Christine Hakim (Pernah) Ngeband

Posted: Januari 15, 2011 in Uncategorized

Christine Hakim

Chrsitine Hakim dan Roy Marten

Christine Hakim

Sejak bulan puasa silam saya membuat janji untuk ketemuan dengan Christine Hakim,magma perfilman Indonesia.Tapi jadwal nggak pernah pas.Kadang dia bisa,sayanya gak bisa.Apalagi beberapa waktu belakangan ini Christine Hakim acapkali bepergian ke luar negeri terutama ke Jepang.

“Lagi ada negosiasi dengan pihak Jepang.Biasa urusan film….apalagi he he” itu ucapnya.

Hingga akhirnya pada Rabu tanggal 6 November 2008  lalu,ponsel saya berdering.Wah,Christine Hakim nelpon.”Bisa gak kita ketemu Selasa depan Den” pintanya.Saya langsung menyetujuinya.Kapan lagi,apalagi saya tengah diuber deadline perampungan buku yang tengah saya tulis.

Selasa 12 November,saya langsung bergegas ke Grand Indonesia.”Aku tunggu jam 3-an ya di Alun Alun Indonesia,lantai 3 Grand Indonesia” begitu pesan pendek Christine Hakim di ponsel saya.

Akhirnya bersua juga dengan Christine Hakim.Ternyata dia sudah ada di Alun Alun Indonesia sejak jam 2-an.Di meja coffee house Christine Hakim yang mengenakan setelan hitam hitam tengah dikelilingi para wanita paruh baya.Ternyata mereka tengah melakukan meeting.”Wah mengganggu gak nih” kataku berbasa basi.”Ah….nggak” sergah Christine.Dua diantara para wanita yang ada bersama Christine Hakim ternyata saya kenal baik yaitu Ibu Winny,isteri Pontjo Sutowo dan Ibu Dessy,isteri Tara fotografer handal Indonesia.

‘Aku ngobrol sebentar ya….dengan Denny” ucap Christine pada teman-temannya yang lagi asyik ngemil.

Oh iya ,sesungguhnya bersua dengan Christine Hakim ini bukan ingin menguak sisi dirinya dalam zona sinema Indonesia.Tapi……musik .Lha ?

Bukan tentang album duetnya bersama almarhum Broery Marantika pada tahun 1978 yang dirilis Musica Studio’s.Bukan itu.Tapi keterlibatannya dalam komunitas musik di Jalan Pegangsaan Barat No.12 Menteng Jakarta Pusat.Ini merupakan bagian dari buku “Musikku di Pegangsaan” yang tengah saya rampungkan.

“Iya itu terjadi di tahun 1972.Waktu itu aku masih duduk di bangku SMP Santa Theresia.Dan tiba-tiba diajak main band sama Oding dan Debby di Pegangsaan” ungkap Christine sambil menyunging senyuman.

“Kok bisa kenalan sama anak Pegangsaan” tanya saya.

“Gini……dulu aku dan teman teman sering main Ice Skating di Senayan.Saat itu memang belum jadi bintang film.Aku jadi model di beberapa majalah” kata Christine.Di saat yang sama band Young Gipsy yang digawangi Oding Nasution (gitar),Debby Nasution (bass),Soegeng (keyboards),Paultje Endoh (vokal) dan Narry Kertarto (drums) manggung di Senayan.”Mereka itu band yang banyak penggemarnya lho.Anak Menteng…….aapalagi aku memang suka musik rock.Saat itu kan aku sangat tomboy.Teman ku lebih banyak laki” tutur Christine lagi.

Singkat cerita,Oding lalu mengajak Christine berkunjung ke Pegangsaan.”Saya merasa secure disitu,karena mereka tuh jadi kayak abang abang saya .Mereka kan bersaudara laki semua.Joe Am,Gauri,Keenan,Oding dan Debby.Udah gitu.Di serambi depan tersedia alat band lengkap yang disediakan Pontjo Sutowo” ceritanya lagi.

“Entah gimana ceritanya…..tiba tiba aku mengiyakan untuk tampil sebagai pemain keyboard di Young Gipsy.Aku sejak kecil memang sudah pernah belajar piano klasik.Biasalah orang tua ingin anaknya punya kegiatan musik.Padahal sih,aku orangnya gak terlalu tertarik dengan seni lho.Saat itu pemain keyboards Young Gipsy Soegeng banyak mengajari saya main keyboard termasuk Debby Nasution.Bagaimana perpindahan akor dan yang sejenisnya” tutur Chrikstine panjang lebar.

“Akhirnya saya milih memainkan lagu nya kelompok Traffic.Itu band-nya Steve Winwood.Lagunya memang saya suka.Judulnya “Feelin’ Alright.Kalo gak salah 2 sampai 3 kali latihan.Young Gipsy lalu ngajak saya untuk tampil di Mini Disco.Satu satunya diskotik yang ada di Jakarta saar itu.Tempat gaul anak muda dulu” ucapnya.

“Grogi gak mbak ?” tanyaku

“Ah….gak juga….Abis yang main dan yang nonton teman semua.Apalagi disamping kri saya Soegeng sering membisiki saya untuk pindah pindah akornya ha….ha….” katanya sambil tergelak.

“Namun sebetulnya banyak hal yang bisa saya petik dari komunitas Pegangsaan.Walaupun musik semula hanya dianggap hobi belaka.Tapi mereka serius menekuninya.Aku lihat betapa seriusnya Oding dan Debby dengan instrumen musiknya.Musik yang mereka mainkan pun bukan yang gampangan” kisahnya.

Selain musik ? pancing saya lagi

“Hmmm…selain musik mereka pun taat beribadah.Sholat dan ngaji.Tahun 1975 saat menggarap film Kawin Lari bareng Om Steve (Teguh Karya,red) aku mulai rutin ikut pengajian.Ada Ida Royani juga saat itu.Jadi banyak hal yang bisa aku ambil di komunitas Pegangsaan” ujarnya.

“Termasuk ketemu Broery ?   ” desak saya

“Wah…..kita kan lagi ngomongin musik kan.Kalo yang itu dibagian lain saja….he he.Nggak konteks nanti” jawab Christine Hakim.

Pertautan Christine Hakim akhirnya memang banyak berlangsung di Pegangsaan.Film “Lawin Lari” yang dibintanginya bersama Slamet Rahardjo,musiknya digarap Eros Djarot bersama Barong’s Band yang didukung Gauri Nasution (gitar) dan Debby Nasution (keyboards).

Lalu film “Badai Pasti Berlalu” (1977) juga merupakan bagian dari kontribusi anak-anak yang kerap mangkal dan main musik di Pegangsaan.Soundtrack film fenomenal itu didukung Eros Dajrot,Chrisye,Yockie Soerjoprajogo,Fariz RM,Berlian Huaturuk,Debby Nasution dan Keenan Nasution.

Jelang magrib,usailah perbincangan saya dengan Christine Hakim,yang siap bermain film lagi.”Aku bakal syuting pada Desember nanti di Jawa Barat.Film tentang pencak silat.Sutradaranya anak muda yang bernama Gerard” jelas Christine Hakim

Komentar
  1. Damar Nyanyi mengatakan:

    Sip, mantep kupasannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s