Metamorfosa Rhoma Irama

Posted: Januari 4, 2011 in Uncategorized

Rhoma Irama dan Achmad Albar 31 Desember 1978

Rhoma Irama & Yati Octavia dalam film "Darah Muda"

Adegan film "Berkelana"

Piringan Hitam "Rupiah" Rhoma Irama & Elvy Sukaesih

Di mana mana di atas dunia
Banyak orang bermain musik
Bermacam-macam wárná jenis musik
Dari pop sampai yang klasik
Bagi pemusik yang anti Melayu
Boleh benci, jangan mengganggu
Biarkan kami mendendangkan lagu
Lagu kami lagu Melayu

(“Musik”,Rhoma Irama & Soneta Group Vol.5 Yukawi,1977)

Deretan larik dari lagu bertajuk “Musik” dari album Soneta Group Vol.5(Yukawi 1977) ini bagaikan refleksi eksistensi musik dangdut yang dititahkan raja dangdut yang tak pernah turun tahta : Rhoma Irama.
Musik dangdut,istilah yang sebetulnya dimaksud untuk ngenyek ,pada akhirnya memang menjadi musik khalayak.Musik rakyat dalam arti sesungguhnya.Musik dangdut yang bermuasal dari pakem musik Melayu dengan imbuhan berbagai kecenderungan musik lain – musik India,Timur Tengah hingga rock maupun blues,di tangan Rhoma Irama menjadi musik hibrida baru dengan baju dangdut. Yang tak terbantahkan menjadi sebuah genre musik.
Dangdut bisa sejajar dengan reggae dari Jamaika ..Anasir musiknya berakar dari irama ska serta pengaruh R&B New Orleans,dan oleh Bob Marley disuntikkan berbagai kecenderungan musik western seperti rock dan psychedelia. Bob Marley hampir sama dengan Rhoma Irama,musik yang dimainkannya tak lagi sekedar struktur bunyi-bunyian yang menghibur tapi sudah merambah zona lain seperti gerakan moral,agama dan politik.
Hal serupa pun terlihat pada sosok Bob Dylan yang berakar dari musik Americana meliputi country,folk,blues dan sejumput rock.

Dengan  larik-larik yang kemudian dikenal sebagai protest song,lelaki Yahudi ini menjadi juru bicara generasi terhadap ketimpangan sosial,kebobrokan mesin politik .

Muatan-muatan seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala perilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita yang menyadap habis perilaku superstar dibelahan barat sana tanpa memahami esensi yang sesungguhnya.
Rhoma Irama tak hanya menawarkan goyang dangdut atau joget belaka seperti pada lagu “J oget“ maupun ”Dangdut” :yang kemudian lebih popular dengan tajuk “Terajana” :

Sulingnya suling bambu
Gendangnya kulit lembu
Dangdut suara gendang
Rasa ingin berdendang


Rhoma Irama tak hanya membius penggemarnya dengan lagu-lagu romansa seperti “Kegagalan Cinta” atau kegenitan atmosfer insan yang tengah kepayang seperti dalam lagu “Tung Keripit” :

Tung keripit Hai si Tulang Bawang
Kalau pacar yang gigit sakit tak mau hilang

Tapi juga menyebarkan pesan moral dalam sederet lagu-lagunya semisal “Begadang”,”Darah Muda” maupun “Rupiah” yang entah kenapa sempat dicekal TVRI pada jelang dasawarsa 70-an :
Memang sungguh luar biasa
itu pengaruhnya rupiah
Sering karena rupiah
Jadi pertumpahan darah
Sering karena rupiah
Saudara jadi pecah

Memang karena rupiah
Orang menjadi megah
Kalau tidak ada rupiah
Orang menjadi susah

Hidup memang perlu rupiah
Tetapi bukan segalanya
Silakan mencar rupiah
Asal jangan halalkan cara


Lihat pula bagaimana Rhoma Irama menyuarakan anti segala bentuk perjudian :
Judi! menjanjikan kemenangan
Judi menjanjikan kekayaan
Bohong! Bila engkau menang,
Itu awal dari kekalahan
Bohong! bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.


Dari divisi larik Oma Irma yang kemudian mengubah namanya menjadi Rhoma Irama pun mengubah kecenderungan pemaparan tema.Dia berubah menjadi bijak dengan pelbagai petuah beratmosfer moralitas.Hal ini diungkap pula oleh peneliti asal Amerika Serikat William H Frederick dalam tesis bertajuk “Rhoma Irama and the Dangdut Style : Aspects of Contemporary Indonesia Popular Culture” pada tahun 1982 :
“. Since much of Omaôs songwriting was leading inescapably^toward
both storytelling and moralizing, he was naturally intrigued with the notion of integrating
story line more closely with the music, and making of the whole something
more “serious.”



Tak heran jika Rhoma Irama dengan mudah merangkul khalayak.Dia menjadi sosok panutan ummat.
Rhoma Irama bagaikan trubadur yang bertutur lewat dendang lagu tentang apa saja.
Puncak pencapaian Rhoma Irama dalam berkarya adalah ketika dia memproklamirkan “Sound Of Moslem”.Larik larik yang diguratnya pun mulai menyelusup ke zona religi.
Simaklah keprihatinan Rhoma terhadap nilai keimanan muslim di abad modern dalam lagu bertajuk “Koran dan Qur’an” :

Kalau bicara tentang dunia ,aduhai pandai sekali
Tapi kalau bicara agama,mereka jadi alergi
Membaca Koran jadi kebutuhan
Sedang Al Qur’an Cuma perhiasan.

Rhoma Irama pada akhirnya mengingatkan kita pada Sunan Kalijaga yang menggunakan anasir seni untuk tujuan dakwah Islam.
Dan kita pun mahfum jika menyimak barisan larik larik yang lantang dilantunkannya, Rhoma Irama memang telah berdakwah lewat musik :

Segelintir orang yang haus akan kekuasaan
Membuah dunia penuh penderitaan
Hentikanlah penindásán, hentikan kezaliman
Kapan kiranya akan tegak keadilan
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Terdengar suara keluhan manusia yang gelisah
Dimana-mana hampir di seluruh punggung dunia
Banyak manusia jádi mangsa dari sesamanya
Itu karena sang manusia sudah lupa kepada Penciptanya
Agama hanya pelengkap belaka
Manusia telah bertuhan dunia



Rhoma Irama

Seiring dengan pergeseran maupun perubahan dari kerangka tema lagu-lagunya seperti yang saya paparkan diatas,Rhoma Irama pun ligat melakukan eksplorasi dalam membentuk warna musiknya.Terutama perjuangan untuk memodifikasi bahwa dangdut tak sekedar liukan seruling berimbuh tabuhan kendang belaka.Toh seperti halnya genre musik lain,sebut saja jazz misalnya,dangdut pun toleran terhadap suntikan genre musik lain.Rhoma pun melakukan banyak persilangan.Sebuah cross-over yang memperkaya anasir musik dangdut sendiri.
Rhoma Irama ibaratnya maestro jazz Miles Davis yang tak pernah mengenal titik dalam pergumulan musiknya.Dia terus mencari dan mencari.Lalu membuat fusi yang menjadikan musiknya kian kontemporer.

Jika Miles Davis melumuri musiknya dengan darah rock yang segar,karena jazz saat itu kurang memikat perhatian anak muda.Maka hal yang sama pun dilakukan Rhoma Irama dengan mengadopsi geletar rock dari kelompok hard rock Inggeris mulai dari Deep Purple hingga Uriah Heep.Karakter gitar Richie Blackmore dari Deep Purple yang sering memuntahkan high pitch note dan tone bending pun diserapnya.Pengaruh solo gitar Richie Blacmore dalam interlude “Child In Time” atau lengkingan suara vokalis Ian Gillan bias ditemui dalam karya-karya Rhoma Irama di paruh 70-an.Bahkan dalam lagu “Santai” (1977),Rhoma pun menyusupkan atmosfer musik funk seperti yang dimainkan James Gang dalam lagu “Kick Back Man” (1972).

Uniknya formula dangdut rock yang diracik Rhoma justeru diikuti oleh Achmad Albar,vokalis God Bless yang membuat album dangdut bertajuk “Zakia” (1979) dengan musik yang ditata oleh gitaris Ian Antono.Termasuk Reynold Panggabean dari The Mercy’s yang membentuk kelompok dangdut rock bernama “Tarantulla” yang juga banyak menyusupkan pola permainan gitar ala Richie Blackmore melalui Fadil Usman,gitaris rock yang pernah tergabung dalam The Minstrels hingga Brotherhood.
Sebetulnya dengan referensi musik yang kuat,Rhoma Irama mampu membentuk konsepsi musiknya menjadi sebuah musik hibrida .
Sejak kecil Rhoma telah menyimak beraneka ragam musik.Dia tekun menyimak lantunan vokal penyanyi legendaris India Lata Mangeskhar yang kerap menyanyikan lagu-lagu dari soundtrack film India yang ditulis oleh komposer Laxmikant Shantaram Kuldakar dan Pyarelal Rampasad Sharma serta Rahul Dev Burman dan Sachin Dev Burman.Dia juga menyimak lagu-lagu Timur Tengah yang didendangkan Umi Khalsoum.
Awal karir bermusiknya justeru pada musik pop dengan iringan Zaenal Combo maupun The Galaxy yang dikomandani Jopie Item.Dia pun pernah bergabung dalam berbagai band seperti Gayhand,Tornado dan Varia Irama Melody membawakan lagu-lagu pop milik golden singer Tom Jones,Engelbert Humperdink,Paul Anka hingga Andy Williams .
Arransemen musik Soneta Group pun kerap mengalami pergeseran.Bisa dicatat misalnya pada paruh 80-an,Rhoma memasukkan elemen brass section yang terdiri atas saxophone dan trumpet.Bahkan instrument timpani yang lazimnya hanya dipergunakan dalam orkestra pun merupakan bagian dari tata instrument instrument termasuk pula perkusi elektronik yang saat itu menjadi bagian dari gerakan musik synth-pop atau new wave .
Upaya Rhoma memodernisir wajah Soneta memang berbuah hasil.Dangdut tak lagi dipandang sebelah mata.Dangdut telah menjadi representasi Indonesia.
Jika Bob Marley milik Jamaika.Bob Dylan milik Amerika.The Beatles milik Inggeris.Maka saya tak ragu lagi mengatakan Rhoma Irama milik Indonesia.

Denny Sakrie,pengamat musik

*tulisan ini dimuat di majalah Madina edisi Juli 2008)

Komentar
  1. […] This post was mentioned on Twitter by Taufiq Attahtim and Kiki Dwiky Fahrizal, Denny Sakrie. Denny Sakrie said: Tentang Rhoma Irama https://dennysakrie63.wordpress.com/2011/01/04/metamorfosa-rhoma-irama/ […]

  2. amir mengatakan:

    mjulah musik dngdut dindonesai krna musik adalh seni yng ptut kita banggakan dengan sgala kebenarn

  3. zaki mengatakan:

    I Lile It……
    I Like Rhoma Irama………………..
    Semoga musik dangdut bisa menjadikan rakyat kita cinta Agama, Nusa dan Bangsa…

  4. zaki mengatakan:

    ralat, “Like”

  5. Alexiz Cepoe mengatakan:

    sukses sllu bang haji Rhoma Irama,
    aminnn,,ya robbal allaminnn,

    from anak cepu

  6. Trebor mengatakan:

    love it, the legendary guitar master of Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s