Keroncong Tenggara mendulang musik Hibrida

Posted: Februari 13, 2011 in Uncategorized
Gerimis mempercepat kelam.
Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak 

Dian HP bermain akordeon

Ubiet

Riza arshad bermain akordeon

Siapa yang menyangka jika sajak karya Chairil Anwar “Senja Di Pelabuhan Kecil” (1946) , enam puluh satu tahun kemudian berjodoh dengan melodi yang sengaja diaksenkan dalam bentuk keroncong yang ditulis oleh Riza Arshad,pemusik yang akrab dengan jazz.Tapi yang pantas dicatat ,alunan musik hibrida ini terasa pas dengan selongsong syair Chairil Anwar. Apalagi jika kita cermati sajak Chairil seolah dipersiapkan untuk sebuah komposisi lagu. Tidak terjadi intimidasi kata terhadap melodi maupun sebaliknya.Deretan kata-kata yang termaktub dalam sajak bisa seiring dengan alunan melodi. 

Nya’ Ina Raseuki atau lebih dikenal sebagai Ubiet adalah penggagas album “Keroncong Tenggara” bersama dua sahabatnya Riza Arshad dan Dian HP. Secara kebetulan ketiganya lebih fluent pada ranah jazz.Ubiet dan Dian HP pernah tergabung dalam “Splash”, kelompok jazz fusion pada paruh 80-an.Riza Arshad adalah pendiri grup jazz Simak Dialog. 

Lalu kenapa memilih keroncong? “Keroncong ternyata menyimpan kekayaan yang terus bias digali dan diperbaharui .Untuk mengembangkan khazanah musik yang baru atau memperkaya apresiasi pendengar” jelas isteri penyair Nirwan Dewanto ini. 

Walhasil musik keroncong pun bisa disejajarkan pula dengan perangai jazz yang openminded ,yang bisa dijejalkan dengan pengaruh pengaruh musik lain. 

Itu memang tercermin dari judul album sekaligus nama kelompok musik ini : Keroncong Tenggara.Tenggara sendiri adalah wilayah terbuka dimana gugusan Nusantara berada dalam peta dunia, yang menerima dan mengolah pengaruh dari berbagai ragam musik dunia. 

Keroncong yang masuk ragam musik Indonesia ini memiliki jalinan historik dengan fado, jenis musik yang berkembang di Portugis. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke 16, di masa kekuatan Portugis mulai melemah di tanah air. Bentuk awal musik ini dikenal dengan nama moresco yang diiringi oleh instrument musik petik seperti gitar, ukulele dan cello. Lalu terjadi kemempelaian dengan pengaruh musik local lewat menyusupnya instrument seruling disertai beberapa anasir gamelan. Sejak abad ke 19 musik hibrida ini mulai menjadi popular. Di era 1960-an keroncong menempati tahta tertinggi di kuping khalayak. Bahkan eksperimen membaurkan keroncong dengan combo band pun terjadi. 

Gitar elektrik,keyboard dan drum pun mulai terdengar dalam rekaman keroncong milik The Steps, The Peels, Eka Sapta,The Rollies dan banyak lagi. Di tahun 70-an grup-grup seperti Koes Plus hingga Favorite’s Group pun mulai menjamah keroncong. Setelah itu keroncong tersungkur dan mendengkur.Kehilangan pesona dan gereget.

Upaya yang dilakukan Keroncong Tenggara mungkin ingin mengembalikan pesona yang pernah dipancarkan ragam keroncong.Seperti halnya Miles Davis yang ingin mengembalikan masa golden age pada khalayak akhir era 60-an dengan menyusupkan anasir rock pada sajian musik jazznya lewat “In A Silent Way” atau “Bitches Brew”. 

Di album yang juga didukung Adi Darmawan (bass), Jalu Praditina (kendang), Donny Koeswinarno (flute, saxophone), Dimawan Krisnowo Adjie (cello), Hadi Mulyono (Mandolin) dan Maryono (ukulele), tiga penggagas keroncong tenggara Ubiet (vokalis), Riza Arshad (akordeon) dan Dian HP (akordeon) juga mengadopsi pelbagai ragam musik : jazz, klasik,pop, irama melayu dan tango untuk memperkuat ruh keroncong. Rasanya memang musykil namun ini tertolong dengan perangai musik keroncong yang lebih cenderung bertumpu pada progresi akord.
Beberapa anasir keroncong seperti ritme yang dihasilkan cak (ukulele berdawai empat) dan cuk (ukulele berdawai tiga) tetap dipertahankan.Diimbuh dengan instrument lainnya mulai dari akordeon,flute,saxophone,bass elektrik dan vokal yang lentur, yang bisa berubah ubah dari keroncong,klasik hingga jazz. 

Sebuah sofistikasi keroncong yang akhirnya menjadikan keroncong berubah menjadi tak bersahaja lagi.Ini bisa jadi merupakan titik lemah dari konsep Keroncong Tenggara,tapi sekaligus kekuatan album ini untuk menempatkan Keroncong sebagai mata air inspirasi lahirnya musik yang lebih beragam lagi. 

Ada 5 lagu lawas yang dimainkan di album yang dirilis Taman Musik,dengan citarasa baru seperti “Keroncong Kemayoran”,”Aksi Kucing”,”Gambang Semarang”,”Keroncong Pasar Gambir dan”,”Keroncong Sapu Lidi”. 

Selebihnya merupakan karya orisinal dengan mengangkat tema dari puisi seperti “Cinta Pertama” (Dian HP) yang diangkat dari puisi Sitok Srengenge,”Keroncong Tenggara” (Dian HP) dari puisi karya Nirwan Dewanto serta “Senja Di Pelabuhan Kecil” (Riza Arshad) dari puisi Chariril Anwar. 

Semangat keroncong pun mengiringi semburat kata yang ditatah Chariril Anwar. Gundah gulana, kelam dan muram : 

Tiada lagi.Aku sendiri.Berjalan menyisir semenanjung
Masih pengap harap sekali tiba di ujung
Dan sekalian selamat jalan dari pantai ke empat
Sedu penghabisan bisa terdekap
Oleh Denny Sakrie (koranTempo Minggu 23 Desember 2007 hal.10)
Iklan
Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s