Dan Spidol Hitam Pun Menari

Posted: Januari 30, 2011 in Kisah, Sosok

 

 

 

George Duke menandatangani piringan hitam saya

George Duke terperangah. Musisi jazz itu seolah tak percaya dengan pemandangan di depan matanya. Seorang pria menyodorkan album di awal kariernya. “Oh, boy, oh, boy?” katanya takjub. Duke meraih spidol hitam yang disodorkan kepadanya lalu menggoreskan tanda tangan di atas sampul piringan hitam album From Me to You. Dia menambahkan sebaris kalimat: “to Denny”.

(Foto Tempo)

(Foto Tempo)

Keruan saja Denny Sakrie, 43 tahun, pemilik piringan hitam itu, gembira tiada terkira. Hatinya jejingkrakan. Usaha penyiar radio jaringan Delta Female Indonesia ini tidaklah sia-sia. Setelah basa-basi sebentar, termasuk berucap thank you– piringan itu dimasukkan kembali ke dalam ranselnya. Selanjutnya, matanya langsung menyapu sejumlah musisi jazz top lainnya yang tengah keliaran di ajang Java Jazz, Maret lalu. Tujuannya sama, dia meminta tanda tangan.

Denny memang telah menyiapkan segalanya. Seperti yang kerap dilakukannya ketika musisi dunia datang ke Indonesia, sebuah ransel nemplok di punggungnya. Isinya adalah sampul piringan hitam milik musisi yang manggung di sini. “Piringannya sih aku tinggal di rumah. Aku bawa cover-nya saja,” katanya. Satu lagi yang tak boleh ketinggalan adalah sebatang spidol hitam.

Meski yang datang hanya seorang bintang, dia biasanya membawa lebih dari satu sampul album, dan tidak terbatas milik sang bintang. Semisal ketika Rick Wakeman, pemain keyboard Yes, datang ke Indonesia empat tahun lalu. Selain sampul album Yes dan proyek solonya, dia membawa album lain yang melibatkan Wakeman, seperti Sabbath Bloody Sabbath milik grup Black Sabbath dan beberapa album lain saat dia menjadi produser. “Dia senang banget gue tahu dia ikut dalam album itu dan langsung kasih tanda tangan,” katanya.

Denny Sakrie dan koleksi piringan hitam (Foto Fransiskus S/Tempo)

Denny Sakrie dan koleksi piringan hitam (Foto Fransiskus S/Tempo)

Kegemaran Denny berburu tanda tangan dimulai pada 1995. Bintang yang pertama kali menjadi korbannya adalah Phil Collins, yang manggung di bekas arena drive in Ancol, Jakarta Utara. Ketika itu Denny menyodorkan tiga buah sampul album Collins dalam bentuk compact disc. Sret, sret, spidol hitam itu pun menari.

Namun, pertemuannya dengan eks vokalis Genesis itu selanjutnya membuat dia menyesal. Denny baru sadar ternyata dalam rombongan pemain band yang dibawa Phil Collins itu terdapat nama-nama kondang lain, seperti Nathan East dan Ricky Lawson (penabuh drum The Yellowjackets). “Kalau ngeh mereka datang, gue pasti bawa album-album milik mereka juga,” ujarnya. Ketika itu dia memang hanya mengincar tanda tangan Phil Collins.

Sejak saat itu, memburu tanda tangan menjadi agenda penting tiap kali musisi dunia datang di negeri ini. Media yang dipakai untuk diteken sang bintang pun berubah. Dia memilih sampul piringan hitam. Alasannya, areanya lebih luas untuk ditandatangani ketimbang sampul CD yang sempit.

Perburuannya kini berbuah hasil. Lebih dari 50 musisi sempat menorehkan tanda tangan di album-album koleksinya. “Seorang musisi bisa menandatangani lebih dari satu album.”

Denny Sakrie (Foto Fransiskus S/Tempo)

Denny Sakrie (Foto Fransiskus S/Tempo)

Tanda tangan bukanlah sekadar coretan tangan atau penanda keabsahan. Lebih dari itu, seperti halnya buku yang diteken oleh penulisnya, tentu nilai album ini menjadi lebih. Harganya bisa berlipat-lipat. Begitu pula dengan album musik. Itu sebabnya, pemburu tanda tangan tak pernah kehabisan pelakunya. Tapi agaknya bukan itu tujuan Denny.

Sebenarnya Denny sudah memburu tanda tangan sejak masa kanak-kanak. Ketika itu tokoh buruannya adalah jagoan bulu tangkis negeri ini, seperti Rudy Hartono, Verawati Fadjrin, dan Ivana Lie. “Tapi Rano Karno juga gue mintain tanda tangan,” katanya sambil terbahak. Sayang, buku yang sempat diteken bintang-bintang itu kini raib entah ke mana. Padahal untuk mendapatkannya tidaklah mudah.

Rick Wakeman menandatangani cover album Journey

Berbeda dengan yang dialaminya saat ini. Denny banyak memiliki relasi di perusahaan promotor musik. Biasanya dia mendapat kesempatan untuk mewawancarai musisi dunia itu. Kalaupun tidak ada waktu khusus, dia biasanya menodong sang musisi ketika acara konferensi pers usai. “Langsung saja todong. Mereka tak keberatan, kok,” katanya.

Tapi tak selamanya itu berbuah hasil. Pernah suatu ketika, dia mendapat kabar soal kedatangan Ravi Shankar. Di benaknya langsung terbayang sosok pemain sitar India yang legendaris itu. Seperti biasa dia berkemas, mencari-cari koleksi albumnya. Namun, lama-lama dia tidak yakin juga. Setelah mengecek ke sana-sini, tak tahunya Shankar yang datang itu bukan si jagoan sitar. “Melainkan ahli yoga,” katanya terbahak.

Kali ini spidol hitam miliknya urung menari.

IRFAN BUDIMAN(Koran Tempo 20 Agustus 2006)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s