Ketika Komunitas Meretas Kreativitas

Posted: Agustus 14, 2010 in Opini, Wawasan

Sesungguhnya tak ada istilah mainstream dan nonmainstream untuk musik.Karena musik tetaplah musik.Yang musik akhirnya hanya bisa dikategorikan atas musik yang dibikin dengan kreativitas maksimal dan musik yang memang dibikin asal-asalan . Ketika merebak terminoloogi cutting edge music,kemungkinan hanya untuk membedakan terhadap asumsi yang berpendar.Penolakan karya musik dari industri musik arus besar jua lah yang setidaknya memicu munculnya gerakan gerakan musik  secara independen.Gejala ini lumrah dan sebetulnya telah terjadi bahkan sejak era 50-an disaat musik  mulai tumbuh kembang.

Menjadi kian menarik ketika mencuat sebuah penghargaan seperti yang digaungkan Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA).Karena di ajang ini sejumlah karya karya musik yang kerap dianggap marginal memperoleh sebuah apresiasi.Menjadi sebuah parameter terhadap elemen elemen musik yang telah dinikmati penikmatnya.Ruang ini menjadi kian menarik karena ternyata begitu banyak terdeteksi karya-karya yang memiliki nilai-nilai apresiatif selama ini justeru terabaikan oleh kuping khalayak.Kenapa ini terjadi ? Penolakan-penolakan secara substansial dari pelaku industri massal inilah yang menjadi tersekatnya katup distribusi musik secara menyeluruh. Mereka ini sesungguhnya adalah band-band Indonesia yang justeru telah berkibar popularitasnya secara internasional.Mereka memang hampir tak pernah muncul dalam tayangan TV.Tak semua radio memutar karya mereka bahkan prestasi mereka nyaris tak mendapat tempat di berbagai media cetak mainstream .Namun para pemusik,yang kemudian kita sebut pemusik indie ,justeru survive dari lingkup komunitas yang tersebar diberbagai kota di Indonesia seperti Jakarta,Bandung,Surabaya,Semarang,Yogyakarta,Solo,Makassar, Malang hingga Bali. Pergaulan musik para pemusik indie ini kian melebar jauh hingga ke zona internasional juga merupakan terbentuknya komunikasi antara komunitas dari berbagai negara yang disatukan oleh komunikasi internet.

Tak heran jika Microsoft dengan sofistikasi Windowslive menaruh minat luarbiasa terhadap gerakan yang dilakukan oleh para pemusik yang selama ini berkarya dalam geliat gerilya.Ajang ICEMA ini merupakan sebuah terobosan yang tak berlebihan jika disebut sebagai salah satu pengejawantahan industri  musik di masa depan.Hiruk pikuk komunitas independen dalam bermusik ini memang kian riuh saja.Meskipun industri music secara global tengah menghadapi keterpurukan secara kronis,toh mereka tak pernah bias lepas dan melepaskan diri dari musik.

Kegiatan musik independen memang memiliki aura yang berlainan.Sebagaian besar diantara mereka justeru tak melihat indie label sebagai sebuah wacana musik belaka. Melainkan memiliki pesona personal yang menyusupkan aura passionate dalam mempromosikan pelbagai musik yang berada dibawah payung nonmainstream. Dengan wawasan dan sudut pandang yang berbeda tak sedikit bila hasil produk indie label justeru lebih disukai oleh para artis dan band dikarenakan mereka bisa jauh lebih bebas berekplorasi dan berekspresi secara musikal disana .Patut pula dicatat bahwa ,dalam situasi status quo dimana  industri musik kurang nyaman dan cenderung kian  luluh lantak,beberapa label indie toh masih bisa survive .Mereka masih merilis album-album dengan kemasan yang tetap menomorsatukan kaidah artistik sarat estetika.

Kantung kantung komunitas yang merupakan pijakan utama menggeliatnya gerakan gerakan musik ini adalah paru paru sekaligus denyut nadi dari pelbagai kegiatan-kegiatan bermusik yang secara signifikan memicu kreativitas.Setidaknya ini menyiratkan bahwa telah terjadi pergeseran dalam tatanan industri music di era millennium ini.Jika dahulu setiap pemusik atau band mempunyai ketergantungan yang tinggi pada label-label besar,kini mereka – para pemusik – justeru memiliki posisi tawar yang tinggi, karena mereka melakukan semuanya secara mandiri.Tak ada campur tangan dalam sekat kreativitas dari para investor misalnya.Dengan kata yang lebih tepat,setiap pemusik dan band justeru yang mampu menentukan kemana arah karir musik mereka bergulir. Menyusupnya kemajuan teknologi dalam dunia Informasi dan Teknologi merupakan sebuah medium yang banyak memberikan pelbagai kemungkinan-kemungkinan.Pengguna dunia maya yang mandiri sejak menyeruak di paruh era 90-an ini terlihat sangat memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi ini.Melalui medium internet,para pemusik dan penggiat musik indie melakukan ritual sosialisasi,membentuk komunitas sekaligus membuat peluang bisnis yang hampir tak tersentuh pikiran di era sebelumnya.Pergaulan itu  pun pada akhirnya mulai meruntuhkan sekat berupa  batas negara dan bangsa. Tengoklah  jumlah entry yang masuk pada saat penyaringan awal pengkategorisasian yang dilakukan Dewan Kategorisasi ICEMA yaitu sekitar 400 entry yang kemudian menjelma menjadi deretan nominasi untuk kemudian memasuki tahapan voting secara langsung oleh para penikmat musik.

Voting dalam ICEMA ini mungkin tak akan sama dengan voting massal ala kompetisi musik  yang kerap kita saksikan dalam tayangan-tayangan televisi.Voting dalam ICEMA jelas merupakan semacam dukungan atas rekomendasi-rekomendasi yang telah diakomodir oleh para anggota Dewan Kategorisasi.Jadi jelas bahwa para voters telah mengetahui dengan pasti item musik yang masuk dalam nominasi. Chris Anderson  menulis gejala ini sebagai filter  penyaring nilai kualitas : “the catch-all phrase for recommendations and other tools that help you find quality” dalam chapter “The Power of Collective Intelligencedalam buku “The Long Tail” (2006).Mengapresiasikan karya karya musik cutting edge dalam “Indonesia Cutting Edge Music Award” (ICEMA)  justeru  akan banyak memberi  ragam rona dalam industri musik kita yang secara kasat mata sering dianggap seragam .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s