Kembali ke Retro

Posted: Februari 13, 2011 in Uncategorized

Band-band anak muda yang mengais kembali konsep rock era awal bermunculan dalam 2-3 tahun belakangan terakhir. Boleh dibilang ini fenomena unik. Band-band di jalur indie ini bahkan diam-diam membangkitkan kembali fashion rock ‘n’ roll era dulu. Beberapa nama band bisa disebutkan, seperti The Brandals, The S.I.G.I.T, The Adams, Sore, Karon N Roll, The Miskins, dan The Hydrant.

Setidaknya ada dua perusahaan rekaman indie yang menampung hasrat bermusik grup-grup yang bertendensi ke pola retro itu, yakni Aksara Records di Jakarta dan Fastforward Records di Bandung. Di dua kota besar inilah sebetulnya terjadi suplai band-band yang seolah terlontar ke masa silam dengan mesin waktu.

Simaklah album The S.I.G.I.T (akronim dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent) yang dirilis oleh Fastforward Record. Artwork-nya terlihat serius. Begitu menyimak musiknya, terasa benar atmosfer rock era akhir 1960-an hingga 1970-an, adonan blues rock dengan psychedelia. Ada ambience yang kasar dan energetik seperti yang ditampilkan Blue Cheers (power trio asal San Fransisco), juga blues rock Led Zeppelin, dan sedikit energi The Stooges-nya Iggy Pop. Pola permainan gitarnya terkadang menggiring ingatan ke gaya Southern Rock ala The Allman Brothers ataupun Lynyrd Skynyrd. Kelompok asal Kota Kembang yang didukung oleh Rekti (vokal, gitar), Farri (gitar), Acil (drum), dan Adit (bas) ini menulis seluruh repertoarnya dalam bahasa Inggris.

Semangat mengais konsep rock ‘n’ roll juga bersemayam dalam diri grup asal Jakarta, The Brandals, yang terdiri atas Eka Annash (vokal), Ricky Annash (drum), Tonny Dwi (gitar), Doddy (bas), dan Bayu (gitar). The Brandals menjumput referensi musik dari Elvis Presley, The Stooges, Velvet Underground, David Bowie, The Clash, hingga The Rolling Stones. Grup-grup rock Inggris dan Amerika itulah yang jadi alas berpijak musik mereka.

Sejak merilis debut album pada 2003, The Brandals telah menghasilkan tiga album, masing-masing The Brandals (Sirkus Record, 2003), Audio Imperialist (Warner Music, 2005), dan The Brandals Repackaged (Aksara Records, 2006). Sesuai dengan identitasnya, The Brandals memang memilih attitude yang sarat dengan pemberontakan dan tak mau diatur. The Brandals pun menampilkan tema lirik yang tercerabut dari realitas urban dengan segala tetek-bengeknya. The Brandals memang menjejalkan gagasan tematik yang cergas. Ini tecermin dari lagu-lagu seperti Obsesi Mesin Kota, Lingkar Labirin, hingga Ode Pinggiran Jakarta. Simak liriknya:

Keruh dalam kelam sampah air Ciliwung

Rentang tangan kakimu pendek terkurung

Mengais iba peluh ibu kota

Tentang nasib kapan giliran tiba

Lain lagi kelompok The Adams, yang telah merilis dua album pada label Aksara Records–masing masing The Adams (2005) dan V2.05 (2006). Mereka banyak mencuplik genre power pop, gaya musik 1960-an yang menyilangkan rock keras yang crunchy ala The Who dengan “melodisisme” manis ala The Beatles dan Beach Boys serta getar gitar ala The Byrds.

The Adams terbentuk pada akhir 2000 dan telah beberapa kali berganti personel. Formasi terakhirnya kini terdiri atas Ario Hendrawan (gitar, vokal), Saleh (gitar, vokal), Arfan (bas, vokal), Gigih (drum), dan Retiara Haswidya (vokal, keyboard). Mengikuti pola harmonisasi vokal ala Beach Boys, semua personel The Adams juga berfungsi sebagai vokalis. Bisa dibayangkan kerepotan grup ini saat tampil di panggung lantaran harus berkonsentrasi memainkan instrumen musik sambil bernyanyi.

Dari Bali muncul kuartet The Hydrant, yang mengusung rockabilly, genre yang mewabah pada 1950-an dan mencapai kulminasi pada separuh era 1960-an. Popularitas rockabilly dicapai berkat Bill Halley and His Comets melalui hit Rock Around The Clock dan Elvis Presley yang justru banyak melahirkan hit seperti Don’t Be Cruel, Hounddog, ataupun Blue Suede Shoes. Demam rockabilly sempat dibangkitkan kembali pada 1980-an oleh trio Stray Cats, yang lalu disebut sebagai rockabilly revival.

Selain menampilkan musik yang nyaris bersahaja, gerakan rockabilly dibarengi fashion seperti rambut jambul dengan menggunakan pomade, celana jins sempit, dan imbuhan aksesori berupa scarf yang menjuntai di leher.

The Hydrant, yang terdiri atas Marshello Lolot Aryafara (vokal), Morris Adama Orah (drum), Gusti Bagus Wistawan (gitar), dan Michael Bozio Orah (bas), terbentuk pada 2005. Konsep rockabilly yang ditampilkan memang sangat referensif. Mereka memainkan bas akustik yang dibetot, dan bahkan Morris memainkan drum sambil berdiri. Album perdananya dirilis lewat jalur indie di Bali melalui Electro Hell Records.

Pada 2007, major label EMI Indonesia mengontrak The Hydrant dan merilis album Rockabilly Live, yang memuat 14 lagu, termasuk hit lawas milik almarhum Farid Hardja pada 1977, Karmila. Uniknya, album ini direkam saat The Hydrant manggung di Score,Cilandak Town Square.

Aksara Records baru saja merilis album dari sebuah kelompok musik yang juga berorientasi ke rock ‘n’ roll era 1960-an dan 1970-an dengan nama Karon N Roll. Grup ini berdandan bak pemusik pada masa 1960-an dan 1970-an. Karon N Roll, yang didukung oleh Steve (vokal), Pepito (gitar), Arfan (gitar), Joen (drum), dan Yakobuss (bas), bahkan menulis lagu dengan nuansa era 1970-an, seperti Honda CB dan Goyang 70-an. Aroma bubble gum pop juga terasa kuat, semisal pada lagu Boleh-Boleh, yang sepintas mengingatkan kita pada hit era 1960-an Wolly Bully milik Sam The Sham & The Pharaohs.

Mengapa para pemusik belia kembali ke retro rock? Mungkin karena luasnya ruang berekspresi secara spontan yang tersedia dalam genre musik dari 1960-an hingga 1970-an itu. Mereka seolah menemukan media yang pas untuk berekspresi, mulai elemen musik hingga penulisan lirik. Kemarahan dan pemberontakan terhadap tatanan kehidupan, dimensi politik, dan banyak lagi terakomodasi dalam musik rock ‘n’ roll yang menjadi duta dalam semangat antikemapanan, semangat yang terpompa kuat pada 1960-an dan 1970-an.

Namun, yang menjadi pertanyaan juga, apakah grup-grup seperti The Brandals, Sore, The Adams, The S.I.G.I.T, The Sastros, Karon N Roll, dan sederet panjang lainnya telah menemukan esensi yang kuat dan pas terhadap pilihan musik mereka itu? Jangan-jangan ini hanya semangat berbungkus fashion belaka? The Brandals pun meneriakkan dengan lantang:

Oh give me something to believe in.

Something to hold on to .

When the worlds comes crumbling down

Denny Sakrie

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 15 April 2007

The Brandals

The Adams

Karon n Roll

The S.I.G.I.T

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s