Ekspedisi Melacak Kopi Dangdut

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized

Tanpa disadari, penyanyi dangdut almarhum Megi Z ,pemusik dangdut Utjok Surodipuro beserta kugiran dangdutnya OM Bangladesh bisa dianggap merupakan bagian integral dari perjuangan Warung Kopi yang tengah meniti dunia hiburan di paruh dasawarsa 70-an. Lho masak sih ? Iya karena lagu “Kopi Dangdut” yang diciptakan Utjok Surodipuro,pemusik dangdut asal Madiun itu yang secara nggak sengaja menjadi opening tunes Warung Kopi saat bercuap cuap di radio Prambors, sekaligus mencatat sejarah sebagai lagu dangdut pertama dan satu-satunya yang dipancarluaskan oleh gelombang  Prambors .radio anak muda Menteng yang saat itu sekitar 95 persen hanya memutar lagu pemusik nagri alias mancanegara. Bayangkan saban minggu sekali,suara khas penyanyi Megi Z meliuk-liuk mendendangkan “Kopi Dangdut” :

 

Duduk di Warung Kopi .

Dengar lagu  irama India asli .

Asyik kopi yang murni .

Kopi dangdut diminum sambil bercanda .

 

Lagu ini bukanlah “Kopi Dangdut” yang dipopulerkan Fahmi Shahab di tahun 91 karena menjiplak lagu “Moliende Café” karya komposer Venezuela Hugo Blanco yang menjadi hits di Argentina tahun 1961.Judulnya memang sama. Saya juga curiga jangan-jangan Fahmi Shahab juga nyolong gagasan judul lagu yang ditulis Utjok Surodipuro itu. Wallahualam.

Kenapa “Kopi Dangdut” OM Bangladesh dipilih menjadi lagu tema Warung Kopi ?. Pertama, mungkin karena lirik lagunya relevan dengan misi dan visi Warung Kopi.Kedua,musiknya seolah hibrida antara musik rock dan musik khas aliran Sungai Gangga.Bayangkan introduksi serta riff riff gitarnya seolah mengingatkan kita ada lagu “Child In Time” nya Deep Purple hingga “Immigrant Song” nya Led Zeppelin.Setidaknya aura kedua ikon band rock itu memang merupakan bagian dari citarasa pendengar Prambors saat itu.

Maka diputarlah piringan hitam OM Bangladesh yang dikirim label FM Record dengan logo kalajengking itu.  Je je jeng jeng jeng jeng……demikian riff gitar elektrik yang dimainkan Utjok Surodipuro.

Lagu “Kopi Dangdut” ini di sekitar tahun 1975 cukup ngetop dikalangan penggemar musik dangdut,walau harus diakui tidak sebesar popularitas “Begadang” atau “Darah Muda” nya Oma Irama bersama OM Soneta-nya itu.Karena lumayan berhasil, Utjok Surodipuro pun membuat sequelnya “Kopi Dangdut 2”. Kali ini yang mendendangkan bukan Megiz.Z lagi melainkan Herlina Effendy,penyanyi yang kelak berduet dengan Benyamin S.

Disaat penulisan buku Warung Kopi  pada awal tahun 2010 ini saya berusaha mencari keberadaan lagu “Kopi Dangdut” OM Bangladesh ini. Semua tempat di Jakarta  yang dikenal sebagai zona penjualan kaset dan piringan hitam second seperti di Jalan Surabaya,Taman Puring,Jatinegara,Depok,Jembatan Hitam dan sebagainya tetap tak membuahkan hasil.Hmm…..begitu langkanya album OM Bangladesh ini ?. Suatu hari seorang pedagang kaset dan plaat bekas di Taman Puring menelpon saya.” Ada nih ….piringan hitam OM Bangladesh.Tapi gak ada covernya” sergahnya. Buru buru saya menclok ke Taman Puring.Dan betul piringan hitam OM Bangladesh itu tak memiliki cover sama sekali bahkan judul lagu pun tak tertera dibagian tengah piringan hitam itu.”Ya udah dibawa aja dulu,kalo lagu “Kopi Dangdut” nya gak ada balikin lagi aja” kata si pedagang.

Ketika memutar plat OM Bangladesh di rumah saya jadi lunglai karena dari 10 track di plat itu sama sekali tidak terdapat lagu “Kopi Dangdut”. Namun sebagai pengumpul barang-barang kuno saya tak putus asa.”Kalo jodoh….suatu saat “Kopi Dangdut” OM Bangladesh akan berada ditangan saya” ungkap saya membatin.

Suatu hari saya ke Jatinegara mampir ke salah satu kios penjual kaset bekas.Mata saya tertumbuk pada cover OM Bangladesh.Saya terkesiap.Eh ternyata kaset itu bertuliskan  OM Bangladesh ’80 The Beatles Dangdut.Karena penasaran saya mencoba untuk mendengarkan.Isinya adalah lagu-lagu The Beatles yang dibawakan dalam arransemen dangdut tapi liriknya diganti, misalnya lagu “Yesterday” menjadi “Air Mata Kekasih”,”A Hard Day’s Night” menjadi “Hidup Berkelana” hingga “And I Love Her” menjadi “Kampung Halamanku”.Ha ha ha…..dalam hati saya terbahak.Ah ternyata bang Utjok Surodipuro ini seolah memiliki sense of music dan sense of humour yang sejalan dengan Warung Kopi : memporak porandakan lagu orang dalam sudut pandang humor. Sayng hingga detik ini saya tidak berhasil mengetahui dimana keberadaan Wong Madiun itu.

Utjok Surodipuro ini kabarnya sebelum terjun berdangdut dengan membentuk OM Bangladesh ternyata pernah berkiprah dalam beberapa grup rock.Utjok pun dikabarkan mengagumi The Beatles, menyukai The Rolling Stones,Led Zeppelin hingga Deep Purple. Nama Bangladesh itu konon terinspirasi dari film “Concert For Bangladesh” yang sempat diputar di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun 70-an. Di pertengahan era 70-an Utjok Surodipuro bahkan pernah berkolaborasi membuat album bersama Utjok Harahap,penyanyi rock doyan sensasi yang dikenal dengan AKA.Kedua Utjok ini justeru berkolaborasi membuat album dangdut. Nah lho !.

Singkat cerita,rabu 20 Oktober 2010 saya mengunjungi basement Blok M Square yang letaknya disamping Terminal Bis Blok M.Di basement ini merupakan tempat penjualan buku-buku bekas,tapi dari sekian banyak kios buku yang ada disitu ternyata ada 3 kios yang berjualan piringan hitam,cd dan kaset lawas. Tanpa diduga,saya melihat kaset OM Bangladesh yang covernya memperlihatkan kesembilan anggotanya tengah berpose.Buru-buru saya membuka isi cover kaset yang masih mulus dan bersih itu. Dan……ternyata lagu “Kopi Dangdut” ada disitu. Mata saya berkejap-kejap.Perburuan telah berakhir.Tapi seperti biasa saya tetap tak ingin memperlihatkan ekspresi sukacita yang berlebihan . Ini pantang dilakukan didepan pedagang kaset bekas. Kenapa ? Karena si pedagang biasanya akan menggetok kita dengan harga yang kadang nyaris tak masuk akal.  “Kaset OM Bangladesh ini berapa bang” tanya saya. ”Dua puluh lima ribu pak” katanya sambil membersihkan beberapa kaset dalam kardus.Tanpa pikir panjang saya ambil saja kaset OM Bangladesh itu. Mengingat kondisi kaset yang masih mulus dan suaranya pun gak ngeleyot, saya piker harga itu memang tepat. Asal tahu aja, dikios ini sebuah kaset Guruh Gipsy malah dibandrol Rp.500.000.Edaaaannnnnn ! .

“Kopi Dangdut” OM Bangladesh sudah ditangan. Tapi keinginan saya masih belum terpuaskan juga.Saya masih terus melacak keberadaan piringan hitam OM Bangladesh dalam ekspedisi selanjutnya . Kalo jodoh pasti tak kan kemana…..ha ha ha ha.

 

Kaset OM Bangladesh’s Kopi Dangdut

Komentar
  1. munifmd mengatakan:

    salam kenal,mbok ya kalau ada lagu2 dari OM Bangladesh di bagi2(di share)agar bisa dinikmati dan tetap lestari,trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s