Kecermatan Bedroom Musician Dalam Membuat Rekaman

Posted: Mei 3, 2011 in Wawasan

Adhitia Sofyan

Ketika kalian telah memilih untuk menjadi seorang bedroom musicians yang siap menumpahkan gagasan-gagasan musikal ke dalam sebuah format rekaman, maka saat itu pula kalian akan segera berhadapan dengan pilihan-pilihan budgeting yang harus ditempuh.

Budgeting ini tentunya berkaitan dengan pembiayaan proses produksi yang akan mencakup penggunaan piranti perekam termasuk tentunya piranti lunak maupun piranti kerasnya. Untuk sebuah efsiensi produksi dan efisiensi kerja sepatutnya hal ini harus dipikirkan dengan matang dan seksama.

Dalam hal produksi album, banyak orang yang sering menafsirkan output rekaman yang bagus senantiasa bermuasal dari perangkat kerja beserta pirantinya yang relatif mahal. Namun asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi bukan juga hal yang keliru.

“Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal secara logika memang harus diakomodir oleh fasilitas perangkat yang memadai dan relative mahal. Tapi toh kita masih bisa mencari jalan pintas dengan berbagai solusi” urai David Tarigan, pemusik dan praktisi industri rekaman yang pernah menduduki posisi Artis & Repertoire di Aksara Records.

“Yang jelas yang mesti kita siapkan secara standar pasti harus ada komputer  berikut software dan berbagai soundcard. Dan untuk memilikinya yang jelas disesuaikan dengan budget yang dimiliki. Jika budget pas-pasan maka akan banyak trick yang bisa dilakukan. Salah satunya mungkin dengan mencari produk yang bukan kualitas no. 1 tapi bisa memadai” jelas David Tarigan yang pernah sukese menjejalkan album Sore hingga White Shoes & Couples Company.

David Tarigan lebih jauh menguraikan bahwa banyak para bedroom musician yang mengambil jalan pintas dengan menggunakan software atau soundcard bajakan yang banyak ditawari dimana-mana. “Hasilnya memang relatif lumayan. Ya mungkin bisa  11-12 gitu deh. Tapi ingat, di saat albumnya dibajak orang, maka sang pemusik gak boleh protes! hahaha,” kisah David Tarigan.

Adhithya Sofyan, salah satu bedroom musicians yang saya anggap berhasil mewujudkan gagasannya lalu bertutur panjang lebar tentang kreativitasnya menggagas musik dari balik bilik tidurnya. Dua tahun lalu lelaki berkacamata minus ini berhasil merils debut albumnya bertajuk “Quiet Down – Bedroom Musicians Vol 1″ yang berhasil memikat penikmat musik dengan genre musiknya yang cenderung ke genre folk itu.

“Modal pertama saya adalah membeli komputer Macbook seharga Rp 15 juta yang didalamnya sudah ada program “Garage Band” yang lebih memudahkan saya untuk membuat aransemen musik dan rhythms sectionnya. Selanjutnya saya menumpahkan semua kreasi dan ide yang mengendap dibenak saya di kamar tidur,” ujarnya terkekeh.

“Setelah itu saya harus mengeluarkan kocek sebesar 12 juta lagi untuk pembuatan cover album, promosi dan juga distribusi album saya” ungkap Adithya Sofyan lagi.

Dalam waktu dekat ini, Adhitya Sofyan juga segera merilis album keduanya bertajuk “Forget Your Plans – Bedroom Recordings Vol.2″ yang akan didistribusikan oleh Demajors Record .

Menjadi seorang bedroom musicians, menurut Adithya Sofyan, dituntut betul-betul menjadi one man show , “Bayangkan, saya juga harus memahami liku-liku tata suara dan recording. Bagaimana mengendalikan bunyi, menata mixing dan sebagainya. Ibaratnya selain sebagai komposer, pemusik dan penyanyi, saya juga berperan sebagai soud engineer. Untuk bidang sound ini terus terang saya banyak belajar dari teman-teman dan berani melakukan eksperimen,” imbuhnya lagi.

Di album  keduanya ini, Adhitya Sofyan terlihat berani menjamah perangkat musik lainnya selain vokal dan gitar akustiknya, “Di album kedua secara bentuk musik ada strings section, ada juga kolintang dan pianika. Saya harus berani melakukan eksplorasi dalam bermusik.” papar Adithya Sofyan.

Bagi Adithya, kamar hanyalah sebuah wilayah tempat menangkap gagasan sekaligus menumpahkannnya dalam rekaman, selebihnya konstruksi musik itu bisa diimbuh dengan apa saja.

Adhitia Sofyan

Iklan
Komentar
  1. adhitiasofyan berkata:

    ‘Adhitia Sofyan’ om….heheheh :p

  2. dennysakrie63 berkata:

    Sebetulnya ada kok solusi lain,misalnya beli perangkat yang second…ehem atau beli yang bajakan tapi harus ikhlas jika nantinya karya kamu juga bakal dibajak orang he he

  3. ardhi perkasa berkata:

    @dwityaaziza:
    Tidak mahal ko.
    Sebenarnya kita bisa juga menggunakan PC biasa atau laptop berbasis windows atau bahkan linux. Yang penting ada software perekamnya, atau istilahnya biasa disebut dengan digital audio worsktation (“DAW”). DAW-nya ini pun bermacam2. Kalo yg berbayar, bisa pakai cubase, nuendo, atau pro tools, dll. Kalo mau yg gratisan juga banyak, misalnya reaper atau ardour. Bahkan plugin2nya pun banyak juga yg gratisan. Selain itu, memang diperlukan juga perangkat lain seperti soundcard (audio interface), midi controller (bila perlu), dll yang harganya juga saat ini sudah cukup terjangkau. Dengan begitu tentunya kita bisa berkarya di kamar dengan lebih ekonomis. Hehe.
    Selanjutnya.. Selamat berkreasi.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s