Arsip untuk Mei, 2011

Gugun Mengejar Matahari

Posted: Mei 28, 2011 in Sosok

De Gun Project “Hari Ini” (1999)

Jonathan Armstrong a.k.a Jono

Gugun tengah diwawancara sebuah TV swasta

Tulisan ini pernah saya tulis pada 25 Desember 2008.Mungkin ada baiknya saya tampilkan lagi di blog saya ini.Selamat membaca !

Jumat 12 Desember sekitar jam 10.30 saya melangkah masuk ke 12 Blues Bar di bilangan Menteng Jakarta.Langsung menaiki tangga sempit ke lantai 3.Dari undakan tangga telah terdengar sebuah aura blues rock yang meraung diimbuh petikan gitar elektrik yang sedikit distorsif.

Woman,woman don’t cast your spell on me

Laydown,laydown

Never get enough for me !

Terrnyata itulah vokal Gugun yang tengah menyenandungkan lagu “Woman” yang diambil dari album keduanya “Turn It On” (Sinjitos 2007).

Nyaris selama 2 jam Gugun memuaskan dahaga penggemar blues dan rock.Gugun memainkan pula “Must Be Love” nya James Gang, grup Amerika yang dimotori Joe Walsh di era 70-an.Termasuk “Woman Across The River” nya Freddie King,”Too Tired” nya Albert Collins serta kembali dengan Jimi Hendrix dari “Hey Joe” hingga “Freedom”.

You got my heart
Speak electric water
You got my soul
Screamin and howlin
You know you hook my girlfriend
You know the drug¨store man
But I dont need it now
I was trying to slap it out of her head

Freedom, so I can give
Freedom, yeah
Freedom, thats what I need

Di panggung BB’s Cafe ini Gugun ditemani Jonathan  Armstrong,pria Inggris asal Scarborough yang sudah setahun menyandang bass.Jon tadinya adalah penggemar Gugun,yang saat itu kerap main di Eastern Promise Kemang.Jon yang beristerikan wanita berdarah Aceh ini lalu menawarkan diri jadi pemain bass Gugun & The Bluesbug.”Dia suka Jimi Hendrix.Sama dengan saya.Jon itu guru bahasa Inggeris.Tapi dia tuh sangat musikal” jelas Gugun yang bernama lengkap Mohammad Gunawan ini.Jon kini menggnati namanya menjadi Jono.Yang bermain drum bernama Wibowo tapi kerap dipanggil Bowie.Terus ada additional pada keyboads.”Pada prinsipmya saya memang menyukai format trio,seperti Jimi Hendrix” tukas Gugun.Jimi Hendrix memiliki 2 band trio yaitu Jimi Hendrix & The Expereince bersama 2 pemusik kulit putih Noel Redding (bass) dan Mitch Mitchell )drum) serta Band Of Gypsies yang ditemani 2 pemusik kulit hitam Billy Cox (bass) dan Buddy Miles (drums).”Tahun ini 2 drummer Jimi Hendrix meninggal dunia lho.Jadi yang tersisa tinggal seorang yaitu Billy Cox.” tambah Gugun yang juga menggemari follower Hendrix yaitu almarhum Stevie Ray Vaughan.

Saya mengenal Gugun saat masih bekerja di radio M97FM the Classic Rock Stations.Lelaki gondrong berkulit agak gelap ini menyita perhatian saya saat itu.Kenapa ? Karena dia begitu menghayati aura permainan gitar ala Jimi Hendrix hingga Stevie Ray Vaughan.Bersama trio De Gun-nya akahirnya Gugun tampil dalam acara berkala radio M97FM yang berlangsung di Waroeng Kemang Jakarta.Seperti yang saya duga, sebagian besar penonton yang juga penyimak loyal radio M97FM kepincut dengan gaya bergitar Gugun yang ke Hendrix-Hendrixan itu.

Kenapa tertarik blues ? Gugun terdiam. Dia seperti berputar putar tengah mencari jawaban yang tepat.”Awalnya sih suka rock.Tapi ternyata blues adalah cikal bakal banyak aliran musik terutama rock.Dan ternyata blues memang cocok dengan jiwa saya” ujarnya terkekeh.

Gitar sudah digenggamnya sejak duduk di bangku SD.”Kami sekeluarga memang penggemar musik” ungkap Gugun,anak bungsu 6 bersaudara yang dilahirkan 22 November 1975.

Ayah Gugun,Achmad Atam,bekerja di perusahaan minyak Caltex yang ada di Riau.Saat di bangku SD kelas IV,Gugun pun menoreh prestasi bermusik.

“Saya berhasil menjadi Juara kedua dalam sebuah Festival Gitar di Riau” katanya sambil menyungging senyum.Disisi lain,Gugun pun mengasah kemampuan sebagai seorang penyanyi.”Saya masih ingat,di tahun 1986 menjadi juara Festival Lagu Melayu di Bengkalis” ungkap Gugun.Gugun sendiri menyelesaikan kuliahnya di di Akadem Bahasa Asing di Cikini pada tahun 1997.

“Saat itu pas krismon lagi.Tapi saya sudah membulatkan tekad hanya ingin bermain musik” akunya. Akhirnya dirilislah album perdana Gugun dengan memakai nama De Gun Project pada tahun 1999,pas setahun setelah kerusuhan yang melanda negeri ini.Di album bertajuk “Hari Ini” (Wave Studio 1999)  ini,Gugun juga menyertakan pemain tamu yaitu bassist jazz Yance Manusama . Penempatan Yance Manusama pada beberapa lagu memang mau tak mau mengingatkan kita pada aura Billy Cox,bassist Jimi Hendrix dalam formasi Band of Giypsies bersama Buddy Miles.
Yance Manusama yang kental gaya funk-nya terus membayangi petualangan gitar elektrik Gugun.Pada sampul albumnya Gugun memasang potret sang idola,siapa lagi kalau bukan tuan Jimi Hendrix.

Dan terbukti hingga kini Gugun yang telah menghasilkan 3 album masing-masing “Hari Ini” (1999)bersama De-Gun Project dan 2 album solo yaitu “Get The Bug” (2004) dan “Turn It On” (2007),tetap menekuni dunia musik.

Bahkan musik pula,dalam hal ini blues,yang membawa Gugun bermain di mancanegara.Di hadapan penonton internasional.Sudah pasti ini sebuah terobosan.Sebuah prestasi yang mewakili Indonesia.

Di bulan Januari 2009 ini misalnya,Gugun & The Bluesbug telah siap bermain di Inggeris.selama 3 pekan Gugun bersama trionya pada tanggal 25 Januari 2009 akan tampil sebagai headliner dalam acara blues bertajuk “Skegness Rock & Blues Festival 2009“.”Mungkin Gugun adalah satu satunya performer dari Asia Tenggara bahkan Asia” imbuh Tagor Siagian,manajer Gugun & The Bluesbug.

Peserta Festival tahunan ini berjumlah 30 artis blues yang berasalmdari Eropah dan Amerika Serikat.Pemunculan Gugun ditengah-tengah mereka meruapakan kebanggaan tersendiri.Bukan hanya kebanggaan Gugun semata,tapi khalayak negeri ini ,Indonesia.Selain tampil di Skegness,Gugun dijadwalkan tampil dalam 20 pertunjukan yang berlangsung di London,Birmingham,Manchester dan Nottingham.

Ini bukan lawatan dunia pertama bagi Gugun,karena pada Desember  2007 silam selama nyaris sebulan Gugun ternyata telah pula bermain di Inggeris Raya.”Saya main di Scarborouh,kota kelahiran Jon Armstrong.Juga main di Burnly dekat Manchester serta di Crewe.Penampilan Gugun saat itu  didukung oleh Jon Armstrong (bass),Tom Townshend (drums) dan Al Lawrence (harmonika).

Jimi Hendrix,idola Gugun pun,mengawali karir musiknya yang gilang gemilang justeru bukan di negara asalnya Amerika Serikat,melainkan di Inggeris.Saat itu Chas Chandler,pemain bass The Animals melihat bakat  luarbiasa Hendrix ketika manggung di sebuah klub di New York.Chandler lalu memboyong Hendrix ke London,Inggeris

Seperti halnya Jimi Hendrix ternyata penampilan pertama Gugun  di Inggeris itu mendapat respon bagus.Setidaknya,banyak yang mulai memperbincangkan prestasi musikal Gugun di dunia maya.Gugun lalu diundang untuk tampil dalam “Belfast Big River Blues and Jazz Ferstival ” yang berlangsung di Belfast,Irlandia pada Agstus 2008 lalu.

Lalu muncul tawaran dari Peter Barton,bassist dari kelompok legendaris The Animals.Barton sendiri sudah tak asing dengan Indonesia.Pada tahun 1997 The Animals pernah manggung di Ambhara Hotel dan Classic Rock Stage Jakarta.”Peter Barton ini juga adalah agen dalam penyelenggaraan Skeggnes Rock and Blues Festival.Dia tertarik dan mengundang kami main pada tahun 2009 ini” jelas Gugun.

Hmm…..kok banyak terjadi kebetulan ya ? antara Jimi Hendrix dan Gugun,penggemar berat Jimi Hendrix Hendrix .

Namun yang jelas,diam diam Gugun memang telah menimbun banyak pengalaman ngeblues di luar Indonesia.

Gugun pun sebetulnya pernah juga menggelar konser bluesnya  di Kuala Lumpur, Malaysia, Maret 2008, serta Cheranting di Pahang. Gugun juga tampil dalam sebuah  Blues Festival dalam rangka ”Singapore Art Festival 2008”.

Gugun memang tengah mengejar harapan,seperti lirik yang disenandungkannya dalam soundtrack film “Laskar Pelangi” besutan Riri Riza :

jejak kecil
lari mengejar
matahari
keringatnya membasuh pedih
raut wajah
beri kisah
derai tawa
saat itu tak kan terlupa
hingga kini tetap bakar jiwaku

kau berlari
mengejar
harapan
harapan hingga ku di sini

Gugun di 12 Blues Bar Menteng pada Desember 2008

Iklan

Album Echoes Anggun rilisan April Earth

Anggun yang kerap menjadi contoh persemaian terminologi go international khazanah musik Indonesia muncul lagi.Lewat album bertajuk “Echoes” Anggun yang hidup di dua kutub budaya,Timur dan Barat,tetap memempelaikan eklektika bermusik dengan tetap mengerudunginya dengan aura pop mudah dicerna siapa saja.Ini terwakili lewat lagu “Hanyalah Cinta” yang sepintas merau perangai musik Celtic yang terbukti universal,antara lain bersimbiose dengan music beratmosfer Indonesia tentunya.Lagu ini juga dibawakan dalam lirik Inggeris “Only Love”.Dalam versi Perancis yang diberi judul “Mon Meilleur Amour” hanya dirilis melalui iTunes .Tampaknya lagu ini juga yang mampu menyeruakkan nama Anggun lagi ,baik di Indonesia maupun di Eropa (saya tidak yakin lagu ini mampu menaklukkan kuping Amerika).

Anggun ingin menggetarkan kembali pesona instrument akustik yang natural dan lebih bersahabat.Dalam track 5 Impossible misalnya,Anggun mengedepankan petikan gitar nylon akustik nan menggelitik berimbuh string yang aksentuatif disela-sela desah nafasnya.

Saya jadi teringat Peter Gabriel ketika Anggun hanya mengizinkan piano untuk membayangi vokalnya yang berkarakter kuat itu dalam lagu Silent Vow.Agak mistis tapi melenakan.

Duet antara Anggun dan Schiller pemusik asal Jerman dalam lagu bertajuk “Always You” betul-betul menggiring penyimak album ini ke atmosfer tanpa gravitasi.Melenakan  .

Tapi toh Anggun tak hanya bergemulai dalam lagu-lagu berkonotasi ballad.Dia pun bisa tersimak garang saat melantunkan Cold War yang bersepuh aura rock.Simak liriknya :

Cause it’s a cold war

Between what’s wrong and right

What’s in my head

What’s in my heart

Dengan deretan kata yang sederhana,Anggun tetap mampu mendeskripsikan representasi rasa dalam frasa liriknya.Ambil contoh lagu bertajuk “Weapons” ini :

Before you even know 

It’s not an accident 

I am certain 

It’s what happens when girls decide 

To use our weapons 

Use our weapons 

Lirik-lirik yang termaktub di album ini memperlihatkan visi Anggun yang cukup luas.Simak saja “Buy Me Happiness”,”Weapons”,”Impossible”,”Cold War” hingga “Year of The Snake” yang terasa hirau pada tematik.Anggun juga cerdik dalam memilih idiom sebagai bagian dari metafora yang ditaburnya pada judul dan lirik. Hal yang belakangan ini kerap dihindari oleh para penulis lagu-lagu pop mainstream di negeri ini.Teladan yang diperlihatkan Anggun ini layaklah untuk   diikuti.

Seperti album-album internasionalnya terdahulu,Anggun adalah sosok yang tetap mempertahankan jatidiri lokal tanpa harus menyisihkan aura musik internasional yang mendekapnya.Ibarat seorang chef,Anggun mampu menberikan citarasa yang imbang antara dua kecenderungan yang berbeda dalam takaran yang pas dan tepat.

Anggun di studio rekaman

Tracklist

 

1. Buy Me Happiness
2. Hanyalah Cinta
3. Weapons
4. Yang Terlarang
5. Impossible
6. Eternal
7. Rollercoaster
8. My Addiction
9. A Stranger
10. Cold War
11. Year of the Snake
12. Silent Vow
13. Berkilaulah
14. Only Love
15. Count On Me
16. Sorry
17. Always You (Schiller & Anggun)

 

Root Soul Menguak Akar Soul

Posted: Mei 26, 2011 in Tinjau Album

Root Soul

Dari style font dan disain grafis album ini memang telah menyiratkan bahwa album ini memuat serangkaian lagu-lagu soul yang pernah berkecambah luas di era 70-n.Lihat cover album ini yang menyertakan sketsa pemusik  berkulit hitam yang tengah membetot instrument elektrik bas Fender Jazz yang fenomenal.

Sebuah perpaduan jaman kedigjayaan music era 70-an dengan retrosoul yang kerap disebut nu soul terasa kuat mencengkeram pendengaran kita di album kompilasi yang dirilis sejak tahun 2009 ini dan kini dirilis ulang oleh demajors Indonesia.

Album ini menampilkan kiprah music soul dari sederet pemusik yang bermukim di London Inggeris.Ada Mike Patto yang memiliki reputasi panjang di arena soul elektronik ,begitu juga Leon King ,seorang instrumentalis ganda yang memainkan soul dalam bingkai elektronika.

Kemampuan musikal Leon King bisa kita simak pada komposisi bertajuk “Fuselage” yang energik.

Vanessa yang berasal dari London utara ini memang memiliki ekspresi yang dalam saat member nyawa pada tiap kata yang disenandungkannya.Jika anda penyuka Erykah Badu atau Angie Stone misalnya,maka saya yakin anda pasti akan sudi mencumbu erangan vokalnya yang seksi.Simak saat Vanessa berduet dengan Mike Patto dalam “Spirit of Love” maupun saat bersolo sinden lewat lagu “It’s The Way” yang menggairahkan sukma.

Phil Asher kemudian meramu “Spirit Of Love” dalam versi Soul Boogie mix yang membuat siapa saja yang mendengar seolah ingin turun ke lantai dansa terutama jika menyimak paduan drum,bass line dan perkusinya dalam durasi yang tak tanggung tanggung 12 menit lebih 45 detik.

Feeling Good pun menawarkan suansana party disko era 70-an yang dijejali riuhnya handclapping mengimnbuh cabikan bassline yang repetitif.

Selain itu ada pula Andrea Clarke,sosok yang pasti diakrabi para penyuka music soul yang kerap diramu dengan aroma broken beat.Andrea berasal dari London barat yang eksotik.

Dalam komposisi bertajuk “Override & Fly” terlihat kolaborasi yang apik antara Andrea Clarke dengan Lyric L yang memadukan funk,soul dan hiphop secara paripurna.

Pemusik London ini memadukan ekspresi soul dengan pemusik Jepang seperti cro-magnon dalam Disco Tech Tribe yang berselubung warna-warni eklektikal mulai dari soul,funk hingga jazz sekalipun.

Menyimak ke sembilan track di album Root Soul ini seperti tengah menguak akar soul yang menjalar dalam industri musik dan lantai dansa era 70-an hingga 80-an.Kenapa anda tidak ikut pula dalam petualangan musikal ini ?

Tracklist:

1. Spirit Of Love (Feat. Vanessa Freeman & Mike Patto) (4:35)

2. Sky High (4:55)

3. It’s The Way (Feat. Vanessa Freeman) (6:07)

4. Override & Fly (Feat. Andrea Clarke & Lyric L) (5:39)

5. Moog Rock (7:15)

6. Fuselage (Feat. Leon King) (6:14)

7. Feeling Good (8:43)

8. Disco-Tech Tribe (Feat. cro-magnon) (7:03)

9. On & On (Feat. Shea Soul) (5:48)

10. My Dream Came True (Feat. Leon King)(6:13)

11. Spirit Of Love (Feat. Vanessa Freeman & Mike Patto – Phil Asher’s restless soul Boogie mix) (12:45)

“The Basement Tapes” Bob Dylan with The Band

Album Free Wheelin’ Bob Dylan

Tepat hari ini selasa 24 Mei 2011 Bob Dylan,protest singer ,tapi saya lebih suka menyematkan dia dengan sebutan penyanyi pengecam genap berusia 70 tahun.Usia yang mungkin meragukan setiap orang akan tingkat kekritisan seseorang terhadap lingkung sosial maupun politik .Usia 70 tahun jelas merupakan usia mapan.Usia dimana seorang kakek hanya menjuntai-juntaikan kakinya di kursi malas,membaca headline Koran ditemani lagu-lagu nostalgia yang berpendar ke sudut ruang tamu.Dylan memang telah beranjak tua.Kerutan di leher maupun di sebagian air mukanya menjelaskan semuanya.Lalu apa yang tersisa dari seorang Bob Dylan ?.Apakah Dylan masih gagah perkasa menyanyikan “The Time They Are A Changing”,”Like A Rolling Stones,Blowin’ In The Wind”,”Desolation Row” atau pun “Don’t Think Twice It’s Alright” termasuk juga lagu-lagu penanda zaman seperti “I Want You” maupun “It’s All Over Now,Baby Blue”.

Dylan memang tak pernah berhenti menata notasi dan menggurat lirik.Dylan masih tetap merilis album.Masih tetap manggung.Bulan lalu Dylan bahkan masih tetap manggung di negeri tetangga kita Singapore,bersanding dengan pahlawan R&B masa kini John Legend.Dylan tetap konsisten dan ajeg di dunia musik yang dititinya sejak dasawarsa 60-an yang sarat warna itu.

Di dasawarsa 2000an.disaat dunia dilanda krisis global dalam ekonomi dan politik,Dylan merilis album juga seperti “Love & Theft” (2001),”Modern Times” (2006) hingga “Together Through Life” (2009).Memang sangat tak bijaksana jika membandingkan ketiga album yang masih dipuja kritikus musik itu dengan pencapaian artistic Dylan di era 60-an hingga 70-an.Tapi setidaknya kesan bahwa energi Dylan melemah itu memang tak mencuat.Tak ada bayangan bahwa karya-karyanya mengesankan seseorang yang siap melangkah ke liang lahat.

Prasangka orang akan memudarnya karya Dylan saat merilis album “Oh Mercy”(1989) yang merupakan comeback-nya Dylan ke dunia rekaman toh tetap tak berbuah bukti. Saya masih terkesima dengan deretan lirik yang digores Dylan dalam lagu yang berada di urutan pertama album “Oh Mercy” bertajuk “Political World” :

 

We live in a political world
Wisdom is thrown in jail
It rots in a cell
Is misguided as hell
Leaving no one to pick up a trail.

We live in a political world
Where mercy walks the plank
Life is in mirrors
Death disappears
Up the steps into the nearest bank.

Pemunculan pertama Bob Dylan di tahun 1962 memang seperti merupakan estafet dari charisma Woody Guthrie.penyanyi folk Amerika yang banyak menyirami sekujur pikiran Dylan dengan inspirasi.Usia Dylan yang berdarah Yahudi saat itu 21 tahun.Dylan yang datang dari wilayah Duluth Minnesota ini memang tergila-gila dengan Woody Guthrie yang selama ini dikenal sebagai juru bicara generasi. Dylan tahun itu mengunjungi Woody Guthrie yang tengah terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit,seraya menyanyikan lagu-lagu karyanya sendiri.Tak lama berselang sosok Dylan menjadi terdepan dalam scene musik folk di Greenwich Village New York bahkan kemudian melambung lebih jauh ke tingkat dunia.

Tak berlebihan jika saya menyebut bahwa khazanah musik karya lelaki yang bernama asli Robert Zimmerman ini merupakan soundtrack yang melatari gelegak hiruk pikuk dunia di separuh abad ke 20 mulai dari gonjang ganjing politik dan sosial.Dimana ada peristiwa penting dan genting maka disitu jua lah menyelusup lagu-lagu  karya Bob Dylan,setidaknya pada 5 dasawarsa.

Bob Dylan menguak karir musiknya yang panjang dan tak berkesudahan itu dengan lagu lagu protest yang beratmosfer anthemic di sepanjang era 60-an.Lalu beringsut ke tematik rock psychedelic yang puitik.Berlanjut ke intensitas lirik yang cenderung personal termasuk tentunya lirik lirik yang menakwilkan pesan bernuansa introspektif serta periode religius.

Dylan sendiri mengaku telah menulis sekitar 1000 lagu,bahkan dalam tercatat pula bahwa lagu-lagu karya Dylan telah dinyanyikan sebanyak 32.000 versi.Saya sempat terhenyak ketika di tahun 2005 melihat kelebat adegan film “Gie” besutan Riri Riza yang menyusupkan lagu fenomenal karya Dylan “Like A Rolling Stones” yang dicover oleh Speakers 1st,grup rock asal Bandung.

Di usia 70 tahun,Bob Dylan yang konon pertamakali memperkenalkan psikotropika pada anggota the Beatles masih terlihat sehat walafiat.Kabarnya,di usia ini,Bob Dylan masih mampu melakukan tur yang terdiri atas 150 konser pertunjukan.

Jelang usia 70 tahun ini Bob Dylan untuk pertamakali menggelar konsernya di Beijing Cina.Dylan membuka konsernya itu dengan lagu berkonsep religius “Gonna Change My Way of Thinking” :

You can mislead a man,

You can take ahold of his heart with your eyes.

You can mislead a man,

You can take ahold of his heart with your eyes.

But there’s only one authority,

And that’s the authority on high.

Sebuah kearifan yang dijejalkan Dylan pada tahun 1978 lewat album “Slow Train Coming”.Sebuah album yang menandai pertaubatan Dylan dalam agama Nasrani yang dipeluknya.

Di usia yang ke 70 ini,Bob Dylan telah menapaki pelbagai lini kehidupan dalam era yang beda warna tapi tetap dengan dua wajah dunia yang  sama yang tak pernah berubah : yang baik dan yang buruk.

Bob Dylan tak hanya sesosok pengecam yang kerap menggemerutuk,tapi seorang saksi zaman dan saksi peradaban.

Selamat ulang tahun Bob !

 

 

Single “Penny Lane”/”Strawberry Field Forever

David Mason

Kenal David Mason ? Mungkin anda,bisa jadi,sama sekali tak mengenal nama ini.Tapi jika menyimak lagu “Penny lane” milik the Beatles yang tersohor itu,saya yakin anda pasti mengenal bagian solo piccolo trumpet pada bagian interludenya yang sangat memorable itu.Nah,yang meniup piccollo itu adalah David Mason.

Pengisi solo piccollo trumpet di tahun 1967 itu baru saja meninggal dunia dalam usia 85 tahun.Saat menerima tawaran untuk mengisi interlude lagu The Beatles itu 44 tahun yang lalu David Mason menjabat sebagai principal trumpet dalam The Royal Philharmonic Orchestra dan The New Philharmonia.Paul McCartney tertarik meminta Mason untuk mengisi  track  the Beatles itu setelah melihat penampilan David Mason bersama The New Philharmonia yang disiarkan secara live    di layar televisi.

Selanjutnya suara trumpet piccollo David Mason bertaburan pada dua album fenomenal The Beatles yaitu “Sgt Pepper’s Lonely Hearts Club Band” dan “Magical Mystery Tour”.Solo trumpet David Mason bisa anda simak terutama pada lagu “A Day In A Life”,”Magical Mystery Tour”,”All You Need Is Love”  hingga “It’s All Too Much”.

Selama hidupnya,David Mason selama kurun waktu 30 tahun mendedikasikan ilmunya sebagai profesor trumpet pada The Royal College of Music

Karimata 1986 Aminoto Kosin,Uce Haryono,Candra Darusman,Erwin Gutawa dan Denny TR

Gusti Udwin Haryono Hudioro (foto Djajusman Joenoes)

Uce Hariono bersama Karimata Band

Bersama reuni Karimata di Java Jazz International Festival (foto Aeronotics))

Uce Haryono bersama Swara Maharddhika Band (1979) Foto Novapenta

Reuni Transs 12 Maret 2011 di rumah Fariz RM,Bintaro Jaya

Uce tergabung dengan Karimata (1986) mengiringi Ruth Sahanaya

Semalam saat saya rebah untuk tidur tiba-tiba ponsel saya berdering.Ternyata telepon dari Yudhis Dwikorana,komposer,gitaris,produser yang dulu tergabung dalam Guest Band.”Maaf Den,ganggu gak ?.Gini Uce terjatuh pas lagi main bareng Alligator,itu bandnya Mahir Blues yang suka main blues rock.Sekarang gua di SOS Antasari nganterin Uce…kondisinya kritis” demikian tutur Yudhis rada panik sekitar jam 22.48.Saya lalu buru buru ngetwit :” Drummer Uce Haryono jatuh collapse saat main bers Alligator Band.Skrg Uce di SOS Antasari dibawa oleh @yudisdwiko.Tak berapa lama kemudian saya menelpon balik ke Yudhis.Dengan suara gemetar dan menahan sedih Yudhis berujar :”Den Uce telah pergi…….”
Malam itu Uce bermain drum mendukung band Alligator.Ketika tengah membawakan lagu blues rock “Stone Free” nya Jimi Hendrix,mendadak Uce menunduk seolah mengambil stik drum.Tapi ternyata Uce malah terjatuh dengan bibir terkatup menahan sakit yang teramat sangat.
Seketika saya tersentak.Saya masih ingat,30 April lalu Uce Haryono kembali bergabung dengan Chaseiro,grup musik yang didukungnya sejak tahun 1979 lewat album “Pemuda” yang dirilis tahun 1979.Penampilan terakhir Uce bersama Chaseiro dan Vina Panduwinata itu berlangsung di Airnan Lounge Sultan Hotel.Sayang saya tak bisa hadir melihat pertunjukan langka itu.Kenapa langka ? Karena Candra Darusman dedengkot terdepan Chaseiro juga ikut bermain.Juga Vina Panduwinata,penyanyi bahenol yang sejak tahun 1982 posisi drumnya di bilik rekaman selalu dimainkan oleh Gusti Udwin Haryono Hudioro,demikian nama lengkap lelaki berdarah Kalimantan yang lahir tanggal 30 Maret 1960 itu.
Seingat saya,terakhir bertemu Uce di bulan Oktober 2010 silam di Istora Senayan Jakarta pada event Jakarta Blues Festival 2nd 2010 yang digelar INA Blues.Saat itu Uce Haryono bermain drum untuk Noor Bersaudara dan INA Blues All Stars yang dikomandani Oding Nasution.Saya sempat berbincang lama dengan Uce saat itu.Beberapa hari sebelumnya saya bahkan mewawancarai Uce Haryono dalam rangka menulis “50 Greatest Indonesian Drummer” untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2010.
30 Maret 2011 lalu Uce yang memiliki seorang puteri ini genap berusia 51 tahun.Dua minggu sebelumnya,tepatnya 12 Maret 2011 di kediaman Fariz RM di kawasan Bintaro Jaya,Uce Haryono datang untuk melakukan temu kangen dengan pendukung band Transs,yang dibentuk Fariz RM pada tahun 1981 .Temu kangen Trans situ memang penuh kejutan dan mengharukan.Di rumah Fariz hadir Erwin Gutawa (bass),Djundi Karjadi (keyboard),Uce Haryono (drums),Hafil Perdanakusumah (flute,vokal),Eddy Harris (keyboards),Dandung Sadewa (gitarmvokal) minus Wibi AK pemain perkusi yang telah meninggal dunia .
Menurut Fariz RM band Transs dibentuknya setelah melihat bakat bakat musik yang luar biasa dikalangan anak SMA.”Jaman itu sering diadakan Festival Band antar SMA.Nah yang jagoan jagoannya saya ajak bikin band.Uce dari SMA XI Bulungan,Erwin dari SMA VI Bulungan lalu ada Eddy dan Djundi dari SMA Kanisius” ungkap Fariz RM.Transs di tahun 1981 merilis album “Hotel San Vicente”.
Tapi sejak tahun 1979 Uce Haryono sudah diajak pula bergabung di band Swara Maharddhika yang dibentuk Guruh Soekarno Putera dan Junaidi Salat.Di tahun yang sama Uce juga menjadi drummer untuk kelompok Chaseiro.Kakak kandung Uce,Edwin “Eddy” Hudioro adalah mahasiswa Ekonomo UI yang menjadi peniup flute Chaseiro.Eddy kemudian mengajak Uce untuk membantu rekaman Chaseiro yang perdana di Musica Studios.Walhasil Uce yang kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pancasila itu juga lebih dikenal sebagai anggota Chaseiro.
Permainan drum Uce yang halus,artistik dan akurat merupakan daya pikat untuk sebuah rekaman.Inilah yang menghantar Uce menjadi session drummer paling sibuk di sepanjang dekade 80-an hingga 90-an. Cobalah bongkar kaset-kaset era 80-an,maka anda akan menemukan nama yang itu-itu juga : Uce Haryono.Mulai dari Chaseiro,Guruh Soekarno Putera,Chrisye,Iwan Fals,Vina Panduwinata,Ebiet G Ade,Freddie Tamaela,Ruth Sahanaya dan masih sederet panjang lagi.Bahkan Uce tergabung dalam begitu banyak band diantaranya Black Fantasy,Karimata,Spirit,Kasran Frontal hingga Bayou di era 90an.
“Saat aktif di industri rekaman thn 80-an yan Drummer Lintas Genre,Uce Haryono (1961-2011)
Semalam saat saya rebah untuk tidur tiba-tiba ponsel saya berdering.Ternyata telepon dari Yudhis Dwikorana,komposer,gitaris,produser yang dulu tergabung dalam Guest Band.”Maaf Den,ganggu gak ?.Gini Uce terjatuh pas lagi main bareng Alligator,itu bandnya Mahir Blues yang suka main blues rock.Sekarang gua di SOS Antasari nganterin Uce…kondisinya kritis” demikian tutur Yudhis rada panik sekitar jam 22.48.Saya lalu buru buru ngetwit :” Drummer Uce Haryono jatuh collapse saat main bers Alligator Band.Skrg Uce di SOS Antasari dibawa oleh @yudisdwiko.Tak berapa lama kemudian saya menelpon balik ke Yudhis.Dengan suara gemetar dan menahan sedih Yudhis berujar :”Den Uce telah pergi…….”
Malam itu Uce bermain drum mendukung band Alligator.Ketika tengah membawakan lagu blues rock “Stone Free” nya Jimi Hendrix,mendadak Uce menunduk seolah mengambil stik drum.Tapi ternyata Uce malah terjatuh dengan bibir terkatup menahan sakit yang teramat sangat.
Seketika saya tersentak.Saya masih ingat,30 April lalu Uce Haryono kembali bergabung dengan Chaseiro,grup musik yang didukungnya sejak tahun 1979 lewat album “Pemuda” yang dirilis tahun 1979.Penampilan terakhir Uce bersama Chaseiro dan Vina Panduwinata itu berlangsung di Airnan Lounge Sultan Hotel.Sayang saya tak bisa hadir melihat pertunjukan langka itu.Kenapa langka ? Karena Candra Darusman dedengkot terdepan Chaseiro juga ikut bermain.Juga Vina Panduwinata,penyanyi bahenol yang sejak tahun 1982 posisi drumnya di bilik rekaman selalu dimainkan oleh Gusti Udwin Haryono Hudioro,demikian nama lengkap lelaki berdarah Kalimantan yang lahir tanggal 30 Maret 1961 itu.
Seingat saya,terakhir bertemu Uce di bulan Oktober 2010 silam di Istora Senayan Jakarta pada event Jakarta Blues Festival 2nd 2010 yang digelar INA Blues.Saat itu Uce Haryono bermain drum untuk Noor Bersaudara dan INA Blues All Stars yang dikomandani Oding Nasution.Saya sempat berbincang lama dengan Uce saat itu.Beberapa hari sebelumnya saya bahkan mewawancarai Uce Haryono dalam rangka menulis “50 Greatest Indonesian Drummer” untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2010.
30 Maret 2011 lalu Uce yang memiliki seorang puteri ini genap berusia 50 tahun.Dua minggu sebelumnya,tepatnya 12 Maret 2011 di kediaman Fariz RM di kawasan Bintaro Jaya,Uce Haryono datang untuk melakukan temu kangen dengan pendukung band Transs,yang dibentuk Fariz RM pada tahun 1981 .Temu kangen Trans situ memang penuh kejutan dan mengharukan.Di rumah Fariz hadir Erwin Gutawa (bass),Djundi Karjadi (keyboard),Uce Haryono (drums),Hafil Perdanakusumah (flute,vokal),Eddy Harris (keyboards),Dandung Sadewa (gitarmvokal) minus Wibi AK pemain perkusi yang telah meninggal dunia .
Menurut Fariz RM band Transs dibentuknya setelah melihat bakat bakat musik yang luar biasa dikalangan anak SMA.”Jaman itu sering diadakan Festival Band antar SMA.Nah yang jagoan jagoannya saya ajak bikin band.Uce dari SMA XI Bulungan,Erwin dari SMA VI Bulungan lalu ada Eddy dan Djundi dari SMA Kanisius” ungkap Fariz RM.Transs di tahun 1981 merilis album “Hotel San Vicente”.
Tapi sejak tahun 1979 Uce Haryono sudah diajak pula bergabung di band Swara Maharddhika yang dibentuk Guruh Soekarno Putera dan Junaidi Salat bersama personil alm Maully (piano),alm Wibi AK (perkusi),Barin Reza (gitar),Hendro (gitar),Raymond (bass) dan Hafil Perdana Kusuma (flute).

Di tahun yang sama Uce juga menjadi drummer untuk kelompok Chaseiro.Kakak kandung Uce,Edwin “Eddy” Hudioro adalah mahasiswa Ekonomo UI yang menjadi peniup flute Chaseiro.Eddy kemudian mengajak Uce untuk membantu rekaman Chaseiro yang perdana di Musica Studios.Walhasil Uce yang kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pancasila itu juga lebih dikenal sebagai anggota Chaseiro.
Permainan drum Uce yang halus,artistik dan akurat merupakan daya pikat untuk sebuah rekaman.Inilah yang menghantar Uce menjadi session drummer paling sibuk di sepanjang dekade 80-an hingga 90-an. Cobalah bongkar kaset-kaset era 80-an,maka anda akan menemukan nama yang itu-itu juga : Uce Haryono.Mulai dari Chaseiro,Guruh Soekarno Putera,Chrisye,Iwan Fals,Vina Panduwinata,Ebiet G Ade,Freddie Tamaela,Ruth Sahanaya dan masih sederet panjang lagi.Bahkan Uce tergabung dalam begitu banyak band diantaranya Black Fantasy,Karimata,Spirit,Kasran Frontal hingga Bayou di era 90an.
“Saat aktif di industri rekaman thn 80-an yang lalu, aku sering minta Uce H. utk memainkan drumsnya. Permainan hi-hatnya saat itu khas sekali. Permainannya yg tidak berlebihan dan kerendahan hatinya itulah yg membuat Uce jadi drummer favorit, khususnya d era 80-an” komentar Addie MS semalam.
Tak sedikit yang membanding-bandingkan gaya permainan drum Uce dengan Steve Gadd maupun almarhum Jeff Porcaro,yang dikenal sebagai session drummer allround dan terlaris.
Selamat jalan Uce…………

Pemusik jazz legendaris Miles Davis pernah berucap, “Band yang bagus adalah yang terbentuk dari berbagai campuran musik dan budaya.” Ucapan maestro jazz itulah yang kemudian menjadi pijakan bermusik John McLaughlin, 65 tahun, gitaris asal Yorkshire, Inggris, yang telah khatam memainkan pelbagai genre musik: blues, klasik, rock, jazz, dan Carnatic-istilah untuk musik tradisional India.

Bersama Remember Shakti, kelompok yang dibentuknya bersama maestro tabla India Ustadt Zakir Hussain, 56 tahun, John McLaughlin tampil di Dewan Merdeka Hall Putera World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu 13 Juni 2007. Acara yang digelar oleh sebuah komunitas masyarakat India di Malaysia itu bertujuan menggalang dana untuk anak-anak penyandang cacat dan pemugaran kuil dengan harga tiket beragam-dari 50 hingga 1.000 ringgit.

Remember Shakti adalah kerinduan John McLaughlin untuk merekonstruksi kembali eksperimen musik “East meets West” yang pernah dilakukannya pada 1975-1978. Eksperimen bersama pemusik tradisional India seperti Zakir Hussain, T.S “Vikku” Vinayakram, Ramnad V. Raghavan, dan Lakshminarayana Shankar, yang ditandai dengan merilis tiga album masing masing Shakti (1975), A Handful of Beauty (1976), dan Natural Elements (1977).

Pada 1999 McLaughlin tergelitik untuk melakukan semacam napak tilas dengan menghubungi Zakir Hussain. Zakir yang dianggap soul mate John itu menerima tawaran. Shankar tak bisa dihubungi dan Vinayakram lebih memilih berkonsentrasi pada sekolah musiknya di Chennai. Posisi Shankar pada biola lalu diisi pemain mandolin U Shrinivas, 38 tahun, peniup bansuri Hariprasad Chaurasia, 57 tahun, dan Selvaganesh Vinayakram, 35 tahun. Dialah putra Vikku yang memainkan sederet perkusi India: ghatam, kanjira, dan mridangam. Remember Shakti menghasilkan album The Believer (2000) dan Saturday Night in Bombay (2001).

Di Kuala Lumpur, malam itu Remember Shakti mengimbuh seorang vokalis bernama Shankar Mahadevan-sosok yang kerap mengisi soundtrack film India, di antaranya untuk film Kondukondaian Kondukondaian yang memberinya penghargaan sebagai penyanyi terbaik. Selama dua jam, kelima pemusik duduk bersila, memberikan tontonan yang mengaduk rasa dan emosi.

Jari-jemari John McLaughlin menyusuri dawai gitar Godin dengan cepat tanpa kehilangan satu not pun. Menakjubkan memang. Apalagi ketika John McLaughlin berduet dengan petikan mandolin elektrik Shrinivas. Tak pelak lagi Shrinivas yang bermain mandolin secara profesional sejak kecil menyita perhatian penonton. Bayangkan ia memetik mandolin dengan gaya shredded. Jari-jemari Shrinivas melesat dengan cepat. Pada saat yang bersamaan, Zakir Hussain tiada henti mengikuti alur melodi yang dimainkan McLaughlin maupun Shrinivas dengan tabuhan tabla. Sebuah pertunjukan musik dengan perhitungan matematis yang akurat dalam sukat ganjil sekalipun.

Gitaris Gigi Dewa Budjana yang duduk di barisan kursi paling depan tak henti-hentinya berdecak kagum. “Ini sebuah musik fusi yang betul-betul baur. Penuh senyawa. Dua kultur saling menyerap jadi satu,” tutur Budjana, yang mengagumi John McLaughlin. Budjana mengaku, dia telah mengikuti album John McLaughlin sejak 1973, ketika tergabung dalam Mahavishnu Orchestra hingga Shakti di paruh era 1970. “Saya memiliki semua albumnya,” tambahnya.

Perang perkusi antara Zakir Hussain dan Selvaganesh Vinayakram juga merupakan gimmick yang menambah bobot performa Remember Shakti. Vinayakram tak hanya memberi aksentuasi dengan kanjira, instrumen sejenis tamborin tanpa simbal. Dia juga menjejalkan efek bunyi yang provokatif melalui ghatam, alat tabuh berbentuk pot. Tangan Vinayakram mengelus, menggerus, bahkan menampar permukaan ghatam yang memproduksi beragam bunyi.

Selain itu, Zakir Hussain dan Vinayakram berduet meniru bunyi perkusi dengan mulut pada komposisi bertajuk La Danse Du Bonheur (Dance of Happiness). Shankar Mahadevan pun memperlihatkan atmosfer suara angelic pada introduksi lagu Giriras Sudha. Pada pertengahan lagu, Mahadevan melakukan semacam scat singing dengan petikan gitar McLaughlin dan mandolin Shrinivas. Dinamika pun dimainkan Mahadevan pada Sakhi, sebuah komposisi yang seolah menghilangkan gravitasi para penikmatnya. Mengambang.

John McLaughlin di atas pentas ditemani laptop Apple Powerbook 12″ yang dihubungkan dengan gitarnya untuk menghasilkan efek sintesis. Inilah yang membedakan antara nuansa Shakti di era 1970-an dan Remember Shakti di era sekarang ini. Walaupun menerapkan teknologi komputer, toh nuansa akustik yang damai dan menenteramkan itu tak terusik sedikit pun.

Malam itu virtuositas musik John McLaughlin mencuat lewat komposisi berdurasi panjang bertajuk Joy yang ditulisnya bersama Lakshminarayana Shankar 32 tahun yang silam. Pesona kecepatan jari-jemarinya masih terlihat. Walaupun tak bisa dimungkiri energi bermusik John McLaughlin mulai terlihat menyurut. “Wajarlah, mungkin karena faktor usia yang bertambah,” kata Budjana.

Remember Shakti pada akhirnya adalah sebuah pertautan. Bertautnya kultur Barat dan Timur, juga kultur India Utara dan India Selatan. Sebab, di sinilah Carnatic dan Hindustani yang memiliki perbedaan perangai bisa menyatu dan melebur.

John McLaughlin yang kini bermukim di Chennai, India, memang pemuja multikulturalisme sejati. Dalam usia 13 tahun ia menyimak karya Raja Ratnam yang berkumandang di radio BBC. Sejak itulah John mulai menggali dan menggauli musik Timur. Bahkan berupaya memahami pemikiran dan filosofi India Ramana Maharshi dalam usia 25 tahun. Dua tahun berselang John yang menjalani hidup sebagai vegetarian mulai mempelajari sufisme Hazrat Inayat Khan dan juga mempelajari teologi Islam.

“Saya sebetulnya juga ingin bermain di Indonesia,” tutur John McLaughlin sembari membenahi perangkat musiknya seusai konser di Merdeka Hall. Dia sama sekali tak memakai roadies seperti lazimnya pemusik profesional. Sosok John McLaughlin sangat jauh dari seorang virtuoso gitar. Sangat bersahaja

Tulisan Denny Sakrie di majalah Tempo edisi 18 Juni 2007

John McLaughlin bersama Shakti di Kuala Lumpur 2007