Musik Pop (di) Era Rezim Soeharto

Posted: Mei 2, 2011 in Tinjau Album

Cover kompilasi Those Shocking Shaking Days dari Now Again Records

Freedom of Rhapsodia dengan lagu “Freedom

Panbers 1972

Gang of Harry Roesli

Tanpa banyak gembar-gembor, beberapa album karya band Indonesia era 70-an dirilis di mancanegara oleh beberapa label independen yang ada di Eropa dan Amerika Serikat.Sebuah fenomena yang mencengangkan tentunya.Karena rilis ulang album-album musik Indonesia ini memperoleh respon dan tanggapan yang bagus dari penikmat musik diseantero jagad

Kelompok asal Papua “Black Brothers”

Setelah Shadoks, sebuah label kecil di Jerman merilis ulang album Ariesta Birawa,Guruh Gipsy dan Shark Move.Lalu Sublime Frequencies di Seattle Amerika Serikat merilis ulang album-album Dara Puspita,Koes Bersaudara dan Koes Plus,kini muncul lagi label bernama Now Again Records yang membuat kompilasi musik Indonesia bertajuk “Those Shocking Shaking Days”.

Entah apa yang membuat para penikmat musik di mancanegara sebut misalnya Inggeris,Belanda,Amerika Serikat,Belgia,Jerman,Italia dan Jepang seolah tergila-gila dan terpukau dengan tumpukan diskografi album-album lawas Indonesia mulai era paruh 60-an hingga 70-an .

Album Ariesta Birawa yang dirilis ulang Shadoks Record

Shadoks Record yag berdomisili di Jerman bahkan tanpa seizing pemegang right dan ahli waris merilis ulang album Ariesta Birawa asal Surabaya yang aslinya diedarkan oleh Serimpi Record.Termasuk diantaranya Guruh Gipsy yang diedarkan secara indie pada awal tahun 1977 silam.

Tersebutlah sebuah buku bertajuk “Record Collector Dream” yang disusun Hans Pokora dari Austria.Buku yang dianggap kitab suci untuk para kolektor musik terutama piringan hitam dan kaset dibuat berseri dengan memuat berbagai album bergenre prog-rock folk,psychedelick rock hingga world music itu juga memasukkan beberapa album musik Indonesia didalam katalognya antara lain Ariesta Birawa,Harry Roesli,Koes Bersaudara,Dara Puspita  hingga Guruh Gipsy .

Berdasarkan data catalog buku yang disusun Hans Pokora inilah yang kemudian memicu minat beberapa label independen untuk melakukan reissue sekaligus remastered.Diantaranya muncul Shadoks Record,label yang berasal dari sebuah kota kecil di Jerman.

Patut diakui sejak akhir era 90an album-album musik pop dan rock Indonesia mulai diminati bangsa asing.Mereka bahkan melakukan hunting piringan hitam musik Indonesia ke beberapa titik pawnshop yang ada di kawasan Jakarta seperti  jalan Surabaya,Jatinegara dan Taman Puring.Saya sempat mengenal  beberapa diantara mereka.Umumnya mereka  adalah kolektor rekaman musik,seperti Tetsu Nagata,orang Jepang yang sempat bermukim di Jakarta.Tetsu sangat menggilai musik Indonesia terutama progresif rock.

Golden Wing dari Palembang

Lalu saya juga berkenalan dengan Alan Bishop dari Seattle yang ternyata memiliki label kecil di negaranya.Alan Bishop bertutur mengaku tertarik dengan pop scene di Asia dan Timur Tengah.Alan bahkan tergila-gila dengan Koes Bersaudara,Koes Plus,Dara Puspita hingga Oma Irama dan OM Soneta-nya .Alan Bishop  bahkan mempunyai band yang diberinama West Koes.Tahun lalu Alan Bishop merilis ulang album Koes Bersaudara,Koes Plus dan Dara Puspita dalam bentuk CD.Rencananya tahun 2011  ini album album itu akan dirilis lagi dalam bentuk vinyl atau piringan hitam.

Alan Bishop memuji kualitas dan visi pemusik Indonesia di era Orde Baru itu.Menurut Alan,pemusik Indonesia berhasil menginterpretasikan rockn’roll yang produk Barat menjadi rockn’roll dengan rasa Indonesia.Tetsu Nagata pun memuji ketrampilan bermusik pemusik Indonesia.

Di Italia sendiri Mauro Moroni pemilik label khusus prog-rock Mellow Record juga adalah segelintir orang dari orang Italia yang menggemari musik Indonesia era 70-an.

Di tahun 1999 Mauro Moroni sempat merilis album debut Discus,grup prog-rock Indonesia yang dibentuk gitaris rock kontemporer Iwan Hasan.Beberapa waktu silam saya sempat memberikan album album Indonesia yang sudah out of print itu kepada Mauro Moroni serta seorang Italia lainnya yang juga maniak musik Indonesia yaitu Gianlorenzo Giovanozzi dalam bentuk CDR.Juga ada Feddo Renier,kolektor asal Belanda yang begitu menyukai music rock/pop Indonesia.Feddo bahkan mengulas repertoar music Indonesia ini dalam acara radio yang dikelolalnya di Belanda bernama “Psychedelicatessen“.

Lalu muncul Leonardo Pavkovic,lelaki turunan Bosnia yang menetap di New York dan memiliki label Moonjune Record.Lelaki bertbuh besar ini juga sangat menaruh perhatian yang mendalam terhadap band-band Indonesia terutama yang bergenre prog-rock dan jazz kontemporer. Nama label yang didirikan Leonardo  Pavkovic ini diambil dari lagu karya Robert Wyatt “Moon in June”.Moon June Record memang mengambil spesialisasi merilis album-album bergenre jazz,psychedelic,jazz kontemporer dan avant garde music.Moon In June Record telah merilis beberapa album pemusik Indonesia diantaranya “Patahan” dan “Demi Masa” dari kelompok etnik jazz Simak Dialog dan Tohpati Ethnomission.Dalam waktu dekat label idealis ini juga akan merilis album solo dari Dewa Budjana serta Ligro.

Leonardo pun tertarik untuk merilis ulang album eksperimental fenomenal Indonesia Guruh Gipsy.”Saya sudah melakukan kontak dengan Oding Nasution dan Keenan Nasution untuk negosiasi rilis Guruh Gipsy.Saya juga berusaha untuk menghubungi Guruh tapi dia tampak sibuk” ungkap Leonardo Pavkovic yang kerap mondar mandir New York –Jakarta ini.

Keenan Nasution,drummer dan vokalis Guruh Gipsy tampaknya lebih menaruh minat dengan rencana Moon June Records untuk mereissue album Guruh Gipsy.’Album Guruh Gipsy yang dirilis Shadoks Record itu tidak minta izin dari kami” jelas Keenan Nasution.

Sejak dua tahun silam Leonardo Pavkovic pun telah meminta kepada saya untuk meriset data band-band Indoneia era akhir 60-an dan awal 70-an yang bertamosfer obscured .Leonardo tertarik pula untuk membuat album kompilasi artis dan band Indonesia era rezim Orde Baru.

Dari pengalaman pengalaman yang saya alami diatas , saya biasa  menyimpulkan bahwa sebetulnya musik Indonesia memang tak kalah bersaing dengan musik mancanegara.

Keyakinan itu kian menjadi setelah baru baru ini pada 8 Maret 2011 Now Again Record merilis kompilasi musik pop/rock/psychedelic Indonesia dari kurun waktu 1970-1978 dibawah tajuk “Those Shocking Shaking Days Indonesian Hard, Psychedelic, Progressive Rock and Funk 1970-1978”.

” .Album ini berisikan sekitar 20 lagu antara lain dibawakan oleh Panbers,Koes Plus,Duo Kribo,Shark Move,Paramour ,AKA,The Brim’s,Ivo’s Group,Murry’s Group,Gang of Harry Roesli,Golden Wings,Black Brothers.,Freedom of Rhpasodia.

Judul album kompilasi ini terinspirasi dari judul lagu Ivo’s Group “That Shocking Shaking Day” yang juga termaktub di album ini.

Jika menyimak deretan tracklist album ini maka sesungguhnya kita pun telah memahfumi bahwa bunga rampai musik dari khazanah musik Indonesia di era pemerintahan presiden Soeharto sangat terwakili.

Pergeseran tampuk kepimpinan dari Soekarno dan Soeharto bisa terlacak dalam konstelasi musik pop yang bergaung di negeri ini. Di era Soekarno musik pop  Barat entah itu dari Eropa maupun Amerika yang diistilahkan sebagai musik  ngak ngik ngok  tak boleh bergema sama sekali  .Penggalian nilai-nilai seni music berkepribadian Indonesia pun digali.Eksperimen yang digali Bing Slamet hingga Jack Lesmana di paruh era 60-an ,sesuai yang diinginkan Soekarno.menghasilkan sebuah temuan musik dan tari pergaulan dengan nama Irama Lenso. Para pemusik yang ketahuan membawakan musik Barat ditangkap,misalnya Koes Bersauadara yang dijebloskan ke dalam tahanan selama 3 bulan karena membawakan lagu milik The Beatles.

Iklim bermusik selanjutnya berubah ketika Soekarno mengambil alih tampuk kepemimpinan.Di tahun 1967 dibawah kekuasaan Orde Baru yang digagas   Soeharto musik Barat mulai bergaung kembali.Menjamurnya radio-radio non RRI di tahun 1967 turut menyebarluaskan musik-musik pop yang bermuasal dari Inggeris,Belanda dan Amerika Serikat.

Koes Bersaudara merilis nalbum dengan tajuk berbahasa Inggeris “To The So Called The Guilties” pada tahun 1967 yang antara lain menyertakan sebuah lagu bernuansa kritik sosial “Poor Clown” karya Tonny Koeswoyo.Lagu berbahasa Inggeris ini sebetulnya strategi jitu dari Tonny Koeswoyo untuk menghindari sensorship.Lagu yang dinyanyikan pula oleh Tonny Koeswoyo ini memang menyindir Soekarno. Strategi ini juga kemudian dilakukan oleh Gang of Harry Roesli ketika menyindir pemerintah Indonesia lewat lagu berbahasa Inggeris “Peacock Dog” pada album “Philosophy Gang” (Lion Record) yang dirilis pada tahun 1973.Semasa hidupnya Harry Roesli pernah bertutur pada saya tentang makna Peacock Dog :”Indonesia itu bagaikan burung merak yang mempesona tapi juga menyebalkan seperti anjing”. Baik “Poor Clown” maupun “Peacock Dog” tidak pernah dibreidel atau pun dicekal.Kemungkinan terbesar adalah bahwa aparat tidak ngeh dengan makna lirik yang berbalut bahasa Inggeris itu.

Di era 70-an banyak lagu bernafaskan kritik sosial yang entah sengaja atau tidak justeru ditulis dalam bahasa Inggeris seperti lagu “Evil War” (Shark Move),”Freedom” (Freedom of Rhapsodia) maupun “That Shocking Shaking Day” (Ivo’s Group).Ketiga lagu yang saya sebutkan itu juga terdapat dalam album kompilasi “Those Shocking Shacking Day” ini.

Rezim Orde Baru tidak melakukan pelarangan terhadap lagu-lagu Barat,bahakn di era ini mulai banyak muncul band-band yang tampil kebarat-baratan.Panggung-panggung musik terlihat dihiruk-pikuki oleh sejumlah band yang senantiasa membawakan repertoar rock dari band-band sohor mancanegara seperti Deep Purple,Led Zeppelin,The Rolling Stones,Sly & The Family Stones,James Brown,Procol Harum,Osibisa,Black Sabbath dan masih sederet panjang lainnya.

Keadaan pop scene seperti ini kemudian menjadi inspirasi dari Panbers yang menyanyikan lagu “Haai” karya Benny Panjaitan dan Doan Panjaitan.Simak liriknya :

I like Beatles songs

I love Rolling Stones

I love Led Zeppelin

Namun,meskipun demikian,alam kebebasan bermusik ini masih dihadang oleh rambu-rambu seperti tidak bebas menulis lagu-lagu dengan lirik atau syair yang bermuatan kritik atau protes.

Ditahun 1975 kelompok D’Lloyd dicekal karena lagunya yang berjudul “Hidup Di Bui” dianggap tidak sesuai dengan keadaan lembaga pemasyarakatan yang ada.Akhirnya lagu itu pun direvisi,lirik yang tadinya berbunyi “penjara di Tangerang” akhirnya diubah menjadi “penjara di jaman perang”. Di tahun 1978 lagu “Rayap Rayap” karya Mogi Darusman dan Teguh Esha mengalami pencekalan karena liriknya yang antara lain berbunyi “Rayap rayap  yang ganas merayap berjas dasi dalam kantor makan minum darah rakyat “dianggap ekstrim dan melanggar etika.

Sayangnya di album kompilasi ini lagu lagu pop yang berlirik ekstrim tidak diikut sertakan.Namun toh ada juga  beberapa lagu yang memperlihatkan sisi kritik sosial seperti “Anti Ganja” (The Brim’s) hingga “Uang” (Duo Kribo).

Rilis ulang karya karya pemusik Indonesia ini memang membuat pemusik kita jadi perbincangan.Beberapa media cetak dan online mereviewnya dengan penuh pujian seperti yang termaktub dalam majalah Spin,Pitchfork,Prefix dan Dusted.

Pada Desember 2010 situs musik berwibawa Allmusic.com membuat sebuah list bertajuk “AllMusic’s Favorite World Compilations of 2010” yang meleretkan album-album terbaik dari berbagai negara di dunia seperti Brazil,Thailand,Nigeria,Colombia,Kambodja,Ghana,Angola serta Indonesia .Dalam list yang memuat 20 album terbaik itu 3 diantaranya berasal dari Indonesia masing masing album “Dara Puspita 1966-1968” (Dara Puspita) serta album “To The So Called Guilties/Koes Bersaudara Singles (Koes Bersaudara) dan album “Dheg Dheg Plas/Koes Plus Vol 2 “ (Koes Plus).

Dalam review tentang album “Those Shocking Shacking Days”,Spin  pun menulis :”Suffering under a brutal dictatorship ,band in 70’s Indonesia also took refuge in James Brown ,Grand Funk Railroad and Incredible Strings Band.They’re poltically  rebellious spirit”.

Kita pun patut berbangga terhadap apresiasi dunia internasional terhadap karya-karya pemusik Indonesia.Hanya disayangkan,justeru yang berupaya melestarikan karya musik Indonesia adalah bangsa asing, bukan kita.

Denny Sakrie

Komentar
  1. adipribadi mengatakan:

    Bisa dihitung group/solo sekarang yang punya “soul”.
    Berbeda dengan dulu, membawakan lagu dengan penuh penjiwaan.

  2. joni mengatakan:

    Freedom Of Rhapsodia – Siapa Gerangan –

  3. Sugiyono Gio mengatakan:

    tulisan, ucapan, suara, selaras
    mata terpejam bs terbayangkan dg syair,
    bener penyanyi menjiwai syair dan lagu.

  4. kharis mengatakan:

    Bang Deny, Apa ada produksi buku tentang Musik Terbaik Indonesia? dari zaman ke zaman. Ya jujur, saya sering bingung memulai dari mana dan refrensi di YouTube atau beberapa jasa situs musik gratisan tak menghadirkan musik lawas Indonesia dengan kualitas bagus.

    seandainya, ada Kaset, DVD atau Piringan Hitam yang di terbitkan ulang. Pasti akan masuk ke daftar koleksi pribadi saya, saya takut musik bagus Indonesia terlupakan anak cucu…

    dan saya punya mimpi untuk membangun MUSEUM MUSIK INDONESIA (maaf rada aneh), hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s