25 Menit Bersama Mike Stern ,Dari Miles Davis Hingga Narkoba

Posted: Maret 15, 2011 in Uncategorized

Mike Stern dan Denny Sakrie di Java Jazz Maret 2009

Mike Stern Feat Dave Weckl di Java Jazz (foto Praditya Nova)

Mike Stern sedang menandatangani CD saya (foto Denny Sakrie)

Saya pertamakali mendengarkan permainan gitar Mike Stern di album  mili Miles Davis bertajuk “The Man With The Horn” (1981) melalui kaset yang direkam Aquarius Private Collection.Itu jaman piracy masih dianggap legal.Di album milik Miles Davis yang mulai rada “ngepop” itu menyertakan dua gitaris yang yang memiliki keterpegaruhan dalam bingkai jazz rock yang kuat  yaitu Barry Finnerty dan Mike Stern yang turunan Jerman.Sebagai pelahap hibrida jazz rock tentunya saya suka menyimak album Miles Davis yang diperkuat dua gitaris elektrik.Karena getar rocknya cukup meggedor kuping.Saya suka itu.

Sekitar dasawarsa 90-an Mike Stern berkunjug ke Jakarta dan menggelar konser di Jamz yang berada di wilayak Blok M.Tapi saat itu saya tak memiliki kesempatan untuk menonton gignya.Baru di tahun 2009 saat Mike Stern bermain di ajang Java Jazz International Festival yang berlangsung di Jakarta Convetion Center,saya  memanfaatkan kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan Mike Stern yang didukung drummer mumpuni Dave Weckl. Dan saxophonis Bob Berg.

Beruntung pula saya sempat ngobrol dengan Mike Stern.Orangnya murah senyum dan humble.Pertanyaan yang sudah menggelebung dibenak saya adalah gimana proses pengerjaan music saat bergabung dalam proyek milik Miles Davis.

DS : Pelajaran apa yang masih membekas saat bersama Miles Davis ?

MS : Miles hanya bilang mainkan instrumenmu dengan hati.Hanya itu.Setelah itu kita tenggelam dalam memainkan music.Jamming tapa henti.Dan itu selalu dilakukan Miles terhadap semua pemusik yang ikut dalam proyek musiknya.They all play from the heart…..

DS :Betulkah Miles orang yang gak pedulian ?

MS : Hmmm yeah…..Miles tidak peduli dengan genre atau subgenre.Dia sangat open minded.Miles tak perduli apakah itu jazz atau Jimi Hendrix atau Sly Stones atau apapun.Terus terang saya banyak mengikuti apa yang dilakukan Miles.

DS :Orang selalu berdebat soal jazz atau bukan jazz.Juga tentag fusion yang dianggap bukan jazz.Bagaimana menurut anda sebaiknya ?

MS :Jujur,saya justeru tak perduli.Saya mainkan saja.Itu terserah mereka many menyebut apa.Apakah jazz,atau bukan jazz.Saya hanya ingin membuat impresi lewat permainan music saya.Itu saja.

DS :Kalo dengan Jaco Pastorius ?

MS : Nyaris sama.Jaco juga tidak perduli terhadap pelabelan music.Mainkan saja,itu kata Jaco berulang-ulang.

DS : Berapa lama anda ikut bersama Miles Davis ?

MS : Tiga tahun

DS : Apakah betul anda dipecat sama Miles ?

MS : Yeahh….(Mike tersenyum).Itu terjadi di tahun 1983 saat saya memakai narkoba.Miles marah besar.Tapi Miles sempat bilang :”Kalo kamu sudah bersih silakan kembali lagi”.Lalu saya masuk rehabilitasi.Miles akhirnya menerima saya selepas dari rehab pada tahun 1985.

DS : Bukankah Miles juga memakai narkoba ?

MS : Iya betul.Menurut Miles di masa mudanya dia memakai narkoba,juga Charlie Parker.Tapi Miles akhirya bisa melepaskan diri.Dan setiap melihat orang yang memakai narkoba,Miles pasti marah besar.Ha ha ha ha .

DS  : Bisa cerita tentang pengaruh musik yang anda dapatkan sejak kecil ?

MS : Saya tumbuh dengan mendengarkan The Beatles lalu music rock dan akhirnya jatuh cinta dengan jazz.Tapi terkadang ada semacam dilemma antara menyukai rock atau jazz.Hingga akhirnya saya menyukai keduanya.Walaupun saya tetap tak mau mencampur rock da be bop dalam satu album.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s