
Meek and the bold

Ding, dong, ding, dong
That is their song
With joyful ring
All caroling
One seems to hear
Words of good cheer
From ev’rywhere
Filling the air

Oh how they pound,
Raising the sound,
O’er hill and dale,
Telling their tale,
Gaily they ring
While people sing
Songs of good cheer
Christmas is here
Merry, merry, merry, merry Christmas
Merry, merry, merry, merry Christmas

On, on they send
On without end
Their joyful tone
To ev’ry home

Di tahun 1967 Herman Effendy putra bapak Soeharsono yang bermukim di Jalan Pekalongan Menteng Jakarta Pusat tengah menjalani acara khitanan. Mungkin karena tinggal di kawasan elit Menteng, keluarga Soeharsono malah mengundang band terkenal di kawasan Pegangsaan Menteng Jakarta sebagai atrksi hiburan.Saat itu band Gipsy dikenal sebagai band yang suka diundang dalam acara-acara seperti pesta ulang tahun atau pesta anak muda yang kerap disebut Pesta Dayak. Gipsy saat itu baru saja ganti nama dari Sabda Nada menjadi Gipsy.Selain ganti nama, dalam band  Gipsy pun terjadi beberapa kali bongkar pasang pemain hingga akhirnya muncul formasi yang cukup solid dan tangguh yang terdiri atas Keenan Nasution (drums),Chrisye (bass),Tammy Daud (saxophone,flute),Onan Susilo (organ) serta Gauri Nasution (gitar elektrik).

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Gipsy band terdiri atas Keenan Nasution,Chrisye,Tammy daud,Onan Susilo dan Chrisye saat menjadi band penghibur di rumah Herman Gelly yang tengah melakukan khitanan (Foto Agus Press)

Saat dikhitan Herman Effendy baru berusia 10 tahun.Herman Effendy atau yang kerap dipanggil Herman Gelly ini tidak tahu secara persis kenapa keluarganya mengundang Gipsy sebagai hiburan acara khitanan.Tapi ada yang menarik jika kita mengamati garis takdir dari peristiwa sebuah band bermain di sebuah acara khitanan. Siapa yang menyangka anak kecil bernama Herman yang tengah menjalankan ritual khitanan itu justru kelak akan dipertemukan kembali dengan dua dari personil band Gipsy itu yaitu Chrisye dan Gauri Nasution. Antara tahun 1986-1987, Herman adalah salah satu pemusik dan arranger yang menata dan mengiringi 3 album solo Chrisye yaitu Aku Cinta Dia,Hip Hip Huran dan Nona Lisa. Dan ketiga album Chrisye tadi menyertakan Gauri Nasution sebagai perancang grafis cover album. Nah, siapa yang menyangka ?

Ketika Oma Irama Menyanyikan Lagu-Lagu Pop

Posted: November 19, 2013 in Kisah

Om IrBetul, dulu Oma Irama sama sekali tidak suka dangdut,atau irama melayu istilahnya dulu.Lelaki kelahiran Tasikmalaya ini malah lebih ligat bernyanyi lagu-lagu pop.Oma menyukai Paul Anka hingga Tom Jones.I Who Have Nothing yang dipopulerkan Tom Jones adalah satu dari sekian banyak lagu yang kerap dinyanyikannya di panggung pertunjukan termasuk ketika berhasil meraih gelar juara pertama dalam Pop Singer Festival South East Asia yang berlangsung meriah di Singapore tahun 1972.

Dalam beberapa album-album popnya yang dirilis Bali Record atau Canary, Oma Irama kerap berduet dengan Inneke Kusumawati maupun Lily Junaedhy. Band-band yang mengiringinya mulai dari Zaenal Combo pimpinan gitaris Zaenal Arifin  hingga De Galaxies pimpinan gitaris Jopie Item.Amin Widjaja sang pemilik label Bali Record tertarik dengan kualitas vokal Oma Irama dalam membawakan lagu-lagu pop  .Oma Irama menyanyikan lagu-lagu pop mulai sejak zaman rezim Orde Baru pada tahun 1967 hingga masuk era 70an

“Memang, awalnya saya tidak tertarik bernyanyi dangdut..” kata Oma Irama disebuah majalah hiburan .Tapi ternyata justru musik Melayu yang kemudian lebih popular dengan sebutan  dangdut lalu menjadi dunianya. Bersama Orkes Melayu  “Purnama” pimpinan Awab Abdullah, pamornya mulai bersinar saat menyanyikan lagu  “Ke Bina Ria”, duet dengan Titing Yeni. Oma Irama lalu putar haluan  membentuk  “Soneta Group” pada 13 Oktober 1973, seraya  menggamit Elvy Sukaesih sebagai pasangan duetnya.