Bangkitnya Eka Sapta

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized
Hampir dipastikan, generasi sekarang nyaris tidak mengetahui eksistensi
kelompok musik Eka Sapta. Inilah salah satu band papan atas Indonesia yang
malang-melintang dalam industri musik pop era 1960 -1970. Dalam band ini
berkumpul sederet pemusik sohor mulai dari Bing Slamet, Idris Sardi, hingga
Ireng Maulana. Lalu bagaimana sejarah Eka Sapta?
Dari sampul belakang piringan hitam Eka Sapta tersemat sejumput kisah tentang Eka Sapta:
Berdasar ide jang baik dari sekelompok seniman-seniman ibukota untuk
menjumbangkan dharma bhaktinja demi memadjukan musik berselera baik ke tengah
masjarakat ramai,memadjukan karja komponis komponis Indonesia untuk langkah
pertama, maka pada tanggal 1 Djuni 1963 jang lalu lahirlah sebuah perkumpulan
musik jang diberi nama “Eka Sapta” dibawah pimpinan Sapta Tunggal. Suatu
keanehan dari perkumpulan musik ini ialah, tidak mempunjai seorang pimpinan
tetap, melainkan semua anggautanja setjara bergilir memegang pimpinan. Semua
anggauta berhak mengeluarkan pendapat pendapatnja demi memadjukan Eka Sapta
untuk mempertinggi mutu musik jang ditondjolkan kemuka. Karena itu pula Eka
Sapta djalan sendiri ditengah-tengah kesibukan dunia musik sekarang ini –
mengemukakan berbagai tjorak dan pelbagai warna musik ketengah-tengah chalajak ramai.
Adapun anggauta-anggauta dari orkes Eka Sapta ialah Bing Slamet (gitar,
perkusi, vocal), Idris Sardi (biola, bass), Itje Kumaunang (gitar,
composer), Ireng Maulana (gitar), Benny Mustafa Van Diest (drums), Darmono
(vibraphone) dan Muljono (piano, organ).
Dream Team
Singkatnya, Eka Sapta diniatkan menjadi kelompok musik serba bisa. Yang mampu
memainkan musik pop dari berbagai sub-genre. Eka Sapta saat itu telah dianggap
sebagai kelompok musik pengiring yang berkualitas. Apalagi latar belakang para
pemusiknya yang cukup beragam. Idris Sardi, misalnya, memiliki latar belakang
musik klasik dan orkestrasi. Itje Kumaunang adalah gitaris yang hirau pada musik
jazz dan pencipta lagu terkenal ‘Pengembara’ dan ‘Kasih Mesra’.
Ireng Maulana dan Benny Mustafa Van Diest, saat itu telah dikenal sebagai
pentolan kelompok The Leading Stars. Belum lagi Bing Slamet, seniman serba bisa
yang piawai bermain gitar, menyanyi, menulis lagu, bermain film, dan melawak.
Tak berlebihan jika Eka Sapta disebut sebagai The Dream Team.
Kekuatan dari segi musikal Eka Sapta lebih terangkat lagi terutama
bersinerginya kelompok ini dengan Yamin Widjaja. Dia sahabat Bing Slamet sejak
kecil yang berkecimpung dalam industri musik Tanah Air. Yamin yang kerap
dipanggil Amin Cengli ini berperan sebagai penyandang dana Eka Sapta. Mulai dari
fasilitas untuk berlatih, menyediakan instrumen musik mutakhir hingga menggiring
Eka Sapta masuk dapur rekaman. Amin Cengli yang memiliki toko elektronik di
kawasan Pasar Baru memang telah merintis mendirikan perusahaan rekaman seperti
Bali Record, Canary, Mutiara, dan kemudian menjelma menjadi Metropolitan yang
kelak berubah menjadi Musica Studio’s pada awal dekade 1970-an.
Konsep Instrumental
Saat Eka Sapta melangkah ke dunia rekaman, popularitas kelompok musik
instrumental seperti The Ventures lewat hits ‘Walk Don’t Run’ dan ‘Hawaii
Five-O’ maupun The Shadows lewat hits ‘Apache’ dan ‘Kon Tiki’ tengah meretas.
Eka Sapta merasa warna musik kedua grup itu dekat dengan konsep mereka sebagai
kelompok instrumental yang menaruh porsi gitar di undakan pertama. Gaya duo
gitar Hank Marvin dan Bruce Welch dari The Shadows maupun duo gitar Bob Bogle
dan Don Wilson dari The Ventures terasa mempengaruhi konsep musik Eka Sapta.
Sebagai pemain bas Eka Sapta, Idris Sardi menggemari teknik bermain bass Nokie
Edwards dari The Ventures.
Jadi, tak heran jika debut album perdana Eka Sapta lebih memilih memainkan
karya-karya instrumental seperti ‘Tirtonadi’ (ciptaan Gesang), ‘Gambang Suling’
(ciptaan Ki Narto Sabdo), ‘Euis’ (ciptaan M Jasin), ‘Kalau Djodo’ (ciptaan R
Maruthi), ‘Gadisku’ (ciptaan Ireng Maulana), ‘Herlina’ (ciptaan Bing Slamet),
serta ‘Titian Nan Lapuak’ dan ‘Suling Bambu’.
Selain itu, Eka Sapta pun mulai mengiringi sejumlah penyanyi dalam
album-albumnya seperti album EP (Extended Play) bertajuk Kasih Remadja. Album
ini menampilkan duet antara Ireng Maulana dan Alice Iskak melantunkan empat lagu
yaitu ‘Hey Paula’, sebuah hits yang dipopulerkan duet Paul & Paula, ‘Dua Insan
Di Dunia’, ‘Dara Manis’, dan ‘Kasih Remadja’. Di album EP lainnya, Eka Sapta
mengiringi Bing Slamet dalam album Bing dan Giman Bernjanji. Di album yang
berisikan lagu seperti ‘Bunda Piara’, ‘Bing dan Giman Bernjanji’, ‘Burung Nuri’,
dan ‘Kunanti Djawabmu’ ini, Bing Slamet berduet dengan Giman yakni suara Bing
Slamet sendiri yang meniru album Alvin & The Chipmunks.
Yang pantas dicatat adalah album Eka Sapta bertajuk Varia Malam Eka Sapta yang
dirilis Bali Records pada tahun 1964. Eka Sapta di sini mengiringi berbagai
penyanyi yang tenar saat itu, seperti Tetty Kadi (‘Semalam Di Kuala Lumpur’),
Lilies Surjani (‘Ulang Tahun Kakek’), Trio Parsito (‘Django’), Yanti Bersaudara
(‘Sang Bango’), Munif (‘Bunga Nirwana’), Elly Kasim (‘Mudiak Arau’), Elly M
Harris (‘Kau Pergi Tanpa Pesan’) serta dua karya instrumental, yaitu ‘Bingkisan
Eka Sapta’ yang dibawakan Eka Sapta dan penampilan biola Idris Sardi dalam
‘Bingkisan Idris Sardi’.
Album ini memang diangkat dari pertunjukan Malam Eka Sapta Non Stop Revue yang
berlangsung di delapan kota. Di sampul belakang album tertulis sebuah liner
notes: “Hadirin sempat tertegun mengagumi suatu rangkaian tari, njanjian, lawak,
dan musical show jang terpadukan dengan harmonis disirami permainan tjahaja
dengan utas-utas jang gemerlapan berwarna sedap, indah, dan dekorasi jang
menakdjubkan. Ini semuanja berlangsung pada “Malam Eka Sapta Non Stop Revue”.
Pergantian Formasi
Di saat Eka Sapta merambah popularitas, secara bersamaan muncul problema.
Beberapa personelnya, seperti Benny Mustafa Van Diest, Ireng Maulana, dan Idris
Sardi disibukkan dalam kegitan nonmusik. Solusi pun dicari. Beberapa personel
baru masuk ke dalam formasi Eka Sapta, di antaranya drummer Eddy Tulis, bassist
Enteng Tanamal, dan gitaris Kibout Maulana.
Tanpa terasa, personel Eka Sapta semakin bertambah dengan masuknya Hengky
Firmansyah (gitar), Jopie Reinhard Item (gitar), Ariffin Z (terompet) dan W
Wiharto (saksofon, flute). Selain itu juga terbentuk Eka Sapta Junior yang
terdiri atas Jopie Reinhard Item (gitar), Rully Djohan (kibor), Papo Parera
(bas), Ronny Makasutji (bas), Henky Makasutji (drum) dan Henky Firmansyah
(gitar).
Terkadang, formasi Eka Sapta dan Eka Sapta Junior menyatu, baik di panggung
pertunjukan maupun rekaman. Formasi inilah yang kemudian merilis album bertema
musik keroncong modern yaitu Eka Sapta Kerontjong (1970) dengan lagu ‘Tjinta
Pertama’, ‘Pulau Seribu’, ‘Love Is Blue’, ‘Don’t Forget To Remember Me’, ‘Whiter
Shade Of Pale’, dan album The Best Of Romantic Keronchong (1972) dengan lagu
‘Spinning Wheel’, ‘Nobody’s Child’, ‘For Mama’, ‘I Can’t Stop Loving You’, ‘Song
Of Joy’. ‘Aquarius’, dan banyak lagi yang diproduksi oleh Canary dan
Metropolitan Studio milik Amin Widjaja.
Tak pernah bubar
Mendung menyelimuti Eka Sapta, ketika satu per satu personelnya berpulang ke
rahmatullah. Di awali dengan meninggalnya Bing Slamet sang inspirator pada
tanggal 17 Desember 1974 lalu disusul dengan kepergian Eddy Tulis. Lima tahun
berselang Amin Widjaja berpulang pada Agustus 1979. Bahkan para personelnya
mulai disibukkan oleh proyek musik sendiri-sendiri. Ireng Maulana dan Benny
Mustafa membentuk kelompok jazz Ireng Maulana All Stars. Jopie Item pun
merancang grup jazz rock dengan nama Jopie Item Combo. Idris aktif sebagai
penata musik film yang berkali kali meraih Piala Citra. Enteng Tanamal menjadi
produser rekaman dan menggagas Yayasan Karya Cipta Indonesia.
Alhasil, Eka Sapta hanya tinggal nama belaka. Secara resmi Eka Sapta memang
tak pernah membubarkan diri.
Di tahun ini bahkan terbetik kabar bahwa Eka Sapta akan melakukan reuni yang
ditandai dengan merilis sebuah album pada perusahaan rekaman peninggalan Amin
Widjaja yaitu Musica Studio’s. Personel Eka Sapta yang dipastikan akan mendukung
album ini antara lain Jopie Item, Benny Mustafa, Kibout Maulana, Idris Sardi.
Penampilan Eka Sapta ini akan mengiringi putra-putri mereka bernyanyi. Ada Audy
(putri Jopie Item), Andrea (putri Ireng Maulana), Lukman Sardi (putra Idris
Sardi), bahkan cucu Bing Slamet (putra Adi Bing Slamet) telah dijadwalkan ikut
dalam sesi rekaman reuni Eka Sapta.
Mari kita nantikan kebangkitan Eka Sapta.
DISKOGRAFI
1. Burung Kutjitja – Eka Sapta (Mutiara MEP 007 – 1963)
2. Eka Sapta – Eka Sapta (Mutiara ML 10001 – 1963)
3. Kasih Remadja – Eka Sapta , Ireng Maulana & Alice Iskak (Bali BER 007 -1963)
4. Bing dan Giman Bernjanji – Eka Sapta & Bing Slamet (Bali BER 008 – 1963)

5.Varia Malam Eka Sapta Non Stop Revue – Eka Sapta (Bali BLM 7002- 1969)
6. Bing Slamet dan Eka Sapta – Eka Sapta (Bali BLM 7007 – 1970)
7. Kerontjong – Eka Sapta (Canary 1970)
8. The Best Of Romantic Keronchong (Canary/Metropolitan 1972)
9. Album Kenang Kenangan Bing Slamet – Eka Sapta (Bali Record BL C01 1975)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s