Presiden Funk !

Posted: Februari 6, 2011 in Sosok

 

Dia hanya mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar. Dia, yang ketika berusia empat tahun ditinggalkan begitu saja oleh sang ibu, ternyata banyak berhubungan dengan dunia hitam. Usia 16 tahun, dia dijebloskan ke dalam penjara karena mencuri.

DIA pernah diundang makan malam di Gedung Putih oleh Presiden Lyndon Johnson dan bersahabat dengan Presiden Jimmy Carter. Dia menyebut dirinya “The Hardest Working Man in Showbusiness”, tetapi para pemujanya malah menyebutnya sebagai “Presiden Musik Funk”. Tetapi, ah lagi-lagi dia sering keluar masuk penjara.

Tak pelak lagi, dialah James Brown yang dilahirkan 3 Mei 1933 di Barnwell, South Carolina, Amerika Serikat (AS). Tentang tanggal dan tempat lahir Brown, memang cukup membingungkan. Begitu banyak data berlainan yang muncul dalam berbagai sumber. Dan memang tepat ia menyandang julukan “Superbad” seperti judul salah satu hitnya di tahun 1970.

Brown sendiri memang memiliki banyak julukan, misalnya “The Godfather of Soul” yang tertera pada sampul album soundtrack film Black Caesar (1973). Ia pun mencantumkan julukan “The Minister of New Super Heavy Funk” pada sampul album Reality (1975). Julukan lainnya “Funk Soul Brother Number One” hingga “Our Number One Ambassador” serta “Mr Dynamite”.

Walau julukan tersebut terkesan hiperbolis, rasanya julukan itu memang pantas disandang seniman musik sebesar Brown. Sosok Brown tak hanya superstar kulit hitam, melainkan lebih dari itu: pemimpin informal kulit hitam yang bisa saja dideretkan dengan Martin Luther King, misalnya.

Musiknya sendiri memang bagai air terjun yang tiada habis-habisnya menjadi inspirasi bagi siapa saja, mulai dari rock, disko, hingga jazz. Biang jazz Miles Davis mengambil bass line Brown dalam karya-karya elektrik jazznya. Michael Jackson tanpa malu-malu meniru gerakan tarian khas Brown yang fenomenal.

Belum lagi kreasi para disc jockey di seluruh dunia yang sering “meminjam” teriakan maupun suara Brown. Juga beat drum dan bass line lagu-lagunya, seperti Get Up Offa That Thing, Sex Machine, dan I Got You I Feel Good yang menjadi sampling sound dalam sederet lagu disko dan hip-hop.

Sebagai sosok kulit hitam yang hidup di negara yang saat itu masih memperlakukan kulit hitam sebagai warga negara kelas dua, Brown memang kerap mengalami masa-masa sulit penuh penderitaan. Ketika sang ibu tega meninggalkannya, Brown diasuh tantenya, Handsome “Honey” Washington, yang bermukim di Augusta, Georgia.

Brown pun terpaksa drop out dari sekolah dasar karena tak mampu secara finansial. Ia lalu membentuk kelompok vokal The Cremona Trio. Ketika ketahuan mencuri, Brown dijebloskan ke dalam penjara pada tahun 1949. Selepas menjalani hukuman, Brown bersahabat dengan Bobby Byrd, seorang pianis.

Sejak itu, Brown menumpang tinggal di kediaman nenek Byrd di Toccoa sebelum akhirnya bersua dengan Clint Brantley, Manajer Little Richard, yang memberi dia kesempatan bermain di sebuah kelab malam di Macon, Georgia. Brown saat itu bermain drum dan organ pada berbagai grup, seperti Bill Johnson, The Four Steps of Rhythm, dan The Gospel Starlighters.

Brown juga bergabung dengan The Three Swanees, kelompok gospel yang dibentuk oleh Byrd hingga akhirnya membentuk grup sendiri, The Famous Flames. Tahun 1956, Brown & The Famous Flames merilis rekaman pertama Please Please Please melalui King Records dengan kontrak senilai 200 dollar AS dan lagu Brown yang memperoleh sukses secara nasional untuk pertama kalinya adalah Try Me (I Need You) (1959).

Kiprahnya mulai bersinar ketika ia merilis album Live at the Apollo (1963) yang mengeduk pemasukan sekitar satu juta dollar AS. Album ini berhasil menduduki peringkat kedua album terlaris, juga dianggap sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam pembuatan album konser.

Mulai dari pertengahan dasawarsa 1960-an hingga awal 1970-an, nama Brown harum semerbak dalam industri musik di AS. Bukan hanya musik yang mengharumkan sosok si anak badung ini. Brown juga mulai mengadakan serangkaian kegiatan yang bersifat sosial.

Pada bulan Agustus 1966, misalnya, dengan menaiki pesawat jet pribadinya, ia berkunjung ke Washington DC menemui Wakil Presiden Hubert Humphrey untuk mendiskusikan kampanye sosial Don’t Be A Droup Out yang menjadi lagu tema kampanye Stay in School di seluruh negara bagian. Brown sangat gigih melakukan kampanye anti-drop out sekolah karena dia sendiri telah merasakan betapa sedihnya ketika harus berhenti sekolah.

Brown juga tampil di layar televisi untuk menenangkan publik Amerika yang tengah bergejolak. Terbunuhnya Martin Luther di tahun 1968 memicu kerusuhan di 30 kota. Selain itu, Pemerintah AS pun mengutus Brown ke Vietnam untuk menghibur pasukan AS.

Puncaknya, Brown diundang menghadiri perjamuan santap malam di Gedung Putih atas undangan Presiden Johnson dan istrinya. Brown memang tengah jadi fokus perhatian saat itu, apalagi ketika merilis America is My Home, sebuah lagu dengan gaya naratif yang liriknya menyinggung soal kesadaran sosial dan patriotisme. Tak berlebihan jika Brown dianggap sebagai ikon AS.

Demam Brown di Indonesia

Lagi pula, tak hanya di Negeri Paman Sam saja ia berhasil mendulang sukses gemilang. Ketenaran Brown sendiri mulai merambah ke seantero jagat, termasuk Indonesia juga tentunya.

Di Indonesia, lagu-lagu Brown mulai sering diputar di radio- radio bukan RRI dan di acara-acara disko yang berlangsung dari rumah ke rumah, seperti I Got You I Feel Good, Hot Pants, hingga It’s A Man’s Man’s Man’s World.

Di pentas-pentas pertunjukan di beberapa kota, mulai dari Jakarta, Bandung, Medan, hingga Surabaya, lagu-lagu Brown berkumandang dibawakan oleh grup-grup rock sohor, seperti AKA, The Rollies, dan Gipsy. The Rollies, melalui vokalisnya, Bangun Sugito yang bertampang dan memiliki suara mirip Brown, sering menyanyikan I Got You I Feel Good dan It’s A Man’s Man’s Man’s World.

AKA selalu tak lupa menyanyikan lagu Sex Machine. Bahkan, AKA pun membuat lagu yang mirip karya Brown, seperti Shake Me dan Do What You Like.

Popularitas Brown memang semakin menjulang di tahun 1970-an ketika lagu-lagu seperti Sex Machine dan Superbad terjual jutaan keping. Dengan sukses yang spektakuler, wajar rasanya jika Brown lalu menyebut dirinya sebagai “The Hardest Working Man in Showbusiness”.

Akan tetapi, persoalan lain muncul karena Brown dituduh melakukan penggelapan pajak. Pemerintah menganggap Brown tidak memenuhi kewajiban membayar pajak sekitar 4,5 juta dollar AS antara tahun 1969 dan 1970.

Lalu apa kata Brown? “Ketika mendapat surat tuduhan mengelak pajak, saya lalu mengirimkan surat kepada Presiden Carter yang memang saya kenal baik. Saya bilang, ’Pak Presiden, Anda telah melihat karya-karya saya dan Anda tahu apa yang saya lakukan selama ini’,” tutur Brown, seperti ditulis majalah Uncut edisi Maret 2004.

Mungkin benar kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, begitulah Brown. Di samping karya-karyanya yang fenomenal dan kesadaran sosialnya yang tinggi, Brown memang memiliki daftar yang cukup panjang dalam urusan dengan pihak berwajib.

Ia pernah dituduh memancing kerusuhan, mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk, sering terlibat dengan narkoba, melakukan pelecehan seksual, hingga ke tindak kekerasan terhadap istrinya. Ini semua telah menggiring Brown meringkuk di balik jeruji hotel prodeo.

Akan tetapi, Brown masih tetap seorang ikon musik funk dan soul nomor satu yang rasanya belum ada tandingannya hingga saat ini. Sangat kontradiktif memang dan tak jauh beda dengan yang diteriakkannya dalam lagu bersuasana funky yang kental, Superbad:

I Got Soul and I’m Superbad!

Denny Sakrie Pengamat Musik dan Penyiar Radio di Jakarta

Tulisan ini di muat di Harian Kompas  I2 Maret 2004

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s