Mereka Bergerilya Dalam Berkarya

Posted: Agustus 14, 2010 in Opini, Wawasan

Tulisan dibawah ini dimuat di majalah Intisari edisi Juni 2010.

“Mereka Bergerilya dalam Berkarya”

Oleh Denny Sakrie

Mungkin banyak yang belum pernah mendengar kelompok music seperti White Shoes & Couples Company,Simak Dialog,Superman Is Dead,Discus,Mocca,The S.I.G.I.T atau Burgerkill.Mereka ini sesungguhnya adalah band-band Indonesia yang justeru telah berkibar popularitasnya secara internasional.Mereka memang hampir tak pernah muncul dalam tayangan TV.Tak semua radio memutar karya mereka bahkan prestasi mereka nyaris tak mendapat tempat di berbagai media cetak mainstream .Namun para pemusik,yang kemudian kita sebut pemusik indie ,justeru survive dari lingkup komunitas yang tersebar diberbagai kota di Indonesia seperti Jakarta,Bandung,Surabaya,S

emarang,Yogyakarta,Solo,Makassar, Malang hingga Bali.
Pergaulan musik para pemusik indie ini kian melebar jauh hingga ke zona internasional juga merupakan terbentuknya komunikasi antara komunitas dari berbagai negara yang disatukan oleh komunikasi internet.Dengan memanfaatkan komunikasi internet inilah akhirnya yang membawa kelompok White Shoes & Couples Company mengedarkan album perdanaya lewat label Minty Fresh yang berada di Chicago Amerik Serikat.Label yang didirikan Jim Powers dan Anthony Musiala pada tahun 1993 ini tertarik dengan musikalitas White Shoes & Couples Company,kelompok indie yang dibentuk pada paruh 2000-an oleh beberapa alumnus Institut Kesenian Jakarta.Bagi Whit Shoes & Couples Company tawaran kerjasama dengan Minty Fresh merupakan bukti bahwa karya mereka diapresiasi dengan baik.Label ini dikenal telah merilis beberapa album dari kelompok musik dan artis seperti The Cardigans,Love Jones,Liz Phair,Tahiti 80 maupun Veruca Salt.

Hal serupa juga dilakukan Discus,kelompok yang memilih genre progressive rock sebagai jatidiri musiknya.Iwan Hasan,gitaris dan leader Discus semual mengirimkan sample album via internet ke Mauro Moroni,pemilik label khusus musik progressive rock Mellow Records di Italia.Mauro Moroni tertarik dan merilis album “Discus 1st” secara internasional pada tahun 2000.Album ini kemudian jadi perbincangan komunitas prog-rock disenatero dunia melalui internet bahkan diresensi oleh berbagai majalah khus progresif rock.Discus lalu diundang bermain dalam berbagai event prog-rock dunia seperti “ProgDay” di North Carolina AS (2000),“Baja Prog IV” yang berlangsung di Mexico (2001) serta di “Zappanale Festival” pada tahun 2006 dan 2009.Album album Discus pun dirilis oleh Gohan Record (Jepang) dan Musea (Prancis).

Band metal asal Bandung Burgerkill pun menorehkan prestasi ketika 31 Januari 2010 lalu tampil dalam event musik berskala besar “Big Day Out” di Perth,Australia berdampingan dengan band prog-metal Amerika Serikat Mastodon. Big Day Out merupakan tur festival musik terbesar di Australia yang digelar sejak 1992 dan pernah menampilkan band-band sohor seperti Nirvana, Metallica, Coldplay, The Killers, Red Hot Chili Peppers dan banyak lagi.

Band Mocca yang bernuansa retro sixties pun menandatangani kontrak dengan Excellent Records salah satu indie records Jepang, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi boxset “Pop Renaisance” lewat lagu “Twist Me Arround”.Dalam albumnya Mocca bahkan mengajak beberapa pemusik indie luar untuk berkolaborasi diantaranya Club 8 dari Swedia dan Pelle Carlberg,vokalis kelompok Edson dari Swedia.
Band punk asal Bali Superman Is Dead bahkan memperoleh kesempatan tur keliling 11 kota di Amerika Serikat dan Kanada dalam bagian dari “Warped Tour 2009” bersama band-band tenar seperti Antiflag,Bad Religion,NOFX dan A Day To Remember.Saat itu Superman Is Dead adalah satu-satunya band yang berasal dari Asia.

Lain lagi dengan kelompok etnik-jazz Simak Dialog yang dua albumnya bertajuk “Patahan” dan “Demi Masa” dirilis oleh Moonjune Records,label yang berada di New York AS.Uniknya album-album Simak Dialog ini mendapat perhatian penggemar jazz di seluruh dunia.Ini terlihat dengan begitu banyaknya resensi album mereka yang ditulis media mulai dari Amerika Serikat,Kanada,Inggeris,Po

landia,Brazil,Jerman hingga Israel.
Dari illustrasi diatas,jelas terbersit dalam benak kita : Kenapa band band ini justeru mendapat perhatian luas justeru bukan di negerinya sendiri .Sedemikian tak menariknya kah kiprah musik mereka hingga tak memiliki ruang sedikitpun dalam media massa ? Kenapa mereka tersisih dari pergaulan musik di negerinya sendiri ?.
Dalam konstelasi industri musik,musik yang mereka mainkan memang terasa agak menyempal dari kredo industri musik yang banyak menghadirkan pakem-pakem diantaranya seperti melodi yang sederhana,easy listening,lebih ringan dan sebagainya.Itu adalah kriteria standar yang dipancang industri music dalam menetaskan sebuah produk musik

Dan distu pulaah kemudian merebak gerakan independensi dari para pemusik yang tetap menomorsatukan idealism dalam menghasilkan sebuah karya.Para pemusik ini tak ingin sisi kreativitas mereka menjadi kompromistis.
Mereka tak mau karya-karya mereka dikutak katik demi strategi bisnis semata.Penolakan atas karya karya mereka oleh pengusaha rekamanlah yang kemudian membuahkan statemen do it yourself atau kerap disingkat D.I.Y.Walhasil mereka pun melakukan gerilaya dalam menjejalkan karya-karya musiknya.Semua digarap secara mandiri.Mulai dari proses produksi hingga pola distribusi.
Sebetulnya jika ditelaah lebih jauh etos kerja pemusik secara independen ini bukanlah hal baru dalam konstelasi musik Indonesia.Di tahun 1977 kelompok musik eksperimental Guruh Gipsy merilis album secara independen.Guruh Gipsy dalam distribusi tidak melalui pola mainstream yang saat itu berkedudukan di Harco Glodok Jakarta Pusat.Tak heran jika kaset Guruh Gipsy dijajakan door to door,dititipkan di apotik,di sekolah music bahkan sampai mendirikan payung besar untuk menjual kaset yang didukung antara lain Chrisye.Keenan Nasution,Abadi Soesman dan Guruh Soekarno Putera sendiri.Album eksperimentasi seperti Guruh Gipsy jelas tak akan mampu menarik minta konsumen musik sebesar yang diraih music pop yang massive.
Di paruh era 70-an,memang banyak label label kecil yang ternyata dengan berani merilis album album dengan kadar idealisme tinggi seperti Hidayat Record (Bandung) yang banyak merilis album-album berkonotasi jazz,juga ada SM Recording dan Nova Record (keduanya juga berkedudukan di Bandung) yang banyak melahirkan album-album rock seperti Harry Roesli ,Superkid dan Giant Step.Mereka,para label kecil ini,seperti tak gentar berdampingan dengan label-label mapan seperti Remaco,Purnama,Musica Studio’s maupun Irama Tara.
Saat itu memang belum dikenal terminologi indie,tapi pola kerjanya memiliki banyak kesamaan.
Di Amerika Serikat sendiri kredo dan etos kerja musik independen yang terlihat dari kiprah berbagai label-label kecil justeru telah memperlihatkan eksistensi pada akhir era 40-an semenjak Perang Dunia II usai.Dalam buku “Introduction In The Guinnes Who’s Who of Indie and New Wave Music “ yang dibesut Johnny Rogan (1992) diuraikan bahwa di Amerika Serikat mulai tumbuh label-label kecil seperti Sun Records,Stax Records,Aces Records maupun King Records.Menurut Rogan,Sun Record yang berkedudukan di Memphis Tennesse dimiliki Sam Phiilips mulai berproduksi pada 27 Maret 1952 dengan artis artis andalannya seperti Elvis Presley,Carl Perkins,Roy Orbison dan Johnny Cash.Ketika Sun Records mengalami kesulitan keunagan,Sam Phillips lalu melepas Elvis Presley ke major label RCA Records dengan nilai kontrak $ 35.000 pada tahun 1955.

Di Inggeris ketika gerakan punk rock merebak pada paruh 70-an,mulailah menggeliat gerakan label independen.Selanjutnya di tahun 1980 di Inggeris muncul UK Indie Chart yang memayungi semua karya music bernuansa independen.
Baru di era 90-an mulai terdengar indie music maupun indie label. Semuanya ini bermuasal dari sebuah lompatan yang dilakukan sebuah label kecil bernama Subpop di Seattle Amerika Serikat pada akhir dasawarsa 80-an dan memasuki awal dasawarsa 90-an yang berhasil memikat perhatian music dunia lewat Nirvana,kelompok trio yang memperkenalkan diri sebagai pengusung grunge.Di saat bersamaan mencuat pula terminologi Alternative Rock maupun Indie Rock yang berhasil membangun eksistensi di luar produk music mainstream.
Subpop dibentuk oleh Bruce Pavitt dan Jonathan Poneman di Seattle Washington pada tahun 1986.Awalnya Bruce Pavitt justeru menerbitkan sebuah fanzine dengan nama Subterranean Pop yang banyak menulis kiprah band-band independen Amerika.Pavitt lalu membuat sebuah kaset kompilasi yang berisikan band-band underground pada tahun 1982 dan terjual sebanyak 2000 kaset.Saat itu Pavitt telah menggunakan nama Subpop.Tahun 1986 Pavitt merilis sebuah piringan hitam bertajuk “Sub Pop 100” yang menampilkan band-band seperti Sonic Youth,Scratch Acid dan Wipers.Mulai dari tahun 1987 Subpop mulai merilis single debut dari Soundgarden.Di tahun 1988 dirilis single dari kelompok Mudhoney serta rilisan yang paling fenomenal adalah dari trio Nirvana yang kemudian menjadi parameter sukses gerakan musik grunge.Grunge taklagi hanya milik Seattle,tapi menjadi sumber ilham musik dunia.Tak lama berselang Nirvana digaet major label Geffen Record.Sukses secara mainstream yang diraih Nirvana,mengilhami sederet band-band indie lainnya untuk hengkang dari Subpop ke major label. Gerakan Alternative Rock ini jualah yang akhirnya menjadi inspirasi gerakan musik independen dimana-mana termasuk di Indonesia.
Bandung pada awal 1994 terdapat studio Reverse yang merupakan embrio gerakan musik rock alternative .Digagas oleh Richard Mutter drummer band PAS bersama Helvi. Reverse lalu membuka divisi lain yaitu Distro yang merupakan akronim distribution outlet dengan menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai merchandise import lainnya. Selain distro, Richard juga membentuk sebuah label independen 40.1.24 yang dengan merilis kompilasi CD yang bertajuk “Masaindahbangetsekalipisa

n.” (1997) dengan menampilkan berbagai band indie Bandung dan Jakarta seperti Puppen,Burgerkill, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room.
Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen.
PAS sendiri ditahun 1993 tercatat sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen lewat album mini bertajuk “Four Through The S.A.P” .Album ini terjual 5000 kaset dalam waktu sekejap saja. Samuel Marudut adalah penggagas untuk merilis album PAS secara independen yang bekerja sebagai direktur Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya.

Lalu ada Puppen yang terbentuk 1992 merupakan salah satu pionir hardcore lokal yang hingga
s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Di sudut lain Bandung ada Ujung Berung yang memiliki komunitas metal independen.

Disini terdapat Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band rock bawah tanah seperti Jasad, Forgotten, Morbus Corpse,Sacrilegious, Sonic Torment, Tympanic Membrane, Infamy hingga Burger Kill.Lalu pada awal 1995 terbit fanzine music pertama Indonesia dengan nama Revograms Zine.

Memang baru pada paruh 90-an gerakan rock bawah tanah ini mulai terlihat massive.Misalnya di kawasan Blok M Jakarta mulai terlihat komunitas yang kerap berkumpul secara rutin dan intens.

Saat itu musik metal dengan subgenre yang ekstrem seperti death metal,grindcore hingga black metal sangat digemari dengan band band yang memperlihatkan eksistensi seperti Trauma,Grausig,Tengkorak hingga Betrayer.Tengkorak adalah band grindcore pertama yang merilis album mini secara independen di Jakarta dengan tajuk “It’s A Proud To Vomit Him” (1996).Pada awal tahun 1997 muncul album kompilasi bertajuk “Walk Together,Rock Together” yang dirilis Locos Enterprise dan menghimpun karya karya dari Anti Septic,Youth Against Fascism,Straight Answer,Dirt Edge dan banyak lagi lainnya.

Gerakan indie di Surabaya pun bermula pada tahun 1995 dengan merebaknya band-band bernuansa grindgore dan death metal.Tercatat beberapa komunitas underground yang muncul di Surabaya seperti Independen,,Surabaya Underground Society (S.U.S),Army of Darkness hingga Inferno 178.Komunitas komunitas ini aktif menggelar konser,membuat anzine dan merilis album rekaman.Inferno 178 bahkan memiliki divisi rekaman yang telah merilis sekitar 10 album pada akhir era 90-an.

Di Yogyakarta antara tahun 1996-1998 komunitas indie terlihat mencuat dengan nuansa hardcore yang kental.Ini terlihat pada band-band seperti Something Wrong ,Diphterium Hate hingga Sabotage.Selain metal,di Yogyakarta pun mencuat gerakan hip-hop yang dipelopori G Tribe pada paruh era 90-an hingga kemudian muncul Jahanam pada paruh 2000-an serta muncul album fenomenal “Poetry Battle” pada tahun 2006 yang berlanjut dengan “:Poetry Battle 2” (2008).

Di Yogyakarta pun terdapat beberapa label indie seperti Relamati Records,Diorama Records dan Comberan Records.Bahkan di Yogyajakarta terdapat Netlabel pertama Indonesia dengan nama Yes No Wave Music.Online label ini memungkinkan band atau artis indie untuk menampilkan secara luas karya-karya mereka di masyarakat.

Melewati paruh 2000-an kian banyak band band indie yang menggelegak ke permukaan seperti Melancholic Bitch,Risky Summerbee and The Honeythieft,Airportradio ,Dojihatori,Jenny ,Bangku Taman, termasuk Oh Nina yang albumnya dirilis di empat negara

Di Bali kiprah band-band indie sudah terdengar pada akhir era 90-an terutama Komunitas 1921 Bali Corpsegrinder yang cenderung berada di wilayah metal.Band band Bali yang mencuat saat itu adalah Eternal Madness,Superman Is Dead,Triple Punk,Pokoke,Phobia,Asmodius dan banyak lagi.

Yang paling menonjol adalah Superman Is Dead.Apalagi setelah major label sebesar Sony Music Indonesia mengontrak mereka untuk rekaman sebanyak 6 album.

Kini band-band seperti Navicula,Dialog Dini hari,The Brews,Postmen,The Hydrant,Eternal Maddness dan yang lainnya merupakan band-band yang tetap eksis dalam konstelasi music indie di Bali.

Hiruk pikuk komunitas independen dalam bermusik ini memang kian riuh saja.Meskipun industri music secara global tengah menghadapi keterpurukan secara kronis,toh mereka tak pernah bias lepas dan melepaskan diri dari musik.

Kegiatan music independen memang memiliki auran yang berlainan.Sebagaian besar diantara mereka justeru tak melihat indie label sebagai sebuah wacana musik belaka. Melainkan memiliki pesona personal yang menyusupkan aura passionate dalam mempromosikan pelbagai musik yang berada dibawah payung nonmainstream.

Dengan wawasan dan sudut pandang yang berbeda tak sedikit bila hasil produk indie label justeru lebih disukai oleh para artis dan band dikarenakan mereka bias jauh lebih bebas berekplorasi dan berespresi secara musikal disana .

Menariknya lagi kiprah para pemusik indie ini justeru kerap dilirik oleh para major label.banyak contoh yang bias diajukan.Misalnya.kelompok PAS yang sejak menuai sukses lewat gerilya rekaman indie-nya langsung dikontrak oleh Aquarius Musikindo.Label besar ini bahkan kemudian menetaskan sebuah sub label yang berafiliasi pada band-band indie yaitu Independen Label dan Pops yang merilis album dari Waiting Room,Klarinet,Tipe X hingga Rumah Sakit.

Label seperti Sony Music Indonesia bahkan pernah merilis kompilasi band band indie bertajuk “Indie Ten”.Universal Studios pernah menjalin kerjasama dengan Aksara Records merilis album debut White Shoes & Couples Company.Warner Music Indonesia pun pernah merilis album milik The Upstairs.

Menariknya lagi,dalam situasi yang kurang nyaman,beberapa label indie toh masih bisa survive .Tersebutlah seperti label Demajors,Fastforward Record,Sinjitos,Pura Pura Records,Jangan Marah Records,Blackmorse Records.

Setidaknya ini menyiratkan bahwa telah terjadi pergeseran dalam tatanan industry music di era millennium ini.Jika dahulu setiap pemusik atau band mempunyai ketergantungan yang tinggi pada label-label besar,kini mereka – para pemusik – justeru meliki posisi tawar yang tinggi,karena mereka melakukan semuanya secara mandiri.Tak ada campur tangan dalam sekat kreativitas dari para investor misalnya.Dengan kata yang lebih tepat,setiap pemusik dan band justeru yang mampu menentukan kemana arah karir music mereka bergulir.

Menyusupnya kemajuan teknologi dalam dunia Informasi dan Teknologi merupakan sebuah medium yang banyak memberikan pelbagai kemungkinan-kemungkinan.Pengguna dunia maya yang mandiri sejak menyeruak di paruh era 90-an ini terlihat sangat memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi ini.Melalui medium internet,para pemusik dan penggiat music indie melakukan ritual sosialisasi,membentuk komunitas sekaligus membuat peluang bisnis yang hampir tak tersentuh pikiran di era sebelumnya.Dan pergaulan itu pun mulai meruntuhkan batas batas negara dan bangsa.Kita pun rasanya harus nengakui bahwa music adalah bahasa dunia.

Dunia pun akhirnya mahfum bahwa Indonesia toh memiliki banyak talenta dalam ruang musik.Setidaknya kiprah pemusik indie ini pun justeru banyak member ragam rona dalam industry musik kita yang secara kasat mata sering dianggap seragam .

Iklan
Komentar
  1. Fauzi Abdullah berkata:

    Terimakasih banyak Bang Denny Sakrie atas tulisan yang bagus dan sangat bermanfaat terutama bagi saya yang sedang menyelesaikan skrip berjudul “Komunitas Musik Indie Medan”. Sekali lagi, Terimakasih banyak bang Denny Sakrie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s