Membedah Warkop Prambors

Posted: Januari 31, 2011 in Film, Tinjau Film

Ternyata nonton bareng a.k.a Nobar sambil berdiskusi film layar lebar merupakan ritual yang mengasyikkan dan menggairahkan.Setidaknya itu yang terlihat pada saat bicarafilm.com menggelar acara nobar dan diskusi film Warkop Prambors jumat malam 28 Januari 2011 di Black Studio milik Zeke Khaseli yang berada di Panglima Polim III/136 Jakarta Selatan.

Pas maghrib usai,sekitar jam 18.45 penonton yang datang,yang bergerombol sejak petang mulai perlahan memasuki hall kecil Black Studio.Sebagian besar memang terdiri dari kaum belia.Masih muda.Mungkin saat film-film Warkop itu booming mereka masih belum bisa bicara lancar.Atau malah ada yang belum lahir saat film-film Warkop merajai khazanah bioskop Indonesia yang terpentang antara tahun 1979 hingga 1995.

Tadinya film yang telah dipilih panitia untuk diputar adalah film bertajuk “Jodoh Bisa Diatur” karya sutradara Ami Priyono.Tapi karena kondisi disc filmnya mengalami ganggguan ,akhirnya film Warkop Prambors yang jadi diputar malam itu adalah “Dongkrak Antik” karya A.Rizal.

Usai film diputar,acara pun berlanjut dengan diskusi yang dipandu Edwin dan Edwin dari bicarafilm.com.Pembicaranya adalah Indro Warkop.Lalu ada sutradara muda Affandi AR yang pernah membesut “Heartbreak.com” .Juga ada Hana Kasino,puteri almarhum Kasino Warkop

Affandi AR,Indro Warkop ,Denny Sakrie dan Eddy Suhardy

Hana Kasino,puteri almarhum Kasino ikut ngobrol juga

Adegan film “Dongkrak Antik”

serta dua penulis buku Warkop “Main Main Jadi Bukan Main” yaitu Eddy Suhardy dan saya sendiri.

Suasana diskusi malam itu memang jadi meriah.Karena Indro Warkop memang tangkas bertutur disertai susupan lelucon segar.Ini yang membuat diskusi ini tanpa terasa berakhir tepat di jam 24.00 WIB.

Warkop sendiri menurut Indro tampil berbeda dalam format yang berbeda.”Di saat kami tampil di radio atau panggung,mungkin kita lebih kritis dengan sindiran-sindiran yang tajam.Karena audiens kita memang berasal dari kalangan menengah keatas.Ya mahasiswa gitu lah.Tapi ketika kami masuk ke dunia film.Warkop harus memenuhi segala macam status sosial.Maka jadilah Warkop tontonan untuk segala umur.Jadi tak heran bila slapstick akhirnya mau gak mau jadi pilihan” ungkap Indro Warkop.

Konsistensi dan loyalitas Warkop memang patut diacung jempol.Sisi ini pulalah yang banyak menuai pertanyaan dari para penonton.Bagaimanakah Warkop bisa bertahan selama itu ? Bahkan ketika Kasino dan Dono sempat tak bertegur sapa selama tiga tahun.Dengan segenap profesionalismenya Warkop tetap berjalan tegar.

Foto Foto : Yudhi Arfani dan Edwin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s