Arsip untuk September, 2010

Wow……alangkah terkejutnya ketika saya ngintip di e-Bay hari ini 8 Desember 2008 .Disitu tertera piringan hitam SAS Group rilis ARCO tahun 1983 bertajuk “Sansekerta” dibid pada harga $ 100,00.Wow…….gilaaa ?

Tapi bangganya juga produk rockers Indonesia dihargai sedemikian tinggi.Beberapa bule sohib saya antara lain Gianlorenzo Giovannozzi dari Italia sampai ngontak saya menanyakan apakah harga tersebut “make sense” ?……..Apakah karena barangnya sudah punah,atau karena nilai musiknya memang setinggi itu ?

Namun yang lebih miris dan memprihatinkan bahwa lama kelamaan rekaman-rekaman musik Indonesia kita yang memang sudah langka terancam punah tanpa bekas jika selalu didagangkan di jaringan e-Bay ini.

Mari kita bolak balik kembali lembaran musik masa lalu.Kita coba balik ke tahun 1982.Ada sebuah event kompetisi musik Internasional yang digagas Yamaha Music Foundation Jepang yaitu “World Popular Song Festival in Tokyo 1982”.

Di ajang ini nama Indonesia harum semerbak bak kesturi.Dalam deretan penerima award ada nama peserta Indonesia : Lagu “Lady” karya cipta Dr.Anton Issoedibyo yang dinyanyikan oleh Harvey Malaihollo dan Geronimo Singers  memperoleh “Kawakami Specials Award”.

Sudah pasti ini merupakan hal yang sangat membanggakan bukan hanya bagi insan musik Indonesia,tapi milik seluruh rakyat Indonesia.Dan kalau kita melihat deretan peserta finalisnya ,disitu ada nama Celine Dion,yang kini telah menjadi bintang nyanyi dunia.Celine Dion mewakili Prancis lewat lagu bertajuk “Tellement J’Ai D’Amour Pour Toi” yang berbahasa Prancis.

Inilah urutan lengkap finalis  WPSF 1982 dalam kaset yang dirilis Aquarius pada tahun 1982 :

1.Lady – Indonesia  (Harvey Malaiholo & Geronimo Singers) winner of Kawakami Specials Award

2.Just Once To Be Free – USA (Taffy McElroy)

3.Tellement J’ai D’Amour Pur Toi – France (Celine Dion) winner of Outstanding Song Award

4.Sad Dancer – Japan (Mio Honda) winner of Outstanding Song Award

5.Promise Me Tonight – Taiwan (Sarah Chen)

6.Where Did We Go Wrong -USA (Anne Bertucci) Grand Prix Winner For Non Japan

7.Esename A Querer – Mexico (Yoshio) winner of Most Outstanding Oerformance & Best Song Award

8.Of All My Love Song – Israel (Ronen Bahunker) winner of oustnading Song Award

9.Flower Thief – Japan (Asuka) Grand Prix Winner For Japan

10.Holiday In Mexico – New Zealand (John Rowles) winner of Outstanding Song Award

Kaset World Popular Songs Festival Tokyo 1982

Kelompok The Rollies asal Parijs van Java Bandung merekam albumnya untuk pertamakali di perusahaan rekaman Pop Sound Phillips pada tahun 1969.

The Rollies yang saat itu didukung oleh almarhum Iwan Kresnawan,almarhum Dedie Sutansyah,almarhum Delly Djoko Alipin,almarhum Bagun Sugito dan Benny Likumahuwa dan TZ Iskandar, langsung merilis 2 buah album sekaligus.

Yaitu “Halo Bandung” yang berisikan lagu-lagu instrumental keroncong seperti “Arjati”,”Bandar Djakarta”,”Sansaro”,”Selajang Pandang”
hingga “Puteri Solo”.Band seperti The Steps dan The Peels jugan menghasilkan album bernuansa keroncong modern.

Album lainnya adalah album yang berisikan sederet hits mancanegara seperti “Sunny”,”Gone Are The Songs Of Yesterday”,”Kansas City”,”I Feel Good”,”Cold Sweat”,”It’s A Man’s Man’s Man’s World” ,”You Keep Me Hangin’ On”,”No Sad Song For Me”  dan banyak lagi.

Menariknya,The Rollies tak membawakannya sesuai dengan versi orisinalnya.”Kami selalu mengarransemen ulang” jelas Benny Likumahuwa yang bertindak sebagai music director the Rollies.Lagu “Gone Are The Songs Of Yesterday” dianggap lebih berkarakter disbanding versi orisinalnya yang dilantunkan kelompok Love Affair.Bahkan tak sedikit yang menyangka lagu bernuansa mellow itu sebagai karya The Rollies.Lagu ini kelak menjadi trade mark the Rollies dalam berbagai pentas pertunjukan.

Debut album The Rollies


Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! Pada opening credit “ShineA Light” seperti yang dilakukannya pada rockumentarynya di tahun 1976 “The Last Waltz” tentang konser perpisahan grup rock The Band.Karena aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua.

Saya yang telah nonton “Shine A Light” dalam bentuk DVD toh merasa tak afdol jika tak menonton langsung dalam bioskop.Kebetulan Jiffest 2009 menyertakan “Shine A Light” dalam salah satu film yang diputar.Sudah pasti,kesempatan ini tak saya sia-siakan.

Apalagi “ShineA Light” agak berbeda dengan rockumentary The Rolling Stones lainnya seperti “Gimme Shelter” (1970) yang dibesut Albert Maysles,David Maysles dan Charlotte Mitchell Zwerin maupun “Symphaty For The Devil” (1968) yang digarap Jean Luc Goddard.

Dimana letak perbedaannya ?.Seorang teman dengan nada pesimis malah mengatakan bahwa “Shine A Light” adalah sebuah film konser biasa.Jelas argumen ini saya tampik.Karena setelah menonton “ShineA Light” kita pun mahfum bahwa Martin Scorsese yang maniak dengan karya karya the Rolling Stones justeru tengah ingin menempatkan The Stones pada bingkai yang lain.Bukan lagi sebagai band rock and roll berlumur pernak-pernik kontroversi.Bukan lagi mencitrakan sosok bad boys .Melainkan sebuah band dalam bingkai yang lebih manusiawi,yang dicintai seisi rumah.Sebuah band keluarga.

Menyelusupnya keluarga Bill Clinton di balik panggung sebelum konser memperlihatkan hal ini.Terlihat Bill Clinton bersama Hillary isterinya dan Chelsea puterinya bersilaturahmi dengan TheStones.Juga ibunda Clinton.Sebuah adegan yang tak mungkin ditemui pada “Gimme Shelter” yang justeru memfokuskan pada peristiwa berdarah terbunuhnya seorang remaja ditengah kerumunan penonton ditangan Hell’s Angel,kelompok biker yang selalu hadir dalam setiap konser The Stones.

Walaupun konser TheStones dibuka oleh Bill Clinton,tapi di film ini tak ada susupan pernak pernik politik seperti yang terlihat pada film “Symphaty For TheDevil” nya Jean Luc Goddard yang menyelusupkan issue politik seperti blackpower,Marxisme hingga rasisme.

“Shine A Light” lebih ingin merekam energi sebuah band yang tak pernah padam,walau pun usia pendukungnya telah memasuki senjakala.Tak ada sedikitpun petikan wawancara tentang misteri meninggalnya gitaris Brian Jones,misalnya.Bahkan lirik lagu “Some Girls” yang pernah menuai protes antara lain dari Jesse Jackson di tahun 1978 pun telah dijinakkan.Mick Jagger tak lagi menyenandungkan : Black girls just just wanna fucked up all night.Semua telah disterilkan.Scorsese ingin memanusiawikan The Rolling Stones yang terlanjur dicap biang rusuh,sarat kontroversi dan semacamnya.Rocker juga manusia, mungkin itulah yang ingin diungkap Marty bersama sinematografer peraih Oscar Robert Ricahrdson beserta the A –Team Andrew Lesnie,Albert Maysles,Ellen Kurass,John Toll,Robert Elswhit,Declan Quinn,Stuart Dryburgh dan Emmanuel Lubezki dengan crane yang melayang di atas kepala penonton mengikuti gerak Mick Jagger dan kawan kawan di Beacon Theater New York yang ditonton sekitar 2.5000 penonton pada tanggal 29 Oktober dan 1 November 2006 silam. Keith Richard dengan dandanan khas bak perompak pun bercanda :”Hey Clinton,I’m bushed !”.

Dalam production notes Marty menulis :” “We did talk about making an official tour film but at a certain point, I thought making something more intimate would be more suited to me as a filmmaker and would also facilitate a more personal connection between the audience and the band”.

Di awal film terlihat betapa alotnya diskusi antara Martin Scorsese dan The Rolling Stones terutama Mick Jagger,mulai dari set panggung,penempatan tata cahaya hingga setlist (susunan lagu) yang akan dibawakan TheRolling Stones.Marty yang menggemari the Rolling Stones sangat care terhadap setlist The Stones,untuk rundown script.Marty sangat paham mengenai struktur lagu-lagu The Stones.”Biasanya Keith membuka dengan strumming gitar” ungkap Marty pada crew-nya.Marty sendiri menyusun setlist yang diusulkannya pada Rolling Stones.Rolling Stones pun telah mengirimkan setlist yang dibagi dalam kategori : well-known dan medium known.

Tapi sampai pada hari H,setlist yang permanent belum juga diberikan Mick ke Marty yang sudah uring-uringan.30 detik sebelum konser dibuka,barulah setlist sampai di tangan Marty.Akhirnya konser pun direkam tanpa skrip sama sekali.Tapi toh,kita tetap melihat sinkronisasi yang bagus antara lighting dan Mick Jagger yang tengah melantunkan “Symphaty For The Devil”.Luar biasa.Saat Jagger mengangkat kedua belah tangannya,secara simultan lighting pun ikut berpijar terang.

Pengambilan angle gambar pun sangat detil.Kolaborasi antara Marty dan editorDavidTedeschi patut dipuji. Lihatlah saat bintang tamu gitaris Buddy Guy melakukan slide gitar,kamera pun dengan sigap berpindah ke jari jemari Guy.Sebuah editing yang memukau.Ini bisa terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari seorang Martin Scorsese terhadap The Rolling Stones.Dalam beberapa film-film garapannya,memang senantiasa hadir lagu-lagu The Rolling Stones dalam soundtracknya.

TheRolling Stones memang salah satu dari keajaiban musik rock.Mick Jagger tetap lincah bergerak dari sisi panggung ke sisi lainnya tanpa lelah.Keith walau dengan petikan gitar yang terkadang sumbang tetap memancarkan keunikan.Dan kamera pun merekam CharlieWatts yang terengah engah usai menampilkan “Shattered”.Ron Wood tak pernah lepas dengan isapan rokoknya.

Tubuh keempat The Stones tak berubah.Tak satupun yang berubah tambun.Yang berubah mungkin kerut muka.Rambut Watts telah memutih.Richards pun selalu mengenakan bandana untuk menutup rambutnya yang luruh.

Marty pun menyelipkan petikan interview dari Jagger,Richrds,Wood dan Watts dari era 60-an hingga 70-an.Sebuah upaya melekatkan history dalam konser The Stones.Meskipun sangat disayangkan,sama sekali tak ada petikan wawancara terhadap personil The Stones di masa lalu seperti Brian Jones,Bill Wyman atau Mick Taylor.

Quote wawancara yang dipilih Marty memang memberikan aksentuasi dalam “ShineA Light”.Ketika Jagger ditanya tentang apa yang dilakukannya pada saat berusia 60 tahun.Jagger pun menjawab dengan enteng : “Easily…..!”

Dalam “ShineA Light” The Rolling Stones menjadi tak jelas asal usul negaranya.Mereka tak tampak lagi sebagai band Inggeris yang sempat membuat band band Amerika resah saat “British Invasion” pada dasawarsa 60-an.Bersama bintang tamu seperti Jack White III dari The White Stripes dengan suara nassalnya,Buddy Guy dengan ruh blues yang menjadi inspirasi utama musik The Stones hingga Christina Aguleira yang terampil menafsirkan R&B saat berduet dengan Mick Jagger membawakan “Live With Me”.Keduanya pun berangkul mesra,walau terlihat seperti pelukan antara ayah dan puterinya.

Dalam konser yang menjadi bagian tur album terakhirnya “Big Banger”,diluar dugaan The Stones mmbawakan lagu yang jarang mereka tampilkan di pentas seperti “Far Away Eyes” dengan gaya country.Ronnie Wood memainkan steel guitar disini.Mungkin karena bermain di New York,di film ini The Rolling Stones banyak memainkan lagu dari album “Some Girls” (1978) seperti “Just My Imagination”,”Shattered”,”Far Away Eyes” dan “Some Girls”.”Album “Some Girls” ini memang banyak menyerap kota New York sebagai inspirasi saat merekamnya pada tahun 1977” ujar Mick Jagger.

Selama durasi 2 jam lewat “Shine A Light”,Martin Scorsese seolah melengkapi atribut The Rolling Stones sebagai “The World’s Greatest Rock and Roll Band”.Film ini pun menambah geliman sinar kegemilangann band asal Inggeris itu. Sebuah evolusi dari grup rock raksasa yang pantas ditonton.

Denny Sakrie *

Martin Scorsese dan Mick Jagger

* penulis adalah pengamat musik dan penikmat film

(Tulisan ini dimuat di www.rumahfilm.org)

Harry Roesli dan Negeri Peacock Dog

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Ini adalah album perdana Gang of Harry Roesli bertajuk “Philosophy Gang” yang dirilis oleh Lion Record Singapore pada tahun 1973.

Album ini direkam di Musica Studio’s Jalan Perdatam,Pasar Minggu Jakarta Selatan,lalu diremix di studio Lion Record Singapore.

Beruntung,Harry Roesli bersua dengan Robert Wong Jr,pemilik Lion Record sekaligus Lion Magazine yang tertarik untuk merilis album ini dalam bentuk LP (longplay) yang berisikan 7 lagu yaitu “Peacock Dog“,”Roda Angin” dan “Don’t Talk About Freedom” di muka A serta “Borobudur”,”Imagine” (Blind),”Malaria” dan “Roses” di muka B.

Semua lagu ditulis oleh Harry Roesli,kecuali 2 lagu yaitu “Roses” dan “Don’t Talk About Freedom” yang ditulis oleh Albert Warnerin.Lagu “Imagine” (Blind) ditulis oleh Choqiue Hutagalung keybordis yang kemudian berkarir musik di Jerman, bersama Harry Roesli.

Gang of Harry Roesli terdiri atas Harry Roesli (vokal,bass,gitar,perkusi),Albert Warnerin (gitar,vokal),Janto Soedjono (drums,perkusi),Indra Rivai (keyboards),Harry Pochang (harmonika,vokal) dan Dadang Latief (gitar).

Harry Roesli tampak  menggabungkan berbagai kecenderungan  musik.Ada rock,funk,folk ,blues dan R&B serta jazz(y).Harry tampaknya tak ingin terkotak dalam satu genre musik.Dia ingin bebas memainkan apa yang disukainya.Beruntung,Harry didukung oleh pemusik yang paham kemauannya seperti Albert Warnerin yang memiliki sebntuhan progresif dalam pola permainan gitarnya .Harry Pochang dengan permainan harmonikanya yang bluesy malah mengingatkan kita pada gaya permaianan harmonika Lee Sklar dari kelompok War.Dan Indra Rivai,yang saat itu juga tergabung sebagai pemain keyboard Bimbo,memberikan kontribusi yang padan melalui keybioards hingga mini Moog synthesizers.

Keterampilan Harry Roesli merangkai lirik pun telah terurai jelas jika menyimak album ini.Misalnya,bagaimana Harry Roesli bermetaphora tentang Indonesia lewat idiom “Peacock Dog”.

Apakah Peacock Dog ? “Indonesia tuh kayak peacock dog.Separuh merak,separuh anjing” tutur Harry Roesli dengan aura satir yang kuat.Mari kita simak lirik lagu yang pertamakali dinyanyikannya dalam pesta musik terbesar “Summer ’28” (Suasana Meriah Menjelang Kemerdeka RI ke 28) yang berlangsung di Ragunan,Pasra Minggu pada 16 Agustus-17 Agustus 1973 :

Sexy country where are you ? Come or run ?

But I saw your steps deep underground

That is why I know your direction,I follow you

Look those leaves are falling from that yellow trees

But the peacock dog will make it clean.Could it ?

That is why I know your fantasy right here

Peacock dog where are you ,peacock dog where are you ?

Siapa yang menyangka jika lagu yang dikemas dalam warna funky ini memiliki nafas kritik yang tajam ?.

Sensitivitas Harry Roesli sebagai seniman memang setajam pisau.Harry merasa rakyat,sebagai wong cilik,merupakan makhluk tiada daya sama sekali.Namun,Harry beranggapan bahwa jangan anggap remeh rakyat kecil.bagi Harry,rakyat kecil memang tak lebih dari seekor nyamuk,yang sekali tebas langsung mati terkapar.Namun nyamuk itu adalah malaria,yang mampu mernyebar virus mematikan dalam arti sebenarnya.Ah kang harry memang terampil bertamsil kata.Dia piawai berfilosofi.Ini lirik lagu “Malaria” :

Seprei tempat tidurmu putih itu tandanya kau bersedih

Mengapa tidak kau tiduri,kau hanya terus menangis

Apakah kau seekor monyet yang hanya dapat bergaya

Kosong sudah hidup ini,bila kau hanya bicara

Guling bantalmu akan bertanya,apa yang kaupikirkan nona ?

Kau hanya bawa airmata dan ketawa yang kau paksa

Lantai kamarmu kan berkata,mengapa nona pengecut ?

Lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria……….

Piringan Hitam "Philosophy Gang" Harry Roesli (1973)

Berbatik….Sebuah Nasionalisme ?

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Saya masih ingat kata almarhum Nenek saya.Kata katanyanya pun masih terngiang ngiang hingga sekarang : “Sesuatu akan punya nilai setelah sesuatu itu hilang dari tangan kita ?”.

Dulu saya,waktu kecil,jelas gak ngerti.Namun setelahnya,barulah saya faham,bahwa sesuatu yang berharga,milik kita,apa saja,di saat masih ada,masih dalam genggaman kita ,baru terasa memilili arti atawa mempunya makna setelah sesuatu itu raib atau hilang.Padahal saat sesuatu itu masih ada di depan mata,atau masih dalam genggaman kita.Kita seolah tak perduli,dicuekin dan seterusnya”.

Nasionalisme kita pun seolah bangkit.Kita lalu beringas,ingin memanggul senjata,menawarkan perang.Ketika tetangga kita,yang katanya serumpun itu,mulai mengklaim satu persatu,harta budaya milik kita,mulai dari lagu,tarian hingga Batik !.

Sebuah pemandangan yang mengharukan,heboh,seru,meriah terlihat kemaren Jumat 2 Oktober 2009 silam  disaat hampir sebagian orang mengenakan busana batik dalam berbagai motif dan corak.Dan tanggal 2 Oktober pun dicanangkan sebagai Hari Batik……!!!!!!

Sebuah nasionalisme memang kerap bangkit setelah munculnya peristiwa.Moga moga ini bukan sebuah nasionalisme yang dangkal.Itu saja.MERDEKAAAAAAA !!!!!

Klinik Jazz JGTC 2010 di FX Plasa

Wow ! Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa penyelenggaraan ajang “Jazz Goes To Campus” yang tiap tahun digelar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia telah memasuki usia yang ke 34.

Betapa tidak,sekelompok mahasiswa yang tujuan utamanya adalah menimba ilmu di kampus,toh masih bisa membagi konsentrasi dengan mengadakan sebuah kegiatan ekstra kulikuler yang tak gampang : mengadakan festival jazz.Dalam budaya pop,genre musik jazz memang agak sulit menembus selera massal.Dengan kompleksitas struktural musiknya yang cenderung eklektikal,jazz memang butuh tahap tertentu untuk memahaminya secara general.Setidaknya parameter inilah yang mungkin membuat jazz agak tersendat sendat dalam pola marketingnya.Dalam industri musik yang berkembang di Indonesia,jazz mungkin berada pada urutan kesekian dibanding jenis music lainnya yang lebih poppish dan populis.  Dengan setumpuk realita semacam itu,wajarlah jika kita mengangkat topi setinggi tingginya untuk civitas akademika Universitas Indonesia ini yang secara estafet dari generasi ke generasi untuk tetap memancangkan agenda jazz di pelataran kampus.Jelas ini merupakan sebuah stamina yang seolah tiada henti.Terus bergulir dan bergulir.Jazz Goes To Campus seolah sebuah kurikulum tak resmi yang menghias tembok kampus Univesitas Indonesia.Walaupun digagas oleh Fakultas Ekonomi,namun festival jazz ini  pada akhirnya memang menjadi milik kampus Universitas Indonesia.

Mari kita bentang lembar sejarah acara jazz yang bermuara di kampus ini.      Jazz Goes To Campus digagas oleh Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1978.Di kampus saat itu memang tengah diberlakukan NKK atau Normalisasi Kehidupan Kampus.Kegiatan yang mengarah ke politik praktis memang dibekukan di kampus.Akhirnya,mahasiswa mengambil alternatif lain,satu diantaranya adalah menggemakan kegiatan seni.Pilihan yang paling simpel adalah musik.

Saat itu Candra Darusman dan rekan yang tengah terbuai jazz berupaya mewujudkan obsesi memainkan musik jazz di suasana kampus.Di era itu musik jazz memang mendapat sedikit celah dalam industri musik pop.Walaupun celah itu tak menganga begitu besar,namun memberi sedikit nuansa dalam industri  musik pop Indonesia.

Beberapa album jazzy atau kerap diistilahkan sebagai pop jazz mulai terpampang di etalase music negeri ini.Jack Lesmana adalah sosok seniman jazz yang mulai menularkan benih-benihnya antara lain dengan merilis album “Api Asmara” yang dinyanyikan Rien Djamain pada tahun 1975.Ternyata upaya Jack Lesmana menuai sukses.Saat itu beberapa label rekaman mulai mengikuti jejak yang dirintis Hidayat Record,mulai dari Pramaqua,Atlantic Record hingga ke label raksasa seperti Remaco atau Purnama pun mulai memberanikan diri merilis album berlabel pop jazz atau jazzy.Seiring dengan terbukanya sedikit celah dalam industri musik untuk music jazz,bermunculan pula generasi baru jazz Indonesia seperti Elfa Secioria,Indra Lesmana hingga Candra Darusman.Sosok yang disebut terakhir malah menggelembungkan euphoria jazz di kampusnya sendiri, Fakultas Ekonomi UI di Salemba.Candra Darusman dan kawan kawan memang tak bermuluk-muluk.Mereka hanya ingin mementaskan jazz di kampus.Dengan perangkat yang serba seadanya,mereka mulai menggelar jazz.Kegiatan ini ternyata men jadi sebuah kegiatan estafet yang terus dilakukan mahasiswa Ekonomi UI ini dari tahun ke tahun.

Pada awalnya, Jazz Goes To Campus  dilangsungkan di sebuah Taman 02 Kampus FEUI Salemba, Jakarta, dengan fasilitas seadanya.]Namun saat sekarang ini, Jazz Goes To Campus   diadakan di pelataran parkir kampus FEUI Depok—seiring dengan kepindahan FE ke sana—dengan dua panggung seluas 12x9x10m dan dukungan listrik 200.000 volt.Ini adalah sebuah perkembangan yang menarik

Sejak Jazz Goes To Campus  ke-32 yang diadakan tahun 2009, panitia menyelenggarakan roadshow sebagai bagian dari rangkaian acara. Roadshow menampilkan artis-artis jazz dan diselenggarakan di luar kampus UI, Depok.

Selama bertahun-tahun, JGTC telah berkembang menjadi salah satu festival kampus yang paling dinanti dengan jumlah pengunjung di tahun 2006  lalu mencapai jumlah sekitar  20.000 penonton.

Jazz Goes To Campus bahkan dianggap sebaya dengan Festival Jazz Internasional tertua North Sea Jazz Festival yang berlangsung setiap tahun di Belanda.Para mahasiswa Ekonomi ini tampaknya memiliki konsistensi yang kukuh,disamping stamina yang luar biasa itu.Ketika sebuah ajang jazz bertaraf internasional dan dikelola secara professional JakJazz Festival sempat mati suri selama beberapa tahun,toh Jazz Goes To Campus tetap berkibar.

Memang tak sedikit yang mengkritik bahwa Jazz Goes To Campus hanyalah sebuah ajang tahunan yang terpaksa dipertahankan karena dianggap hanya mempertahabnkan sebuah ikon yang telah tercipta di balik tembok kampus UI.Tapi rasanya alangkah tak bijaksana kritikan tersebut,karena menurut saya ajang Jazz Goes To Campus ini memang merupakan semacam ajang penggodokan bagi para mahasiswa yang sesungguhnya tengah menuntut ilmu di kampus.Jazz Goes To Campus bisa jadi adalah kawah candradimuka bagi para mahasiswa yang dampaknya juga terasa bagi industri music di Indonesia,setidaknya untuk tetap menjaga keajegan konstelasi musik jazz itu sendiri.

Kritik lain yang mencuat bahwa ajang ini hanya sebatas hura-hura yang tidak memiliki gaung bagi musik jazz Indonesia.Bergerombolnya penonton di kampus Depok hanyalah sebuah arena hang out demi peningkatan status sosial bel;aka. Saya pun merasa tudingan ini jelas tidak arif.  Meskipun sejujurnya hal-hal semacam itu memang terpampang jelas di depan mata kita saat berbaur dalam perhelatan tahunan itu. Banyak penonton yang memilih untuk berbincang-bincang ketimbang menikmati komposisi jazz yang memiliki tingkat apresiasi yang relatif tinggi. Namun di sisi lainnya,toh kepanitiaan temporer Jazz Goes To Campus tetap berupaya melakukan hal hal terpuji,semisal mengandakan Klinik Jazz yang menghadirkan beberapa pemusik jazz secara tutorial maupun awardingterhadap orang orang yang berjasa dalam mengembangkan dan mempertahankan jazz di Indonesia. Stamina mereka ,para mahasiswa ini, jelas merupakan sumbu yang menjadi penghantar membaranya api jazz di negeri ini.Walaupun api jazz di negeri ini tak sebesar api jenis musik lainnya,namun toh jazz tetap menyala dan bersinar.Rasanya saying jika api itu padam.

Roadshow Jazz Goes To CampusKlinik Jazz JGTC 2010 di FX Plasa Jakarta

Panitia Jazz Goes To Campus bersama Benny Likumahuwa & Aksan

Yon Koeswoyo,hari ini, 70 tahun !

Posted: September 27, 2010 in Uncategorized

Inilah orang musik yang sesungguhnya ! Koesjono Koeswojo atau lebih dikenal dengan Yon Koeswoyo. Hari ini senin 27 September 2010 siapa yang akan  menyangka jika Yon yang menjadi vokalis utama kelompok legendaris Koes Plus/Koes Bersaudara genap berusia 70 tahun. Tak terlihat ketuaan dalam sosoknya yang periang dan meledak-ledak.

Suaranya masih lantang jika mendentam musik di atas panggung,dengan aksen Jawa ,tetap melantunkan lagu lagu Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Sekitar 2 tahun lalu tepatnya tTanggal 21 Agustus 2008  saya berkesempatan ngobrol panjang dengan Yon Koeswoyo yang saat itu bersama Koes Plus (ada yang bilang Plus Koes,karena tinggal Yon Koeswoyo yang memperpanjang usia grup yang terbentuk tahun 1968 ini) akan manggung di halaman majalah Rolling Stone Indonesia Jalan Ampera Raya 16.Koes Plus adalah salah satu band yang diundang Glen Fredly untuk tampil dalam acara “Road To Earth Fest 2008” yang menampilkan band band legendaris Koes Plus dan The Rollies serta band band masa kini seperti Efek Rumah Kaca hingga Zeke & The Popo.

 “Kenapa anda tetap awet muda” tanya saya.”Ah……hidup jangan ngotot.Biarlah mengalir.Persoalan atau problema boleh ada tapi kita tak mesti membiarkannya berlarut-larut.Dan tetap bermain musik” kata Yon berapi-api,didampingi isterinya Bonita.

Dan,Yon Koeswoyo telah  lebih dari 40 tahun terjun dalam industri hiburan di negeri ini.Dari zaman Bung Karno yang menjebloskan dia dan saudara-saudaranya ke dalam sel penjara,menikmati kejayaan pada tahun 70-an saat Koes Plus dianggap raja musik pop Indonesia,masa Koes Plus kehilangan pamor di awal 80-an.Semua dirasakan Yon Koeswoyo bersama Koes Plus yang setia dalam pelukannya.Ketika Yok Koeswoyo adiknya dan Murry memutuskan mundur dari Koes Plus,toh Yon tetap berkibar meneruskan panji Koes Plus.

 “Masih sering manggung ?” pancing saya.”Masih,kemaren baru pulang dari show di Palembang,hari ini main di Rolling Stone,besok main di acara ulang tahun orang di sebuah kafe di Kemang” jawabnya tangkas. Hmmm……saya hanya bisa geleng geleng kepala penuturan Yon Koeswoyo. Saya lalu teringat ,sekitar 3 tahun silam Yon Koeswoyo menerbitkan buku tentang dirinya bertajuk “Panggung Kehidupan Yon Koeswoyo” yang diterbitakn Chandra Awe Selaras setebal 175 halaman Pada awal isi bukunya Yon menulis tentang siapa dirinya : .Lelaki itu adalah Koesjono,penyanyi kekahiran Tuban,Jawa Timur,Jumat Legi,27 September 1940 yang dikenal sebagai Yon Koeswoyo personel Koes Plus. Yon Koeswoyo dengan lancar bertutur tentang jalan hidup yang dititinya.Semuanya berkaitan dengan musik.”Ya karena saya bisanya cuma musik” ujar Yon Koeswoyo. Semua ditulis Yon,mulai dari masa susah ketika merintis karir bersama saudara saudaranya Tonny,Nomo,John dan Yok membentuk Koes Bersaudara.Dinding penjara pun dirasakan.”Itu juga karena musik” kata Yon setengah terbahak. Siapa pula yang menyangka,Koes Plus yang memiliki ratusan hits.Manggung kesana kemari pada era 70-an hingga 80-an.Bergelimang puja serta materi.Ternyata harus (juga) menerima kenyataan pahit.Misalnya ,dalam buku itu ditulis,memasuki dasawarsa 90-an hidup Yon dan keluarganya serba pas pasan. “Untuk membayar rumah sakit bersalin sebesar satu setengah juta rupiah aku harus meminjam uang” tulis Yon dalam buku memoarnya tersebut.Miris dan trenyuh membacanya. Tapi Yon tetap tegar.Bisa saja kita teringat dengan lagu yang sering dinyanyikan Yon di pentas pentas : Hati senang walaupun tak punya uang oh oh…… “Saya tetap merasa tak pernah tua.Usia boleh nambah,fisik boleh berubah.Tapi jiwa tetap muda” ujar Yon Koeswoyo lagi. Yon menambahkan,setiap hari dia banyak bergerak.

“Saya berolahraga.Ya….menyapu dan memotong rumput di halaman rumah” tuturnya lagi. “Yang paling utama kita harus mensyukuri apa yang kita terima.Itu kunci utamanya mas.Dan kita tak boleh diam,harus tetap optimis” nasehatnya.

 Sekali lagi…..Selamat Ulang Tahun mas Yon Koeswoyo………..!!!!!

Napak Tilas Anak Muda 70-an

Posted: September 26, 2010 in Kisah, Opini

Konser Deep Purple di Senayan Jakarta 1975

Band rock AKA saat pawai

God Bless dalam sebuah konser yang super meriah.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas 30 Maret 2002

MASIH ingat penampilan anak muda 1970-an? Rambut gondrong menuntai, kurus kerempeng berbusana army look, celana cut-bray, dan sepatu tumit tinggi, bagi yang lelaki. Sedangkan yang perempuan berambut sasak, rok mini, dan sepatu boot setinggi lutut. Wow!

Karena ingin berambut gondrong dan bebas merokok, Supartono Suparto, atau lebih dikenal dengan panggilan Tono Bigman, akhirnya memutuskan bersekolah di Perguruan Taman Madya, SMA di Blok S, Jakarta Selatan pada tahun 1970. “Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena muridnya berambut gondrong,” ungkap Tono (49), yang saat itu telah ngeband bersama grup Bigman Robinson.

Mayall, pemusik blues Inggris, dengan rambut tergerai sepunggung, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Dia menjadi idola anak muda di kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Di Bandung pun ada sekolah John Mayall. “Sekolah itu berada di Jalan Naripan. Murid-muridnya dibolehkan memelihara rambut gondrong,” ungkap Triawan Munaf (44), praktisi periklanan yang pernah mendukung sederet grup rock di Bandung seperti Lizzard, Giant Step, dan Gang Of Harry Roesli.

Tampaknya semangat kebebasan memang menjadi milik anak muda. Tak mau diatur, dan sarat kreativitas. “Apalagi, saat itu kita baru lepas dari pemerintahan Orde Lama yang pernah melarang budaya Barat, seperti membreidel musik ngak-ngik-ngok. Makanya wajar bila terjadi pelampiasan dengan meniru pola tingkah yang terjadi di belahan Barat sana,” jelas Tono. Musik dan fesyen yang terpicu semangat Flower Power yang anti kemapanan, merasuk di benak anak muda 1970-an negeri ini. “Walaupun harus jujur, saat itu kita cuma meniru kulitnya doang, bukan esensinya,” tambah Tono lagi. “Saat itu kita cuma meniru modenya aja. Di sana berambut gondrong, kita pun ikut,” kata Triawan sambil tergelak.

Maka berbondong-bondonglah anak muda Bandung ke kios Apple Shoes di Jalan Dipati Ukur, untuk memesan sepatu bertumit tinggi sekitar 10-15 cm. “Namanya sepatu eksotik. Yang menggunakan sepatu ini nggak jarang mengalami keseleo,” tutur Imank Wandi (46), yang menjadi penabuh drum Gang of Harry Roesli pada tahun 1970-an. Selain itu, kata Imank, mereka pun memesan baju-baju eksentrik dan eksklusif di Prima Butik di Jalan Alketiri. “Penjahit Daman di Jalan Jurang yang terkenal dengan jahit bordir pun sibuk menerima order dari anak band,” kata Iman lagi.

Tak beda jauh dengan Bandung, anak muda Jakarta pun sering mengunjungi butik Mic Mac di kawasan Menteng, Topsy di Pasar Baru, dan Hias Rias di Cikini. “Yang mereka cari adalah busana-busana yang dipakai oleh artis dan grup Barat yang mereka lihat di majalah musik Belanda Pop Foto atau Muziek Express,” kata Andy Julias (48). “Memang harus diakui, saat itu banyak yang menuding, dekadensi moral gaya hidup bebas anak muda Barat, menjadi pilihan untuk tidak disebut ketinggalan zaman. Mulai terdengar pesta dayak, kebut-kebutan, bahkan free sex,” cerita Andy. Andy juga menyebut novel Cross Mama karya Motinggo Boesje sebagai salah satu novel pop yang mewakili kondisi aktual remaja 1970-an.

Baik Andy maupun Tono sepakat mengakui warna kehidupan anak muda 1970-an menoreh banyak warna. Mulai dari pesta dayak yang acapkali menampilkan live band dari rumah ke rumah, hingga menjamurnya gang-gang di seantero Jakarta. Beberapa nama gang anak muda Jakarta yang menjadi buah bibir di antaranya adalah Legos, Sartana, Bearland, Siliwangi, dan Medisa. “Nama gang itu pun dibikin unik, kayak Sartana yang merupakan singkatan Sarinah Tanah Abang, atau Medisa yang berarti Meleng Dikit Sabet,” cerita Tono.

Apa yang dilakukan anak-anak gang? “Wah, macam-macam. Mulai dari bikin pesta, ngeband, kebut-kebutan, bikin pemancar radio, hingga rebutan cewek,” tutur Andy, yang mengaku sering nongkrong di sekitar Jalan Pegangsaan, Menteng. “Nggak bedalah dengan anak muda sekarang. Cuma, kalausekarang sering main keroyokan, dan anak muda 1970-an cenderung lebih sportif,” kata Tono, yang mengaku ikut bergaul dengan gang Bearland dan Siliwangi. Saat itu, para gadis pun seolah tidak mau kalah dengan para lelaki. Misalnya, ada gang cewek bernama Degradax yang dikenal jago kebut-kebutan mobil di jalan. “Mereka bisanya adu zig-zag dengan menggunakan mobil Toyota Hardtop dan Fiat 1300,” ungkap Tono.

***

KEGIATAN musik merupakan salah satu kegiatan anak muda 1970-an yang cukup diminati, mulai dari bikin band hingga konser. “Anak band paling banyak dikerubungi siapa saja, termasuk wanita. Kayaknya , kalau punya band, gengsinya luar biasa,” kenang Triawan. Di Bandung sendiri berderet band yang bermunculan, seperti The Rollies, Giant Step, Freedom Of Rhapsodia, Gang Of Harry Roesli dan banyak lagi. “Umumnya lebih banyak berorientasi ke musik rock. Mungkin karena rock itu berkonotasi dengan kebebasan jiwa yang berontak hinggar-bingar, dan semacamnya,” komentar Triawan.

Di Jakarta sendiri berderet panjang grup-grup band, antara lain Gipsy, Bigman Robinson, Fancy, Ireka, Rhadows, Rasela, Hookerman, Cockpit, The Lord Ayodya, The Pro’s, God Bless dan masih banyak lagi. Selain manggung di pesta-pesta rumahan, mereka juga tampil di beberapa tempat seperti Mini Disco hingga Taman Ismail Marzuki. Saat itu hampir semua band di kota-kota besar membawakan repertoar dari grup-grup kesohor dunia, seperti The Rolling Stones, Jimi Hendrix, Experience, Grand Funk Railroad, Led Zeppelin, hingga Deep Purple.

Darimana anak band memperoleh repertoar musiknya? “Saat itu sumber yang pasti adalah dari pelat atau piringan hitam. Pelat biasanya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri,” ucap Tono. Namun, tak sedikit juga yang membeli pelat di sekitar kompleks pertokoan Pasar Baru. “Ada beberapa toko di Pasar Baru yang sering dikunjungi anak muda dulu seperti toko Eropah, Combinatie, dan Sinar Jaya,” jelas Ali Gunawan (47), arsitek yang saat itu sempat menekuni dunia disko sebagai disc-jockey. Menurut Ali, yang kini memiliki koleksi piringan hitam lebih dari 10.000 keping ini, harga pelat masih sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000. “Harga segitu termasuk mahal,” kata Ali.

Juga populer saat itu kaset ketikan. “Kita bisa memesan rekaman lagu yang kita inginkan, lalu judul lagunya diketik sebagai sampul kaset, makanya dinamakan kaset ketikan. Biasanya ada di Jalan Bungsu, dekat perapatan lima Bandung,” kenang Triawan. Untuk mendapatkan kaset rekaman di Jakarta, kata Ali, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah di kawasan Lokasari.

Dan tempat barang-barang bekas di bilangan jalan Surabaya juga merupakan tempat yang dikunjungi untuk memperoleh piringan hitam. Kios pelat yang terkenal di Jalan Surabaya adalah milik Silalahi. “Silalahi itu ngerti musik. Barang-barangnya pun termasuk bagus. Jadi nggak heran bila harga yang dipatok Silalahi agak mahal. Tetapi, itu nggak jadi masalah,” kata Ali.

Saking ngetopnya kios pelat Silalahi, gitaris Deep Purple, almarhum Tommy Bolin, sempat mampir di kios kecil milik lelaki berdarah Tapanuli itu. “Saya juga kaget ketika sebuah Mercedes hitam yang ditempeli spanduk Deep Purple, mampir di depan kios saya. Kebetulan waktu itu tengah dipajang album terbaru Purple yang didukung Tommy Bolin, Come Taste The Band. Bolin hanya tersenyum melihat sampul pelat itu,” kenang Silalahi (64)

Maraknya berdiri pemancar radio dengan antena bambu juga menandai kehidupan anak muda tahun 1970-an. “Radio yang cukup beken di Bandung saat itu Bonkenk yang merupakan singkatan Bongkok dan Kerempeng. Sudah pasti radio ini memutar lagu-lagu rock,” kata Imank. “Yang saya ingat, Radio Oz Bandung sering jadi tempat kita nongkrong. Malah diajak siaran segala. Bahkan band saya, Giant Step, sempat bernaung di bawah manajemen Radio Oz,” kata Triawan.

Di Jakarta sendiri bermunculan banyak pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, Prambors, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors, yang berada di sekitar Menteng, baru mengantungi izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur ini (kemudian disingkat menjadi Prambors), bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan kawula muda ini menjalin akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu milik The Rolling Stones, Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. “Acara seperti Blues Streamline yang memutar lagu-lagu blues sangat diminati saat itu,” kata Imran Amir, direktur utama Radio Prambors, yang di tahun 1970-an sempat mengasuh acara blues itu.

***

DIMANAKAH anak muda 1970-an nongkrong? “Yang saya ingat tempat yang sering dituju adalah roti bakar Edi di Blok M, serta makan di kawasan Pecenongan. Juga tempat-tempat hiburan seperti Tanamur di Tanah Abang, maupun Mini Disco yang berada di seberang istana,” ujar Andy. “Kalau di Bandung biasanya kita dulu sering ngumpul di Jalan Merdeka, juga minum sekoteng di Jalan Bungsu,” kata Imank.

Triawan tidak bisa melupakan restoran Tizi’s di Hegar Manah, yang antara lain menyediakan menu khusus Cream Chicken Soup, dan shaslik (sejenis sate daging). “Dan tentu saja draft beer,” katanya lagi. Anak muda Jakarta 1970-an juga sangat menikmati acara Malam Muda Mudi yang diprakarsai Gubernur Ali Sadikin dengan menampilkan sederet band-band terkenal, mulai dari pop, dangdut, hingga rock. “Di sepanjang Jalan Thamrin hingga Bundaran HI, dibangun panggung-panggung acara semalam suntuk,” kata Tono. “Bigman Robinson sering kebagian panggung yang berada tepat di samping Bundaran HI,” tambahnya.

Saat itu yang namanya hiburan memang merupakan barang langka. Jadi tidak heran setiap ada acara pertunjukan gratis seperti Malam Muda Mudi, penonton acapkali tumpah ruah. Bisa juga dicatat konser yang diberi judul mentereng, Summer 28, yang digelar di Ragunan, Pasar Minggu, tanggal 16 Agustus 1973. Summer 28 sendiri merupakan akronim Suasana Menjelang Merdeka ke-28, dan konon digelar untuk meniru pesta musik akbar Woodstock di AS tahun 1969.

Maka ditampilkanlah sederet pemusik berbagai aliran dalam acara Summer 28 yang berlangsung dari siang hingga dini hari. Grup-grup yang unjuk gigi di acara yang dihadiri ratusan ribu penonton itu antara lain Koes Plus, The Disc. The Mercy’s, Panbers, Bimbo, Gembell’s, Bimbo, Pretty Sister, The Rollies, Gang of Harry Roesli, Broery Marantika, The Pro’s, Idris Sardi, Remy Silado, Trio Los Morenos, Young Gipsy, Fly Baits, dan God Bless.

Dua tahun berselang, konser akbar terulang lagi di Jakarta. Kali ini menampilkan Deep Purple yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, 4 dan 5 Desember 1975. “Selama dua hari berturut-turut konser ini ditonton sekitar 100.000 penonton,” ungkap Denny Sabri dari majalah Aktuil, yang bekerja sama dengan promotor Peter Basuki dari Buena Ventura.

Sayangnya, selama konser sempat terjadi kericuhan yang dipicu oleh penonton. “Saya nggak habis pikir para penonton bisa jadi brutal di saat menikmati suguhan musik. Meskipun penonton membludak, tetapi kami sebagai penyelenggara, mengalami kerugian karena banyak penonton yang masuk menerobos tanpa membeli tiket,” tutur Denny, yang saat ini masih menekuni profesi sebagai pemandu bakat di Bandung.

Setelah sekian tahun berselang, Deep Purple yang memasuki usia senja, mampir kembali di Jakarta. Apakah sambutan penonton masih tetap menggebu-gebu seperti dulu? “Rasanya nggak. Mungkin bisa dianggap sebagai ajang nostalgia belaka,” tutur Triawan. “Apalagi, konser supergrup luar negeri, sekarang bukan hal yang baru lagi,” tambah Andy.

“Mungkin di situ pula letak beda romantika anak muda 1970-an dengan terseret ke alam globalisasi. Kalau dulu emuanya serba terbatas, info musik dan gaya hidup cuma bisa disadap dari majalah Aktuil yang bisa disebut bacaan wajib anak muda. Kalau sekarang, arus informasi sudah sedemikian derasnya bahkan kita nyaris tidak bisa membendungnya dalam filter budaya kita lagi,” kata Andy.

“Tetapi, anak muda sekarang yang begitu banyak dimudahkan oleh fasilitas, apa masih memiliki kreativitas tinggi? Ini yang patut dipertanyakan secara serius. Dulu, kita dengan segala keterbatasan malah mencuatkan kreativitas. Contohnya, ya bikin sepatu tumit tinggi, atau malah bikin dry ice tiruan untuk manggung, dan banyak contoh lainnya,” kata Triawan. Betulkah?

The Rollies 1970

Kaset Yess Menambah Wawasan Musikku

Posted: September 26, 2010 in Uncategorized

Saya masih ingat ketika membolak-balik halaman koran Kompas pada tahun 1977.Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SMP.Saat lagi tergila-gila dengan musik terutama rock.Maklum masih belia dan ingin pembuktian jatidiri (hah ).Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebuah iklan kecil yang berada di pojok sebelah kiri halaman 4 Kompas : sebuah iklan kaset barat.

Kaset Kaset Berlabel Yess

Dengan font yang tak terlalu mencolok tertera :”Telah Beredar Kaset Terbaru” dan yang tertera adalah dua cover kaset berlabel YESS (dengan double S) masing-masing album “Please Don’t Touch” (Steve Hackett,gitaris Genesis) dan “Natural Elements” (Shakti),yang ini kelompok musik berbasis musik India yang digagas John McLaughlin. Saya terhenyak dan membatin :”Ah…..saya harus beli kaset ini”.Keinginan memiliki dua album ini kian menggebu apalagi saya telah membaca review kedua album “nyeleneh” itu di majalah Aktuil yang tiap dua minggu sekali saya beli secara ketengan dengan menabung uang jajan sehari-hari. Tapi persoalan lain muncul.Kaset kaset produksi Yess yang logonya meniru logo grup progresif rock Inggeris Yes yang dirancang Roger Dean itu,tidak tersedia disemua toko kaset.Agak susah memang.Namun akhirnya toh ada jalan keluar.Seorang sahabat menginformasikan bahwa kaset kaset Yess ini tersedia di Bandung. Ketika kaset berlabel Yess itu telah berada di tangan saya,saya langsung memutarnya.Dimuali dengan Steve Hackett,karena saya mengagumi Genesis.Hmmm…..audionya nyaris sempurna.Warna dasar covernya hijau muda dengan sebuah foto yang ditempel di muka sampul kaset hasil reproduksi dari album “Please Don’t Touch”. Sejak itulah saya terlanjur jatuh cinta dengan produk produk Yess.Saat itu sedikit pun tidak terbersit bahwa kaset Yess adalah “barang haram” karena kaset tersebut direkam tanpa izin sama sekali dari pihak pemegang lisensi diluar seperti album Hackett yang dirilis Charisma Records. Terus terang dari perekam idealis seperti Yess yang ternyata berdomisili di Bandung inilah wawasan musik saya jadi bertambah.Apalagi Yess memang ingin menjadi perekam segmented .Seingat saya Yess hanya merekam album-album rock yang rada “cutting edge” seperti album album ELP,Yes,Genesis,Manfred Mann’s Earth Band,Earth & Fire,Esperanto,PFM,Mike Oldfield,John Mayal & Blues Breakers,Jethro Tull.Band band rock yang dianggap massive seperti Deep Purple,The Rolling Stones,Queen atau Uriah Heep justeru tak pernah mereka rilis. Yess pun merekam album album “nyeleneh” seperti Phillip Glass hingga Laurie Anderson,juga beberapa album jazz rock seperti Stanley Clarke,Return To Forever,Chick Corea,Jean Luc Ponty,Flora Purim dan sebagainya. Jadi saya menganggap mereka ini,pihak perekam Yess,sudah secara sadar membuat positioning dalam merilis album.Thus,harap diingat serial kaset yang dirilis Yess sudah pasti peminatnya tak sebesar peminat musik pop,disko atau rock yang massal. Di alam perekam kaset era 70-an hingga 80-an itu berlaku sistem free for all.Artinya sebuah album bisa dirilis oleh berbagai perekam kaset.Misalnya album The Rolling Stones bisa dirilis oleh Aquarius,Perina,Lolita,Saturn,King’s Record,Top’s,Hins,Contessa,Atlantic,Nirwana,Golden Lion dan entah apa lagi.

Yang menjadi pertanyaan saya : apakah mereka mengeduk keuntungan ? Tapi terus terang dengan kehadiran Yess yang ternyata digagas oleh seorang lelaki keturunan Tiong Hoa bernama Lin Fung saya anggap memiliki jasa besar dalam membentuk wawasan tentang berbagai genre dan sub-genre musik yang berada dibawah payung rock maupun jazz.Bayangkan band-band yang bertebaran di Amerika Serikat,Inggeris,Belanda termasuk Italia satu persatu kita simak sebagai sebuah referensi musik yang mengalir deras tiada henti.

Pun mungkin kita tak pernah tahu bahwa sebetulnya Lin Fung memiliki bidang bisnis yang sangat bertolak belakang dengan industri musik.Lin Fung memiliki usaha dalam jual beli sepeda.Dia memiliki toko sepeda di kawasan Jalan Veteran Bandung. Toh dengan passionnya terhadap musik yang tiada terbendung,Lin Fung tetap menjalani bisnis “hobi” nya ini melalui katalog rekaman Yess yang setidaknya mempertebal wawasan musik kita.Ini hal luar biasa yang bisa kita petik manfaatnya.Bahkan kita pun tak sadar bahwa sebetulnya apa yang dilakukan para perekam Barat itu toh tetap sebuah tindak kriminal : membajak karya dan produk milik orang menjadi miliknya.

Usaha Lin Fung dengan produk album Yessnya itu akhirnya harus menyerah pada tahun 1988,disaat negeri ini mulai memberlakukan Undang Undang HAKI yang selama ini ditunda-tunda.Pemberlakuan UU HAKI ini tentunya terkait dengan protes keras dari Bob Geldof,vokjalis The Boomtown Rats yang menggagas Konser Amal Live Aid di tahun 1985.Seperti yang kita ketahui Geldof berang karena rekaman konser Live Aid yang berlangsung di Wembley Stadium Inggeris dan Philadelphia Amerika dibajak di Indonesia lalu diekspor ke luar negeri.

Sebuah konser amal kok malah dibajak. Tahun 1988 merupakan era akhir jaman keemasan kaset ilegal tapi legal di Indonesia.Tapi meskipun demikian izinkan saya berterimakasih untuk perekam seperti Yess ini yang telah membuka cakrawala wawasan musik saya. Apakah anda juga memiliki pengalaman yang sama dengan saya tadi ?