Buku Tentang Gesang “Mengalir,Meluap Sampai Jauh”

Posted: Maret 19, 2011 in Uncategorized

Bercerita tentang kehidupan Soetadi, yang karena sering sakit-sakitan diubah namanya menjadi Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo. Perjalanan kehidupan Gesang penuh liku dan onak duri, tidak semerdu dan seindah lagu-lagu ciptaannya. Misalnya, tentang pujaan hatinya yang selalu ia rindukan, namun tak pernah bersua kembali. Tentang pernikahan yang kandas, lalu ia mengenang pujaan hatinya yang pertama. Tentang prosesnya dalam mencipta lagu beserta penjelasan atas syair-syairnya. Tentang kehidupannya yang pas-pasan, lalu tak punya tempat tinggal sampai Gubernur Jawa Tengah memberinya hadiah sebuah rumah. Juga tentang popularitasnya di dunia, khususnya di Jepang, lawatan ke luar negeri; lalu kisah masa tuanya yang terabaikan.

Endorsements:

“Keberadaan Gesang di khazanah musik tanah air sesungguhnyalah sebuah anugerah. Namun, mayoritas kita tidak melihatnya demikian. Sejak lama Gesang kita anggap biasa-biasa saja. Apalagi ketika keroncong dan langgam Jawa mulai memudar dan nyaris punah. Gesang yang terlupakan itu kemudian berpulang dan mendadak sontak kita mengelu-elukannya. Apakah itu karena kita menghargai karyanya? Saya ragu. Seorang seniman seharusnya dihargai karena karya, bukan karena iba hati, apalagi karena keinginan kita untuk tampil sebagai pembela kesenian. Buku ini saya harap bisa mendobrakignorance, agar suatu saat nanti kita sebaiknya menghargai seniman selagi mereka masih bernyawa, meski tidak salah juga jika dilakukan pada saat mereka sudah tiada.Rizaldi Siagian – Etnomusikolog, Komposer, Penasihat Ahli Bidang Kebudayaan, Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

“Ah, Pak Gesang! Saya kehilangan dirinya. Ketika mendengar dia sakit, hati saya berdenyut. Dan ketika kematian menjemputnya, saya meneteskan airmata. Saya berduka karena kehilangan orang yang saya kagumi. Setiap kali saya menyanyikan lagu ‘Saputangan’, saya selalu merasa sedang ditarik masuk ke alam percintaan Gesang dengan Sri Melati, gadis penyanyi pujaan hatinya. Saya trenyuh melantunkan lirik-liriknya yang tidak boyak. Ah, Pak Gesang. Lagu-lagumulah yang mengantarkan saya menjadi penyanyi. Bapak pulalah yang menuntun saya untuk selalu berkeroncong. Dan itu akan saya jaga, setia sampai akhir, meskipun bagaimana terjadi, sehidup semati.”Sundari Soekotjo, Artis Penyanyi Keroncong

“Tak pelak lagi, lagu ‘Bengawan Solo’ memang sebuah masterpiece. Masyarakat Indonesia mengakui, demikian juga dunia. Namun jangan terpaku pada sebuah lagu semata. Ada sekitar 40 lagu ciptaan Gesang yang menunjukkan betapa kaya sebenarnya batin pria kelahiran Surakarta ini. Lagu-lagunya ditulis pada waktu yang berbeda, yaitu saat kita masih dijajah Belanda dan Jepang, serta di zaman merdeka. Simaklah lagu ‘Bilamana Dunia Berdamai’ (1942), ‘Jembatan Merah’ (1943) dan ‘Caping Gunung’ (1973). Semua menjadi suara zaman, saksi sejarah bangsa kita. Kita harus berterimakasih dan bangga karena di Bumi Pertiwi pernah ada seorang seniman keroncong dan langgam Jawa yang tegar bergeming menyuarakan kepahlawanan. Dia bernama kehidupan. Dan Gesang adalah kehidupan, meski dia telah tiada.Sapta Nirwandar, Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

“Inilah lagu dari surga. Seperti ‘Clair De Lune’ bagi Debussy dan ‘Rhapsody In Blue’ bagi Gershwin, begitulah makna lagu ‘Bengawan Solo’ bagi Gesang. Lagu surga bukanlah lagu biasa yang bisa tercipta dalam keadaan sehari-hari. Kelahirannya adalah sebagai proses semesta, gerak jemari Tuhan ketika sedang tersenyum. Gesang menerima pesan dan mengejawantahkan ciptaan itu dalam lantunan gumam yang menggerubyak. Keroncong adalah musik milik Indonesia yang selalu akan kita bawa hingga ke masa depan, karena kita tahu, keroncong bukan musik orang-orang jadul.”Denny Sakrie, Pengamat Musik

“Saya miris melihat Gesang hanya dilihat dari perspektif produk budaya yang namanya keroncong. Padahal keroncong sudah bisa kita sebut sebagai produk budaya tradisi lama yang berfungsi sebagai salah satu sumber ‘sistem nilai’ atau local wisdom. Memang secara pragmatis Gesang adalah Bengawan Solo, namun secara kultural tradisi itu mencerminkan identitas yang mengusung aspek etika dan moralitas, sesuai paradigma masyarakat di sekitarnya. Intinya, Gesang lebih besar daripada keroncong itu sendiri.”Yockie Suryo Prayogo, Musikus

Buku Gesang yang ditulis Izharry Agoesdjaja <oenzir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s