Bedroom Musicians ? Why Not ?

Posted: Maret 31, 2011 in Uncategorized

Karsa dan karya manusia dalam bermusik kian terbantu dengan munculnya piranti teknologi modern. Perangkat musik digital pada akhirnya membantu manusia mewujudkan gagasan-gagasan musikal dengan akurasi dan presisi yang mungkin sebelumnya sulit untuk dibayangkan.

Di Indonesia sendiri menyeruaknya penggunaan perangkat music digital mulai terlihat pada paruh era 80-an. Saat itu mulai diperkenalkan MIDI yang merupakan singkatan dari Musical Instrument Digital Interface, suatu protocol standar industri  yang memungkinkan perangkat musik elektronik seperti synthesizers maupun drum machines serta perangkat elektronik lainnya seperti MIDI Controllers, sound cards maupun sampler untuk berhubungan, melakukan komunikasi serta proses sinkronisasi satu sama lain. Berbeda dengan media analog, MIDI tidak melakukan transmisi  audio signal, melainkan mengirim semacam messages berupa pitch atau intensitas, control signals untuk parameter seperti volume, vibrato dan yang lainnya. Teknologi MIDI ini mulai diperkenalkan ke seluruh dunia pada tahun 1982.

Munculnya MIDI ini pada akhirnya lebih memperlihatkan sisi kepraktisan dan efisiensi dalam sebuah produksi music. Sebuah prosedur dalam proses perekaman di studio bisa menjadi lebih sederhana dan tidak berbelit-belit. Saat itu kemudian muncul istilah bedroom musicians atau bedroom producers .Artinya untuk sebuah proses perekaman karya musik kini bisa dilakukan dimana saja. Menariknya hal ini mungkin lebih menguntungkan bagi para pemusik ,baik itu composer maupun arranger yang secara mendadak memperoleh sebuah gagasan musik, bisa langsung menumpahkan atau mewujudkannya seketika.

Di era 80-an studio rekaman MIDI mulai tumbuh pesat di Indonesia terutama di Jakarta maupun Bandung. Beberapa pemusik mulai merasakan manfaat maksimal dari teknologi MIDI ini diantaranya adalah Fariz RM, Andy Ayunir hingga Harry Roesli. Beberapa pemusik Indonesia lulusan Berklee Music Of College Boston yang saat itu baru tiba kembali ditanah air mulai mengaplikasikan penggunaan MIDI diantaranya adalah Aminoto Kosin, Rezky Ichwan, Narendra, Doddy Sukaman, Eramono Soekaryo, Andree Tidied an beberapa nama lainnya.

Di paruh era 80-an album-album rekaman mulai menggunakan fasilitas MIDI seperti album Fariz RM, Dian Pramana Poetra, Harry Roesli, Ruth Sahanaya, Mus Mujiono, Indra Lesmana, Andy Ayunir, Titi DJ dan masih banyak lagi.

Meskipun penggunaan teknologi MIDI menawarkan sesuatu paradigma baru dalam proses penciptaan rekaman musik, tapi disatu sisi tak sedikit yang mengkritik bahwa karya musik semacam ini tidak natural karena dibantu oleh perangkat komputer. Kritik ini mungkin ada benarnya, tapi juga terlalu berlebihan jika campur tangan komputer dianggap merusak keindah aura musik  yang natural.

Karena sebetulnya penggunaan instrument asli yang natural toh masih tetap ada. Setidaknya dalam proses sampling itu sendiri esensi sumber bunyi instrument yang asli masih tetap dibutuhkan dan diperlukan. Pengerjaan seluk beluk rekaman yang detil dan rumit bisa lebih dikendalikan  dengan tingkat akurasi yang tinggi dalam teknologi MIDI ini.

Sekarang ini, di abad millennium, rasanya hampir semua pemusik dan komposer lebih banyak menghasilkan karya-karya musik justru di kamar tidur berbekal perangkat software digital yang kian banyak menampilkan aplikasi aplikasi mutakhir. Penggarapan rekaman musik kini tak lagi berlangsung di studio rekaman besar. Ini sebuah fenomena menarik. Terutama karena anak muda sekarang lebih cepat tanggap dan welcome terhadap pesatnya kemajuan teknologi.

Para pemusik sekarang teruatama dari kalangan anak muda memang cenderung menggunakan perangkat digital untuk melakukan proses karya cipta musiknya, karena efisiensi dana,waktu dan tempat. Berbagai software pun tersedia untuk mengaplikasikan proses recording dengan keunggulan dan keistimewaan masing-masing seperti Sonar, Cubase, Nuendo, Ableton, Proppeller Record.

Untuk menghasilkan bunyi drum yang natural dan maksimal kini tak diperlukan lagi kehadiran sebuah set drum yang mahal, cukup dengan software pendukung berbentuk MIDI seperti Superior Drummer, Addictive Drum maupun EZ Drummer akan mampu menghasilkan sound drum yang maksimal. Begitu juga dengan software-software lain untuk gitar, bass, keyboard serta instrument musik lainnya.

Dari contoh diatas sebetulnya lebih menyiratkan bahwa kini untuk menghasilkan musik secara maksimal toh bisa dilakukan seorang insan musik dengan kondisi yang minimalis. Dan yang penting tidak menghasilkan wujud musik yang terkontaminasi secara teknologi.

Sebuah software editing music MIDI

Komentar
  1. abi mengatakan:

    http://www.myspace.com/bintangmati ini proyekan aku om,lo-fi banget ngerekamnya hahaha

  2. Fandi Abdullah mengatakan:

    Om, ini ada bedroom musician dari Medan, coba dengerin yah om: http://www.reverbnation.com/theycallmejane
    Thanks😀

  3. firman mengatakan:

    beberapa lagu sy yang hampir seluruh nya jg digital om, saya setuju dengan kondisi minimal pun bisa menghasilkan musik yang maksimal🙂 http://soundcloud.com/the-autism-show , http://www.reverbnation.com/theAshow

  4. asd mengatakan:

    salah tuu, harusnya andrie tidie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s