Usman Berpulang 9 Maret 2013

Posted: Maret 10, 2013 in Obituari
Album terlaris Usman Bersaudara di tahun 1978 "Sorry Boy" (Irama Tara)

Album terlaris Usman Bersaudara di tahun 1978 “Sorry Boy” (Irama Tara)

Usman Bersaudara dari kiri Said (bass,vokal),Sofyan (drum,vokal),Usman (gitar,vokal) dan Mamo Agil (keyboard,vokal)

Usman Bersaudara dari kiri Said (bass,vokal),Sofyan (drum,vokal),Usman (gitar,vokal) dan Mamo Agil (keyboard,vokal)

Album debut Usman Bersaudara di akhir era 60an lewat label J&B Record

Album debut Usman Bersaudara di akhir era 60an lewat label J&B Record

Tadi malam dapat kabar duka melalui BBM bahwa Usman (65 tahun) gitaris,vokalis sekaligus leader Usman Bersaudara meninggal dunia jam 20.00  WIB sabtu 9 maret 2013.

Usman Bersaudara adalah band berasal dari Surabaya.Inspirasi band yang terdiri atas Usman (gitar),Gufron (gitar),Said (bass) dan Sofyan (drums) ini adalah Koes Bersaudara,kelompok bersaudara yang tampil memukau publik Indonesia sejak awal era 60an.

Seperti halnya Koes Bersaudara, Usman Bersaudara yang memulai karir musik sebagai pengamen ini juga melakukan harmonisasi vokal yang bening dengan dominasi musik beat ala The Beatles.

Album perdana Usman Bersaudara ini sekarang termasuk barang langka.banyak kolektor yang memburu vinyl Usman Bersaudara ini.

Di era 70an Usman,Sofyan dan Said melebur dalam band Man’s Group.Di tahun 1974 Nomo Koeswoyo merekrut mereka bertiga bergabung dalam No Koes.Tahun 1976 Ketiga bersaudara ini lalu mundur dari No Koes dan kembali mengangkat panji Usman Bersaudara dengan mengajak adik kandung mereka Mamo Agil yang saat itu masih anggota Pandawa Lima bergabung dalam Usman Bersaudara yang kemudian merilis album pada label Irama Tara.

Pendiri dan pemilik label Aquarius Johannes Soerjoko paling kiro bersama Irianti Erning Praja,Andy Liano,Tantowi Yahya,Pay Burman,Adi Adrian dan Lolo Romulo

Pendiri dan pemilik label Aquarius Johannes Soerjoko paling kiro bersama Irianti Erning Praja,Andy Liano,Tantowi Yahya,Pay Burman,Adi Adrian dan Lolo Romulo

Bersama pendiri dan pemilik label Aquarius saat 40th Anniversary Aquarius di Grabnd Hyatt September 2009 (Foto Denny Sakrie)

Bersama pendiri dan pemilik label Aquarius saat 40th Anniversary Aquarius di Grabnd Hyatt September 2009 (Foto Denny Sakrie)

Warung Kopi Prambors adalah kaset lawak pertama yang dirillis Aquarius pada tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

Warung Kopi Prambors adalah kaset lawak pertama yang dirillis Aquarius pada tahun 1979 (Foto Denny Sakrie)

God Bless,album rock pertama yang dirilis Aquarius di tahun 1976.Saat itu masih menggunakan nama PramAqua (kongsi antara radio Prambors dan Aquarius) (Foto Denny Sakrie)

God Bless,album rock pertama yang dirilis Aquarius di tahun 1976.Saat itu masih menggunakan nama PramAqua (kongsi antara radio Prambors dan Aquarius) (Foto Denny Sakrie)

Menakar Keseimbangan Bermusik

Oleh Denny Sakrie

Rekaman Jazz Indonesia Aquarius "Nada dan Improvisasi" di tahun 1982

Rekaman Jazz Indonesia Aquarius “Nada dan Improvisasi” di tahun 1982

Harmony and understanding
Sympathy and trust abounding
No more falsehoods or derisions
Golden living dreams of visions
(“Aquarius/Let The Sunshine In”)

Lagu “Aquarius/Let The Sunshine In” terus terngiang ngiang di kuping Johannes Soerjoko ketika lagu ini acapkali berkumandang di radio pada tahun 1969.Lagu yang ditulis oleh James Rado,Gerome Ragni dan Galt McDermot menjadi representasi generasi bunga yang tak percaya lagi pada generasi tua,pejabat,pemerintah dan apa pun yang mereka anggap sebagai sosok establish.Namun bagi Soerjoko yang saat itu genap berusia 20 tahun,lagu yang diangkat dari sebuah karya musikal bertajuk “Hair” itu menjadi inspirasinya kelak untuk nama perusahaan rekaman yang dirintisnya.Secara kebetulan pula,Ook demikian sapaan akrabnya,berada dibawah naungan zodiak Aquarius.Disisi lain pemuda penggila musik ini terhanyut dengan lirik-lirik lagu “Aquarius” yang seolah berpetuah tentang harmoni,tentang simpati dan tentang rasa percaya.”Bukankah ini visi yang dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan” demikian Soerjoko membatin.
Soerjoko pun terinspirasi dengan symbol Im dan yang terdapat pada 8 trigrams (Pat Kwa) sebagai logo Aquarius.Sebuah penafsiran atas Yin dan Yang.Sebuah keseimbangan dalam hidup.Keseimbangan itulah yang kemudian seolah menjadi takaran dalam strateginya menghasilkan sebuah produksi musik.Yakni keseimbangan antara idealisme bermusik dan koridor komersial.

Kegilaannya terhadap musik memang kian menjadi.”Karena lebih memilih menggeluti musik,saya hanya bertahan 3 bulan kuliah di FakultasTeknik Trisakti” ungkap Johannes Soerjoko yang kini telah berusia 60 tahun dan telah memiliki kerajaan musik bernama Aquarius.
Bagi Ook,alunan musik bagaikan candu yang membuatnya ketagihan.Sejak kecil Ook memang sudah terbiasa mendengarkan rekaman musik melalui piringan hitam yang diputar diatas gramophone yang disediakan oleh ayahnya seorang pedagang yang bermukim di Jalan Batu Tulis,yang sejak 40 tahun lalu telah berubah menjadi kantor Aquarius.Tiada hari tanpa menyimak lagu-lagu dari koleksi piringan hitamnya.Ketika duduk dibangku SD pada tahun 1959 lelaki bertampang keras ini telah membeli piringan hitam dengan menggunakan uang jajannya sendiri.”Seorang teman menawarkan sebuah album dari Cliff Richard “Living Doll” pada saya karena butuh duit.Lalu tanpa piker panjang saya beli album single itu” kenang Soerjoko.
Sejak itulah berbagai piringan hitam tak pernah lepas dari genggaman Soerjoko.Apalagi ketika mulai tertarik menggeluti dunia rekaman.”Saya tertarik melihat tetangga saya pak Budiman membuka usaha perekaman lagu-lagu barat dengan mengambil sumber dari piringan hitam.Pak Budiman menerima pesanan dari pelanggannya untuk merekam lagu-lagu yang sedang hits.Disitulah mulai muncul istilah kaset ketikan.Karena judul lagu-lagunya setelah direkam diketik pada secarik kertas.Itu berlangsung tahun 1967” papar Soerjoko.

Kaset Ketikan produksi Aquarius di awal era 70an

Kaset Ketikan produksi Aquarius di awal era 70an

Setelah meraup cara teknik merekam dari Pak Budiman,mulailah Johannes Soerjoko mengembangkan intuisi bisnisnya dari kegiatan merekam musik ini.Ketika perangkat Tape Deck Stereo mulai muncul di pasaran pada tahun 1970-an barulah semua orang dari segala lapisan masyarakat menggandrungi kaset.Jelas kaset lebih praktis dan relatif terjangkau dibandingkan dengan piringan hitam.
Soerjoko kemudian mengawali usahanya dalam bidang merekam lagu-lagu barat pada tahun 1969.”Saya lalu membeli perangkat perekam milik pak Budiman secara kredit.Itulah awal mula Aquarius.Meskipun masih menjalani perekaman secara by request.Belum secara massal” ungkap Soerjoko.
Di awal era 70-an barulah Aquarius melakukan bisnis merekam secara missal dengan merilis berbagai album,mulai dari pop,rock,jazz hingga klasik.”Kita mulai menitipkan produksi kaset kita kebeberapa toko seperti Aloha di Proyek Senen,Jakarta Foto dan Duta Suara di jalan Sabang” tutur Soerjoko.
Kehadiran kaset-kaset barat yang diproduksi Aquarius memang mendapat respon bagus dari penggemar musik.”Kaset Aquarius soundnya bagus dan awet.Mereka lebih banyak merekam album ketimbang kaset kompilasi.Yang saya ingat,Aquarius merekam album the Beatles,Rolling Stones,Led Zeppelin,Black Sabbath bahkan Frank Zappa.Jazz pun mereka rekam seperti Herbie Mann,Ahmad Jamal dan banyak lagi” ungkap Darmanto (58 tahun) yang mengaku fanatik terhadap kaset keluaran Aquarius.
Filosofi Aquarius dalam menghasilkan rekaman musik Barat yaitu memberikan kenyamanan pada penikmat musik segala macam jenis musik.Ini dibuktikan dengan kualitasaudio yang bagus,kualitas pita kaset bahkan hingga ke susunan lagu.Dalam semua album yang dihasilkan Aquarius,susunan lagunya diubah dengan menempatkan lagu-lagu andalan pada urutan pertama sebagai penguak isi album.Ini adalah salah satu strategi yang pada akhirnya timbul fanatisme konsumen terhadap produk- produk Aquarius.
Keunggulan Aquarius dalam memilih dan merekam album barat bermuasal dari kegemaran Soerjoko pada segala genre musik.”Dia paham musik.Dia ngerti jazz dan rock.Terus terang wawasan musik kami terbuka dengan kehadiran album album yang direkam Aquarius” puji gitaris jazz Jopie Reinhard Item.
“Selera musik yang dimiliki Soerjoko tercermin dari album-album yang diproduksi Aquarius .Saat itu Aquarius memang lebih banyak memanjakan telinga penikmat musik dari strata sosial menengah ke atas yang tersirat dari katalog musik pop,rock,jazz dan klasik.
Munculnya produk musik jazz di Aquarius contohnya,merupakan tantangan dari berbagai pihak diantaranya pemusik jazz Jack Lesmana maupun penggemar jazz Indra Malaon,yang menganjurkan agar diproduksi serial musik jazz.
“Makanya saya lebih suka disebut Record Man.Pencinta musik sejati” ujar Soerjoko.
Apa yang diucapkan Soerjoko memang bisa dibuktikan ketika dia berburu piringan hitam hingga ke berbagai penjuru dunia.
“Pada masa awal saya sering belanja piringan hitam di toko Sinar Jaya yang ada di Pasar Baru.karena koleksinya itu itu aja saya mulai ke Singapore.Tapi toh nafsu berburu saya malah kian menjadi dan kian menggebu-gebu.Saya mulai mengarahkan sasaran ke berbagai tempat ” kisah Soerjoko.
Di tahun 1974,Soerjoko berkunjung ke London Inggeris.Dia mulai berbelanja piringan hitam di retail piringan hitam ternama HMV.Musik musik aneh pun menjadi sasarannya seperti Gentle Giant,Genesis,ELP,Yes dan masih banyak lagi.
Saat kembali ke Indonesia,kedua belah tangan Soerjoko menenteng tas berisikan 50 keping piringan hitam,25 keping ditangan kiri dan selebihnya di tangan kanan.
Pada era 80-an,Soerjoko dalam sehari nekad mengunjungi dua kota sekaligus diawali di Paris Perancis dan berakhir di Amsterdam.”Saat itu saya menggunakan Concorde dengan jarak tempuh 7 jam” tuturnya.Soerjoko pun mulai bercerita tentang beberpa tempat strategis yang menyediakan berbagai rekaman musik diantaranya adalah Boudisque di tengah kota Amsterdam.”Boudisque adalah tempat penjualan rekaman musik terbesar dan terlengkap di Eropa” ucap Soerjoko.
Apakah Aquarius ingin tampil secara eksklusif ? ”Aquarius selalu berusaha untuk tidak terpaku dengan produk album yang hanya berorientasi pasar .Tapi berusaha untuk selalu kreatif menyajikan produk-produk yang secara musikalitas mempunyai keunikan .Di era “bajakan” tahun 70’an saat penjualan musik barat dikuasai pop dan hard rock, Aquarius mulai memperkenalkan musik-musik art rock seperti Yes, Genesis, King Crimson, Greenslade, Gentle Giant. Di saat dunia di landa wabah “Saturday Night Fever” Aquarius malah menemukan “Tagalog Disco” Aquarius kemudian memulai pula me-masyarakatkan album-album yang ber-nuansakan jazzy di awal 80-an dengan nama Jazzy Tunes atau Jazz Vocal” tutur Iman Sastrosatomo,yang pernah menduduki posisi A&R dan Production Manager di Aquarius dari awal 80-an hingga paruh 90-an.
Selain Iman Sastrosatomo,Aquarius pernah didukung sederet sosok yang memiliki kontribusi tinggi dalam operasional produksi dan kreatif diantaranya adalah Agus Syarif Hidayat yang kemudian berkiprah di EMI dan Warner Music Indonesia maupun Kunto Hadiwijoyo yang kini berada di Sony Music Indonesia.

Tatkala produksi Aquarius mulai tersebar di awal dasawarsa 70-an,penjualannnya per tahun mencapai angka 2 juta kaset.”Jumlah itu terangkum dari berbagai artis dan genre musiknya” tambah Soerjoko.Harga kaset barat saat itu berkisar dari Rp 400 hingga Rp 700.
Ini bisa dicatat sebagai masa keemasan dalam usaha yang dilakukan perekam barat termasuk Aquarius.Saat itu di Indonesia memang belum ada perlindungan terhadap hak cipta lagu Barat.”Kami merasa itu sesuatu yang bukan illegal.Toh kami dikenakan pajak juga oleh pemerintah” tukas Soerjoko perihal paradoks yang terjadi dalam industri musik di Indonesia.
Pada akhir dasawarsa 70-an dan awal dasawarsa 80-an,omzet Aquarius turun menjadi 1,5 juta per tahun lantaran munculnya berbagai perusahaan rekaman serupa.”Kondisi saat itu disebut free for all.Misalnya sebuah album dari Deep Purple direkam oleh banyak perekam.Bukan hanya Aquarius saja ” tukas Soerjoko.
Saat itu di dasawarsa 80-an,terdapat setidaknya 9 perekam lagu barat.5 diantaranya termasuk yang terbesar yaitu Aquarius,King’s Record,Atlantic Record,Team Records dan EGO Records.4 dibawahnya ada Hins Perfecta,Audio Master,Contessa dan Golden Lion.Ada juga beberapa perekam barat lain yang tiras produksinya tak lebih dari 1000 kaset per bulan diantaranya adalah Queen Record,Yess,Hidayat Connoseur,Monalisa, maupun Golden Rate.

Omzet Aquarius sendiri semakin menurun pada tahun 1987 menjadi 1,2 juta kaset termasuk 350 ribu kaset yang diekspor ke wilayah Timur Tengah.
Namun Aquarius toh masih memiliki hasil penjualan album album Indonesia sekitar 800 ribu kaset untuk album dari penyanyi wanita Nicky Astria dan Ruth Sahanaya serta penyanyi negeri jiran Sheila Madjid.”Sheila Madjid merupakan kerjasama Aquarius dengan pihak EMI Malaysia” tambah Soerjoko.
Di tahun 1988,masa kejayaan perekam Barat berakhir saat Bob Geldof,vokalis kelompok musik Irlandia The Boomtown Rats yang juga sebagai penggagas konser amal terbesar Live Aid menuntut Indonesia sehubungan masalah pembajakan atas konser Live Aid yang berlangsung di Philadelphia Amerika Serikat dan Wembley Stadium Inggeris pada Juli 1985 yang dilakukan para perelam lagu-lagu Barat di Indonesia.
Era pembajakan pun beralih ke penghormatan Undang Undang Hak Cipta pada paruh tahun 1988.Aquarius pun memulai lembaran baru dalam bisnis rekaman.Aquarius masih tetap merekam dan merilis lagu-lagu barat tapi kini dengan cara yang lebih terhormat.Pihak Aquarius malah didekati oleh sederet perusahaan rekaman internasional untuk bermitra .Akhirnya Aquarius memegang lisensi hak cipta dari dua raksasa label internasional yaitu EMI dan Warner Music.”Jelas ini melegakan dan sekaligus membanggakan,karena EMI dan Warner menaruh kepercayaan pada kami.Sebetulnya kepercayaan itu telah mereka endus sejak Aquarius menjalin kerjasama dengan EMI Malaysia saat merilis album Sheila Madjid di tahun 1986” papar Soerjoko.

Disamping berkonsentrasi dengan lagu-lagu Barat.Aquarius tetap tak melupakan scene musik lokal .”Biar bagaimanapun kami kan orang Indonesia.Kami tak boleh melupakan kreativitas pemusik local” ucap Soerjoko.
Sebetulnya sejak tahun 1975 Aquarius yang berkongsi dengan PT Radio Prambors Rasisonia lewat label Pramaqua sudah mulai merilis album karya anak negeri yang ditandai dengan munculnya album Noor Bersaudara dan Prambors Vokal Group yang diteruskan dengan dirilisnya album perdana dari grup rock God Bless pada tahun 1976.
Jika diamati secara seksama,maka katalog musik Indonesia yang dirilis Pramaqua terasa lebih berpihak pada musik apresiasi dibanding dengan produksi rekaman musik Indonesia yang dihasilkan perekam Indonesia seperti Remaco,Purnama,Musica Studios atau Yukawi yang terasa lebih menomorsatukan sisi komersialnya.
“Terus terang ini merupakan bagian dari selera juga.Karena saya telah terbiasa dengan musik yang lebih apresiatif,akhirnya musik musik seperti God Bless,Jopie Item,Noor Bersaudara,Yockie dan lainnya itulah yang kita rekam” tutur Soerjoko.
Dimata para pemusik yang pernah merilis album di Pramaqua atau Aquarius,konsep kreativitas sangat dihargai.
“Suasana kerja di Aquarius sangat kondusif, didalam beberapa proyekt rekaman kita diberi kebebasan untuk berkreasi, tanpa adanya intervensi,Pesan mereka semua lagu yang kita rekam harus memiliki kualitas yang sama, jangan hanya konsentrasi di ‘key tracknya’ saja, sedang sisanya dikerjakan secara asal-asalan. Dalam satu album ,setiap lagu harus memiliki kualitas setara.Mereka concern pada sound quality. Pak Ook sangat memperhatikan secara detil” ungkap Karim Suweileh,drummer jazz yang banyak memberikan kontribusi dalam beberapa penggarapan album di Aquarius mulai dari jazz,cha cha,keroncong hingga ke musik rohani.
:Ketika album Musik Santai yang saya garap pada tahun 1977 itu dianggap membuahkan hasil.Saya pun mendapat privillege dari Aquarius.Saya dibebaskan untuk membuat sebuah rekaman sesuai insting musik saya hingga akhirnya muncul album Jurang Pemisah yang saya buat bersama Chrisye dan James F Sundah.Namun ternyata album ini memang terasa lebih berat.Agak idealis sih” komentar Yockie Suryoprayogo mengenai keterlibatannya dalam proses kreatif di Aquarius pada paruh dasawarsa 70-an.
Perihal idealisme bermusik Aquarius memang tampak konsisten dari tahun ke tahun.Pakem yang dicangkokkan Soerjoko masih tetap bersemi hingga sekarang ini.
“Saya sangat merasakan hal itu.Terlebih ketika saya mulai menjalani solo karir di awal tahun 2000-an.Konsep kreativitas kita sebagai pemusik sangat dihargai oleh Aquarius.Mereka memang memiliki standar yang oleh sementara pemusik mungkin dianggap terlalu cerewet terutama konsep musik dan kualitas audio.Itu sudah harga mati.Tapi saya justeru banyak belajar dari situ.Bayangkan di album kedua saya Keseimbangan saya diberi semacam privillege,mulai dari menentukan arranger hingga rancangan budgeting album” ungkap Ari Lasso,mantan vokalis Dewa yang akhirnya menjalani solo karir di Aquarius.
“Konsep musik,karakter penyanyi atau band merupakan tuntutan utama kami.Jumlah penjualan album itu nomor dua.Mungkin karena itu jugalah yang membuat artis artis yang berada dibawah Aquarius tak terlalu banyak.Kami memang berusaha agar setiap artis Aquarius itu mendapat sentuhan dan perhatian.Jika jumlah terlalu banyak pasti akan sulit .sekali ” ungkap Suwardi Widjaja,Direktur Artis dan Repertoar Aquarius.
Komposer,pianis dan konduktor kesohor Addie MS pun merasa memiliki kenyamanan saat menjalin kerjasama dengan Aquarius.”Aquarius memiliki idealisme dalam mempertahankan kualitas produksinya. Seringkali tidak berpikir dua kali dalam mengulang suatu proses produksi demi mencapai apa yang dikehendakinya. Misalnya dalam proses mixing atau mastering. Aquarius berhasil membentuk citra yang khusus, sedemikian rupa sehingga musisi maupun artis-artis potensial merasa ada kebanggaan untuk bekerja sama dengan Aquarius” komentar Addie MS yang sempat merilis2 album simfonik bertajuk ”Simfoni Negeriku” (1995) dan ”La Forza Del Destino” (1998)” .
”Simfoni Negriku merupakan proyek rekaman yang secara hitungan bisnis jauh dari ideal. Tidak menjanjikan keuntungan sama sekali, karena bukan berisi lagu-lagu perjuangan atau nasional Indonesia. Album yang awalnya tidak dimaksudkan untuk dijual itu, akhirnya dengan pertimbangan agar bisa dinikmati masyarakat seluas-luasnya, berhasil diedarkan secara umum atas jasa Aquarius. Kebetulan Aquarius memiliki idealisme yang sama dalam memasyarakatkan lagu-lagu nasional Indonesia melalui albumini” ujar Addie MS panjang lebar.

Walaupun seolah kukuh dengan idealisme,toh Aquarius sebagai sebuah perusahaan tetap harus survive.:Walaupun tetap tak mengabaikan keuntungan dalam berproduksi,Aquarius berupaya tetap menjaga kualitas.
Sejak merilis Noor Bersaudara di tahun 1975.Kami baru merasakan keuntungan yang lebih dari lumayan justeru dari dua album lawak milik Warung Kopi Prambors di tahun 1979” tutur Soerjoko.
Album pertama Warung Kopi Prambors berhasil terjual sebanyak 258.000 unit dan album keduanya terjual diatas 100.000 unit.Saat itu jumlah yang diraih dari album Warung Kopi Prambors merupakan prestasi tersendiri.
Konsep keseimbangan memang terlihat jelas disini.”Aquarius memang selalu ingin berada dalam posisi win win solution “ tandas Ari Lasso lagi.
“Di saat Aquarius merilis album solo Raidy Noor atau album Nada dan Improvisasi yang bernuansa jazz,toh tampak berimbang dengan merilis album Nicky Astria” jelas Iman S lagi.
Aquarius pada galibnya memang sangat memperhitungkan kondisi pasar dengan menjejalkan produk-produk yang seolah anti-trend,namun sesungguhnya justeru memberikan keseimbangan dalam kualitas bermusik.
Disaat hampir semua perusahan rekaman seolah berlomba lomba menampilkan artis musik dalam pola yang seragam dengan kucuran hasil ring back tone yang menggiurkan,Aquarius seolah nakhoda kapal yang tenang di geladak menghadapi topan yang siap menghancurkan seluruh isi kapal.
Konsistensi inilah yang sangat mencuat dari perusahaan rekaman yang awalnya hanyalah merupakan bentuk kecintaan atau kegilaan seorang anak muda bernama Johannes Soerjoko terhadap musik yang berkumandang dari putaran piringan hitam.

(Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone edisi Juni 2009)

Kaset Guruh Gipsy dirilis di tahun 1977 (foto Denny Sakrie)

Kaset Guruh Gipsy dirilis di tahun 1977 (foto Denny Sakrie)

Guruh Gipsy Dari kiri Abadi Soesman (synthesizers),Chrisye (bass,vokal),Keenan Nasution (drums,vokal),Roni Harahap (piano/keyboard,komposer ),Oding Nasution (gitar)  dan Guruh Sukarno Putra (piano,gamelan,komposer)

Guruh Gipsy Dari kiri Abadi Soesman (synthesizers),Chrisye (bass,vokal),Keenan Nasution (drums,vokal),Roni Harahap (piano/keyboard,komposer ),Oding Nasution (gitar) dan Guruh Sukarno Putra (piano,gamelan,komposer)

Piringan Hitam Guruh Gipsy dirilis Shadoks Jerman tahun 2006 tanpa izinPiringan Hitam Guruh Gipsy dirilis Shadoks Jerman tahun 2006 tanpa izin

Album Guruh Gipsy menghabiskan waktu dua tahun dalam penggarapannya yang dimulai tahun 1975 hingga 1977.Album cutting edge ini bisa dianggap embrio gerakan indie di negeri ini.Mereka patungan mengumpulkan modal untuk rekaman,memproduksi sendiri lalu mendistribusikannya tanpa jaringan label satu pun.Tahun 2006 sebuah label di Jerman mereissue Guruh Gipsy tanpa izin.Tahun ini label Moon June dari New York tertarik untuk merilis album yang kini jadi target kolektor dunia.

Pada tahun 1974 Sepulang dari lawatan musik di  New York Amerika Serikat,Keenan Nasution mulai banyak berhubungan dengan Guruh Soekarno Putera.Guruh yang baru saja tiba dari Belanda gelisah ingin menampilkan sebuah proyek musik yang  menampilkan musik tradisional Indonesia yang bersanding dengan musik Barat.Di Belanda,Guruh pernah bersua dengan Pandji,Direktur Konservatorium Bali yang kebetulan tengah menimba ilmu pula.Atas gagasan Pandji,Guruh pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh Soekarno Putera. Keenan Nasution bertutur panjang tentang album Guruh Gipsy yang tahun ini genap berusia 36 tahun.

Sejak kapan kenalan dengan Guruh ?

Sebetulnya sejak kecil,saya dan Guruh sama sama sekelas di Sekolah Yayasan Perguruan Cikini.Guruh memang suka seni.Dia juga punya band namanya The Flower Poetman.Guntur,abangnya saat itu sudah dikenal sebagai drummer band Aneka Nada

Kenapa memilih musik Bali ?

Bagi saya sendiri gamelan Bali itu bukan hal baru.Antara tahun 1966-1968 saat Gipsy masih menggunakan nama Sabda Nada,kita sudah bereksperimen menggabungkan band dan gamelan.Kebetulan di rumah saya tinggal I Wayan Suparta seniman Bali yang paham gamelan Bali.Bahkan seperangkat gamelan Bali ada di Pegangsaan saat itu.Musik Bali itu eksotis dan dinamis.Makanya saya merasa spirit music Bali itu mirip dengan rock.Lalu kami mulai iseng menggabung gabungkan music rock dan Bali.Kami bahkan pernah mebawakan lagu Yes dari album Tales From Topographic Oceans dengan memasukkan gamelan Bali

Jika kita simak, album Guruh Gipsy tampaknya juga  terpengaruh band band art rock era 70an.Betulkah ?

Itu betul.Pada dasarnya saat itu kami lagu gandrung menyimak band band seperti Yes,Genesis atau ELP.Secara gak sadar pengaruh itu muncul saat kami menulis komposisi musiknya.

Misalnya ?

Nah coba simak riffing Geger Gelgel deh,itu kami ambil referensi dari lagu “Heart of Sunrise” nya Yes.Atau pada lagu Indonesia Maharddhika ada yang terpengaruh “And You And I” nya Yes.Bahkan Roni Harahap nekad memasukkan beberapa part Watcher of The Skies-nya Genesis kedalam bentuk paduan suara di lagu Janger 1897 Saka.Oding saat bingung mau mengisi solo gitar di lagu Barong Gundah lalu mengambil inspirasi dengan mendengar Birds Of Fire-nya Mahavishnu Orchestra.Dalam lagu Chopin Larung kami mengadaptasi excerpt karya klasik Chopin “Fantasie Impromptu”.

Siapa saja yang ikut mendukung album Guruh Gipsy ?

Wah lumayan banyak tuh.Ada Hutauruk Sisters sebagai penyanyi latar.Orkes Studio Jakarta.Pianis klasik Trisutji Kamal serta Kelompok Seni Bali Saraswati yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka.Pak Kompyang ini pada lagu Geger Gelgel berperan sebagai dalang.

Betulkah album Guruh Gipsy ini digarap selama dua tahun ?

Bisa dikatakan penggarapan album ini jadi panjang karena memang komposisi yang dibuat memang serba kolosal terutama karena ingin menggabungkan musik rock dan Bali.Seingat saya proses rekaman pertama berlangsung Juli 1975 dan berakhir 16 November 1976.Sebetulnya proses rekaman Guruh Gipsy berlangsung selama 52 hari. Ada pun kurun waktu sekitar 16 bulan itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari para donatur,latihan dan menulis materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong  terutama ketika  studio recording digunakan oleh pihak lain .

Dimana Guruh Gipsy direkam ?

Di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track pertama di Indonesia yang berada di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan.Sound engineernya adalah Alex Kumara dan Yongki Mamahit.Saat rekaman kami saling berdesak-desakan karena recording room yang tak seberap besar harus memuat begitu banyak orang terutama ketika sesi yang melibatkan chamber orchestra,paduan suara dan para pemain gamelan.

Bisa cerita proses perekaman Guruh Gispy ?

Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan sebanyak 4 komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong Gundah,Chopin Larung  dan sebuah komposisi yang belum diberi judul tapi kemudian tidak jadi dimasukkan dalam album. Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung  dari Mei hingga Juni 1976 yang menghasilkan 3 lagu masing masing Djanger 1897 Saka, Indonesia Maharddhika dan Smaradhana.Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah, Chopin Larung dan Geger Gelgel.

Lagu apa yang dirasakan sulit saat rekaman ?

Lagu “ Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus direkam  serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu sesak dan pengap.

Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan proses dubbing berupa pengisian suara gitar elektrik ,keyboard,piano elektrik dan synthesizers sebanyak 200 kali. Dulu saat harus mengadopsi banyak bunyi-bunyian keyboard dalam berbagai layer harus melakukan overdub ratusan kali.Sesuatu yang pasti tak akan ditemui pada proses perekaman di zaman sekarang yang telah didukung teknologi mutakhir.

Dari mana modal untuk pembuatan album Guruh Gipsy ?

Dari para donator kenalan kita. Awalnya Pontjo Soetowo yang memang banyak memfasilitasi kegiatan bermusik kami sejak tahun 1966 yang banyak mengeluarkan kocek.Lalu disusul dengan dukungan dana dari banyak pihak antara lain ada dari Hasjim Ning juga Taufik Kiemas.

Apakah betul Guruh Gipsy meniru Bali Agung nya Eberhard Schoener yang berkolaborasi dengan Anak Agung Raka,pemusik Bali ?

Seingat saya saat album Bali Agung dirilis akhir 1976, Guruh Gipsy baru saja menyelesaikan proses rekaman.Jadi kami tidak meniru Eberhard Schoener.

Di tahun 2006 label Shadoks di Jerman merilis ulang Guruh Gipsy dalam bentuk vinyl.Apakah ada izin ?

Wah itu sama sekali gak ada izin secara langsung ke kami.Mereka mengambil materi Guruh Gipsy dari kaset yang ditransfer ke CD.Ketika saya menghubungi Shadoks melalui email,mereka minta maaf dan berdalih tidak tahu harus kemana untuk minta izin rilis ulang.Tapi dengan tegas saya meminta kepada mereka untuk menghentikan produksi Guruh Gipsy

Apa komentar anda tentang respon dunia terhadap Guruh Gipsy ?

Kaget juga terutama setelah melihat review review mereka di internet yang memuji Guruh Gipsy dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa album Guruh Gipsy menjadi target para kolektor dunia.Oktober 2012 lalu Leonardo Pavkovic pemilik label MoonJune Record di New York dating menemui saya untuk meminta izin merilis Guruh Gipsy secara internasional.Namun sampai sekarang ini belum ada kesepakatan yang konkrit antara Guruh Gipsy dan MoonJune Record.

Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi no.95 – Maret 2013

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Saya berpose didepan turntable + radio Grundig saat ulang tahun yang ke 6 di Ambon tahun 1969

Kapan pertama kali saya mengenal piringan hitam ? Ini terjadi di tahun 1969,saat saya merayakan ulang tahun saya yang ke 6.Saat itu saya dan keluarga saya menetap di Ambon.Sebetulnya ayah saya telah memiliki perangkat turntable yang compact dengan radio bermerk Grundig itu pada tahun 1966.Namun saya baru ngeh ketika saya duduk di bangku kelas 1 SD.Saya masih ingat saat itu ayah saya kerap memutar piringan hitam single 7 inch Hey Jude milik The Beatles.Hey Jude adalah lagu terpanjang dengan durasi sekitar 7 menit 11 detik.Sebagai bocah yang baru melek musik merasakan sesuatu yang aneh dan unik lewat lagu dengan durasi panjang dengan outro yang berulang ulang.Di saat itu juga saya mengenal album Bee Gees yang bercover merah bertajuk Odesa.Lagu yang saya langsung suka dari album ini adalah First of May.Menurut ayah saya Bee Gees ini terpengaruh The Beatles.

Menyimak atau mendengarkan musik melalui piringan hitam saat itu merupakan pengalaman yang tak terlupakan.Record Machine itu merupakan hiburan keluarga disamping radio yang menggunakan tabung tabung itu.Apalagi di Ambon,kota kecil yang berada di unung Timur Indonesia.Mendengarkan aluanan musik melalui piringan hitam dan radio jelas merupakan sesuatu yang mewah saat itu.Siaran TVRI hanya ada di Jakarta.

Tapi toh dengan medium piringan hitam,kami sama sekali tak memiliki kendala mengupdate kekinian dalam perkembangan musik.Setiap ayah saya pulang dari Jakarta,dia pasti membawakan setumpuk piringan hitam terbaru, baik rilisan lokal maupun internasional.

Tak berlebihan jika saya beranggapan bahwa piringan hitam dari Bee Gees dan The Beatles inilah yang meracuni selera saya untuk menyukai alunan musik.Selain itu,koleksi piringan hitam ayah saya pun lumayan variatif.Misalnya ada lagu yang gampang diingat dan seketika langsung bisa dinyanyikan yaitu Chewy Chewy milik the Ohio Express yang menurut ayah saya lagi ngetop-ngetopnya di tahun 1969.

. Racun ini tak bisa  saya tepiskan hingga saat sekarang ini, disaat usia saya menjelang separuh abad.

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express

Bersama kedua adik saya dan adik sepupu serta tante saya lagi menyimak lagu Chewy Chewy dari The Ohio Express

DSCitos,mall yang selalu ramai di kawasan Selatan Jakarta,minggu 27 Januari 2013 tetap ramai.Di Score Citos radio Ninetyniners bikin acara 9 Gallery Happy Sunday.Menghadirkan band band yang kerap diputar lagu lagunya di radio yang berada dikawasan Menteng Jakarta seperti Kerispatih,Tangga,Stairway To Zina,Saint Loco dan banyak lagi.Di sela sela konser musik,Ninetyniner bikin talk show tentang Industri Musik Indonesia.Saya diminta bercerita selayang pandang mengenai industri musik Indonesia dari zaman dulu hingga sekarang beserta pernak perniknya.Selain saya ada Melanie Subono aktivis yang juga suka nyanyi dan pernah bikin beberapa album.Juga ada Beben dari Sinjitos yang bertutur tentang pengalamannya dalam mengelola label.

Permasalahan permasalahan dalam industtri musik kita saat ini mau tidak mau harus dilontarkan,mulai dari pembajakan yang tak kunjung bisa diatasi secara tuntas,paltform atau paradigma musik sekarang yang mengarah ke musik digital.Habit penikmat musik sekarang yang cenderung lebih menggemari aktivitas downloading serta upaya bertahan dari para pelaku bisnis musik di Indonesia.

Sayang diskusi musik ini memang terasa sangat sempit.Bagaimana mungkin bisa memetakan problematika musik negeri ini dengan durasi hanya sekitar 30 menit.Namun toh itikad radio Ninedtyniners ini layaklah diacung jempolImage

Tafsir Bebas Jesus Christ Superstar

Posted: Januari 28, 2013 in Kisah
Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Piringan Hitam Jesus Christ Superstar rilis pertamakali tahun 1970

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Karakter dalam Jesus Christ Superstar

Opera rock Jesus Christ Siperstar karya fenomenal Andrew Lloyd Webber dan Tim Rice ini awalnya adalah sebuah album konsep yang didukung sejumlah pemusik dan penyanyi di tahun 1970 antara lain Ian Gillan,vokalis Deep Purple,John Gustfasson dari Quatermass,Murray Head hingga penyanyi pop Yvone Elliman.Kemudian dipanggungkan pertamakali di Broadway pada tahun 1971.Dan ternyata sukses.Jesus Christ Superstars memang merupakan multi tafsir yang sangat menghebohkan terutama pertentangan antara Jesus dan Judas Iscariot yang konon tak ada dalam Bible.Dalam film layar lebarnya pun karya Webber dan Rice ini banyak mengetengahkan anakronisme.Banyak protes yang muncul terhadap kontroversi interpretasi dalam lakon Jesus Christ Superstar ini.

Di Afrika Selatan lakon Jesus Christ Superstar dilarang untuk dipertunjukkan karena dianggap irreligius.

Bahkan di Indonesia pada tahun 1980,Remy Sylado mengangkat Jesus Christ Superstar di Balai Sidang Senayan Jakarta juga menuai kontroversi.Bayangkan sosok yang memerankan Jesus Christ justeru berkulit hitam, diperankan oleh Martin Luther Meset personil Black Brothers yang tampil naik becak.Juga Judas Iscariot berkulit putih yang diperankan penyanyi Yan Berlin.Jesus Christ Superstar hasil olah tafsir Remy Sylado pun jadi perbincangan yang menghebohkan.

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Para pelakon album Jesus Christ Superstar

Dua lagu dari lakon Jesus Christ Superstar jadi hits yaitu I Only Want To Say (Gethsemane) yang dinyanyikan Ian Gillan serta I Don’t Know How To Love Him pleh penyanyi mungil Yvonne Elliman.Image

Achmad Rafiq

Achmad Rafiq

Ini mungkin hanya sebuah kebetulan belaka.Sabtu 19 Januari 2013 saya mendapat dua kabar duka cita dari BBM dan WhatsApp saya.Pertama adalah berpulangnya penyanyi Johnny Killian,seorang pelopor impersonator Elvis Presley di Indonesia pada jam 14.45 WIB di Rumah Sakit Jakarta.Kedua,sekitar jam 16.00 WIB telah berpulang juga penyanyi dangdut A.Rafiq yang diawal karirnya pada akhir era 50an pernah pula menekuni karir musik sebagai impersonator Elvis Presley.

Elvis Presley adalah fenomena menarik dalam industri musik sejak berkembangnya musik rock n roll di era 50an.Rock n roll adalah sebuah kemempelaian antara blues dan country yang menawarkan kredo kebebasan yang meledak-ledak.Sebuah stigma yang pada akhirnya merupakan mazhab gaya hidup anak muda dari era ke era.

Pengaruh Elvis Presley memang sangatlah dahsyat karena berhasil membius anak muda diseantero jagad untuk menjadkikan rock n roll sebagai medium sarat pesan.Walaupun Elvis Presley bukanlah tokoh yang mempelopori lahirnya rock n’roll, tapi Elvis adalah ikon yang menghidupkan semangat rock n’roll itu sendiri.Bayangkan seorang remaja Inggris pun takjub dengan kemilau Elvis Presley yang “mencuri” kredo musik orang orang Afrika yang berimigrasi ke Amerika menjadi budak.Anak muda kelahiran tahun 1940 itu lalu mengepalkan obsesi ingin memainkan pula rock n roll.Obsesi remaja Inggeris asal Liverpool itu berbuah bukti saat dia,yang kemudian dikenal sebagai John Lennon, bersama band bentukannya The Beatles menginvasi Amerika Serikat pada tahun 1963.Ini semua karena daya pesona seorang Elvis Presley.

Di Indonesia sendiri Elvis pun menjadi panutan anak muda.Mulai dari sederet lagu-lagunya hingga fashion yang ditularkan Elvis melalui tata rambut hingga tata busana.Imprealisme rock n’roll ini toh pada akhirnya dibendung oleh Presiden Soekarno dengan melarang tingkah polah mazhab rock n’roll yang dianggap dekaden dengan istilah musik ngak ngik ngok.Film film rock n roll mulai dari Rock Around The Clock-nya Bill Halley and His Comets hingga film-film romantik Elvis Presley dilarang diputar di Indonesia.Saat itu Soekarno memang memancangkan sikap anti Barat lewat Manipol Usdek.Dengan lantang Soekarno menyerukan : Inggris kita linggis.Amerika kita setrika !. Bersama dengan beberapa seniman musik Indonesia,Soekarno menggali musik pop yang sesuai budaya bangsa.Akhirnya muncul tarian pergaulan Irama Lenso yang digali dari khazanah budaya Maluku di timur Indonesia.

Namun toh ada juga pemusik kita yang cerdas.Ketika Soekarno melarang musik Barat dalam hal ini rock n’roll, tiba-tiba mencuat lagu Bengawan Solo karya Gesang yang dibawakan penyanyi Oslan Husain dengan gaya rock n’roll ala Elvis Presley.Lagu Bengawan Solo ala Elvis Presley yang dikumandangkan Oslan Husain ini lolos dari pembredeilan.

Dengan larangan anti ngak ngik ngok itu,tak hanya Oslan Husain yang merancang strategi.Tapi banyak pemusik Indonesia terpicu kreativitasnya dengan larangan memainkan musik Barat ini.Kelompok musik Gumarang dengan pengaruh musik Latin Xavier Cugat menyanyikan lagu-lagu berbahasa Minang seperti Ayam Den Lapeh.Ini sebuah ironi,karena musik Latin toh bukan budaya Indonesia.Ironi ini juga terlihat ketika film film Hollywood dilarang untuk diputar dibioskop bioskop Indonesia, tapi sejak tahun 1952 impor film India justeru diperbolehkan.Namun larangan larangan memainkan musik Barat ini justeru membuat pemusik kita memutar otak agar bisa memainkan musik tanpa ada larangan sama sekali.Benyamin Sueb misalnya mulai memainkan musik blues dan funk yang dikawinkan dengan Gambang Kromong misalnya.

Penyanyi A.Rafiq yang berasal dari Semarang dan kemudian mengejar karir musik di Surabaya,mulai menanggalkan kebiasannya menyanyikan lagu-lagu Elvis Presley.A.Rafiq yang pada tahun 1969 bergabung dengan Orkes Melayu Sinar Kemala pimpinan A.Kadir mulai menyanyikan lagu-lagu yang berasal dari khazanah soundtrack film-film India yang tumbuh subur di negeri ini disamping lagu-lagu dari khazanah Timur Tengah.Uniknya A.Kadir bereksperimen dengan menggabungkan begitu banyak kecenderungan budaya dalam penampilan musik OM Sinar Kemala antara lain memadukan Irama Melayu dengan musik India dan Timur Tengah tapi para penyanyi dan pemusiknya menggunakan busana ala Barat.A.Rafiq salah satu penyanyi yang pernah berada dibawah naungan dan bimbingan A.Kadir menerapkan pola serupa saat merintis solo karir di Jakarta pada awal era 70an.A.Rafiq membuat musik dengan pengaruh musik India yang kuat tapi tampil dengan busana atau fashion yang mengambil inspirasi dari Elvis Presley terutama gaya busana Elvis Presley di era Las Vegas pada dasawarsa 70an dengan mengenakan kerah kemeja yang tegak berdiri.Sekujur kemeja hingga celana berlumurkan payet payet yang mengkilap serta celana cutbray serta rambut jambul dan cambang.Menariknya saat mengenakan busana ala Elvis Presley tersebut A.Rafiq justeru menemukan jatidiri penampilannya sebagai penyanyi dangdut tersohor.Saat itu celana cutbray ala Elvis Presley itu malah disebut orang sebagai celana Rafiq.

Memasuki orde baru,musik Barat tidak lagi dianggap sebagai budaya yang diharamkan.band band rock mulai bermunculan.Dan pesona Elvis Presley pun tak pernah luntur.Mulailah muncul para impersonator Elvis Presley di Indonesia seperti JW Errol,Mukti Wibowo,Johhny Killian,Gatot Soenyoto,Is Haryanto,John Phillips dan banyak lagi.Fenomena ini memang menjadi global,karena hampir semua Negara di seantero jagad memiliki para impersonator Elvis Presley.

Di Amerika Serikat sendiri impersonator Elvis mulai muncul di pertengahan era 50an,sesaat setelah Elvis memulai debut karirnya di zona musik.Tahun 1956 Jim Smith seorang remaja berusia 16 tahun memulai debut sebagai peniru Elvis .Smith tercatat sebagai impersonator Elvis pertama di dunia.Jumlah impersonator Elvis Presley kian membengkak setelah berpulangnya Elvis Presley pada 16 Agustus 1977.

Banyak impersonator Elvis Presley,yang menggunakan atribut Elvis ini hanyalah sebuah batu loncatan ke dunia hiburan.Salah satunya adalah aktor komedi Andy Kaufman yang memulai karir dunia hiburan sebagai peniru Elvis, namun setelah karirnya di dunia hiburan terbuka lebar,Kaufman lalu menanggalkan dan meninggalkan semua atribut Elvis Presley yang pernah dikenakannya.

Ketika mulai meraih popularitas luar biasa lewat lagu Pandangan Pertama dan Pengalaman Pertama, A.Rafiq memang telah lama tak menyanyikan Hound Dog atau Jailhouse Rock-nya Elvis Presley namun pengaruh busana Elvis Presley era Las Vegas masih dikenakannya di panggung pertunjukan maupun saat berakting dalam film layar lebar.

Pada akhirnya kita layak mahfum bahwa dalam dunia hiburan selalu ada peniruan peniruan dan premis orisinalitas sudah tak berlaku lagi.Elvis Presley yang ditiru jutaan orang itu pun meniru pemusik lain juga.Jadi buat apa ngotot soal orisinalitas ?

Johnny Killian

Johnny Killian