Napak Tilas Anak Muda 70-an

Posted: September 26, 2010 in Kisah, Opini

Konser Deep Purple di Senayan Jakarta 1975

Band rock AKA saat pawai

God Bless dalam sebuah konser yang super meriah.

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas 30 Maret 2002

MASIH ingat penampilan anak muda 1970-an? Rambut gondrong menuntai, kurus kerempeng berbusana army look, celana cut-bray, dan sepatu tumit tinggi, bagi yang lelaki. Sedangkan yang perempuan berambut sasak, rok mini, dan sepatu boot setinggi lutut. Wow!

Karena ingin berambut gondrong dan bebas merokok, Supartono Suparto, atau lebih dikenal dengan panggilan Tono Bigman, akhirnya memutuskan bersekolah di Perguruan Taman Madya, SMA di Blok S, Jakarta Selatan pada tahun 1970. “Taman Madya lebih dikenal sebagai John Mayall High School karena muridnya berambut gondrong,” ungkap Tono (49), yang saat itu telah ngeband bersama grup Bigman Robinson.

Mayall, pemusik blues Inggris, dengan rambut tergerai sepunggung, sedang ngetop-ngetopnya di Indonesia, terutama di Jakarta dan Bandung. Dia menjadi idola anak muda di kurun waktu akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Di Bandung pun ada sekolah John Mayall. “Sekolah itu berada di Jalan Naripan. Murid-muridnya dibolehkan memelihara rambut gondrong,” ungkap Triawan Munaf (44), praktisi periklanan yang pernah mendukung sederet grup rock di Bandung seperti Lizzard, Giant Step, dan Gang Of Harry Roesli.

Tampaknya semangat kebebasan memang menjadi milik anak muda. Tak mau diatur, dan sarat kreativitas. “Apalagi, saat itu kita baru lepas dari pemerintahan Orde Lama yang pernah melarang budaya Barat, seperti membreidel musik ngak-ngik-ngok. Makanya wajar bila terjadi pelampiasan dengan meniru pola tingkah yang terjadi di belahan Barat sana,” jelas Tono. Musik dan fesyen yang terpicu semangat Flower Power yang anti kemapanan, merasuk di benak anak muda 1970-an negeri ini. “Walaupun harus jujur, saat itu kita cuma meniru kulitnya doang, bukan esensinya,” tambah Tono lagi. “Saat itu kita cuma meniru modenya aja. Di sana berambut gondrong, kita pun ikut,” kata Triawan sambil tergelak.

Maka berbondong-bondonglah anak muda Bandung ke kios Apple Shoes di Jalan Dipati Ukur, untuk memesan sepatu bertumit tinggi sekitar 10-15 cm. “Namanya sepatu eksotik. Yang menggunakan sepatu ini nggak jarang mengalami keseleo,” tutur Imank Wandi (46), yang menjadi penabuh drum Gang of Harry Roesli pada tahun 1970-an. Selain itu, kata Imank, mereka pun memesan baju-baju eksentrik dan eksklusif di Prima Butik di Jalan Alketiri. “Penjahit Daman di Jalan Jurang yang terkenal dengan jahit bordir pun sibuk menerima order dari anak band,” kata Iman lagi.

Tak beda jauh dengan Bandung, anak muda Jakarta pun sering mengunjungi butik Mic Mac di kawasan Menteng, Topsy di Pasar Baru, dan Hias Rias di Cikini. “Yang mereka cari adalah busana-busana yang dipakai oleh artis dan grup Barat yang mereka lihat di majalah musik Belanda Pop Foto atau Muziek Express,” kata Andy Julias (48). “Memang harus diakui, saat itu banyak yang menuding, dekadensi moral gaya hidup bebas anak muda Barat, menjadi pilihan untuk tidak disebut ketinggalan zaman. Mulai terdengar pesta dayak, kebut-kebutan, bahkan free sex,” cerita Andy. Andy juga menyebut novel Cross Mama karya Motinggo Boesje sebagai salah satu novel pop yang mewakili kondisi aktual remaja 1970-an.

Baik Andy maupun Tono sepakat mengakui warna kehidupan anak muda 1970-an menoreh banyak warna. Mulai dari pesta dayak yang acapkali menampilkan live band dari rumah ke rumah, hingga menjamurnya gang-gang di seantero Jakarta. Beberapa nama gang anak muda Jakarta yang menjadi buah bibir di antaranya adalah Legos, Sartana, Bearland, Siliwangi, dan Medisa. “Nama gang itu pun dibikin unik, kayak Sartana yang merupakan singkatan Sarinah Tanah Abang, atau Medisa yang berarti Meleng Dikit Sabet,” cerita Tono.

Apa yang dilakukan anak-anak gang? “Wah, macam-macam. Mulai dari bikin pesta, ngeband, kebut-kebutan, bikin pemancar radio, hingga rebutan cewek,” tutur Andy, yang mengaku sering nongkrong di sekitar Jalan Pegangsaan, Menteng. “Nggak bedalah dengan anak muda sekarang. Cuma, kalausekarang sering main keroyokan, dan anak muda 1970-an cenderung lebih sportif,” kata Tono, yang mengaku ikut bergaul dengan gang Bearland dan Siliwangi. Saat itu, para gadis pun seolah tidak mau kalah dengan para lelaki. Misalnya, ada gang cewek bernama Degradax yang dikenal jago kebut-kebutan mobil di jalan. “Mereka bisanya adu zig-zag dengan menggunakan mobil Toyota Hardtop dan Fiat 1300,” ungkap Tono.

***

KEGIATAN musik merupakan salah satu kegiatan anak muda 1970-an yang cukup diminati, mulai dari bikin band hingga konser. “Anak band paling banyak dikerubungi siapa saja, termasuk wanita. Kayaknya , kalau punya band, gengsinya luar biasa,” kenang Triawan. Di Bandung sendiri berderet band yang bermunculan, seperti The Rollies, Giant Step, Freedom Of Rhapsodia, Gang Of Harry Roesli dan banyak lagi. “Umumnya lebih banyak berorientasi ke musik rock. Mungkin karena rock itu berkonotasi dengan kebebasan jiwa yang berontak hinggar-bingar, dan semacamnya,” komentar Triawan.

Di Jakarta sendiri berderet panjang grup-grup band, antara lain Gipsy, Bigman Robinson, Fancy, Ireka, Rhadows, Rasela, Hookerman, Cockpit, The Lord Ayodya, The Pro’s, God Bless dan masih banyak lagi. Selain manggung di pesta-pesta rumahan, mereka juga tampil di beberapa tempat seperti Mini Disco hingga Taman Ismail Marzuki. Saat itu hampir semua band di kota-kota besar membawakan repertoar dari grup-grup kesohor dunia, seperti The Rolling Stones, Jimi Hendrix, Experience, Grand Funk Railroad, Led Zeppelin, hingga Deep Purple.

Darimana anak band memperoleh repertoar musiknya? “Saat itu sumber yang pasti adalah dari pelat atau piringan hitam. Pelat biasanya dibawa sebagai oleh-oleh dari luar negeri,” ucap Tono. Namun, tak sedikit juga yang membeli pelat di sekitar kompleks pertokoan Pasar Baru. “Ada beberapa toko di Pasar Baru yang sering dikunjungi anak muda dulu seperti toko Eropah, Combinatie, dan Sinar Jaya,” jelas Ali Gunawan (47), arsitek yang saat itu sempat menekuni dunia disko sebagai disc-jockey. Menurut Ali, yang kini memiliki koleksi piringan hitam lebih dari 10.000 keping ini, harga pelat masih sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2.000. “Harga segitu termasuk mahal,” kata Ali.

Juga populer saat itu kaset ketikan. “Kita bisa memesan rekaman lagu yang kita inginkan, lalu judul lagunya diketik sebagai sampul kaset, makanya dinamakan kaset ketikan. Biasanya ada di Jalan Bungsu, dekat perapatan lima Bandung,” kenang Triawan. Untuk mendapatkan kaset rekaman di Jakarta, kata Ali, tempat yang paling ramai dikunjungi adalah di kawasan Lokasari.

Dan tempat barang-barang bekas di bilangan jalan Surabaya juga merupakan tempat yang dikunjungi untuk memperoleh piringan hitam. Kios pelat yang terkenal di Jalan Surabaya adalah milik Silalahi. “Silalahi itu ngerti musik. Barang-barangnya pun termasuk bagus. Jadi nggak heran bila harga yang dipatok Silalahi agak mahal. Tetapi, itu nggak jadi masalah,” kata Ali.

Saking ngetopnya kios pelat Silalahi, gitaris Deep Purple, almarhum Tommy Bolin, sempat mampir di kios kecil milik lelaki berdarah Tapanuli itu. “Saya juga kaget ketika sebuah Mercedes hitam yang ditempeli spanduk Deep Purple, mampir di depan kios saya. Kebetulan waktu itu tengah dipajang album terbaru Purple yang didukung Tommy Bolin, Come Taste The Band. Bolin hanya tersenyum melihat sampul pelat itu,” kenang Silalahi (64)

Maraknya berdiri pemancar radio dengan antena bambu juga menandai kehidupan anak muda tahun 1970-an. “Radio yang cukup beken di Bandung saat itu Bonkenk yang merupakan singkatan Bongkok dan Kerempeng. Sudah pasti radio ini memutar lagu-lagu rock,” kata Imank. “Yang saya ingat, Radio Oz Bandung sering jadi tempat kita nongkrong. Malah diajak siaran segala. Bahkan band saya, Giant Step, sempat bernaung di bawah manajemen Radio Oz,” kata Triawan.

Di Jakarta sendiri bermunculan banyak pemancar radio seperti TU 47, Mr Pleasant, Prambors, dan beberapa nama unik lainnya yang rata-rata belum memiliki izin resmi. Prambors, yang berada di sekitar Menteng, baru mengantungi izin resmi sebagai radio swasta niaga pada tahun 1971. Radio yang dibentuk oleh anak-anak muda seputar Jalan Prambanan, Mendut, dan Borobudur ini (kemudian disingkat menjadi Prambors), bisa dianggap membentuk selera musik anak muda saat itu.

Radio yang menyapa pendengarnya dengan kawula muda ini menjalin akrab di antara anak muda karena memutar lagu-lagu milik The Rolling Stones, Pink Floyd, Black Sabbath, dan Led Zeppelin. “Acara seperti Blues Streamline yang memutar lagu-lagu blues sangat diminati saat itu,” kata Imran Amir, direktur utama Radio Prambors, yang di tahun 1970-an sempat mengasuh acara blues itu.

***

DIMANAKAH anak muda 1970-an nongkrong? “Yang saya ingat tempat yang sering dituju adalah roti bakar Edi di Blok M, serta makan di kawasan Pecenongan. Juga tempat-tempat hiburan seperti Tanamur di Tanah Abang, maupun Mini Disco yang berada di seberang istana,” ujar Andy. “Kalau di Bandung biasanya kita dulu sering ngumpul di Jalan Merdeka, juga minum sekoteng di Jalan Bungsu,” kata Imank.

Triawan tidak bisa melupakan restoran Tizi’s di Hegar Manah, yang antara lain menyediakan menu khusus Cream Chicken Soup, dan shaslik (sejenis sate daging). “Dan tentu saja draft beer,” katanya lagi. Anak muda Jakarta 1970-an juga sangat menikmati acara Malam Muda Mudi yang diprakarsai Gubernur Ali Sadikin dengan menampilkan sederet band-band terkenal, mulai dari pop, dangdut, hingga rock. “Di sepanjang Jalan Thamrin hingga Bundaran HI, dibangun panggung-panggung acara semalam suntuk,” kata Tono. “Bigman Robinson sering kebagian panggung yang berada tepat di samping Bundaran HI,” tambahnya.

Saat itu yang namanya hiburan memang merupakan barang langka. Jadi tidak heran setiap ada acara pertunjukan gratis seperti Malam Muda Mudi, penonton acapkali tumpah ruah. Bisa juga dicatat konser yang diberi judul mentereng, Summer 28, yang digelar di Ragunan, Pasar Minggu, tanggal 16 Agustus 1973. Summer 28 sendiri merupakan akronim Suasana Menjelang Merdeka ke-28, dan konon digelar untuk meniru pesta musik akbar Woodstock di AS tahun 1969.

Maka ditampilkanlah sederet pemusik berbagai aliran dalam acara Summer 28 yang berlangsung dari siang hingga dini hari. Grup-grup yang unjuk gigi di acara yang dihadiri ratusan ribu penonton itu antara lain Koes Plus, The Disc. The Mercy’s, Panbers, Bimbo, Gembell’s, Bimbo, Pretty Sister, The Rollies, Gang of Harry Roesli, Broery Marantika, The Pro’s, Idris Sardi, Remy Silado, Trio Los Morenos, Young Gipsy, Fly Baits, dan God Bless.

Dua tahun berselang, konser akbar terulang lagi di Jakarta. Kali ini menampilkan Deep Purple yang berlangsung selama dua hari berturut-turut, 4 dan 5 Desember 1975. “Selama dua hari berturut-turut konser ini ditonton sekitar 100.000 penonton,” ungkap Denny Sabri dari majalah Aktuil, yang bekerja sama dengan promotor Peter Basuki dari Buena Ventura.

Sayangnya, selama konser sempat terjadi kericuhan yang dipicu oleh penonton. “Saya nggak habis pikir para penonton bisa jadi brutal di saat menikmati suguhan musik. Meskipun penonton membludak, tetapi kami sebagai penyelenggara, mengalami kerugian karena banyak penonton yang masuk menerobos tanpa membeli tiket,” tutur Denny, yang saat ini masih menekuni profesi sebagai pemandu bakat di Bandung.

Setelah sekian tahun berselang, Deep Purple yang memasuki usia senja, mampir kembali di Jakarta. Apakah sambutan penonton masih tetap menggebu-gebu seperti dulu? “Rasanya nggak. Mungkin bisa dianggap sebagai ajang nostalgia belaka,” tutur Triawan. “Apalagi, konser supergrup luar negeri, sekarang bukan hal yang baru lagi,” tambah Andy.

“Mungkin di situ pula letak beda romantika anak muda 1970-an dengan terseret ke alam globalisasi. Kalau dulu emuanya serba terbatas, info musik dan gaya hidup cuma bisa disadap dari majalah Aktuil yang bisa disebut bacaan wajib anak muda. Kalau sekarang, arus informasi sudah sedemikian derasnya bahkan kita nyaris tidak bisa membendungnya dalam filter budaya kita lagi,” kata Andy.

“Tetapi, anak muda sekarang yang begitu banyak dimudahkan oleh fasilitas, apa masih memiliki kreativitas tinggi? Ini yang patut dipertanyakan secara serius. Dulu, kita dengan segala keterbatasan malah mencuatkan kreativitas. Contohnya, ya bikin sepatu tumit tinggi, atau malah bikin dry ice tiruan untuk manggung, dan banyak contoh lainnya,” kata Triawan. Betulkah?

The Rollies 1970

Komentar
  1. Herry Gunawan mengatakan:

    Wah……sangat informatif banget

  2. Ian Gomper mengatakan:

    Salam kenal Denny, sy juga sudah follow di twitter…..

    Sekedar tambahan info, saya sekitar 70an tinggal di Tebet….genk saat itu di tebet salah satunya adalah Wayank Stones (1974) yg dipimpin oleh Alm. Tino Karno di Tebet Timur, sedang di Tebet Barat ada anak2 Lidah, kebanyakan memang penggemar berat The Rolling Stones, karena itu sampai saat ini Tebet memang salah satu ‘Lumbung’ penggemar Rolling Stones….dan genk motor/mobilnya adalah Bank-Bank, apalagi saat ramai2nya motor trail…..Pondok Indah (yg saat itu sedang dibangun) menjadi tempat favorit anak2 Jkt ngetrail…..

    Tambahan info lagi…..sekitar 1975 pernah diadakan Festival Discotheque, pesertanya dtg dari berbagai kota (saya waktu itu nonton finalnya), beberapa Discotheque yg sy masih ingat adalah SUBEC (dr Tebet), CHOKREM (cowok krempeng), ANEH (anak-anak negeri hayal)….silahkan diperdalam info ttg festival discotheque ini

    Salam

  3. Ian Gomper mengatakan:

    Salam kenal Denny, sy juga sudah follow di twitter…..

    Sekedar tambahan info, saya sekitar 70an tinggal di Tebet….genk saat itu di tebet salah satunya adalah Wayank Stones (1974) yg dipimpin oleh Alm. Tino Karno di Tebet Timur, sedang di Tebet Barat ada anak2 Lidah, kebanyakan memang penggemar berat The Rolling Stones, karena itu sampai saat ini Tebet memang salah satu ‘Lumbung’ penggemar Rolling Stones….dan genk motor/mobilnya adalah Bank-Bank, apalagi saat ramai2nya motor trail…..Pondok Indah (yg saat itu sedang dibangun) menjadi tempat favorit anak2 Jkt ngetrail…..

    Tambahan info lagi…..sekitar 1975 pernah diadakan Festival Discotheque, pesertanya dtg dari berbagai kota (saya waktu itu nonton finalnya), beberapa Discotheque yg sy masih ingat adalah SUBEC (dr Tebet), CHOKREM (cowok krempeng), ANEH (anak-anak negeri hayal)….silahkan diperdalam info ttg festival discotheque ini

    Sedikit komen foto The Rollies…..tampaknya itu foto thn 1973…..kalau 1970 berarti masih ada Deddy, Gito dan Iwan

    Salam

  4. Ian Gomper mengatakan:

    oh iya ya di bawah itu Gito….kalau Iwannya yg mana? setahu saya Deddy Stanzah keluar dari Rollies thn 74….jadi foto ini diambil tahun 74 atau lebih….

  5. Ian Gomper mengatakan:

    Hehehe iya ya bisa saja terjadi. Soalnya baru melihat foto ini.
    Senang bisa ngobrol dan berkawan dengan Denny. Salut atas tulisan2nya.
    Sejarah Musik Indonesia memang layak dipetakan.

  6. Lord Jim mengatakan:

    Pada tahun 1967 saya tinggal di daerah tanah abang II, saya main band posisi guitar dengan almarhum Paulce Endoh bergabung dalam grup The Beast, sering main bersama dirumahan, stania, bhara widya dan kolam renang Cikini, sering ketemu dengan Gipsy, Gipsy yunior, Bigman Robinson, Fancy, The Zonk, The Hips, Chekinks, Rhadows, Beat Stone, Band prambors, band Kanisius, Panbers, Flower Poetman (Guruh),Patas, Hookerman pada umumnya band Jakarta waktu itu yangsemuanya bawa lagu2 cover version rock yang populer saat itu (tidak ada lagu indo)

  7. arcom sukarno mengatakan:

    Bung Denny saya tunggu tulisan anda tentang group AKA, syukur kalau anda punya album AKA berbagi dong dengan saya, minimal saya bisa copy baik MP3 atau MP4, thanks banget.

  8. dennysakrie63 mengatakan:

    Wah saya gak punya MP3 atau MP4.Sorry

  9. yayat hidayar anir mengatakan:

    hehehe…., masa yang penuh kenangan bagi koboy kampung macam diriku. Ya, zaman rollies manggung di kampus dan sekolahan, zaman ngetopnya majalah aktuil.

  10. Edo mengatakan:

    Wah jadi ingat tahun 70an. Nice to remember. Kalau bisa, tambahin dg disko2 di Jakarta seperti GR, ORI, Tanamur dll, krn merupakan tempat nongkrong saat itu. Dan jangan lupa : Bubur ayam – Java Room HI.

  11. Ali mengatakan:

    aku belum lahir hixz…

  12. Riki mengatakan:

    Di Bandung awal 70 an ada radio VOC nggak punya ijin lah, kayanya saudara tuanya Bonkkenk , salah satu back soundnya I think I’m gonna cry…..Lagu2nya ELP, Yess , Blackwell , Bloodrock, Tower of Power…King Crimpson….keren abizzzz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s