George Duke Sang Bunglon

Posted: Maret 3, 2011 in Uncategorized

Denny Sakrie dan George Duke

JAKARTA – Murid yang baik tiada pernah melupakan sang guru. Demikian pula George Duke, pemusik jazz yang tampil sebagai salah satu headliner dalam ajang Jakarta International Java Jazz Festival 2005 (4-6 Maret) di Jakarta Convention Center, Jakarta, yang tak pernah melupakan Frank Zappa sebagai mentornya dalam bermusik.

Dalam penampilannya di Plenary Hall, Jumat (4/3) malam yang disesaki ratusan penonton, Duke sempat menyelipkan excerpt dari komposisi karya Zappa Echidna’s Arf (Of You) dari album Frank Zappa Roxy & Elsewhere (1974). Bisa jadi penonton yang datang malam itu tidak ngeh dengan kejahilan Duke ini. Sebab, penonton rata-rata memang ingin menghanyutkan diri dengan karya-karya pop Duke seperti Sweet Baby hingga Born to Love You yang sempat populer diputar di radio-radio pada dekade 1980-an.

Duke sendiri paham betul bahwa penonton yang menyaksikan penampilannya memang tak sepenuhnya memahami jazz yang sesungguhnya. Bahkan dalam kariernya sendiri Duke memang memasang strategi semacam ini. Tak aneh jika dalam portofolio musiknya Duke tak hanya memainkan jazz tapi juga pop, R&B, hingga rock sekalipun. Sosoknya bisa dianalogikan dengan bunglon yang memiliki kemampuan mengubah-ubah bentuk.

Meskipun perangai semacam ini sering dicerca kalangan purist, toh Duke tak sendiri. Kita mengenal Herbie Hancock yang bisa memainkan jenis musik apa pun. Bahkan Miles Davis, salah satu mentor Duke lainnya, pun menerapkan hal serupa ketika bereksperimen menyilangkan jazz dengan rock di akhir 1960-an.

“Saya sangat beruntung bisa bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang seperti Frank Zappa atau Miles Davis. Wawasan musik saya pun menjadi luas,” tutur George Duke dalam sebuah percakapan dengan penulis di kampus Atmajaya, Jakarta, Rabu (2/3) pekan lalu ketika ia tampil bersama Glenn Fredly di hadapan para mahasiswa. Bahkan jika tidak bermusik dengan Frank Zappa, cerita Duke, dirinya mungkin tidak akan bernyanyi hingga sekarang ini. “Suatu ketika Zappa menyuruh saya untuk menyanyi Hey look, I need this note here and I need you to sing it. Dan sejak itulah saya mulai menyanyi,” kata Duke terkekeh.

Frank Zappa pun memaksa Duke untuk memainkan instrumen elektronik moog synthesizers. “Banyak yang bisa kamu peroleh dengan synthesizers,” pesan Zappa ke George Duke suatu hari. Dan sejak itu pulalah George tidak hanya berkutat dengan piano akustik. Duke pun mulai merambah pelbagai bunyi-bunyian sintesis melalui instrumen synthesizers.

“Sejak bergabung dengan Zappa saya mulai banyak bereksplorasi dengan musik apa saja,” kata George Duke. Selepas dari Frank Zappa, pada 1976 George Duke mulai bersolo karier. Ia termasuk rajin menghasilkan album. Sekitar 35 album solo telah dihasilkannya. Berbagai elemen musik mencuat dari karya-karya solonya yang lebih cenderung berpihak ke genre fusion.

“Unsur funk yang ekspresif memang selalu terasa dalam album-album saya,” kata George Duke. Tapi memasuki 1980-an, Duke malah lebih menata musiknya ke arah pop yang manis. Salah satunya ketika Duke bersama bassist Stanley Clarke menghasilkan hits Sweet Baby dari album The Clarke/Duke Project (1981) dan mendapat Grammy Award untuk kategori Best R&B Performance by Duo Or Group pada 1981.

Produser

Rabu (2/3) malam itu sambutan penonton membahana ketika George Duke membawakan lagu Sweet Baby yang bermelodi manis mendayu itu. “Cukup surprise, ketika melihat mereka ikut menyanyi di sepanjang lagu,” kata Duke. Sambutan serupa juga dialami Glenn Fredly yang menyanyikan Born to Love You, sebuah balada yang diambil dari album konsep bertajuk Guardian of The Light (1982).

Tapi Duke tampaknya tak mau terus-menerus terbawa dalam lagu-lagu bertempo balada. Bersama dengan band pengiringnya, Mike Manson (bas), Shannon Pearson (suara latar), Jeff Lee Johnson (gitar), Kevin Randolph (keyboards), dan Gorden Campbell (drum), Duke lalu membawakan I Want You for Myself yang bercorak funky dari album Master of The Game (1979) hingga Brazilian Love Affair yang mengawinkan ritme samba dan funk dari album Brazilian Love Affair (1979).

 

Sukses album The Clarke/Duke Project (1981) dengan hits Sweet Baby yang popish, menurut Duke, merupakan momentum langkah karier musiknya sebagai seorang produser. Saat itu Duke ditawari untuk menjadi produser album terbaru kelompok R&B wanita, A Taste of Honey.

“Ketika ditawari menangani album A Taste of Honey saya justru belum banyak mengetahui seluk-beluk sebagai produser. Gilanya pihak dari Capitol Record Cuma mengatakan just do it,” ungkap Duke. Tapi toh ia mampu mengatasi semuanya. Dan mulailah berderet artis antre menantikan tangan George Duke sebagai produser. Duke kemudian tampil sebagai produser album milik Natalie Cole, Dianne Reeves, Chante More, Al Jarreau, Jeffrey Osbourne, Anita Baker, Savage Rose, Marilyn Scott, dan sederet lainnya. Bahkan Miles Davis pun lalu mempercayakan Duke untuk menggarap albumnya seperti Tutu (1986) dan Amandla (1989). Album Tutu beroleh Grammy Award pada 1986. denny sakrie, pengamat musik.

George Duke mencintai musik sejak balita. Suatu hari saat usia 4 tahun, sang ibu mengajak Duke menonton konser Duke Ellington. “Meskipun saya tak terlalu ingat persis seperti apa,” kenang George Duke. Yang pasti sejak itu, Duke kecil selalu merengek minta dibelikan piano. Menginjak 7 tahun ia belajar piano.

 

“Saat itu merupakan pertama kalinya saya bermain musik funky,” katanya lagi. Memasuki 16 tahun Duke telah bergabung dalam sejumlah grup jazz sekolahan. Ia mulai banyak dipengaruhi karya-karya Miles Davis hingga Les McCan dan Cal Tjader yang berkonotasi soul jazz. George lalu belajar musik di San Francisco Conservatory of Music dan mengambil jurusan komposisi musik dan trombone serta contrabass. Duke meraih sarjana musik pada 1967.

Berbekal sebagai seorang multiinstrumentalis dan komposer, mulailah Duke menceburkan diri ke industri musik dan masih bertahan hingga sekarang. Dan dia tetap produktif. “Akhir Maret ini album terbaru saya, Duke, akan dirilis,” kata Duke dengan wajah cerah. Adakah pemusik jazz kita yang meneladani langkah dan sikap bermusik George Duke ini? denny sakrie

(Tulisan ini dimuat di koran Tempo 7 Maret 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s