Piringan hitam jazz ini usianya telah memasuki tahun ke 51 sejak dirilis pertamakali oleh label Irama milik Soejoso Karsono pada sekitar tahun 1962.Apabila ingin menelusuri perjalanan sejarah musik jazz Indonesia, maka album yang bertajuk “Lagu Untukmu” ini patut anda simak dengan sedalam-dalamnya.Karena musikalitas dari Kwartet Irama yang terdiri atas Bubi Chen (piano),Jack Lemmers (gitar,glockenspiel),Sarono (bass) dan Atje (drusm) ini telah memperlihatkan tingkat kematangan yang mumpuni.Mereka menafsirkan melodi langgam krontjong dan pop ke dalam aura jazz yang terasa lebih modern.

Dengan menggunakan potret Nien Karsono,adik Soejoso Karsono yang saat itu menjalin hubungan dekat dengan Jack Lemmers kerap membuat orang terkecoh.Banyak yang menyangka album Lagu Untukmu yang diambil dari lagu karya Jack Lemmers,adalah album solo Nien yang saat itu memang merupakan salah satu crooner pop terbaik Indonesia.

Album jazz ini juga merupakan contoh produksi rekaman yang patut ditelkadani mulai dari rancangan sampul dan kemasan album yang disertai sebuah liner notes yang ditulis Wienaktoe,cerita dibalik penggarapan album di studio yang disertai data-data teknis rekaman.Dengan membaca tulisan tulisan pada sampul album album ini bisa juga menjadi semacam buku sejarah yang menceritakan tentang peristiwa atau kejadian-kejadian masa lalu terutama musik jazz.

Untuk lebih lengkapnya, saya sertakan kembali liner notes album Lagu Untukmu dibawah ini.

Masa sekitar tahun 1943 merupakan masa permulaan muntjul music dalam bentuk jang kemudian dikenal sebagai langgam krontjong di Indonesia. Merupakan pula suatu masa peralihan modernisasi daripada bentuk krontjong asli ke bentuk mpopuler jang lambat laun kemudian mendjadi bentuk lagu hiburan. Indonesia di zaman permulaan Kemerdekaan.Masa itu bagi setiap pemusik dan pentjinta lagu Indonesia amat menarik untuk dikenang. Beratus-ratus lagu dalam bentuk serba baru itu menjebar, mula-mula  disadjikan dalam irama  krontjong ,kemudian djuga diberi iringan jang lebih bertitik-berat pada ritme, tanpa  menghilangkan sifat-sifat daripada bentuknja semula sebagai langgam.

Album ini membawakan pada anda suatu kenangan akan masa itu,dengan suatu seri lagu-lagu jang namanja sudah serba abadi dari djaman tersebut, dalam suatu bentuk music Indonesia modern instrumental..Suatu sadjian instrumental jang pengerdjaan musiknja tidak terpaku pada sifat langgamnya itu sendiri., melainkan jang diubah menurut modernisasi zaman.Unsur2 ritme dipadukan disini dengan kelintjahan tarian nada2 jang melodieus,setengah improviastoris.Kesemuanya dibawakan dan ddjiwai oleh seorang pemain piano jang selama ini sebagai pemain jang lebih banjak bergerak didunia musik jazz dan music dansa jaitu Bubi Chen.Dalam kwartet “Irama” jang baru ini.Bubi Chen dibantu oleh Jack Lemmers pada gitar dan glockenspiel. Atje pada drums dan Sarono pada string bass , berhasil memperpadukan ritme pianonja pada nada lagu2 dari musik langgam, menghilangkan sifat2 montonnja dan mengubahknja kedalam bentuk2 arransemen jang bisa didengar telinga modernwaktu itu.

Motifnja,polanja memang pola lama,jang membawakan kenangan pada masa kegemilangan lagu-lagu dari zaman tahun2 sekitar 1943..Tetapi suasana jang ditjiptakan merupakan suasana modern sekarang, suasana dimana warna dan ritme makin berkumandang mengisi selera pada pentjipta music Indonesia jang preogresif.

Dengarkanlah introduksi nada-nada tunggal dalam alunan irama membujar, sebagai usaha permulaan membawakan suasana tiupan angin melalui daun-daunan Pohon Beringin jang segera dialihkan pada irama tetap penuh musikaliteit.Dengarkan ritme lebih kuat ditondjolkan dalam lagu Mande-Mande,arransemen lintjah mengadjak dari Sinandi-Nandi jang membawakan ritme dan style musik gairah keremadjaan sekarang..Banjak variasi dalam modulasi nada ditjurahkan dalam lagu seperti Minapadi,Pulau Djawa,Saputangan,Tirtonadi atau Djembatan Merah dan lain lagu dari zaman tadi.Kesemuannja mana sebenarnja ditjoba pula dipusatkan pada satu lagu :””Lagu Untukmu” hasil tjetusan Jack Lemmers,gitaris-tehnikus-komponis, jang menjertai kwartet ini dengan isian2 ritme dari kedjernihan bunji rangkaian lagu2 serba abadi ,didalam album ini

 

Wien 

Rekaman dari “Lagu Untukmu” ini direkam pada malam hari mulai dari djam 21.00 hingga djam 04.00 pagi pada tanggal 8-7-1962 dan 15-7-1962.

Track List

Muka 1

1.Sinandi-Nandi (Agus Nandi)

2.Djembatan Merah (Gesang)

3.Pohon Beringin (S.Suwandi)

4.Irama Mesra (Jack Lemmers)

5.Sapu Tangan Dari Bandung Selatan (Ismail Mz)

6.Tirtonadi (Gesang)

Muka 2

1.Mande Mande (n.n)

2.Gerbang Nirwana (Ismail Mz)

3.Pulau Djawa (n.n.)

4.Lagu Untukmu (Jack Lemmers)

5.Minapadi (n.n.)

6.Saputangan (Gesang)

Recording Engineer   : Jos

Tape Editing/Queing : Djoko,Markus,Koko

Neumann Discouting Engineer  : Tan JG

Stereo To Mono Balancing        :  Jack Lemmers

Nickerl Matrix  Platting             :  Taslan Sujatno

Cover Design                             :   Pandji Kamal

Cover Girl                                  :   Nien

Photographie                               : Oey

Liner Notes                                 : Wienaktoe

Offset Printing                            :  NV Andjar

leoTanpa direncanakan,tanpa dijadwalkan akhirnya saya bertemu kembali dengan sosok Konser Rakyat Leo Kristi. Kejadian ini berlangsung  jumat malam pada tanggal 30 Agustus 2013 di Museum Nasional Jalan Medan Merdeka Jakarta. Pertemuan ini menariknya justru di museum dalam sebuah peristiwa budaya dimana Dewa Budjana meluncurkan buku tentang gitar-gitarnya bertajuk Dawai-Dawai Dewa Budjana yang ditulis Bre Redana.

Setelah Dewa Budjana melakukan ritual musik dan tari sebagai simbol peluncuran bukunya, para undangan kemudian diajak untuk mengitari ruangan eksibisi dimana terpajang 34 gitar milik Dewa Budjana yang mendapat sentuhan seni dari sederet perupa seperti I Nyoman Gunarsa,Jeihan Sukmantoro ,Putu Sutawijaya serta Srihadi Soedarsono. Sayapun ikut berkeliling di ruangan itu melihat-lihat gitar-gitar milik gitaris Dewa Budjana telah didandani secara artistik oleh para perupa ternama itu.Tiba-tiba dari jauh mata saya tertumbuk pada sosok seorang lelaki dengan gaya yang kasual, mengenakan kaos berwarna biru muda lengkap dengan topi dan kacamata yang trendy. Saya sangat mengenal sosok ini. Saya lalu datang menyambangi lelaki separuh baya yang tampak lebih muda dari usia sesungguhnya ini.Tak syak lagi dia adalah Leo Kristi.

“Mas Leo apakabar…….” saya menyapa.

“Eh……baik baik.Lama juga ya kita tidak ketemu” timpal Leo Kristi sembari tersenyum

“Iya mas hampir dua dasawarsa…….. ya……” ujar saya sambil menyalami Leo Kristi.

Leo Kristi masih tetap seperti dahulu.Malah kini Leo terlihat kian segar.Dia seperti highlander yang tak pernah bertambah usianya sedetik pun.

“Saya menjalani hidup tanpa neko-neko.Mengalir aja tanpa beban” itu jawaban yang diungkap Leo ketika saya menanyakan perihal tak segarispun garis ketuaan terlihat dari raut mukanya.

Saya mengenal karya Leo Kristi di sekitar tahun 1977, saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Makassar.Melalui majalah Aktuil saya membaca sepak terjang Leo Kristi disaat Indonesia tengah dilanda demam folk songs.Bahkan majalah Aktuil pun merilis album debut Leo Kristi bertajuk “Nyanyian Malam“.Gagasan musik yang dilontarkan Leo Kristi terasa lebih Indonesia.Mengambil idiom musik rakyat,Leo meracik musiknya dalam pola melodi dan lirik yang menggetarkan terutama saat lirik-lirik lagu Leo menyelusupkan semacam semangat patriotisme dan nasionalisme yang bercampur dengan kritik sosial atas ketimpangan-ketimpangan yang masih saja terjadi disekitar kita. Dengan berbekal gitar,biola,recorder serta harmonisasi vokal para penyanyi latar,suara Leo Kristi yang menggelegar seolah menampar pikiran kita tentang kehidupan.

Sejak saat itulah saya mengikuti karya-karya Leo Kristi dengan membeli kaset-kasetnya.

Leo Kristi memang meletup-letup. Dia adalah salah satu dari sedikit seniman musik negeri ini yang tetap konsisten dengan konsep musiknya yang berembel-embel ‘Konser Rakyat’. Lelaki yang lahir di kota Pahlawan, Surabaya, sekitar 11 minggu menjelang hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu kini telah berusia 68 tahun. Hampir tak ada perubahan yang berarti dalam jejak-jejak musiknya. Leo Kristi tetap dalam konsep musiknya yang ditorehnya di pertengahan era 70-an.

Pemilik nama lengkap Leo Imam Soekarno ini masih tetap berkelana dan mengembara ke pelosok-pelosok daerah. Melakukan workshop musik dengan khalayak setempat. Lalu menjelmalah serangkaian lagu-lagu yang berformat kesaksian.

Leo memang menempatkan dirinya sebagai penyaksi, bukan sebagai penggugat. Apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, dan apa yang bergejolak dalam nadinya. Semuanya dituangkan dalam torehan lirik dan sebongkah nada. Dia ibarat trubadur yang berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Hari ini di pedesaan Bulukumba Sulawesi Selatan, bulan depan di Kalimantan, setahun kemudian melangkah di Jimbaran, Bali dan entah dimana lagi.

Dan, tampaknya Leo memang menikmati hidup sebagai seorang bohemian. Teman-teman dekatnya bahkan tak tahu atau tak bisa menebak kapan Leo Kristi akan berlabuh di suatu tempat. Gagasan-gagasannya bertualang kesana-kemari.

Untuk pertamakali saya berjumpa dengan Leo Kristi saat Leo Kristi menggelar konser di Makassar tahun 1984.Saat itu Leo Kristi tampil bersama Konser Rakyatnya di Artis Theater yang terletak di ujung Jalan Gunung Lompobattang. Untuk pertamakalinya saya melihat secara langsung konser Leo Kristi yang berdinamika tinggi dengan eksplorasi vokal yang dahsyat.Suara Leo Kristi m,enggelegar disetiap sudut gedung Artist Theater yang sehari-harinya adalah sebuah bioskop.

Beberapa pekan sebelum pertunjukan di Artis Theater itu,Leo Kristi telah menghabiskan waktunya di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan bersama dengan para pembuat perahu Phinisi.Di pedalaman suku Makassar itu Leo Kristi berbaur bersama rakyat kecil, mendulang arti kehidupan.Hal semacam ini memang kerap dilakukan Leo Kristi diberbagai daerah yang tersebar dipenjuru Nusantara.Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian tertuang dalam karya-karyanya.Leo Kristi tak pelak lagi adalah seorang penyaksi. Sebagian besar lagu-lagu berdasarkan pengalaman nyata itulah yang kemudian disenandungkannya penuh ekspresi diatas panggung pertunjukan.

Saya terpana,saya terbawa larut dengan penampilan musik Leo Kristi yang menurut hemat saya terasa sangat Indonesia.Terbersit dalam benak saya mungkin musik Leo Kristi inilah yang tepat disebut Folk Indonesia.

Usai pertunjukan saya mencegat Leo Kristi dibelakang panggung.Peluh masih berderai di dahi dan menjuntai ke leher.Saya memberanikan diri berbicara dengan Leo Kristi,sosok yang sangat tegar saat di panggung pertunjukan. Berbeda saat Leo tampil di panggung, saat berbicara dengannya Leo bertutur lembut dan lirih. Petikan petikan perbincangan saya yang singkat kemudian saya tulis dalam sebuah tulisan .

Leo pun bertutur ikhwal tentang dirinya dan tentang musiknya. Menurut Leo, dia mengenal musik sejak kecil. Titisan bakat bermusik itu turun dari  sang ayah, Raden Ngabehi Iman Soebiantoro, yang mempunyai hobi bermusik. Kemampuan bermusik tertular ke Leo yang selain mampu bernyanyi juga pintar memainkan pelbagai instrumen musik mulai dari gitar, flute, piano, hingga biola. Menurut Leo, ”Musik adalah sahabat, dan nyanyian adalah kecintaan”.

Tampaknya falsafah itulah yang terus dikepitnya hingga sekarang ini. Seperti lazimnya anak kecil, ia gandrung terhadap musik. Leo pun mengambil kursus gitar pada Tony Kardijk,  Selain itu ia merasa perlu untuk memperdalam teknik memetik gitarnya pada dua musisi lainnya yaitu Oei Siok Gwan dan Poei Sing Gwan.

Untuk teknik vokal, pria ini menyerap ilmu vokalia pada John Topan dan Nuri Hidayat. Di sini Leo mendapatkan berbagai teknik bernyanyi mulai phrasering, vibrato, falsetto, breathing, dan entah apa lagi.

Leo mulai menjejakkan kaki di pentas pertunjukan saat membentuk Lemon Trees bersama almarhum Sudjarwoto yang lebih dikenal sebagai Gombloh dan Franky Sahilatua yang kemudian dikenal dengan duo Franky & Jane. Leo pun sempat membentuk duet dengan seorang penyanyi wanita bernama Kristi. Keduanya lalu dikenal sebagai Leo Kristi. Ketika duo ini bubar, Leo tetap menggunakan nama Leo Kristi sebagai jatidirinya. Terkadang Leo mengaku bahwa Kristi itu adalah nama gitar hitam yang selalu diusungnya jika manggung. ”Kristi itu adalah singkatan Keris Sakti,” tuturnya. Dan, memang gitar itulah senjata utama Leo sebagai seorang trubadur yang telah melangkah dalam empat dasawarsa.

Tulisan tentang Leo Kristi pun akhirnya dimuat di koran Makassar Pedoman Rakyat serta dimuat di kolom Nama dan Peristiwa harian Kompas Jakarta. Dalam setiap kesempatan Leo Kristi selalu berujar, ”Kita selalu mengharapkan, kebudayaan bisa menjadi jembatan hubungan menghubungkan cinta kasih sayang sesama manusia.”

Suasana di seitar ruang pameran gitar Dewa Budjana di Gedung Museum Nasional kian ramai.Pengunjung hilir mudik menyimak dengan takzim pameran gitar yang unik itu.Saya dan Leo Kristi masih tetap berbincang.

“Apakah mas Leo masih bermusik,masih bikin lagu ?” sergah saya.

Dia tersenyum lalu menjawab : “Masih mas……sebagai pemusik takdir saya ya bikin musik” jawabnya tangkas.

Tiba tiba saya merasa seolah-olah suara Leo Kristi menggelegar di ruangan Gedung Museum Nasional :

Ayo nyalakan api hatimu,
seribu letupan pecah suara,
sambut dengan satu kata: merdeka…!

Lou Reed menghembuskan nafas terakhir hari minggu 27 Oktober 2013 dalam usia 71 tahun.Seorang ikon rock,seorang ikon pop culture telah berlalu tepat di hari minggu, seperti bunyi lirik dari lagu “Sunday Morning” yang dibawakan bandnya di era akhir 60an Velvet Underground :

sunday morning
brings the dawn in
it’s just a restless feeling
by my side

early dawning
sunday morning
it’s all the wasted years
so close behind

watch out the world’s behind you
there’s always someone around you
who will call
it’s nothing at all

sunday morning
and I’m falling
I’ve got {a} feeling
I don’t want to know

early dawning
sunday morning
it’s all the streets you’ve crossed
not so long ago

watch out the world’s behind you
there’s always someone around you
who will call
it’s nothing at all

watch out the world’s behind you
there’s always someone around you
who will call
it’s nothing at all

sunday morning…

Lou Reed

Lou Reed

Berpulangnya Lou Reed mendapat respon luar biasa dalam berbagai media sosial mulai dari twitter hingga Facebook.Lagu-lagu Lou Reed semasa dalam Velvet Underground hingga album solonya yang tersebar banyak di laman Youtube kembali dikunjungi orang .Kematian Lou Reed menghentak siapa saja termasuk para pemusik serta sahabat-sahabat terdekatnya seperti David Bowie yang lalu menyiapkan sebuah konser tribute untuk Lou Reed. David Bowie adalah pemuja Lou Reed, yang pernah menawarkan diri menjadi produser dari album solo Lou Reed bertajuk “Transformer” (1972)

Gitaris the Who Pete Townsend pun menulis komentar di situs resmi The Who :

Yesterday I heard about the passing of Lou Reed. I’d been thinking about him after meeting Jean Michel Jarre last Saturday. He is a friend of Lou and Laurie Anderson. My heart goes out to Laurie whom I met briefly when Lou played with me at Rachel Fuller’s ATTIC JAM at Joe’s Pub in NYC. Lou seemed to have fun that night, and it was wonderful and easy for me to perform with this clear-sighted musician who I had expected to be so difficult.”

Di twitter banyak sesama pemusik yang memberi komentar terhadap berpulangnya ikon pop cultur ini.Misalnya Billy Idol yang menulis twit :

R.I.P. Lou Reed & thank you & the Velvets. U were my inspiration in the ’70’s, 4 without you there would have been no punk rock!

Lou Reed tak sekedar seolrang pemusik yang bisa bermain gitar,bisa menulis lagu,bisa menyanyi.Tapi seorang inspirator terhadap paradigma musik rock hingga penggerak sebuah gerakan budaya pop yang menjadi virus dari era paruh 60an hingga sekarang ini.

Lou Reed

Lou Reed

Secara komersial,Velvet Underground kalah dalam kemilau rock yang menjadi partikel-partikel industrial,tapi dalam pola gagasan,Velvet Underground banyak melakukan pencapaian=pencapaian yang tak lazim dalam rock.Lou Reed dan kawan-kawan menghamba pada idealisme yang tak mau bersentuhan dengan kompromi.Hal yang tak mudah tentunya.

Mereka tak perduli olok-olokan orang tentang penjualan album Velvet Underground yang hanya mencapai jumlah 30 ribu keping itu.Tapi tampaknya Lou Reed dan Velvet Underground lebih percaya terhadap dampak musik yang mereka mainkan bisa menjadi virus budaya yang kemudian berubah menjadi sebuah paradigma.

Dan Lou Reed tetap konsisten dengan idealismenya,pun ketika Reed mulai melangkah ke jenjang solo karir.Tahun 1971 Lou Reed merilis album debutnya “Lou Reed” .Album yang dirilis RCA ini direkam di London Inggris yang antara lain didukung dua personil grup rock progresif Inggris Yes yaitu gitaris Steve Howe dan keyboardis Rick Wakeman.

Di tahun 1972 .Lagu Walk On The Wildside dari album Transformer yang digarap David Bowie sebagai produsernya mencuat sebagi hits .

Di tahun 1975 Lou Reed merilis album Metal Machine Music yang berlumuran aura eksperimentasi. Album yang banyak menjejalkan bunyi-bunyian distorsif hingga atonal.

Ini album yang sangat sukar untuk dinikmati dengan kuping telanjang.Sebuah pencapaian yang telah memasuki zona avant garde.

Lou Reed,beberapa waktu berselang mengomentari album solonya itu :”   “No one is supposed to be able to do a thing like that and survive.”. Dan memang betul apa komentar Lou Reed, nyaris tak ada pemusiki yang mampu melakukan hal semacam itu dan masih bisa tetap bertahan.

Lou Reed

Lou Reed

Harus kita akui karya-karya Loub Reed memang bukan karya mainstream.Ada  pendekatan tertentu untuk menerima pesan yang termaktub dalam karya-karya Reed baik ketika bersama Velvet Underground maupun saat melakoni solo karir.Pada akhir era 60an saat Velvet Underground muncul, sebagian besar anak muda Indonesia nyaris mengabaikan kehadiran Velvet Underground dan lebih menerima pesona The Beatles,The Rolling Stones,Led Zeppelin maupun Deep Purple yang secara kebetulan keempatnya berasal dari Inggris Raya.Pendek kata Lou Reed dan Velvet Underground tidak populer di Indonesia.

Ketika musik-musik  bernuansa punk revival hingga grunge melanda dunia pada awal era 90an,secara perlahan anak-anak muda Indonesia di kota-kota besar mulai menerima figur Lou Reed juga Velvet Underground.Mereka mulai berpetulang mendengar album-album Velvet Underground.Mulai menyimak album Transformer-nya Lou Reed.Bahkan mulai ngeband dengan memainkan repertoar repertoar Velvet Underground juga album solo Lou Reed.

Lou Reed

Lou Reed

Banyak juga yang mulai berkenalan dengan tokoh tokoh seperti Iggy Pop,David Bowie hingga Lou Reed melalui soundtrack film Transpotting  yang disutradarai Danny Boyle ditahun 1996 .

Lou Reed

Lou Reed

Di film Transpotting itu menyeruaklah lagu Perfect Day nya Lou Reed.Tak sedikit pula anak anak muda era 90an yang mulai mermakai kaos bergambar sampul Velvet Underground yang menampilkan buah pisang berwarna kuning garapan seniman art pop Andy Warhol yang juga menjadi bagian dari Velvet Underground. Era musik alternatif, itu istilah yang merebak di awal 90an, menggiring anak muda Indonesia menjadi pemuja Lou Reed juga Velvet Underground.Jika generasi pop erea 70an kerap menyindir suara Lou Reed sumbang atau tak bisa menyanyi, namun generasi 90an keatas justru menganggap suara Lou Reed memiliki jiwa dan ekspresif.

Mereka kemudian secara sadar menempatkan Lou Reed sebagai sosok panutan.Dimata anak muda sekarang Lou Reed dianggap memberi inspirasi mulai dari musik hingga pilihan dalam kehidupan : ingin tampak berbeda dan jujur .Dan Lou Reed adalah legitimasi dari norma-norma yang selama ini ditabukan oleh masyarakat, misalnya perilaku seksual dan penggunaan drugs . Gamblangnya, Lou Reed merupakan sosok rasul  cutting edge yang memberikan sabda-sabda budaya pop yang diimani oleh anak muda.

Bersua (Kembali) Dengan Iwan Madjid

Posted: Oktober 25, 2013 in Sosok

Iwan Madjid adalah pemusik yang unik baik dalam karya-karyanya maupun perilakunya sehari-hari.Orangnya santai,suka bercanda dan baik.Sosok Iwan Madjid mungkin lebih tepat jika dideskripsikan sebagai seniman sejati yang menelusuri kehidupan dengan bebas tanpa beban.Gaya hidup semacam ini memang bagi beberapa orang tidak menemui titik temu.Ada yantg bilang seniman itu sensitive dan cenderung moody.Tapi toh saya selalu melihat dari sudut yang positif saja.Dan hingga saat sekarang ini saya masih tetap bersahabat dengan Iwan Madjid yang di tahun 1978 membentuk band art rock (saat itu belum dikenal istilah progresif rock) bernama Abbhama.Abbhama adalah nama ynag aneh,unik tapi catchy.”Apa makna Abbhama ?”, Iwan selalu tersenyum menjawab pertanyaan itu.”Gua sendiri gak tau arti Abbhama.Gua juga lupa siapa yang ngasih nama itu” tukasnya.

Bersama Iwan Madjid 22 Oktober 2013

Bersama Iwan Madjid 22 Oktober 2013

Abbhama sendiri tumbuh kembang di kampus LPKJ yang kemudian berubah menjadi IKJ yang berada dikompleks Taman Ismail Marzuki Cikini Jakarta.Personilnya adalah para mahasiswa jurusan musik yang menurut Iwan ingin menumpahkan ekspresi bermusik setelah berkutat dengan menelaah ilmu-ilmu musik di kampus .”Saat itu ada 23 mahasiswa yang sering kumpul-kumpul ngomongin musik sambil bermain musik”tutur Iwan mengisahkan cikal bakal Abbhama yang di era 2000an ini menjadi band yang dipuja puji penikmatnya di luar negeri diberbagai website dan blog-blog pribadi. Akhirnya Abbhama  mengkerucut menjadi Iwan Madjid (piano,synthesizer,mellotron,vokal),Darwin B Rachman (bass),Robin Simangunsong (drums),almarhum Cok Bagus (gitar),Dharma (flute),Hendro (oboe) dan Oni (keyboards).”Seingat gua Tonny Prabowo juga sempat ikut bantu juga” imbuh Iwan Madjid yang kini memutih rambutnya.

Iwan Madjid kemudian bersua Iwan Dharsono pengusaha sepatu yang suka musik dan memiliki studio rekaman bernama Tala & Co Jalan Kesehatan No.30 Jakarta  Pusat.Tanpa banyak birokrasi berbelat belit,Abbhama akhirnya masuk studio  Tala & Co yang digawangi dua sound engineer yaitu M.Hanifa dan  Tommy Wijanarko.

Iwan Madjid menggengam kaset Alam Raya - Abbhama yang tahun ini berusia 35 tahun

Iwan Madjid menggengam kaset Alam Raya – Abbhama yang tahun ini berusia 35 tahun

”Terus terang gua suka studio milik Iwan Dharsono ini karena ada instrument yang gua suka yaitu Mellotron.Band band art rock seperti King Crimson,Yes hingga Genesis semuanya menggunakan Mellotron “ tukas Iwan sambil menghisap rokoknya dalam dalam.Musik Abbhama memang mengingatkan kita pada era supremasi art rock di Inggris lewat band-band seperti King Crimsons,Yes,Genesis juga Procol Harum.Band-band ini menjejalkan jatidiri dengan menggabungkan musik rock dengan sentuhan musik klasik yang elegan.Abbhama memang laiknya sebuah band pseudo classic yang tertata dalam pola arrasemen kea arah simfonik.Menariknya selain menghasilkan bunyi-bunyian artifisial lewat instrument Mellotron mulai dari  suara choir hingga simfoni orchestra, Abbhama tetap tak melupakan instrumentasi akustik seperti gitar,piano,flute hingga obie.Sebuah kemempelaian yang sangat harmonis tentunya.Ada 10 lagu yang termaktub di album dengan sampul berwarna hitam dengan logo yang mengingatkan kita pada disain-disain surrealis ala Roger Dean untuk band-band progresif rock seperti Yes hingga  Greenslades.Perancang grafis Abbhama adalah Boedi Soesatio sahabat Iwan Madjid yang kemudian juga ikut mendisain sampul album Wow !, band Iwan Madjid bersama Darwin B.Rachman dan Fariz RM ditahun 1983 kelak.Boedi Soesatio yang kemudian menemukan Slank di awal 90an, adalah penggemar berat karya-karya Roger Dean.

Iwan Madjid saat di studio Syailendra Jakarta Selatan

Iwan Madjid saat di studio Syailendra Jakarta Selatan

Kesepuluh lagu Abbhama itu adalah Kembali,Karam,Indonesia,Terlena,Ketiadaan Yang Ada,Alam Raya,Air,Malam,Indonesia dan Ibu dengan penulisan lirik yang cenderung bertutur tentang alam,lingkungan,kontemplasi,cinta Negara serta Ibu.

Ketika pertamakali mendengar album Abbhama ini telinga saya langsung mengasosiasikan karakter musik Abbhama dengan musik-musik yang dihasilkan para pemusik yang nongkrong di Jalan Pegangsaan hingga Harry Roesli dan Giant Step di Bandung.Namun Abbhama justeru lebih terdengar agak berbau akademik, mereka sangat terampil memainkan musik dengan perangai klasik semisal di era Baroque.Ada titian-titian nada ala Johann Sebastian Bach maupun Achille Claude Debussy.Sebuah penampilan musik yang sejuk tapi memiliki dinamika yang kadang tak terduga.Dengan timbre vokal yang tipis,polos tanpa bass sama sekali,saya kerap membanding-bandingkan suara Iwan Madjid dengan Jon Anderson,frontman kelompok Yes. Iwan Madjid sendiri mengaku sangat menggemari Yes.”Yes adalah band rock yang berani memasukkan unsure contapunk dalam komposisinya” puji Iwan Madjid. Saat mengajar musik,Iwan kerap member contoh dengan mengedepankan komposi-komposisi milik Yes yang fenomenal itu.

Saat saya bekerja di radio M97FM Classic Rock Station antara tahun 1995-2000 saya memutar beberapa komposisi dari Abbhama seperti Karam hingga Indonesia.Ditengah apresiasi pendengar radio M97FM yang mengelu-elukan kiprah musik Pink Floyd,Genesis,Yes hingga Emerson ,Lake and Palmer, ternyata mereka pun menerima dengan baik lagu-lagu Abbhama yang saya putar saat siaran.Apa boleh buat suara Iwan Madjid kerap disbanding-bandingkan dengan suara Jon Anderson sang vokalis Yes itu.

Kaset Alam Raya - Abbhama yang dirilis Tala & Co di tahun 1979

Kaset Alam Raya – Abbhama yang dirilis Tala & Co di tahun 1979

Hingga ketika M97FM Classic Rock Station menggelar acara bulanan Legend Of The Month dengan mengangkat karya-karya Yes di Hard Rock Café Thamrin tahun 1998, ingatan saya hanya tertuju ke suara Iwan Madjid.Saya berkhayal alangkah serunya acara Tribute To Yes nanti saat Iwan Madjid tampil menyanyikan lagu-lagu Yes seperti epic  And You and I atau Heart Of Sunrise ,paling tidak lagu Yes yang bernuansa hymne seperti Onward.Lalu bersama keyboardis Krishna Prameshwara yang kami pilih sebagai band yang memainkan repertoar Yes, saya berkunjung ke rumah Iwan Madjid di bilangan Jenderal Urip Sumohardjo Jatinegara.Kedatangan kami berdua ke rumah Iwan Madjid adalah mengajak vokalis Abbhama dan Wow ini tampil menyanyikan lagu-lagu Yes. “Wah gua tersanjung banget nih diminta menyanyikan lagu-lagu Yes, tapi mungkin gua Cuma sanggup menyanyi sekitar dua lagu saja.Lu tau kan gua udah lama nggak manggung” timpal Iwan Madjid.Akhirnya Iwan Madjid naik panggung bersama iringan keyboard Fariz RM membawakan dua lagu Yes yaitu Onward dan Soon.Penonton memberi  applause meriah atas penampilan Iwan Madjid dan Fariz RM.

Usai acara itu,saya nyaris tak pernah bertemu denga Iwan Madjid lagi.Hingga suatu hari di tahun 2001 saya mendengar Iwan dijebloskan dalam penjara karena tertangkap tangan menggunakan narkoba.Yang saya sesalkan saya tak memiliki kesempatan mengunjungi Iwan dalam penjara,padahal saat itu Arry dan Eet Sjahranie mengajak saya untuk mengunjungi Iwan Madjid di penjara,tapi jadwal saya tak pernah akur.Lalu di tahun 2006 saya mendapat kabar dari Musya Joenoes,gitaris Wow ! bahwa Iwan Madjid dalam keadaan kritis karena komplikasi penyakit yang diidapnya.Lagi-lagi saya tak sempat mengunjugi Iwan Madjid yang tengah terbujur tak berdaya.Selama ini saya hanya mendengar berita-berita tentang Iwan entah dari Fariz RM maupun Eet Sjahranie atau Musya Joenoes. Karena merasa bersalah tak pernah menjenguk atau bersilaturahmi dengan Iwan Madjid, akhirnya tahun 2007 saya membulatkan tekad untuk mengunjungi Iwan di kediamannya di Jalan Jenderal Urip Sumohardjo.Niat saya menemui Iwan karena ingin mewawancara dia karena saat itu saya diajak majalah Rolling Stone menggarap proyek “150 Album Terbaik Indonesia” dimana album “Alam Raya” milik Abbhama terpilih sebagai salah satu album terbaik Indonesia sepanjang jaman.Album Alam Raya Abbhama berada diperingkat 70.

Album Alam Raya - Abbhama berada di peringkat 70 deretan 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone edisi Desember 2007.

Album Alam Raya – Abbhama berada di peringkat 70 deretan 150 Album Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone edisi Desember 2007.

Ada yang tak biasa ketika kaki saya menjejak di halaman rumah Iwan Madjid.Rumah Iwan tampaknya baru saja direnovasi.Akhirnya dari tetangga Iwan saya diberitahu bahwa Iwan Madjid sudah pindah.Sayangnya tetangga Iwan tak mengetahui alamat rumah Iwan Madjid yang baru.Buru-buru saya menelpon Fariz RM menanyakan alamat rumah Iwan Madjid.”Iwan sekarang tinggal di Ciracas Den.Sekarang Iwan udah sehat dan bersih” ungkap Fariz RM melalui telpon genggamnya.

Sayangnya, saya belum memiliki waktu yang tepat juga untuk menemui Iwan Madjid dikediamannya yang baru.Lima tahun kemudian tanpa direncana dan tanpa diduga saya akhirnya bertemu dengan Iwan Madjid yang jalan bersama Tony Wenas keyboardis yang di era 80an bergabung dalam Solid ’80 dan Symphony .Kejadian itu berlangsung tahun 2012 lalu tepatnya 24 April 2012 saat konser Yes di Ritz Carlton Pacific Place. Peristiwa itu berkangsung sekitar jam 19.00 sekitar satu jam sebelum Yes menggelar konser di Jakarta.Tony Wenas mendatangi saya sembari berkata :”Den,lu masih ingat gak ini siapa ?” sambil menunjuk lelaki berambut pendek,agak gemuk dengan senyum yang kikuk.Saya terdiam berusaha mengingat siapa lelaki ini.Setelah lelaki itu menyapa dengan suaranya yang khas dan lirih baru saya tersadar :” Aaaaah Iwan Madjid………!”.Penampilan Iwan Madjid memang sangat berbeda.Saya jadi pangling tidak mengenalinya sama sekali.”Wah……ternyata Yes yang memperetemukan kita nih Wan” saya menimpali.Iwan hanya tersenyum. Karena konser Yes segera dimulai,saya tak bisa berlama-lama ngobrol dengan Iwan Madjid dan Tony Wenas.

Dan baru tanggal 22 Oktober 2013 lalu saya baru bisa mengunjungi kediaman Iwan Madjid di Kelapa Dua Wetan Ciracas setelah seminggu sebelumnya saya menghubungi Iwan melalui telpon genggam.Saya mengutarakan maksud saya untuk bertemua dia karena label Strawberry Rain di Kanada dan label Majemuk Record di Jakarta ingin merilis ulang album Abbhama Alam Raya  dalam bentuk vinyl,CD dan kaset. Para label itu meminta bantuan saya untuk meminta kesediaan Iwan Madjid memberikan izin untuk merilis ulang album Abbhama yang sejak tahun 2000 menjadi perbincangan penggemar musik progresif diberbagai belahan dunia melalui dunia maya maupun media sosial.Abbhama memang menjadi word of mouth, hingga akhirnya Jason Connoy dari Strawberry Rain yang pernah merilis ulang album AKA,Benny Soebardja dan Kelompok Kampungan tertarik dan berminat merilis kembali album milik Abbhama itu.

Hujan dan petir menemani perjalanan saya ke rumah Iwan Madjid bersama pemilik label Majemuk Record Agus dan Ridwan.Seperti yang sudah-sudah,bahwa selalu ada kejutan saat bersua dengan Iwan Madjid.Kini Iwan terlihat lebih menua,rambut yang memutih dan tubuh yang kurus.Iwan akhirnya bercerita bahwa kini dia lebih banyak menekuni spritualisme.”Tapi bukan klenik.saya menelaah dengan logika dan berdasarkan Qur’an” jelas Iwan  Madjid yang memiliki banyak murid yang ingin belajar spritualisme,bukan musik.”Tapi saya tidak meninggalkan music lho” ungkap Iwan.Dia lalu bercerita bahwa belakangan ini Iwan Madjid kembali menulis lagu bersama Fariz RM lagi.Iwan Madjid memang telah berubah.Ketika azan Maghrib berkumandang, Iwan pun dengan segera menunaikan sholat Maghrib.Usai sholat Maghrib,Agus dari Majemuk Record menyodorkan surat izin untuk merilis ulang album Abbhama.Sebelum menandatangani surat perjanjian,Iwan Madjid berucap :”Saya tidak melihat dari nominal yang kalian ajukan tapi terus terang saya merasa sangat bangga dan tersanjung karya-karya kami Abbhama dulu sering diledekin sebagai karya dari planet antah berantah kini mulai ada yang mengapresiasi”. Akhirnya saya tersadar bahwa album Alam Raya dari Abbhama ini telah menginjak usia 35 tahun.Dan musiknya masih tetap segar untuk disimak.Semakin yakin saya bahwa musik tak pernah mati walau zaman telah berganti.

Saya selalu memulai titik awal industri musik di Indonesia dengan mematok era 50an sebagai lokomotif yang kemudian menghela rangkaian  gerbong perjalanan   sejarah industri musik hingga sekarang ini.Kenapa ? Ini bertolak dari asumsi bahwa pada era 50an musik pop sebagai bagian dari budaya pop mulai menggeliat di dunia secara industrial pasca Perang Dunia ke II.Contoh paling gamblang adalah menyeruaknya virus rock and roll dari Amerika Serikat yang menyebar tanpa terbendung ke seantero jagad, termasuk Indonesia didalamnya. Rock and roll menjadi wabah global yang menggoda anak muda dengan kredo kebebasan dan pembebasan serta anti kemapanan.

Titik awal era 50an saya anggap sebagai tonggak monumental juga berdasar bahwa di awal era 50an mulai berdiri perusahaan rekaman  milik pribumi yang pertama yaitu Irama yang digagas seorang perwira Angkatan Udara bernama Soejoso Karsono.  

Namun sebetulnya jika menilik lebih jauh,sebelum menginjak ke era 50an yang secara politis kerap disebut era Orde Lama, di zaman kolonialisme Pemerintah Hindia Belanda cikal bakal industri hiburan musik telah memperlihatkan keberadaannya. Saat itu phonograph Colombia buatan Amerika Serikat telah diimpor ke Hindia Belanda pada awal abad 20 tepatnya di tahun awal 1900an . Antara kurun waktu tahun 1903 – 1917  beberapa album rekaman phonograph mulai masuk ke Indonesia dengan berbagai label rekaman seperti Gramophone Company,Odeon Record, BeKa Record dari Jerman ,Columbia dari Amerika Serikat,, Parlophone Record dari Inggris, Anker,Lyrophon serta  Bintang Sapoe. Dalam catatan, Odeon Record berada diurutan pertama sebagai label yang paling banyak merilis singles yaitu sebesar 2614 singles,disusul Bintang Sapoe sebanyak 1140 singles,Gramphone Company sebesar 632 singles,Anker sebanyak 478 singles dan Beka sebanyak 126 singles.Perkiraan data ini saya kutip dari disertasi Yampolsky tentang studi industri rekaman di Indonesia dari tahun 1903-1917. Dari data ini setidaknya menunjukkan bahwa ada geliat industri musik rekaman  pada zaman itu yang tak bisa diremehkan .Bahwa industri rekaman pada zaman Hindia Belanda telah memperlihatkan itikad baik untuk mendokumentasikan sebuah karya senio,dalam hal ini adalah musik.  

 Dimasa itu setidaknya ada tiga  saudagar Tionghoa yang menggeluti dunia musik dengan mendirikan perusahaan rekaman.Dua pengusaha rekaman itu berada di Batavia yaitu Tio Tek Hong di Pasar baru dan Lie A Kon di Pasar Senen dan Lie Liang Swie di Surabaya Jawa Timur  ,Tan Tik Hing di Semarang  meskipun sebetulnya ruang lingkup pasarnya sangatlah  terbatas yaitu pada kaum urban elit saja . Phonograph dan Grammophone adalah perangkat pemutar rekaman yang mewah dengan harga yang relatif sangat mahal tentunya.Salah satu dari pedagang Tionghoa yang tersohor saat itu adalah Tio Tek Hong yang berdagang aneka ragam barang kelontong di Jalan Passer Baroe No.93, Batavia.

Ini ditunjang pula dengan beberapa retailer yang bisa dianggap menunjang bisnis rekaman saat itu seperti Tan Tik Hing dan  Ouw Tek Hok.Bisnis musik rekaman di negeri ini secara historik memang lebih banyak dilakukan oleh peranakan Tionghoa.

Penyanyi dan aktris tunanetra Indonesia Annie Landouw pada tahun 1939

Penyanyi dan aktris tunanetra Indonesia Annie Landouw pada tahun 1939

Musik-musik yang berasal dari rekaman phonograph itu lalu dimainkan oleh  para pemusik Belanda ,Tionghoa,Ambon dan Manado  melalui berbagai pertunjukan panggung.Lagu-lagu Amerika yang populer dimainkan saat itu antara lain adalah Lazy Moon  yang dinyanyikan Oliver Hardy dalam film Pardon Us (1901), atau  Mother O’Mine lagu yang diangkat dari puisi karya Rudyard Kipling . Saat itu patut diakui kiblat bermusik adalah ke Amerika Serikat.Para penyanyi wanita yang ada di zaman Hindia Belanda disebut crooner bukan singer bahkan di depan nama para penyanyi wanita di beri embel-embel seperti Miss Tjitjih,Miss Riboet,Miss Roekiah,Miss Dja dan seterusnya. Dan ini berlangsung hingga akhir era 1940an.Mungkin hampir sama dengan keadaan sekarang ini dimana hampir semua penyanyi wanita bersematkan predikat diva.

 

Suara mendayu para miss ini lalu direkam oleh perusahaan rekaman seperti Tio Tek Hong yang berlokasi di Passer Baroe. Tio Tek Hong memulai bisnis rekaman di sekitar tahun 1904, dimana saat itu saudagar kaya ini mulai mengimpor phonograph  dengan memakai roll lilin.Setahun kemudian,tahun 1905, perusahaan rekaman Tio Tek Hong mulai merilis plaatgramofoon  atau piringan hitam ke seluruh Indonesia dari Sabang hingga Merauke.Saat itu Tio Tek Hong melakukan kerjasama dengan Odeon Record  mulai dari tahun 1905, lalu bekerjasama dengan Columbia Record pada tahun 1911-1912. dan Adapun lagu-lagu yang direkam Tio Tek Hong mencakupi jenis Stambul,Keroncong,Gambus,Kasidah,Musik India,Swing hingga Irama Melayu.

Penyanyi dan kelompok musik yang direkam Tio Tek Hong Record cukup beragam.Untuk musik keroncong ada Orkest Krontjong Park,Orkest Moeridskoe ,Krontjong Sanggoeriang,Kerontjong Aer Laoet,Krontjong Deca Park .Untuk musik Kasidah ada Kasida  Sika Mas,Orkese Gamboes Metsir,Kasida Rakbie Mas,Gamboes Boea Kana  serta Gamboes Turkey. Lagu-lagu yang populer saat itu antara lain  Tjente Manis,Boeroeng Nori,Djali Djali, Tjerai  Kasih,Paioeng Patah,Dajoeng Sampan,Kopi Soesoe,Sang Bango,Inang Sargie,Gelang Pakoe Gelang dan masih banyak lagi.Lagu-lagu ini direkam dalam bentuk vinyl berukuran 10 inci.Disamping itu Tio Tek Hong Record juga merekam sandiwara Njai Dasima yang dikemas dalam format  boxset berisikan sebanyak  5 keping  piringan hitam.

Tio Tek Hong ini memiliki trademark tersendiri pada album-album rekaman yang diproduksinya. Pada setiap vinyl produksi Tio Tek Hong di setiap sebelum lagu pada track pertama berkumandang, terdengar suara rekaman Tio Tek Hong melfalkan kalimat seperti ini : Terbikin oleh Tio Tek Hong, Batavia”.

Dalam iklan yang dimuat di Koran Ik PoSurakarta  terbitan tanggal 25 Februari 1908,Tio Tek Hong menuliskan sederet iklan yaitu :” (“Plaat plaat ini besarnja 27 c.M. dan sengadja saja soeroe bikin doewa moeka (djadi satoe plaat ada doewa lagoenja) soepaja harganja tida djadi terlaloe mahal, maski onkosnja bikin itoe plaat-plaat ada terlaloe berat.  

Jadi dalam setiap single piringan hitam ukuran kecil  yang dijual Tio Tek Hong  Record terdapat dua lagu yaitu satu di muka 1 dan satu lagi di muka 2.

Pembeli piringan hitam saat itu memang sangat terbatas,karena harganya relatif mahal. Belum lagi harga gramophone yang hanya terjangkau oleh kalangan menengah keatas.Karenanya masyarakat sebagian besar bisa  menikmati rangkaian lagu-lagu populer Inonesia saat itu justeru  dengan menonton pertunjukan yang digelar dan berlangsung di panggung-panggung hiburan yang berada  di Pasar Gambir,Globe Garden,Stem En Wyns,Maison Versteegh dan Prinsen Park,seperti yang ditulis Remy Sylado dalam buku Ensiklopedia Musik   .

Musik-musik Indonesia yang direkam pada awal era 1900an pada umumnya menggunakan bahasa Melayu terutama yang ditemui dalam irama Keroncong serta Stamboel.Genre dan subgenre musik yang berkembang sejak 1903 adalah musik-musik Indonesia yang merupakan serapan dari budaya Arab dan Cina serta yang tercerabut dari pola musik etnik mulai dari Jawa,Bali,Cirebon,Sunda dan kemudian memasuki dasawarsa 1930an mulai terdengar ragam etnik Tapanuli dan Minangkabau.  

 

Lalu siapa sajakah pemusik atau penyanyi Indonesia yang dikenal di era ini ?. Di awal abad ke 20 ini ada beberapa pemusik yang tercatat menyita perhatian antara lain Tio Tek Tjoe seorang penggesek biola andal  hingga Hasan Muna.Lalu penyanyi penyanyi yang merekam suaranya pada label Gramophone Company atau His Master Voices (HMV) saat itu adalah Miss Jacoba Siregar dari Sumatera Utara tapi bermukim di pulau Jawa,ada juga Nji Raden Hadji Djoelaeha penyanyi Sunda dari Jawa Barat serta Miss Norlia.

Album stamboel Miss Riboet "Jatalak" yang dirilis Beka Record sekitar tahun 1925

Album stamboel Miss Riboet “Jatalak” yang dirilis Beka Record sekitar tahun 1925

 Antara tahun 1926 – 1927 Beka Record menampilkan rekaman dari Miss Riboet,seorang penyanyi dan juga aktris layar lebar .Miss Riboet merekam sekitar 188 lagu pada label Beka Records ini.Selain Miss Riboet,penyanyi-penyanyi yang berada dibawah naungan Beka Record antara lain adalah Aer Laoet atau Herlaut,Toemina,juga ada Nji Moersih yang khusus menyanyikan lagu-lagu Sunda serta penyanyi pria bernama Amat .Lalu pada label Odeon bernaung sederet penyanyi penyanyi yang dikategorikan sebagai second-rank stars  antara lain adalah Miss Alang,Siti Amsah, Miss Lee ,Nji Resna dan Nji Iti Narem, dua nama terakhir khusus menyanyikan lagu-lagu bernuansa Sunda  .Di label Odeon ada Mr Jahri atau yang kerap dipanggil Jaar sebagai pemimpin ensemble yang mengiringi para artis Odeon. Di tahun 1928 muncul label Columbia Gramophone Company  yang mengetengahkan para penyanyi seperti Siti Aminah yang dikenal sebagai pelantun irama Melayu ,Miss Julie serta dua pemusik yang tampil sebagai pemimpin orkes yaitu Fred Beloni, lelaki blasteran Eropa dan Asia serta pemimpin ensemble Abdul Rachman.

 

Di era 1920an, genre musik populer  pun mulai bisa disimak melalui gelombang radio.
Siaran pertama  yang ada di negeri ini berasal dari siaran radio   Bataviase Radio  Vreniging (BRV) di Batavia yang resminya mengudara  16 Juni 1925  berstatus swasta .Lalu   berdirilah radio di daerah dengan  bantuan dari pemerintah Hindia Belanda. Dan dalam waktu singkat muncullah perkumpulan-perkumpulan siaran radio Bahasa Indonesia,yang tujuan utamanya menyiarkan kesenian dan kebudayaan Indonesia.Tampaknya Belanda berhasil  dalam upaya mengalihkan titik  perhatian masyarakat dari masalah-masalah politik lewat budaya dan kesenian .

Dan di era 20an ini musik  Barat  yang tengah populer adalah musik Jazz yang berasal dari Amerika Serikat.Musik jazz saat itu hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja mulai dari kalangan orang Belanda dan Eropah lainnya serta segelintir kaum intelektual dan menengah keatas Indonesia.

Di Surabaya mulai dikenal nama Jose  Marpaung, seorang pemain piano yang juga terampil melantunkan suara emasnya. Bersama Martin Kreutz dan Karel Lind, Josa Marpaung membentuk kelompok jazz bernama White Dove.Kelak hingga ke era 1960an dan 1970an, Surabaya tercatat banyak menetaskan pemusik-pemusik jazz berbakat mulai dari Jack Lesmana hingga Bubi Chen dan Maryono.

Di era 20an pula di Makassar juga terdengar kiprah musik jazz dengan munculnya kelompok musik bernama Black and White Jazz Band yang anggotanya terdiri dari orang-orang Belanda dan pribumi, satu diantaranya adalah Wage Rudolf Soepratman yang kelak dikenal sebagai komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya. 

Sebelum meletusnya Perang Dunia ke II, dikenal pula penyanyi bernama Broer Nadus yang memiliki nama asli Bernardus Sapulette, putra Maluku yang dikenal sebagai penyanyi Hawaiian di Makassar.Ada juga seorang remaja bernama Tan Tjeng Bok yang dalam usia 14 tahun pada tahun 1912 telah meniti karir sebagai biduan atau penyanyi yang memiliki daya pikat.

Di era 1920an terdengar pula sosok lelaki Maluku bernama Bram Tutuheru yang berkarirs sebagai penyanyi dan pemimpin orkes di Batavia.  Di tahun 1927 seorang penyanyi wanita tunanetra Annie Landauw berhasil menjuarai kontes menyanyi di Surakarta,Jawa Tengah.Landouw kemudian diajak rekaman oleh perusahaan rekaman BeKa Record dan menetap di Batavia.

Di era 1930an kawasan Sumatera,Malaysia dan Permukiman Selat merupakan monopoli untuk rekaman piringan hitam 78 RPM (Rotation Per Minute)  yaitu Grammophone Company Limited yang merilis sederet lagu-lagu Melayu dengan label His Master’s Voice (HMV), dimana katalog berbahasa Inggris diperuntukkan buat Malaysia serta yang menggunakan bahasa Belanda dirilis hanya untuk wilayah Hindia Belanda.

Ada 3 jenis orkes yang mencuat pada era 1930an yaitu Orkes Harmonium, Orkes Gambus dan Orkes Melayu.

Syech Albar, ayah kandung penyanyi rock Achmad Albar, adalah pemusik Gambus yang sangat kesohor dari Surabaya Jawa Timur .Syech Albar ternyata sangat produktif merilis album-album baru, salah satu diantaranya “Zakhratoel Hoesoen” ditahun 1937.Juga terdengar berkibar nama S.Abdullah, seorang penyanyi dan pemusik yang mekam suara emasnya pada Gramphone Company serta Canary Record.Nama lainnya adalah penyanyi Menir Moeda yang kerap menyanyikan lagu-lagu Sunda serta dikenal pula sebagai seorang pelawak.Miss Eulis,Miss Soepija ,Gadjali,Miss Brintik,Mr Hanapi,Leo Sapulitu dan Bram Titalej atau lebih dikenal dengan nama panggung Bram Atjeh.

Di tahun 1936 muncul pemain biola  berbakat bernama Mas Sardi yang tergabung dalam Faroka Opera.Kelompok opera ini menggelar pertunjukan hingga ke Singapore.Setahun kemudian , tepatnya tahun 1937 Mas Sardi,yang juga ayah Idris Sardi ini bergabung dalam Sweet Java Opera.Dan sejak tahun 1939 Mas Sardi mulai terjun sebagai pembuat music score untuk film-film layar lebar seperti Rentjong Atjeh,Alang Alang,Srigala Item maupun Sorga Palsoe.Disamping itu juga dikenal penggesek biola sekaligus peniup klarinet Sastrodihardjo, ayah kandung dari peniup saxophone jazz Maryono.Lalu dikenal juga pianis dan komposer ternama Ismail Marzuki serta beberapa nama-nama pemusik yang berjaya pada era tersebut semisal, Kartolo, Abdullah,Jahja,Zahiruddin,Atungan serta Hugo Dumas.Salah satu Orkes Kerontjong yang disegani saat itu adalah Lief Java yang dibentuk Hugo Dumas dan Abdullah.

Penyanyi wanita Indonesia terkemuka era 1930an Roekiah

Penyanyi wanita Indonesia terkemuka era 1930an Roekiah

Di tahun 1937 muncul penyanyi wanita Roekiah yang juga meniti karir dalam dunia teater dan perfilman.Penampilan penyanyi Roekiah kerap diiringi Orkes Kroncong Lief Java pimpinan pemusik S. Abdullah dan H.Dumas .Roekiah mempopulerkan lagu-lagu seperti Terang Boelan hingga Kerontjong Moritsko.Di tahun 1938 penyanyi populer Annie Landouw akhirnya bergabung juga dengan Orkes Keroncong Lief Java ini.  Selain itu,di tahun 1937  juga  berdiri sebuah kelompok musik jazz bernama Melody Makers yang didukung gitaris Jacob Sigarlaki hingga drummer Boetje Pesolima.Mereka memainkan musik Dixie dan Ragtime secara mengagumkan.

Jangan lupa pula  sederet penyanyi lain yang tak kalah sohornya antara lain Miss Netty,Jan Bon,Van Der Mul,Miss Lie,Moenah,Paulus Itam,Miss J van Salk,Harry King,John Iseger,Miss Ninja,Miss J Luntungan,Mohammad Jasin Al Djawi,Miss C Luardie,Miss Dewe  serta Leo Spel.Gaya bernyanyi mereka terinspirasi dengan gaya crooner Amerika Serikat.  Di masa ini musik kroncong,langgam,gamelan,gambus dan jazz merupakan genre musik  yang mendapat sambutan baik dikalangan masyarakat luas.Untuk musik  gamelan dikenal 3 pesinden langgam Jawa yaitu Njai Demang Mardoelaras,Bok Bekel Mardoelaras dan M.A Worolaksmi.Untuk gambus maupun qasidah dikenal nama nama seperti Sjech Albar,S.H. Alaidroes dan Mohammad Jasin Al Djawi.

Untuk jenis keroncong dikenal 3(tiga)  penyanyi yang sangat terkenal yaitu Parmin,Soekarno dan Soeparto.

Para pemusik yang dianggap andal di era ini antara lain Hugo Dumas yang memimpin dua kelompok musik sekaligus yaitu Lief Java yang cenderung memainkan musik keroncong dan The Sweet Java Islanders yang memainkan musik Hawaii atau Irama Lautan Teduh.F.H Belloni seorang komposer dan pemimpin ensemble musik.S.Mohammad Bin Jitrip yang memimpin Orkes Gambus dan S.Mohammad Alajdroes yang mempin Orkes Harmonium.H.E.L.W.E DeSizo yang memimpin De Siso’s Strings Orchestra.

 

Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia dalam kurun waktu 1942 hingga 1945 , musik Jazz nyaris tak terdengar gaungnya sama sekali.Tak satu pun kelompok musik Indonesia yang memainkan repertoar jazz,termasuk memutar rekaman musik  jazz melalui siaran radio.Penyebabnya adalah situasi politik yang tidak memperkenankan budaya Amerika berkembang di Indonesia.Ruang gerak musik jazz terbendung dan musik yang diperkenankan bergaung saat itu adalah musik yang bernuansa propaganda Jepang serta lagu-lagu daerah termasuk diantaranya adalah musik keroncong. Sebagian besar orang Jepang yang menduduki Indonesia malah terpukau dengan lagu Bengawan Solo karya Gesang.

 

 

Sejak tahun 2007 saya mencoba hunting alias mengumpulkan piringan hitam atau vinyl berukura 7 inch dalam format 45 RPM dari band favorit saya Genesis serta single single solo karir penyanyi dan drummer Genesis Phil Collins.

Singles Separate Live duet Phil Collins dan Marylin Matlin dari soundtrack album film White Night (1984)  (Foto Denny Sakrie)

Singles Separate Live duet Phil Collins dan Marylin Matlin dari soundtrack album film White Night (1984)
(Foto Denny Sakrie)

Sebetulnya apa yang menarik dari mengejar serta mengumpulkan rekaman-rekaman single terutama Genesis ? Pertama,menurut saya, yang menarik dari piringan hitam single adalah B Side yang pada galibnya justeru tak ditemukan pada full length albumnya.Kedua, karena formatnya yang unik,kecil dan menggemaskan.Namun yang terakhir ini memang relatif dan menurut hemat saya diabaikan saja, karena toh tak penting penting banget. Hingga sekarang ini saya telah memiliki sekitar 25 single atau vinyl 7 inch dari Genesis, yang didominasi oleh Genesis era Phil Collins pada akhir 70an hingga 80an.

Singles You Can't Hurry Love di tahun 1982 (Foto Denny Sakrie).

Singles You Can’t Hurry Love di tahun 1982 (Foto Denny Sakrie).

Terutama Genesis era 80an mayoiritas durasi lagu-lagunya sudah tak sepanjang Genesis era Peter Gabriel yang menghabiskan durasi diatas dari 5 menit hingga 20 menit.

Single Genesis Throwing It All Away dari album Invisible Touch di tahun 1986 (Foto Denny Sakrie)

Single Genesis Throwing It All Away dari album Invisible Touch di tahun 1986 (Foto Denny Sakrie)

Dalam riset saya,piringan hitam single ini kebanyakan berasal dari stasiun radio swasta yang memang memilih segmentasi Top 40 Radio atau yang berformat CHR (Chart Hits Radio),Disamping itu vinyl berukuran 7 inch ini kebanyakan pernah dimiliki oleh orang orang yang pernah kuliah atau bekerja di luar negeri entah itu di Amerika Serikat maupun Inggris dan negara-negara Eropah lainnya.

Vinyl vinyl Genesis 45 RPM ini kebanyakan saya peroleh di sekitar Jalan Surabaya,Taman Puring dan kini lebih banyak saya temukan di rubanah Blok M Square Jakarta Selatan.

Sampai detik ini saya masih tetap terus hunting vinyl 45 RPM milik Genesis dan Phil Collins. Ada yang jual ke saya ? Let me know

Piringan hitam single Genesis "Abacab" dan "Another Record" (1981) (Foto Denny Sakrie)

Piringan hitam single Genesis “Abacab” dan “Another Record” (1981) (Foto Denny Sakrie)

Bravo Musik baru saja melakukan rilis ulang atau reissue terhadap album debut Giant Step Mark 1 yang dulu dirilis oleh Lucky Record pada tahun 1976. Giant Step Formasi Mark 1 terdiri atas Benny Soebardja (vokal utama,gitar),Albert Warnerin (gitar),Adi “Sibolangit” Harjadi (bass),Janto Soedjono (drums) dan Deddy Dorres (keyboards).

Giant Step saat itu dikenal sebagai band yang memiliki konsep musik yang jelas dan mempunyai sikap serta pendirian yang kuat yaitu pantang menyanyikan lagu-lagu milik orang lain.Mereka lebih bangga membawakan lagu-lagu yang mereka tulis sendiri.Saat itu hampir semua band rock di Indonesia merasa lebih terhormat jika membawakan lagu-lagu milik band mancanegara seperti Led Zeppelin,The Rolling Stones,Genesis,yes,Emerson Lake and Palmer,Deep Purple dan masih banyak lagi.

Di tahun 1976 Lucky Record memiliki keberanian merilis album perdana Giant Step yang tentunya berlumurkan idealisme yang menyemburat dalam karya-karyanya.Album ini memang tak meledak dalam pasaran musik Indonesia saat itu. Kini kerinduan terhadap album yang selama ini masuk list collector’s item ini pupus dengan munculnya reissue Giant Step mark 1 dalam bentuk cakram  padat.

Bahkan pada cover album ini tersemat sticker bulat bertuliskan The First Indonesian Prog Rock Band of 70s  .Sebuah tagline yang tampaknya bakal memancing polemik terutama mungkin dari kalangan penikmat musik progressive rock.Betulkah Giant Step adalah band Prog Rock pertama di Indonesia ? Nah ini harus ditelaah lebih lanjut.Banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memberi semacam label dalam sebuah album rekaman tanpa melakukan riset secara historial tentunya.

BWyiPKOCEAA3WP3

Di tahun 1973 misalnya, jauh sebelum Giant Step terbentuk atau bahkan sebelum album Mark 1 itu dirilis di Bandung telah muncul Gang of Harry Roesli yang merilis album Philospohy Gang (1973,Lion Record) dengan musik yang cenderung ke gaya rock progresif.

Bahkan di tahun yang sama sebetulnya sudah ada album bernuansa prog rock bertajuk Gede Chokra’s dari kelompok Shark Move yang dibentuk Benny Soebardja dan Bagu Ramchand pada label SharkMove Record.

Di tahun 1975 Guruh Soekarno Putra membuat kolaborasi musik bersama band Gipsy dengan nama proyek Guruh Gipsy, dan memiliki aura rock progresif yang sangat kental.Ini adalah fakta yang harus dimahfumi terlebih dahulu.Entah siapa yang punya ide atau gagasan menempelkan sticker seperti itu pada cover album Giant Step Mark 1.