Biebergum Fenomena Prepubscent Pop

Posted: Februari 18, 2011 in Opini

Justin Bieber

Heintje

Oleh Denny Sakrie

 

Kuping kita seolah meleleh karena  hampir tiap hari mendengar  repetisi refrain lagu yang disenandungkan Justin Bieber :

Baby, baby, baby ohhh
Like baby, baby, baby noo
Like baby, baby, baby ohh

Lirik lagu “Baby” seperti mantra yang meluluhlantakkan jutaan hati  para teenagers terutama wanita di berbagai penjuru dunia.Di jejaring sosial twitter saja Justin Biber menjadi trending topics berbulan-bulan.Huh !, sihir apa sih yang telah disemburkan Justin Bieber ?.

Sebetulnya fenomena Justin Bieber ini bukanlah sesuatu yang bernar-benar baru.Ini hanya sebuah cycling yang kerap terjadi dalam mazhab musik pop yang sarat pupur dan gincu.Jika merujuk pada sejarah musik pop,maka peristiwa yang termaktub dalam hits “Baby” nya Justin Bieber telah terekam pada akhir era 60-an dengan merebaknya terminologi musik Bubblegum.Subgenre musik pop yang dianalogikan beraroma manis,cepat menggelembung tapi cepat pula pudar dan pupus.

Saat itu lagu-lagu dengan lirik repetitif merajai chart lagu dunia seperti “Yummy,Yummy,Yummy”,”Sugar Sugar”,”Gimme Gimme Good Lovin” atau “Goody Goody Gumdrops”.Lagu-lagu pop renyah semacam ini seperti halnya bubblegum atau permen karet  ini memang lebih cenderung  dikonsumsi oleh kalangan prepubescent yang sedang dalam transisi antara anak-anak menuju akil baliq.

Dalam  buku bertajuk  “Bubblegum Music Is The Naked Truth:The Dark History of Prepubscent Pop,from the Banana Splits to Britney Spears” yang dirangkum Kim Cooper dan David Smay diuraikan tentang pemunculan fenomena musik bubblegum yang  ternyata justeru mengakar dari beberapa lagu pop era terdahulu seperti “I Scream You Scream,We All Scream For Ice Cream” (1927),”Boop Boop Dit Em Dat Em What Em Choo Three Little Fishies (itty Bitty Poo” (1939),”Mairzy Doats: (1943) dan “Surin’ Bird” (1963) yang ditandai dengan permainan rhyme kata-kata serta aksentuasi ala fairy tale.Memang tidak ada paramater yang tepat untuk musik bubblegum ini.Tapi setidaknya ciri-ciri seperti chorus yang singalong,tema yang agak childlike serta hooks yang catchy merupakan kemutlakan dalam musik Bubblegum.Pakem yang beratmosfer komersialisme ini memang sebetulnya juga yang menjadi acuan utama industri musik pop yang sarat rekayasa.Dan jangam lupa prasyarat lainnya adalah si artis haruslah memiliki tampang ganteng,imut dan nggemesin.

Rasanya kriteria-kriteria yang dipaparkan diatas .semuanya telah tersemat di sosok Justin Bieber,remaja Kanada berusia 16 tahun yang mengawali karirnya ketika mengunggah videoklipnya di jejaring sosial Youtube dan ditemukan oleh Scooter Braun pada tahun 2008.Sejak itulah sosok Justin Bieber pun berubah menjadi superstar sejagad tiada tara.

Seperti mimpi ,Justin Bieber pun melangkah kedalam industri musik dengan merilis album “My World” (2009).Bieber sendiri lalu menuai pujian dan juga kritikan.Justin Bieber hampir tiap hari menuai gosip di berbagai jejaring sosial,mulai dari kabar bahwa Bieber terkena penyakit kelamin,tabrakan mobil hingga meninggal dunia  .Justeru dengan pernak pernik kontroversial inilah sosok Justin Bieber kian melambung tanpa tertahankan lagi.Justin Bieber  bagai seonggok gula yang kerubungi banyak semut.Justin adalah permen yang didamba jutaan penggemarnya di senatero jagad.Bieber pun  jadi buah bibir. Fenomena Biebergum ini juga menularkan wabah di Indonesia.Ketika terbetik kabar,bahawa Justin Bieber akan menggelar konser di Jakarta,para penggemar fanatik Bieber pun seperti berlumur euphoria.

Chaos pun terjadi saat berlangsung penjualan tiket presale konser Bieber yang dijadwalkan akan manggung di kawasan Sentul  pada 23 April 2011.Desak-desakan dalam antrian yang cukup panjang.Kejadian ini mengingatkan saya pada peristiwa sekitar 38 tahun silam disaat berlangsungnya konser penyanyi idola teenager Heintje dari Jerman.Heintje yang dikenal di Indonesia lewat lagu “Mama” melakukan dua pertunjukan di Stadion Utama Senayan selama 2 hari berturut-turut tanggal 7 dann 8 April 1973.Saat itu Heintje berusia 17 tahun,hampir tak jauh beda dengan usia Bieber sekarang,dan pertunjukan Heintje ini menurut catatan di tonton sekitar 65.000 penonton.Ada persamaan antara Heintje dan Justin Bieber terutama jika melihat penampilan fisiknya yang membuat para remaja terpekik histeris.Keduanya tampil bagai anak manis yang paripurna yang mengisi mimpi-mimpi para remaja belasan tahun itu.Bedanya,remaja dahulu justeru mengenal Heintje dari lagu-lagunya yang diputar di radio serta film-filmnya yang diputar di bioskop-bioskop.Justin Bieber,sebaliknya  justeru merebak di jejaring sosial yang membuat jagad raya menjadi sebuah lokasi yang kecil dan sempit .Melalui jejaring sosial,memang memungkinkan terjadinya interaksi antara sang superstar dan para penggemarnya.Semuanya padu dalam sebuah guyub virtual. Saya yakin,histeria massal pasti akan menggelegar di Sentul Convention Center saat Justin Bieber bersenandung renyah :

You know you love me, I know you care
Just shout whenever, and I’ll be there

 

Denny Sakrie,pengamat musik

(Tulisan ini dimuat di majalah Trax edisi Maret 2011)

Komentar
  1. lady gaga mengatakan:

    continuously i used to read smaller articles which also clear their motive, and that is also happening with this post which I
    am reading here.

  2. kharis mengatakan:

    Penggemar punya selera, bieber pasti menikmati hidup. Entahlah, musik pop begini menyihir jutaan remaja. Siapa yg bekerja di balik layar? Penaaasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s