Guruh 58 Tahun , Tetap di Seni

Posted: Januari 13, 2011 in Uncategorized

Kesenian, kekuatan Mahasakti

Kesenian, ciptaan yang Mahasuci

Bersemayam di peraduan naluri

Mewarnai wajah budaya

Melalui cipta sang pujangga

Dunia hampa tanpa seni dan seniman

(“Seni” ,1984)

Seni, bagi Guruh Soekarno Putera, putera kelima presiden pertama, Ir Soekarno dan Fatmawati, bisa di atas segalanya. Itu jelas termaktub dalam untaian larik lagu yang ditulisnya bertajuk Seni, yang dilantunkan Chrisye pada pagelaran Cinta Indonesia di tahun 1984.

Seperti, laiknya Bung Karno yang menggemari seni. Darah seni itu pun menitis deras dalam sosok Muhammad Guruh Irianto Soekarno Putera yang dilahirkan 13 Januari 1953. Apalagi sebagaimana putera-puteri Bung Karno lainnya, Guruh memang diharuskan mengenal kesenian, terutama yang berkaitan dengan kebudayaan bangsa mulai dari musik hingga tari. Di kemudian hari kiprah Guruh dalam berkesenian senantiasa berbalut merah putih. Melalui seni, ia mengumandangkan sisi nasionalisme yang kuat dan kental.

Dan hari ini kamis 13 Januari 2011 Guruh genap berusia 58 tahun.Sebuah usia yang sarat dengan kearifan,bijaksana,legowo sekaligus mumpuni.Menariknya lagi setiap Guruh ulang tahun,selalu dirayakan dan dirayakan.”Sebetulnya,gini,saya tuh tidak pernah mau merayakan.Tapi tidak untuk sahabat sahabat dan anak anak saya ini (maksudnya alumni SM dan GSP) yang selalu ingin merayakan hari ulang tahun saya.Apa boleh buat.”  Guruh bertutur.

Untuk perayaan ultah kali ini tampaknya lebih meriah dan heboh,karena berlangsung di Jakarta Convention Center.Sebuah gedung bersidang yang menjadi saksi sejarah betapa Guruh bersama dukungan Swara Maharddhika berpentas seni disini.

Guruh,sekali lagi,memang tak bisa diceraikan dengan seni dan seni.Bahkan jiwa seni yang mengalir dalam jiwanya, bagi Guruh tetap saja  sebuah sarana.Sebuah jembatan,yaitu, jembatan  untuk menapak dan sarana mewujudkan impian,

sarana untuk beperhatian pada orang  lain, serta sarana untuk

memajukan kemanusiaan.

Memang, kedengarannya  begitu indah.  Namun dalam bicaranya tetap saja terkesan kejujuran. “Buat saya, seni adalah salah satu alat perjuangan. Perjuangan untuk bangsa, dan lebih luas lagi perjuangan untuk kemanusiaan secara mendunia.” Ulas Guruh lagi

Sejak kecil, Guruh telah terlatih sebagai penari yang terampil di samping mengasah bakatnya di dunia musik. Guntur Soekarno Putera, kakak kandungnya, saat itu memang telah membentuk band yang cukup disegani bernama Aneka Nada, antara lain didukung Sam Bimbo. Ini tampaknya yang memicu Guruh untuk berkubang pula di ranah musik. Ketika duduk di bangku SD hingga SMP Yayasan Perguruan Cikini, Guruh telah membentuk band bocah mulai dari Beat G hingga The Flower Poetmen. Dan, ia pun belajar musik pada komposer ternama, Mochtar Embut. Guruh pun sangat terinspirasi dengan karya-karya monumental Ismail Marzuki.

Walaupun aktif berkesenian, Guruh tetap tak melupakan pelajaran sekolah. Terbukti, dia berhasil terpilih sebagai Bintang Pelajar saat duduk di kelas 6 SD. Usai mengenyam pendidikan tingkat SMA pada tahun 1971, Guruh yang gandrung bermain gamelan dan piano ini melanjutkan pendidikannya ke University Van Amsterdam yang terdapat di Belanda dengan memilih jurusan Arkeolog. Tapi, tak sempat selesai, karena memasuki tahun akademik ketiga, ia malah memilih untuk kembali ke Jakarta pada tahun 1974.

Sekembalinya dari negeri Kincir Angin, mempertemukan Guruh dengan sahabat dekatnya di Yayasan Perguruan Cikini yaitu Keenan Nasution, penabuh drum grup rock Gipsy yang bermarkas di Jalan Pegangsaan Barat 12 Menteng, Jakarta Pusat. Keduanya lalu berencana menggarap sebuah proyek musik eksperimen yang termasuk idealis pada zamannya, yakni membaurkan gamelan Bali dengan musik rock yang serba elektris.

Ketertarikannya pada dunia musik dan tari semakin mengkristal. Guruh mulai terlihat serius belajar tari-tarian Bali pada Anak Agung Mandra, I Wayan Diya, serta I Gusti Kompyang Raka dari kelompok kesenian Bali Saraswati.

Guruh mulai pula mengasah kemampuannya sebagai pencipta lagu. Saat itu, ia memang tengah terpana untuk menulis lagu-lagu bertemakan asmara. Ini terlihat jelas pada lagu-lagu seperti Sepasang Merpati hingga Januari Kelabu. Pada tahun 1976, sebuah komposisinya bertajuk Renjana berhasil menjadi Juara 1 dalam Festival Lagu Pop Nasional yang berlangsung pada tahun 1976. Lagu yang dinyanyikan Grace Simon ini akhirnya menjadi wakil Indonesia di World Popular Songs Festival yang berlangsung di Budokan Hall Tokyo, Jepang pada tahun 1976. Meski tak berhasil meraih penghargaan, tapi lagu yang bercerita tentang perasaan gundah dan nelangsa ini berhasil masuk ke tahap semi final.

Di saat yang bersamaan, Guruh bersama kelompok Gipsy yang terdiri dari Keenan Nasution (drum,vokal), Chrisye (vokal,bass), Roni Harahap (piano,keyboards), Abadi Soesman (synthesizers), dan Oding Nasution, berhasil merampungkan penggarapan album Guruh Gipsy setelah melalui proses perekaman hampir 2 tahun di studio rekaman Tri Angkasa yang di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta.

Tak pelak, album ini menjadi buah bibir lantaran keberanian mereka menggabungkan musik tradisional dan modern. Dalam lagu-lagu yang sebahagian besar liriknya ditulis oleh Guruh Soekarno Putera, terlihat bahwa Guruh adalah sosok yang sangat menaruh perhatian pada masalah kebudayaan. Dalam beberapa lagu semisal Janger 1897 Saka maupun Chopin Larung, Guruh memang tengah melakukan gugatan terhadap distorsi nilai-nilai budaya yang terjadi di pelosok negeri, terutama di Bali, wilayah yang menjadi tujuan wisata internasional:

Simak saja lirik lagu Janger 1897 Saka

Kalau kawan tak hati-hati

Bisa punah budaya asli

Kalau punah budaya asli

Harga diri tak ada lagi

10 tahun berselang, Guruh masih tetap lantang menyuarakan keprihatinannya terhadap infiltrasi budaya luar yang kian deras menggelora. Simaklah lirik Kembalikan Baliku, lagu yang berhasil meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award dalam World Popular Songs Festival 1987 di Tokyo:

Seni yang terpadu dalam jiwa lugu

gamelan berlalu membuatku sendu

Tak berlebihan jika kita menyebut Guruh Soekarno Putera adalah sosok seniman yang sukses menggagas pertunjukan seni dalam bingkai pop. Walaupun ia selalu membenturkan seni tradisional dalam kemasan mancanegara, tetapi semangat nasionalisme tetap tersemat dalam bentuk karya-karya seni pertunjukannya sejak tahun 1979.

Dalam catatan, Guruh bersama kelompok seni anak muda yang dikelolanya, Swara Maharddhika, berhasil menorehkan tren dalam bisnis pertunjukan pada pergelaran seni pop secara kolosal antara lain Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putera 1 (1979), Untukmu Indonesiaku (1980), Cinta Indonesia (1984), Gilang Indonesia Gemilang (1986), hingga Jak-Jak Jakarta (1989).

Walau berhasil meraup sukses secara spektakuler, pertunjukan khas Guruh Soekarno dan Swara Mahardhika tak jarang menuai kritik. Pertunjukan Guruh yang senantiasa menyilangkan dua kutub budaya: Timur dan Barat dituding memancarkan sisi glamour yang artifisial dan berlebihan.

Namun, dengan tangkas Guruh pun berkilah, ”Orang desa yang memakai gigi emas juga glamour”. Yang jelas, semangat nasionalisme yang dikobarkan Guruh Soekarno tetap merupakan sisi yang pantas diteladani dari karya karyanya. Sayup-sayup dalam rentak samba, desah suara Vina Panduwinata melafalkan larik karya Guruh:

Cinta, cinta, cinta Indonesia

Padamu beta telah menyatu

Padamu beta kan setia (membela)

Oh tanah tumpah darah nan suci mulia

Inilah janjiku padamu

Guruh dan Ir Soekarno
Guruh dan Ibu Fatmawati
Guruh saat kuliah di Belanda dengan rambut gondrong
Menabuh gamelan Bali
Menjadi penari
Menyanyi sejak kecil
Jadi sampul majalah Aktuil 1976
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s