Arsip untuk April, 2011

Untuk edisi ulang tahun yang ke 6,majalah Rolling Stone Indoresia melakukan sebuah upaya gerakan sosial dengan nama Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia,yang membagikan 1000 gitar akustik untuk anak-anak Indonesia berbakat musik tapi tidak mampu secara ekonomi.

Saya kemudian diminta untuk mewawancarai 20 gitaris Indonesia yang menjadi cover story majalah Rolling Stone edisi ulang tahun Mei 2011 ini.

Sebanyak 20 gitaris itu adalah Andra Ramadhan (Dewa 19 & Andra & The Backbone), Ridho & Abdee (Slank), Baron (Soulmate), Boris (The Flowers), Satrio (Alexa), Ovy (/rif), Dewa Budjana (Gigi), Irfan (Samsons), Cella (Kotak), Gugun (Gugun & Blues Shelter), Rama & Ariel (Nidji), Ernest & Edwin (Cokelat), Adrian Adioetomo, Stevie Item (Andra & The Backbone), Didit Saad (Plastik), Baim (The Dance Company) dan John Paul Ivan.

Berikut adalah pendapat mereka tentang gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia dari Rolling Stone Indonesia:

1.RIDHO HAFIEDZ

“ Gitar adalah instrument musik yang massal.Sangat memasyarakat.Praktis.Mudah dibawa dan dimainkan kapan saja.Makanya sejak kecil saya sudah menaruh minta untuk bermain gitar” ungkap Mohammad Ridwan Hafiedz,nama lengkap Ridho Hafiedz gitaris Slank yang belakangan ini juga dikenal sebagai pemotret professional.Ayah dari 3 orang anak ini lalu bertutur tentang ketertarikannya pada gitar.”Saya mulai memainkan gitar pada saat kelas 6 SD.Gak ada yang ngajarin.Saya belajar sendiri.Otodidak gitu” imbuh Ridho yang dilahirkan di Ambon pada 3 September 1973.Keinginannya yang kuat untuk menekuni musik akhirnya terwujud dengan membentuk kelompok Last Few Minutes pada awal era 90-an .Selama 4 tahun Ridho menekuni pendidikan di bidang bisnis.”Tapi saya merasa bahwa dunia saya sebenarnya adalah musik” tukas Ridho yang kemudian berusaha meyakinkan orang tuanya agar diberi kesempatan untuk menekuni pendidikan musik.Ridho lalu mendaftarkan diri di MIT (Musicians Institute Of Technology) yang berada di Hollywood,Los Angeles  Amerika Serikat pada tahun 1995 .”Saya mengambil jurusan gitar” jelasnya.“Saat itu saya menyadari bahwa bakat musik mesti diasah juga dengan pendidikan musik secara formal .Tapi belajar musik bisa dimana saja tak selalu harus di jalur formal  “ kata Ridho Hafiedz yang sekarang ini masih merampungkan proyek pembuatan film dokumenter tentang grup rock legendaris God Bless.Di tahun 1997 Ridho kemudian bergabung dengan Slank hingga sekarang ini. Ridho Hafiedz  mengaku terpanggil untuk mendukung Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang dicanangkan Rolling Stone.”Itu sebuah niat yang baik yang harus didukung.Begitu banyak anak Indonesia yang memiliki bakat musik tapi tak memiliki sarana” ujar Ridho yang pernah membuat music score dan soundtrack film “Tentang Cinta” (2007).Bahkan disela-sela kesibukannya yang padat ,  Ridho pun telah mengkontribusikan kemampuan fotografinya untuk  memotret gitaris God Bless Ian Antono dan seorang anak bernama Aji yang dipakai untuk kampanye Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini.

2.SATRIO ALEXA

Bagi  gitaris Alexa Satrio Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang digagas Rolling Stone ini harus didukung, entah dari masyarakat maupun para pemusik itu sendiri.”Ini sebuah ide yang bagus yang menggabungkan konsep amal dan konsep pendidikan” ungkap pemilik nama lengkap Nur Satriatama Moersid.Menurut Satrio belakangan ini para pemusik muda bisa meraup pendidikan musik melalui banyak fasilitas antara lain seperti yang bisa diakses melalui internet  .”Pendidikan musik pada akhirnya memang tak harus melalui jalur formal saja “ ungkap Satrio yang pernah menjadi gitaris kelompok neo soul Maliq N D’Essentials.Satrio pun merasakan kemajuan yang pesat dalam industri musik pop di Indonesia.”Sejak tahun 2002 hingga sekarang radio-radio mulai banyak memutar lagu-lagu Indonesia.Ini sebuah perkembangan yang membuktikan betapa bergairahnya dunia musik pop kita saat ini” timpalnya lagi.Gitaris ini mengaku lebih dahulu belajar main piano sewaktu masih duduk dibangku kelas 1 SD.”Setelah itu saya kemudian tertarik bermain gitar bahkan mencoba memainkan alat musik lain seperti drum.Tapi akhirnya orang lebih mengetahui saya sebagai seorang gitaris ” ujar Satrio.

Satrio sendiri mengaku menyukai genre musik apa saja.”Apapun genre saya suka.Buktinya band-band yang saya dukung pun genrenya berbeda,mulai dari Maliq N D’Essential hingga Alexa sekarang ini” tukas Satrio sembari tergelak.  Kegiatan terakhir Satrio adalah menggarap album Afgan dan Vidi Aldiano.”Saya juga ikut menggarap album Seringai yang tengah dalam penggarapan” jelas Satrio.

 3.Ovy /riff

Dengan dandanan ala Glam Rock 80-an,gitaris Ovy /rif ini memang lebih mudah dikenali.Musik rock memang merupakan bagian dari kehidupan Ovy yang bernama lengkap Noviar Rachmansyah.Sebelum bergabung dengan /rif pada  tahun 2003, suami penyanyi Titi DJ ini telah malang melintang sebagai gitaris grup rock U’Camp.“Pengaruh terbesar saya adalah the Beatles.Saya sangat memuja band Inggeris ini.Bahkan saya sempat berikrar akan menuntut ilmu di Inggeris” ujar Ovy sembari tersenyum.Di tahun 1978 saat duduk di kelas 1 SMP Ovy telah bermain drum dengan membawakan lagu-lagu the Beatles.“Ketika duduk dibangku SMA saya beralih ke gitar.Saya merasa lebih enak memetik gitar dibanding menabuh drum” ungkap lelaki kelahiran 12 November 1966 ini.Usai SMA,Ovy lalu terbang ke London Inggeris dan mendaftarkan diri di Trinity College London,sebuah konservatori seni yang telah didirikan sejak tahun 1877.”Saya ke London itu memang merupakan bagian dari obsesi saya yang sejak kecil tergila-gila dengan The Beatles.Di Trinity saya ambil pendidikan gitar klasik” urai Ovy /rif yang dari tahun 1986 -1990 meraup ilmu di London Inggeris.

Selama di London Ovy mengaku mulai keranjingan music rock yang tengah mewabah saat itu mulai dari Van Halen,Bon Jovi,Quite Riot hingga Skid Row.Usai pendidikan di Trinity College London,Ovy meneruskan pendidikan gitarnya di Guitar Instiute of Technology (GIT) di Los Angeles Amerika Serikat selama setahun.”Di GIT saya mulai menekuni gitar elektrik secara mendalam” imbuh Ovy /rif.

“Saya mendukung Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia .Ini ide yang baik dan harus didukung penuh.Karena bermusik itu justeru untuk berbagai lapisan masyarakat.Setidaknya merupakan ajang motivisi bagi anak-anak yang berbakat musik tapi tidak memiliki sarana dan penyaluran” tutur Ovy /rif yang baru saja menyelesaikan videoklip single ke 2 Titi DJ bertajuk “Satu”.Selain itu Ovy /rif kembali ke panggung bersama /rif setealh 4 tahun vakum tanpa merilis album.”Saya juga sibuk membuat arransemen untuk kelompok Darajana” imbuh Ovy/rif.Bahkan Ovy /rif sekarang juga ikut membimbing band yang dibentuk putranya Axel bernama Jordan.

4.Boris The Flowers

Sejak kecil ,saat  duduk dibangku SD Boris Simanjuntak,gitaris the Flowers terkagum-kagum melihat aksi gitar Keith Ricahrd dari The Rolling Stones.”Saya pun mulai meniru gaya khas Keith Richard “ ucap Boris yang sempat juga tergabung dalam kelompok Godam itu.

Boris pun menyambut antusias gagasan Rolling Stone membuat Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia.”Wah ini ide unik,biasanya orang memberikan beasiswa music atau semacamnya.Tapi yang ini malah bagi bagi gitar yang juga mengajak para pemusik terutama gitaris untuk ikut terlibat” komentar Boris yang bersama The Flowers menjadi band pembuka konser Stone Temple Pilots di Kemayoran Jakarta beberapa waktu lalu.“Saya pun berharap semoga gerakan sosial  bagi bagi gitar ini bisa  pula menghasilkan karya-karya musik  yang gak instan.Bisa lebih dalam lagi.Banyak lho anak Indonesia berbakat musik tapi justeru tak memiliki sarana” tukas Boris yang ikut mendukung The Flowers sejak tahun 1997 ini.Boris Simanjuntak yang juga kerap menjadi gitaris Melly Goeslaw ini pun menyoroti  iklim industri  musik  Indonesia yang kini terasa semakin seragam bentuknya.Hampir tak bisa membedakan jatidiri band seperti dulu  .”Sebetulnya musik Indonesia saat ini cukup variatif,tapi justeru malah kurang terekspos.Semuanya selalu beralasan dengan selera pasar dan segala tetek bengeknya.Dan jika ada yang bilang musik Indonesia mengalami degradasi itu juga tidak betul “ komentar Boris lagi.Sekarang ini Boris tengah mempersiapkan album The Flowers yang kedua.”Untuk sementara Bongky masih membantu The Flowers memainkan bass sebelum kami mendapat pengganti Leo yang mengundurkan diri” jelas Boris.The Flowers pun siap merilis single terbaru bertajuk “Gua Ngerock Dari Dulu” karya Bongky dan Agil.

5.Andra Ramadhan.

Keinginan bermusik telah menggebu gebu di benak Andra Junaidi Ramadhan yang dilahirkan 17 Juni 1972.”Saya dulu itu ingin menjadi drummer.Ingin beli drum tapi takut suara berisik drum akan menggangu tetangga,lagi pula harganya mahal.Orang tua saya jelas gak sanggup beli drum ” kisah Andra yang sekarang ini tengah menyiapkan album ke 4 Andra & The Backbones .Obsesinya bermain drum pun pupus setelah melihat betapa asyiknya melihat teman-teman sebayanya mahir memetik gitar.”Karena keadaan ekonomi yang tidak mendukung,akhirnya saya hanya bisa pinjam gitar punya teman saja “urai Andra yang saat itu gandrung menyimak lagu lagu the Beatles hingga Queen.“Dengan gitar pinjaman itu saya mulai ngulik lagu lagu Indonesia terutama lagu Melati Dari Jayagiri yang dinyanyikan Bimbo”   tutur Andra terkekeh.Andra mengaku belajar gitar secara otodidak karena bergaul dengan teman-temannya saat nongkrong bersama.“Makanya ketika mendengar Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini saya teringat jaman ketika pertamakali ingin bermain gitar dulu.Saya setiujiu dan mendukung gerakan mulia ini.Dengan pembagian gitar ini paling tidak bisa memicu dan memotivasi anak anak tak mampu ini untuk bermain musik dengan baik” komentar Andra panjang lebar.  Perihal karir musiknya,Andra bertutur bahwa dulu orangtaunya tetap tidak setuju jika anaknya menekuni karir di dunia musik.Saat bergabung dengan Dewa bersama Dhani,Erwin dan Wawan,Andra sempat berhadapan dengan dilemma antara memilih kuliah atau bermusik. Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya Andra pun  memilih untuk terus berkarir di dunia musik.Namun kedua orang tuanya tetap tidak setuju jika  Andra  meninggalkan  kuliahnya.Akhirnya kedua orang tua Andra  pun memahami keinginan Andra .Setelah meninggalkan bangku kuliah Andra kemudian memusatkan perhatian pada Dewa.

6.BARON

“Saya senang dan terharu mendengar Rolling Stone berinisiatif melakukan gerakan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia.Menurut saya orang Indonesia itu memang sangat musikal.Dimana-mana orang mendengar musik dan bermain music.Pemberian gitar ini ibarat memberi bensin kepada anak-anak Indonesia ,mereka siap aktif bermusik tentunya” itu komentar panjang yang tercetus dari gitaris yang humoris ini. Baron sendiri langsung teringat dengan almarhum Harry Roesli yang melakukan gerakan social mengentaskan dan membina para pengamen yang ada di sekitar Bandung.”Saat itu kang Harry mengumpulkan anak-anak pengamen.Selain member pengarahan bermain musik yang bener,yang saya ingat kang Harry juga memberi nasehat tentang sopan santun saat ngamen” ungkap Baron yang lahir pada 16 Januari 1970 dengan nama Aria Baron Arafat Suprayogi.

Pertamakali  belajar alat musik  dengan bermain  piano klasik.”Lalu  saat usia 12 tahun saya keralih  ke gitar “ cerita Baron yang tergabung dalam kelompok fusion pada paruh era 80-an. Baron pun sempat belajar drum, namun akhirnya kembali ke gitar dan mengikuti kursus gitar jazz. Saat duduk di bangku kelas 1 SMA, Baron menimba ilmu jazz pada Harry Roesli,Donny Suhendra dan Prasaja Budi Dharma. “Bagi saya pendidikan musik itu penting walau dengan pendekatan yang beda beda” tuturnya.Baron yang sempat tergabung dalam berbagai band di Bandung seperti Postcard hingga Badai Band, kemudian tergabung dalam kelompok Gigi di tahun 1994 bersama Dewa Budjana,Thomas Ramdhan,Ronald dan Armand Maulana.Di tahun 1995 Baron keluar dari Gigi karena ingin melanjutkan sekolah di Communication Arts, di New York Institute of Technology, Amerika.Di tahun 2002 Baron membentuk Baron Band yang kemudian diubah menjadi Baron Soulmate yang telah merilis dua album “Baron Volume 1” (2002) dan “Flying High” (2008).

Kini Baron lebih banyak berkiprah dibelakang layar “Saya memang banyak ikut berkiprah dalam proses rekaman,misalnya menjadi technical director untuk album Wali” imbuhnya .Baron pun kini mencoba menggali lagi kemampuannya bermain gitar fusion jazz,diantaranya  berkolaborasi dengan Inna Kamarie serta gitaris Iwan Hasan.Baron memang ada di genre musik apa saja.”Jika kita ngomongin musik maka yang terbayang adalah gitar” papar Baron.

7.DEWA BUDJANA

“Pemusik mungkin adalah sosok yang sangat peduli sosial.Kalo ada musibah atau bencana,pemusik tanpa pikir panjang langsung turun tangan mengumpulkan dana dengan berbagai cara.Tulus dan ikhlas.Dan ketika Rolling Stone bikin Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia,kami para pemusik terutama gitaris tanpa banyak tanya langsung memberikan kontribusi.Ini sebuah gerakan yang pantas dipuji karena ada niat untuk memajukan musik Indonesia” komentar Dewa Budjana panjang lebar tentang Gerakan 100 Gitar Untuk Aanak Indonesia ini.

Dewa Budjana,gitaris yang hidup di dua kutub musik : pop dan jazz ini setuju jika gerakan ini dimulai dengan memberikan gitar kepada anak-anak Indonesia yang tak mampu secara ekonomi namun memiliki bakat musik yang mesti digali dan diasah.

Budjana teringat saat duduk dibangku SD di Klungkung Bali,ketertarikannya pada musik terutama gitar meluap luap.Di majalah Aktuil,Budjana,melihat poster Benny Subardja,vokalis dan gitaris grup Giant Step tengah beraksi.”Kayaknya gayanya oke banget.Ini yang membuat niat saya kian kuat untuk menjadi seorang gitaris” ungkap Budjana yang dilahirkan di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur 30 Agsutus 1963.

Di usia 11 tahun secara otodidak Budjana mulai memetik gitar akustik.Obsesinya menjadi gitaris semakin berbuncah ketika pindah ke Surabaya.”Saya sempat mengambil kursus gitar klasik saat duduk dibangku SMP ” kisahnya.Sejak saat itu mulailah karir musiknya bermula dengan bergabung lewat berbagai band di Surabaya.Musik yang menjadi referensi Budjana saat itu beraneka ragam mulai dari pop,rock hingga jazz.”Saya mulai menyimak John McLaughlin,Pat Metheny hingga Allan Holdsworth” ujar Budjana menyebut nama nama gitaris yang kerap membaurkan jazz dan rock itu.

Di era 80-an Budjana mulai tampil sebagai session player dan tergabung dalam berbagai band seperti Spirit,Caezar,Exit,Hydro,Jimmie Manopo Band,Java Jazz dan entah apa lagi.Dari tahun 1994 hingga sekarang,Budjana masih tergabung dalam kelompok Gigi dan Trisum bersama dua gitaris yaitu Tohpati Ario dan I Wayan Balawan.

Budjana merasa perkembangan musik di Indonesia terasa semakin pesat.”Teknologi rekaman sekarang luar biasa maju dan orang semakin banyak yang mendengarkan musik Indonesia “ tutur Dewa Budjana.

8.ARIEL NIDJI

“Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini merupakan event yang berguna bagi anak-anak tak mampu termasuk anak jalanan yang sering terlihat ngamen di pinggir jalan maupun di dalam bis.Ini sebuah keperdulian sosial yang mesti disupport penuh.Dengan memiliki instrument music seperti gitar maka mereka bisa mengekspresikan bakat musik mereka secara kontinu ” tukas Ariel,gitaris Nidji.

Pemilik nama lengkap Andi Ariel Harsya ini merasa bahwa pendidikan musik berupa pengenalan dasar teori musik itu perlu.”Apalagi jika ingin melangkah ke dunia musik secara professional,maka teori musik dasar haruslah dimiliki” imbuh Ariel yang dilahirkan 31 Agustus 1983.

Ketika duduk dibangku SMP,Ariel dihadiahkan sebuah gitar nylon akustik.”Tapi saya malah gak tertarik memetik gitar.Kayaknya susah ya memainkan gitar” kisah Ariel yang saat itu lagi tergila-gila bermain game seperti Supernintendo.Musik belum mengusik perhatiannya secara intens.

Ketertarikan Ariel pada musik mulai mencuat ketika dia terkagum-kagum melihat temannya di bangku kelas 3 SMP terampil memetik gitar.”Saat itu saya mulai memetik gitar,ngulik lagu dan mulai sering dengar music ketimbang main game” ujar Ariel terkekeh.

Ariel mulai merasakan sebuah kenikmatan di saat mengulik lagu lewat petikan gitar.Apalagi di saat duduk di bangku SMA,Ariel mulai ikut mendukung sebuah band.”Yang saya ingat band itu sering membawakan lagu-lagu Metallica yang cadas” ujar Ariel mengenang. Dilain kesempatan Ariel malah diajak bergabung sebuah band yang cenderung memainkan lagu-lagu bergaya Britpop seperti The Cure.”Bisa dibayangkan warna music yang saya mainkan saat itu seperti langit dan bumi.Tapi saya sangat menikmatinya.Musik telah merasuk diri saya” imbuh Ariel lagi.

Ariel sendiri tak sependapat jika ada yang bilang kualitas musik sekarang menurun.”Kalo soal kualitas itu adalaha masalah era.Tiap era punya karakter musik  yang beda,termasuk sound-sound yang diproduksi.Namun kalo masalah keseragaman dalam bermusik,itu yang menurut saya bermasalah” tutur Ariel yang sekarang ini tengah menggarap proyek musik bernuansa Live PA bersama dua rekannya dari Nidji Andro dan Randy dengan nama Turbo Monkey.

9.Rama Nidji

Sejak kecil gitaris Rama Nidji sudah memperlihatkan bakat musik yang deras.Di saat duduk di kelas 6 SD Rama malah tampil sebagai penyanyi.”Waktu itu saya membawakan lagu “Janji” nya Gigi dan bergaya seperti Armand Maulana” ungkap Rama yang memiliki nama lengkap Muhammad Ramadhista Akbar.Rama kemudian tertarik dengan riuhnya instrument drum.”Saya sempat menjadi drummer,tapi pesona gitar membuat saya beralih memetik gitar” kisah Rama mulai jatuh cinta dengan gitar setelah meminjam gitar milik sahabatnya.Setelah membeli gitar akustik Prince Nylon  ,Rama kian rajin mengulik lagu.Rama lalu mulai banyak memainkan musik rock seperti Green Day  setelah membeli sebuah gitar elektrik bermerk Prince seharga Rp.150.000.

“Entah kenapa saya seperti kerasukan main musik saat itu .Penyalurannya ya saat saya diajak kakak kelas memperkuat band sekolah Labschool Rawamangun .Kita main musik ska yang lagi naik daun saat itu ” cerita Rama.

Makanya ketika mendengar Rolling Stone membuat Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia,Rama langsung teringat masa kecil hingg remaja yang dihiruk pikuki dentan musik.”Di usia seperti itu musik memang sangat cepat merasuk dalam diri seorang anak.Apalagi jika mereka diberi gitar,tentunya akan memotivasi diri mereka untuk bermain musik secara maksimal.Moga moga gerakan social ini bisa mempunyai dampak yang positif   ” timpal Rama sambil mengelus gitar Gibson kesayangannya.

Bersama Nidji,Rama tengah mempersiapkan album yang keempat.”Ini merupakan fase yang melegakan.Saya masih ingat petuah dari Armand Maulana yang selalu mengingatkan tentang sindrom album ketiga.Menurut Armand di album pertama adalah saat  sebuah band menyatukan ego dalam  bermusik.Di album kedua ego bermusik mulai keluar.Lalu di album ketiga muncul ego yang tidak tersalurkan.Ini situasinya bisa jadi rawan karena jika tidak diantisipasi bisa jadi runyam .Dan untunglah Nidji telah melalui fase album ketiga” jelas Rama yang dilahirkan 6 Juni 1984.

10.Gugun

Ingin tahu kiat bermusik yang tepat ? Gugun,gitaris blues yang tengah jadi sorotan sekarang ini mengatakan :”Jika ingin bermusik yang bak maka harus ada 50 persen skill dan 50 persen teknologi seratus 100 persen soul.Jadi tanpa adanya soul yang ekspresif maka music seperti sosok tanpa jiwa sama sekali “.Gugun yang dilahirkan 22 November 1975 dengan nama lengkap Muhammad Gunawan ini telah memiliki pengalaman tampil di beberapa event blues di mancanegara seperti di Inggeris dan Irlandia.

Kenapa tertarik blues ?.”Awalnya sih suka rock.Tapi ternyata blues adalah cikal bakal banyak aliran musik terutama rock.Dan ternyata blues memang cocok dengan jiwa saya” ujarnya sembari tersenyum.

Gitar sudah digenggamnya sejak duduk di bangku SD.”Kami sekeluarga memang penggemar musik” ungkap Gugun,.Ayah Gugun,Achmad Atam,bekerja di perusahaan minyak Caltex yang ada di Riau.Saat di bangku SD kelas IV,Gugun pun menoreh prestasi bermusik.”Saya berhasil menjadi Juara kedua dalam sebuah Festival Gitar di Riau” jelas Gugun .Disisi lain,Gugun pun mengasah kemampuan sebagai seorang penyanyi.”Saya masih ingat,di tahun 1986 menjadi juara Festival Lagu Melayu di Bengkalis” ungkap Gugun.Gugun sendiri menyelesaikan kuliahnya di di Akadem Bahasa Asing di Cikini pada tahun 1997.

“Saat itu pas krismon lagi.Tapi saya sudah membulatkan tekad hanya ingin bermain musik” akunya.Dan terbukti hingga kini Gugun yang telah menghasilkan 3 album masing-masing “Hari Ini” (1999)bersama De-Gun Project dan 2 album solo yaitu “Get The Bug” (2004) dan “Turn It On” (2007),tetap menekuni dunia musik..

Gugun menilai gagasan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini sebagai sebuah gerakan pengentasan sosial yang bagus,apalagi dengan mengambil idiom musik.”Setahu saya banyak anak Indonesia yang memiliki bakat musik luarbiasa tapi jadi tenggelam karena tidak mampu menyediakan sarana seperti memiliki gitar misalnya.Semoga gerakan ini yang juga melibatkan para gitaris menjadi gerakan mendeteksi bakat music juga” tukas Gugun yang bersama bandnya Gugun Blues Shelter menjadi wakil Indonesia dalam ajang Battle Of The Band.

11.Irfan Samsons 

Bagi Irfan Samsons,berkarir di dunia musik harus ditopang pula dengan fondasi lainnya.”Selain berkiprah sebagai pemusik dengan bermain gitar dan menulis lagu saya juga menekuni bisnis.Antara musik dan bisnis bagi saya semacam simbiose mutualisme.Musik itu sendiri bagi saya merupakan sebuah bentuk aktualisasi diri yang senantiasa menuntut sebuah progress” jelas pemilik nama lengkap Irfan Aulia yang dilahirkan 26 April 1983.

Ketika mendengar Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang digagas Rolling Stone ,Irfan merasa perlu mendukung gerakan semacam ini.”Pemberian gitar paling tidak merupakan trigger yang akan memotivasi anak-anak berbakat itu untuk bisa mengembangkannya ke fase yang lebih serius lagi” ujar Irfan.

“Saya sendiri sewaktu kecil juga merasakan hal yang sama ketika musik terasa membuat hidup kita bergairah.Saya masih ingat ketika pertamakali menyenangi musik saya malah bermain electone,jadi bukan gitar” kenang Irfan.

Setelah memasuki masa SMP Irfan mulai tertarik untuk memetik gitar.”Waktu itu saya sering memainkan lagu-lagu Indonesia seperti KLa Project,Dewa dan Gigi.Saya juga suka grup Extreme” ungkap Irfan.

“Setelah itu saya mulai memasuki fase aktualisasi diri dengan mulai menulis lagu   antara tahun 2001 dan 2002.Fase berikutnya adalah menikamti hasil kerja keras bersama Samsons di tahun 2006” jelas Irfan yang memiliki latar belakang pendidikan Informasi dan Teknologi serta Sastra Perancis.

Menurut Irfan,pendidikan musik itu perlu untuk seorang pemusik jika ingin maju dan ingin terus melakukan aktualisasi diri.”Jika hanya mengandalkan bakat saja rasanya ada sesuatu yang kurang.Tak perlu pendidikan musik yang tinggi tinggi.Minimal menguasai basic sebelum melangkah lebih jauh dalam dunia musik” pesan Irfan Samsons.

12.CELLA KOTAK

“Saya sangat mendukung Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini.Karena saya jadi teringat dengan pengalaman saya saat memutuskan diri untuk hidup dari musik.Penuh perjuangan yang keras dan tentunya pengorbanana” ujar Cella gitaris kelompok Kotak yang berkepala plontos itu.Cella mengaku terkena virus musik ketika masih duduk di bangku kelas 5 SD di Banyuwangi,kota kelahirannya pada 15 Maret 1983 .”Tetangga saya itu suka musik rock terutama Deep Purple hingga Guns N’Roses.Mau gak mau saya ikut terpengaruh dan menyukai music rock” kisah Cella yang bernama lengkap Mario Marcella.

Ketika duduk di bangku SMP kelas 1 musik yang disimak Cella hanya classic rock dan glam rock.”Yang saya ingat waktu kelas 1 SMP itu saya sudah memainkan lagu lagu Deep Purple mulai dari Burn hingga Perfect Strangers” ungkap Cella yang mengagumi gitaris Slash.

Musik,menurut Cella,akhirnya merupakan pilihan hidupnya.Cella sampai nekad minggat dari Banyuwangi ke Jakarta karena berhasrat ingin mencari peruntungan dari bermain music.”Orangtua saya bohongi bahwa saya kerja di Jakarta.Padahal sehari hari selama 2 tahun saya berjualan Koran di pinggir jalan dan jaga studio musik.Saya rela melakukannnya demi obsesi menjadi pemusik “ tutur Cella tentang ikhwal keberadaannya di Jakarta.

Kesempatan bermain musik mulai terkuak di tahun 2003.”Saat itu saya diminta menggantikan seorang gitaris sebuah band yang main di kafe.Saya langsung menerima tawaran dan peluang itu.Saya membernaikan diri karena selama jaga studio music,saya selalu ngulik ngulik lagu” papar Cella panjang lebar.

Mimpi menjadi pemusik akhirnya benar benar terwujud ketika Cella mendaftarkan diri sebagai peserta dalam ajang cari bakat bertajuk Dream Band pada tahun 2004.Inilah awal mulanya terbentuk band Kotak yang kini menjadi salah satu band papan atas musik Indonesia.

“Dengan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia rasanya akan menjadi peluang pula bagi anak-anak tak mampu untuk berprestasi di jalur musik.Makanya saya sangat mendukungnya” .

13.Edwin Cokelat

“Gitar adalah instrument musik yang sangat mengkhalayak.Jumlah gitaris baik yang amatir maupun professional pastilah banyak sekali.Bayangkan setiap 50 meter di kota besar maupun kecil pasti ada yang bisa main gitar” itu yang diungkapkan Edwin gitaris Cokelat yang dilahirkan 19 Maret 1975.

“Saya rasa apa yang dilakukan Rolling Stone dengan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia adalah tepat.Di Indonesia sendiri memang banyak bakat bakat musik.Sayangnya banyak juga yang justeru tak tersalurkan dengan baik karena minimnya sarana pendukung,misalnya karena tak memiliki gitar sama sekali” tukas Edwin yang juga ikut tergabung dalam proyek kolaborasi Konspirasi.

Ketertarikan Edwin  pada musik  bermulai di saat duduk di kelas 5 SD  .”Ayah saya itu maniak dengan classic rock.Tiap hari mau gak mau saya dan Ernest mendengarkan musik kesukaan ayah” kisah Edwin yang saat itu bermukim di Bontang Kalimantan Timur.

Awalnya Edwin tergila-gila untuk menggebuk drum,tapi ternyata gitar justeru lebih memberi daya pikat luar biasa.”Saya lalu minta hadiah ulang tahun berupa gitar seharga Rp 25.000.Kemudian belajar gitar sama om dan teman teman nongkrong.Lagu yang saya mainkan saat itu adalah Kokoro No Tomo nya Mayumi Itsuwa dan Oh Ya dari Kelompok 3 Suara.Ketika duduk di bangku SMP saya mulai memainkan Guns N’Roses, Bon Jovi dan Van Halen” cerita Edwin.

Rock memang menjadi musik pilihan Edwin .”Ketika duduk dibangku SMA,saya mulai rutin berlatih gitar 2 jam sehari dan mulai ikut berbagai Festival band .Ian Antono dan Eet Sjahranie adalah pahlawan gitar saya” ujar Edwin yang kemudian hijrah ke Bandung untuk meneruskan studi dan bermain musik.

“Kenapa saya pilih pindah ke Bandung ? Karena saat itu di Bandung terdapat banyak band-band keren seperti PAS Band atau Sahara .Selain kuliah di Itenas Bandung,saya pun mulai aktif ngeband dengan berbagai band hingga akhirnya terbentuk Cokelat”  imbuh Edwin.

14.Ernest Cokelat.

Ketika mendengar gagasan Rolling Stone untuk melakukan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang akan membagi-bagikan gitar kepada anak-anak tak mampu tapi memilki bakat musik,Ernest Syarif gitaris Cokelat tersentak.”Ingatan saya balik ke masa kecil saya, yang ingin bermain gitar tetapi untuk mendapatkan instrumen musik tersebut ternyata tidaklah mudah.Jadi saya pikir gagasan ini sungguh cemerlang,bagus dan harus kita dukung sepenuhnya” ujar Ernest yang belakangan ini disibukkan dengan proyek musik diluar Cokelat yaitu band kolaborasi bernama Royal Ego.

Sejak kecil keinginan Ernest untuk bermain gitar memang telah menggebu-gebu.”Ini mungkin faktor lingkungan.Keluarga saya memang sangat musikal,mulai dari ayah,om dan kakak semuanya terampil memetik gitar.Otomatis saya pun keciprat kebisaaan bermain gitar bareng yang tercipta dikeluarga saya  “ ungkap suami Nirina Zubir ini.

“Akhirnya saya belajar gitar dari om dan kakak saya.Mulai dari gitar akustik hingga hingga elektrik.Kebetulan di keluarga saya semuanya menyukai musik rock” papar Ernest yang sejak anaknya lahirnya mulai aktif menulis sejumlah lagu anak-anak.

Menginjak duduk dibangku SMP,Ernest telah menjadi gitaris band sekolah.”Lagu pertama yang saya pelajari adalah “Rock Bergema” milik kelompok Roxx dan “Tragic Comic” nya Extreme.Wah rasanya bangga banget saat itu “ kenang Ernest.

Ketika Edwin pindah ke Bandung untuk kuliah dan mengembangkan karir musik,Ernest pun mengikuti langkak kakaknya itu.”Saya kemudian diajak menjadi gitaris additional di Cokelat saat Cokelat membuat album kedua.Selanjutnya resmi menjadi gitaris Cokelat sejak album ketiga” jelas Ernest lagi.

Di tahun 2005 Ernest bersama Eno (drummer Netral),Gilbert (bassist Saint Loco) dan Hendra Bagya (vokalis New Market) membentuk Royal Ego. Adanya band ini bukan berarti mereka tengah  jenuh dengan  band mereka  yang ada saat ini, namun karena ingin menumpahkan kemampuan yang tidak bisa dituangkan di grup band masing-masing .

Kini Ernest aktif menulis lagu anak-anak yang kemudian dilantunkan Nirina Zubir sang isteri.Salah satu lagunya bertajuk ”Song For Zee” yang ditulis untuk sang puteri tercinta Zifara. 

15.Adrian Adioetomo

Tak banyak pemusik blues di Indonesia yang memainkan Delta Blues dengan segala kekunoannya itu.satu diantaranya adalah Adrian Adioetomo yang mendendangkan blues lewat petikan dobronya yang mistis itu.Di tahun 2007 Adrian merilis debut albumnya bertajuk “Delta Indonesia” yang memanggil aura musik blues era 30-an dengan konteks Indonesia.Adrian Adioetomo yang kerap dipanggil Ian ini merasa senang mendengar Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang digagas oleh Rolling Stone.”Bagi anak kecil yang menggemari musik,memiliki gitar itu adalah segalanya.Mereka bisa menjadi obsesif ingin memiliki.Ini juga saya alami dulu.Saya pengen punya gitar tapi tidak dikasih sama orang tua.Akhirnya saya tetap menginginkan gitar idaman saya ada ditangan saya.Lalu saya menabung.Uang jajan saya tak pernah saya belanjain.Saya lalu membeli gitar bekas milik teman saya sewaktu di SMP” tutur Adrian Adioetomo yang pernah mendukung album Kidnap Katrina pada dekade 90-an silam.

“ Ketika duduk di bangku SMA akhirnya saya berhasil mrembeli gitar elektrik yang saya idam-idamkan” yang kini tengah menyiapkan album solonya yang ketiga setelah “Delta Indonesia” (2007) dan “Adrian Adioetomo Plays Standard” (2009).” Untuk album kedua memang sengaja saya gratiskan melalui net label Yes No wave” urai Adrian Adioetomo yang dilahirkan pada 12 Maret 1973.

Kenapa Adrian begitu ingin memiliki gitar ? “Itu karena musik bagi saya adalah kebutuhan bathin yang mesti dipenuhi” ujar Adrian Adioetomo yang bisa memainkan musik apa saja selain blues.Adrian terampil membawakan musik pop,rock bahkan jazz sekalipun.Tak heran sosok Adrian Adioetomo kerap berseliweran diberbagai pentas  pentas musik,entah jazz, rock maupun blues tentunya.Bahkan Adrian pun pernah berkolaborasi dengan seorang disc jockey.

Terakhir,disela sela kesibukannya memilih lagu untuk album solo ketiga,Adrian Adioetomo aktif mendukung band Raksasa yang bernuansa rock.Band Raksasa ini merupakan proyek kolaboratif yang didukung oleh Pepeng (drummer Naif),Iman Fattah (gitaris Zeke & The Popo),Bonny Sidharta (bassist Dead Squad) dan Adi Cumi (vokalis Fabel).

16. Stevie Item

Loddy Item kakeknya adalah gitaris jazz lengendaris dan Jopie Item sang ayah adalah gitaris serba bisa sejak era 60-an.Sungguh sebuah pewarisan bakat yang paripurna untuk seorang Stevie Morley Item  yang dilahirkan pada 28 Maret 1979.”Tapi ayah saya tak pernah mengarahkan saya untuk bermain gitar.Ketika dia tahu saya bisa main gitar,dia hanya memberikan tips bagaimana cara memasang senar gitar yang benar dan perlunya mengusai blues.Karena blues menurut ayah saya adalah bagian yang akan bikin enak sebuah lagu.Lebih dalam gitu…” tukas Stevie yang kerap dipanggil Tepi itu.

“Saya salut dengan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ini.Ini berarti Rolling Stone cukup jeli melihat permasalahan sehari-hari.Kini semakin banyak anak muda yang ingin ngeband.Sebagian dengan niat ingin memperbaiki kehidupan ekonomi.Sebagian ingin mengaktualisasikan diri.Tapi banyak juga yang tak mampu untuk beli gitar.Gitar kan alat musik yang mudah dimainkan dan sangat praktis” tutur Tepi.

Sebelum kelas 6 SD,Tepi kursus piano dan organ tapi ternyata dia tak tertarik dengan kedua instrument musik itu.”Ketika nongkrong bersama saudara sepupu dan kawan kawan saya mulai tertarik ke gitar.Diam diam gitar ayah saya yang bertumpuk itu mulai saya pindahkan ke kamar saya.Di kamar saya mulai memetik gitar dan ngulik lagu.Semua saya lakukan sendiri hingga akhirnya ayah saya mulai tahu bahwa saya sudah memetik gitar.Dia pun memaklumi pilihan musik saya adalah rock.Yang saya ingat saaat itu sering menbawakan lagu Sweet Child O’Mine nya Guns N Roses” kisah Tepi tentang ketertarikannya dengan instrument gitar.

Di tahun 1996 ketika masih duduk dibangku SMA,Tepi telah berprofesi sebagai gitaris additional rapper Iwa K.”Saya masih ingat honornya sekitar Rp.250 ribu langsung saya berikan semuanya pada ibu saya.Sejak itulah saya mulai berfikir dan mengambil sikap dan keputusan untuk menjadikan musik sebagai bagian dari hidup saya” ungkap Tepi mengisahkan keterlibatannya di dunia musik secara professional.

Kini Tepi tetap katif mendukung dua band dengan aliran yang berbeda yaitu Andra & The Backbone yang pop rock serta Dead Squad yang bernuansa metal.”Saya pun tetap membantu dibelakang layar untuk album adik saya Audy” jelas Tepi.

17.Didit Saad

Masa kecil Didit Saad mungkin lebih berbahagia dibanding anak anak lainnya.Kenapa ? Karena sejak kecil Didit yang pernah menjadi gitaris grup rock Plastik telah merasakan persemaian naluri musik dalam lingkungan keluarganya.    “Sejak kelas 5 SD saya tertarik bermain gitar terutama karena melihat seorang teman bermain gitar.Sebelumnya saya malah sudah mahir main drum membawakan lagu-lagu the Beatles” ungkit Didit Saad yang dilahirkan 11 Maret 1973.

Dalam keluarga Didit justeru terbentuk band keluarga.”Yang main ayah saya hingga almarhum abang saya Imanez,termasuk saudara-saudara lainnya .Ketika bermain gitar,lagu pertama yang saya pelajari adalah Kokoro No Tomo nya Mayumi Itsuwa ” imbuh Didit yang sekarang ini banyak bermitra dengan penyanyi jazz Syaharani dalam penggarapan album-albumnya.

Makanya ketika mendengar adanya Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia yang digagas Rolling Stone,Didit merasa gerakan tersebut merupakan hal yang tepat sasaran.”Memperkenalkan musik memang lebih tepat pada masa anak-anak sedang tumbuh.Untuk yang memang memiliki bakat musik,dengan adanya instrumen gitar tentunya akan lebih memotivasi mereka  berkarya dalam musik” ungkap Didit lagi.

Pengalaman bermusik Didit bermula di sat duduk dibangku kelas 2 SMA.”Saat itu pemusik rock Arthur Kaunang mengajak saya bermain gitar menbawakan lagu-lagu SAS seperti Baby Rock maupun Larantuka.Saya bahkan diajak rekaman.Saya juga sudah mulai menulis lagu sendiri ” tutur Didit mengurai kiprahnya bersama Arthur Kaunang di tahun 1989.

Di tahun 1995,Didit yang mengagumi The Beatles,Kirk Hammet dan Stevie Ray Vaughan membentuk kelompok Plastik bersama Ipang yang bertahan hingga tahun 1999.

Didit pun mengakui bahwa generasi sekarang lebih banyak bisa berbuat sesuatu dengan dukungan dari fasilitas-fasilitas yang tersedia lantaran kemajuan teknologi yang begitu pesatnya.”Akses informasi memudahkan anak muda sekarang memahami kreativitas bermusik secara virtual yang pada akhirnya menjadi sesuatu yang survival.Bukan diliat dari sudut pandang instan  tapi sebuah proses yang lebih mudah” imbuh Didit yang terlibat sebagai sosok belakang layar mulai dari Anda,Syaharani,Ray D’Sky hingga duo pop T2.

 18.Abdee Negara

“Musik di Indonesia sangat menarik.Tumbuh dengan skala besar.Musik disini tumbuh bersama komunitas.Segala macam genre tumbuh subur.Sangat musikal.Jika kenyataan ini dipadankan dengan Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia,maka saya beranggapan gerakan sosial ini tepat sasaran.Apalagi jika mengingat bahwa music  is a healer.Musik seperti penyembuh.Disaat tekanan hidup mendera,maka musik pun  menjadi tempat berpaling.Begitu banyak kita lihat anak jalanan yang terlantar kehidupannya.Terlunta lunta.Menjadi pengemis hingga pengamen.Tapi dengan music pasti ada sesuatu yang berubah.Lewat pemberian gitar ini adalah salah satu wujud konkritnya. Makanya saya sangat setuju dan mendukung gerakan ini .” ujar Abdee Negara gitaris Slank.sejak tahun 1996.

Apa yang disinggung Abdee  Negara mengenai komunitas memang telah memperlihatkan gejala yang baik.”Slank adalah salah satu contoh berkembangnya komunitas.Beberapa waktu lalu saya dan teman teman malah membentuk wadah AIRS…All Indonesian Rock Stars.AIRS menjadi opening act konser Slash tahun lalu .Kami kumpul kumpul,berdiskusi,bertukar pikiran sekaligus bersilaturahmi” papar Abdee Negara kelahiran Donggala,Sulawesi Tengah 28 Juni 1968 .

Abdee juga melihat musik Indonesia saat ini berkembang pesat.”Wawasan pemusik mungkin lebih luas dengan arus informasi yang tersedia.Teknologi banyak memberikan alternative dan kemudahan-kemudahan dalam berkarya” ujar Abdee Negara yang juga aktif sebagai produser rekaman.

Kini Abdee  Negara kembali sibuk dengan berbagai kegiatan manggung Slank yang kian padat .”Slank kini telah memperoleh izin manggung setelah cukup lama dicekal.Kami pun dengan sukacita kembali memberi hiburan kepada para Slankers “ ujar Abdee Negara.

19.John Paul Ivan.

Bagi gitaris rock John Paul Ivan jatidiri adalah harga mutlak seorang pemusik dalam bermain musik .”Kita bisa mendengarkan referensi atau pengaruh dari pemusik manapun,tapi ketika kita memainkan musiknya karakter dasar kita harus terdengar.Saya sendiri misalnya jika membawakan lagu Led Zeppelin tidak mau memirip-miripkan.Sejak dulu saya dikenal suka melakukan improvisasi dalam main musik” papar pemilik nama lengkap Johannes Paul Ivan yang dilahirkan di Surabaya 3 Januari 1971.

Ivan  belajar gitar pada  usia  15 tahun di sekolah musik JVC Surabaya.”Guru saya adalah Priyatna,dia juga memiliki band”. Awalnya, yang dipelajari adalah gitar klasik. Setengah tahun kemudian, Ivan memutuskan untuk memperdalam gitar elektrik. ”Band yang saya sukai pertama kali adalah Kiss. Saya mengenalnya dari Lucky, gitaris Power Metal yang kebetulan teman satu kelas,” ujar Ivan yang selalu menggunakan gitar Les Paul .

Gitar pertama John Paul Ivan bermerk Yamaha yang dibeli dengan harga Rp. 100.000. Sejak saat itulah John Paul Ivan terus bermain gitar dan berniat  menjadi seorang gitaris rock.

Ivan sangat mengagumi Jimi Hendrix,gitaris yang sangat mempengaruhi permainan gitarnya. ”Saya suka lagu Purple Haze,” ujar Ivan. Namun pada saat  memainkan  lagu-lagu Jimi Hendrix , Ivan  justeru tak pernah meniru persis teknik permainan Jimi.  “Spiritnya  yang aku ambil dan mainkan.” Imbuhnya.
Selain Jimi Hendrix, Ivan menyebut Joe Satrian sebagai idolanya.” Sebagai pengagum, saya sangat menyukai lagu-lagu Joe Satriani. Tapi, jarang sekali memainkan lagu-lagu Joe.Saya hanya  terpengaruh  nuansa lagunya saja “ ujar John Paul Ivan.

John Paul Ivan pun sangat mendukung adanya Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia.”Ini adalah gerakan yang sepatutnya harus kita dukung terutama karena didalamnya terkandung semangat melestarikan musik dengan menggunakan gitar sebagai ikon” ujar John Paul Ivan .

20.Baim

Sejak kecil Baim telah dikelilingi oleh suasana bermusik.Alat-alat musik bertebaran di rumahnya.Ayah Baim bernama Imron adalah gitaris  sohor sejak era 60-an hingga 70-an lewat berbagai band mulai dari Deselina hingga The Steps.Baim yang bernama lengkap Ibrahim Imron ini mulai tertarik bermain gitar pada saat duduk dibangku kelas 3 SD.Saat itu Imron sang ayah telah mewanti wanti pada Baim :”Kalo main gitar,harus bisa nyanyi juga”. Pesan sang ayah ternyata mengendap dibenak Baim.Baim kecil pun melihat bagaimana George Harrison,John Lennon dan  Paul McCartney dari The Beatles menyanyi sambil memainkan gitar termasuk pula Jimi Hendrix.

Lalu apa komentar Baim tentang Gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia ?  “Wah saya sangat setuju sekali.Pemberian gitar terasa lebih efektif dibandingkan dengan memberikan sejumlah uang santunan.Karena dengan adanya gitar,anak-anak yang terlantar dan kurang mampu secara ekonomi itu bisa menggali bakatnya dalam bermain musik “ tukas Baim yang kini tergabung dalam The Dance Company bersama Pongki Barata,Nugie dan Ariyo Wahab.

Bermain band telah dirintisnya sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1992.Di tahun 1993 lelaki kelahiran Hongkong 31 Mei 1975 tergabung dalam kelompok B To 90’s yang menjadi home band radio Prambors Jakarta.

Di tahun 1994 Baim (gitar,vokal) bersama Krisna Balagita (keyboard) ,Dhika (bass) dan Eel (drum)  membentuk ADA Band dan merilis sebanyak 3 album “ Seharusnya” (1997),” PerADAban” (1999) dan “Tiara” (2001) .

Tahun 2001 Baim mundur dari ADA Band untuk bersolo karir .Tahun 2009 Baim ikut bergabung dengan The Dance Company.

Selain disibukkan dengan The Dance Company, Baim juga menggarap proyek  music Chaotic Gemini yang juga menampilkan kolaborasi dengan ayah tercinta Imron.”Saya juga kini tengah menangani penggarapan album kelompok baru dengan nama Jabal Rootz” jelas Baim.

Dalam liner notesnya Rod Stewart menuliskan betapa dia sudah lama mengidam-idamkan untuk merekam kembali lagu lagu soul era 60-an hingga 70-an yang pernah menjadi music favoritnya saat bermukim di London Utara.Rod bertutur saat itu dengan radio transistor dia mendengarkan lagu-lagu era Motown itu melalui pirate radio seperti Radio Caroline dan Radio Luxembourg yang menyiarkan music dari pemancar radio yang berada di atas kapal dan berlabuh di lepas pantai.Rod berkata,saat itu dia seperti ingin menempelkan radio transistornya ke kupingnya.
Dan terbukti saat merilis album “Soulbook” ini Rod Stewart tersimak sangat khatam menyanyikan lagu bernafas soul tersebut.Simak lewat “My Cherrie Amour” nya Stevie Wonder yang riang.Di lagu ini Stevie Wonder bahkan menyusupkan tiupan harmonica kromatiknya yang khas dan melegenda itu . Rod Stewart pun menyanyikan lagu “You Make Me Feel Brand New” yang dulu sempat popular dengan dominasi aura falsetto oleh The Stylistics.Enam dari tracklist album ini yang berjumlah 13 lagu itu berasal dari era Motown Record,perusahaan rekaman kulit hitam yang berada di Detroit Michigan milik Berry Gordy Jr yang mencuat dengan segudang hits di seantero jagad.Lagu lagu andalan Motown seperti “Tracks of My Tears”,”Just My Imagination” ,”What Becomes of Broken Haerted” hingga “If You Don’t Know Me By Now” berkumandang melalui suara serak Rod Stewart.
Stewart juga mendaur ulang hits legendaris Sam Cooke “Wonderful World”,meski terasa tak seekspresif Cooke,tapi Stewart mampu menyelaraskannya dalam bentuk vocal yang tak terlalu dipaksakan.Bersama Jennifer Hudson,Stewart pun berduet menyanyikan “Let It Be Me” yang dipopulerkan Chuck Jackson dan Maxine Brown,sebelum kemudian lebih mencuat ketika dibawakan The Everly Brothers dalam bingkai pop yang catchy.
Setelah era kebintangan Rod Stewart lewat pada decade 90-an silam,Rod Stewart dengan jitu dan cerkas membuat sebuah upaya untuk survive di industri musik dengan memoles sederet lagu lagu standar dalam sequel “American Song Book” lalu berlanjut dengan meremake lagu-lagu pemuncak di era 70-an dalam “The Great Rock Classic Of Our Time” dan kini menghadirkan “Soulbook” yang secara bersamaan pula penyanyi kulit hitam Seal juga melakukan hal serupa yaitu menafsir ulang lagu-lagu soul legendaris.

It’s A Supreme Jazz Work

Posted: April 29, 2011 in Uncategorized

It’s A Supreme Jazz Album ever made.Yes no doubtly. This was a revelation when I first heard it – so contemplative, really a genre of its own.”A Love Supreme” was the masterpiece of superior jazz saxophonist John Coltrane. In my thoughts A Love Supreme remains a cultural icon: a life-changing work of art that resounds on all spiritual levels. A four-part suite about faith and redemption, it is more than a statement of piety, more even than the beautiful music contained within. A Love Supreme inspired and defined a generation, who responded to Trane’s message of universal peace and love; but you don’t have to be part of the former hippie revolution or even know anything about religion to feel the power of the music. Only the most sullen athiest would not be moved by A Love Supreme, and no musician can deny this is one of the most formidable jazz quartets of all time: holding court with Trane is his student piano virtuoso McCoy Tyner, and the rocket-fueled rhythm section of bassist Jimmy Garrison and drummer Elvin Jones. It is said that before making this particular album, John Coltrane was spoken to by God; and after hearing A Love Supreme that rumour is not hard to believe at all.
John Coltrane is a clever band leader, giving the album it’s own groove.
By peeking into the liner notes, you’ll notice that the album was based on Coltrane’s life-changing religious experience he had in 1957. As being slightly agnostic yet born into a Christian family, I’d like to thank god for inspiring Mr. Coltrane making this wonderful masterpiece.A Love Supreme was the turning point recording for John Coltrane
The album is short, clocking at 32 minutes, but it’s perfect that way. The album goes fast with these 7-minute parts, and that’s a good thing.
Many listeners find this the first truly unlistenable John Coltrane album– too much for its own good, but it certainly leaves its mark.
This album was Recorded at Van Gelder Studios, Englewood Cliffs, New Jersey and The Festival Mondial Du Jazz Antibes, Juan-Les-Pins, France between December 1964 and July 1965.
The piece, as indicated by the liner notes Coltrane penned, is spiritually informed, a prayer offered to God. The music itself is based on relatively traditional structures, but Coltrane manages to juggle a number of influences and sounds– shades of Thelonious Monk, Miles Davis, Ornette Coleman and Albert Ayler all run through it. The suite is broken in four movements– “Acknowledgement” is patient and building, revolving around a four-note bass motif– Trane is exploratory and yearning. After a brief bass solo, this moves into the frantic “Resolution”, where Coltrane rails against his theme, turns things over to a oddly meditative yet equally frantic Tyner, and then solos himself in Monkish fashion– extrapolating off his theme and exploring the sort of spiritual ecstacy that he heard in Ayler. A brief drum solo signals the transition to “Pursuance”— Jones is full of energy and explosiveness and this sustains throughout the piece, Coltrane’s extended solo is nothing short of stunning, full of fire and energy before suddenly taming down and surrendering to Jones briefly then an astonishing solo by Garrison. Finally, the long exhale after the tension– “Psalm”, finds Coltrane meditative, almost wistful, and informed with a sense of optimistic melancholy.

Tracklist
1. Acknowledgement Part 1
2. Resolution Part 2
3. Pursuance Part 3
4. Psalm Part 4

Tika,Bidadari Tanpa Kepala

Posted: April 29, 2011 in Uncategorized

Tika selalu menentang arus.Dia selalu menghardik kelaziman.Itu yang saya tahu sejak menyimak album perdananya dulu dengan tajuk Frozen Love Songs yang kemudian bermetamorfosis menjadi “Defrosted Love Song“.Tika bertikas gelap,muram,galau dan meradang. Tika kerap gelisah.
Sosok Tika seolah beroposisi dengan gemerlapnya para diva palsu yang mengumbar glamour dan sensasi imitasi.Tapi saya seperti disergah dengan penampilan Tika yang lebih mempanglimakan suara lirik dan dentam musik.
Tika tak ubahnya ikon yang tergurat disampul albumya “The Headles Songstress”…….bidadari tanpa kepala yang menyandang pengeras suara di tangan kanannya.Takwilnya adalah,sesungguhnya suara lebih penting dari wajah nan berpupur kepalsuan.
Lihatlah bagaimana Tika menempatkan lagu diurutan pertama pada lagu yang sama sekali terbebas dari beat bahkan terlepas dari iringan instrumen musik.Simaklah “Tentang Tirani” sebuah lagu dengan lirik yang nyata provoke dengan pola a capella yang mengingatkan saya pada eksplorasi Laurie Anderson di era silam.Di lagu ini Tika seperti ingin membuktikan bahwa suara atau resonansi mulut adalah instrumen musik tertua di dunia yang dipergunakan manusia.
Eklektika bermusik masih tetap terpancang di album ini.Pertanyaan dungu : apa sih aliran musik Tika ? justeru akan terjawab disaat kuping anda memahami ekspresi musiknya secara arif.Setidaknya disini akan terdengar ragam rentak blues,rock,jazz,march,tango,waltz,klasikal dan entah apalagi.
Begitupula dengan keragaman tema yang ditawarkan dalam lirik Indonesia dan Inggeris.Terdengar sangat provokatif.Tika tak lagi galau atawa gundah tapi dia berani menerjang dan menyergap berbagai isu yang terpampang tiap hari di sudut mata kita.
Ambil contoh lagu “Polpot” dimana Polpot sendiri mungkin merupakan konotasi terhadap sebuah pembantaian tak berperi kemanusiaan.Di lagu yang dikemas dalam tempo tango serta diimbuh tiupan trumpet bernuansa Spanyol,Tika ingin mengungkit perihal pembantaian intelektualitas massal oleh the magic box a.k.a televisi. Sebuah metafora yang cerdas :

Lady drama queen is getting hair and make up
Jerk you off with her tears
And redemption is for sale on channel 9
Heaven on channel 2
Loved into hyper reality

Lalu pandangan stereotipikal masyarakat terhadaphomoseksualitas yang terekam gamblang dalam lagu “Clausmophobia” : hipokrisi.
Tika pun menyindir perihal pola tingkah pseudonomik para selebritis yang dahaga popularitas dalam lagu “Red Red Cabaret” dengan ditingkahi style musik era 1930-an :

Yes,I’m the starring role
You ain’t got nothing on me

Ini masih ditambah lagi dengan lagu bernuansa provokatif “Mayday” yang cenderung ke zona kaum buruh.
Simaklah liriknya yang lugas dan gamblang :

And we are the one who who work their fields
And we are the one who who fight theirwars
And we are the one who who drop their bombs
And we are the one to cut this crap
And we are the one to bring the hell
Labour of the world unite

Tapi Tika tetap pula menyodorkan tema romansa namun dengan pola penulisan lirik yang tak seragam.Idiomnya beda .Simak “Waltz Muram” :

Ku dilanda badai rindu
Oh logika lindungi aku

Album Cover Tika & The Dissidents yang takl lazim

Beri aku amnesia
Ku tak mau ingat dia.

Sebuah kepedihan cinta yang tak dangkal tentunya.
Menyimak album ini,kita seolah bertualang pada megarnya rimba lirik yang ekspresif serta musik yang beratmosfer jelajah,menelusuri sekat genre yang sarat jurang mengangang di kiri kanan.
Ah,siapa bilang pemusik Indonesia kualitasnya menurun ?

Tracklist

1.Tentang Tirani
2.Polpot
3.Venus Envy
4.20 Hours
5.Uh Ah Lelah
6.Red Red Cabaret
7.Ol’ Dirty Bastard
8.Infidel Castratie
9.Waltz Muram
10.Tentang Perang
11.Mayday
12.Clausmophobia

Berita berpulangnya Farid Hardja di harian Kompas 1998

Farid Hardja & Non Block Band

Album Farid Bani Adam rilisan Jackson Records & Tapes

Album Farid Bani Adam 1978

Di  hari minggu  tanggal 27 Desember 1998 sekitar jam 4.20 WIB,Farid Hardja,pemusik,penyanyi,komposer dan bintang film yang bertubuh gempal telah menghembuskan nafas terakhirnya di RS Dr.Tjipto Mangunkusumo Jakarta dalam 48 tahun.Usia yang sesungguhnya masih menyimpan riak-riak kreativitas. Namun Tuhan berkehendak lain.Farid pergi untuk selamanya
Farid meninggal karena telah lama mengidap diabetes dan jantung.Ini memang telah terlihat dari postur tubuhnya yang dari tahun ke tahun kian bertambah besar.
Jazad Farid yang dikenal dengan koleksi berbagai ragam kacamata itu dimakamkan minggu siang itu juga di pemakaman umum Taman Bahagaia,Sukabaumi,tanah kelahiran Farid Hardja.
Farid Hardja adalah sosok unik dalam industri musik pop Indonesia. Mungkin, Farid Hardja yang dilahirkan di Sukabumi, Jabar,7 September tahun 1950, adalah sedikit dari insan musik pop yang bertahan dalam tiga dasawarsa tanpa jeda sedikit pun. Popularitasnya tiada pernah pudar. Dari paruh era 70-an hingga akhir era 90-an, Farid tetap eksis dan senantiasa mencetak hits besar.

Jika mengamati sepak terjang penyanyi bartubuh tambun ini dalam kancah industri musik pop, maka terkuaklah elemen yang menunjang masa popularitasnya yang panjang: Farid selalu menyusupkan metamorfosa baik dari sosok maupun format musiknya. Dan, yang paling tepat bahwa Farid senantiasa menyesuaikan diri dengan pergeseran waktu. Dia tak pernah stagnan. Selalu berubah, berubah, dan terus berubah.

Sosok Farid, awalnya dikenal dengan penampilan yang mirip Elton John: berkepala agak botak dan gonta-ganti kacamata, dan pada akhir hidupnya ia berdandan bak saudagar dari daratan Afrika. Lalu mulailah muncul sederet metamorfosis dari genre musik hingga fashion. Sederet hits pun mencuat mulai dari Karmila (1977) hingga Ini Rindu (1991).

Modal utama yang dimiliki Farid adalah karakter vokal yang lentur. Kelenturan timbre vokal inilah yang membuat dia mampu menyeruak di arus tren yang tengah kencang mengalir. Bayangkan, Farid dengan terampil dan cerdik menempatkan atmosfer vokalnya dalam bentuk rock n’roll, rock, pop, reggae, R&B, jazz, gospel, disko, rap, hip-hop, keroncong, hingga dangdut sekalipun. Ini sebuah talenta yang luar biasa. Farid pun dianugerahi bakat musik yang komplit. Bukan hanya menyanyi yang dikuasainya, melainkan ia juga sosok komposer yang mumpuni. Farid mampu menulis melodi bernuansa catchy yang bersanding dengan lirik-lirik yang segar, imajinatif sekaligus komunikatif. Dengan sederet keistimewaan yang dimilikinya itulah, maka mendiang Farid bisa dianggap mampu menaklukkan selera publik.

Farid Hardja memulai karier musiknya di tahun 1966, di saat negeri ini mengalami transisi dari era Orde Lama ke Orde Baru. Saat itu demam British Invasion masih melanda dunia. Di Bandung, Farid Hardja telah bergabung dalam grup De Zieger yang memainkan rock and roll yang antara lain menyanyikan repertoar The Rolling Stones. Tak hanya di Bandung, ia yang saat itu memiliki rambut kribo ala Afro Look, mulai bergabung dengan sejumlah band rock yang bermarkas di Jakarta, seperti Cockpit yang dibentuk Abulhayat (1974) juga bergabung dalam Brotherhood dan Brown Bear di tahun 1975.

Setahun berselang Farid Hardja kembali ke kampung halamannya, Sukabumi, dan membentuk grup Bani Adam yang lebih dominan memainkan warna rock and roll dan sedikit R&B, juga country. Bani Adam lalu menjadi pusat perhatian, apalagi grup berbentuk kuintet ini menggunakan nama yang kurang lazim. Saat itu nyaris semua band menggunakan nama berbahasa Inggris sebagai jatidiri. ”Kenapa memakai nama Bani Adam, karena kita ini semua adalah Bani Adam atau ummatnya Nabi Adam. Sebagai manusia kita harus paham asal usul kita,” itulah yang diungkapkan Farid Hardja suatu ketika.

Di tahun 1977, Jackson Records & Tapes milik Jackson Arief mulai merilis debut album Farid Hardja bersama Bani Adam dengan nama Farid Bani Adam yang melejitkan Karmila. Sayangnya, introduksi lagu ini menjiplak intro lagu Peace of Mind, grup rock Boston. Bahkan kejadian yang sama berulang lagi ketika Farid Bani Adam merilis album kedua bertajuk Specials dengan hits ‘Ikan Laut Pun Menari di Bawah Tanganmu’ yang ternyata memelintir lagu Lyin ‘Eyes’, grup country rock The Eagles.

farid dan Banin Adam (1977)

Untungnya, Farid menyadari kekeliruan tersebut. ”Saya mengakui kesalahan konyol itu dengan menjiplak lagu milik orang. Tapi, saya berjanji tak akan mengulanginya lagi” ungkap Farid. Kejujuran ini memang patut dihargai.

Yang pantas dicatat bahwa dalam setiap albumnya, Farid ternyata tidak pernah menggunakan pemusik yang sama. Formasi Bani Adam pun selalu berubah. Beberapa nama pun silih berganti mendukung Bani Adam, mulai dari Emier Abay,Eddy Manalief, Nurish Iskandar, dan Max Rondonuwu. Bahkan pemusik tenar seperti Elfa Secioria, Jimmie Manoppo, Dodo Zakaria, Billy J Budiardjo, Oetje F Tekol pun ikut mendandani tatanan musik Farid Bani Adam.

Dalam catatan, Farid telah berduet dengan sederet penyanyi tenar dan berkarakter kuat semisal Achmad Albar, Gito Rollies, Euis Darliah, Endang S Taurina termasuk berduet dengan penyanyi dangdut Anis Marsella, Merry Andani, maupun Mario.

Dalam sisi penulisan lirik, Farid memiliki keunggulan. Pertama, selalu menulis lagu bertema cinta, tapi dengan sudut pandang yang melankolik, terkadang malah lebih terasa unsur humor bahkan satir. Simaklah penggalan lirik Karmila :

Kau berulang tahun
Ku tuang minuman ke dalam gelas
Pada saat itu
Ku tahu usia mu baru sebelas
Oh, Karmila.

Kedua, Farid juga cepat menangkap fenomena yang tengah berlangsung di masyarakat pada era tertentu, semisal lagu Bercinta di Udara yang diangkat dari tren penggunaan radio komunikasi antara penduduk (CB Radio) yang marak pada era 80-an.
Papa alpha charlie alpha romeo
Mengajakmu gombal di udara
Memang cinta asyik di mana saja
Walau di angkasa

Ketiga, Farid pun tak jarang menyelusupkan lirik yang berbau protes dan terkadang menyentuh zona politik. Misalnya lagu Jakarta Sayang, Jakarta Malang, Partai Sembako, Runtuhnya Tembok Berlin, dan masih sederet panjang lagi.

Di sela karier musiknya yang padat dan komplit, Farid di masa hidupnya pun pernah memperlihatkan kemampuan akting di beberapa film layar lebar, mulai dari Tante Sundari (1977), Bandit Pungli (1977), Sayang Sayangku Sayang (1978), dan Ini Rindu (1991). Dua judul film terakhir lebih tepat disebut sebagai film otobiogrofi Farid Hardja.

Farid, sang penghibur itu memang telah berlalu. Tetapi karya-karyanya masih bergaung hingga kini.

Engkau sahabatku, penghibur isi dunia
Engkau sahabatku, yang selalu menghibur mereka

Itu adalah chorus lagu “1,2,3” ,lagu karya Farid Hardja yang disenandungkannya bersama Achmad Albar di tahun 1984, yang masih terngiang ngiang di kuping saya.

Diskografi
1.Karmila – Farid Bani Adam (Jackson Records,1977)
2.Special Edition – Farid Bani Adam (Jackson Records,1977)
3.New Bani Adam – Farid Bani Adam (Musica Studios 1978)
4.Tinggal Bersama (Original Soundtrack) – Farid Bani Adam (Musica Studios 1978)
5.Pohon Cinta – Farid Bani Adam (Nusantara Records,1979)
6.Asmara – Farid Bani Adam (Virgo Ramayana Record,1979)
7.Tangis dalam Senyum – Farid Bani Adam (Virgo Ramayana Record,1980)
8.Majalah Femina – Farid Bani Adam (Virgo Ramayana Record,1980)
9.10 Lagu Terbaik Farid Bani Adam – Farid Bani Adam (Jackson Records,1981)
10.Terbuka Tirai Jendela Cintaku – Farid Bani Adam (Jackson Records,1982)
11.Bercinta di Udara – Farid Hardja (RCA,1983)
12.Jakarta Sayang, Jakarta Malang – Farid Hardja (WAA/Purnama Record,1983)
13.Tragedi/Korban Marihuana – Farid Hardja (RCA 1984)
14.1,2,3/Tangan Baja – Farid Hardja & Achmad Albar (Varia Nada Utama,1984)
15.Di,di..hi,di.Da,da, da,ha – Farid Hardja & Non Block.(1984)
15.17 Tahun ke Atas – Farid Hardja (RCA,1985)
16.Superstar Jagorawi – Farid Hardja (RCA,1985)
17.La Fender – Farid Hardja (Sokha ,1986)
18.Irama Sofy Sofy – Farid Hardja (Sokha,1986)
19.Sop Dihidangkan – Farid Hardja & Gito Rollies (Sokha,1986)
20.Jangan Menangis – Farid Hardja (RCA,1986)
21.Kacamata Memburu Cintrak – Farid Hardja (RCA,1987)
22.Timur Tengah – Farid Hardja (RCA,1987)
23.Kacamata/Rockn’roll ’87 – Farid Hardja (RCA,1987)
24.Asmara Ilala – Farid Hardja & Euis Darliah (Blackboard,1988)
25.S.O.S – Farid Hardja (Metrotama,1990)
26.Demam Disco – Farid Hardja (Art Record/Union Artist 1990)
27.Ini Rindu – Farid Hardja & Lucky Resha (Metrotama 1991)
28.Romantika D’Amour – Farid Hardja & Lucky Resha (Metrotma,1992)
29.Selamat Datang Asmara – Farid Hardja & Endang S.Taurina (Metrotama,1993)
30.Nonstop Mega Discomix – Farid Hardja (Blackboard,1994)
31.Ayam – Trio FAM (Farid Hardja,Anis Marsella,Merry Andani) (Metrotama,1994)
32.Cinta Damai – Farid Hardja (MSC Record,1996)
33.Varia Bengawan Solo – Farid Hardja (Gema Nada Pertiwi,1996)
34.Opera Anoman – Farid Hardja (PT Aquarius Musikindo,1997)
35.It’s Now or Never – Farid Hardja (Life Records,1997)
36.Musik Masak – Farid Hardja (Elang Mustika,1998)
37.Partai Sembako – Farid Hardja (Calista 2000,1999)
38.Cut Cut Cut – Farid Hardja & Barbie (Calista 2000,1999)
39.Obat Cinta – Farid Hardja (Calista 2000,1999)
40.Very Best Of Farid Hardja – Farid Hardja (Gema Nada Pertiwi,2004)

A lot of people are raving about this CD. For me, this usually entails me being severely disappointed and wondering what planet everyone else is on! However, on this occasion the brouhaha is very, very solidly founded. This gorgeous new talent, along with producers Bluey, and contributors Incognito, Matt Cooper, Ski Oakenful and the delightful Omar, Dira explodes spectacularly onto the scene with a truly magnificent voice, a blisteringly hot album and so deserves all the credit, recognition and support of soul enthusiasts all over the world. Our American cousins may will only be interested in appealing to pre-pubescent teens, those who fancy themselves as the local thug of neighbourhood player. This, dear folks is SOUL MUSIC. It’s the real mckoy, what we love and what we all need right now.

Not one track will disappoint, and fans of mid-late ’70s real soul will immediately latch onto the beautiful, string-laden opening song, “Inside Love”. This song alone won my heart immediately and should all other 9 songs be a waste of time this song would still claim this album as essential. It really is that strong. Miss this at your real peril.

“Time Out Of Time” is simply…sublime. It’s a dream record in every sense of the world. It’s so 1981 / 1982 yet smack bang in a quality 2010 groove…records like this are amazing when they do surface, and that’s not all too often. Bluey and the gang deserve an award for crafting such a wonderful song, indeed, album!!! For those who yearn for the blistering heat of summer…check out Dira’s duet with Omar, “Let’s Go Back”.

Dira Sugandi's First Album

My word, this is smashing!!! As our man Richard Searling would say…soul…and then some!!! The haunting synth takes us back to the heady jazz-fusion days of Roy Ayers or the Mizell Brothers. God! What a tuuuuune!!! If you’re hankering after a brassy groove then the midtempo monster, “Get Through To You” will do nothing but put a spring in your step. The warm keys are straight back to Lonnie Liston Smith’s sublime Columbia years in the late ’70s. Can I take much more excellence?!

Thankfully, the answer is yes. The orchestral piece, “Essentially Yours” would not be out of place on something as classy as Nancy Wilson’s “Nancy Now” or “Love, Nancy”. An exceptional vocalist, Dira is both smooth as silk and very sexy to boot. Her performance on this song is better than anything you will hear churned out over in the States. For those who like a housier, club-orientated sound I would immediately head to “Bring It On”. The rhythm pumps, the groove insistent and the strings and horns courtesy of Incognito add a classic late ’70s disco feel. The likes of Louie Vega or Josh Milan would really appreciate this soulful house flavour. Carrying on the diverse nature of this set we have a gorgeous Latin feel a la Adriana Evans style with “Won’t You Come With Me” – this is a delicious song with warm fender Rhodes keyboards, flute and more than a hint of summer warmth. How I yearn for those days. To close the set on an upbeat note is the superb dancer “No More Tears”, another disco-fied housey number that makes my heart sing! I cannot thank everyone associated with this album enough.

Sekarang ini banyak orang yang hanya mengetahui kiprah George Benson sebagai penyanyi dibanding sebagai gitaris jazz mumpuni (Jangan lupa Benson pun pernah ikut bergabung dengan Miles Davis lho ! dengan kontribusi permainan gitar yang luar biasa dahsyat).Dosa George Benson itu bermula ketika dia menyanyikan “This Masquarade” karya Leon Russell pada album “Breezin” di tahun 1976 yang ternyata memberinya Grammy Award.
Mungkin tergerak karena sukses tampil sebagai vokalis.Benson pun kembali bernyanyi di album berikutnya “In Flight” yang dirilis tahun 1977. Sadar suaranya yang marketable, Georg Benson bahkan menyanyikan 4 lagu dari 6 komposisi yang terdapat di albumnya ini.Luar biasa.
Untunglag suara Benson memang terdengar silky dan soulful.Pada nada nada tinggi misalnya George Benson bahkan mengingatkan kita pada ekspresi vokal ala Stevie Wonder yang meliuk liuk dengan melisma yang soulfully.Gelinjang suara tenor Benson mampu mengakrabi kuping pendengar yang tidak ramah dengan dengung jazz sekalipun.
Simaklah lagu “Nature Boy” yang pernah dipopulerkan Nat King Cole.Juga simak “The World Is A Ghetto” termasuk menyimak gaya soul yang dilumuri orkestra ala Isaac Hayes pada “Gonna Love You More” .
Tapi jangn pula mengabaikan kemampuan Benson dalam menelusuri dawai gitar lewat interpretasi gitar instrumental atas lagu almarhum Donny Hathawy bertajuk  “Valdez In The Country“.
Kontribusi arransemen orkestral Claus Orgeman kian mempercantik tata musik lagu-lagu dalam album George Benson ini.
Jadi kalau ingin menelisik sebab musabab atau asal muasal George Benson tampil prima sebagai penyanyi pop dengan hits seperti “Nothing Gonna Change My Love For You” kelak ,maka sebetulnya album inilah yang menjadi penyebab utamanya.

Tracklist
1. Nature Boy 5:58
2 The Wind and I 5:04
3 The World Is a Ghetto 9:41

Piringan Hitam "In Flight" George Benson (1977)

4 Gonna Love You More 4:37
5 Valdez in the Country 4:29
6 Everything Must Change 8:07