Dian Yang Tak Pernah Padam

Posted: Maret 10, 2011 in Uncategorized

Eddie Endoh,Dian PP,Bagoes AA dan Dodo Zakaria di London 1988

Deddy Dhukun & Dian Pramana Poetra di Java Jazz 2008 (foto Antara)

Jika ingin memetakan perjalanan musik Dian Pramana Poetra, maka kita seolah memandang sebuah kuala yang sarat dengan karya karya musiknya. Tak pelak lagi, dia adalah seorang kreator yang produktif dalam ranah musik pop. Dian telah menghasilkan sederet hits yang dinyanyikan penyanyi papan atas mulai dari Chrisye, Vina Panduwinata, Utha Likumahuwa, Sheila Madjid, Harvey Malaihollo, Fariz RM, Broery Pesolima, Ruth Sahanaya, Trie Utami, January Christy, Syaharani, Glenn Fredly dan masih berderet panjang lagi.

Addie MS,Budhy Bidun dan Dian Pramana Poetra

Usia Dian Pramana Poetra, penyanyi, komposer dan pemusik yang sohor di dasawarsa 80-an genap 50 tahun pada tanggal 2 April 2011 ini. Lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara ini kembali  akan merilis album baru bertajuk “Nada dan Cinta” yang dirilis Java Jazz Production nya Peter F Gontha.

”Seluruh lagu di album ini merupakan lagu lagu terbaru saya.” ungkap Dian yang nama lengkapnya adalah Dhian Permana Poetra. Beberapa lagu lagu yang dikemas dalam album baru tersebut sebahagian telah dinyanyikan Dian Pramana Poetra dalam konser di Java Jazz Festival 2008 di Assembly Hall 3 pada Sabtu 8 Maret 2008 seperti “Aku Jatuh Hati”,”Cepat Kau Datang” maupun “Aku Bukan Milikmu”.

Tema yang ditorehnya memang masih bernuansa romansa. Aransemennya pun memang cenderung romantik, apalagi pada beberapa lagu tersirat aura musik Bossanova yang ritmis dan romantis. Album terbaru Dian Pramana Poetra ini boleh jadi merupakan pengobat rindu bagi penggemar karya-karyanya. Walaupun sebetulnya,sejak tahun 1999 Dian Pramana Poetra yang nyaris vakuum sejak dasawarsa 90-an itu, telah mulai berkarya lagi. Di tahun 1999 Dian menulis dan menyanyikan lagu baru bertajuk “Demi Cintaku” di album “Terbaik” (Target Pop & Aquarius). Di tahun 2000 Dian bersama kakaknya Henry Restoe Poetra dan adiknya Ika Ratih Poespa sempat melahirkan hits bertajuk “Wanita” yang diambil dari album “Dian Pramana Poetra & Friends” (Target Pop & Prosound 2000). Kemudian di tahun 2004 Dian kembali menulis lagu baru dalam album “Terbaik Terbaik” seperti Ungkapan Surgawi”, ”Tak Kuasa” dan “Rindu Buah Hatiku” dan juga melahirkan album religius bertajuk “Azza Wa Jalla” (RPM Record) pada tahun 2006 silam.


Sambutan yang meriah dari penonton yang memadati Assembly Hall 3 Java Jazz Festival 2008 membuktikan bahwa penyanyi yang mengaku terpengaruh Gino Vannelli dan Kenny Loggins ini masih memiliki massa yang fanatik.


Lingkungan keluarga yang musikal mungkin merupakan pemicu dari keterlibatan Dian pada industri musik negeri ini. Ayahnya,konon mahir bermain jazz dan sang ibu adalah seorang penyanyi keroncong. Dian lalu ikut bergabung dalam sebuah vokal grup bernama Bourest, yang dibentuk Yoppie Doank pada tahun 1977. Di vokal grup ini juga tergabung pemusik yang baru saja pulang dari Jerman Bagoes A. Ariyanto yang kelak menjadi mitra bermusik Dian Pramana Poetra pada solo album dan Kelompok 3 Suara.

Dian (pegang gitar) saat manggung bersama Vokal Grup SMA 37 Jakarta

Di tahun 1980, lagu karya Dian bertajuk “Pengabdian” berhasil menempati juara 3 dalam Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors Rasisonia, sedangkan Bagoes A.Ariyanto menempati juara 1 lewat lagu “Maheswara”. Dian pun menyanyikan lagu “Pengabdian” bersama Bourest Vokal Grup. Ini merupakan kali pertama suara Dian direkam dalam sebuah album.

Di tahun 1982, Dian diajak oleh Erwin Gutawa bergabung dalam kelompok Transs sebagai vokalis menggantikan Fariz RM yang mengundurkan diri dan membentuk Symphony. Sayangnya dalam New Transs, Dian tak sempat masuk ke bilik rekaman. Namun, karakter vokalnya yang jazzy meluluhkan almarhum Jackson Arief pemilik Jackson Records & Tape. Bersama dukungan Billy J Budiardjo dan Erwin Gutawa, Dian Pramana Poetra lalu melepas album perdananya di tahun 1983 bertajuk “Indonesian Jazz Vocal” yang melahirkan hits seperti “Melati Di Atas Bukit”, ”Semurni Kasih” dan “Kusabar Menanti”.

Kehadiran Dian Pramana Poetra memang menambah deretan pemusik serba bisa yang juga memiliki talenta kuat dalam menetaskan karya karya berkualitas. Ini jelas terlihat ketika Dian merilis album solo keduanya bertajuk “Intermezzo” yang didukung sederet pemusik mumpuni seperti Billy J Budiardjo, Erwin Gutawa, Bagoes A.Ariyanto, Uce Haryono hingga Raidy Noor.

Memasuki paruh dasawarsa 80-an, kegiatan musik Dian Pramana Poetra semakin bercabang. Antara lain bersekutu dengan Deddy Dhukun dalam membuat lagu. ”Biasanya saya menemukan melody, dan Deddy mulai menuliskan lirik lirik yang catchy.” jelas Dian Pramana Poetra. Pasangan ini pun lalu kebanjiran pesanan membuat lagu dari sederet artis-artis rekaman.

Dian bersama Deddy Dhukun lalu membentuk kelompok 2D dan juga K3S (Kelompok Tiga Suara) bersama Bagoes A.Ariyanto. Namun, keperkasaan Dian Pramana mulai meredup ketika memasuki dasawarsa 90-an. Nyaris satu dasawarsa sosoknya seolah hilang ditelan bumi. Banyak yang mengira Dian Pramana Poetra benar benar mengundurkan diri dari hiruk pikuk industri rekaman.

Kesunyisenyapan Dian Pramana Poetra akhirnya mulai sirna, ketika di tahun 1999 dia mencoba untuk tampil kembali dengan merilis album kompilasi bertajuk “Terbaik” yang diselusupi sebuah lagu baru bertajuk “Demi Cintaku”.

Sejak saat itulah Dian kembali berkiprah dan menancapkan kukunya di pelataran musik Indonesia. ”Tapi saya memang harus meredam keinginan untuk menampilkan lagu-lagu baru. Ini karena cukup lama saya menghilang.” ungkapnya. Tak heran jika Dian Pramana Poetra lebih banyak merilis album album kompilasi yang diimbuh satu dua lagu baru. Strategi ini ternyata memang mempan. Sosialisasi semacam ini secara perlahan menumbuhkan bingkai baru dalam kreativitas Dian yang lalu mulai memberanikan diri merilis album baru dengan sejumlah lagu-lagu baru.

Beruntung, kiprah musik Dian mendapat sokongan penuh dari Peter F Gontha, sosok dibalik sukses perhelatan musik jazz terbesar Java Jazz. Dan kuala musik Dian Pramana Poetra mulai bergelegak kembali.

Komentar
  1. ismed batubara mengatakan:

    bg denny sakrie trims foto2 jadul dian pp bikin kangen. Aku ngefans dian pp sejak SMA 1985, koleksi albumnya aku komplit. tetapi aku pingin dengar lagu pengabdian LCLR 1980, bisa bantu bang. bilangin sama dian, di Medan fansnya masih banyak apalagi delta fm banyak promosi lagunya. Aku dah merit punya 2 anak mereka aku pengaruhi dengan lagu2 dian (2D, K3S) gilenya mereka suka. Kami sekeluarga 6 bersaudara memang fans berat dian, pas di TVRI dian nyanyi gadis di cafetaria, alm mama bilang, eh itukan penyanyi yang bertahi lalat didagu kanan katanya, walaupun dia lupa namanya, tapi suara dian menghipnotis. walau hanya di RCTi saat afgan dan dian kolaborasi aku cukup terhibur. Tetapi aku berharap sebelum aku pekak, ku mohon please dian konser lah di kota kelahirannya di Medan. Aku serius ngasih bonus dian city sightseeing tour di kota Medan, tolong bang denny bilangin sama dian pp, semoga dian dan bang denny senantiasa sukses dan diridhoi Allah SWT.

  2. titien mengatakan:

    Bang Denny, tq y ulasannya cukup membuat rindu nuansa Dhian PP terobati…… blh mintol y bang di mana alamat kontaknya Dhian yang bisa saya hubungi, makasih, sukses selalu bang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s