Fenomena Band Alay : Mellow atau Melayu ?

Posted: Februari 18, 2011 in Opini

Wali

ST 12

Hijau Daun

D’Bagindas

Kertas Band

 

Tak ada yang berubah dalam konstelasi musik pop Indonesia terutama jika kita menyimak  pemaparan tema lirik yang berselubung tema romansa dengan lirik tentang jatuh cinta dan patah hati, mulai dari era Bung Karno hingga SBY.Dan sekitar 5 tahun terakhir band-band pop Indonesia muncul seperti jamur di musim hujan.Jumlahnya tak terhitung lagi.Sayangnya membengkaknya kuantitas justeru tak dibarengi dengan keragaman mazhab musik,melainkan keseragaman yang membebalkan.Dan uniknya peminatnya kian bertambah saja.Gejala apakah ini ? Degradasi selera musik secara massive ? Apakah yang terjadi  di negeri ini  hingga selera musik pun bisa berubah menjadi seragam ?

Melalui media-media mainstream seperti TV yang terlihat sehari-hari memang adalah bentuk kesegaman musik pop yang melelahkan.Notasi,progresi akord,harmoni,teknik bernyanyi,arransemen musik serta dandanan yang tak ada bedanya antara band satu dengan band lainnya.Epigonisme kian merebak lebar.Ketika kelompok  Sheila On 7 mendeskripsikan frasa “kekasih gelapku” tiba-tiba semua band mengcopy paste kalimat sakti itu pada lirik-lirik lagu mereka.Ketika kelompok Peterpan menyenandungkan frasa “bagai bintang di surga”,hampir semua band seperti mengilhami kalimat ini.Perhatikan pula sekitar 85 persen isi lirik lagu Indonesia selalu menyentuh tema selingkuh dengan idiom yang terang-terangan.Kemanakah larinya kreativitas dari benak mereka ? Atau jangan-jangn para anak band ini yang digiring oleh label rekaman untuk mencapai titik komersialisme tertentu  yang pada akhirnya justeru akan menjadi kulminatif.

Ketika 5 tahun lalu mencuat nama Kangen Band dan ST  12 dipelataran musik Indonesia,secara serempak fokus penciptaan musik pop seolah berkiblat ke band band sepertimereka.Padahal jika ditelisik lebih jauh,baiki Kangen Band dan ST 12 adalah epigon dari Peterpan yang telah berdigjaya sejak awal era 2000an.Kritik pun mulai mengangkasa : musik pop Indonesia mengalami kemunduran.Terminologi serampangan pun mulai berjejal mulai dari istilah pop mmelayu hingga pop mellow.Semuanya bernada ejekan dan memojokkan.Lalu muncul penyebutan band alay.Alay adalah istilah anak muda sekarang yang meruapakan akronim dari anak layangan.Istilah ini secara harafiah mungkin sama dengan istilah yang pernah merebak didekade sebelumnya,mulai dari kampungan,norak maupun katro.Istilah ini mungkin diperuntukkan untuk sebuah bentuk yang disharmonis,kurang layak atau pun norak.

Siapa sajakah yang kerap dikategorikan sebagai band-band alay ?.Cukup panjang memang .Ada Kangen Band,ST 12,Matta,9 Ball,Wali,Merpati,Republik,Vagetoz,Hijau Daun,The Potters,King Kong,D’Bagindas dan seterusnya.

Dan pelabelan semacam itu jika ditelaah lebih jauh memang tidak fair.Apalagi  tak sedikit yang kemudian memojokkan musik Melayu.Betulkah genre yang dimainkan band-band sekarang mengacu ke pada mazhab musik Melayu ? Ini yang seharusnya perlu diklarifikasi dan dipertegas.Dan seandainya memang terbukti bahwa mayoritas anak band sekarang memainkan musik Melayu,apakah itu sesuatu yang salah dan keliru serta harus menuai hujatan ?.Penghujatan semacam ini pada akhirnya memang selalu berkaitan dengan masalah selera.Masih ingatkah anda dengan sikap saling ejek antara penggemar musik rock dan dangdut di paruh era 70-an ? Yang lebih parah lagi adalah dengan mencuatnya pengkastaan jenis musik yang mengacu pada strata sosial penikmatnya.Contoh bahwa musik dangdut untuk kalangan grass roots yang kurang berpendidikan.Musik rock untuk menengah kebawah hingga klasik dan jazz untuk kalangan menenag ke atas.Pengkastaan atas nama selera ini jugalah yang kemudian memicu munculnya lagi sikap merendahkan warna musik tertentu yang kemudian diistilahkan sebagai band alay itu.

Lalu apa yang salah pada band band alay yang dituding membawa virus melayu dengan aura serba mellow itu ?.Sebetulnya tak ada yang salah.Kekeliruan utama adalah ketidakpahaman terhadap apa yang disebut musik Melayu.Dari mana mereka bisa secara lugas menyebuy musik pop yang dibawakan ST 12,Kangen Band atau Wali sebagai pop melayu ?.Musik yang dimainkan oleh band-band ini sebetulnya adalah musik pop yang bertumpu pada pakem pola musik barat yang diatonik.Pola diatonik ini menggunakan laras nada do re mi fa sol la si .Sementara musik Melayu sendiri justeru banyak menggunakan laras pentatonik seperti do re mi sol  si tanpa fa dan la.Musik Melayu sendiri berciri kuat pada pola penulisan lirik yang menggunakan pantun yang terdiri atas 4 bait  ,dimana dua bait pertama disebut sebagai sampiran dan dua bait terakhir adalah makna sesungguhnya.

Ciri utama musik Melayu itu justeru tak ditemui pada lagu-lagu dari band-band Indonesia yang kerap dilabelkan sebagai pengusung band pop Melayu.Lalu atas dasar apakah hingga banyak orang yang secara sok tahu menyebutnya sebagai pop Melayu ?

Sebetulnya mereka terjebak dengan menyimak cara bernyanyi ST 12,Wali atau Kangen Band yang mengikuti cengkok bernyanyi band-band Malaysia yang tumbuh kembang di era 80an seperti Search,Iklim,Wings hingga XPDC.Band band Malysia ini sebetulnya justeru mengambil akar rock yang tercerabut dari pola musik populer Barat tetapi kemudian mendendangkannya dengan cengkok Melayu.Vokalis band Search Amy sebetulnya sangat terpengaruh dengan corak vokal Klaus Meine,vokalis grup rock Jerman Scorpions,lalu Amy mengimbuh cengkok vokal bernuansa Melayu.Begitupula misalnya grup metal XPDC yang walaupun menyebut diri sebagai pengusung heavy metal tapi cengkok Melayunya tetap sangat kuat terasa.band D’Bagindas tampaknya begitu terpenharuh dengan band XPDC ini terutama jika melihat kesamaan gagasan menulis lagu dengan mengeja yaitu C.I.N.T.A.

Jelas sudah band-band Indonesia yang merajai industri musik sekarang ini banyak dipengaruhi band-band Malaysia.Bahkan band-band seperti ST 12,Kangen,Wali ,Hijau Daun dan D’Bagindas berhasil meraih banyak keberhasilan dalam pencapaian penjualan ring back tones (RBT).Hijau Daun misalnya berhasil mencapai penjualan RBT lebih dari 3 juta pengunduh .Bahkan Wali berhasil menuai untung lewat penjualan RBT sebanyak 4 juta pengunduh.Yang lebih fantastik adalah peroleh dari ST 12 dengan peroleh 10 juta pengunduh RBT untuk album P.U.S.P.A dan P.U.S.P.A Repackage di tahun 2009 silam.

Pencapaian ini bahkan mungkin belum pernah dialami oleh band band pop era 70-an yang sempat booming seperti Koes Plus,Panbers,The Mercy’s,D’lloyd dan Favorite’s Group.Membanjirnya band-band secara kuantitas di kurun waktu 2006-2011 ini sesungguhnya merupakn siklus yang berulang setelah era merebaknya band-band di tahun 70-an.

Koes Plus,Panbers,The Mercy’s,D’lloyd dan Favorite’s Group juga membawakan lagu-lagu dengan kecenderungan tema cinta.Lirik yang sederhana dan melodi yang easy listening.Saat itu band band ini dituding sebagai band-band kacang goreng atau band tiga jurus karena dianggap hanya menggunakan akord seperti C,G dan F .Di tahun 1974 Koes Plus bahkan membuat rekor dengan merilis 24 album dalam setahun.Ini berarti dalam sebulan Koes Plus merilis sekitar 2 album.Dengan kreativitas bak sapi perah seperti itu memang yang pantas dipertanyakan adalah soal kualitas yang memadai.Koes Plus pada akhirnya memang terjebak dalam repetisi berkarya.Pengulangan demi pengulangan mereka lakukan demi komersialisme membabi buta yang akhirnya membuat Koes Plus akhirnya terjungkal ke dasar pada tahun 1978.

Siklus yang dialami band-band pop era 70-an pun terjadi di era sekarang meski dengan modus yang berbeda.Jumlah band sekarang ini nyaris tak terhitung lagi.Begitu banyak band yang tampil tapi dengan karakter yang hampir sama.Agak susah untuk membedakan antara band satu dengan band lainnya.Kelatahan berbentuk epigonisme inilah yang sebetulnya sangat meresahkan industri musik Indonesia.Belum lagi kualitas penulisan lirik yang sangat buruk dan dangkal.

Mari kita simak salah satu lirik dari Kangen Band bertajuk “Jangan Menangis Lagi” :

kurasa aku cinta mati

wanitanya seorang pelacur

ku temukan di sudut malam

Sebuah lirik dengan bahasa yang kacau balau yang bertutur tentang seorang lelaki yang memiliki kekasih seorang wanita tuna susila.Mungkin agak jauh berbeda dengan gaya bahasa yang ditulis Hengky MS lewat lagu “Kisah Seorang Pramuria” yang dipopulerkan The Mercy’s pada tahun 1972 :

Mengapa semua manusia, menghina kehidupannya

Mencari nafkah hidupnya, sebaga seorang pramuria

Kelemahan utama yang diidap band-band sekarang jelas adalah pada pola pemaparan lirik yang terkadang banyak melanggar estetika dan etika.Simak lirik lagu “Egokah Aku”  Wali Band berikut :

Egokah aku memilikimu Walau kutahu kau tak memilihku

Kuharap Tuhan mencabut nyawamu

Agar tak ada yang milikimu

Wali Band tampaknya ingin menuturkan tentang bentuk posesif seorang lelaki terhadap wanita yang menjadi dambaannya tapi dengan pola penulisan yang berkesan ngawur.Judulnya seharusnya adalah “Egoiskah Aku” bukan “Egokah Aku”.Serta frasa   yang cukup menebar teror adalah :” Kuharap Tuhan mencabut nyawamu.Agar tak ada yang milikimu”.

Sebetulnya masih banyak contoh contoh dari pola penulisan lirik dan pemaparan tema lagu yang menggelikan dari band-band sekarang ini.

Tapi apa mau dikata,dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini,band-band yang kerap disebut alay ini masih tetap berkibar.Respon terhadap musik yang juga disebut sebagai mellow ini masih belum runtuh juga.Penggemarnya tak sedikit pun menyurut.Maraknya pengunduh RBT adalah indikasi yang telak.

Jika kita merujuk kejadian yang serupa pada era 70-an ketika terjadi booming band,maka sebetulnya kejenuhan dari penikmat musik itu tenggang waktunya tak lebih dari 5 tahun.Saat itu memang pasar musik berpola band dengan tema cinta tercatat  antara tahun 1972 -1977.Di tahun 1972 muncul lagu lagu bertema cinta yang mendayu seperti “Akhir Cinta” (Panbers),”Tiada Lagi” (The Mercy’s),”Titik Noda” (D’lloyd) serta “Hilangnya Seorang Gadis” (Freedom of Rhapsodia).Kulminasi muncul pada tahun 1977  disaat pelataran musik Indonesia disinggahi album “Badai Pasti Berlalu” karya Eros Djarot dan kawan kawan serta album “Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors 1977” yang menghasilkan hits “Lilin Lilin Kecil”.

Pola penulisan lirik lagu yang dangkal dan naif mulai berkurang.Selera masyarakat pun secara perlahan mulai bergeser.Lirik lirik lagu yang ditulis Eros Djarot,Guruh Soekarno Putera,James F Sundah,Chris Manusama,Gombloh,Ebiet G Ade dan banyak lagi mulai mendapat tempat.

James F Sundah menulis Lilin Lilin Kecil dengan metafora yang memikat :

Oh Manakala mentari tua.Telah berpijar.

Manakala bulan nan genit.Enggan tersenyum

 

Eros Djarot pun menoreh lagu cinta dengan kalimat puitik yang menggelitik  :

Bagaikan langit berpelangi

Terlukis wajah dalam mimpi

Tertegun ku dibuai dibuai dalam kenangan dan senyuman

Yang tak ‘kan terlupakan

Apakah sekarang ini masih ada band-band yang menulis lirik dengan estetika semacam yang saya paparkan diatas ?.Masih ada.Jumlahnya pun tak sedikit.Sebut misalnya lagu-lagu dari kelompok Sore,Mocca,White Shoes and Couples Company,Endah N Rhesa,Anda,Frau,Melancholic Bitch dan masih sederet panjang lagi.

Mari kita simak lirik lagu “Tentang Cinta” kelompok White Shoes and Couples Company :

Relung jiwaku hanyut tak menentu

Entah apakah ini… oh tuanku

Menutup mata aku dan membisu

berasa… cinta…. kalbu…

 

 

Tapi kenapa band-band semacam White Shoes and Couples Compony justeru tak pernah terlihat secara massal.Tampil di layar televisi saja hampir tak pernah sama sekali.

Jawaban yang jelas bahwa band-band yang menawarkan keragaman dengan pola penulisan lagu serta musik yang lebih tertata dianggap tidak memiliki peluang untuk digemari secara massive.Bagi para pengelola televisi,band-band seperti itu tak akan mampu meraup rating secara bombastik.Ini juga yang menyebabkan sinetron-sinetron yang kerap menjugkirbalikkan  logika masih tetap memegang rating tertinggi.Apa boleh buat,itulah selera masyarakat yang tak mungkin diganggu gugat.Betulkah ? Mungkin ada  betulnya.Karena masyarakat kita terlanjur menyukai sesuutu yang bernuansa drama dan mellow.Lagu dan sinetron mellow tetap berjaya hingga detik ini.Tapi bisa juga dugaan itu salah.Kenapa ? Bisa jadi karena band-band seperti White Shoes and Couples Company dan sederet yang lainnya justeru tak diberi kesempatan untuk tampil di media-media mainstream seperti televisi swasta yang setiap pagi menyajikan kelebat band-band mainstream .Sekedar perbandingan,di tahun 1985 TVRI bisa mempopulerkan lagu jebolan Festival Lagu Populer Indonesia yaitu Burung Camar yang dinyanyikan Vina Panduwinata.Padahal lagu itu secara notasi musikal termasuk bukan lagu pop yang gampang.Liriknya pun memiliki tendensi metafora yang kuat dan memiliki kandungan folosofi.Tapi toh lagu itu bisa menjadi massive.Dinyanyikan semua orang.Bahkan Vina  Panduwinata  saat itu pun mendapat julukan si Burung Camar.

Atau memang telah terjadi pergeseran selera yang sangat luar biasa sekarang ini ?.Sebuah degradasi selera pun mencuat ke permukaan. Ketika kita semua dihantam badai masalah baik masalah ekonomi maupun politik yang seolah tiada henti,kita pun hanya  memasrahkan diri dengan mencerna lagu-lagu dengan tema yang digarap apa adanya,tanpa perlu lagi menyusupkan anasir kontemplatif ? Kondisi ini yang membuat kita bermasa bodoh dan jangan jangan justeru  membuat kita pasrah menjadi alay ?    .

Ah betapa indahnya jika dunia musik Indonesia tampil dalam keragaman yang sarat warna.Bukan sebuah  keseragaman yang membebalkan  seperti yang tiap hari kita tonton di layar kaca televisi, disaat band-band berganti-gantian tampil menghibur penonton tapi dengan jatidiri tunggal.

Denny Sakrie.pengamat musik.

(Tulisan ini dimuat di majalah Intisari edisi Maret 2011)

Iklan
Komentar
  1. […] Fenomena Band Alay : Mellow atau Melayu ? | Dennysakrie63's Blog – Dennysakrie63's Blog […]

  2. A. Emha berkata:

    Mungkin lirik jaman sekarang terlalu easy listening dan terlalu frontal sehingga lirik yang berkualitas sulit di cari pada saat ini. Ironisnya, banyak pasar dan penikmat musik Indonesia yang masih menyukai hal tersebut.

  3. rian berkata:

    menurut sy yg plg berpengaruh dlm menentukan mainstream adlh pihak label dan promotor.
    krn mereka-lah yg mengekspose scra besar2an.
    selera pasar indonesia sangat beragam. tp klw setiap hr di suguhkan satu warna, maka yg dominan terlihat hanya satu warna pendengar.
    jd mnrt sy, di perlukan keberanian pelaku bisnis musik di indonesia u/ mencoba warna baru, tentu diiringi sblmnya dgn analisa pasar.

    scra pribadi yg sy butuhkan adlh musik panggung, musik2 yg bs buat penonton diam terpaku, atw loncat2 histeris.
    dan musik itu biasanya datang dari.. jazz, blues dan rock..!!

  4. Banyak yg bilang kalo ini masalah perbedaan selera hiburan, masalahnya, perbedaan selera itu ada yg horizontal, ada juga yang vertikal :

    Yg horizontal :si A suka dewa19, si B suka Padi
    Yg vertikal : si A suka horor sampah, si B suka fiksi ilmiah

    So, selera para penggemar pop melayu itu menurut saya berada pada level yg rendah, karena kita tahu sendiri lah, kualitasnya rata2 ancur lebur sama kayak kualitas film horor sampah.

    Jika pop melayu itu menjadi laris, wajar lah, di masy sekarang, hiburan berkualitas emang susah laris, yg abal2 lebih disukai, makanya sinetron, arwah goyang krawang, siluman laba jadi tontonan dengan rating yg tinggi, sama dengan musik pop melayu, terdengar di mana2, di angkot, terminal, pasar, pos hansip..

    ini terjadi Akibat tingkat penerimaan masy thd hiburan yg berkualitas masih rendah, jadi jangan harap film fiksi ilmiah atau musik berkualitas bisa laku di masy, kecuali di ekspos besar2an oleh media seperti film 2012

  5. ANDRI berkata:

    Muak dengan musik yang beredar sekarang, kualitas bermain musiknya rendah, teknik vokalnya nggak karuan. Muak dengan tampang-tampang alay grup2 band sekarang (tp menurutku bukan Grup Band tapi orkes melayu karena kostumnya kaya’ penyanyi Dangdut). Sangat merindukan kejayaan musik Indonesia tahun 90an dimana aliran musiknya beraneka ragam, rock, rap, reggae dll. Bangkitlah kembali Band2 favorit : Dewa 19, PADI, Boomerang, PAS BAND, Gong 2000, SLANK dll. Tenggelamkanlah band2 Alay kayak : Wali, Hijau Daun, D’Bagindas, Kangen Band dll. Ya Allah kabulkanlah doa’ku …..

  6. Way berkata:

    band melayu sekarang ibarat vokal dangdut musik pop n ga mutu
    keep Rock n Metal

  7. Lebayman berkata:

    Aghh bastard!! Paling benci ama band2 alay lebay
    Fuck buat kangen band dan kawan2, masa bikin lagu temanya pasti CINTA.
    band2 indo skrng udah mulai stagnan, jarang bngt band era 90an nongol di tv
    taee mampus aja tu musisi alay

  8. dennysakrie63 berkata:

    Matur nuwun,sudah mampir dan baca

  9. Steven Sahabat Plettonic berkata:

    wakakaka kebanyakan orang-orang jaman sekarang mah kalo ada Band yang lirik lagunya puitis mah gak suka coz gak ngerti.. jadinya suka yang gampang dimengerti dari yang liriknya bagus tapi gak puitis ampe yang KAMPUNGAN.. kalo gw mah suka-suka aja yang puitis.. yang paling gw suka PETERPAN/NOAH!!!!! 😀

  10. jet berkata:

    saya juga paling anti sama musik mereka, cari2 genre nya apa eh baru ketemu ini, penasaran juga, hehehe, coz ngeselin kalau d dnger, sya malah lebih suka music score film dripada dngerin lagu indo..

  11. Teuku Faisal berkata:

    Yup rindu sekali sma band2 indonesia yg berkualitas spt dulu2 ada Boomerang, \riff, kin, modulus, drakhma, symphoni dll….mudah2an band2 alay yg bnyk muncul skrg ini cuma trend belaka yg pd akhirnya akan berlalu hehehehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s