Orkestra Tunggal Multitekstur

Posted: Januari 5, 2011 in Tinjau Album

Tulisan ini dimuat di majalah Tempo 51/XXXVIII 08 Februari 2010

Di album terbarunya, gitaris Pat Metheny bermain sendirian. Menghasilkan bunyi-bunyian aneka instrumen dengan bantuan alat mekanik.

LIHATLAH sampul CD album terbaru gitaris jazz Pat Metheny, Orchestrion (Nonesuch, 2009). Di situ tertera Pat memainkan hampir semua jenis perangkat musik, mulai gitar, piano, marimba, bas, vibraphone, keyboard, tubular bells, drum, perkusi, hingga berbagai jenis instrumen musik akustik yang diciptakan khusus secara mekanis. Semua instrumen musik itu dimainkan serempak dalam proses perekamannya kecuali gitar, yang dilakukan secara overdub.

Hal yang rasanya tampak muskil itu toh dapat dilakukan oleh gitaris peraih 17 penghargaan Grammy ini. Betapa tidak, pada zaman serba digital yang memudahkan siapa saja melakukan apa saja dalam teknologi rekaman, seperti MIDI dan sampling, ia justru berupaya menggabungkan teknologi baheula dan diimbuhi anasir kekinian. Walhasil, muncullah sosok Pat Metheny bermain tunggal ditemani mesin musik yang bekerja seperti hantu. Sembari memetik gitar Gibsonnya, ia pun melakukan trigger terhadap setumpuk perangkat musik mekanik.

Pat Metheny dan Orchestrion

Pat Metheny dan Orchestrion

Gagasan unik ini muncul setelah Pat melihat piano player milik Delmar Bjorn Hansen, kakeknya, yaitu semacam piano hantu yang bisa bermain sendiri setelah piano itu dilengkapi alat mekanik yang secara otomatis bisa menggerakkan tuts piano dengan lebih dulu memasukkan kertas partitur sebagai pusat perintah. Piano player ini memang populer pada akhir abad ke-19. Berdasarkan pola kerja piano player, kemudian berkembang sebuah alat untuk menggerakkan alat musik lain seperti alat petik, perkusi, dan alat orkestral lainnya yang kemudian disebut orchestrion.

Orchestrion, menurut Pat, digerakkan dengan dua cara: pneumatic, semacam pompa berisi udara yang memberikan tekanan untuk terjadinya gerakan alat musik; dan solenoid, yang menggerakkan alat musik secara magnetis. Untuk mewujudkan obsesi musikalnya ini Pat dibantu Eric Singer, yang merancang orchestrion pada milenium ini. Prinsip kerjanya mirip teknologi MIDI, yang kerap digunakan para musisi 20 tahun silam.

Persoalan lain muncul: dinamika bermusik agak terabaikan. Ini pun diakui Pat. ”Pneumatic tidak mampu mengendalikan dinamika bermusik yang kita inginkan. Solenoid justru mampu menimbulkan dinamika meski tidak dalam cakupan yang luas,” katanya.

metheny-orchestrion022

Akhirnya kita pun menyimak Pat di studio rekaman sendirian memainkan lima komposisi ciptaannya di album ini—Orchestrion, Entry Point, Expansion, Soul Search, dan Spirit in the Air. Tanpa ada interplay bahkan interaksi antarmusisi seperti yang dilakukannya saat terlibat dalam proyek duo, trio, kuartet, kuintet, hingga Pat Metheny Group yang serba kompleks. Mengapa Pat mengisolasi diri justru dengan melebur diri di antara puluhan instrumen musik yang dikendalikan secara mekanis?

Mengapa Pat Metheny harus bersusah payah melakukan hal ini dengan orchestrion? Padahal di era sekarang ini teknologi digital sampling mampu mereproduksi secara virtual bunyi-bunyian apa pun ke dalam laptop.

Mungkin ini tak lebih dari semacam kredo bermusik Pat selama ini, yang acap kali menawarkan kebaruan. Masih ingat ketika ia memainkan berbagai jenis gitar dalam sebuah ensambel pada album New Chautaqua (1979), berkolaborasi bebas dengan Ornette Coleman dalam Song X (1985), mengajak David Bowie bernyanyi dalam The Falcon and the Snowman (1984), menjejalkan nuansa avant garde dalam Zero Tolerance for Zero (1992), atau ketika mempresentasikan komposisi berdurasi mendekati 70 menit dalam The Way Up (2005).

Metheny mit Orchestrion @ DT 2 (rdo)

Upaya eksperimentasinya dalam Orchestrion memang terkesan mengada-ada. Toh dia tetap menjaga kualitas. Meskipun didukung elemen musik yang robotic, sajian kelima komposisinya seolah memiliki roh, memiliki napas, juga darah. Seperti halnya The Way Up, Orchestrion tetap menampilkan komposisi multitekstur: jazz tradisional, blues, fusion, folk, etnikal, dan klasikal.

Berpadunya gitar dan instrumen mallet seperti marimba dan glockenspiel terasa mendominasi Orchestrion dan Expansion. Petikan gitar Pat dalam beberapa birama terasa lebih groovy.

Dalam balada bertajuk Entry Point menyeruak bunyi gitar yang hangat berlatar bunyi-bunyian botol bernada dan diikuti konsep contra punctum melalui seliweran vibraphone dan perkusi serta piano.

Spirit in the Air merambah wilayah blues hingga swing, yang direfleksikan Pat lewat petikan gitarnya. Kita pun tak sadar bahwa saat itu ia tengah berinteraksi dengan sederet perangkat mekanik yang menghasilkan musik, bukan manusia.

Denny Sakrie, pengamat musik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s