Betulkah Dangdut Is The Music of My Country ?

Posted: September 24, 2010 in Kisah, Wawasan
Album Ratu Sehari - Orkes Melayu Chandralela Pimpinan Husein Bawafie (Foto Denny Sakrie)

Album Ratu Sehari – Orkes Melayu Chandralela Pimpinan Husein Bawafie (Foto Denny Sakrie)

“ Dangdut Is The Music Of My Country” senandung Project Pop ,diiringi hembusan seruling bambu dan tabuhan gendang.Betulkah ?Pasti Project Pop tak sekedar mengumbar canda belaka.

Mari kita telisik dan telusuri lika-liku perjalanan musik dangdut yang mualanya tertatih-tatih.Acapkali dihina dan tak dianggap.Mungkin karena dangdut lebih dekat dengan kaum marginal,pinggiran dan ndeso serta hal-hal disharmonis lainnya.Musik dangdut kampungan.Bahkan disebut setara dengan maaf ….tahi anjing,seperti polemik seru yang terjadi antara Benny Soebardja gitaris/vokalis  grup rock Giant Step Bandung dan Oma Irama,panglima Soneta Group.

Album Tamasja Ke Puntjak (Foto Denny Sakrie)

Album Tamasja Ke Puntjak (Foto Denny Sakrie)

Tak terbantahkan jika kita menelisk silsilah dangdut maka kita akan sampai pada sebuah kuala bernama iraman melayu.Mungkin masih ingat kedigjayaan irama Melayu bisa ditoreh dari penyanyi S Effendi yang pada  dasawarsa 1960-an berhasil mengembalikan supremasi irama melayu dari Malaysia ke Indonesia.

Melalui dendangnya pada lagu Bahtera Laju Said Effendi berhasil menempatkan dirinya sebagai pelantun irama melayu nomor wahid negeri ini. Tak hanya meminggirkan ketenaran  P Ramlee, penyanyi irama melayu dan bintang film dari negeri jiran tersebut, tapi yang lebih ekstrem justeru merebut selaksa para  penggemarnya.

Album Pentjuri Hati - Orkes El Dila (Foto Denny Sakrie)

Album Pentjuri Hati – Orkes El Dila (Foto Denny Sakrie)

Puteh Ramlee yang mengaku keturunan Aceh itu beberapa tahun sebelumnya pernah berjaya antara lain lewat lagu Engkau Laksana Bulan dan Azizah. Selama beberapa tahun irama melayu berkiblat ke Malaysia. Bahkan hebatnya P  Ramlee pun  membintangi beberapa film layar lebar bersama pasangannya Kashma Boothi. Kesohoran P.Ramlee kian berkibar saja disini. Pendek kata,Ramlee menjadi sebuah prayojana penting yang tak terbantahkan sama sekali (saat itu).

Adaa pun Said Effendi yang disangka adalah penyanyi dari negeri jiran karena cengkok melayunya yang super medok,awalnya merintis karir sebagai penyanyi lagu-lagu gambus bersama iringan orkes gambus Al Wardah.Tak heran memang,Effendi sebetulnya merupakan ketuirunan Arab dari Bondowoso, Jawa Timur. Alunan suaranya yang merdu lalu kerapkali terdengar melalui gelombang  RRI Jakarta. Dengan iringan orkes studio Jakarta yang dikomandani almarhum pimpinan Sjaiful Bahri nama Said Effendi membumbung tinggi melalui sdederet lagu yang diguratnya  semisal: Bahtera Laju, Timang-timang, dan Fatwa Pujangga. Terlebih lagi saat Effendi pun menyenandungkan lagu bertajuk  Semalam di Malaya (karya Syaiful Bahri) dan Diambang Sore (karya Ismail Marzuki).

Album Ke Pesta (Foto Denny Sakrie)

Album Ke Pesta (Foto Denny Sakrie)

Said Effendi bahkan mulai  membentuk orkes melayu Irama Agung, dikuti sukses  Effendi menyanyikan lagu karya Husein Bawafie Seroja . Keberhasilan seorang said  Effendi sebenarnya merupakan titik kulminasi dari perjuangan para penyanyi lagu melayu di Indonesia.Hal ini pun diakui oleh  Zakaria , pimpinan orkes melayu Pancaran Muda yang menaruh perhatian besar terhadap perjalanan irama melayu. Menurut Zakaria , penyanyi  A Harris sebelumnya telah memecahkan masa stagnasi melalui  lagu bertajuk Kudaku Lari, Doa Ibu, Lamunanku, Alam Nirmala, dan Jaya Bahagia .Lagu lagu itu ditulis sekaligus disenandungkannyabersama iringan orkes melayu Bukit Siguntang yang juga dibentuk dan dipimpinnya.

Sukses lagu Seroja yang menggumpal ternyat justeru menarik minat sutradara Nawi Ismail untuk menarik Said  Effendi bermain ke layar sinema berdasrkan judul lagunya  Seroja.

Selain Nawi Ismail,lalu muncul sutradara alamarhum Asrul Sani yang juga mennawari Said  Effendi membuat film Titian Serambut Dibelah Tujuh. Langkah langkah semacm ini jelas makin memperkokoh popularits Said  Effendi di Indonesia  dan Malaysia.

Bahkan terjadi pula lomba  mirip bintang 

Album Harapan Orkes Melayu Irama Seni Pimpinan Cholid Babsel (Foto Denny Sakrie)

Album Harapan Orkes Melayu Irama Seni Pimpinan Cholid Babsel (Foto Denny Sakrie)

yang digelar disini dan akhirnya berhasil   memilih Ridwan Amin sebagai vokalis yang suaranya mirip Said  Effendi. Begitupula yang terjadi di negeri jiran,telah  terpilih pula  Achmad Zais,sosok yang memiliki suara bak pinang dibelah dua dengan Said Effendi. Walaupun, Achmad Zais lebih beruntung karena  sempat bernyanyi secara duet  dengan Said Effendi tatkala Effendi bermuhibah ke Malaysia ,lewat   lagu Jumpa Mesra. Penampilan terakhir Effendi di layar perak adalah lewat film Pesta Musik Lobana karya Misbah Yusa Biran. Di sini ditampilkan beberapa band remaja top masa itu karena eranya telah bergeser dari irama melayu ke musik hiburan,istilah yang digunakan saat itu untuk genre musik pop. Akhirnya sosok Said Effendi juga mulai terlupakan khalayak. Zaman berganti,dan tren pun berubah.

Jika kita mundur ke belakang, sejak dasawarsa 1950-an, Indonesia mempunai sosok-sosok yang cukup sohorl sebagai penyanyi melayu. Misalnya Emma sangga, Hasnah Thahar, Juhana Satar, Suhaemi, A Chalik, M Syaugi, dan A Harris. Yang disebut terakhir ini pernah mencuri perhatian publik irama melayu lewat lagu India, Awarahum, dan Munif Bahasuan menyanyikan lagu O Petaji. Kedua lagu itu sampai kemari lewat film yang dibintangi aktor Huindustani yang berparas tampan  Raj Kapoor .

Dan inilah para penghibur  yang menuai popularits  pada dasawarsa 1960-an seperti   Ellya Agus (kelak berubah menjadi Ellya Khadam), Ida Laila, A Rafiq, M ashabi, Munif Bahasuan, Elvie Sukaesih, Ahmad Basahil, Muchsin Alatas, Oma Irama, dan Mansyur S.Di paruh dasawarsa  1970-an mulailah muncul para penguasa zona dangdut seperti Oma Irama, Elvie Sukaesih, dan Mansyur S Uniknya Oma Irama yang kemudian mengganti nama menjadi Rhoma Irama disebut Raja Dangdut dan Elvie Sukasesih sebagai Ratu Dangdut.Kedua sosok “berkuasa” tanpa kerajaan ini mulai menyihir khalayak dengan sederet lagu-lagu dangdutnya.

Kemudian  inilah sederet  orkes melayu dan pimpinannya yang kondang  pada kurun waktu  1950-1960 yaitu  OM Sinar Medan pimpinan Umar Fauzi Aseran (yang merupakan leburan orkes gambus Al Wardah), OM Kenangan pimpinan Husein Aidid (leburan orkes gambus Al Waton), OM Bukit Siguntang pimpinan A Chalik, dan OM Irama Agung pimpinan S Effendi (1950-1960), pada periode ini di jalur musik hiburan muncul grup band Dolok Martimbang, Riana, Teruna Ria, Eka Jaya Combo, Koes Bersaudara, dan Los Suita Rama.

Selanjutnya pada dasawarsa 1960-an hingga awal 70-an mencuat  adalah OM Sinar Kemala pimpinan A Kadir, OM Kelana Ria pimpinan Adi Munif, OM Chandralela pimpinan Husein Bawafie, OM Pancaran Muda pimpinan Zakaria, dan OM Ria Bluntas pimpinan Ahmad Basahil. Sampai pertengahan dekade 1970-an tercatat OM Purnama pimpinan Awab Abdullah, dan OM Soneta pimpinan Oma Irama asal Tasikmalaya.

Orkes Melayu Bukit Siguntang banyak melahirkan lagu-lagu hit seperti Burung Nuri (A Chalik) dan Dunia (Suhaemi). Juga yang tak boleh dilupakan adalah ketenaran  sosok  Munif Bahasuan juga pernah melejit  melalui lewat lagu karyanya bertajuk Bunga Nirwana.Di tengah dasawaras 70-an lagu ini dipopulerkan kembali oleh Sam bersama kelompok D’Lloyd pimpinan Bartje Van Houten.

Namun badai musik pop pun datang meneerpa keberadaa orkes melayu.Orkes Melayu tersudut dengan menggelegaknya musik rock’nroll  pada dasawarsa 1960-an.Demikian pula musik  pop riuh rendah  oleh band band anak-anak muda yang  dilengkapi dengan peralatan musik mutakhir ,  seperti Teruna Ria (pimpinan Zaenal Arifin), Eka Jaya Combo (Rudy Rusadi), Eka Sapta (Bing Slamet), dan Koes Bersaudara (Tony Koeswoyo).

Barometer  kesuksesan  mereka ini adalahketika tampil dalam sebuah perhelatan musik akbar yang beerlangsung di Istora Senayan, dan trenyuhynya musik melayu masih tetap setia di pinggiran. Para penyanyi pop papan  menuai keberhasilan tiada tara , sebut saja misalnya Ida Royani (Sado Angkasa karya Aman Doris dan Jangan Duduk di Depan Pintu-karya Zakaria). Sukses kemudian diraih Ida Royani karena setelah menyanyikan lagu Jangan Duduk di Depan Pintu ia berduet dengan Benyamin dalam lagu-lagu bertema gambang modern yang menjadikannya terkenal.

Ada juga penyanyi  Mus Mulyadi membawakan lagu Hitam Manis-karya R Asmi dan Seminggu di Malaysia-karya Zakaria. Hampir semua band yang dikenal sebagai pembawa jenis sebagai pembawa jenis musik pop terjun kedalamnya.Ini terjadi secara massal pada tahun 1974,atas gagasan Eugene Timothy pemilik label raksasa saat itu Remaca Ada Koes Plus, Bimbo, D’lloyd merekam lagu-lagu pop melayu termasuk grup rock asal Surabya AKA Group yang dipimpin Ucok Harahap . Sejak itu Remaco mengharuskan semua grup musik yang rekaman di sana untuk memasukkan satu lagu pop melayu dalam albumnya. Tugas ini dipercayakan kepada Zakaria. Pada masa inilah muncul nama-nama beken seperti Tetty Kadi (Kasih Diambil Orang) Rhoma Irama (Anaknya Lima berduet dengan Inneke Kusumawati), dan Titiek Sandhora (Boleh-boleh Jangan dan Pura-pura Benci). Lagu-lagu tersebut merupakan hasil karya karya Zakaria.

Hingga akhirnya sukses besar yang berhasil diraih penyanyi  Ellya Agus menyanyikan lagu karangannya sendiri Kau Pergi Tanpa Pesan dan Munif Bahasuan menyanyikan lagunya sendiri Bunga Nirwana di Istora Senayan dengan iringan band paling top masa itu Eka Sapta yang didukung Bing Slamet,Idris sardi,Ireng maulana,Darmono,Itje Kaumonang dan Benny Mustafa van Diest. Pertnjukan musik terbesar itu  ternyata  diluar dugaan  memperoleh perhatian besar  masyarakat Jakarta dan sekitarnya.Mungkin karena menampilkan penyanyi yang gtengah naik daun seperti Tetty Kadi, Ernie Johan, Lilis Suryani, Pattie Bersaudara, Tom & Dick

Peristiwa itu menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya sebuah band mengiringi penyanyi melayu sehingga dianggap sebagai come back-nya irama melayu dalam blantika musik Indonesia dan untuk pertama kalinya pula sistem playback diperkenalkan kepada masyarakat. Lagu Kau Pergi Tanpa Pesan kemudian direkam Remaco dengan iringan orkes melayu Chandralela pimpinan Husein Bawafie dan terkenal luas karena menjadi makanan empuk radio-radio non RRI yang jumlahnyaq bak jamur di musik hujan.

Pada 1968 Orkes Melayu Pancaran Muda pimpinan Zakaria menggelar opertunjukandi Istora Senayan bersama Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin dalam rangka ulang tahun RRI. Lilies Suryani saat itu sedang beken dengan lagu Bulan Purnama menjadi jagoan OM Pancaran Muda di samping nama -nama lainnya seperti Juhana Satar, R Sunarsih, Elvie Sukaesih, dan Zakaria sendiri. Zaenal Combo yang didukung Enteng Tanamal dan Fuad Hasan justeru mengiringi Tetty Kadi, Alfian, Ernie Johan, dan Pattie Bersaudara.

Oma yang pernah menjadi penyanyi pop dan rock mulai menerjuni dangdut secara genial.Oma memanfaatkan elektrifikasi pada perangkat band dalam ramuan orkes melayunya.OmIa melakukan perombakan besar-besaran dalam hal instrumentasi, syair, bahkan kostum pemusiknya.Kelak Oma mulai menyusupkan ruh musik rock dalam tatanan musik dangdutnya itu.

Album Istri Baru - Orkes Melayu Sinar Kemala Pimpinan A.Kadir (Foto Denny Sakrie)

Album Istri Baru – Orkes Melayu Sinar Kemala Pimpinan A.Kadir (Foto Denny Sakrie)

Akibat yang nyata, irama melayu memperoleh predikat yang tepat yaitu dangdut.Sebuah istilah yang dirujuk dari efek suara gendang yang menjadikan irama ini memiliki ciri khas karena mengundang orang untuk bergoyang. Untuk bisa berbuat seperti itu, tentu bukan pekerjaan orang baru. Irama telah menekuni irama melayu dan hiburan sekitar lima tahun. Sejak tahun 1960 ia sudah menyanyi dengan berbagai grup musik melayu. Kesempatan pertama merekam suaranya baru diperoleh pada tahun 1960 bersama orkes melayu Chandraleka pimpinan Umar Alatas. Namun karena rekaman ini tidak berhasil mencuatkan namanya, ia pun pindah ke orkes melayu Purnama pimpinan Awab Abdullah. Belum puas, ia pun pindah ke orkes melayu Pancaran Muda pimpinan Zakaria yang merekam suaranya lewat lagu Di Dalam Bemo karya Zakaria berduet dengan Titing Yani. Dan sampai awal dekade 1970-an namanya masih tetap belum dikenal masyarakat. Masuknya Oma Irama pada zona musik pop bermula ketika menyanyikan lagu Anaknya Lima karya Zakaria bersama band Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin. Di sini Oma  yang banyak terpengaruh Paul Anka berduet dengan Inneke Kusumawati. Selanjutnya Oma Irama  berkolaborasi dengan band Galaxi pimpinan Jopie Reinhard Item yang beraliran rock.Jopie pernah ikut mendukung Empat Nada hingga Eka Sapta.

Dengan amunisi yang cukup pada akhirnya Oma Irama mulai membentuk orkes melayu Soneta pada awal tahun 1973. Dari sinilah terobodan terobiosan yang jadi bagian dari eksperimentai musiknya melesat cepat bak anak panah..”Begadang”,”Penasaran”,”Darah Muda” dan banyak lagi lainnya mulai mengepung kuping khalayak negeri ini.

Secara perlahan tapi pasti,dangdut mulai menerobos ke atas tak hanya untuk golongan menengah kebawah belaka.Dangdut bahkan bisa pukla mencapai undakan sebagai jatidiri bangsa..Dangdut mulai ada dimana-mana.Termasuk di layar kaca TV,media elektronik yang pernah alergi terhadap virus dangdut pada paruh era 70-an.

Maka berdendanglah Projerct Pop dengan aura humor : “Dangdut Is The Music Of My Country.My Country…….”.Jelas tak terbantahkan.Dan bukan sekedar humor lagi.Tapi betul adanya.

Iklan
Komentar
  1. Tony Van Java berkata:

    Rhoma Irama sebenarnya mendirikan Soneta pada 11 Desember 1970 (tanggal dan bulan bertepatan dengan ulang tahun beliau ke 24). Album pertama adalah Ratu dan Radja, diikuti Pemburu, Risalah Penyanyi, Janda Kembang, dan Tiada Lagi. Hanya saja saat itu personel Soneta masih cabutan dari beberapa grup musik Melayu, seperti OM. Purnama.

    Pada suatu waktu atas inisiatif Kadir (pemain gendang) sahabat kental Oma, didirikanlah Soneta yang secara organisatoris lebih mapan dengan memiliki anggota yang permanen. Kemudian mulai dicari personel lain dan terkumpul: Nasir (mandolin), Ayub (tamborin), Wempy (Rhytm), Herman (Bass), Hadi (seruling), Kadir (gendang), Oma Irama (gitar sekaligus lead gitar), dan Riswan (keyboard). Keyboard awalnya akan diisi oleh Shahab (eks suami Riza Umami), tapi karena pada saat penentuan ia keluar kota akhirnya Riswan-lah yang dipilih.

    Setelah terkumpul akhirnya pada 13 Oktober 1973 mereka berdelapan berikrar dan bersumpah untuk bahu membahu memajukan Soneta agar sejajar dengan grup musik lainnya. Menurut Kadir, mungkin hanya Soneta satu-satunya grup yang saat pendirian disertai dengan ikrar dan sumpah.

    Album pertama mereka adalah DANGDUT, diikuti BERBULAN MADU, JOGET, BERPACARAN, KE MONAS, dan GELANDANGAN. Album-album tersebut di bawah label REMACO.

    Pada tahun 1975 Oma Irama berpindah label ke YUKAWI, dengan merilis album pertama adalah BEGADANG, diikuti PENASARAN, dan RUPIAH. Ketiga album tersebut dirilis pada tahun 1975. Jadi selama 2,5 tahun Oma Irama dan Soneta mengeluarkan 9 album. Suatu hal yang mustahil dicapai grup musik manapun pada masa kini.

    NB.: Album BEGADANG adalah album Melayu pertama (saat itu istilah Dangdut masih ditolak musisi Melayu) yang mencantumkan istilah Dangdut pada covernya. Pencantuman itu atas inisiatif Rhoma sendiri (hasil wawancara).

    (Malang, 30/4/14)

  2. Supri Yanto berkata:

    Salam kenal saya Supriyanto dr Yogyakarta apakah mungkin di Blog ini diunggah jenis lagu jadoelnya agar bisa diunduh…..? Mkasih

  3. dennysakrie63 berkata:

    Tidak melayani.Maaf

  4. yasri koto berkata:

    Mas Denny memberikan ulasan yg komplit dan bisa menjadi referensi bagi yg ingin mengetahui sejarah musik melayu . Sebagai informasi, di tahun 72 – 75 Muchsin juga merekam lagu2 melayu spt: Hainun, Tante Girang, Anak Manja dilamun Derita, Rasyida, dan beberapa album lainnya bersama orkes dan ciptaan Zakaria. Juga tahun 75 ada lagu duet Jangan Sendiri, Kawin Gantung, Puji dan Syukur, Gila. Semua lagu2nya cukup populer sebelum era Oma Irama. Jadi, lagu2 melayu juga banyak andil dari Muchsin Alatas, selain A. Rafiq dan Ellya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s