Scorsese Memanusiawikan The Rolling Stones

Posted: September 30, 2010 in Uncategorized

Martin Scorsese tak perlu lagi menulis plays this movie loud! Pada opening credit “ShineA Light” seperti yang dilakukannya pada rockumentarynya di tahun 1976 “The Last Waltz” tentang konser perpisahan grup rock The Band.Karena aura The Rolling Stones sebagai grup rock yang telah berusia 40 tahun lebih itu telah menyiratkan itu semua.

Saya yang telah nonton “Shine A Light” dalam bentuk DVD toh merasa tak afdol jika tak menonton langsung dalam bioskop.Kebetulan Jiffest 2009 menyertakan “Shine A Light” dalam salah satu film yang diputar.Sudah pasti,kesempatan ini tak saya sia-siakan.

Apalagi “ShineA Light” agak berbeda dengan rockumentary The Rolling Stones lainnya seperti “Gimme Shelter” (1970) yang dibesut Albert Maysles,David Maysles dan Charlotte Mitchell Zwerin maupun “Symphaty For The Devil” (1968) yang digarap Jean Luc Goddard.

Dimana letak perbedaannya ?.Seorang teman dengan nada pesimis malah mengatakan bahwa “Shine A Light” adalah sebuah film konser biasa.Jelas argumen ini saya tampik.Karena setelah menonton “ShineA Light” kita pun mahfum bahwa Martin Scorsese yang maniak dengan karya karya the Rolling Stones justeru tengah ingin menempatkan The Stones pada bingkai yang lain.Bukan lagi sebagai band rock and roll berlumur pernak-pernik kontroversi.Bukan lagi mencitrakan sosok bad boys .Melainkan sebuah band dalam bingkai yang lebih manusiawi,yang dicintai seisi rumah.Sebuah band keluarga.

Menyelusupnya keluarga Bill Clinton di balik panggung sebelum konser memperlihatkan hal ini.Terlihat Bill Clinton bersama Hillary isterinya dan Chelsea puterinya bersilaturahmi dengan TheStones.Juga ibunda Clinton.Sebuah adegan yang tak mungkin ditemui pada “Gimme Shelter” yang justeru memfokuskan pada peristiwa berdarah terbunuhnya seorang remaja ditengah kerumunan penonton ditangan Hell’s Angel,kelompok biker yang selalu hadir dalam setiap konser The Stones.

Walaupun konser TheStones dibuka oleh Bill Clinton,tapi di film ini tak ada susupan pernak pernik politik seperti yang terlihat pada film “Symphaty For TheDevil” nya Jean Luc Goddard yang menyelusupkan issue politik seperti blackpower,Marxisme hingga rasisme.

“Shine A Light” lebih ingin merekam energi sebuah band yang tak pernah padam,walau pun usia pendukungnya telah memasuki senjakala.Tak ada sedikitpun petikan wawancara tentang misteri meninggalnya gitaris Brian Jones,misalnya.Bahkan lirik lagu “Some Girls” yang pernah menuai protes antara lain dari Jesse Jackson di tahun 1978 pun telah dijinakkan.Mick Jagger tak lagi menyenandungkan : Black girls just just wanna fucked up all night.Semua telah disterilkan.Scorsese ingin memanusiawikan The Rolling Stones yang terlanjur dicap biang rusuh,sarat kontroversi dan semacamnya.Rocker juga manusia, mungkin itulah yang ingin diungkap Marty bersama sinematografer peraih Oscar Robert Ricahrdson beserta the A –Team Andrew Lesnie,Albert Maysles,Ellen Kurass,John Toll,Robert Elswhit,Declan Quinn,Stuart Dryburgh dan Emmanuel Lubezki dengan crane yang melayang di atas kepala penonton mengikuti gerak Mick Jagger dan kawan kawan di Beacon Theater New York yang ditonton sekitar 2.5000 penonton pada tanggal 29 Oktober dan 1 November 2006 silam. Keith Richard dengan dandanan khas bak perompak pun bercanda :”Hey Clinton,I’m bushed !”.

Dalam production notes Marty menulis :” “We did talk about making an official tour film but at a certain point, I thought making something more intimate would be more suited to me as a filmmaker and would also facilitate a more personal connection between the audience and the band”.

Di awal film terlihat betapa alotnya diskusi antara Martin Scorsese dan The Rolling Stones terutama Mick Jagger,mulai dari set panggung,penempatan tata cahaya hingga setlist (susunan lagu) yang akan dibawakan TheRolling Stones.Marty yang menggemari the Rolling Stones sangat care terhadap setlist The Stones,untuk rundown script.Marty sangat paham mengenai struktur lagu-lagu The Stones.”Biasanya Keith membuka dengan strumming gitar” ungkap Marty pada crew-nya.Marty sendiri menyusun setlist yang diusulkannya pada Rolling Stones.Rolling Stones pun telah mengirimkan setlist yang dibagi dalam kategori : well-known dan medium known.

Tapi sampai pada hari H,setlist yang permanent belum juga diberikan Mick ke Marty yang sudah uring-uringan.30 detik sebelum konser dibuka,barulah setlist sampai di tangan Marty.Akhirnya konser pun direkam tanpa skrip sama sekali.Tapi toh,kita tetap melihat sinkronisasi yang bagus antara lighting dan Mick Jagger yang tengah melantunkan “Symphaty For The Devil”.Luar biasa.Saat Jagger mengangkat kedua belah tangannya,secara simultan lighting pun ikut berpijar terang.

Pengambilan angle gambar pun sangat detil.Kolaborasi antara Marty dan editorDavidTedeschi patut dipuji. Lihatlah saat bintang tamu gitaris Buddy Guy melakukan slide gitar,kamera pun dengan sigap berpindah ke jari jemari Guy.Sebuah editing yang memukau.Ini bisa terjadi karena kecintaan yang luar biasa dari seorang Martin Scorsese terhadap The Rolling Stones.Dalam beberapa film-film garapannya,memang senantiasa hadir lagu-lagu The Rolling Stones dalam soundtracknya.

TheRolling Stones memang salah satu dari keajaiban musik rock.Mick Jagger tetap lincah bergerak dari sisi panggung ke sisi lainnya tanpa lelah.Keith walau dengan petikan gitar yang terkadang sumbang tetap memancarkan keunikan.Dan kamera pun merekam CharlieWatts yang terengah engah usai menampilkan “Shattered”.Ron Wood tak pernah lepas dengan isapan rokoknya.

Tubuh keempat The Stones tak berubah.Tak satupun yang berubah tambun.Yang berubah mungkin kerut muka.Rambut Watts telah memutih.Richards pun selalu mengenakan bandana untuk menutup rambutnya yang luruh.

Marty pun menyelipkan petikan interview dari Jagger,Richrds,Wood dan Watts dari era 60-an hingga 70-an.Sebuah upaya melekatkan history dalam konser The Stones.Meskipun sangat disayangkan,sama sekali tak ada petikan wawancara terhadap personil The Stones di masa lalu seperti Brian Jones,Bill Wyman atau Mick Taylor.

Quote wawancara yang dipilih Marty memang memberikan aksentuasi dalam “ShineA Light”.Ketika Jagger ditanya tentang apa yang dilakukannya pada saat berusia 60 tahun.Jagger pun menjawab dengan enteng : “Easily…..!”

Dalam “ShineA Light” The Rolling Stones menjadi tak jelas asal usul negaranya.Mereka tak tampak lagi sebagai band Inggeris yang sempat membuat band band Amerika resah saat “British Invasion” pada dasawarsa 60-an.Bersama bintang tamu seperti Jack White III dari The White Stripes dengan suara nassalnya,Buddy Guy dengan ruh blues yang menjadi inspirasi utama musik The Stones hingga Christina Aguleira yang terampil menafsirkan R&B saat berduet dengan Mick Jagger membawakan “Live With Me”.Keduanya pun berangkul mesra,walau terlihat seperti pelukan antara ayah dan puterinya.

Dalam konser yang menjadi bagian tur album terakhirnya “Big Banger”,diluar dugaan The Stones mmbawakan lagu yang jarang mereka tampilkan di pentas seperti “Far Away Eyes” dengan gaya country.Ronnie Wood memainkan steel guitar disini.Mungkin karena bermain di New York,di film ini The Rolling Stones banyak memainkan lagu dari album “Some Girls” (1978) seperti “Just My Imagination”,”Shattered”,”Far Away Eyes” dan “Some Girls”.”Album “Some Girls” ini memang banyak menyerap kota New York sebagai inspirasi saat merekamnya pada tahun 1977” ujar Mick Jagger.

Selama durasi 2 jam lewat “Shine A Light”,Martin Scorsese seolah melengkapi atribut The Rolling Stones sebagai “The World’s Greatest Rock and Roll Band”.Film ini pun menambah geliman sinar kegemilangann band asal Inggeris itu. Sebuah evolusi dari grup rock raksasa yang pantas ditonton.

Denny Sakrie *

Martin Scorsese dan Mick Jagger

* penulis adalah pengamat musik dan penikmat film

(Tulisan ini dimuat di www.rumahfilm.org)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s