Yon dan Yok Koeswoyo Sang Nakula Sadewa

Posted: Februari 28, 2011 in Uncategorized

Piringan Hitam singles Koes Bersaudara rilisan Irama

Yon dan Yok Koeswoyo 1973

Yok Koeswoyo

Oleh  Denny Sakrie

(Tulisan ini dimuat di majalah Rolling Stone edisi Maret 2011)Yon dan Yok

Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo kembali menyatukan harmoni vokal mereka yang khas sejak era Koes Bersaudara hingga Koes Plus.Peristiwa ini berlangsung di The Sunan Hotel Solo 18 Januari 2011.Penggemar Koes Plus menyambut dengan sukacita,karena sudah sekian lama Yok Koeswoyo tidak lagi ikut memperkuat formasi Koes Plus yang kini tetap dipertahankan keberadaannya oleh Yon Koeswoyo.Bahkan selama ini terbetik kabar bahwa terjadi perseteruan sengit antara Yon Koeswoyo dan Yok Koeswoyo yang mengakibatkan formasi Koes Plus jadi pecah berkeping-keping.Ini diperkuat lagi dengan fakta mundurnya Murry sebagai drummer Koes Plus.Spekulasi ini memang terus berkembang dan menjadi ajang diskusi bagi para penggemar fanatik Koes Plus yang berada di seantero negeri.Apalagi pada saat konser bertajuk “Reuni Koes Plus” yang digelar di Balai Sarbini,Plaza Semanggi Jakarta 29 Oktober 2010,Yon Koeswoyo tidak ikut bergabung bersama Yok Koeswoyo dan Murry.”Yon memang gak bisa ikut.Dia ada keperluan lain” ungkap Yok Koeswoyo yang ditemui di Kompleks Koes Plus Jalan Haji Nawi 71 Jakarta Selatan .

Tapi versi Yon Koeswoyo lain lagi “Penyelenggara menyediakan fasilitas yang kurang memadai.Saya takut ini akan mengecewakan penggemar Koes Plus.Apalagi pake embel embel Reuni Akbar segala.” tutur Yon Koeswoyo yang ditemui di rumah kediamannya di kawasan Salak Pamulang Jakarta Selatan.

“Apakah ada perseteruan antara anda dan Yok ?” tanya saya.

“Perseteruan apa ?.Ndak benar itu.Saya dan Yok selama ini baik baik saja.Itu hanya rekaan orang saja.Yok memang sudah gak mau bermain dengan Koes Plus.Tapi dalam beberapa kesempatan Yok sering tampil jadi bintang tamu.Malah Yok sendiri meminta saya agar Koes Plus tetap berjalan” ujar Yon Koeswoyo yang kini genap berusia 70 tahun.

Hal yang sama juga diungkapkan Yok Koeswoyo :”Antara saya dan Yon tidak terjadi apa-apa kok.Kenapa saya tidak ikut Koes Plus….ya karena saya orangnya tidak mau memaksakan keadaan.Kalau momennya cocok dan mengena toh saya akan tampil bersama Yon dengan Koes Plusnya.Contohnya ya ketika saya dan Yon tampil dalam acara yang digelar di Solo itu ternasuk ketika tampil bersama Murry di Balai Sarbini.Kedua acara itu kan tujuannya mencari dana kemanusiaan untuk korban Gunung Merapi.Lha saya merasa terpanggil untuk sekedar membantu.Karena saya bisanya main musik,saya pun tampil bersama Yon atau pun Murry” ungkap Yok Koeswoyo yang kini berusia 67 tahun.

Penampilan Yon dan Yok Koeswoyo di Solo boleh jadi merupakan pertunjukan langka.Saat itu duo yang memulai nyanyi bareng sejak tahun 1958 itu menyanyikan sekitar 7 lagu  diantaranya seperti Bis Sekolah,Dewi Rindu,Senjha ,Telaga Sunyi maupun ,Pagi Yang Indah.”Hebatnya Yok masih hafal luar kepala lagu lagu itu.Bahkan suaranya masih stabil dan tidak fals sedikitpun “ tukas Yon Koeswoyo memuji adiknya Yok Koeswoyo.

Yon lalu bertutur tentang saat pertama mereka,Yon dan Yok,mulai melakukan duet.”Almarhum Tonny yang menyarankan agar saya dan Yok berduet dengan membentuk sebuah harmonisasi vokal.Inspirasinya adalah The Everly Brothers yang di era 60-an sangat ngetop” ungkap Yon Koeswoyo.Yon Koeswoyo bernyanyi dengan suara satu,sementara Yok Koeswoyo menimpali dengan suara dua.Saat latihan bernyanyi dahulu,Yok terkadang sampai kelelahan karena harus bernyanyi dengan suara dua dan kondisi vokal yang tetap melengking.

“Awalnya saya dan Yon memang hanya menyanyi sambil memetik rhythm guitar.Mas Tonny main gitar,mas John main bass betot dan mas Nomo menggebuk drum.Sebetulnya inspirasi duet Yon dan Yok itu adalah Kalin Twins,dua penyanyi bersaudara yang kembar.Lalu mas Tonny menyuruh kita mendengar the Everly Brothers” cerita Yok Koeswoyo.Sepintas banyak yang mengira Yon dan Yok kembar,padahal usia mereka terpaut 3 tahun.

Keduanya sama sama dilahirkan pada bulan September di Tuban Jawa Timur

Yon yang nama aslinya Koesjono dilahirkan tanggal 27 September 1940.Yok yang bernama asli Koesrojo dilahirkan tanggal 3 September 1944.

”Mungkin kita mirip Nakula Sadewa ha ha ha” tutur Yon Koeswoyo bercanda.Dalam kitab Mahabharata, tokoh Nakula dan Sadewa digambarkan sebagai dua saudara kembar yang memiliki keistimewaan dalam merawat kuda dan terampil bermain pedang serta sebagai sosok yang sangat menghibur hati.Yon dan Yok sendiri memiliki keistimewaan dalam bermusik.

Baik Yon maupun Yok sampai sekarang ini masih terus berkarya.”Pemusik kan nggak ada pensiunnya.Jadi saya tetap melakoni musik sampai kapan pun” tukas Yon Koeswoyo

Bersama Koes Plus yang didukung 3 pemusik muda Danang (gitar,keyboard) ,Sonny (bass) dan Seno (drums) , ternyata Yon masih tetap manggung dengan enerjik.

”Setidaknya dalam sebulan paling dikit kita manggung 3 kali” imbuh Yon Koeswoyo yang mengisi waktu senggangnya dengan melukis.Yon pun mengaku masih tetap menulis lagu.”Ada 5 lagu baru yang saya rampungkan,satu diantaranya berjudul “Curiga”,dan sempat saya bawakan saat tampil di sebuah TV swasta belum lama ini” kata Yon lagi.Menurut Yon lagu-lagu yang ditulisnya itu cenderung bertema asmara.”Saya kurang mampu bikin lagu bertema kritik sosial” jelas Yon.

Beberapa waktu lalu Yon pernah merilis album yang bernuansa sosial bertajuk “Song of Porong”.Lagu ini bertutur tentang malapetaka lumpur yang terjadi di Porong.Tapi entah kenapa ,album yang didukung  sebuah partai itu kurang memuaskan bagi Yon Koeswoyo.

Berbeda dengan Yok Koeswoyo yang cenderung menulis lagu dengan lirik bertema kritik sosial dan kemanusiaan. Yok sendiri ketika berbincang bincang dengan saya memang lebih banyak bertutur tentang situasi sosial,politik dan Yok kerap bertutur dengan tamsil kata.Tampaknya Yok Koeswoyo yang rambutnya telah memutih itu sangat meminati filsafat.

Tahun 2009 lalu Yok Koeswoyo merilis sebuah album bernuansa akustik bertajuk “Yokustik”.Album yang dikemas dalam format CD ini diedarkan secara terbatas terutama disekitar penggemar Koes Plus.”CD itu terjual sebanyak 180 keping.Dan hasilnya saya sumbangkan untuk membantu korban bencana Gunung Merapi” urai Yok Koeswoyo.

Beberapa lagu karya Yok Koeswoyo ini juga dinyanyikan oleh BPlus,band pelestari Koes Plus yang anggota juga bermain bersama Yon Koeswoyo.”Anak anak BPlus ini yang ngotot mau bawain karya saya.Lalu saya kasih ke mereka.Dan ternyata mereka memaham sejiwa dengan saya.” Timpal Yok lagi.Salah satu lagu karya Yok Koeswoyo yang bertema kritik sosial bertajuk “Mabok Duren”.Yok lalu mengambil gitar akustik seraya menyanyikannya :

Buaya kok mabok duren.

Memang Duren si raja buah

Muncul duren lain lagi

Di Mahkamah Konstitusi

Entah buah entah upeti

Bikin rakyat tertawa geli

Lagu-lagu baru Yok Koeswoyo lainnya yang bertema kritik sosial antara lain “Omdo”,”Teratai” dan “Jangan Sampai Terlena”.

Di era keemasan Koes Plus pada dasawarsa 70-an Yok Koeswoyo berhasil menulis sebuah lagu yang bisa dianggap masterpiece yaitu “Kolam Susu” yang terdapat pada album Koes Plus Volume 8 (Remaco,1973).Lagu ini bertutur tentang kaya rayanya negeri kita Indonesia.”Untuk melukiskan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi itu saya menulis tongkat kayu dan batu jadi tanaman  .Dan istilah kolam susu itu justeru datang dari orang Jerman yang sempat mancing ikan di laut bersama saya.Orang Jerman itu  bilang negara anda itu seperti kolam susu” tutur Yok perihal lagu yang masuk dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa” oleh Rolling Stone Indonesia.

Koes Bersaudara mengawali karir musik di tahun 1958.Lima bersaudara puteradari  pak Koeswojo Djojowasito Teruno Semito,seorang amtenaar yang memiliki darah seni dan mengalir deras ke anak-anaknya mulai dari yang tertua Koesdjono (John) bermain bass,Koestono (Tonny) bermain gitar ,Koesnomo (Nomo) bermain drum ,serta Koesjono (Yon) dan Koesrojo (Yok) yang bermain rhythm gitar sambil menyanyi.Band yang awalnya bernama Koes Brothers atau Koes Bros itu memang banyak terpengaruh musik Barat dengan penonjolan harmoni vokal yang menawan seperti Kalin Twins hingga The Everly Brothers.Koes Bersaudara lalu menjejakkan kaki dalam industry musik Indonesia dengan merekam lagu-lagunya pada perusahaan rekaman milik pribumi Irama yang digagas almarhum Soejoso Karsono atau lebih dikenal sebagai Mas Jos.Band keluarga ini memiliki tagline Missa Solemnis yang kurang lebih artinya sesuatu dari hati akan mendapt tempat di hati juga.

Kelak tagline itu memang benar adanya,bahwa karya karya Koes Bersaudara hingga Koes Plus mendapat tempat dihati khalayak luas.Lagu-lagu itu bahkan hingga sekarang ini masih bergema dan dinyanyikan siapa saja.

Koes Bersaudara lalu menawarkan sebuah reel berisikan dua lagu karya Tonny Koeswoyo pada mas Jos pemilik perusahaan rekaman Irama yang berlokasi dikawasan Cikini Jakarta pada tahun 1961.Kedua lagu itu adalah “Wenny” dan “Terpesona”.Dua lagu itu ditulis Tonny dengan gaya duet ala Kalin Twins atau The Everly Brothers.Sayangnya  lagu-lagu  itu ternyata tak jadi direkam.Pihak Irama akhirnya merekam lagu-lagu seperti “Telaga Sunyi”,”Pagi Yang Indah”,”Bis Sekolah”,Senja” ,”Oh Kau Tahu” dan “Kuduslah Cintamu”.Tonny Koeswoyo memang didapuk sebagai leader of the band. Tonny menulis semua lagu sekaligus menjadi music directornya.Tonny pun terampil menulis lirik-lirik lagu yang romantis dan menyentuh.

Selain direkam dalam bentuk single,lagu-lagu Koes Bersaudara itu lalu dikemas dalam bentuk album longplay yang berisikan sekitar 12 lagu yang kovernya menampilkan sosok Yon dan Yok yang tengah jalan berdua maupun yang duduk saling punggung.Sepintas gaya kover semacam itu memang mengingatkan kita pada tipikal kover album milik The Everly Brothers.

Album Koes Bersaudara itu muncul pertamakali pada tahun 1963,disaat Tonny Koeswoyo berinisiatif mengganti nama Koes Brothers menjadi Koes Bersaudara.Lagu-lagu Koes Bersaudara mulai berkumandang di Radio Republik Indonesia.Di saat hampir semua band band Indonesia sering membawakan repertoar asing,Koes Bersaudara telah mempelopori menulis lagu lagu sendiri.Ini pantas dicatat,perihal kepioniran Koes Bersaudara dalam menumbuhkan kreativitas menulis karya cipta sendiri.

Namun mendung hitam menyelubungi karir music Koes Bersaudara tepat di paruh tahun 1965,Berawal ketika Koes Bersaudara diundang untuk tampil menggelar pertunjukan di kediaman Kolonel Koesno yang antara lain dihadiri  diplomat dari Kedutaan Amerika Serikat.Saat Koes Bersaudara menyanyikan lagu The Beatles,mendadak rumah colonel Koesno mendapat serangan berupa lemparan batu dari kelompok yang menamakan diri “Pemuda Rakyat”.”Kami akhirnya memang selamat dari serbuan massa,tapi jeruji penjara justeru mengungkung kebebasan kita” tutur Yon Koeswoyo.Koes Bersauadar lalu ditangkap dan kemudian ditahan di Kejaksaan Tinggi di Jala Gajah Mada selama 3 hari.”Lalu kami dipindahkan ke penjara Glodok” kata Yon Koeswoyo.Koes Bersaudara ditangkap karena dianggap telah melanggar Instruksi Presiden Soekarno yang memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang pada intinya melarang keberadaan lagu ngak,ngik ngok seperti yang ditularkan The Beatles.

Koes Bersaudara pun harus mendekam di Penjara Glodok selama tiga bulan.Tapi Tonny Koeswoyo justeru kian terpicu kreativitas bermusiknya.Suasana dalam penjaran menjadi sumber inspirasi Tonny untuk menulis sederet lagu-lagu baru.Mulai dari Poor Clowm,To The So Called Guilties,Di Dalam Bui,Balada Kamar 13 hingga Jadikan Aku Dombamu.

Sehari sebelum meletus Gerakan 30 September PKI,Koes Bersaudara akhirnya dibebaskan dari kungkungan penjara Glodok.Situasi negara ini memang tengah dalam keadaan yang sangat mencekam .Menurut Yok Koeswoyo bahwa sebetulnya apa yang terjadi  di balik penangkapan Koes Bersaudara ,  pemerintahan presiden  Soekarno justeru menugaskan mereka dalam sebuah operasi Kontra Intelejen terutama untuk mendukung gerakan Ganyang Malaysia.”Saya baru mengungkapkan itu di masa sekarang.Karena orang-orang yang terkait sudah berpulang semua” timpal YokKoeswoyo lagi.

Di tahun 1967,Koes Bersaudara berpindah label dari Irama ke Dimita Moulding Company milik pengusaha Dick Tamimi.Di label inilah kemudian muncul album yang fenomenal dari Koes Bersaudara bertajuk “To The So Called Guilties” dengan kover berlatar hitam dan wajah Koes Bersaudara berbentuk siluet.Dari kover ini seolah telah menyiratkan isi album ini yang bernuansa gelap dan geram.Di album ini Tonny Koeswoyo mulai tampil menyanyi secara solo.Suaranya parau seolah memendam amarah dari dada yang menyesakkan.Itu tersimak jelas pada lagu “Poor Clown” yang ditulis dalam bahasa Inggeris.Lirik lagu ini seperti menyindir Presiden Soekarno dan kabinet pemerintahannya saat itu.Simak liriknya :

Before your mind has glued you down
For she shall take and move your hand
To hide your word word word word
Until your kingdom comes to end.Oh my poor clown.

Di tahun 1969 mulai terjadi pergeseran dalam tubuh Koes Bersaudara dengan mundurnya Nomo Koeswoyo yang saat itu ternyata lebih memilih menekuni dunia bisnis dibanding bermain musik.Posisi drum lalu diisi oleh Kasmuri atau yang dikenal dengan Murry.Masuknya Murry yang berasal dari band Patas ini ternyata membuat keretakan dalam hubungan  antara Koeswoyo bersaudara ini.Yok yang memihak ke Nomo Koeswoyo memutuskan mundur dari formasi Koes Plus.Album perdana Koes Plus bertajuk “Dheg Dheg Plas” itu malah didukung Totok AR,bassist yang juga saudara kandung Titik AR dan Lies AR dari Dara Puspita.

Tapi akhirnya Yok bersedia kembali masuk ke formasi Koes Plus saat memasuki penggrapan album Koes Plus Volume 2.Koes Plus menyelesaikan kontrak dengan label milik Dick Tamimi ini hingga volume 7.Di era Dick Tamimi ini Koes Plus berhasil mencetak banyak hits seperti “Manis dan Sayang”,”Kembali Ke Jakarta”,Kisah Sedih Di Hari Minggu,”Bunga Di Tepi Jalan”,”Why Do You Love Me””Derita”,”Andai Kau Datang”,”Cintamu Telah Berlalu ”Mari Mari,”Pelangi”,Nusantara” dan masih banyak lagi.

Singkatnya Koes Plus menjadi band paling fenomal saat itu.Koes Plus menjadi inspirasi munculnya band-band lain seperti Panbers,Favorite’s Group,The Mercy’s hingga D’Lloyd.

Nama Koes Plus kian mencorong lagi setelah pindah dari Mesra ke Remaco milik Eugene Timothy.Album Volume 8 dan Volume 9 membuktikan bahwa Koes Plus adalah komoditas yang menuai keberuntungan.Koes Plus  selalu mencetak banyak hits di setiap albumnya.

Eugene Timothy malah mengusulkan agar Koes Plus lebih banyak berkutat di studio menggarap banyak album disbanding memenuhi tawaran manggung yang sebetulnya juga mengalami peningkatan.Tonny Koeswoyo pun lebih memilih berkarya di studio.Kritikan pun mengalir ke kubu Koes Plus,bahwa mereka telah menjadi sapi perah Remaco.Tapi Koes Plus tetap tak peduli.Mereka tetap membuat album sebanyak-banyaknya.Di tahun 1974 Koes Plus merilis 22 judul album dari berbagai genre musikMulai dari Pop melayu,Pop Jawa,Pop Keroncong,Pop Anak Anak,Pop Christmas,Pop Qasidah,Folk Songs,Hard Beat   dan entah apa lagi. .Era itu berlangsung antara tahun 1973 hingga 1976 Koes Plus memang menjadi anak emas Remaco.Ini lumrah karena Koes Plus sendiri adalah tembang emas bagi Remaco.

Tapi memasuki akhir dasawarsa 70-an,Koes Plus mengalami kulminasi teruatama karena telah terjadi pergesaran yang cukup tajam dalam selera musik pop Indonesia.Minat penikmat musik mulai  beralih ke penyanyi solo seperti Chrisye,Keenan Nasution,Fariz RM disatu sisi serta menyeruaknya penyanyi penyanyi solo wanita dibawah payung Rinto Harahap seperti Diana Nasution,Iis Soegianto,Christine Pandjaitan,Betharia Sonata,Nia Daniaty dan banyak lagi.

Walaupun demikian,Koes Plus atau Koes Bersaudara masih tetap bertahan.Mereka masih tetap merilis album lewat berbagai label rekaman.

Namun guncangan yang paling dahsyat yang menimpa Koes Plus adalah ketika Tonny Koeswoyo menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 27 Maret 1987 karena mengidap kanker usus yang akut.Koes Plus menjadi gamang seketika.Tonny Koeswoyo patut diakui adalah konseptor sekaligus inspirator utama baik Koes Bersaudara maupun Koes Plus.Sepeninggal Tonny Koeswoyo,Koes Plus dan Koes Bersaudara tetap eksis.”Kami memang tetap mempertahankan Koes Plus tanpa ada lagi almarhum Tonny Koeswoyo” ungkap Yon Koeswoyo.Tekad Yon itu memang terbukti hingga sekarang ini.Nama Koes Plus masih berkibar walau hampir tak pernah menghasilkan album lagi.Yok Koeswoyo sendiri walau sudah tidak aktif lagi bermain bersama Koes Plus tapi tetap merasa jiwanya masih melekat di Koes Plus.

Nakula Sadewa dari keluarga Koeswoyo  itu ternyata tak pernah berseteru seperti yang diduga khalayak.Mereka tetap menyatu dengan musik :

Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Lagu dari hatinya terdengar dimana mana
Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Mutunya pun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya

BOX

KOES BERSAUDARA DAN KOES PLUS DI MATA DUNIA

Dipenghujung tahun 2010 lalu saya sempat terhenyak ketika situs musik berwibawa Allmusic.com membuat sebuah list bertajuk “AllMusic’s Favorite World Compilations of 2010” yang meleretkan album-album terbaik dari berbagai negara di dunia seperti Brazil,Thailand,Nigeria,Colombia,Kambodja,Ghana,Angola serta Indonesia .Dalam list yang memuat 20 album terbaik itu 3 diantaranya berasal dari Indonesia masing masing album “Dara Puspita 1966-1968” (Dara Puspita) serta album “To The So Called Guilties/Koes Bersaudara Singles (Koes Bersaudara) dan album “Dheg Dheg Plas/Koes Plus Vol 2 “ (Koes Plus).Ketiga album kompilasi asalIndonesia itu meruapakan hasil remastered ulang dari sebuah label kecil yang berkedudukan di Seattle,Amerika Serikat milik seorang penggila musik bernama  Alan Bishop (52 tahun) .

Tahun 2009 silam  saya bersama David Tarigan membawa Alan Bishop ke rumah Yon dan Yok Koeswoyo .Selain mengaku sebagai penggemar berat Koes Bersaudara dan Koes Plus,Alan Bishop berhasrat ingin merilis ulang album-album milik Koes Bersaudara dan Koes Plus.”Koes Bersaudara dan Koes Plus memiliki pesona tersendiri.Walaupun terpengaruh The Everly Brothers dan The Beatles,mereka memiliki sound tersendiri yang sangat khas” puji Alan Bishop.

Alan Bishop sendiri mempunyai band di Seattle yang khusus membawakan lagu-lagu Koes Plus.Bishop menamai bandnya itu West Koes.Bahkan Alan mengganti namanya menjadi Alan Koeswoyo.Di bandnya itu Alan berperan sebagai vokalis.”Saya mulai mengenal Koes Plus sekitar tahun 1987,saat itu saya ke Jakarta dan mampir di sekitar jalan Surabaya,mencari piringan hitam dari artis Indonesia.Lalu saya menemukan album Pop Melayu Koes Plus.Musiknya unik dan berkarakter.Sejak itu setiap ke Jakarta,saya selalu mencari album-album Koes Plus dan Koes Bersaudara” kisah Alan Bishop yang berkepala plontos itu.

Mei 2010 Alan Bishop merilis ulang album Koes Bersaudara dan Koes Plus dalam format CD yang dilengkapi liner notes yang menarik , lewat label yang dikelolanya Sublime Frequencies.  CD itu dijual seharaga $ 19.00.Di luar dugaan ternyata rilis ulang Koes Bersaudara dan Koes Plus ini mampu memikat perhatian.Setidaknya ada 4 media yang kemudian mereview kedua album itu secara antusias seperti Spin Magazine,Prefix Magazine,Pitchfork,Dusted Magazine.

Spin dalam reviewnya  menulis :”Koes Bersaudara were four Javanese siblings who first emerged with Everly Brothers-style material and got swept up in global Beatlemania as Indonesia’s Sukarno regime condemned Western pop culture as imperialist.”.

Dusted Magazine pun memuji Tonny Koeswoyo yang menulis dan menyanyikan lagu “Poor Clown” :” Tonny Koewswoyo’s lyrics are delivered with confrontational aplomb culminating in an unhinged primal scream that precedes a gigantic power chord finale.”.

Yon dan Yok pun tak kalah terkejut membaca antusiasme penikmat musik dari mancanegara atas karya-karya mereka dulu.”Wah….saya gak nyangka dapat sambutan seperti itu” ucap Yon Koeswoyo.

Alan Bishop sendiri akhir tahun 2010 lalu kembali menemui Yon Koeswoyo  dan Yok Koeswoyo.”Saya menemui mereka kembali untuk meminta izin mereproduksi ulang album Koes Bersaudara dan Koes Plus dalam format vinyl” jelas Alan Bishop.

Entah kenapa bangsa kita selalu tak mau ambil peduli perihal dokumentasi music Indonesia yang jelas-jelas meruapakan asset negara dan bangsa.Selalu yang menggagas hal semacam ini adalah bangsa asing

Diskografi

Koes Bersaudara

1.Koes Bersaudara – Angin Laut (Irama) 1962

2.Koes Bersaudara – Djadikan Aku Dombamu (Mesra) 1965

3. Koes Bersaudara – To The So Called Guilties (Mesra) 1965

4.Koes Bersaudara – Kembali (Remaco) 1977

5.Koes Bersaudara – Pop Keroncong (Remaco) 1977

6.Koes Bersaudara –Volume 2 (Remaco) 1978

7.Koes Bersaudara – Boleh Cinta Boleh Benci (Purnama) 1979

8.Koes Bersaudara – Glodok Plaza Biru (Virgo Ramayana) 1980

9.Koes Bersaudara –Koes Bersaudara ’86 (Flower Sound) 1986

10.Koes Bersaudara – Kau Datang Lagi (Flower Sound) 1987

11.Koes Bersaudara – Pop Jawa (Flower Sound) 1987

12.Koes Bersaudara – Pop Anak Anak (Flower Sound) 1987

13.Koes Bersaudara – Happy Birthday (Flower Sound) 1987

14.Koes Bersaudara – Lembah Derita (Flower Sound) 1987

15.Koes Bersaudara – Pop Batak (Flower Sound) 1987

16.Koes Bersaudara – Bossas (Flower Sound) 1987

17.Koes Bersaudara – MilikIllahi (Flower Sound) 1987

Koes Plus

1.Koes Plus Vol 1 Dheg-Dheg Plas (Melody. LP-23) 1969

2. Natal bersama Koes Plus (EP) (Mesra. EP-97) 1970
3. Koes Plus Volume 2 (Mesra. LP-44) 1970

4. Koes Plus Volume 3 (Mesra. LP-48) 1971

5. Koes Plus Volume 4 Bunga Di Tepi Jalan (Mesra. LP-50) 1972
6. Koes Plus Volume 5 (Mesra. LP-51) 1972

7. Koes Plus Volume 6 (Mesra. LP-60)         1973
8. Koes Plus Volume 7 (Mesra. LP-65)         1973
9. Koes Plus Volume 8 (Remaco. RLL-187) 1973
10. Koes Plus Volume 9 (Remaco. RLL-208) 1973
11. Christmas Song (Remaco. RLL-210)         1973

12. Koes Plus Volume 10 (Remaco. RLL-209) 1974
13. Koes Plus Volume 11 (Remaco. RLL-301) 1974
14. Koes Plus Volume 12 (Remaco. RLL-302) 1974
15. Koes Plus Qasidah Volume 1 (Remaco. RLL-341) 1974
16. Natal bersama Koes Plus (LP) (Remaco. RLL-342) 1974
17. Koes Plus The Best Of Koes   (Remaco  RLL-343)  1974
18. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 1 (Remaco. RLL-306) 1974
19. Koes Plus Another Song For You (Remaco. RLL-348) 1974
20. Koes Plus Pop Melayu Volume 1 (Remaco. RLL-314)  1974
21. Koes Plus Pop Melayu Volume 2 (Remaco. RLL-347) 1974
22. Koes Plus Pop Jawa Volume 1 (Remaco. RLL-248) 1974
23. Koes Plus Pop Jawa Volume 2 (Remaco. RLL-311) 1974
24. Koes Plus Pop Keroncong Volume 1 (Remaco. RLL-299) 1974
25. Koes Plus Pop Keroncong Volume 2 (Remaco. RLL-300) 1974
26. Koes Plus Volume 13 (Remaco. RLL-303) 1975
27 Koes Plus Volume 14 (Remaco. RLL-631) 1975
28 Koes Plus Selalu Dihatiku (Remaco. RLL-468)
29. Koes Plus Pop Anak-Anak Volume 2 (Remaco. RLL-448)
30. Koes Plus Pop Melayu Volume 3 (Remaco. RLL-390) 1975
31. Koes Plus Pop Jawa Volume 3  (Remaco RLL -392)     1975
32. Koes Plus In Concert (Remaco. RLL-635) 1976
33. Koes Plus History Of Koes Brothers (Remaco. RLL-715) 1976
34. Koes Plus In Hard Beat Volume 1 (Remaco. RLL-717) 1976
35. Koes Plus In Hard Beat Volume 2 (Remaco. RLL-768) 1976
36. Koes Plus In Folk Song Volume 1 (Remaco. RLL-) 1976
37. Koes Plus Pop Melayu Volume 4 (Remaco. RLL-730) 1976
38. Koes Plus Pop Keroncong Volume 3 (Remaco. RLL-388) 1976
39. Koes Plus Pop Jawa Melayu (Remaco. RLL-633) 1976

40. Koes Plus Pop Jawa Volume 4 (Remaco RLL 640) 1977

41. Koes Plus 78 Bersama Lagi (Purnama. PLL-2061) 1978
42. Koes Plus 78 Melati Biru (Purnama. PLL-2077) 1978
43. Koes Plus 78 Pop Melayu Cubit-Cubitan (Purnama. PLL-3055) 1978

44. Koes Plus 79 Melepas Kerinduan (Purnama. PLL-323) 1979
45. Koes Plus 79 Berjumpa Lagi (Purnama. PLL-3040) 1979
46. Koes Plus 79 Aku  dan Kekasihku (Purnama. PLL-4022) 1979
47 Koes Plus 79 Pop Melayu Angin Bertiup (Purnama. PLL-4009) 1979

48. Koes Plus 80 Jeritan Hati (PurnamaPLL-4044) 1980

49. Koes Plus 81 Sederhana Bersamamu (Purnama. PLL-5091) 1981
50. Koes Plus 81 Asmara (Virgo Ramayana )1981
51. Koes Plus 81 Pop Melayu Oke Boss (Virgo Ramayana) 1981

52.Koes Plus Pop Dangdut (Virgo Ramayana) 1982

52. Koes Plus 82 Koperasi Nusantara (Virgo Ramayana) 1982
53. Koes Plus 82 Pop Keroncong  (Virgo Ramayana)      1982

54. Koes Plus 83 Da Da Da  (Pratama Record) 1983

55. Koes Plus 84 Angin Senja & Geladak Hitam (Puspita Record) 1984
56. Koes Plus 84 Palapa (Akurama Record) 1984
57. Koes Plus Memble  (Puspita Record) 1984

58. Koes Plus 85 Ganja Kelabu (Flower Sound) 1985

59. Koes Plus 87 Cinta Di Balik Kota  (Flower Sound) 1987
60. Koes Plus 87 Lembah Derita (Flower Sound) 1987

61.Koes Plus 87  AIDS (Flower Sound) 1987

Denny Sakrie,tengah menggarap buku biografi Koes Plus “Dheg Dheg Plas”

About these ads
Komentar
  1. zalfaf mengatakan:

    barangkali lagu Kr. Pantun dan oke boss masih dimilikki mohon di upload mas.

  2. Hartono Soenarto mengatakan:

    Mohon pencerahan. Ada yang punya stok lebih untuk Koes bersaudara nya Alan Bishop ? Kalau ada, saya minat. Bisa hubungi saya di 08161146263 atau hartono_soenarto@yahoo.com.
    Salam MERDEKA !

  3. topik mengatakan:

    salut to Koes Plus. belum ada band lain yg seperti mereka, memiliki sejarah yg panjang untuk mencapai kesuksessan bermusik. saya sangat terharu membaca kisahnya, salam untuk pecinta musik KOES PLUS se-Indonesia…

  4. Cokie Alamsyah Putra mengatakan:

    mantap bang denny review nya ,, w jg sempat baca dari salah satu blog punya org luar yg ngebahas tentang koes bersaudara dan begitu keingintahuannya mereka tentang lagu2 koes bersaudara yg membuat w sbg org indonesia mrasa proud, dan trnyata bahwa musik indo 60an yg skrang mungkin disini sudah terlupakan,, ternyata disana dpt diterima dan dapat review yg sangat bagus. walaupun disayangkan dlm perkembangannnya,, industri musik indonesia skrng “mayor”. klo w rasa masih krng gregetnya dibandingkan perkembangan industri musik yg “minor” nya atau non-mainstream, dlm hal kwalitas. yg disebabkan peran media yg w rasa kurng selektif kali y dlm menyaring mana band yg dapt memajukan, atau yg hanya dpt menghasilkan. dan terbukti skrng terdapat dimana band yg memajukan atau yg hanya menghasilkan.
    harapan w sih smga aja keduanya dpat jalan berbarengan,, menciptakan musik yg memajukan jg menghasilkan..,,
    sebelumnnya sory ni bang denny udah nyampah nggk2 gini n sukses terus buat blognya dan jg ditunggu review2 yg mantap slanjutnya

    dan klo mau tau blog orang luar yg ngebahas tentang koes bersaudara ni alamatnya
    http://www.garagehangover.com/?q=KoesBersaudara#comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s