Gemuruh Karya Guruh

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized

Guruh Sukarno Putera dan Keenan Nasution 1975

TEPAT seminggu sebelum resepsi pernikahan Guruh Sukarno Putra dengan penari Uzbekistan, Sabina, terjadi tragedi memilukan: ledakan bom di Legian. Guruh terisak di pelaminan. Saat itu, hampir semua media cetak mengutip kembali lirik Kembalikan Baliku. Bahkan restoran waralaba cepat saji McDonald’s menggunakan lagu yang meraih dua award di ajang kompetisi lagu di Jepang pada 1987 itu sebagai iklan layanan masyarakat di layar kaca.

Tiba-tiba kita teringat betapa relevannya karya-karya Guruh dengan keadaan negeri tercinta ini. Gugatan dan imbauan menjadi napas utama lagu yang interlude-nya menyisipkan riuhnya nuansa tari kecak itu. Liriknya memang menyiratkan agar negeri ini kembali ke tatanan hidup yang harmonis: damai, aman, tenteram, dan sejahtera, sesuatu yang kini bisa jadi telah menjadi barang mewah.

Dari 25 tahun lebih pergumulan Guruh di kancah seni (musik dan tari), mencuat sesuatu yang menarik. Ia bagai peramal yang terampil:

Namun tinta sejarah tak akan pernah musnah walau dihapuskan. Suatu saat ‘kan tiba mata umat terbuka.

Tinggal sesal dan sesal……….

Siapa nyana lagu Perikemanusiaan yang bercerita tentang Bung Karno sang ayah, yang dilantunkan Ahmad Albar penuh ekspresi pada 1979, berbuah nyata setelah rezim Orde Baru runtuh terkulai. Guruh pun sangat lantang berbicara bagaimana melestarikan budaya bangsa. Itu mungkin karena sejak dia kecil Bung Karno telah memagarinya dengan rambu-rambu budaya yang ketat. Selalu ada nasionalisme dalam sepak terjang karya-karyanya.

Ketika anak muda pada 1970-an keranjingan musik rock, Guruh malah berbuat lain. Ia berupaya memempelaikan musik rock dengan gamelan Bali dalam proyek Guruh Gipsy bersama band Gipsy pada 1975. Strategi semacam ini mengingatkan kita bagaimana pemusik jazz Miles Davis mencoba menarik minat anak muda terhadap jazz dengan mempertemukan jazz dan rock dalam sebuah pelaminan yang bernama jazz rock atau fusion.

Penggabungan musik Barat yang diatonik dan gamelan Bali yang pentatonik bukan hal baru. Ada Claude Debussy, komposer Prancis yang tergila-gila dengan gamelan Jawa, atau komposer Kanada, Colin McPhee, yang pernah membuat komposisi dengan pengaruh gamelan Bali yang kuat dalam Tabuh-tabuhan (1937) dan Concerto for Two Pianos and Large Orchestra Using Bali, Jazz and McPhee Elements (1949). Juga Bela Bartok, komposer asal Hungaria. Bahkan pemusik rock seperti Ray Manzarek, pemain keyboard The Doors, telah menggotong gamelan dalam konsep musiknya pada album The Golden Scarab (1973). Dan Eberhard Schoener pun berkolaborasi dengan pemusik Bali, Agung Raka, dalam album Bali Agung (1976).

Tapi eksperimen Guruh ini tetap memiliki daya pikat terutama karena Guruh Gipsy bukan sekadar ornamen tempelan seperti yang dilakukan Schoener. Boleh jadi interpretasi dan ekspresi musik di album ini lebih pas karena konseptor musik serta pemusiknya adalah native musicians. Guruh Gipsy sendiri dianggap sebagai pelopor genre progressive rock di Indonesia. Belum lagi sentilan tajam yang termaktub dalam barisan lirik yang ditulis setidaknya dalam tiga bahasa: Bali, Sanskerta, dan Indonesia.

Simak saja perihal kontaminasi budaya yang berlangsung di Bali, sesuatu yang membuat Guruh masygul dan gundah, dalam lagu Chopin Larung: “Sang jukung kelapu-lapu/santukan baruna kroda/Nanging Chopin nenten ngugu/Kadangipun ngarusak seni budaya… (Perahu terombang-ambing/karena dewa laut murka/Namun Chopin tiada memahami/bangsanya merusak seni budaya).” Chopin Larung, yang terinspirasi Fantaisie Impromptue karya komposer Polandia, Fryderyk Franciszek Chopin, merupakan simbolisasi ketidakberdayaan manusia Indonesia membendung derasnya arus budaya Barat.

Idiom budaya Indonesia memang selalu menjadi lencana Guruh dalam berkesenian. Merah Putih dipastikan senantiasa terpancang di tengah-tengah gemuruh pembauran antara budaya Barat dan Indonesia yang sarat warna. Pergelaran seni yang berisikan musik dan tari dalam skala besar menjadi trademark Guruh sejak 1979 hingga era 1990-an dengan image glamor ala tontonan Moulin Rouge.

Di saat anak muda menggandrungi disko, breakdance, hip-hop, hingga house-music, Guruh dengan terampil menampilkannya dengan koreografi gado-gado, semisal gerak disko yang energetik berpadu gerak ritmis tari saman. Guruh memang berada di depan untuk strategi berkarya semacam ini. Tampaknya, ia mengerti persis karakter manusia Indonesia yang masih silau dan terpukau dengan budaya Barat. Karya seni yang mengawinkan budaya Barat dan Indonesia seperti yang dilakukan Guruh rasanya adalah jalan tengah yang sah-sah saja dalam merawat seni dan budaya bangsa. Bukankah perbedaan justru menyelaraskan harmoni?

Di muat di majalah Tempo Edisi. 35/XXXI/28 Oktober – 03 November 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s