Ebiet Mengeja Bahasa Langit

Posted: Februari 3, 2011 in Sosok

 

 

Seringkali aku tak menangkap isyaratMu

lewat cuaca,matahari,ombak di laut

Sering membisikkan yang bakal terjadi

Kadangkala aku memilih berdusta,mengkhianati suara hati

Sesungguhnya kejujuran ,dapat menangkal semua malapetaka

Mari kita mencoba bersahabat dengan alam

Bumi,langit dan matahari

Bahasa mereka kita pelajari

Tentunya dengan kalimat jiwa yang rahasia

Tuhan menghendaki kita pelihara

Bumi beserta seluruh isinya

Untuk itu kita harus memahami bahasa matahari

(”Bahasa Matahari” – Ebiet G.Ade 2001)

Tuturan kata yang disenandungkan Ebiet sangat bersahaja.Mudah dipahami,tapi memiliki makna mendalam.Dia menegur kita dengan lirih.Bukan dengan kelugasan slogan slogan yang menuding.Sebuah metafora yang mengendapkan nilai-nilai  religius tanpa harus berbingkai dakwah yang dogmatis.

Beberapa waktu lalu,lagu-lagu karya Ebiet G.Ade ,lelaki yang tanggal 21 April lalu genap berusia 54 tahun kembali bergaung dimana-mana.Entah itu di kaca televisi maupun melalui gelombang radio.Lagu seperti ”Untuk Kita Renungkan” atau ”Berita Kepada Kawan” menggema,melatari adegan tragis dari korban jebolnya tanggul Situ Gintung yang memakan ratusan korban tiada daya.

Ini bukan hukuman
Hanya satu isyarat
Agar kita mesti banyak berbenah
.

Lirik lagu yang ditoreh Ebiet ini seolah merupakan soundtrack wajib manakala mengemuka sebuah bencana,sebuah malapetaka.Kita pun menjadi mahfum,jika sebuah bencana terbentang,maka lagu-lagu legendaris Ebiet pun siap mengumandang.

Walaupun lagu-lagu bertema serupa juga ditulis oleh,katakanlah misalnya Iwan Fals,Ully Sigar Rusady,almarhum Gombloh,Ritta Ruby Hartland hingga Iwan Abdurachman.Namun entah mengapa,selalu karya-karya Ebiet lah yang mendampingi sketsa malapetaka itu.Bahkan Ebiet pun acapkali tak kuasa menampik undangan dari stasiun TV untuk menyanyikan lagu-lagunya itu serta disamping tampil dalam sebuah talkshow.

Lagu-lagu bernuansa balada milik Ebiet G Ade,tak bisa dimungkiri,kerap berkumandang yang beriringan dengan merebaknya berbagai bencana alam yang terjadi di negeri ini.Sebut saja  Tsunami yang menggelegak di Nangroe Aceh Darussalam, gempa bumi, banjir, dan masih banyak lagi lainnya.

Tanpa sadar kita pun ikut bergumam lirih menyenandungkan lagu karya Ebiet G.Ade :

Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
Barangkali di sana ada jawabnya
Mengapa di tanahku terjadi bencana
.

Kita pun  terpekur seolah  mengangguki tutur singer/songwriter kelahiran Wanadadi ,Banjarnegara Banyumas  , yang dilahirkan dengank nama bernuansa Islami Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far, yang seolah mencubit kulit nurani kita.
Kita manusia,pada galibnya , baru merasa tercubit, baru terhenyak, baru tergugah, dan tersadar manakala tengah  menghadapi marabahaya, malapetaka atau pun bencana.

Jika Trubadur Bertutur.

Sejak awal pemunculannya dalam industri musik Indonesia di tahun 1979,saya memang telah menagkap esensi bermusik Ebiet yang lebar dan luas.Dia tak hanya penyanyi penghibur,tapi penyanyi penutur.Berkali-kali,saat itu,Ebiet menolak disebut sebagai penyanyi.Dia selalu menyebut diri sebagai penyair yang bernyanyi.Di belahan Barat sana,para kritisi musik telah lama menyematkan sebutan singer/songwriter untuk sosok seperti Bob Dylan,James Taylor,Stephen Stills,Neil Young maupun Joni Mitchell.Dimata saya Ebiet adalah trubadur,penyanyi bertutur yang bertualang kesana-kemari dan bertutur tentang apa yang dialami dan dirasakannya. Mungkin, akan berbeda dengan sosok melegenda  Bernard de Ventadoor, Arnaut Daniel, maupun Bertran de Born, para troubadour Prancis yang hidup di abad ke-12 dan 13, yang senantiasa  menyenandungkan lirik-lirik pujian untuk para bangsawan dan kalangan istana kerajaan.

Sebaliknya,Ebiet G Ade yang acapkali  bergaul dengan sederet seniman Yogyakarta sejak tahun 1971, malah menukik lebih ke bawah lagi, menyusup ke dalam problematika kaum jelata. Dan, yang lebih intens lagi, bagaimana upaya Ebiet memotret sisi manusia agar bercermin lebih kontemplatif dalam cobaan-cobaan yang diberikan oleh Tuhan.,sang Pencipta.Kandungan lirik yang digurat Ebiet patut diakui memendam ketegaran menghadapi kegetiran.

Lihatlah lirik  lagu yang ditoreh Ebiet bertajuk “Nasihat Pengemis Untuk Istri dan Doa Untuk Hari Esok Mereka” :

Istriku, marilah kita berdoa
Sementara biarkan lapar terlupa
Seperti yang pernah ibu ajarkan
Tuhan bagi siapa saja
Meskipun kita pengemis pinggiran jalan
Doa kita pun pasti Ia dengarkan
Bila kita pasrah diri, tawakal

Kadar kesenimanan Ebiet kian kukuh tatkala mulai bergabung dengan komunitas seniman Yogya antara lain berkarib dengan Emha Ainun Najib.

Saat itu Ebiet memberanikan diri memusikalisasikan puisi karya Emha Ainun Najib di paruh era 70-an bertajuk ”Kubakar Cintaku”. Terlihat sudah bahwa lelaki bertubuh kecil ini sesungguhnya  sangat terobsesi dengan zona puisi. Namun seperti diakuinya, ketidak kemampuannya untuk maju ke depan membacakan sajak atau puisi, malah membuat Ebiet bersiasat dengan mengimbuh melodi pada barisan atau deretan kata-kata yang termaktub dalam sebuah puisi. Dia pun menyenandungkan bait puisi-puisi , mulai dari karya Sapardi Djoko Damono hingga penyair wanita Amerika Serikat, Emily Dickinson yang dalam karya puisinya kerap menyampirkan atmosfer religius.

Ebiet ternyata memiliki kemampuan menata melodi lalu menyelaraskannya dengan deretan kata puisi. Dengan mencangklong gitar akustik, mulailah lelaki bertubuh kerempeng dan berkacamata minus ini tampil dengan musikalisasi puisinya di berbagai tempat pertunjukan seni, seperti di Seni Sono, Patangpuluhan, Wirabrajan, dan Yogyakarta.

Dengan tekad dan segenap keberanian, Ebiet lalu menjejakkan kaki di Jakarta. Mulailah ia menawarkan karya-karyanya di berbagai studio rekaman. Penolakan pun datang bertubi-tubi. Tapi, toh ia pantang berputus asa dan berpatah semangat. Hingga akhirnya Jackson Arief pemilik Jackson Records and Tapes yang berkantor di wilayah Pluit, Jakarta, tertarik dengan timbre vokal Ebiet serta lirik-lirik yang ditulisnya sendiri.

Ebiet pun menuliskan impresi terhadap Jakarta,kota yang lalu menempanya sebagai salah satu ikon musik pop Indonesia,dalam lagu bertajuk ”Jakarta”.

Selamat pagi padamu, Jakarta
di pintumu kau tak sambut tanganku
Hanya suara tawamu kudengar parau, Jakarta
dan nafasmu gemuruh gemerlapan
Seperti sengaja kau ciptakan untukku
Sementara, masih tersisa gema doa di mulutku
Inikah Jakarta? Hanya beginikah sikapmu Jakarta?
Atau aku yang salah bila kukatakan kau tak ramah?
Debu-debu panas di jalanan
nampak sepi dari cinta dan kasih sayang
Tidak seperti di kampungku yang hijau

Tahun 1979, Ebiet meluncurkan album perdana. Di luar dugaan, album ini mendapat sambutan hangat baik dari media cetak maupun khalayak pendengar. Dengan cengkok Melayu yang melumuri permukaan lagu, warna vokal yang mengingatkan kita pada John Denver maupun Said Effendi ini, serta lirik yang tak lazim, Ebiet mulai menuai pesona. Bagian akhir dari lirik lagu ”Jakarta” tampaknya berbuah hasil :

Bersabarlah akan kutundukkan Jakarta untukmu !

Intuisi Ebiet tak ubahnya  lensa kamera yang  merekam peristiwa apa pun. Lagu ”Berita Kepada Kawan”, misalnya,ditulis Ebiet pada Juni 1978, di saat  terjadi bencana gas beracun dari kawah Sinila di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah..

Lalu Ebiet pun menala nada dan syair ketika Gunung Galunggung di Jawa Barat menggemerutuk dahsyat di tahun 1982 dan berkumandanglah lagu ”Untuk Kita Renungkan ”. Termasuk bencana bencana yang terjadi di darat dan laut seperti kapal Tampomas II yang karam secara mencekam  di perairan Masalembo, yang diungkap dalam lagu ” Sebuah Tragedi 1981” maupun tragedi  kecelakaan Kereta Api Bintaro, 19 Oktober 1988, dalam lagu ”Masih Ada Waktu”

Sebagai seorang penyaksi,Ebiet pun menulis pelbagai  dimensi dari banyak  episode kehidupan entah itu persahabatan, percintaan, kerinduan, kegundahan, kegagalan, hingga atmosfer religius.

Jemari Ebiet memetik dawai gitar,mendampingi suaranya yang menggetar :

Kita dengar nyanyian alam
Kita simpan jadi nyanyian
Dendang kebebasan, gema potret merdeka
Lahir dari jiwa tenteram sejahtera
Setiap orang pun bebas
Untuk turut bernyanyi
Meskipun sumbang, lepas terdengar.

Denny Sakrie,pengamat musik

(Tulisan ini dimuat di majalah Madina Mei 2009)

Lukisan Ebiet G Ade oleh Frank Go

Piringan Hitam Ebiet G Ade Produksi Jackson Records & Tapes


Komentar
  1. januarpribadi mengatakan:

    Mantap ulasannya bro ! Salam dan Sukses selalu !

  2. bang noer mengatakan:

    man…… KEREN man

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s