Musik Pop Indonesia: Satu Kebebalan Sang Mengapa

Posted: Januari 13, 2011 in Uncategorized

Oleh Remy Sylado

Dan barangkali ini celakanya: pop sudah diterima sebagai suatu aib. Orang tak suka lama-lama menyiapkan hati pada diskusi pop, lantaran khawatir kehilangan penghargaan umum terhadap kesesungguhannya berfikir.

Tak bisa dimaki-maki orang yang mau begitu. Pop pada awalnya memang telah hadir dengan mengundang satu nyinyir di bibir. Ia musik yang terhujat dari keluarganya. Bukan semata di Indonesia. Tapi juga dimulai di Amerika, dari mana perdagangan seni model begini ditemukan orang resepnya.

Dari sudut estetika ia telah tumbang kehilangan hak jawabnya. Ia tak tahan kritik. Berhakim-hakim perikata kritik, berarti keawasan menghadapi obsesi dengan menerawangkan akal dan budi untuk melayani satu pokok perumusan kaidah, di mana kita dibawa pada hak penentuan obyektif atas pilihan baik-buruk, bagus-jelek, indah-tak indah. Namun, raja-raja pop, yaitu mereka yang telah memulai matapencaharian ini lebih kurang 20 tahun lalu lewat bengak-bengok seadanya di belakang mikrofon dengan akompanimen gitar melodi, gitar kocok, bas betot dan bedug Inggeris, ikhwalnya tidaklah pula suka memberi pertanggungjawaban kenapa musik pop jadi begitu sembarang.

Para cendekia musik yang agak punya latar-belakang klasik, mencela habis pop sebagai seni-seni yang istilah Inggeris-nya: dumb, vulgar, cheap, tasteless, rough, crude, degrading, uninspired. Tapi raja-raja pop yang sudah kayaraya karena pop, seperti Elvis Presley yang setiap kali bisa memberi hadiah Cadillac pada siapa saja yang memujanya, rupa-rupanya memang enggan memberi jawaban tentang itu.

Mudah-mudahan saja bab engganya pemusik pop memberi pertanggungjawaban, bukan sebab karena mereka bodoh, tapi karena bidang ini yang sudah biasanya memanjakan mereka untuk tidak usah panjang-panjang berfikir.

Musik pop adalah musik niaga. Maka jika pemusik pop diminta berfikir, mereka akan berfikir tentang laba. Orang yang mencipta, menyanyi, dan jadi cukong untuk merekam lagu pop, adalah orang yang tak memikirkan soal apakah yang direkamnya itu punya nilai etis, dan apakah seni itu tahan uji terhadap sebuah kritik yang artinya estetis, atau tidak. Yang difikirkannya adalah bagaimana jika rekaman itu rampung dan diiklankan selama sebulan di TVRI dengan biaya Rp 2,5 juta, lantas darinya ia mendapat laba Rp 25 juta.

Tidaklah mengherankan kalau kedudukan pop menjadi amat manja. Masyarakat memanjakan mereka. Seorang penyanyi pop di Indonesia yang sekolahnya tidak keruan yang menghafal nyanyian bahasa Inggeris dengan fasih kendati tak faham seluruh isi syair kecuali I love you-nya wungkul, telah menjadi amat manja, sebab dengan kemampuan yang pas-pasan itu saja tokh masyarakat telah memuliakan dia.

Jika kita datang ke rumah seorang penyanyi pop Indonesia dari jenis kelamin betina, jangan lupa tanyakan berapa jumlah vandel yang dia punyai semenjak teken diri sebagai biduanita pop. Ibu sang penyanyi dengan gratis akan turut jadi gong dalam pembicaraan putrinya. Sang ibu akan menyanjung putrinya itu. Acapkali sang ibu malah lebih ngepop daripada puterinya. Saya pernah memotret seorang penyanyi pop asal Sidoarjo di mana ibunya ujug-ujug tampil minta dipotret juga. Dia langsung berdiri di belakang bunga, lantas action memainkan senyumnya. Nyonya Perancis pun kalah.

Memang, dunia pop kerap kali membuat orang ngenas ketawa. Ia telah merubah orang-orang pop jadi padede, kenes, genit, cengeng, gembeng dan seterusnya. Masyarakat pun terlalu berlebih-lebihan memuliakan mereka, dan mengakibatkan timbulnya semacam kepercayaan dalam anggapan mereka, bahwa apa yang mereka perbuat adalah mulia, dan oleh sebab itu republik harus berterimakasih pada mereka. Saya ingat juga seorang penyanyi pop lainnya dari Semarang yang gambarnya banyak ditempel di dalam iklan-iklan minyak-gosok. Suatu ketika dia muncul di TV. Dia menyanyikan O Little Darling, lagu rock tahun 50-an. Goyang pantatnya sungguh habis-habisan. Rupanya tak ada reserve lagi. Sebegitu jauh, ada sesuatu yang kelihatan sia-sia. Bahwa kendati goyang itu sudah sukses meniru Aretha Franklin, ternyata ada hal-hal yang mengacau perasaan. Yaitu rohaninya tidak mengizinkan untuk menjadi Amerika. Dia tetap Melayu dari latarbelakang social encim-encim.

Pandangan itu saya tulis di majalah. Dan apa kata maminya? “Jangan mengkritk anak saya dong. Dia kan menyanyi untuk masyarakat Indonesia. Mestinya masyarakat Indonesia berterimakasih pada dia,” kata ibunya. Astagfirullahaladim!

Ratusan nona yang maju dalan pertandingan-pertandingan pop, baik yang berada di daerah, maupun di tingkat nasional seperti yang pernah diselenggarakan di Jakarta Theatre atau Convention Hall, rata-rata berangkat berangkat dari titik-tolak mimpi-mimpi seperti itu. Sudah jadi model juga bahwa ke mana-mana mereka pergi untuk memenuhi undangan menyanyi, pasti ibunya ikut juga. Panitia-panitia yang bepengalaman dalam showbiz malahan biasanya menyediakan tiket pesawat sebanyak tiga buah. Satu untuk sang penyanyi, satu untuk sang ibu, dan satunya lagi untuk sang babu.

Di Indonesia sekarang urusan pop ditangani oleh orang Nippon. Mereka punya perusahaan yang meniagakan alat-alat musik. Mereka mendirikan yayasan yang menbuka kursus-kursus untuk memainkan alat-alat musik tadi. Dan setahun sekali mereka menyelenggarakan festival pop tingkat nasional. Dan berhubung ada kata nasional dalam usaha itu, maka itu artinya silakan berbicara kecerewetan pop dengan mengatas-namakan bangsa. Tak heran hasrat anak-anak Indonesia untuk ikut dalam festival itu bukan alang-kepalang besarnya. Rangsangan cukup menggoda, Yaitu pemenangnya akan jadi wakil bangsa dalam festival dunia di Tokyo.

Tapi apa mau dikata. Harapan untuk memberi getaran tentang arti nasional di negeri orang-orang Nippon itu sampai saat ini tumbang melulu. Indonesia tak pernah memasuki final dalam festival itu. Berkali-kali pemusik dan penyanyi pop Indonesia pulang ke tanah airnya dengan gigit jari.

Lagu “Renjana” yang tahun 1976 dibawa ke Tokyo malah mengundang gunjingan. Pertama, lagu itu dibuat oleh seorang putera bekas Presiden Republik Indonesia. Kedua, cara menentukan kemenangan dengan kupon yang dibeli masyarakat dikatakan ada penyelewengan. Ketika lagu itu ternyata gagal, Mus Mualim, suami Titiek Puspa yang menang dua tahun sebelumnya, serta merta mengatakan bahwa “Renjana” terlalu ideal hingga meleset dari selera para juri di Tokyo yang maunya rendah-rendahan. Yang agak arif tentu saja mendengar teori Mus Mualim dengan sedikit harapan agar moga-moga pandangan yang telah dirilis oleh suratkabar itu, tidaklah terlalu banyak salahnya.

* * *

Satu inti persoalan yang belakangan ini banyak dicakapkan orang tentang musik atau lagu pop adalah kedudukan liriknya. Kritik lagu pop telah digoyangkan perkara pilihan kata-kata yang dipakai guna mengangkat ide musik dalam sebuah lagu. Bahwa adalah lagu-lagu pop Indonesia rata-rata hanya ratapan kepatahan cinta. Seakan tak ada urusan lain lagi selain itu.

Kalau begitu salahkah lagu yang mengangkat cinta dalam lirik-liriknnya? Tentu saja tidak. Tapi mengangkat tema cinta dalam sebuah karya seni tanpa punya sikap apa-apa tentang penghayatan batin, maka cinta itu cinta bebal namanya, dan mau tak mau karya itu sendiri pun telah menjadi karya yang bebal. Coba kita perhatikan lagu Bimbo, Takkan terulang lagi berikut ini:

Kini kusadar akan cintamu
Akan cintamu
Tak mungkin terulang lagi
Takkan terulang lagi

Setangkai bunga di tamanku
Jatuh terkulai dan layu
Tergugah hatiku
Teringat kasihku
Yang telah pergi dariku

Tinggallah kusendiri
Hidupku tiada berarti
Musnahlah sudah harapanku
Untuk kembali padamu

Angin berhembus seakan
Merdu merayu menghibur hatiku
Kini kusadar akan cintamu
Tak mungkin terulang lagi

Aaaah
Aaaah

Begitu syair Bimbo, sekelompok bersaudara yang anggotanya sarjana-sarjana. Ratapannya tak beda dengan ratapan penyanyi yang sekolahnya tidak keruan itu. Manusia dalam pop adalah binatang-binatang cerdik yang melulu bernudub. Tidak ada usaha untuk memberi jawaban bagaimana menghalau sedih dengan suatu perbuatan, mengubur sisa sedih dari masa silam kepada keceriaan masadepan. Coram suo manusia adalah sangsai yang habis pada peristiwa masasilam. Kekinian diri adalah tangis. Dan tak pernah lari dari itu. Lantas berfikir kepada cita-cita masadepan. Cinta hari kemarin dianggap cinta yang kudus. Padahal cinta itu sendiri telah bubar.

Itu berbeda dengan lirik-lirik pop Amerika. Dengan menyebut Amerika di sini sama sekali tidak berarti bahwa lirik-lirik pop Amerika telah mencapai suatu tantangan yang tahan kritik. Banyak lirik lagu pop Amerika yang kampungan juga. Tapi kalau dalam hubungan ini kita mencoba mengambil salah satu dari sekian banyak yang ada di tengah lirik-lirik yang katakanlah kampungan tadi, maka seburuk-buruknya yang kita pilihkan dari antara yang buruk-buruk itu, ternyata ia masih sempat memberikan harapan. Coba kita ambil As long as I have you, lagu pop tahun 1958 yang dinyanyikan Elvis Presley dalam filmnya King Creole:

Let the stars fade and fall
And I won’t care it all
As long as I have you

Every kiss brings a thrill
And I know that it will
As long as I have you

Let’s think of the future
Forget the past
You’re not my first love
But you’re my last.

Yang kita perhatikan secara khusus adalah bait ketiga, yaitu bagian reffrain lagu ini: “Mari kita fikirkan masadepan, lupakanlah masa silam. Kau bukan cintaku yang pertama, tapi kaulah yang terakhir”. Dengan ini kita tidak melihatnya lagi dari sudut estetis. Tapi kita langsung melihat akan sebuah konsep etis, yaitu pokok masalah manusia dalam hal menghadapi lapangan hidup di mana bukan hokum-hukum alam yang deskriptif yang berlaku, tapi adalah hukum-hukum normative dalam mana ia diajak berdiri pada sebuah pilihan untuk memberinya keputusan ya dan tidak.

Kasad-kata bait ketiga di atas mempunyai satu gambaran sikap hidup. Ia bisa berarti begini: “Jika di masa silammu kau pelacur, aku tak peduli, sebab atas nama cinta mari kita fikirkan masa depan kita.” Karena apakah pertanggungjawaban cinta jika bukan menyatukan dua orang yang bercinta ke dalam sebuah perkawinan? Lirik-lirik Indonesia tak pernah dewasa, sebab cinta dalamnya tak pernah pula dibawa sampai kepada pertanggungjawaban perkawinan.

Pada bagian ini kita dapati bahwa terdapat perbedaan yang menyolok sekali antara gambaran dalam pop Amerika dan lagu pop Indonesia, yang notabene adalah lagu milik remaja, kaum muda, atau mereka yang tua tapi tetap labil sebab belum pernah memasuki sebuah pertanggungjawaban cinta; kendatipun demikian janganlah dilupa bahwa urusannya tetap sama: cari uang dengan mengata-namakan cinta.

Akhirnya boleh dikata bahwa cinta dalam pop Indonesia telah menjadi kering. Ia terbunuh oleh pengetahuan yang pas-pasan. Dan keadaannya yang kepalang dimanjakan mengakibatkan penciptanya kehilangan impulsi untuk melatih kepalanya agar mustaid berfikir. Cinta adalah sebuah mannerisme. Kata-kata yang menunjangnya adalah kata-kata yang ditakar dengan kikirnya seperti dalam bakpan kue pancong. Hebatnya, banyak lagu pop Indonesia gampang sekali melibatkan “O Tuhan!” Dengan begitu cinta dan patah-cinta harus dilagukan sebagai sebuah perjalanan nasib.

Berdiri di sana, maka pop bertanya. Dalam ratapnya dia mencari-cari jawaban. Tapi karena dia hanya bertanya saja tanpa melakukan peperangan pada kesedihan, akhirnya mati jugalah dia dalam kesedihan itu. Coba perhatikan cara bertanya dalam pop berikut ini:

Mengapa sayang
Kau tinggalkan daku
Apakah sayang
Salahku padamu

Lagu ini berjudul Apa Salahku, dinyanyikan oleh A. Riyanto, pencipta yang kepalang besar namanya, dan juga pimpinan kugiran.

Kata mengapa, rata-rata telah menjadi suatu manifestasi ketidak-tentuan maknawi. Seni pop hanya “mengapa” melulu dan tak pernah memberi jawaban tentang itu. Perhatikan lagi sang mengapa dari lagu Dunia Buram nyanyian AKA, kugiran cadas dari Surabaya yang mendaulat dirinya sebagai kelompok underground Indonesia:

Oh mengapakah terjadi
Kisah yang harus kujauhi
Sebelum kusesali nanti
Mesti kukembali.

Bukan mereka saja yang mengapa. Anak-anak kribo yang dengan begitu maksudnya supaya kelihatan jantan dan sedikit liar, ternyata lembek juga dengan “sang mengapa”. Ambil contoh misalnya Rollies, sebuah pancaragam besar dari Bandung yang musiknya banyak ditentukan oleh perkembangan jazz rock Amerika, seperti Blood Sweat & Tears, Santana, Chicago, Malo dan El Chicano, tapi yang belakangan ini hanya berjaya di perkulam-perkulam Ibukota, juga tak luput dari kebebalan sang mengapa. Perhatikan lagu mereka Kesedihan Hati berikut ini:

Alangkah indah dan bahagia
Waktu kau selalu berada di sisiku
Tapi mengapa begini jadinya
Semoga dikau diterimanya.

Dalam lagu ini kita dapat lihat juga bagaimana mimpi ke masa silam begitu tak kuasa dihindari. Seakan-akan bukan laki-laki yang menyanyi ini. Keperempuanan tidak berhenti di sana saja. Deddy Dores, nama lain yang masyhur sebagai pemain kunci-jujur (keyboard) dari kelompok-kelompok jantan God Bless, Giant Step dan Super Kid, juga menukik ke bawah jadi padede ketika ia memasuki dunia rekaman. Perhatikan lagunya Tak pernah bahagia:

Bila angin bertiup pelahan
Sedih hatiku
Mengapa kau takkan kembali
Hatiku kini sedih sekali

Apabila laki-laki yang maunya jantan dengan tangkringan pemberontak karena rambutnya yang gondrong toh tak kuasa lepas dari ketergantungan sang mengapa, apa lagi hanya Broery yang memang mati-matian bekerja demi pop. Lihatlah lagunya yang berjudul Ayah berikut ini:

Ayah engkau suri hidupku
Mengapakah kau pergi
Ibu kini merana selalu
Hidup tiada menentu.

Kesia-siaan atas segala kesia-siaan kita jumpai pula dalam lirik tadi. Yang dicinta telah pergi, dan karenanya hidup menjadi tidak berarti. Instansi yang sama dapat pula dilihat pada lagu Panbers berjudul Mengapa begini berikut ini:

Mengapa oh mengapa
Nasibmu wahai manusia
Selalu bimbang dan gelisah.

Atau perhatikan juga lagu Mengapa dari Mercy’s, anak-anak Batak dari Medan yang sukses di Jakarta:

Mengapa hidupku
Selalu sendiri
Mengapa hatiku
Selalu bersedih.

Atau juga Koes Plus, sebuah simbol komersial yang ajaib; apa lagi ketika anak-anak mereka ikut menyanyi pula dengan penghasilan yang berjuta. Salah satu lagunya yang harus diperhatikan adalah Seminggu yang lalu:

Hatiku terasa tak menentu
Pikiranku tak tenang selalu terbayang
Mengapa kau cepat menghilang.

Jika yang laki-laki saja sudah tak mampu merdeka dari ratapan yang membuatnya mapan dalam pertanyaan sang mengapa, apa lagi yang perempuan. Kita sodorkan instansi lain lagi dari yang perempuan yang setali tiga uang juga dengan yang laki. Misalnya Hujan di waktu malam, nyanyian Vivi Sumanti:

Di kala kumengenang diri
Mengapa oh begini jadinya
Ah ah ah tak mungkin lagi
Terjalin kasih berdua.

Dan juga Kemana dan mengapa, nyanyian Ida Royani, sekarang jadi nyonya bangsawan Malaysia:

Apakah gerangan kesalahanku
Aku ditinggal sendiri
Hati selalu bertanya-tanya
Kemana dan mengapa.

Memang. Rupanya pop tak pernah siap berfikir untuk tidak melulu bertanya. Yang mengenas adalah ternyata bahwa lagu pop yang menang dalam festival nasional tahun 1975 adalah lagu yang sarat dengan sang mengapa pula. Tidak ini saja. Kris Biantoro yang saban minggu dikenal pemirsa TV sebagai seorang Suka Hati yang laki-laki, menyerah juga pada sang mengapa dalam rekamannya yang terbaru. Akhirnya pengalaman telah mengingatkan pop Indonesia memang hanya catatan tentang orang-orang yang sakit jiwa, yang menangisi hidupnya karena mengapa ditinggalkan cinta.

* * *

Dengan ini kita memindai dua pokok masalah kulturil yang tak pernah dijangkau dalam pop. Yakni syarat-syarat estetis dan syarat-syarat etis.

Dengan syarat estetis maka yang dimaksudkan di sini adalah hal kerinduan manusia terhadap keterpikatan pada perkara-perkara keindahan. Manusia mempunyai pengindriaan-pengindriaan tertentu yang dialaminya. Manakala ia mencoba mewujudkannya ke dalam sebuah perwujudan yang otentik, maka dengan begitu secara platonis ia menghayati sebuah kebenaran obyektif tentang hidup yang dikenalnya dengan akrab, betapapun hidup yang dikenal itu sendiri adalah sesuatu yang irrasionil.

Pada saat kecenderungan untuk menyatakan sesuatu tentang hidup itu sampai kepada perumusan-perumusan normative, yaitu batasan-batasan usaha manusia dalam mendekati kaidah-kaidah keindahan itu secara obyektif, maka dengan itu pula ia telah menghadapi sebuah pergumulan etis tentang kecenderungan estetis sebagai suatu kontemplasi nurani.

Pop tidak ambil bagian dalam dua syarat di atas. Ia telah kehilangan hak untuk memasuki ini. Realitas hidup yang diusungnya seumur-umur adalah bahwa dalam terjajahnya ia karena ketergantungannya pada selera cukong yang ditentukan juga oleh sebuah sistem sosial yang halai-balai, yang meradang oleh ekonominya yang puntang-ceranang, menyebabkan ia terus lahir berbiak-biak dalam kebebalan. Padahal seni adalah anak kandung resmi dari gagasan sang seniman. Jika seniman tak sanggup berdiri dengan akal dan budi yang segar dan ceria karena ia ditentukan oleh kebebalan yang timbul dari sebuah sistem sosial yang runtun dan tak merdeka itu, maka dengan begitu juga artinya seniman telah membiakkan kebodohan terus berpanjang-panjang. Nyatanya memang begini dalam pop.

Kejantanan dalam pop Indonensia adalah kejantanan yang semu. Laki-laki menjadi tokoh yang lalim. Dan perempuan hidupo ditentukan oleh kelaliman laki-laki. Coba saja ambil lagu Mengenang kehancuran, nyanyian Tetty Kadi berikut ini:

Setelah semuanya terjadi
Si gadis ditinggal pergi
Menderita hidupnya
Merana dengan luka di hatinya.

Laki-laki di sini adalah makhluk biadab, binatang cerdas yang licik. Dan perempuan belegug, sebab ia hanya jadi boneka manis yang pintar nangis. Dalam pada itu, jika perempuan sadar akan hal itu, lalu meminta hak yang sama dengan menyamakan sekaligus perbedaan hak tadi, itu tak bagus juga, sebab itu berarti merusak perbedaan yang telah ditentukan adikodrati. Namun, memperjurangkan perbedaan, itu berarti merusak juga kesatuan derajat. Mestinya adalah rasa tanggungjawab dengan memahami dan menyadari bahwa cinta memerlukan kepercayaan akan: perasaan kewanitaan yang tak mungkin utuh tanpa unsur laki-laki, dan kelaki-lakian yang tak mungkin utuh tanpa unsur wanita.

Kita belum menemukan syair-syair lagu pop Indonesia yang bertanggungjawab tentang arti cinta itu. Instansi yang kita petik dari lagu pop Amerika di atas tadi, tak dapat tiada merupakan sekelumit kecil saja dari jumlah yang banyak yang telah dewasa dalam pop bahasa Inggeris. Padahal Elvis Presley yang menyanyikannya waktu itu masih sinyo tanggung dengan jambul menjulang melawan debu.

* * *

Dari sudut musiknya, instansi ini tidaklah terbilang yang secara artistik boleh dibolehkan. Lagu-lagu pop zaman Presley dari dekade rock yang kedua, perjalanan akordnya sederhana sekali. Istilahnya: pop tiga jurus. Jadi jika ia mulai dari kunci G, maka jalannya C-F-G7. Atau ia bisa juga jadi G-C-D7, D-G-A7, dan seterusnya.

Adapun dekade rock yang pertama, yaitu musik-musik pop periode Bo Diddley, Chuck Berry, Bill Haley, semangatnya hampir sama dengan dekade kedua. Dekade kedua ini lazim disebut sebagai hard rock. Hard rock bukan Deep Purple atau Led Zeppelin seperti yang dianggap setengan orang di Indonesia belakangan ini, tapi adalah musik-musik rock dekade kedua.

Dekade ketiga adalah Beatles, musuh Soekarno sang orator. Koes Bersaudara dipenjara pada rezim orla sebab meniru Beatles. Pengaruh Beatles dalam musik abad duapuluh alangkah besarnya. Komponis kontemporer Amerika, Ned Rorem dengan murah hati mengatakan Beatles sebagai fenomena klasik abad 20 ini.

Dari Beatles memang berdatangan kelompok-kelompok pop yang meneruskan rock. Timbul banyak aliran darinya. Yang hebat acid rock di Amerika, yaitu jenis pop yang dimaksudkan untuk menggeliatkan telinga dari pengaruh LSD (lysergic acid diethylamide). Lirik-liriknya dicabut dari sajak-sajak Samuel Taylor Coleridge dan William Blake.

Setelah itu ada juga yang disebut baroque rock. Ini aliran yang dipelopori oleh Procol Harum dengan mengambil reminiscenza dari cantata-cantata Bach. Dari sana kemudian membuka kemungkinan pada lahirnya classic rock, yaitu musik-musik semacam Focus dari Negeri Belanda atau Emerson Lake & Palmer.

Kemudian folk rock. Aliran ini adalah sebuah hasil proses yang lama dan panjang dari kultur Amerika yang gado-gado. Newsweek kelihatan bimbang menyebut apa gejala ini. Dikatakannya folk rock adalah Beatleized Dylan pada Dylanized Beatles. Banyak nama yang lahir dari sini. Tapi yang sangat penting sekali Bob Dylan, kawan presiden Carter yang mengatakan: “Jika hendak mengetahui Amerika dengarlah lagu-lagu Dylan.”

Lalu boleh disebut satu per satu lagi tentang aliran-aliran rock itu. Ada death rock (Sangri-La, Mark Dinnine, Eddie Cochran), future rock (Byrds, New Lost City Gamblers), God rock (Electric Prunes, Association), raga rock (sonata-soneta Shakespeare yang dimusikalisasi dengan gaya India), shock rock (The Fugs, The Mother), soft rock (The Mamas & The Papas, Lovin’ Spoonful, The Zombies, Tim Hardin, Moody Blues), teeny rock (Cowsills), Viet rock (Megan Terry), dan sebagainya.

Pop Indonesia ditentukan dari sana. Tapi itu semua kebanyakan berlangsung hanya pada kelompok-kelompok musik yang maju dalam konser di panggung ketika mereka baru mulai belajar). Ketika mereka jadi terkenal dan ditawari untuk memilih musik-musik rock Amerika yang notabene telah menjajah mereka pula, kembali tidak berdenyut lagi. Perusahaan pitacoklat Indonesia kembali menentukan para pemusik pop untuk berdiri mengatasnamakan selera masyarakat yang tidak keruan itu.

Maka wajah pop Indonesia saat ini, yaitu lagu-lagu yang direkam oleh sekian banyak perusahaan, adalah tak lain: dangdut dan lagu anak-anak. Dua keramaian ini rupa-rupanya mewakili perwujudan sosial Indonesia yang jika bukan frustrasi tentulah kekanak-kanakan.

Tapi perwatakan itu mendatangkan untung. Oleh sebab itu para cukong berlomba mencetak dangdut dan pop anak-anak. Mereka yang tadinya punya semacam rasa sophisticated terhadap musik-musik kareseh-peseh, kontan ganti haluan pada dangdut. Bila anaknya mulai pandai menyanyi, dibawanya pula anak itu menandatangani kontrak perekaman. Lantas apa lagi rasa hati jika bukan sukacita yang menderu-deru. Bagaimana dengan identitas ke-Indonesia-an seperti yang sering dibincangkan orang pula? Indonesia dalam pop Indonesia samasekali kabur, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Yang namanya pop Indonesia adalah melodi Amerika tapi lirik Indonesia. Jika begitu memang seni Indonesia seni Indo. Yang namanya Indo adalah: bapak Belanda ibu bedinde. Itu wajah musik pop Indonesia. Memang susah. Tapi bagaimana?

Tak usah jauh, malah lagu kebangsaan Indonesia Raya sendiri tidak menggambarkan identitas Indonesia. Kita ingat tuduhan Amir Pasaribu tahun 50-an, bahwa Indonesia Raya plagiat atas Lekka-Lekka, Pinda-Pinda, sebuah lagu jaz. Tentang identitas nasional rupanya memang hanya dipunyai dengan kentara pada musik-musik Albeniz atau Bartok. Yang Indonesia tak jelas. Ke-Indonesia-an Indonesia dalam musik-musiknya terasa sumpeg, sama sumpegnya dengan keadaan seorang penari gypsy yang meliuk dengan korset yang sempit.

* * *

Pop tak pernah risau. Sejarahnya sudah begitu. Penggunaan  kata populer yang pertama mengenai jenis musik ini, berasal dari abad 17, dari seorang pastor Perancis di Santo Domingo yang mengadakan observasi khusus terhadap musik-musik Negro-Amerika, dan menemukan irama calenda sebagai titik awal pop. Sekarang orang mencoba menghubung-hubungkan pop dengan populasi, bahwa lagu yang cepat mengkhalayak itulah pop.

Sebegitu jauh, kata pop dalam teori seni dianggap sebagai sebuah terminus technicus yang punya konotasi tidak cantik. Pop sepanjang perjalanan kritik seni, ditempatkan sebagai hasil seni yang tidak mulia, yang kolder, kitsch dan sebangsanya. Padahal penamaan populer pada awalnya dipakai untuk menggolong-golongkan jenis-jenis lagu yang hidup bersama rakyat, yaitu lagu-lagu dalam setiap bangsa yang tak henti-hentinya didiskusikan dalam ladang etnomusikologi. Dalam bahasa-bahasa Eropa, kita temui kata populer untuk arti folk. Folk song dalam bahasa Perancis disebut chanson populaire, dalam bahasa Italia canto popolare, Spanyol cancion popular. Indonesianya, gulayak.

Namun baiklah dibedakan folk song dan pop song di sini. Perbedaan ini tidak perlu dianggap deskriptif, sebab pada akhirnya istilah pop sebetulnya istilah dagang. Musik-musik yang agung pun, jika ia telah sampai pada tujuan komersial, ia bisa juga jadi pop. Ini bisa diingatkan dengan beberapa instansi. Misalnya Valses in C-Sharp Minor Opus 64 No 2 karya Chopin, menjadi pop ketika Johnny Mathis menyanyikannya jadi So deep is the night, atau choral dari Finale Movement Ninth Symphony in D Minor karya klasik terbesar Beethoven, menjadi pop ketika penyanyi Spanyol Miguel Rios menyanyikannya jadi Song of Joy dengan pronounsiasi Inggeris yang terpuntir-puntir.

Maka yang dimaksudkan sebagai perbedaan pop dari musik-musik standar, adalah menerimanya semata-mata sebagi musik yang komersial. Dan dengan sednirinya, memandang pop adalah memandangnya dari sudut dagang. Pop adalah mode. Orang tak perlu syak, bahwa mode yang berganti-ganti dalam setiao musik, tak lebih tak kurang, semata-mata adalah politik dagang belaka.

Di Indonesia arus ini dimulai dari lagu-lagu Oslan Husein, ketika Soekarno sang orator memurkai bangsa pada pidato 17 Agustus sebagai Manipol Usdek. Walaupun sesungguhnya secara bulat, arus komersial baru mendetus pada lagu-lagu Rahmat Kartolo, lambang utama dari ciri pop Indonesia, menangis meratap karena cinta yang bubar. Piringan hitamnya tersebar luas. Dan Rahmat Kartolo dielu-elukan sebagai pahlawan, justru karena kata-kata yang lembek lagi tak senonoh dari lagunya Patah hati. Dalamnya makhluk manusia telah berubah jadi kayu. Perhatikanlah kata-katanya:

Patah hatiku jadinya
Merana berputus asa
Merindukan dikau yang tiada
Terbayang setiap masa

Oh begini akhirnya
Kasih memutus cinta
Apakah aku berdosa aduh
Derita menanggung rindu

Bila kuterkenang
Akan masa silam
Airmata berlinang

Oh risaulah hatiku
Dan musnah harapanku
Namun kudoakan dikau selalu
Bahagialah selalu.

(Lho, kepriye karepnya ini. Kok rasanya tegang-tegang melulu itu pipi. Dahi kenceng. Mulut bengkok. Entah siapa jurinya. Jalan keluar tak ada.)

Lagu itu memperoleh hit pada tahun 1963-1964. Sistem perekaman di Indonesia pun masih terbilang primitif. Waktu itu belum ada studio yang pakai 16 tracks seperti sekarang. Maka pengambilan instrumen dan vokal disatukan. Sistem tracks saat ini lebih memungkinkan pemusik dan penyanyi bekerja lebih baik. Hari pertama ia bisa merekam musik dasar. Hari kedua pemasukan vokal. Dan hari ketiga baru ditisik dengan melodi-melodi.

Tapi ternyata kendati sistem kerja perekaman telah sampai pada teknik 32 tracks sekalipun, lagu pop Indonesia masih sama juga dengan zamannya Patah hati dirilis. Padahal bandingkan patah hati dari lagu pop Amerika tahun 60-an, misalnya Crying in the rain, hit besar Everly Brothers yang diulangi lagi oleh perusahaan Polydor buat penyanyi Marty Kristian, di mana jalan keluar atas kesedihan dijawabnya dengan sugesti-sugesti:

I’ll never let you see
The way my broken heart is hurtin’ you
I’ve got my pride

And I know how to hide
All my sorrow and pain
I’ll do my crying in the rain

If I wait for the cloudy skies
You won’t know the rain from the tears in my eyes
You’ll never know
That I still love you so
Though the heartaches remainm
I’ll do my crying in the rain

Raindrops fallin’ from heaven
Could never wash away my misery
But since we’re not together
I look for stormy weather
To hide the tears I hope you’ll never see

Someday when my crying’s done
I’m gonna wear a smile and walk in the sun
I may be fool
But till darling
You’ll never see me complain
I’ll do my crying in the rain.

Kata-kata tadi tidak lagi sekedar menyatakan perasaan, tapi juga merenungkan perasaan. Ada jalan keluar jika ia menangis, yaitu: “menghalau airmata dengan menyongsong deru badai” (look for stormy weather to hide the tears), dan jika ia harus menangis, maka ia akan “pasangkan senyum dan berjalan di terik matahari” (wear a smile and walk in the sun). Perenungan puitis sekurangnya telah terangkat.

Sedangkan apa yang diambilkan dari hit Rahmat Kartolo, sebagai titik tolak dari pop Indonesia umumnya, memang habis sampai di situ saja perkaranya. Corak pop dengan sejumlah rasa sedih yang buntu tanpa jalan keluar, yang dimulai dari Patah hati itu, setidaknya telah menjadi pengalaman baru bagi semua cukong perekaman untuk mengeruk laba lewat kecengengan. Di sini tak ada arti. Kritik seni di Indonesia adalah kritik jajal-jajal bikinan wartawan olahraga dan wartawan hankam.

* * *

Sekarang ini ada puluhan perusahaan pitacoklat di kota-kota besar Indonesia. Dan mereka semua bangkit dari pengalaman tadi: menghasilkan cengeng demi orang-orang cengeng. Ada beberapa kecenderungan yang menyebabkan ini. Satu-satunya yang bisa dilihat, setelah melihat kemampuan pemusiknya yang pas-pasan, adalah juga tentang kedudukan khalayaknya itu.

Khalayak besar yang menyukai pop Indonesia, pada umumnya remaja-remaja yang berangkat dari sebuah sistem sosial yang frustrasi. Frustrasi paling besar di Indonesia adalah frustrasi yang kontekstuil pada bobroknya sistem ekonomi. Khalayak pop adalah rakyat jelata. Di antara mereka ada opas, ada juga kenek oplet, agotukung alias anak gondrong tukang kangkung, mantri persampahan, dan segala lapisan urban yang hidup dalam hiruk-pikuk kota. Kesempatan untuk melatih kuping pada musik-musik yang mulia, seperti musik-musik Bach, Handel, Mozart atau Beethoven yang hadir dari sikap etis yang jelas, tak kunjung sampai.

Alhasil, ekonomi yang tidak merdeka itu jualah yang menyebabkan segalanya jadi sumpeg begitu. Orang tak bisa hidup melayani segala rindu, jika rindu pada nasi sendiri masih harus digapai dengan terlunta-lunta. Satu-satunya kesempatan untuk melayani kuping yang rindu santapan batin hanyalah sebuah transistor AC-DC yang pandai omong, pandai main sandiwara, pandai pidato, pandai batuk-batuk soal Bodrex, soal Kao Feather Shampo, atau soal Konidin yang segera melenyapkan batuk anda dengan seketika! Cukup dengan itu maka bereslah frustrasi yang menggelantung dalam jiwa rakyat yang lapar oleh ekonomi yang halai-balai itu. Masyarakat tidak pernah kritis terhadap nilai-nilai kulturil. Mereka hanya mati bersangsai tentang harga nasi.

Apalagi ekonomi bagus, dan rakyat bisa melayani dorongan perlente, niscaya akan lahir snob-snob. Snob bukanlah suatu dosa. Justru snob bisa menuntun masyarakat kepada kemungkinan mencoba-coba mempergaulkan diri pada musik-musik seni, musik-musik standar yang tak terperi luasnya. Singkatnya, snob itu baik buat orang Indonesia. Dari sana mereka akan belajar pada pengalaman-pengalaman. Dan mengalami sesuatu secara berulang-ulang berganti-ganti, menyebabkan mereka jadi kritis memilih mana yang bagus mana yang jelek, baik-buruk, indah-takindah, tinggi-rendah, dan seterusnya. Jika mereka telah kritis, mau tak mau pilihan mereka akan musik semakin ketat. Dan itu artinya pula, pop mendapat tantangan baru untuk tidak sekedar bunyi tentang “sang mengapa.”

[Remy Sylado]

Dikutip dari Prisma edisi Juni 1977

Remy Sylado


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s