Kaset Guruh Gipsy dirilis di tahun 1977 (foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy dirilis di tahun 1977 (foto Denny Sakrie)

Guruh Gipsy Dari kiri Abadi Soesman (synthesizers),Chrisye (bass,vokal),Keenan Nasution (drums,vokal),Roni Harahap (piano/keyboard,komposer ),Oding Nasution (gitar)  dan Guruh Sukarno Putra (piano,gamelan,komposer)

Guruh Gipsy Dari kiri Abadi Soesman (synthesizers),Chrisye (bass,vokal),Keenan Nasution (drums,vokal),Roni Harahap (piano/keyboard,komposer ),Oding Nasution (gitar) dan Guruh Sukarno Putra (piano,gamelan,komposer)

Piringan Hitam Guruh Gipsy dirilis Shadoks Jerman tahun 2006 tanpa izinPiringan Hitam Guruh Gipsy dirilis Shadoks Jerman tahun 2006 tanpa izin

Album Guruh Gipsy menghabiskan waktu dua tahun dalam penggarapannya yang dimulai tahun 1975 hingga 1977.Album cutting edge ini bisa dianggap embrio gerakan indie di negeri ini.Mereka patungan mengumpulkan modal untuk rekaman,memproduksi sendiri lalu mendistribusikannya tanpa jaringan label satu pun.Tahun 2006 sebuah label di Jerman mereissue Guruh Gipsy tanpa izin.Tahun ini label Moon June dari New York tertarik untuk merilis album yang kini jadi target kolektor dunia.

Pada tahun 1974 Sepulang dari lawatan musik di  New York Amerika Serikat,Keenan Nasution mulai banyak berhubungan dengan Guruh Soekarno Putera.Guruh yang baru saja tiba dari Belanda gelisah ingin menampilkan sebuah proyek musik yang  menampilkan musik tradisional Indonesia yang bersanding dengan musik Barat.Di Belanda,Guruh pernah bersua dengan Pandji,Direktur Konservatorium Bali yang kebetulan tengah menimba ilmu pula.Atas gagasan Pandji,Guruh pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh Soekarno Putera. Keenan Nasution bertutur panjang tentang album Guruh Gipsy yang tahun ini genap berusia 36 tahun.

Sejak kapan kenalan dengan Guruh ?

Sebetulnya sejak kecil,saya dan Guruh sama sama sekelas di Sekolah Yayasan Perguruan Cikini.Guruh memang suka seni.Dia juga punya band namanya The Flower Poetman.Guntur,abangnya saat itu sudah dikenal sebagai drummer band Aneka Nada

Kenapa memilih musik Bali ?

Bagi saya sendiri gamelan Bali itu bukan hal baru.Antara tahun 1966-1968 saat Gipsy masih menggunakan nama Sabda Nada,kita sudah bereksperimen menggabungkan band dan gamelan.Kebetulan di rumah saya tinggal I Wayan Suparta seniman Bali yang paham gamelan Bali.Bahkan seperangkat gamelan Bali ada di Pegangsaan saat itu.Musik Bali itu eksotis dan dinamis.Makanya saya merasa spirit music Bali itu mirip dengan rock.Lalu kami mulai iseng menggabung gabungkan music rock dan Bali.Kami bahkan pernah mebawakan lagu Yes dari album Tales From Topographic Oceans dengan memasukkan gamelan Bali

Jika kita simak, album Guruh Gipsy tampaknya juga  terpengaruh band band art rock era 70an.Betulkah ?

Itu betul.Pada dasarnya saat itu kami lagu gandrung menyimak band band seperti Yes,Genesis atau ELP.Secara gak sadar pengaruh itu muncul saat kami menulis komposisi musiknya.

Misalnya ?

Nah coba simak riffing Geger Gelgel deh,itu kami ambil referensi dari lagu “Heart of Sunrise” nya Yes.Atau pada lagu Indonesia Maharddhika ada yang terpengaruh “And You And I” nya Yes.Bahkan Roni Harahap nekad memasukkan beberapa part Watcher of The Skies-nya Genesis kedalam bentuk paduan suara di lagu Janger 1897 Saka.Oding saat bingung mau mengisi solo gitar di lagu Barong Gundah lalu mengambil inspirasi dengan mendengar Birds Of Fire-nya Mahavishnu Orchestra.Dalam lagu Chopin Larung kami mengadaptasi excerpt karya klasik Chopin “Fantasie Impromptu”.

Siapa saja yang ikut mendukung album Guruh Gipsy ?

Wah lumayan banyak tuh.Ada Hutauruk Sisters sebagai penyanyi latar.Orkes Studio Jakarta.Pianis klasik Trisutji Kamal serta Kelompok Seni Bali Saraswati yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka.Pak Kompyang ini pada lagu Geger Gelgel berperan sebagai dalang.

Betulkah album Guruh Gipsy ini digarap selama dua tahun ?

Bisa dikatakan penggarapan album ini jadi panjang karena memang komposisi yang dibuat memang serba kolosal terutama karena ingin menggabungkan musik rock dan Bali.Seingat saya proses rekaman pertama berlangsung Juli 1975 dan berakhir 16 November 1976.Sebetulnya proses rekaman Guruh Gipsy berlangsung selama 52 hari. Ada pun kurun waktu sekitar 16 bulan itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari para donatur,latihan dan menulis materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong  terutama ketika  studio recording digunakan oleh pihak lain .

Dimana Guruh Gipsy direkam ?

Di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track pertama di Indonesia yang berada di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.Sound engineernya adalah Alex Kumara dan Yongki Mamahit.Saat rekaman kami saling berdesak-desakan karena recording room yang tak seberap besar harus memuat begitu banyak orang terutama ketika sesi yang melibatkan chamber orchestra,paduan suara dan para pemain gamelan.

Bisa cerita proses perekaman Guruh Gispy ?

Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan sebanyak 4 komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong Gundah,Chopin Larung  dan sebuah komposisi yang belum diberi judul tapi kemudian tidak jadi dimasukkan dalam album. Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung  dari Mei hingga Juni 1976 yang menghasilkan 3 lagu masing masing Djanger 1897 Saka, Indonesia Maharddhika dan Smaradhana.Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah, Chopin Larung dan Geger Gelgel.

Lagu apa yang dirasakan sulit saat rekaman ?

Lagu “ Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus direkam  serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu sesak dan pengap.

Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan proses dubbing berupa pengisian suara gitar elektrik ,keyboard,piano elektrik dan synthesizers sebanyak 200 kali. Dulu saat harus mengadopsi banyak bunyi-bunyian keyboard dalam berbagai layer harus melakukan overdub ratusan kali.Sesuatu yang pasti tak akan ditemui pada proses perekaman di zaman sekarang yang telah didukung teknologi mutakhir.

Dari mana modal untuk pembuatan album Guruh Gipsy ?

Dari para donator kenalan kita. Awalnya Pontjo Soetowo yang memang banyak memfasilitasi kegiatan bermusik kami sejak tahun 1966 yang banyak mengeluarkan kocek.Lalu disusul dengan dukungan dana dari banyak pihak antara lain ada dari Hasjim Ning juga Taufik Kiemas.

Apakah betul Guruh Gipsy meniru Bali Agung nya Eberhard Schoener yang berkolaborasi dengan Anak Agung Raka,pemusik Bali ?

Seingat saya saat album Bali Agung dirilis akhir 1976, Guruh Gipsy baru saja menyelesaikan proses rekaman.Jadi kami tidak meniru Eberhard Schoener.

Di tahun 2006 label Shadoks di Jerman merilis ulang Guruh Gipsy dalam bentuk vinyl.Apakah ada izin ?

Wah itu sama sekali gak ada izin secara langsung ke kami.Mereka mengambil materi Guruh Gipsy dari kaset yang ditransfer ke CD.Ketika saya menghubungi Shadoks melalui email,mereka minta maaf dan berdalih tidak tahu harus kemana untuk minta izin rilis ulang.Tapi dengan tegas saya meminta kepada mereka untuk menghentikan produksi Guruh Gipsy

Apa komentar anda tentang respon dunia terhadap Guruh Gipsy ?

Kaget juga terutama setelah melihat review review mereka di internet yang memuji Guruh Gipsy dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa album Guruh Gipsy menjadi target para kolektor dunia.Oktober 2012 lalu Leonardo Pavkovic pemilik label MoonJune Record di New York dating menemui saya untuk meminta izin merilis Guruh Gipsy secara internasional.Namun sampai sekarang ini belum ada kesepakatan yang konkrit antara Guruh Gipsy dan MoonJune Record.

Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi no.95 – Maret 2013

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Kapan pertama kali saya mengenal piringan hitam ? Ini terjadi di tahun 1969,saat saya merayakan ulang tahun saya yang ke 6.Saat itu saya dan keluarga saya menetap di Ambon.Sebetulnya ayah saya telah memiliki perangkat turntable yang compact dengan radio bermerk Grundig itu pada tahun 1966.Namun saya baru ngeh ketika saya duduk di bangku kelas 1 SD.Saya masih ingat saat itu ayah saya kerap memutar piringan hitam single 7 inch Hey Jude milik The Beatles.Hey Jude adalah lagu terpanjang dengan durasi sekitar 7 menit 11 detik.Sebagai bocah yang baru melek musik merasakan sesuatu yang aneh dan unik lewat lagu dengan durasi panjang dengan outro yang berulang ulang.Di saat itu juga saya mengenal album Bee Gees yang bercover merah bertajuk Odesa.Lagu yang saya langsung suka dari album ini adalah First of May.Menurut ayah saya Bee Gees ini terpengaruh The Beatles.

Menyimak atau mendengarkan musik melalui piringan hitam saat itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan.Record Machine itu merupakan hiburan keluarga disamping radio yang menggunakan tabung tabung itu.Apalagi di Ambon,kota kecil yang berada di unung Timur Indonesia.Mendengarkan aluanan musik melalui piringan hitam dan radio jelas merupakan sesuatu yang mewah saat itu.Siaran TVRI hanya ada di Jakarta.

Tapi toh dengan medium piringan hitam,kami sama sekali tak memiliki kendala mengupdate kekinian dalam perkembangan musik.Setiap ayah saya pulang dari Jakarta,dia pasti membawakan setumpuk piringan hitam terbaru, baik rilisan lokal maupun internasional.

Tak berlebihan jika saya beranggapan bahwa piringan hitam dari Bee Gees dan The Beatles inilah yang meracuni selera saya untuk menyukai alunan musik.Selain itu,koleksi piringan hitam ayah saya pun lumayan variatif.Misalnya ada lagu yang gampang diingat dan seketika langsung bisa dinyanyikan yaitu Chewy Chewy milik the Ohio Express yang menurut ayah saya lagi ngetop-ngetopnya di tahun 1969.

. Racun ini tak bisa  saya tepiskan hingga saat sekarang ini, disaat usia saya menjelang separuh abad.

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express

DSCitos,mall yang selalu ramai di kawasan Selatan Jakarta,minggu 27 Januari 2013 tetap ramai.Di Score Citos radio Ninetyniners bikin acara 9 Gallery Happy Sunday.Menghadirkan band band yang kerap diputar lagu lagunya di radio yang berada dikawasan Menteng Jakarta seperti Kerispatih,Tangga,Stairway To Zina,Saint Loco dan banyak lagi.Di sela sela konser musik,Ninetyniner bikin talk show tentang Industri Musik Indonesia.Saya diminta bercerita selayang pandang mengenai industri musik Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang beserta pernak perniknya.Selain saya ada Melanie Subono aktivis yang juga suka nyanyi dan pernah bikin beberapa album.Juga ada Beben dari Sinjitos yang bertutur tentang pengalamannya dalam mengelola label.

Permasalahan permasalahan dalam industtri musik kita saat ini mau tidak mau harus dilontarkan,mulai dari pembajakan yang tak kunjung bisa diatasi secara tuntas,paltform atau paradigma musik sekarang yang mengarah ke musik digital.Habit penikmat musik sekarang yang cenderung lebih menggemari aktivitas downloading serta upaya bertahan dari para pelaku bisnis musik di Indonesia.

Sayang diskusi musik ini memang terasa sangat sempit.Bagaimana mungkin bisa memetakan problematika musik negeri ini dengan durasi hanya sekitar 30 menit.Namun toh itikad radio Ninedtyniners ini layaklah diacung jempolImage

Tafsir Bebas Jesus Christ Superstar

Posted: Januari 28, 2013 in Kisah
Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Opera rock Jesus Christ Siperstar karya fenomenal Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice ini awalnya adalah sebuah album konsep yang didukung sejumlah pemusik dan penyanyi di tahun 1970 antara lain Ian Gillan,vokalis Deep Purple,John Gustfasson dari Quatermass,Murray Head hingga penyanyi pop Yvone Elliman.Kemudian dipanggungkan pertamakali di Broadway pada tahun 1971.Dan ternyata sukses.Jesus Christ Superstars memang merupakan multi tafsir yang sangat menghebohkan terutama pertentangan antara Jesus dan Judas Iscariot yang konon tak ada dalam Bible.Dalam film layar lebarnya pun karya Webber dan Rice ini banyak mengetengahkan anakronisme.Banyak protes yang muncul terhadap kontroversi interpretasi dalam lakon Jesus Christ Superstar ini.

Di Afrika Selatan lakon Jesus Christ Superstar dilarang untuk dipertunjukkan karena dianggap irreligius.

Bahkan di Indonesia pada tahun 1980,Remy Sylado mengangkat Jesus Christ Superstar di Balai Sidang Senayan Jakarta juga menuai kontroversi.Bayangkan sosok yang memerankan Jesus Christ justeru berkulit hitam, diperankan oleh Martin Luther Meset personil Black Brothers yang tampil naik becak.Juga Judas Iscariot berkulit putih yang diperankan penyanyi Yan Berlin.Jesus Christ Superstar hasil olah tafsir Remy Sylado pun jadi perbincangan yang menghebohkan.

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Dua lagu dari lakon Jesus Christ Superstar jadi hits yaitu I Only Want To Say (Gethsemane) yang dinyanyikan Ian Gillan serta I Don’t Know How To Love Him pleh penyanyi mungil Yvonne Elliman.Image

Achmad Rafiq

Achmad Rafiq

Ini mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.Sabtu 19 Januari 2013 saya mendapat dua kabar duka cita dari BBM dan WhatsApp saya.Pertama adalah berpulangnya penyanyi Johnny Killian,seorang pelopor impersonator Elvis Presley di Indonesia pada jam 14.45 WIB di Rumah Sakit Jakarta.Kedua,sekitar jam 16.00 WIB telah berpulang juga penyanyi dangdut A.Rafiq yang diawal karirnya pada akhir era 50an pernah pula menekuni karir musik sebagai impersonator Elvis Presley.

Elvis Presley adalah fenomena menarik dalam industri musik sejak berkembangnya musik rock n roll di era 50an.Rock n roll adalah sebuah kemempelaian antara blues dan country yang menawarkan kredo kebebasan yang meledak-ledak.Sebuah stigma yang pada akhirnya merupakan mazhab gaya hidup anak muda dari era ke era.

Pengaruh Elvis Presley memang sangatlah dahsyat karena berhasil membius anak muda diseantero jagad untuk menjadkikan rock n roll sebagai medium sarat pesan.Walaupun Elvis Presley bukanlah tokoh yang mempelopori lahirnya rock n’roll, tapi Elvis adalah ikon yang menghidupkan semangat rock n’roll itu sendiri.Bayangkan seorang remaja Inggris pun takjub dengan kemilau Elvis Presley yang “mencuri” kredo musik orang orang Afrika yang berimigrasi ke Amerika menjadi budak.Anak muda kelahiran tahun 1940 itu lalu mengepalkan obsesi ingin memainkan pula rock n roll.Obsesi remaja Inggeris asal Liverpool itu berbuah bukti saat dia,yang kemudian dikenal sebagai John Lennon, bersama band bentukannya The Beatles menginvasi Amerika Serikat pada tahun 1963.Ini semua karena daya pesona seorang Elvis Presley.

Di Indonesia sendiri Elvis pun menjadi panutan anak muda.Mulai dari sederet lagu-lagunya hingga fashion yang ditularkan Elvis melalui tata rambut hingga tata busana.Imprealisme rock n’roll ini toh pada akhirnya dibendung oleh Presiden Soekarno dengan melarang tingkah polah mazhab rock n’roll yang dianggap dekaden dengan istilah musik ngak ngik ngok.Film film rock n roll mulai dari Rock Around The Clock-nya Bill Halley and His Comets hingga film-film romantik Elvis Presley dilarang diputar di Indonesia.Saat itu Soekarno memang memancangkan sikap anti Barat lewat Manipol Usdek.Dengan lantang Soekarno menyerukan : Inggris kita linggis.Amerika kita setrika !. Bersama dengan beberapa seniman musik Indonesia,Soekarno menggali musik pop yang sesuai budaya bangsa.Akhirnya muncul tarian pergaulan Irama Lenso yang digali dari khazanah budaya Maluku di timur Indonesia.

Namun toh ada juga pemusik kita yang cerdas.Ketika Soekarno melarang musik Barat dalam hal ini rock n’roll, tiba-tiba mencuat lagu Bengawan Solo karya Gesang yang dibawakan penyanyi Oslan Husain dengan gaya rock n’roll ala Elvis Presley.Lagu Bengawan Solo ala Elvis Presley yang dikumandangkan Oslan Husain ini lolos dari pembredeilan.

Dengan larangan anti ngak ngik ngok itu,tak hanya Oslan Husain yang merancang strategi.Tapi banyak pemusik Indonesia terpicu kreativitasnya dengan larangan memainkan musik Barat ini.Kelompok musik Gumarang dengan pengaruh musik Latin Xavier Cugat menyanyikan lagu-lagu berbahasa Minang seperti Ayam Den Lapeh.Ini sebuah ironi,karena musik Latin toh bukan budaya Indonesia.Ironi ini juga terlihat ketika film film Hollywood dilarang untuk diputar dibioskop bioskop Indonesia, tapi sejak tahun 1952 impor film India justeru diperbolehkan.Namun larangan larangan memainkan musik Barat ini justeru membuat pemusik kita memutar otak agar bisa memainkan musik tanpa ada larangan sama sekali.Benyamin Sueb misalnya mulai memainkan musik blues dan funk yang dikawinkan dengan Gambang Kromong misalnya.

Penyanyi A.Rafiq yang berasal dari Semarang dan kemudian mengejar karir musik di Surabaya,mulai menanggalkan kebiasannya menyanyikan lagu-lagu Elvis Presley.A.Rafiq yang pada tahun 1969 bergabung dengan Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan A.Kadir mulai menyanyikan lagu-lagu yang berasal dari khazanah soundtrack film-film India yang tumbuh subur di negeri ini disamping lagu-lagu dari khazanah Timur Tengah.Uniknya A.Kadir bereksperimen dengan menggabungkan begitu banyak kecenderungan budaya dalam penampilan musik OM Sinar Kemala antara lain memadukan Irama Melayu dengan musik India dan Timur Tengah tapi para penyanyi dan pemusiknya menggunakan busana ala Barat.A.Rafiq salah satu penyanyi yang pernah berada dibawah naungan dan bimbingan A.Kadir menerapkan pola serupa saat merintis solo karir di Jakarta pada awal era 70an.A.Rafiq membuat musik dengan pengaruh musik India yang kuat tapi tampil dengan busana atau fashion yang mengambil inspirasi dari Elvis Presley terutama gaya busana Elvis Presley di era Las Vegas pada dasawarsa 70an dengan mengenakan kerah kemeja yang tegak berdiri.Sekujur kemeja hingga celana berlumurkan payet payet yang mengkilap serta celana cutbray serta rambut jambul dan cambang.Menariknya saat mengenakan busana ala Elvis Presley tersebut A.Rafiq justeru menemukan jatidiri penampilannya sebagai penyanyi dangdut tersohor.Saat itu celana cutbray ala Elvis Presley itu malah disebut orang sebagai celana Rafiq.

Memasuki orde baru,musik Barat tidak lagi dianggap sebagai budaya yang diharamkan.band band rock mulai bermunculan.Dan pesona Elvis Presley pun tak pernah luntur.Mulailah muncul para impersonator Elvis Presley di Indonesia seperti JW Errol,Mukti Wibowo,Johhny Killian,Gatot Soenyoto,Is Haryanto,John Phillips dan banyak lagi.Fenomena ini memang menjadi global,karena hampir semua Negara di seantero jagad memiliki para impersonator Elvis Presley.

Di Amerika Serikat sendiri impersonator Elvis mulai muncul di pertengahan era 50an,sesaat setelah Elvis memulai debut karirnya di zona musik.Tahun 1956 Jim Smith seorang remaja berusia 16 tahun memulai debut sebagai peniru Elvis .Smith tercatat sebagai impersonator Elvis pertama di dunia.Jumlah impersonator Elvis Presley kian membengkak setelah berpulangnya Elvis Presley pada 16 Agustus 1977.

Banyak impersonator Elvis Presley,yang menggunakan atribut Elvis ini hanyalah sebuah batu loncatan ke dunia hiburan.Salah satunya adalah aktor komedi Andy Kaufman yang memulai karir dunia hiburan sebagai peniru Elvis, namun setelah karirnya di dunia hiburan terbuka lebar,Kaufman lalu menanggalkan dan meninggalkan semua atribut Elvis Presley yang pernah dikenakannya.

Ketika mulai meraih popularitas luar biasa lewat lagu Pandangan Pertama dan Pengalaman Pertama, A.Rafiq memang telah lama tak menyanyikan Hound Dog atau Jailhouse Rock-nya Elvis Presley namun pengaruh busana Elvis Presley era Las Vegas masih dikenakannya di panggung pertunjukan maupun saat berakting dalam film layar lebar.

Pada akhirnya kita layak mahfum bahwa dalam dunia hiburan selalu ada peniruan peniruan dan premis orisinalitas sudah tak berlaku lagi.Elvis Presley yang ditiru jutaan orang itu pun meniru pemusik lain juga.Jadi buat apa ngotot soal orisinalitas ?

Johnny Killian

Johnny Killian

Ngumpul Bikin (Buku) Warung Kopi

Posted: Januari 17, 2013 in Uncategorized
Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Kaset Warung Kopi pertama yang dirilis Pramaqua tahun 1979

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Buku Warkop Main Main Jadi Bukan Main

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Remy Sylado,Indro Warkop,Rudy Badil,Budiarto Shambazy dan Denny Sakrie

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Dari kiri Johannes Soerjoko,Remy Sylado,Indro Warkop dan Rudy Badil

Ini adalah catatan saya di saat ngumpul bareng untuk bikin buku tentang Warung Kopi,kelompok lawak Indonesia fenomenal.Selamat membaca :

Jam 11 tadi siang selasa 23 Maret 2010 merupakan hari yang istimewa buat saya.Kenapa karena di terik siang bolong itu ada satu pertemuan untuk membahas rencana penulisan buku Warung Kopi,kelompok lawak fenomenal yang kini hanya tinggal dihuni satu pelawak saja yaitu Indro.
Rencana penulisan buku ini sudah saya dengar sejak paruh tahun lalu melalui Johannes Soerjoko pemilik label Aquarius Musikindo dan Budiarto Shambazy wartawan senior dari harian Kompas.Penggagasnya adalah Rudy Badil.Lelaki  berusia 63 tahun dengan rambut memutih ini sesungguhnya adalah anggota orisinal Warung Kopi Prambors yang resmi mengudara tiap malam jumat di Radio Prambors Rasisonia yang bermukim di Jalan Borobudur Menteng Jakarta pada tahun 1975.
Menurut Rudy Badil yang sehari-hari ,menurut saya,gak ada lucu-lucu-nya sama sekali,embrio acara Warung Kopi itu bermula saat anak anak pencinta alam diberi porsi acara khusus di Radio Prambors.Karena acaranya lebih banyak ngocol dan berha ha hi hi timbullah ide untuk membuat acara talk show komedi yang kemudian bertajuk Warung Kopi Prambors.
Tadi siang si empunya ide pembuatan buku ini,Rudy Badil,bertutur secara kronologis tentang romantika anak muda di era Soeharto ini.Saat ngumpul ngumpul tim penulis buku Warung Kopi ini hadir juga budayawan Remy Sylado,penggagas puisi mbeling dan mantan wartawan majalah Aktuil Bandung era 70an.
Remy Sylado pun memuntahkan referensi secara historik tentang asal muasal lawak di Indonesia.Menurut Remy yang nama aslinya Jubal Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong ini kata lawak berasal dari bahasa Jawa.Bahwa tradisi kerajaan selalu menghadirkan ruang bagi para pelawak sebagai penghibur raja.Semacam court jester di belahan bumi sana.Bahkan dalam babad pewayangan dengan epik Ramayana maupun Mahabharata versi Indonesia selalu ada tokoh punakawan yang terdiri atas empat lelaki : Semar,Petruk,Gareng dan Bagong.
“Nama nama keempat punakawan itu sendiri sebetulnya berasal dari nama nama Arab.Misalnya Petruk yang berasal dari nama Al Faturk” ungkap budayawan Remy Sylado yang memun tahkan informasi historik tanpa henti dihadapan kita semua.Wow……banyak nian referensi yang kami raup dari mulut lelaki Manado yang kerap menyebut dirinya Munsyi itu.
Gilanya lagi,Remy pun menuliskan nama-nama Arab itu di Whiteboard dengan menggunakan aksara Hijayyah .Padahal Remy bukan muslim,dia Nasrani.Eduaannnn
Indro pun bertutur tentang kisah awal bergabung dalam Warung Kopi Prambors.”Saya memang yang paling muda dan terakhir bergabung dengan Warkop.Saat Warkop mulai siaran di Prambors yang berhadapan dengan rumah saya di Borobudur,saya tertarik untuk melihat mereka siaran langsung.Hingga suatu hari saya memberanikan diri untuk ikut bergabung.Saya perlihatkan kemampuan saya mulai dari ngebanyol sampai meniup suling.Di Warkop Nanu tuh paling jago main gitar.Kasino juga bisa main gitar dan nyanyi” ungkap Indro panjang lebar.
Siang tadi,dari jam 11.00 hingga 15.00 ruangan kerja Soerjoko di Aquarius Pondok Indah ikut bergetar karena kelakar yang tiada berkesudahan.Banyak anekdot,banyak true story,banyak romantika yang pernah ditapaki dan digurat Warung Kopi dalam kurun waktu 1975 hingga era 2000-an disaat mana Dono dan Kasino akhirnya berpulang untuk selamanya.
Warkop Prambors memang kelompok lawak fenomenal yang pernah ada di negeri ini.Bahkan saya pun mengklaim bahwa Warkop tak tergantikan.
Bayangkan dalam setiap pertunjukan Warkop di panggung, dalam rekaman maupun film,mereka tercatat pernah didukung sederet pemusik handal negeri ini,mulai dari Abadi Soesman,Yockie Suryoprayogo,Ian Antono,Chris Manusama,Rezky Ichwan,Gilang Ramadhan,Mates,Dodo Zakaria dan entah siapa lagi.

Mungkin cuma Kasino Warkop,pelawak yang beruntung pernah diiringi oleh Badai Band beserta Orkestra yang dipimpin Idris Sardi saat menyanyikan lagu “Cinderella” dalam Konser “Musik Saya Adalah Saya” milik Yockie Suryoprayogo di tahun 1979.
Di tahun yang sama pula Warung Kopi termasuk elemen yang menjadi bagian menarik dari Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera I di Balai Sidsang Senayan Jakarta.
“Bayangkan waktu Pramaqua meminta Warkop untuk merekam lawakannya.Saya kontrak mereka sebesar Rp 25 juta.Untuk perbandingan,album God Bless di tahun 1975 saya bayar sekitar Rp 5 juta.Saya pun masih ingat betapa kagetnya Kasino dengan fee Warkop segede itu” tutur Johannes Soerjoko yang saat itu merilis dua album lawak Warkop melalui label Pramaqua (kongsi Prambors dan Aquarius).
“Mereka inovatif dan pantas menerima bayaran sebesar itu” dalih Soerjoko.Saat itu sound engineer yang menangani album Warkop adalah Alex Kumara.
Berbagai kepeloporan maupun terobosan yang dilakukan Warkop itulah yang nantinya direkam kedalam sebuah buku yang ditulis Rudy Badil serta didukung ,Budiarto Shambazy,Denny Sakrie dan Eddy  Suhardy.
Idealnya buku Warkop ini akan menjadi catatan sejarah tersendiri dalam dunia hiburan di negeri ini.
Saya pun jadi teringat dengan tagline khas Warkop :”Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang “.
Salam Gerrrrrrr.

Mengenang Musik dan Bodor Yan Asmi

Posted: Januari 17, 2013 in Obituari

Saya terkesiap membaca sms yang masuk tadi pagi dari seorang kerabat yang mewartakan bahwa Kang Yan Asmi telah menghadap sang Illahi.
Dalam pesan singkat dikabarkan Yan Asmi yang bernama lengkap Uyan Suryana bin Dodo Sukardi telah menghembuskan nafas terakhir senin dini hari 29 Maret 2010 di RS Umum Daerah Syamsudin Sukabumi .Sebelum berpulang, Yas Asmi sempat dilarikan kerumah sakit,pada minggu 28 maret 2010 karena penyakit liver yang diderita.

Dia sempat tidak sadarkan diri ketika dibawa untuk memdapakan penanganan medis. Selain menderita liver, dia juga menderita vertigo. Yan Asmi saat itu harus dirawat selama sebulan.
Sya jelas kaget.Padahal beberapa waktu lalu saya masih melihat Kan Yan tampil mengocok perut lewat lawak dan lagu di acara Zona Memori Metro TV.Bahkan selama ini sebetulnya sosok almarhum masih sering terlihat berkelebat di layar kaca TVRI Jawa Barat Stasiun Bandung memandu acara “Pasosore Edas ” bersama Aci Padmo.
Tapi yang tetap teringat di benak kita saat mendengar nama Yan Asmi adalah sosok berkulit coklat gelap dengan rambut panjang dikuncir,memetik gitar dan mulai meniru-niru suara suara penyanyi yang tengah ngetop saat itu di era 80-an seperti Ebiet G Ade (terutama),Jamal Mirdad,Tommy J Pisa atau Ade Putera.Secara kebetulan nama-nama yang saya sebut itu adalah penyanyi penyanyi yang mencoba meraih peruntungan dengan mendompleng gaya bernyanyi atau cengkok yang dipopulerkan Ebiet G.Ade.Dan sebelum semua orang senantiasa mengikuti gaya bertutur dan bernyanyi sarat cengkok ala Rhoma Irama,rasanya Yan Asmi lah yang duluan memulainya.
Menariknya Yan menguasai beberapa alat musik terutama gitar dan Yan juga terampil menulis lagu sendiri.Ini yang menjadi titik istimewa Yan Asmi.
Silat kata yang diperlihatkan Yan Asmi bersama dua rekannya dalam D’Bodors : Abah Us Us dan Mang Engkus a.k.a Kusye sangat terampil.Tentunya dengan aksen Sunda yang menurut saya sangat mudah memecah tawa penikmatnya.
Jelas D’Bodor adalah kelompok yang mengangkat sosok Yan Asmi di dunia hiburan.Di era 80-an saat TVRI masih memonopoli dunia pertelevisian negeri ini,D’Bodors nyaris mendapat porsi menguntungjkan tampil dalam berbagai acara hiburan yang dikemas TVRI semisal Aneka Ria Safari,Aneka Ria TVRI,Selekta Pop maupun Kamera Ria.
Dilahirkan dengan nama Uyan di Sukabumi.Seterusnya dia menggunakan nickname Yan Asmi.Asmi itu merujuk atas akronim Asli Sukabumi.
Lawakan atau bodoran yang ditampilkan D’Bodor memang unik teruatama karena menjumput atmosfer Pasundan dengan aksenya yang khas .Us Us yang di era 60-an kerap dijuluki Jerry Lewis Indonesia dengan cerdas memadukan antara lawakan dan musik humor .
Materi humor ala D’Bodor inilah yang kemudian memikat perhatian pengusaha rekaman .D’Bodor lalu digiring ke bilik rekaman.Lalu muncullah beberapa album musik dan lawak D’Bodor yang memunculkan serial gadis mulai dari “Gadis 4 Sehat 5 Sempurna” hingga “Gadis Manis Bau Jengkol” yang sempat tenar dimana-mana.Juga album bertajuk “Gadis dan Kumis”.Selain mengandalkan lagu “Gadis & Kumis” dengan humor bodor bernuansa Sunda,di album ini juga termaktub lagu bertajuk “Rock & Pong” yang merupakan perpaduan antara rock n’roll dan jaipong.Eksperimentasi ini walau sebatas menyerap unsur humor,tapi menurut saya merupakan bukti keseriusan Yan Asmi sebagai komposer sekaligus penata musiknya.
Dalam album “Gadis 4 Sehat 5 Sempurna” D’Bodors malah diiringi band rock Bandung Staccatto,yang dulu kerap mengiringi penampilan rocker kontroversial almarhum Deddy Stanzah
Di tahun 1992 D’Bodor sempat membuat album kolaborasi dengan Desy Ratnsari bertajuk “Sari” (Terminal Record) yang merupakan album soundtrack dari sinetron komedi “Jual Tampang”.
Tak sampai disitu,ternyata Yan Asmi mulai menyusup ke industri rekaman.Terbukti dengan dirilisnya beberapa album .Racikan musik yang ditampilkan didalam albumnya penuh warna. Ada yang ngepop, country serta dangdu yang berlumur aksen etnikal Sunda .

Aktifitasnya lumayan padat terutama sebagai pembawa acara, baik di stasiun televisi, seminar-seminar maupun di berbagai acara hiburan, belakangan ini Yan Asmi sedang sibuk sebagai pembawa acara pada panggung-panggung kampanye pilkada dan pemilu, tak heran apabila pergaulannya dikenal cukup luas dengan orang-orang dari berbagai kalangan.

Sejak dasawarsa 80-an Yan Asmi ternyata telah merintis semacam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang penyelamatan lingkungan dan alam dengan nama “Yayasan Kemasyarakatan Pepeling”.
Disat sebagian artis rekaman menikmati ranumnya rezeki dari ringbacktone (RBT),tanpa banyak yang mengetahui sebetulnya almarhum Yan Asmi pun telah melakukannya lewat lagu-lagu yang ditulis sekaligus disenandungkannya itu.Lagu lagu Yan Asmi yang dijadikan RBT antara lain seperti :”Super Sabar”,”Stir Star Stor”,”Gugal Gegel”,”Kokom”,”Ampun”,”To

gmol”,”Hayang Apel”,”Ojek Sedan” dan masih banyak lagi.Yan Asmi pun merilis berbagai VCD.Semuanya bernuansa Sunda.
Selamat Jalan kang Yan Asmi.Karya karyamu tetap membekas di benak dan hati.Image