Arsip untuk September, 2010

Wow……alangkah terkejutnya ketika saya ngintip di e-Bay hari ini 8 Desember 2008 .Disitu tertera piringan hitam SAS Group rilis ARCO tahun 1983 bertajuk “Sansekerta” dibid pada harga $ 100,00.Wow…….gilaaa ?

Tapi bangganya juga produk rockers Indonesia dihargai sedemikian tinggi.Beberapa bule sohib saya antara lain Gianlorenzo Giovannozzi dari Italia sampai ngontak saya menanyakan apakah harga tersebut “make sense” ?……..Apakah karena barangnya sudah punah,atau karena nilai musiknya memang setinggi itu ?

Namun yang lebih miris dan memprihatinkan bahwa lama kelamaan rekaman-rekaman musik Indonesia kita yang memang sudah langka terancam punah tanpa bekas jika selalu didagangkan di jaringan e-Bay ini.

Mari kita bolak balik kembali lembaran musik masa lalu.Kita coba balik ke tahun 1982.Ada sebuah event kompetisi musik Internasional yang digagas Yamaha Music Foundation Jepang yaitu “World Popular Song Festival in Tokyo 1982”.

Di ajang ini nama Indonesia harum semerbak bak kesturi.Dalam deretan penerima award ada nama peserta Indonesia : Lagu “Lady” karya cipta Dr.Anton Issoedibyo yang dinyanyikan oleh Harvey Malaihollo dan Geronimo Singers  memperoleh “Kawakami Specials Award”.

Sudah pasti ini merupakan hal yang sangat membanggakan bukan hanya bagi insan musik Indonesia,tapi milik seluruh rakyat Indonesia.Dan kalau kita melihat deretan peserta finalisnya ,disitu ada nama Celine Dion,yang kini telah menjadi bintang nyanyi dunia.Celine Dion mewakili Prancis lewat lagu bertajuk “Tellement J’Ai D’Amour Pour Toi” yang berbahasa Prancis.

Inilah urutan lengkap finalis  WPSF 1982 dalam kaset yang dirilis Aquarius pada tahun 1982 :

1.Lady – Indonesia  (Harvey Malaiholo & Geronimo Singers) winner of Kawakami Specials Award

2.Just Once To Be Free – USA (Taffy McElroy)

3.Tellement J’ai D’Amour Pur Toi – France (Celine Dion) winner of Outstanding Song Award

4.Sad Dancer – Japan (Mio Honda) winner of Outstanding Song Award

5.Promise Me Tonight – Taiwan (Sarah Chen)

6.Where Did We Go Wrong -USA (Anne Bertucci) Grand Prix Winner For Non Japan

7.Esename A Querer – Mexico (Yoshio) winner of Most Outstanding Oerformance & Best Song Award

8.Of All My Love Song – Israel (Ronen Bahunker) winner of oustnading Song Award

9.Flower Thief – Japan (Asuka) Grand Prix Winner For Japan

10.Holiday In Mexico – New Zealand (John Rowles) winner of Outstanding Song Award

Kaset World Popular Songs Festival Tokyo 1982

Kelompok The Rollies asal Parijs van Java Bandung merekam albumnya untuk pertamakali di perusahaan rekaman Pop Sound Phillips pada tahun 1969.

The Rollies yang saat itu didukung oleh almarhum Iwan Kresnawan,almarhum Dedie Sutansyah,almarhum Delly Djoko Alipin,almarhum Bagun Sugito dan Benny Likumahuwa dan TZ Iskandar, langsung merilis 2 buah album sekaligus.

Yaitu “Halo Bandung” yang berisikan lagu-lagu instrumental keroncong seperti “Arjati”,”Bandar Djakarta”,”Sansaro”,”Selajang Pandang”
hingga “Puteri Solo”.Band seperti The Steps dan The Peels jugan menghasilkan album bernuansa keroncong modern.

Album lainnya adalah album yang berisikan sederet hits mancanegara seperti “Sunny”,”Gone Are The Songs Of Yesterday”,”Kansas City”,”I Feel Good”,”Cold Sweat”,”It’s A Man’s Man’s Man’s World” ,”You Keep Me Hangin’ On”,”No Sad Song For Me”  dan banyak lagi.

Menariknya,The Rollies tak membawakannya sesuai dengan versi orisinalnya.”Kami selalu mengarransemen ulang” jelas Benny Likumahuwa yang bertindak sebagai music director the Rollies.Lagu “Gone Are The Songs Of Yesterday” dianggap lebih berkarakter disbanding versi orisinalnya yang dilantunkan kelompok Love Affair.Bahkan tak sedikit yang menyangka lagu bernuansa mellow itu sebagai karya The Rollies.Lagu ini kelak menjadi trade mark the Rollies dalam berbagai pentas pertunjukan.

Debut album The Rollies


Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! Pada opening credit “ShineA Light” seperti yang dilakukannya pada rockumentarynya di tahun 1976 “The Last Waltz” tentang konser perpisahan grup rock The Band.Karena aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua.

Saya yang telah nonton “Shine A Light” dalam bentuk DVD toh merasa tak afdol jika tak menonton langsung dalam bioskop.Kebetulan Jiffest 2009 menyertakan “Shine A Light” dalam salah satu film yang diputar.Sudah pasti,kesempatan ini tak saya sia-siakan.

Apalagi “ShineA Light” agak berbeda dengan rockumentary The Rolling Stones lainnya seperti “Gimme Shelter” (1970) yang dibesut Albert Maysles,David Maysles dan Charlotte Mitchell Zwerin maupun “Symphaty For The Devil” (1968) yang digarap Jean Luc Goddard.

Dimana letak perbedaannya ?.Seorang teman dengan nada pesimis malah mengatakan bahwa “Shine A Light” adalah sebuah film konser biasa.Jelas argumen ini saya tampik.Karena setelah menonton “ShineA Light” kita pun mahfum bahwa Martin Scorsese yang maniak dengan karya karya the Rolling Stones justeru tengah ingin menempatkan The Stones pada bingkai yang lain.Bukan lagi sebagai band rock and roll berlumur pernak-pernik kontroversi.Bukan lagi mencitrakan sosok bad boys .Melainkan sebuah band dalam bingkai yang lebih manusiawi,yang dicintai seisi rumah.Sebuah band keluarga.

Menyelusupnya keluarga Bill Clinton di balik panggung sebelum konser memperlihatkan hal ini.Terlihat Bill Clinton bersama Hillary isterinya dan Chelsea puterinya bersilaturahmi dengan TheStones.Juga ibunda Clinton.Sebuah adegan yang tak mungkin ditemui pada “Gimme Shelter” yang justeru memfokuskan pada peristiwa berdarah terbunuhnya seorang remaja ditengah kerumunan penonton ditangan Hell’s Angel,kelompok biker yang selalu hadir dalam setiap konser The Stones.

Walaupun konser TheStones dibuka oleh Bill Clinton,tapi di film ini tak ada susupan pernak pernik politik seperti yang terlihat pada film “Symphaty For TheDevil” nya Jean Luc Goddard yang menyelusupkan issue politik seperti blackpower,Marxisme hingga rasisme.

“Shine A Light” lebih ingin merekam energi sebuah band yang tak pernah padam,walau pun usia pendukungnya telah memasuki senjakala.Tak ada sedikitpun petikan wawancara tentang misteri meninggalnya gitaris Brian Jones,misalnya.Bahkan lirik lagu “Some Girls” yang pernah menuai protes antara lain dari Jesse Jackson di tahun 1978 pun telah dijinakkan.Mick Jagger tak lagi menyenandungkan : Black girls just just wanna fucked up all night.Semua telah disterilkan.Scorsese ingin memanusiawikan The Rolling Stones yang terlanjur dicap biang rusuh,sarat kontroversi dan semacamnya.Rocker juga manusia, mungkin itulah yang ingin diungkap Marty bersama sinematografer peraih Oscar Robert Ricahrdson beserta the A –Team Andrew Lesnie,Albert Maysles,Ellen Kurass,John Toll,Robert Elswhit,Declan Quinn,Stuart Dryburgh dan Emmanuel Lubezki dengan crane yang melayang di atas kepala penonton mengikuti gerak Mick Jagger dan kawan kawan di Beacon Theater New York yang ditonton sekitar 2.5000 penonton pada tanggal 29 Oktober dan 1 November 2006 silam. Keith Richard dengan dandanan khas bak perompak pun bercanda :”Hey Clinton,I’m bushed !”.

Dalam production notes Marty menulis :” “We did talk about making an official tour film but at a certain point, I thought making something more intimate would be more suited to me as a filmmaker and would also facilitate a more personal connection between the audience and the band”.

Di awal film terlihat betapa alotnya diskusi antara Martin Scorsese dan The Rolling Stones terutama Mick Jagger,mulai dari set panggung,penempatan tata cahaya hingga setlist (susunan lagu) yang akan dibawakan TheRolling Stones.Marty yang menggemari the Rolling Stones sangat care terhadap setlist The Stones,untuk rundown script.Marty sangat paham mengenai struktur lagu-lagu The Stones.”Biasanya Keith membuka dengan strumming gitar” ungkap Marty pada crew-nya.Marty sendiri menyusun setlist yang diusulkannya pada Rolling Stones.Rolling Stones pun telah mengirimkan setlist yang dibagi dalam kategori : well-known dan medium known.

Tapi sampai pada hari H,setlist yang permanent belum juga diberikan Mick ke Marty yang sudah uring-uringan.30 detik sebelum konser dibuka,barulah setlist sampai di tangan Marty.Akhirnya konser pun direkam tanpa skrip sama sekali.Tapi toh,kita tetap melihat sinkronisasi yang bagus antara lighting dan Mick Jagger yang tengah melantunkan “Symphaty For The Devil”.Luar biasa.Saat Jagger mengangkat kedua belah tangannya,secara simultan lighting pun ikut berpijar terang.

Pengambilan angle gambar pun sangat detil.Kolaborasi antara Marty dan editorDavidTedeschi patut dipuji. Lihatlah saat bintang tamu gitaris Buddy Guy melakukan slide gitar,kamera pun dengan sigap berpindah ke jari jemari Guy.Sebuah editing yang memukau.Ini bisa terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari seorang Martin Scorsese terhadap The Rolling Stones.Dalam beberapa film-film garapannya,memang senantiasa hadir lagu-lagu The Rolling Stones dalam soundtracknya.

TheRolling Stones memang salah satu dari keajaiban musik rock.Mick Jagger tetap lincah bergerak dari sisi panggung ke sisi lainnya tanpa lelah.Keith walau dengan petikan gitar yang terkadang sumbang tetap memancarkan keunikan.Dan kamera pun merekam CharlieWatts yang terengah engah usai menampilkan “Shattered”.Ron Wood tak pernah lepas dengan isapan rokoknya.

Tubuh keempat The Stones tak berubah.Tak satupun yang berubah tambun.Yang berubah mungkin kerut muka.Rambut Watts telah memutih.Richards pun selalu mengenakan bandana untuk menutup rambutnya yang luruh.

Marty pun menyelipkan petikan interview dari Jagger,Richrds,Wood dan Watts dari era 60-an hingga 70-an.Sebuah upaya melekatkan history dalam konser The Stones.Meskipun sangat disayangkan,sama sekali tak ada petikan wawancara terhadap personil The Stones di masa lalu seperti Brian Jones,Bill Wyman atau Mick Taylor.

Quote wawancara yang dipilih Marty memang memberikan aksentuasi dalam “ShineA Light”.Ketika Jagger ditanya tentang apa yang dilakukannya pada saat berusia 60 tahun.Jagger pun menjawab dengan enteng : “Easily…..!”

Dalam “ShineA Light” The Rolling Stones menjadi tak jelas asal usul negaranya.Mereka tak tampak lagi sebagai band Inggeris yang sempat membuat band band Amerika resah saat “British Invasion” pada dasawarsa 60-an.Bersama bintang tamu seperti Jack White III dari The White Stripes dengan suara nassalnya,Buddy Guy dengan ruh blues yang menjadi inspirasi utama musik The Stones hingga Christina Aguleira yang terampil menafsirkan R&B saat berduet dengan Mick Jagger membawakan “Live With Me”.Keduanya pun berangkul mesra,walau terlihat seperti pelukan antara ayah dan puterinya.

Dalam konser yang menjadi bagian tur album terakhirnya “Big Banger”,diluar dugaan The Stones mmbawakan lagu yang jarang mereka tampilkan di pentas seperti “Far Away Eyes” dengan gaya country.Ronnie Wood memainkan steel guitar disini.Mungkin karena bermain di New York,di film ini The Rolling Stones banyak memainkan lagu dari album “Some Girls” (1978) seperti “Just My Imagination”,”Shattered”,”Far Away Eyes” dan “Some Girls”.”Album “Some Girls” ini memang banyak menyerap kota New York sebagai inspirasi saat merekamnya pada tahun 1977” ujar Mick Jagger.

Selama durasi 2 jam lewat “Shine A Light”,Martin Scorsese seolah melengkapi atribut The Rolling Stones sebagai “The World’s Greatest Rock and Roll Band”.Film ini pun menambah geliman sinar kegemilangann band asal Inggeris itu. Sebuah evolusi dari grup rock raksasa yang pantas ditonton.

Denny Sakrie *

Martin Scorsese dan Mick Jagger

* penulis adalah pengamat musik dan penikmat film

(Tulisan ini dimuat di www.rumahfilm.org)

Harry Roesli dan Negeri Peacock Dog

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Ini adalah album perdana Gang of Harry Roesli bertajuk “Philosophy Gang” yang dirilis oleh Lion Record Singapore pada tahun 1973.

Album ini direkam di Musica Studio’s Jalan Perdatam,Pasar Minggu Jakarta Selatan,lalu diremix di studio Lion Record Singapore.

Beruntung,Harry Roesli bersua dengan Robert Wong Jr,pemilik Lion Record sekaligus Lion Magazine yang tertarik untuk merilis album ini dalam bentuk LP (longplay) yang berisikan 7 lagu yaitu “Peacock Dog“,”Roda Angin” dan “Don’t Talk About Freedom” di muka A serta “Borobudur”,”Imagine” (Blind),”Malaria” dan “Roses” di muka B.

Semua lagu ditulis oleh Harry Roesli,kecuali 2 lagu yaitu “Roses” dan “Don’t Talk About Freedom” yang ditulis oleh Albert Warnerin.Lagu “Imagine” (Blind) ditulis oleh Choqiue Hutagalung keybordis yang kemudian berkarir musik di Jerman, bersama Harry Roesli.

Gang of Harry Roesli terdiri atas Harry Roesli (vokal,bass,gitar,perkusi),Albert Warnerin (gitar,vokal),Janto Soedjono (drums,perkusi),Indra Rivai (keyboards),Harry Pochang (harmonika,vokal) dan Dadang Latief (gitar).

Harry Roesli tampak  menggabungkan berbagai kecenderungan  musik.Ada rock,funk,folk ,blues dan R&B serta jazz(y).Harry tampaknya tak ingin terkotak dalam satu genre musik.Dia ingin bebas memainkan apa yang disukainya.Beruntung,Harry didukung oleh pemusik yang paham kemauannya seperti Albert Warnerin yang memiliki sebntuhan progresif dalam pola permainan gitarnya .Harry Pochang dengan permainan harmonikanya yang bluesy malah mengingatkan kita pada gaya permaianan harmonika Lee Sklar dari kelompok War.Dan Indra Rivai,yang saat itu juga tergabung sebagai pemain keyboard Bimbo,memberikan kontribusi yang padan melalui keybioards hingga mini Moog synthesizers.

Keterampilan Harry Roesli merangkai lirik pun telah terurai jelas jika menyimak album ini.Misalnya,bagaimana Harry Roesli bermetaphora tentang Indonesia lewat idiom “Peacock Dog”.

Apakah Peacock Dog ? “Indonesia tuh kayak peacock dog.Separuh merak,separuh anjing” tutur Harry Roesli dengan aura satir yang kuat.Mari kita simak lirik lagu yang pertamakali dinyanyikannya dalam pesta musik terbesar “Summer ’28” (Suasana Meriah Menjelang Kemerdeka RI ke 28) yang berlangsung di Ragunan,Pasra Minggu pada 16 Agustus-17 Agustus 1973 :

Sexy country where are you ? Come or run ?

But I saw your steps deep underground

That is why I know your direction,I follow you

Look those leaves are falling from that yellow trees

But the peacock dog will make it clean.Could it ?

That is why I know your fantasy right here

Peacock dog where are you ,peacock dog where are you ?

Siapa yang menyangka jika lagu yang dikemas dalam warna funky ini memiliki nafas kritik yang tajam ?.

Sensitivitas Harry Roesli sebagai seniman memang setajam pisau.Harry merasa rakyat,sebagai wong cilik,merupakan makhluk tiada daya sama sekali.Namun,Harry beranggapan bahwa jangan anggap remeh rakyat kecil.bagi Harry,rakyat kecil memang tak lebih dari seekor nyamuk,yang sekali tebas langsung mati terkapar.Namun nyamuk itu adalah malaria,yang mampu mernyebar virus mematikan dalam arti sebenarnya.Ah kang harry memang terampil bertamsil kata.Dia piawai berfilosofi.Ini lirik lagu “Malaria” :

Seprei tempat tidurmu putih itu tandanya kau bersedih

Mengapa tidak kau tiduri,kau hanya terus menangis

Apakah kau seekor monyet yang hanya dapat bergaya

Kosong sudah hidup ini,bila kau hanya bicara

Guling bantalmu akan bertanya,apa yang kaupikirkan nona ?

Kau hanya bawa airmata dan ketawa yang kau paksa

Lantai kamarmu kan berkata,mengapa nona pengecut ?

Lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria……….

Piringan Hitam "Philosophy Gang" Harry Roesli (1973)

Berbatik….Sebuah Nasionalisme ?

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Saya masih ingat kata almarhum Nenek saya.Kata katanyanya pun masih terngiang ngiang hingga sekarang : “Sesuatu akan punya nilai setelah sesuatu itu hilang dari tangan kita ?”.

Dulu saya,waktu kecil,jelas gak ngerti.Namun setelahnya,barulah saya faham,bahwa sesuatu yang berharga,milik kita,apa saja,di saat masih ada,masih dalam genggaman kita ,baru terasa memilili arti atawa mempunya makna setelah sesuatu itu raib atau hilang.Padahal saat sesuatu itu masih ada di depan mata,atau masih dalam genggaman kita.Kita seolah tak perduli,dicuekin dan seterusnya”.

Nasionalisme kita pun seolah bangkit.Kita lalu beringas,ingin memanggul senjata,menawarkan perang.Ketika tetangga kita,yang katanya serumpun itu,mulai mengklaim satu persatu,harta budaya milik kita,mulai dari lagu,tarian hingga Batik !.

Sebuah pemandangan yang mengharukan,heboh,seru,meriah terlihat kemaren Jumat 2 Oktober 2009 silam  disaat hampir sebagian orang mengenakan busana batik dalam berbagai motif dan corak.Dan tanggal 2 Oktober pun dicanangkan sebagai Hari Batik……!!!!!!

Sebuah nasionalisme memang kerap bangkit setelah munculnya peristiwa.Moga moga ini bukan sebuah nasionalisme yang dangkal.Itu saja.MERDEKAAAAAAA !!!!!

Klinik Jazz JGTC 2010 di FX Plasa

Wow ! Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa penyelenggaraan ajang “Jazz Goes To Campus” yang tiap tahun digelar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia telah memasuki usia yang ke 34.

Betapa tidak,sekelompok mahasiswa yang tujuan utamanya adalah menimba ilmu di kampus,toh masih bisa membagi konsentrasi dengan mengadakan sebuah kegiatan ekstra kulikuler yang tak gampang : mengadakan festival jazz.Dalam budaya pop,genre musik jazz memang agak sulit menembus selera massal.Dengan kompleksitas struktural musiknya yang cenderung eklektikal,jazz memang butuh tahap tertentu untuk memahaminya secara general.Setidaknya parameter inilah yang mungkin membuat jazz agak tersendat sendat dalam pola marketingnya.Dalam industri musik yang berkembang di Indonesia,jazz mungkin berada pada urutan kesekian dibanding jenis music lainnya yang lebih poppish dan populis.  Dengan setumpuk realita semacam itu,wajarlah jika kita mengangkat topi setinggi tingginya untuk civitas akademika Universitas Indonesia ini yang secara estafet dari generasi ke generasi untuk tetap memancangkan agenda jazz di pelataran kampus.Jelas ini merupakan sebuah stamina yang seolah tiada henti.Terus bergulir dan bergulir.Jazz Goes To Campus seolah sebuah kurikulum tak resmi yang menghias tembok kampus Univesitas Indonesia.Walaupun digagas oleh Fakultas Ekonomi,namun festival jazz ini  pada akhirnya memang menjadi milik kampus Universitas Indonesia.

Mari kita bentang lembar sejarah acara jazz yang bermuara di kampus ini.      Jazz Goes To Campus digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1978.Di kampus saat itu memang tengah diberlakukan NKK atau Normalisasi Kehidupan Kampus.Kegiatan yang mengarah ke politik praktis memang dibekukan di kampus.Akhirnya,mahasiswa mengambil alternatif lain,satu diantaranya adalah menggemakan kegiatan seni.Pilihan yang paling simpel adalah musik.

Saat itu Candra Darusman dan rekan yang tengah terbuai jazz berupaya mewujudkan obsesi memainkan musik jazz di suasana kampus.Di era itu musik jazz memang mendapat sedikit celah dalam industri musik pop.Walaupun celah itu tak menganga begitu besar,namun memberi sedikit nuansa dalam industri  musik pop Indonesia.

Beberapa album jazzy atau kerap diistilahkan sebagai pop jazz mulai terpampang di etalase music negeri ini.Jack Lesmana adalah sosok seniman jazz yang mulai menularkan benih-benihnya antara lain dengan merilis album “Api Asmara” yang dinyanyikan Rien Djamain pada tahun 1975.Ternyata upaya Jack Lesmana menuai sukses.Saat itu beberapa label rekaman mulai mengikuti jejak yang dirintis Hidayat Record,mulai dari Pramaqua,Atlantic Record hingga ke label raksasa seperti Remaco atau Purnama pun mulai memberanikan diri merilis album berlabel pop jazz atau jazzy.Seiring dengan terbukanya sedikit celah dalam industri musik untuk music jazz,bermunculan pula generasi baru jazz Indonesia seperti Elfa Secioria,Indra Lesmana hingga Candra Darusman.Sosok yang disebut terakhir malah menggelembungkan euphoria jazz di kampusnya sendiri, Fakultas Ekonomi UI di Salemba.Candra Darusman dan kawan kawan memang tak bermuluk-muluk.Mereka hanya ingin mementaskan jazz di kampus.Dengan perangkat yang serba seadanya,mereka mulai menggelar jazz.Kegiatan ini ternyata men jadi sebuah kegiatan estafet yang terus dilakukan mahasiswa Ekonomi UI ini dari tahun ke tahun.

Pada awalnya, Jazz Goes To Campus  dilangsungkan di sebuah Taman 02 Kampus FEUI Salemba, Jakarta, dengan fasilitas seadanya.]Namun saat sekarang ini, Jazz Goes To Campus   diadakan di pelataran parkir kampus FEUI Depok—seiring dengan kepindahan FE ke sana—dengan dua panggung seluas 12x9x10m dan dukungan listrik 200.000 volt.Ini adalah sebuah perkembangan yang menarik

Sejak Jazz Goes To Campus  ke-32 yang diadakan tahun 2009, panitia menyelenggarakan roadshow sebagai bagian dari rangkaian acara. Roadshow menampilkan artis-artis jazz dan diselenggarakan di luar kampus UI, Depok.

Selama bertahun-tahun, JGTC telah berkembang menjadi salah satu festival kampus yang paling dinanti dengan jumlah pengunjung di tahun 2006  lalu mencapai jumlah sekitar  20.000 penonton.

Jazz Goes To Campus bahkan dianggap sebaya dengan Festival Jazz Internasional tertua North Sea Jazz Festival yang berlangsung setiap tahun di Belanda.Para mahasiswa Ekonomi ini tampaknya memiliki konsistensi yang kukuh,disamping stamina yang luar biasa itu.Ketika sebuah ajang jazz bertaraf internasional dan dikelola secara professional JakJazz Festival sempat mati suri selama beberapa tahun,toh Jazz Goes To Campus tetap berkibar.

Memang tak sedikit yang mengkritik bahwa Jazz Goes To Campus hanyalah sebuah ajang tahunan yang terpaksa dipertahankan karena dianggap hanya mempertahabnkan sebuah ikon yang telah tercipta di balik tembok kampus UI.Tapi rasanya alangkah tak bijaksana kritikan tersebut,karena menurut saya ajang Jazz Goes To Campus ini memang merupakan semacam ajang penggodokan bagi para mahasiswa yang sesungguhnya tengah menuntut ilmu di kampus.Jazz Goes To Campus bisa jadi adalah kawah candradimuka bagi para mahasiswa yang dampaknya juga terasa bagi industri music di Indonesia,setidaknya untuk tetap menjaga keajegan konstelasi musik jazz itu sendiri.

Kritik lain yang mencuat bahwa ajang ini hanya sebatas hura-hura yang tidak memiliki gaung bagi musik jazz Indonesia.Bergerombolnya penonton di kampus Depok hanyalah sebuah arena hang out demi peningkatan status sosial bel;aka. Saya pun merasa tudingan ini jelas tidak arif.  Meskipun sejujurnya hal-hal semacam itu memang terpampang jelas di depan mata kita saat berbaur dalam perhelatan tahunan itu. Banyak penonton yang memilih untuk berbincang-bincang ketimbang menikmati komposisi jazz yang memiliki tingkat apresiasi yang relatif tinggi. Namun di sisi lainnya,toh kepanitiaan temporer Jazz Goes To Campus tetap berupaya melakukan hal hal terpuji,semisal mengandakan Klinik Jazz yang menghadirkan beberapa pemusik jazz secara tutorial maupun awardingterhadap orang orang yang berjasa dalam mengembangkan dan mempertahankan jazz di Indonesia. Stamina mereka ,para mahasiswa ini, jelas merupakan sumbu yang menjadi penghantar membaranya api jazz di negeri ini.Walaupun api jazz di negeri ini tak sebesar api jenis musik lainnya,namun toh jazz tetap menyala dan bersinar.Rasanya saying jika api itu padam.

Roadshow Jazz Goes To CampusKlinik Jazz JGTC 2010 di FX Plasa Jakarta

Panitia Jazz Goes To Campus bersama Benny Likumahuwa & Aksan