Huru Hara di Udara

Posted: Februari 6, 2011 in Liputan, Opini

Oleh Denny Sakrie

Sabtu 28 Juli 2007 di sebuah areal bernama Bulungan Outdoor di Jakarta
Selatan, ribuan remaja berjejalan ingin menonton konser Riot on Air,
menandai setahun acara Riot on Air berkumandang di radio anak muda Prambors.

Di sini berjejer kelompok musik bukan arus besar dari beragam genre, ada
rock, pop hingga dance elektronik yang datang dari Bandung, Surabaya, dan
Jakarta, seperti The Changcuters, Netral, White Shoes & Couples Company,
Burgerkill, Konseletting Kabel, Spedkill, Straight Out, Killed By Butterfly,
Pure Saturday, dan Jalur Pantura.

Keragaman gaya musik konser ini toh tak seseram nama acaranya, Riot on Air.
Tak ada huru-hara secara fisik, tetapi huru-hara dalam bermusik.

Pemandangan semacam ini justru mengingatkan kita pada keberadaan sebuah klub
yang menjadi ajang komunitas musik bawah tanah di New York City bernama CBGB
(singkatan Country Blue Grass Blues) yang digagas dan didirikan oleh Hilly
Kristal pada bulan Desember 1973.

Walaupun nama klub musik ini mengusung jenis musik yang mendominasi Amerika
Serikat, toh Kristal menyambut segala macam jenis musik. Di CBGB ada satu
syarat: hanya boleh memainkan musik karya sendiri. “Play only your own
music”, demikian aturan yang ditoreh Hilly Kristal.

Pada akhirnya CBGB menjadi ajang kreativitas yang sarat ekspresi. Dalam
kurun 1973-1975, di Amerika tengah berkecamuk banyak problematika, mulai
dari resesi, skandal Presiden Nixon, hingga berakhirnya kesia-siaan perang
Vietnam.

Anak muda dihinggapi gelombang disoriented. CBGB akhirnya menjadi ajang
pelampiasan rasa frustrasi, pelampiasan mimpi-mimpi yang membelenggu hingga
menepis fobia sosial.

Situasi ala CBGB itulah yang jelas tertangkap dalam ritual musik Riot on Air
yang telah setahun berkumandang di Radio Prambors Jakarta bersama
sindikasinya yang berada di Medan, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Solo, dan
Surabaya.

Bermula dari sebuah acara musik mingguan yang bertajuk Thursday Riot yang
digelar di sebuah klub bernama Parc. Di sini merupakan ajang berkiprahnya
sederet band-band indie dengan konsep musik ke arah cutting edge.

Setiap Kamis malam beraksilah band-band tersebut, seperti Straight Out,
Agrikulture, Sore, The Safari, dan The Sastros.

Sayangnya, usia Parc tidak berlangsung lama. Karena merugi, Nasta Soetardja,
sang empunya klub, lalu membubarkan dan menutup Parc pada Januari 2006.
Setelah Parc terkubur, Nasta lalu menggagas untuk merilis sebuah album
kompilasi bertajuk Riot-The Thursday Riot Compilation yang didukung sederet
band yang pernah manggung di Parc, seperti Mocca dan White Shoes & Couples
Company yang menyeruakkan aura tweeky pop dan sunshine pop, The Hydrant
dengan suguhan rockabilly survival, Goodnight Electric dengan nuansa
elektronik.

Juga ada C’mon Lennon, Dagger Stab, dan masih banyak lagi. Sebuah suguhan
musik gado-gado yang berkarakter kuat dan memiliki atmosfer menantang untuk
disimak, seperti tagline yang tercantum pada sampul albumnya: “take a
pleasure at this rollercoaster ride of riot”.

Tatkala album ini dirilis, Nasta lalu mengincar Radio Prambors yang
bersegmen anak muda sebagai media mempromosikan album. Niat Nasta malah
disambut sangat antusias oleh Anton Wahyudi (Music Director), Warman
Nasution (Program Director), dan Junas Miradiarsyah (Promotion Manager) dari
Radio Prambors.

Mereka malah melihat Riot sebagai komunitas musik layak untuk diapresiasikan
sebagai program radio. Kasak-kusuk ini akhirnya berbuah hasil juga. Acara
Thursday Riot yang telah terkubur dibangkitkan lagi dalam bentuk zombie
bertajuk Riot on Air yang disiarkan Prambors setiap Kamis malam. Persis sama
dengan yang digelar di klub Parc dulu.

“Sebetulnya pada saat Parc belum bubar, Prambors sudah berniat untuk
me-relay acara mingguan ini,” jelas Anton Wahyudi, yang juga gitaris
kelompok indie Fable.

Nasta terkaget-kaget mendengar gagasan Prambors ini. Apalagi acara ini akan
di-relay langsung di tujuh kota jaringan radio Prambors dengan menggunakan
multi-protocol label switching, sebuah sistem telekomunikasi dan jaringan
komputer yang bisa memancarkan kualitas audio secara optimal. Acara ini juga
didukung oleh Three Chord System yang menyediakan fasilitas audio secara
lengkap.

“Setelah itu sempat bingung juga tempatnya di mana ya? Akhirnya kita pun
bersempit- sempitan di studio siaran dengan peralatan band komplet. Bukan
sekdar tampil akustik,” tambah Anton Wahyudi .

Siaran perdana Riot on Air berlangsung pada Kamis 27 Juli 2006 di Studio
Prambors lama, Jalan Mendut 15 Jakarta Pusat. Kelompok yang tampil saat itu
adalah Sore dan The Brandals. “Sekalian tahlilan lima bulan matinya Parc,”
ucap Anton bercanda.

Sejak itulah Riot on Air mengudara dengan sederet band-band non-mainstream
yang tercerabut dari komunitas indie, semisal Vox dari Surabaya, Mocca, dan
The S.I.G.I.T dari Bandung, atau Bangkutaman dari Yogyakarta.

Reaksi positif pun mulai menggenangi Riot on Air. Ini terlihat dari beragam
SMS yang masuk di saat acara dikumandangkan. Menurut Anton Wahyudi, ada
sejumlah SMS senada yang mengatakan bahwa mereka “terselamatkan” karena Riot
on Air bisa dan konsisten menyuguhkan band-band non-mainstream.

Armand Maulana (vokalis Gigi) pun sering mengirimkan SMS bernada protes
bahwa ada beberapa band yang secara kualitas belum pantas tampil di acara
ini. “Tapi, sebetulnya hal ini biasa terjadi dalam komunitas indie. Karena
kualitas terkadang dinomorduakan. Yang penting attitude-nya ada. Dan
membawakan karya sendiri,” kata Anton Wahyudi.

Setidaknya hal seperti ini juga pernah dideklarasikan oleh Hilly Kristal,
pemilik dan pendiri CBGB ,di New York City.

Menurut Kristal:”Originality to me was prime, technique took second place.”
Orisinalitas merupakan hal utama, lalu diikuti masalah teknik musikal.
Rasanya hampir sebagian besar pemusik yang memayungi diri di bawah komunitas
indie di seantero jagat memiliki kredo yang sama dengan yang sering
diucapkan Hilly Kristal: “Come as you are and do your own thing.”

Acara Riot on Air ini memang menimbulkan gaung di beberapa daerah. Siapa
yang menyangka jika acara sejenis ini pun digagas, seperti Fort Minor di
Medan, Kriboduction di Yogyakarta, Comedy Rock Attack di Bandung, dan Club
Tuesday di Surabaya.

Paling tidak acara semacam Riot on Air dan yang sejenis merupakan indikasi
bahwa para penikmat musik justru membutuhkan sebuah saluran atau ruang
alternatif. Bahkan, pemusik dan penggemar musik indie secara komunal memang
membutuhkan sebuah ajang atau wahana untuk mengekspresikan diri
sebebas-bebasnya tanpa aturan-aturan maupun doktrinasi dalam sekte
industrial.

Kehadiran musik berkonotasi cutting edge bahkan bisa menjadi oase di saat
industri musik tengah dilanda stagnasi dan paceklik.

Dan, huru-hara itu pun masih terus bergejolak

Tulisan ini dimuat di Harian Kompas Agustus 2007

WhiteShoes and Couples Company

The Changcutters

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s