Dahaga Yang Tak Tertahankan

Posted: Januari 4, 2011 in Kisah, Opini

Suara sopran Berlian Hutauruk melengking membelah Jakarta Convention Center pada 28 Maret 2007 dalam konser Badai Pasti Berlalu, yang mengetengahkan tafsir ulang album soundtrack itu oleh Andi Rianto dan didukung Ari Lasso, Audy, Astrid, Andy/rif, Marshanda, Nindy, Lucky, dan banyak lagi penyanyi.

Meski telah memasuki dasawarsa ketiga, album yang dikerjakan Eros Djarot, Chrisye (almarhum), Yockie Soeryoprayogo, Debby Nasution, Fariz RM, Keenan Nasution, dan Berlian ini bagi sebagian besar khalayak masih bertabur misteri. Siapa yang menyangka Berlian yang dengan sempurna mengekspresikan penampilannya lewat Matahari itu pernah “menuai badai” ketika Badai Pasti Berlalu (BPB) meledak di pasar tahun 1978?

Berlian melalui kuasa hukum Albert Hasibuan pada 10 Februari 1978 memasang iklan di sebuah harian yang isinya menggugat In Cun, pemilik Irama Mas yang mengedarkan BPB dengan tuntutan menarik kaset itu dari pasar serta membayar ganti rugi Rp 20 juta.

Berlian tersentak karena dalam perjanjian dengan Eros dia diminta menyanyikan Matahari dan BPB hanya untuk tayangan film karya Teguh Karya itu saja. Dia dibayar Rp 150.000, tetapi vokal dia dimasukkan juga ke dalam kaset BPB yang sampulnya bergambar Christine Hakim tengah berlari dengan dominasi warna hijau itu. Di kaset Berlian menyanyikan Semusim serta berduet dengan Chrisye dalam lagu Khayalku.

Menurut Berlian, Eros menawari dia menyanyikan dua lagu itu hanya untuk contoh (sampel) yang rencananya akan ditawarkan ke beberapa produser rekaman. Berlian setuju, kemudian menyanyikan Semusim secara solo dan Khayalku bersama Chrisye. Kedua lagu itu hasil kolaborasi Eros dengan Debby.

Menurut Debby, kedua lagu sudah dipakai untuk ilustrasi musik film Perkawinan dalam Semusim karya Teguh Karya sebelum film BPB.

Ide membuat BPB datang dari Eros yang berniat merilis lagu-lagu yang dimainkan di filmnya. Ada empat lagu dari film, yaitu Merpati Putih, Matahari, Baju Pengantin, dan BPB. Merpati Putih dan Baju Pengantin dinyanyikan Broery Pesoelima dan sisanya oleh Berlian.

Teguh Karya sempat tidak setuju Berlian yang mengisi vokal. “Dia lebih suka tipe penyanyi bersuara lembut seperti Anna Mathovani,” cerita Eros. “Karena materi lagu tak cukup untuk dikasetkan, ditambahkanlah lagu-lagu lainnya,” ungkap Eros.

Eros bersama Chrisye dan Yockie menambahkan beberapa lagu. Muncullah dua lagu Chrisye, Serasa dan Merepih Alam, serta sebuah instrumental garapan mereka bertiga yang dijuduli huruf depan nama mereka E&C&Y. Eros lalu mendapatkan lagi beberapa lagu dari Debby yang belum memiliki lirik. “Salah satunya Angin Malam yang ditulis Debby untuk pertunjukannya Barong’s Band, band yang dibentuk Eros,” ujar Keenan yang bermain drum pada lagu Khayalku, Semusim, dan Angin Malam.

“Lagu-lagu Debby sudah direkam dalam bentuk demo, lalu kami garap ulang. Eros menulis lirik dan saya menambahkan kibornya,” tutur Yockie pula.

Untuk lagu-lagu bertempo agak cepat seperti Serasa, Cintaku, dan E&C&Y, Yockie merekrut Fariz, pentolan dari Vokal Grup SMA III Setiabudi, Jakarta. Sebetulnya Semusim dibuat dalam versi lain dengan lirik yang ditulis dalam bahasa Perancis. “Lirik Perancis itu ditulis istri Slamet Rahardjo dan yang menyanyikannya Titi Qadarsih,” tutur Debby.

Ketika kaset BPB menuai sukses, Berlian menuntut haknya. Berhubung Eros sedang di London (Inggris) untuk belajar sinematografi, Berlian menuntut Irama Mas.

Konflik kian meruncing ketika In Cun dari Irama Mas dengan kuasa hukum Sahat Maruli Simorangkir menuntut balik Berlian dengan ganti rugi Rp 50 juta. Namun, sengketa antara Berlian dan Irama Mas berakhir ketika kedua pihak sepakat menyelesaikannya di luar pengadilan. Berlian yang semula menuntut Rp 20 juta akhirnya menerima Rp 3 juta dari Irama Mas.

Saat Eros berada di London, Chrisye diminta memantau pembagian royalti dari penjualan album ini. “Ada bagian buat lu Yock, lumayan buat beli rokok,” ungkap Chrisye seperti dituturkan Yockie yang ditemui di rumahnya pada 3 April 2007.

Yockie sendiri mengaku tak pernah mengambil royaltinya. “Saya enggak mau ribet dan ikhlas saja. Ikut terlibat dalam penggarapan album itu saja membuat saya bangga bahwa saya pun pernah berbuat sesuatu meskipun mungkin ada yang enggak tahu keterlibatan saya seperti apa,” ungkapnya.

Badai demi badai

Sejak saat itu badai demi badai mulai menerpa di seputar para pendukung album yang menghabiskan budget Rp 2 juta dengan masa penggarapan sekitar 21 hari di studio Irama Mas yang berlokasi di Pluit, Jakarta Utara, itu. Sengketa lain yang mencuat adalah perihal siapa yang menulis lagu. Saling tuntut terjadi antara Debby dan Eros.

Jika merujuk pada sampul album, tak ada indikasi jelas siapa yang menulis lagu-lagu. Yang tertera hanya Eros sebagai “music director” dan “vokal Christian dan Berlian Hutauruk”. Lalu ada nama Yockie, Fariz, Debby, dan Keenan.

Menurut Yockie, saling tuntut terjadi setelah album menuai sukses sejak dirilis berkali-kali sampai 1990-an. ASIRI atau Asosiasi Industri Rekaman Indonesia mencatat dalam periode 1977-1993 BPB terjual sembilan juta keping dan beberapa kali direkam ulang. Kaset asli yang pada sampulnya tertulis Christian (nama Chrisye sebelum memeluk agama Islam) dengan kertas kulit jeruk harganya bisa mencapai Rp 100.000 di toko-toko kaset bekas di Jakarta.

Yockie geleng-geleng kepala mendengar cerita itu. Padahal, proses penciptaan hingga penggarapan album penuh suasana bersahabat. “Saat itu tak terpikirkan siapa yang pertama kali menulis melodi, siapa yang menulis lirik, siapa yang menyiapkan tata musiknya. Semuanya larut dalam suasana bermusik tanpa pretensi yang muluk-muluk,” ungkap Yockie. “Belakangan kami baru sadar akan hak-hak kami,” tutur Yockie.

Sadar akan situasi semacam itu, beberapa perusahaan rekaman, di antaranya PT Musica Studio, berhati-hati dalam menangani upaya garap ulang BPB. “Ketika menggarap BPB versi Chrisye dan Erwin Gutawa tahun 1999 memang sempat terjadi sedikit sandungan,” ungkap Indrawati Wijaya dari Musica Studio. Saat itu Debby mempertanyakan keterlibatan dia dalam proses kreatif lagu Angin Malam dan Cintaku.

Sejak saat itu Indrawati berhati-hati menyelesaikan perihal hak cipta BPB. “Jika ingin menggunakan materi BPB, kami menghubungi Eros. Dari dia kami mendapat data siapa saja yang ikut terlibat dalam penciptaan lagu-lagunya,” kata Indrawati yang tengah mempersiapkan rilis album Chrisye, Konser BPB yang direkam tahun 2000.

Tahun 1994 PT Aquarius Musikindo yang pernah melakukan remaster album Jurang Pemisah karya Yockie-Chrisye berniat pula merilis ulang album asli BPB. “Kami menghubungi pemegang master, yaitu Irama Mas, tapi ternyata tidak segampang yang diduga karena masalah kepemilikan lagu-lagu BPB sangat ribet,” tutur Kristanto Gunawan dari Aquarius Musikindo.

Tahun 2003 Musica Studio bahkan berniat membeli master asli BPB. “Tetapi, kami mundur karena harga yang ditawarkan sangat fantastis,” kata Indrawati.

Lalu, yang jadi pertanyaan, di manakah master asli BPB? “Master asli itu saat ini tengah diutak-atik agar kualitasnya tetap terjaga,” ungkap Seno Hardjo dari perusahaan rekaman Target Pop.

Belakangan ini terbetik kabar banyak pihak yang berminat membeli master asli itu. Sebelumnya beredar kabar burung master itu lenyap dimakan api ketika terjadi kerusuhan Mei 1998.

Khalayak menanti album asli BPB dirilis kembali dalam bentuk cakram dan sejak Chrisye tutup usia 30 Maret 2007 keinginan itu semakin menjadi-jadi. Kuburkanlah pertikaian yang mencuat karena dahaga menyimak kembali BPB kian tak tertahankan lagi.

Denny Sakrie Pengamat dan Pengarsip Musik Indonesia

(Tulisan ini dimuat di Harian Kompas,2007)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s