Musik dan Politik,Saling Usikkah ?

Posted: April 16, 2011 in Opini, Wawasan

Rhoma Irama
John Lennon
Bob Dylan
Lagu “Dont Stop” Fleetwood Mac dipakai kampanye Bill Clinton

Dont stop, thinking about tomorrow,
Dont stop, itll soon be here,
Itll be, better than before,
Yesterdays gone, yesterdays gone.

Why not think about times to come,
And not about the things that youve done,
If your life was bad to you,
Just think what tomorrow will do.

 

Itulah lirik lagu “Don’t Stop” yang dibawakan kelompok asal Inggeris Fleetwood Mac dalam album “Rumours” (1977).Ditulis oleh Christine McVie ,vokalis dan pemain keyboard Fleetwood Mac tentang perceraiannya dengan sang suami John McVie,pemain bass Fleetwood Mac setelah 8 tahun berumah tangga.Tapi siapa nyana lagu yang bermuatan personal ini 15 tahun kemudian menjadi inspirasi Bill Clinton dalam kampanye pencalonan diri sebagai Presiden Amerika Serikat  di tahun 1992.

Clinton dalam salah satu pidaoto kampanyenya memungkas dengan kalimat : “”Keep putting people first. Keep building those bridges. And don’t stop  thinking about tomorrow!”.

 

Lalu lagu “Don’t Stop” pun mengalun lewat pengeras suara.

Ini hanya sedikit illustrasi tentang betapa musik tak hanya menjadi sebuah soundtrack  belaka,tapi menjadi sebuah inspirasi bagi sebuah adegan politik.

Bahwa sebetulnya musik sudah dianggap sebagai sebuah kekuatan  dalam membentuk opini politik,bahkan menggalang kekuatan politik.

Jemaah penonton konser musik yang tumpah ruah ,juga merupakan sebuah inspirasi bagi para politisi untuk menggalang massa.Para frontman musik : penyanyi memang terlihat bagai pemimpin informal yang menakjubkan.Bagaikan sosok messiah yang mampu menggerakan jemaahnya yang jumlahnya alang kepalang itu.

Tak heran jika dalam setiap kampanye,sosok artis atau pemusik pun didekati oleh para politisi.Karena mereka yakin sosok para penghibur merupakan magnet kuat untuk menggalang massa sebanyak-banyaknya.

Di Negara kita itu telah terlihat pada arena kampanye Pemilu di tahun 1971,disaat Orde Baru mulai mengambil tampuk kekuasaan yang berlanjut hingga lebih dari 3 dasawarsa.

Bing Slamet lalu menyanyikan lagu “Pohon Beringin” yang dikemas dalam piringan hitam bertajuk “Souvenir Pemilu 1971”.Pemujaan terhadap Golkar menyeruak dalam lirik lirik pretensius yang dinyanyikan Bing Slamet dengan suara golden voice-nya itu .

Sejak itulah fenomena sederet partai politik meminang sejumlah artis untuk dijajakan di garda depan mulai mencuat.Karena mereka mahfum kalangan selebritas ini memiliki massa kuat.Lewat nyanyian mereka yang mencandu khalayak atau tampilan wajah yang good looking akan menyihir benak khalayak untuk memilih partai partai mereka.

Dan formula semacam ini masih terus dipergunakan hingga detik ini.Bahkan.sekarang,para selebritas tak lagi dipakai sebagai pajangan namun diberi peluang menjadi caleg  walau dengan kapasitas intelektual yang sering dipertanyakan.Ini sebuah simbiose muutlisme yang sarat dengan aroma kekonyolan.

Musik ,pada galibnya ,akhirnya justeru merupakan komoditas yang  luar biasa laris hingga menjadi bagian dari sebuah kegiatan  ekonomi berskala raksasa di seluruh dunia. Patut pula dicatat bahwa  selain berfungsi ekonomis, secara politis musik berfungsi pula sebagai medium  yang jitu untuk menggalang solidaritas komunitas atau kelompok yang mengajak orang untuk bersatu padu menjadi sebuah kesatuan. Jadi semakin yakinlah kita b bahwa sebuah  lagu kebangsaan yang anthemic menjadi media untuk mengingatkan rakyat agar setia terhadap  negara dan bangsanya serta memompa nasionalisme  .

Dalam catatan, musik bahkan  untuk kegiatan kemanusiaan yang  universal seperti yang digagas Bob Geldof,frontman kelompom The Boomtown Rats untuk menggalang dana bagi bencana kelaparan di Ethiopia lewat lagu “Do They Know It’s Christmas ?” dan bertlanjut dengan konser akbar “Live Aid” pada tahun 1985.

Musik memang memiliki sihir lewat notasi lagu serta torehan lirik.

Asumsi ini seperti yang dituliskan oleh sebuah artikel bertajuk ”Why Music ?” yang dimuat The Economist pada edisi 18 Desember 2008 :

Well, that fact—that he, or she, is a teenager—supports one hypothesis about the function of music. Around 40% of the lyrics of popular songs speak of romance, sexual relationships and sexual behaviour. The Shakespearean theory, that music is at least one of the foods of love, has a strong claim to be true. The more mellifluous the singer, the more dexterous the harpist, the more mates he attracts. A second idea that is widely touted is that music binds groups of people together. The resulting solidarity, its supporters suggest, might have helped bands of early humans to thrive at the expense of those that were less musical.

Deretan lirik lagu atau syair merupakan anasir vital dalam struktur komposisi lagu. Tanpa lumuran  lirik, makna musikal sebuah lagu bisa jadi seolah tanpa nyawa.Walupun sebetulnya lewat bunyi-bunyian instrumen musik saja sebetulnya mampu memvisulaissasikan visi sang pencipta lagu.Namun kekuatan lirik justeru lebih dahsyat,lebih menohok karena konteks verbalisme nya itu.Lirik adalah mantra yang mempengaruhi benak siapa saja yang mendengar atau menyimaknya. Penulis lirik yang indah dan bernas bisa disetarakan dengan para  penulis pidato-pidato yang inspiratif. Penyanyi  yang tampil di medium  panggung pertunjukan rasanya memiliki pesona yang  sama dengan para  orator kawakan yang siap menyihir massa.

Sebuah lagu dengan lirik yang memukau baru memilki arti jika disampaikan oleh penyanyi yang tepat.Peran penyanyi atau frontman sama dan sebangun dengan keanggunan dan wibawa seorang pemimpin.Bob Dylan,John Lennon,Johhny Rotten hingga Mick Jagger bisa dideretakn dengn Kennedy,Castro,Mao atau Obama sekalipun.Harry Roesli,Iwan Fals atau Slank pun tak bisa dibedakan lagi dengan Bung Karno,Bung Tomo atau siapa saja.

Idealnya,sosok pemusik atau politikus tetap harus menjalin sebuah komunikasi dengan para penggemar atau penyanjungnya.Obama atau Dylan hanyalah sebuah sosok kosong.Demikian juga Bung Karno atau Rhoma Irama,tanpa adanya para jemaah,tanpa eksistensi dari para pengikutnya yang senantiasa mengelu-elukannya : rakyat.

Politisasi  terhadap musik mungkin lebih berkembang di belahan bumi sana.Bukan disini.Maraknya gerakan protest song di Amerika Serikat misalnya di era 60-an hingga awal 70-an,merupakan sebuah kontribusi mengenai pentingnya musik tak hanya sebagai sebuah medium penghibur belaka.Protest songs ini berkumandang mengcounter isu abolisi,gerakan buruh,gerakan hak zazi manusia,anti War,gerakan feminis,gerakan lingkungan hidup dan entah apa lagi.

Bob Dylan lalu menyanyikan “Blowin’ In The Wind”,John Lennon meneriakkan “Give Peace Us Chance” hingga penyanyi kulit hitam Marvin Gaye mendendangkan “What’s Going On” untuk memprotes keterlibatan Amerika Serikat dalam kancah Perang Vietnam.Di bagian dunia yang lain tercatat nama nama seperti pemusik protes Victor Jara di Chili,Silvio Rodriguez di Kuba,Karel Kyryl di Ceko,Jacek  Kacmarzki di Polandia ataupun Vuyusile Mini di Afrika Selatan yang melantankan protest anti-apartheid.

Di Indonesia,Tonny Koeswoyo sekeluarnya dari penjara Glodok pada tahun 1965 setelah dipenjara karena memainkan musik ngak ngik ngok telah berteriak lantang pada tahun 1967 lewat lagu “To The So Called Guilties :

And you sit in the front of court

The lawyers dosomething for you

They judge the right against the wrong

While you don’t know what happened behind

Bahkan di tengah kejayaan rezim Orde Baru yang cenderung represif,Iwan Fals telah melantangkan “Surat Buat Wakil Rakyat” :

Saudara dipilih bukan dilotre
meski kami tak kenal siapa saudara
kami tak sudi para juara
juara diam, juara he’eh, juara ha ha ha……

Wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
wakil rakyat bukan paduan suara
hanya tahu nyanyian lagu “setuju……”

Lalu dengarlah suara Rhoma Irama ditengah kerumunan jemaahnya,bertutur tentang “Hak Azasi”  :

Janganlah suka memperkosa
Kebebasan warga negara
Karena itu bertentangan
Dengan perikemanusiaan
Kebebasan beragama (itu hak asasi)
Kebebasan berbicara (itu hak asasi
)

Jelas sudah,bahwa pemusik bukanlah boneka pemikat dan bukan magnet penarik ummat.Pemusik adalah seniman yang punya sikap.Sesunguhnya,para pemusik memiliki kontribusi besar untuk menggiring khalayak ke sikap yang benar.Pemusik memiliki kekuatan yang sama dengan para pemimpin atau para politisi.

Salah besar jika seorang pemusik,seorang frontman,justeru membiarkan diri dan karya-karyanya  menjadi bagian dari politisasi oleh para politisi untuk mendukung Pemilu .Ingat musisi bukan politisi.Karena,seyogyanyalah,posisi politik atau sikap politik mereka justeru independen.Tidak berpihak kesana kemari.

Denny Sakrie,pengamat musik

Iklan
Komentar
  1. eDdY s berkata:

    Terima Kasih Infonya sangat Bagus ? Salam Blogging ajah Mas ?

  2. Justin Minder berkata:

    mari satukan perbedaan dengan musik
    piss …V

  3. Cynthia IGK berkata:

    Bravo! Tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan latar belakang sejarah, ini butuh riset yang menguras tenaga dan otak. Tidak percuma saya “follow” Anda!

  4. Riry Silalahi berkata:

    Hai,

    Nama saya Roxanna Silalahi, dipanggil Riry, PR dari Kompas TV.
    Saya ingin minta alamat email untuk saya kirimkan press release mengenai event #K20Special tanggal 28 November 2013 pukul 20.00-22.00, live dari Kompas TV.
    Acara ini adalah kerjasama Kompas TV dengan KPU. Kali ini KPU memilih musik sebagai salah satu media untuk mengajak pemuda/i Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya tahun depan.

    Mohon infonya ya, terima kasih,
    Riry

  5. mulo berkata:

    damnn! Kalimat Penutupnya dalem om! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s