Pejuang Musik dari Tuban

Posted: Februari 6, 2011 in Sejarah, Sosok

(Tulisan ini dimuat di majalah d’Maestro edisi Agustus 2004)

Koes Plus Damon Koeswoyo

Tonny Koeswoyo dan sang ayah Koeswoyo

Sejatinya,hari ini,tak ada Dewa,Slank,Padi,Sheila On 7 dan lainnya,jika sebelumnya tak ada Koes Bersaudara (KB) atau Koes Plus (KP).Tak berlebihan pula,jika putra putra Koeswojo – seorang ambtenaar asal Tuban (Jawa Timur) dianggap sebagai The Beatles Indonesia,karena KB juga memelopori era ngeband di Indonesia.Sikapnya pun jelas,membawakan karya cipta sendiri.Suatu hal yang dianggap ketinggalan zaman saat itu.
Akhir 1950-an kebanggaan bermain musik justeru terletak pada kefasihan membawakan karya karya pemusik semisal Elvis Presley,Cliff Richard,The Shadows hingga The Beatles.
Koesdjono (John),Koestono (Tonny),Koesnomo (Nomo),Koesjono (Yon) dan Koesrojo (Yok),sebetulnya juga pernah membawakan repertoar asing seperti Kalin Twin,Everly Brothers maupun The Beatles.Tapi nurani  mereka terutama Tonny berontak dan ngotot membavakan karya sendiri – terutama karya Tony – seperti “Pagi Yang Indah”,”Telaga Sunyi”,”Senja ” dan “Dara Manisku”.
Sialnya,oleh penguasa ketika itu,lagu lagu mereka dituding membahayakan mental pemuda karena dianggap cengeng dan tidak patriotik.Saat itu sebetulnya ada juga band band yang menyanyikan repertoar asing,toh lolos dari tudingan.Dituding tidak nasionalis,itu juga kurang tepat.Sebab lagu lagu mereka ditulis dalam bahasa Indonesia.
Tapi ibarat seorang pejuang,KB tidak pernah mundur.Mereka konsisten,meski sempat diganjar tiga bulan penjara di Glodok (1965) tanpa alasan yang jelas.
Ada yang menduga,KB diplih sebagai tumbal politik untuk mengalihkan perhatian dari kemelut politik.Bisa jadi KB adalah bagian dari sebuah skenario.Apalagi keempat bersaudara ini dilepaskan begitu saja tepat sehari sebelum Peristiwa G 30 S PKI.
Yang jelas KB telah jadi martir musik pop di negeri ini.
Terpaan badai kedua yang menimpa setelah dibabat Orla,adalah mundurnya Nomo.Lalu muncul era Koes Plus yang didukung Kasmuri atau Murry di tahun 1969.
Nafas baru menyeruak dalam konsep musik yang ditoreh KP.Jika KB terasa lebih folkie dengan sentuhan harmonisasi vokal ala The Everly Brothers maupun Kalin Twin.Maka KP lebih open minded.Di album perdana KP “dheg Dheg Plas” yang dirilis Dimita,tercium bau psychedelic rock yang memang tengah mewabah di belahan barat sana.
Kala itu The Beatles baru saja dipuji dengan album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” (1967),The Rolling Stones dengan “Their Satanic Majestic” atau Bee Gees dengan  “Odesa”.
Dan KP dengan cerdik menyulam pengaruh musik psychedelic dari ketiga grup Inggeris itu dalam lagu “Kelelawa”,”Cintamu Telah Berlalu”,”Kembali Ke Djakarta” dan “Manis dan Sajang”.
Konsep musik yang ditawarkan KP itu memang seolah “mendahului zaman”,sehingga album ini sempat gagal dalam pemasaran.Khalayak mungkin belum terbiasa dengan racikan musik KP itu,masih terbuai dengan KB.Setahun setelahnya,baru album KP dilirik orang.
Rasanya tak ada pilihan lain di negeri ini jika menyebut KP sebagai pendobrak musik pop.Karena setelah munculnya KP ,lalu mencuat banyak band yang berkiprah dengan tendensi dan tradisi mencipta lagu sendiri.Ada Panbers,Favorite’s Group,The Mercy’s,D’Lloyd dan sederet panjang lagi.
Dominasi group group band begitu terasa hingga akhir tahun 70-an.KP sendiri berlenggang sendiri di depan tanpa saingan.Bahkan lalu muncul epigon yang mencoba memiripi KP misalnya No Koes,Kembar Group,Usman Bersaudara,Topan Group,Sir Koes dan lainnya.
Di mata pengusaha musik rekaman KP adalah tembang emas tiada tara.
KP pun terjebak arus komersialisasi membabi buta.Pelbagai aliran musik pun direkam KP – tak hanya musik pop,tapi juga dangdut,keroncong,pop Jawa,pop anak-anak,qasidah,christmas dan entah apa lagi.
Dalam setahun KP tercatat merilis lebih dari 3-5 album.Bahkan di tahun 1974 KP merilis 22  judul album.
Bisa dibayangkan betapa terkuras habis energi kreativitas mereka.
Dan seperti yang bisa ditebak,di jalan ini pulalah KP tersungkur.
KP jadi korban kiat dagang yang hanya memihak pada sisi aji mumpung belaka.Ini adalah terpaan badai yang ketiga.
Dan terpaan badai keempat,Tonny Koeswoyo sang inspirator meninggal dunia pada Maret 1987.
Regenerasi menjadikan KP harus keluar dari kotak industri musik.Tapi yang tak terbantahkan : KB atawa KP adalah bagian dari sejarah musik negeri ini.
Dan kesalahan terbesar jika membicarakan musik pop Indonesia tanpa menyebut kpirah Koeswoyo bersaudara.

Denny Sakrie

Iklan
Komentar
  1. yoki alfikar berkata:

    makasi info2nya mas,,sangat membuka wawasan 🙂

  2. […] This post was mentioned on Twitter by rezky agil pradhana, yoki alfikar. yoki alfikar said: makasi infonya om RT @Dennysakrie: Bapak Band Indonesia https://dennysakrie63.wordpress.com/2011/02/06/pejuang-musik-dari-tuban/ […]

  3. gilbert0345 berkata:

    rasanya juga ngga berlebihan kalo Koes Bersaudara dan Koes Plus dianggap sebagai pahlawan kebudayaan, dengan lagunya seperti Land of Evergreen, Kolam Susu serta yang pasti Nusantara yang sampai bervolume-volume itu, KB dan KP gak cuma menghibur tapi menanamkan cinta tanah air dan bangsa….salut buat KB dan KP termasuk Jon Koeswoyo yang membidani cikal bakal KB……..terimakasih buat KB dan KP dan jg mas Deni tentunya yg udah mau berbagi info…… “salam”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s