Jack “Jazz” Lesmana (1930 -1988)

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized

Saking dedikatifnya terhadap pertumbuhan jazz di Indonesia, nama mendiang Jack Lesmana sering dikonotasikan dengan Jazz Lesmana. Pria berdarah campuran Madura (ayah) dan Jawa Belanda (ibu), ini tak pelak lagi merupakan tokoh penting dalam dunia musik jazz yang pada zamannya memang sering diibaratkan melangkah dengan tersengal-sengal.

Meskipun demikian, ayah dari Indra Lesmana ini, toh terus maju pantang mundur. Dia seolah siap menerima risiko sebagai pemusik yang menggeluti dunia jazz yang jauh dari kilau sinar nan gemerlap.

Irama lenso

Jack Lesmana terlahir dengan nama yang berbau Belanda, Jack Lemmers, di Jember, Jawa Timur, pada 18 Oktober 1930. Namanya berubah menjadi Jack Lesmana setelah mencuatnya gerakan Indonesiasi. Nama Lesmana justru diberikan oleh Bung Karno, proklamator dan presiden pertama negeri ini.

Tak hanya itu, hubungan antara Bung Karno dan Jack Lesmana bahkan bisa disebut dekat. Apalagi pada saat itu Bung Karno tengah gencar-gencarnya mengganyang musik ngak-ngik-ngok yang dianggap produk Barat yang dekaden. Gerakan budaya yang digencarkan Bung Karno adalah menggiatkan musik yang dianggap mewakili tata krama budaya Timur yaitu irama lenso.

Jack Lesmana pun menafsirkan dan memainkan irama lenso itu bersama kelompok yang dipimpinnya saat itu, yakni Orkes Irama. Kelompok yang juga didukung Mas Yos, pemilik perusahaan rekaman Irama Records ini, lalu merilis album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso pada dasawarsa 60-an untuk mengimbangi derasnya budaya Barat yang diwakili musik rockn’roll itu. Di album itu Orkes Irama mengiringi penyanyi top saat itu, seperti Bing Slamet, Titiek Puspa, Lilis Surjani, serta Nien Lesmana, adik kandung Mas Yos yang juga istri Jack Lesmana.

Irama Record

Kontribusi Jack Lesmana dalam industri musik Indonesia mulai tertuang ketika dia bergabung dengan perusahaan rekaman Irama Record milik pengusaha Soejoso. Di sini, Jack Lesmana memiliki peranan penting sebagai penata musik sekaligus music supervisor. Jack tak hanya dikenal sebagai pemusik yang terampil bermain jazz saja. Dia juga bisa memainkan jenis musik apa saja termasuk musik pop. Dalam album yang dirilis Irama Record, Jack Lesmana yang terampil memainkan instrumen gitar, bass, piano, dan trombone, ini, mengiringi sederet penyanyi pop mulai dari Oslan Husein, Nien Lesmana, Ivo Nilakrishna, dan Bing Slamet.

Bahkan bersama Orkes Gita Karana, ia mengiringi penyanyi kanak-kanak Endi dan Adi atau memainkan musik Latin bersama Orkes Gema Irama. Jack juga mengiringi lagu-lagu bernuansa Sunda bersama Orkes Nada Kencana. Di awal dasawarsa 60-an, Jack Lesmana pun mulai mengisi ilustrasi musik film antara lain film bertajuk Malam tak Berembun, Djantung Hati, dan masih banyak lagi. Jelas sudah bahwa Jack Lesmana adalah sosok pemusik serba bisa.

Irama jazz

Pada awal dasawarsa 50-an, ayah dari Indra dan Mira Lesmana ini mulai terlihat berkutat dengan musik jazz dengan membentuk Jack Lesmana Quartet yang antara lain didukung pianis berbakat, Bubi Chen. Selanjutnya, grup ini lalu berubah menjadi Jack Lesmana Quintet.

Di tahun 1959, Jack Lesmana ikut mendukung album Bubi Chen bertajuk Bubi Chen With Strings yang dirilis PT Lokananta. Kabarnya, album ini pernah dibahas oleh Willis Connover, seorang pengamat jazz asal Amerika Serikat.

Di pertengahan era 60-an, Jack Lesmana (gitar) bersama Bubi Chen (piano), Benny Mustafa van Diest (drum), Marjono (flute,saxophone), dan Jopie Chen (bas), membentuk kelompok jazz Indonesian All Stars. Kelompok jazz ini memang sangat menjanjikan. Mereka bahkan mendapat undangan bermain jazz di Australia, Amerika Serikat, serta Jerman.

Melihat kualitas dan kiprah bermusik Indonesian All Stars, seorang peniup clarinet jazz Amerika Serikat yang kebetulan tengah berada di Jakarta tertarik untuk melakukan kolaborasi dalam pertunjukan maupun rekaman. Alhasil muncullah album Djanger Bali yang mereka rekam di MPS Studio Villingen Black Forest Jerman selama dua hari berturut-turut pada tanggal 27 dan 28 Oktober 1967. Album ini berisikan empat tembang tradisonal Indonesia yaitu, Ilir Ilir, Burung Kakatua, Gambang Suling, dan Djanger Bali. Selebihnya adalah Mahlke karya gitaris Attila Zoller dan Summertime karya George dan Ira Gershwin dari Porgy & Bess.

Nada dan Improvisasi

Untuk memomulerkan musik jazz, Jack Lesmana seolah tak berhenti berjuang. Dia banyak menghimpun pemusik-pemusik jazz dalam sebuah komunitas yang dibentuknya secara konstruktif. Pria ini antara lain menggagas pertunjukan jazz di lahan seni budaya prestisius yaitu Taman Ismail Marzuki pada era 70-an. Secara bersamaan, Jack pun mengelola acara jazz bulanan di layar kaca TVRI bertajuk Nada dan Improvisasi yang menampil kan banyak pemusik jazz baik dari kalangan yang telah mapan maupun pemula.

Saat itu di kediamannya di kawasan Tebet, Jakarta Timur, seolah padepokan untuk mengasah para pemusik jazz. Di situ mereka berdiskusi dan bermain jazz. Jack Lesmana dengan disiplin yang tinggi menularkan ilmu jazznya. Ia memang merupakan sosok guru yang gigih.

Terlihat jelas bahwa hidupnya memang untuk musik terutama jazz. Di tahun 1979, Jack bahkan nekad memboyong keluarganya menetap di Australia demi meraup ilmu jazz untuk putranya Indra Lesmana yang sejak usia 10 tahun telah tampil di pentas pertunjukan professional. Di samping mendampingi Indra Lesmana yang memperoleh beasiswa jazz, di negeri Kangguru itu, Jack pun mengisi waktu dengan mengajar jazz. Tahun 1984. ia dan keluarganya kembali ke Jakarta. Lagi-lagi Jack tetap bergairah menghidupkan komunitas jazz antara lain dengan menggelar acara jazz berkala bertajuk Sunday Jazz di sebuah hotel berbintang.

Hingga akhir hayatnya, Jack Lesmana tetap bergelimang jazz. Pria ini menghembuskan napas terakhir akibat diabetes yang dideritanya pada 17 Oktober 1988. Dunia jazz Indonesia benar-benar kehilangan seorang pemusik terbaiknya.

Denny Sakrie dari buku “Musisiku” (Penerbit Republika 2007)

Jack Lesmana 1976

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s