Mengenang Komponis Amis Pasaribu (21 Mei 1915 – 10 Februari 2010

Posted: Januari 5, 2011 in Obituari

Amir Pasaribu tampaknya tak mencapai hari ulang tahunnya yang ke 95 dua bulan mendatang.Tuhan telah mengundangnya kembali keharibaan Nya pada 10 Februari 2010 kemarin.
Komponis besar Indonesia ini telah pergi untuk selamanya .Pianis Ananda Sukarlan mungkin termasuk pemusik yang bisa dibilang beruntung mendokumentasikan karya karay Amir Pasaribu dalam permainan pianonya yang direkam dalam bentuk cakram padat (CD) bertajuk “Piano Works Of Amir Pasaribu”.Album ini direkam di Hall of Conservatorio de Amaniel, Madrid Spanyol pada tanggal 4 dan 5 Feb 2007.Yang berisikan 14 komposisi karya Amir Pasaribu seperti :
Ole-ole Melojo-lojo
Sonata no.1
2. movement I
3. movement II
4. movement III
5. Kesan
6. Bongkok’s Bamboo Flute (Orpheus in de dessa)
7. Variasi ‘Sriwidjaja’
8. Sampaniara I
9. Sampaniara II ‘Tante-tante Mau Ngebut’
10. Puisi Bagor
11. Petruk, Gareng dan Bagong
12. The Juggler’s Meeting
13. Ball-Dance of River-Fish Princess
14. Tjapung Ketjimpung di Tjikapundung.

Lalu siapakah Amir Pasaribu ?.Generasi sekarang memang banyak yang tak mengenal bahkan mungkin tak pernah mendengar karya karya genial Amir Pasaribu.
Dalam catatan saya.Amir Pasaribu di lahirkan disebuah desa kecil Siborong Borong Tapanuli Sumatera Utara.Anak bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki latar kehidupan yang lebih terang dan beruntung.Tidak seperti karib sebayanya.Ayahnya adalah seorang asisten wedana.Bisa dibilang keluarga berada dan berkecukupan.Semua putera dalam keluarga Pasaribu ini mengenyam pendidikan formal ala Belanda. Musik klasik disimaknya sejak bocah.Melalui gramafon milik ayahnya yang memutra piringan hitam ber RPM 78 Amir menyimak musik klasik secara intens. Keluarga Pasaribu pun memilikii orgel harmonium, sebuah jenis organ nonelektrik, yang bunyinya berasal dari udara yang dikocok dengan pompa yang digerakan dengan kaki pemainnya. Saat itu Amir kecil telah memainkan orgel ini.Dia belajar memencet organ di gereja Huria Kristen Batak Protestan di desanya.Bahkan ,Amir pun sering diminta mengiringi paduan suara gereja.

Di usia 6 tahun,Amir masuk HIS (sekolah dasar zaman Belanda) di Narumonda.. Amir harus masuk asrama karena jarak antara tempat tinggal orang tuanya dan Narumonda cukup jauh. Dikelas 3 Amir dikeluarkan dari sekolah atas keputusan kepala sekolah yang orang Belanda, karena di malam hari ia sering menyelinap dari asrama untuk makan di warung. Ia bosan dengan jatah asrama yang katanya hampir tiap hari makan nasi merah berlauk ikan asin. Ia kemudian dimasukkan sekolah untuk anak-anak Belanda di Padang, Sumatera Barat, berkat teman kakaknya yang waktu itu sudah duduk di MULO (SMP zaman Belanda). Mulanya sang ayah ingin menyekolahkan Amir di Sibolga saja, namuni tak ada sekolah yang mau menerimanya karena dari HIS Narumonda Amir tak pernah diberi selembar surat keterangan satu pun.

Amir mengenal musik secara serius justeru di Padang Sumatera Barat. Ini bukan karena di sekolah itu ada sebuah piano, yang selalu dilihatnya dengan keinginan yang tak pernah terlaksana, memainkan piano. Melainkan karena suatu sore ia mendengar musik dari sebuah rumah yang dilewatinya. Melihat keseriusan Amir Pasaribu, pastor Frater Yustianus menawarinya belajar biola, juga piano. Jadilah hampir tiap sore Amir belajar biola dan kemudian piano.

Lulus dari ELS, Amir masuk MULO, di Padang juga. Naik ke kelas 3, ayahnya memindahkannya ke Tarutung, supaya lebih dekat ke rumah. Di kota ini tinggal seorang penggesek biola Belanda Meneer Bosch . Amir lalu belajar kepada menggesek biola pada pria Belanda itu.

Setamat MULO,Amir Pasaribu ia lalu melanjutkan sekolah ke HIK, sebuah sekolah pendidikan guru di Bandung. Sekolah ini mengirimkan siswanya yang serius dan berbakat dalam musik ke guru-guru privat yang memang profesional. Zaman itu memang banyak musisi dari Eropa dan Rusia datang di Hindia Belanda, karena pertunjukan musik kerap digelar.

Revolusi Bolsyewik di Rusia mengakibatkan banyak profesor musik lari diantaranya membelot lari ke pulau Jawa. Amir Pasaribu pernah belajar piano kepada Willy van Swers asal s Belanda. Belajar komposisi kepada James Zwart, juga kepada Joan Giesen. Atas anjuran Zwart, Amir kemudian belajar cello kepada pemain cello Rusia terkenal yang lari ke Jawa, Nicolai Farfolomeyef. Dunia musik profesional dikenal Amir ketika sebuah grup musik dari Filipina masuk ke Jakarta. Grup ini butuh pianis yang bisa baca not dan mengenal musik untuk mengiringi dansa. Bukan hanya soal uang yang lebih dari cukup untuk seorang Amir, pergaulannya ini pun membuatnya harus sering berlatih, dan mempelajari bahasa asing. Ia merasa dilahirkan sebagai orang yang mudah menguasai bahasa.

Tamat dari HIK, tahu ternyata Amir juga pandai menggesek cello, grup Filipina itu mengajaknya bermain di kapal pesiar yang berkeliling ke Jepang dan Australia. Inilah pembuka jalan Amir meneruskan pendidikan musik di sekolah musik Musashini, Jepang, mengambil piano dan cello. Kembali di Jakarta ia diterima bergabung dengan Orkes Radio van Batavia.

Setelah Indonesia merdeka, Amir yang di zaman Jepang sudah bekerja di RRI Jakarta kemudian diangkat sebagai kepala studio musik RRI. Inilah zaman Amir begitu produktif dan aktif. Rupanya hidup seorang musisi dan komponis musik klasik makin berat di Indonesia. Setelah sempat mendirikan kursus musik di Jakarta selepas dari SMIND Yogyakarta, akhirnya Amir mengambil peluang ketika ditawari mengajar di Pusat Kebudayaan Suriname di Paramaribo pada tahun 1968. Amir kemudian kembali ke Indonesia setelah 27 tahun dinegeri orang. Amir mendapati bahwa dunia musik serius Indonesia masih menghargai ciptaan-ciptaan dari seorang yang total menggunakan hidupnya untuk musik sebagai pemain, komponis, guru, pendiri organisasi Liga Musik Indonesia, kritikus musik.

Karya Karya Amir Pasaribu

Capung Kecimpung di Cikapundung,

Rondino Capriccioso,

2 Sonata’’s,

Petruk, Gareng, dan Bagong,

Rabanara dances,

Rabanara dances no.7,

Spielstuck,

Puisi Bogor,

Kesan Langgar

(Impressie Langgar),

Sampaniara no.1

(Getek silam kali Ancol),

6 Variasi Sriwijaya,

Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa),

Indihyang,

Ball-dance of the river-fish princess’ (Tari Ikan Putri),

Buku Karya Amir Pasaribu

1.Musik dan Selingkar wilayahnya, Kem. PPK 1955
2.Analisis Musik Indonesia (PT Pantja Simpati 1986)
3.Riwayat Musik dan Musisi (Gunung Agung, 1953)
4.Teori Singkat Tulisan Musik (NV Noordhof-Kolff)
5.Menudju Apresiasi Musik (NV Noordhof-Kolff)
6.Bernyanyi Kanon (Balai Pustaka, Kem.PPK 1955)
7.Lagu-lagu Lama Solo Piano I (Balai Pustaka 1952)
8.Lagu-lagu Lama Solo Piano II (Balai Pustaka, 1958)
9.Suka Menyanyi (Indira, 1955)
10.Tifa Totobuang

Amir Pasaribu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s