Southern Man

Posted: September 8, 2010 in Uncategorized

Southern man, better keep your head
Don’t forget what your good book said
Southern change gonna come at last
Now your crosses are burning fast

Tantowi Yahya,Lelaki dari Selatan

(“Southern Man” – Neil Young)
Entah kenapa saya lebih suka memanggil Tantowi Yahya dengan sebutan “The Southern Man”. Mungkin karena saya sangat menyukai lirik lagu “Southern Man” nya Neil Young. Sebuah lagu yang mengukuhkan keteguhan seorang lelaki. Mungkin karena lelaki murah senyum ini berasal dari Selatan Sumatera. Tapi mungkin juga karena dia menyukai musik country, genre musik yang berasal dan tumbuh subur di Selatan Amerika Serikat dan di selatan Appalachian Mountains.
Rasanya tak ada satu pun pemusik di negeri ini yang berdedikasi tinggi terhadap country selain Tantowi Yahya. Lelaki kelahiran Palembang 29 Oktober 1960 ini seolah berlenggang sendirian dalam ranah musik yang kerap dikaitkan dengan kejantanan seorang koboi. Tak heran jika Tantowi Yahya menjadi penggiat country terdepan di negeri ini.
“Saya sejak dulu memang pemerhati kebudayaan Amerika. Saya menyukai film-film koboi yang menampilkan patriotisme, saya gemar film-film petualangan yang menampilkan landscape Amerika yang menakjubkan” ungkap Tantowi Yahya. Tapi dimata saya Tantowi Yahya adalah sosok penghibur paripurna dalam ranah hiburan negeri ini. Bayangkan dia hadir sebagai seorang master of ceremony baik di layar kaca maupun di event berskala nasional dan internasional , pengusaha rekaman, penggiat musik, hingga penyanyi country yang tak tertandingi, karena rasanya hanya Tantowi lah insan musik country yang ajeg dan produktif dibidangnya.Lalu dari manakah bakat seni musik Tantowi Yahya dititiskan ?.
“Ayah saya adalah pemain akordeon yang handal pada zamannya. Dia memainkan musik Melayu” ungkap Tantowi. Ayahnya, HM Yahya Matusin adalah sosok lelaki yang terampil melakoni berbagai bidang. ”Ayah saya jago main bola, dia tergabung dalam Klub Torpedo di kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Keterampilannya mengolah bola dan jiwa kepemimpinannya membuat ia menjadi kapten,” cerita Tantowi. Setelah cedera pada pahanya, Pak Yahya pun tergabung dalam kelompok bulutangkis di Kabupaten yang sekarang menjadi Ogan Ilir tersebut.” Ayah saya mengambil spesialis ganda, sederet piala berjejer rapi di rumah kami sebagai bukti kemahirannya di dua cabang olah raga tersebut” imbuh Tantowi.
Kegiatan bulu tangkis pak Yahya terhenti sejenak setelah mengalami cedera pada bagian mata.”Lalu ayah mulai menjalani dunia agama. Dia pandai mengaji dan sangat fasih berbahasa Arab. Beliau adalah salah satu pendiri Madrasah Raudatul Ulum Sakatiga yang sekarang dikenal sebagai salah satu pesantren terbesar di tanah air” tutur putera ke 4 dari 5 bersaudara pasangan HM.Yahya Matusin dan Hajjah Komariah ini.
Tantowi Yahya begitu mengagumi sang ayah yang ia sebut all rounder. ”Dia sangat gigih dalam menjalani kehidupan. Ketika kami kecil di Palembang, hidup kami pas-pas an. Ayah saya hanya lah penjual kacamata bekas di kaki lima, kondisi yang juga banyak dialami ayah-ayah lain. Namun yang membuat kami bangga sebagai anak-anaknya. dia tidak pernah mengeluh apalagi marah dengan nasib dan keadaan”. Tantowi mengakui apa yang dilakukan sang ayah begitu membekas dalam benak dan nuraninya. Sebagian dari kenangan itu diantaranya kelak menjadi bekal kuat Tantowi dalam mengarungi karir dan kehidupan.
Tidak bisa bahasa Inggris
“Sebagai pekerjaan sampingan, ayah saya sering diminta menemani beberapa temannya di Palembang untuk mengambil mobil-mobil yang sudah tidak boleh lagi jalan di Singapura. Waktu itu mobil-mobil itu gratis lho. Nah..kebenaran ayah saya punya teman baik disana yang bisa mempermudah pengurusan. Karena tak menguasai bahasa Inggris, ayah sering mendapat problem komunikasi. Karena dendam ayah lalu memaksa saya dan adik saya, Helmy untuk belajar bahasa Inggris,” tutur Tantowi.
Saat berusia 14 tahun Tantowi belajar bahasa Inggris di Shailendra English Institute Palembang, kursus bahasa Inggris terkemuka saat itu. Tidak ada yang menyangka beberapa dari guru-guru pertama Tantowi saat itu kemudian menjadi orang-orang besar di republik ini sebut saja misalnya Prof. Dr. Jimly Asshidiqie (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), I. Made Mangku Pastika (Kapolda Bali) dan Anwar Fuadi yang kini dikenal sebagai actor.
Sejak di usia remaja, Tantowi Yahya memang telah memendam cita cita untuk menjadi seorang diplomat disamping menaruh perhatian terhadap zona pariwisata. ”Dunia diplomasi dan pariwisata sangat dekat dengan komunikasi. Ini hanya bisa dicapai dengan ketrampilan berbicara dan pengusaan bahasa Inggris yang memadai”, ujarnya. Tantowi tak hanya sekedar bercita cita, tapi dia memang menelusuri titian itu demi memenuhi hasrat dan impiannya. Selepas SLTA tahun 1980, Tantowi Yahya merantau ke Jawa. Dia terdaftar sebagai mahasiswa D1 di Akademi Kepariwisataan Indonesia (AKI) di DI. Yogyakarta. Merasa tidak cukup dengan apa yang ada di kampusnya, Tantowi kemudian pindah ke Pusat Pendidikan Perhotelan dan Pariwisata Bandung yang lebih dikenal dengan NHI Bandung.

Orang hotel yang bervisi jauh ke depan
Karirnya di dunia perhotelan pun mulai menguncup selepas dari NHI. Dimulai sebagai resepsionist di Hotel Borobudur Inter-Continental pada tahun 1982, Tantowi kemudian pindah ke Jakarta Hilton pada tahun 1984. Ia lulus test ketat untuk menduduki posisi Duty Manager di hotel bintang 5 yang paling bergensi saat itu. Dia tercatat sebagai duty manager termuda di Jakarta Hilton saat itu (24 tahun). Tak lama di posisi empuk ini, Tantowi minta dipindahkan ke Sales Department untuk menjadi Account Executive, posisi yang sesungguhnya lebih rendah dari duty manager. Ia, dengan perhitungan matang, rela turun pangkat demi sesuatu yang lebih besar.
Ternyata posisinya di sales department yang membuatnya berhubungan dengan dunia luar, menjadi modal penting untuk membangun networking kelak. Ini terlihat ketika Danny Jozal salah satu petinggi perusahaan pita rekaman BASF mengajak Tantowi bergabung di perusahaannya. ”Selain melihat potensi dan kemampuan, rasanya kedekatan saya dan Danny Jozal justru dari area musik. Kebetulan saya dan Pak Danny Jozal sama sama menggemari musik, khususnya musik thn 60 an dan country. Kami berdua pengagum berat Cliff Richard dan The Shadows. Jadi bisa dibilang musiklah yang mempertemukan chemistry kami berdua,” ujar Tantowi Yahya.
Pencinta berat musik
Bagi Tantowi Yahya musik ibarat sihir yang melenakan jiwa.” Saya sejak kecil memang sudah tergila-gila denga aura musik, saya menyukai jenis musik apapun. Entah itu pop,rock, classic hingga dangdut sekalipun’. Kata Tantowi. “Pak Soerjoko, boss Aquarius selalu bilang kalau saya ini adalah pencinta musik serius, bukan sekedar suka tapi tahu sejarah dan filosopinya”, tambahnya lagi. 3
Memang benar… kesukaan Tantowi Yahya pada dunia musik tak hanya sebatas penikmat musik belaka. Dia bahkan mencoba menekuninya pula, walaupun bukan sebagai target utama. ”Minimal saya bisa memetik gitar sembari bersenandung” ucapnya lugas. Ketika duduk dibangku SLTA antara tahun 1977 – 1979,Tantowi Yahya telah ikut bergabung dalam “Syailendra Band” di Palembang dan tampil di berbagai acara.
”Yang saya ingat, ketika tampil pertama kali di TVRI Palembang saya membawakan lagu karya Rinto Harahap, “Jangan Sakiti Hatinya” yang dipopulerkan oleh Iis Sugianto,” kenangnya. Ketika tengah menuntut ilmu di AKI Jogjakarta, Tantowi pun kerap tampil di layar kaca TVRI Stasiun Yogyakarta, khususnya di acara “Kuncup Mekar” dan “Hiburan Senja”. ”Saya juga masih ingat, saat itu saya menyanyikan lagu “Symphony Yang Indah” –nya Bob Tutupoly dan “Adinda” nya Bimbo,”ucap Tantowi seolah tengah menapak tilas.

Menapak karir diluar hotel
Perjalanan karir Tantowi Yahya pun melompat ke dunia musik di saat ia bergabung di perusahaan pita rekam asal Jerman BASF pada tahun 1987. Karena dedikatif terhadap dunia musik yang begitu total menjadikan karir Tantowi semakin cerlang cemerlang di perusahan ini. Dalam waktu 2 tahun Tantowi telah berhasil menduduki posisi Advertising & Sales Promotion Manager .Terobosan lainnya saat bergabung di salah satu peruasahaan kimia terbesar di dunia ini adalah menggelar acara anugerah musik yang terilhami oleh Grammy Award di Amerika Serikat dengan nama “BASF Award”. “Acara BASF Award memang merupakan gagasan dari Pak Danny Jozal. Namun saya diberi kesempatan untuk menggarap dan mengelola acara ini secara lebih kreatif” jelas Tantowi Yahya. Acara “BASF Award” yang berlangsung secara annual ini dilaksanakan mulai dari tahun 1986 – 1994. Acara BASF Award pada akhirnya menjadi barometer terhadap perkembangan musik pop di tanah air. Bahkan acara ini jualah yang kelak akan menjadi inspirasi munculnya Anugerah Musik Indonesia atau AMI Awards.
Di tahun 1994 Tantowi Yahya mengundurkan diri dari P.T. BASF Indonesia untuk merajut mimpi sebagai pengusaha. Ia mendirikan perusahaan rekaman yang diberi nama Ceepee Productions.” Nama Ceepee sendiri dari Pak Danny Jozal yang merupakan singkatan dari istilah yang kerap terdengar dalam industri musik negeri ini yaitu Coan Punya” jelas Tantowi sembari terkekeh. Perusahaan ini dibangun oleh Tantowi bersama Danny Jozal, Ani Sumadi dan Moetaryanto, 3 sosok yang begitu dekat dengannya dan Iwan Margana. Perusahaan ini lalu diberi payung dengan nama PT Ciptadaya Prestasi yang membawahi berbagai divisi mulai dari perusahaan rekaman, rumah produksi, event organizer,promosi dan manajemen artis. Sederet artis pernah berada dibawah naungan label Ceepee Productions seperti Sherina, Andre Hehanusa, Vina Panduwinata, Titi DJ, Lusy Rachmawati, Stanley Sagala, Hamdan ATT dll.
Dua tahun kemudian setelah Tantowi meninggalkan P.T BASF Indonesia, BASF menghentikan seluruh aktivitas produksi pita magnetik di seluruh dunia dikarenakan produk ini dianggap sudah tidak prospektif lagi, menyusul lahirnya Compact Disc sekaligus menandai dimulainya era digital.
Berbagai event besar tercatat pernah digarap oleh Ceepee Productions seperti BASF Awards, Pemilihan Puteri Indonesia, Miss Indonesia Peagant hingga Panasonic Award.

Menapak dunia kebintangan

Secara perlahan ranah industri hiburan negeri ini diterobos oleh Tantowi Yahya yang sejak kecil memang telah memiliki obsesi untuk menjadi seorang bintang yang dikelilingi percik pesona dan kilau cahaya.”Sejak kecil saya memang meyimpan hasrat ingin menjadi seorang bintang yang bermandi kilau cahaya gemerlap” cetus Tantowi Yahya. Suatu saat ketika tengah berkeliling kota Jakarta,Tantowi pernah membatin dalam hati ”Jakarta suatu saat aku akan memegangmu”.
Seorang Tantowi Yahya sejak kecil telah terbiasa hidup dalam keadaan ekonomi yang sangat sederhana dan pas pasan memang memiliki daya juang yang tinggi. Dia bahkan bagai memecut dirinya sendiri untuk terus maju ke depan dalam situasi apapun. Ketertarikannya untuk tampil di depan publik merupakan wacana utama baginya untuk menaklukkan industri hiburan. ”Saya sangat mengagumi pembawa acara handal seperti Kris Biantoro, Bob Tutupoli maupun Koes Hendratmo. Mereka tak hanya piawai sebagai seorang public speaker tapi juga penyanyi yang handal. Gabungan antara ketrampilan berbicara dan menyanyi merupakan tuntutan utama sebagai seorang entertainer” tutur Tantowi Yahya.
Alhasil,Tantowi pun berupaya menggali kedua elemen tadi dalam kebisaan yang dimilikinya. Tahun 1988 Tantowi mengikuti audisi yang dilakukan oleh Ani Sumadi, yang selama ini dikenal sebagai kreator pelbagai acara kuis di TVRI seperti “Silent Quiz”,“Pesona 13”,”Kuis Aneka” hingga “Berpacu Dalam Melodi”. Informasi mengenai audisi sebuah acara kuis musik diperolehnya melalui Koes Hendratmo yang kala itu tengah berkibar dengan acara kuis musik “Berpacu Dalam Melodi”.
“Suatu hari saya dihubungi Koes Hendratmo, dia bilang Ibu Ani Sumadi sedang mencari presenter untuk acara kuis musik dengan musik khas remaja. Kemudian saya dipertemukan dengan Ibu Ani Sumadi. Saya hanya diminta menonton kuis Berpacu Dalam Melodi dan meniru gaya Koes saat memandu acara. Eh…. ternyata kemudian saya malah diterima sebagai pembawa acara kuis musik remaja “Gita Remaja” ungkap Tantowi.
Di tahun 1989 saat memandu kuis Gita Remaja di TVRI merupakan langkah awal Tantowi Yahya menjejak di ladang hiburan Indonesia.Penampilannya segar dan terlihat Tantowi sangat menguasai jalannya kuis tersebut. Keberhasilan Tantowi memandu acara yang ditayangkan sepekan sekali di TVRI ini menurut pengakuannya lantaran karena kesenangannya terhadap dunia musik. “Musik itu passion saya nomor 1” kata Tantowi Yahya menegaskan.
Kegairahannya terhadap musik tak hanya terpancar saat mendirikan perusahaan rekaman saja, tapi Tantowi Yahya malah mulai menerjunkan diri sebagai seorang penyanyi. “Pilihan saya memang musik country. Kenapa country ? karena dari begitu banyaknya penyanyi di negeri ini sangat sedikit sekali yang terjun ke musik country. Saya tak mau masuk kedalam antrian yang sudah demikian panjang. Maka pilihan jatuh ke country yang antriannya malah tidak ada sama sekali” jawabnya filosofis .
Tahun 2000, Tantowi Yahya merilis single “Gone, Gone, Gone” karya Rinto Harahap saat masih tergabung dalam The Mercy’s di tahun 70-an yang ternyata mendapat tanggapan yang cukup baik dari masyarakat. Dari sukses single ini, Tantowi kemudian melempar album perdananya, Country Breeze. Satu lagu andalannya adalah berjudul “Hidupku Sunyi” yang dulu pernah dilantunkan almarhum Charles Hutagalung,vokalis The Mercy’s. Debut album ini mampu menembus angka penjualan 500 ribu kopi. Suksesnya album itu, membawa Tantowi kembali ke TVRI untuk menyuguhkan Country Road yang menjadi andalan televisi pemerintah itu.
Tak berbeda dari album sebelumnya, album kedua Southern Dreams yang diillhami lagu country Amerika, juga mendapat sukses walau tidak sebesar album pertama. Keinginannya untuk melestarikan kebudayaan Indonesia dibuktikan dengan dikeluarkannya album berisikan lagu-lagu daerah yaitu Country Manado. Album ini akhirnya menghantarkan Tantowi menerima penghargaan AMI-Sharp Awards sebagai the Best Country and Ballad singer pada tahun 2002. Kemudian, pada tahun 2004 AMI-Samsung Awards menganugerahinya Best Traditional Album Singer lewat album country Manadonya.
Berasama teman-teman dan penonton setia Country Road, Tantowi kemudian mendirikan Country Music Club of Indonesia (CMCI) pada Januari 2003 sebagai wadah sekaligus organisasi sosial. Setahun kemudian CMCI menggandeng Metro TV dalam program “Goin’ Country” yang bertahan sampai tahun 2007. Dengan sederet kegiatannya di zona hiburan, Tantowi Yahya masih sempat membagi waktu untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Dia aktif di beberapa organisasi dan LSM sebut saja misalnya PSSI, Asosiasi Industri Rekaman Indonesia, Yayawan Anugerah Musik Indonesia dll. Tantowi yang begitu intens mempelajari budaya dan prilaku sosial masyarakat Amerika Serikat, terpilih selama dua periode sebagai Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (PPIA).

Prestasi yang ditorehkan di berbagai bidang yang digelutinya membuat dirinya terpilih sebagai penerima Eisehower Fellowship (EF) di tahun 2005. EF adalah bea siswa untuk 25 calon pemimpin masa depan dari 25 negara untuk berada di AS selama 8 minggu. Sebelum Tantowi, bea siswa hanya dipercayakan kepada politikus, pakar hukum, ahli lingkungan atau mereka yang berasal dari lingkup pemerintahan. Tantowi Yahya ternyata adalah penerima bea siswa pertama yang memiliki latar belakang dunia hiburan .
Pembagian waktu Tantowi untuk kegiatan sosial dan pendidikan tidak pernah berhenti. Tahun 2006 ia Tantowi Yahya dinobatkan sebagai Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia . Pada tahun yang sama, Tantowi Yahya mendirikan ‘Tantowi Yahya Public Speaking School’. Sebuah lembaga pendidikan yang khusus untuk mengajarkan ketrampilan berbicara dengan baik di depan publik.
Menapak karir politik

Perjalanan The Southern Man tampaknya masih berlanjut. Secara perlahan namun terukur Tantowi Yahya mulai menapak memasuki dunia politik. Insyaallah 1 Oktober nanti, Tantowi pun dilantik menjadi Wakil Rakyat, sebuah tugas besar, penuh tantangan yang memiliki tanggung jawab ekstra. Belakangan ini walau tetap tidak meluruhkan atributnya dalam dunia hiburan, Tantowi mulai kerap berbicara politik.”Politik itu ilmu kemungkinan. Yang nggak mungkin, jadi mungkin. Bagi saya politik seni,bukan ilmu” ungkapnya serius. Terjunnya Tantowi Yahya di ranah politik, menurutnya, merupakan bahagian dari 3 bagian evolusi yang terjadi dalam sisi kehidupannya.Pertama,adalah tahap mencari ilmu.Kedua,tahap mencari pengalaman dan mencari nafkah dan ketiga, menggunakan ilmu dan rejeki untuk bangsa dan Negara.
“Saya memang tak meninggalkan dunia hiburan, dunia yang harus saya akui telah membesarkan nama saya. Saya hanya mengurangi porsinya. Karena komitmen menjadi wakil rakyat memang tak bisa ditawar. Dengan kata lain,saya harus fokus terhadap jenjang yang saya jejaki sekarang ini dan bertanggung jawab terhadap mandat rakyat yang dititipkan ke saya” pungkas Tantowi Yahya lagi.
Kaki Tantowi Yahya terus melangkah dan melangkah. Langkah-langkahnya seperti membentuk ritme pada lagu “Southern Man” yang disenandungkan Neil Young dengan suara nassalnya :
Southern change gonna come at last
Now your crosses are burning fast,
Southern Man

Ditulis oleh Denny Sakrie, pengamat musik, sahabat Tantowi Yahya

(Tulisan ini dibuat dalam bentuk buku kecil dalam acara “An Evening With Tantowi Yahya” di Surabaya 14 Agustus 2009 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s