Prakata Untuk Buku Tentang Bubi Chen

Posted: Agustus 14, 2010 in Sosok

Minggu lalu seorang mahasiswa Surabaya bernama Agung Perkasa menghubungi saya melalui email.Dia meminta saya untuk menuliskan prakata untuk buku biogarfi visual tentang kiprah musikal pianis jazz andal Indonesia Bubi Chen.Tanpa berfikir panjang langsung saya menyanggupi untuk menorehkan kesan kesan saya terhadap maestro jazz kita yang telah meniti karir dalam jazz sejak dasawarsa 50-an.Ini sebuah apresiasi menarik terhadap Bubi Chen dan jazz.Mengingat buku referensi perihal musik jazz di Indonesia sangatlah sedikit,jikalau tak mau menyebutnya tak ada sama sekali atau langka.

Upaya yang dilakukan anak muda seperti Agung Perkasa patut didung dan diberi acung jempol.Setidaknya kita akhirnya bisa menelusuri perjalanan musik jazz melalui kiprah Bubi Chen yang berasal dari Surabaya ini.Sejarah musik Indonesia harus ada.Harus segera dodokumentasikan,walau secara perlahan.Karena musik Indonesia pastilah sebuah legacy yang akan disantap oleh generasi generasi di masa datang  .

Dan inilah nukilan prakata yang telah saya tulis tentang Bubi Chen :

Bubi Adalah Jazz

Oleh Denny Sakrie

Jazz adalah dunia Bubi Chen.rasanya Bubi terlahir untuk musik jazz.Dan mendekati 5 dasawarsa darah dan karsa Bubi tetap jazz.Sebuah kegigihan dan konsistensi yang mengagumkan. Dan tak bisa ditawar lagi, Bubi adalah jazz.Dimata saya Bubi Chen selaik  Midas, Raja Phrygia dalam mitologi Yunani yang sentuhan ujung jarinya mengubah segalanya jadi emas. Musik apapun yang disentuh Bubi berubah jadi jazz.Saat bersimbiose dengan pemusik tradisional Jawa Barat,Bubi opun mencitarasakan jazz.Bahkan ketika Doel Sumbang hingga band Padi menggamitnya berkolaborasi dalam rekaman,jari jemari Bubi yang menari di tuts piano tetap menebar rasa jazz. Tak banyak pemusik yang berani memastikan jazz sebagai pilihan hidup. Di negeri ini banyak kita jumpai pemusik jazz yang nyambi memainkan jenis musik lain untuk survive.

Namun, Bubi Chen, yang belajar jazz secara autodidaktik, tidak pernah berhenti memainkan jazz. Jari-jemarinya tetap bergulir di atas tuts piano. Hanya jazz dan jazz. Simaklah bagaimana Bubi  Chen menafsirkan berbagai ragam anasir musik entah itu klasik, pop, maupun etnik ke dalam kamar jazz yang dibangunnya.

Ketika berusia 12 tahun ia sudah mengobrak-abrik repertoar klasik, dari Wolfgang Amadeus Mozart hingga Ludwig von Beethoven, menjadi jazz. Bebas lepas dari tradisi musik klasik yang taat pada pakem. Dalam 40 tahun lebih kariernya di dunia rekaman, Bubi mengaransemen begitu banyak lagu pop menjadi repertoar jazz yang improvisatif.

 

Mulai dari album Bila Ku Ingat Bubi Chen with Strings (produksi Irama, 1969), bersama Mus Mualim sebagai music director dan diiringi Orkes Simphoni Radio Jakarta, hingga sederet albumnya di akhir era 1990-an seperti Virtuoso (Legend Record,1995) atau What A Wonderful World (Sangaji Music, 1999) maupun album terakhirnya di tahun 2010 “The Many Colours Of Bubi Chen” yang menafsirkan pustaka musik rock dalam cermin jazz.

Lalu tengpkah  sampul belakang album Bila Ku Ingat, almarhum Mus Mualim menuliskan komentar tentang musikalitas Bubi Chen: ” Seorang pianis yang sempurna, baik dalam kecepatan dan keampuhan jari-jarinya maupun dalam susunan improvisasi yang progresif dan modern. Dia adalah seorang pemain piano yang rapi dan teliti.”

Tak heran apabila  di era 60-an banyak yang membanding-bandingkan permainan Bubi Chen dengan Art Tatum, pianis jazz Amerika yang memainkan Swing, Stride, dan Boogie Woogie dengan kompleksitas dan kecepatan jari-jemari yang luar biasa. Apa pun, yang jelas Bubi Chen lebih tepat disebut sebagai seorang penafsir jazz. Setiap lagu yang diinterpretasikannya senantiasa disusupi roh jazz yang berkesan baru dan fresh.

Setiap lagu yang diaransemennya ibarat seseorang yang mengenakan baju baru. Bubi pun piawai mengaduk-aduk sanubari mulai dari ambience beratmosfer lembut dan secara tiada terduga menyeberang ke perangai yang lebih agresif. Tak berlebihan jika menyebut permainan jazz Bubi adalah laksana miniatur yang meniru riak kehidupan manusia sehari-hari, mulai dari yang adem-ayem hingga yang penuh gelegak. kehidupan anak manusia.

Untunglah Bubi memilih jazz. Sebab, dengan improvisasi, jazz bisa menerobos dan menyusup ke zona estetik musik lain. Yang pantas dicatat adalah ketika Tony Scott, peniup klarinet Amerika yang mengajak grup jazz Indonesian All Stars, yang terdiri atas Bubi Chen (piano, kecapi), Maryono (vokal, flute, saksofon tenor), Benny Mustafa (drum), Jopie Chen (bas), dan Jack Lesmana (gitar), merekam album Djanger Bali (produksi Saba/MPS,1967) di Jerman.

Meskipun membawakan beberapa repertoar negeri kita seperti Burung Kakatua, Djanger Bali, Ilir-ilir, maupun Gambang Suling-nya Ki Nartosabdo, album yang mendapat tanggapan baik dari dunia jazz internasional ini sama sekali tidak memasukkan instrumen gamelan. Padahal ambience Bali dan Jawa menyusup dalam permainan mereka. Jack Lesmana, misalnya, cukup memanipulasi karakter gamelan melalui sentuhan permainan gitarnya. Begitu juga Bubi, yang melakukan hal serupa pada permainan pianonya. Terkecuali lagu Gambang Suling, yang mengetengahkan permainan kecapi Bubi. Uniknya, lagu karya George Gershwin, Summertime, dimainkan dengan treatment karawitan Sunda.

Kolaborasi lain yang pernah dilakukan Bubi adalah merekam album Bubi di Amerika (Hidayat Audio, 1984) bersama Albert “Tootie” Heath, pemain drum jazz yang pernah mendukung Herbie Hancock, Dexter Gordon, dan Yusef Lateef, serta pemain bas John Heard yang pernah mendukung The Count Basie Orchestra, Louie Bellson dan Oscar Peterson. Rekaman yang berlangsung di Pasadena, California, ini memainkan genre Be Bop dan Hard Bop karya Miles Davis hingga Sonny Rollins.

Ini bukan hanya babak yang tak pernah terlupakan bagi perjalanan musikal Bubi Chen, tapi juga merupakan entry tersendiri dalam sejarah musik jazz di Indonesia. Kolaborasi lintas bangsa itu masih terus dilakukannya, misalnya ketika merilis album Virtuoso, yang didukung pemusik jazz dari Australia, Singapura, dan Filipina.

Dari catatan-catatan di atas, tersirat bahwa Bubi Chen adalah seorang pemusik yang gemar berdialog. Berdialog dengan pemusik jazz antarbangsa, berdialog dengan pemusik beda generasi, hingga berdialog dengan jenis musik lain di luar jazz.

Dan sang Midas pun kembali menjentikkan jari-jemarinya di bilah-bilah tuts piano. Jadilah jazz, jazz, dan jazz.

 

Perjalanan musik Bubi  Chen ini,untungnya,direkam dengan seksama dalam buku ini.Sebuah dokumentasi yang kelak akan diketahui pula oleh generasi setelahnya.Sejarah musik Indonesia pun mencatat bahwa Bubi adalah jazz itu sendiri.

 

Denny Sakrie,pengamat musik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s