Merdekaaaa…….Leo Kristi

Posted: Agustus 14, 2010 in Sosok

Apa pun yang disenandungkan LeoKristi selalu berselimut merah putih.Dia memuja bahkan menjewer.
Inikah potret nasionalisme seorang pengrajin musik ?
Kenapaanak muda sekarang menjauhi tematik lagu yang kerap dikumandangkan Leo Kristi ?
Lirik seperti termaktub dibawah ini mungkin hanya bagian dari penghuni museum :

Ayo nyalakan api hatimu,
seribu letupan pecah suara,
sambut dengan satu kata: merdeka…!

Sosok sepertiLeo Kristi rasanya tepat kita kedepankan di bulan Agustus ini.

Sejak paruh 70-an,ada ritual khusus yang dilakukan Leo Kristi,yaitu menggelar konser dalam rangka menyambut perayaan 17 Agustus,hari Proklamasi Republik Indonesia.

Iringan bendera kemenangan
Terlalu gegap gempita
Menyongsong irama kakiku
Lelah kaki lima Ibukota

Ada seribu matahari bersinar
Diantara silaunya aspal jalan
Kakiku terhantuk batu batu hitam tajam
Di selah gembira lagu-lagu mars kemenangan

Aku teringat akan bapakku
yang bersujud di dlaam gelap gulita di sana

Ada seribu matahari bersinar
Diantara silaunya aspal jalan

Dirgahayu dirgahayu
Indonesia Raya
Dirgahayu dirgahayu

(dari album ” Nyanyian Tambur Jalan“,Irama Tara)


Kalau cermin tak lagi punya arti
Hancurkan berkeping-keping
Kita berkaca di riak gelombang
Dan sebut satu kata : hakku

(lagu ‘Jabat Tangan Erat-erat Saudaraku’ album Nyanyian Malam Irama Tara 1976)

Bak tengah berorasi, kata-kata di atas diekspresikan dengan semangat menggumpal dan tangan mengepal. Dan, hanya satu sosok yang melakukannya di tengah musik pop Indonesia yang sarat gincu: Leo Kristi.

Leo Kristi memang meletup-letup. Dia adalah salah satu dari sedikit seniman musik negeri ini yang tetap konsisten dengan konsep musiknya yang berembel-embel ‘Konser Rakyat’. Lelaki yang lahir di kota Pahlawan, Surabaya, sekitar 11 minggu menjelang hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu kini telah berusia 60 tahun. Hampir tak ada perubahan yang berarti dalam jejak-jejak musiknya. Leo Kristi tetap dalam konsep musiknya yang ditorehnya di pertengahan era 70-an.
Pemilik nama lengkap Leo Imam Soekarno ini masih tetap berkelana dan mengembara ke pelosok-pelosok daerah. Melakukan workshop musik dengan khalayak setempat. Lalu menjelmalah serangkaian lagu-lagu yang berformat kesaksian.

Leo memang menempatkan dirinya sebagai penyaksi, bukan sebagai penggugat. Apa yang dilihatnya, apa yang dirasakannya, dan apa yang bergejolak dalam nadinya. Semuanya dituangkan dalam torehan lirik dan sebongkah nada. Dia ibarat trubadur yang berkelana dari satu daerah ke daerah yang lain. Hari ini di pedesaan Bulukumba Sulawesi Selatan, bulan depan di Kalimantan, setahun kemudian melangkah di Jimbaran, Bali dan entah dimana lagi.
Dan, tampaknya Leo memang menikmati hidup sebagai seorang bohemian. Teman-teman dekatnya bahkan tak tahu atau tak bisa menebak kapan Leo Kristi akan berlabuh di suatu tempat. Gagasan-gagasannya bertualang kesana-kemari. Leo pun bersaksi dalam lagu
Di Deretan Rel-rel’ dari album Nyanyian Fajar (1975):

Kereta pagi berangkat siang hari
Satu gerbong seratus penumpang
Di sela-sela tumpukan keranjang dan karung-karung
Perempuan berteriak ribut
Bayi bayi menangis
Jalan menuju kota gaduh selalu

Menyimak senandung Leo Kristi dengan artikulasi yang jernih dan vibrato yang tegar, kita pada akhirnya mahfum ini merupakan sekelumit kesaksian. Yang tak hanya mencuat dari kerongkongan Leo Kristi, tapi seluruh masyarakat negeri ini. Dan, kita mahfum bahwa Leo tidak sedang melayangkan kritik terhadap menteri perhubungan, instansi perkereta-apian, kegagalan keluarga berencana, urbanisasi, atau apalah. Dia hanya menyaksikan kejadian rutin yang terjadi sehari-hari.
Rasanya di situlah kelebihan sosok Leo Kristi. Ia tetap dalam koridor yang santun walau mungkin terdengar
seolah menjewer pihak-pihak tertentu.
Tapi, di sisi lain tercetus sikap tegar yang diperlihatkan Leo, semisal barisan lirik lagu ‘SASL’ (Solus Aegroti Suprema Lex Est) dari album Nyanyian Tanah Merdeka :
Hei Tirani:

Dengan ujung senapan dan bayonet
Tak dapat kau penjarakan jiwa kami

Ini jelas sebuah sikap yang rasanya sudah sedemikian langka wujudnya saat sekarang ini. Simak pula lirik Leo Kristi lainnya :

Malam ini bergumam bersama
Di mana keadilan diporak-porandakan angkara murka.

Dalam setiap kesempatan Leo Kristi selalu berujar, ”Kita selalu mengharapkan, kebudayaan bisa menjadi jembatan hubungan menghubungkan cinta kasih sayang sesama manusia.”
Adakah ini  masih terbersit dalam benak kita ?


Leo mengenal musik sejak kecil. Jadi tak heran jika musik seolah bersemayam dalam nadi dan darahnya. Muasalnya adalah sang ayah, Raden Ngabehi Iman Soebiantoro, yang mempunyai hobi bermusik. Kemampuan bermusik tertular ke Leo yang selain mampu bernyanyi juga pintar memainkan pelbagai instrumen musik mulai dari gitar, flute, piano, hingga biola. Menurut Leo, ”Musik adalah sahabat, dan nyanyian adalah kecintaan”.
Tampaknya falsafah itulah yang terus dikepitnya hingga sekarang ini. Seperti lazimnya anak kecil, ia gandrung terhadap musik. Leo pun mengambil kursus gitar pada Tony Kardijk, direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Selain itu ia merasa perlu untuk memperdalam teknik memetik gitarnya pada dua musisi lainnya yaitu Oei Siok Gwan dan Poei Sing Gwan.
Untuk teknik vokal, pria ini menyerap ilmu vokalia pada John Topan dan Nuri Hidayat. Di sini Leo mendapatkan berbagai teknik bernyanyi mulai phrasering, vibrato, falsetto, breathing, dan entah apa lagi.
Leo mulai menjejakkan kaki di pentas pertunjukan saat membentuk Lemon Trees bersama almarhum Sudjarwoto yang lebih dikenal sebagai Gombloh dan Franky Sahilatua yang kemudian dikenal dengan duo Franky & Jane. Leo pun sempat membentuk duet dengan seorang penyanyi wanita bernama Kristi. Keduanya lalu dikenal sebagai Leo Kristi. Ketika duo ini bubar, Leo tetap menggunakan nama Leo Kristi sebagai jatidirinya. Terkadang Leo mengaku bahwa Kristi itu adalah nama gitar hitam yang selalu diusungnya jika manggung. ”Kristi itu adalah singkatan Keris Sakti,” tuturnya. Dan, memang gitar itulah senjata utama Leo sebagai seorang trubadur yang telah melangkah dalam empat dasawarsa.


Di pertengahan era 70-an, Leo Kristi mulai memproklamirkan Konser Rakyat Leo Kristi yang beranggotakan Leo Kristi, Naniel dan Mung, serta dua gadis bersaudara Jilly dan Lita yang berperan sebagai penyanyi latar. Formasi ini melahirkan album perdana di akhir tahun 1975 Nyanyian Fajar yang diproduksi oleh Aktuil Musicollection, majalah musik di Bandung yang melebarkan sayap pada dunia rekaman.
Formasi Konser Rakyat Leo Kristi ini selalu berubah-ubah. Beberapa nama silih berganti masuk mendukung musikalitas dari Leo Kristi, di antaranya ada Otte Abadi, Komang, Cak Bagus, Tatiek, Yayuk, serta dua bersaudara Nana dan Yana Van Derkley. Deretan pendukung Leo Kristi bisa menjadi sangat panjang, karena setiap usai melakukan pengembaraan di suatu daerah, Leo selalu menemukan bibit-bibit baru yang kemudian diikutsertakan dalam formasi Konser Rakyat Leo Kristi.
Dalam perjalanan musikalnya, Leo telah menghasilkan sekitar 10 album. Sudah pasti ini merupakan jumlah yang sangat sedikit dibanding perjalanan kariernya yang telah mengarungi empat dasawarsa. Meskipun demikian ia selalu menepis tudingan bahwa dirinya telah mengalami stagnasi.

Apakah Leo sudah tak memiliki niat untuk melontarkan kesaksian-kesaksian seperti dahulu yang melahirkan banyak lagu seperti ‘Siti Zulaikha’, ‘Gulagalugu Suara Nelayan’, ‘Laut Lepas Kita Pergi’, ‘Sayur Asam Kacang Panjang’, ‘Bedil Sepuluh Dua”, ‘Ana Rebana’, ‘Tanah Memerah In Memoriam’, ‘Timor Timur’, ‘Nyanyian Tanah Merdeka’, ‘Kiara Condong’, ‘Salam dari Desa’, dan ‘Kereta Laju’?
Tak pernah ada jawaban yang pasti yang keluar dari bibir seniman ini. Kita pun hanya bisa menebak-nebak. Seperti ketidaktahuan kita kemana lagi langkah Leo Kristi mengembara.
Dan, kapankah Leo Kristi akan berlabuh ?

Buih buih memercik di kiri-kanan
Buih buih memercik di kiri-kanan
Perahu jauh di kaki langit
Terbentang layarku
Kadang naik, kadang lurus
Dipermainkan oleh ombak


Iklan
Komentar
  1. prige artmeq berkata:

    kaset album nyanyian cinta masih aq punya tersimpan meski kondisi rekaman suara mungkin tdk begitu bagus lagi karena tdk terasa juga sdh 32 th kaset itu bersama q menemani di banyak saat-saat q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s