Multikulturalisme Pemusik Bersila

Posted: Mei 3, 2011 in Tinjau Acara

Pemusik jazz legendaris Miles Davis pernah berucap, “Band yang bagus adalah yang terbentuk dari berbagai campuran musik dan budaya.” Ucapan maestro jazz itulah yang kemudian menjadi pijakan bermusik John McLaughlin, 65 tahun, gitaris asal Yorkshire, Inggris, yang telah khatam memainkan pelbagai genre musik: blues, klasik, rock, jazz, dan Carnatic-istilah untuk musik tradisional India.

Bersama Remember Shakti, kelompok yang dibentuknya bersama maestro tabla India Ustadt Zakir Hussain, 56 tahun, John McLaughlin tampil di Dewan Merdeka Hall Putera World Trade Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu 13 Juni 2007. Acara yang digelar oleh sebuah komunitas masyarakat India di Malaysia itu bertujuan menggalang dana untuk anak-anak penyandang cacat dan pemugaran kuil dengan harga tiket beragam-dari 50 hingga 1.000 ringgit.

Remember Shakti adalah kerinduan John McLaughlin untuk merekonstruksi kembali eksperimen musik “East meets West” yang pernah dilakukannya pada 1975-1978. Eksperimen bersama pemusik tradisional India seperti Zakir Hussain, T.S “Vikku” Vinayakram, Ramnad V. Raghavan, dan Lakshminarayana Shankar, yang ditandai dengan merilis tiga album masing masing Shakti (1975), A Handful of Beauty (1976), dan Natural Elements (1977).

Pada 1999 McLaughlin tergelitik untuk melakukan semacam napak tilas dengan menghubungi Zakir Hussain. Zakir yang dianggap soul mate John itu menerima tawaran. Shankar tak bisa dihubungi dan Vinayakram lebih memilih berkonsentrasi pada sekolah musiknya di Chennai. Posisi Shankar pada biola lalu diisi pemain mandolin U Shrinivas, 38 tahun, peniup bansuri Hariprasad Chaurasia, 57 tahun, dan Selvaganesh Vinayakram, 35 tahun. Dialah putra Vikku yang memainkan sederet perkusi India: ghatam, kanjira, dan mridangam. Remember Shakti menghasilkan album The Believer (2000) dan Saturday Night in Bombay (2001).

Di Kuala Lumpur, malam itu Remember Shakti mengimbuh seorang vokalis bernama Shankar Mahadevan-sosok yang kerap mengisi soundtrack film India, di antaranya untuk film Kondukondaian Kondukondaian yang memberinya penghargaan sebagai penyanyi terbaik. Selama dua jam, kelima pemusik duduk bersila, memberikan tontonan yang mengaduk rasa dan emosi.

Jari-jemari John McLaughlin menyusuri dawai gitar Godin dengan cepat tanpa kehilangan satu not pun. Menakjubkan memang. Apalagi ketika John McLaughlin berduet dengan petikan mandolin elektrik Shrinivas. Tak pelak lagi Shrinivas yang bermain mandolin secara profesional sejak kecil menyita perhatian penonton. Bayangkan ia memetik mandolin dengan gaya shredded. Jari-jemari Shrinivas melesat dengan cepat. Pada saat yang bersamaan, Zakir Hussain tiada henti mengikuti alur melodi yang dimainkan McLaughlin maupun Shrinivas dengan tabuhan tabla. Sebuah pertunjukan musik dengan perhitungan matematis yang akurat dalam sukat ganjil sekalipun.

Gitaris Gigi Dewa Budjana yang duduk di barisan kursi paling depan tak henti-hentinya berdecak kagum. “Ini sebuah musik fusi yang betul-betul baur. Penuh senyawa. Dua kultur saling menyerap jadi satu,” tutur Budjana, yang mengagumi John McLaughlin. Budjana mengaku, dia telah mengikuti album John McLaughlin sejak 1973, ketika tergabung dalam Mahavishnu Orchestra hingga Shakti di paruh era 1970. “Saya memiliki semua albumnya,” tambahnya.

Perang perkusi antara Zakir Hussain dan Selvaganesh Vinayakram juga merupakan gimmick yang menambah bobot performa Remember Shakti. Vinayakram tak hanya memberi aksentuasi dengan kanjira, instrumen sejenis tamborin tanpa simbal. Dia juga menjejalkan efek bunyi yang provokatif melalui ghatam, alat tabuh berbentuk pot. Tangan Vinayakram mengelus, menggerus, bahkan menampar permukaan ghatam yang memproduksi beragam bunyi.

Selain itu, Zakir Hussain dan Vinayakram berduet meniru bunyi perkusi dengan mulut pada komposisi bertajuk La Danse Du Bonheur (Dance of Happiness). Shankar Mahadevan pun memperlihatkan atmosfer suara angelic pada introduksi lagu Giriras Sudha. Pada pertengahan lagu, Mahadevan melakukan semacam scat singing dengan petikan gitar McLaughlin dan mandolin Shrinivas. Dinamika pun dimainkan Mahadevan pada Sakhi, sebuah komposisi yang seolah menghilangkan gravitasi para penikmatnya. Mengambang.

John McLaughlin di atas pentas ditemani laptop Apple Powerbook 12″ yang dihubungkan dengan gitarnya untuk menghasilkan efek sintesis. Inilah yang membedakan antara nuansa Shakti di era 1970-an dan Remember Shakti di era sekarang ini. Walaupun menerapkan teknologi komputer, toh nuansa akustik yang damai dan menenteramkan itu tak terusik sedikit pun.

Malam itu virtuositas musik John McLaughlin mencuat lewat komposisi berdurasi panjang bertajuk Joy yang ditulisnya bersama Lakshminarayana Shankar 32 tahun yang silam. Pesona kecepatan jari-jemarinya masih terlihat. Walaupun tak bisa dimungkiri energi bermusik John McLaughlin mulai terlihat menyurut. “Wajarlah, mungkin karena faktor usia yang bertambah,” kata Budjana.

Remember Shakti pada akhirnya adalah sebuah pertautan. Bertautnya kultur Barat dan Timur, juga kultur India Utara dan India Selatan. Sebab, di sinilah Carnatic dan Hindustani yang memiliki perbedaan perangai bisa menyatu dan melebur.

John McLaughlin yang kini bermukim di Chennai, India, memang pemuja multikulturalisme sejati. Dalam usia 13 tahun ia menyimak karya Raja Ratnam yang berkumandang di radio BBC. Sejak itulah John mulai menggali dan menggauli musik Timur. Bahkan berupaya memahami pemikiran dan filosofi India Ramana Maharshi dalam usia 25 tahun. Dua tahun berselang John yang menjalani hidup sebagai vegetarian mulai mempelajari sufisme Hazrat Inayat Khan dan juga mempelajari teologi Islam.

“Saya sebetulnya juga ingin bermain di Indonesia,” tutur John McLaughlin sembari membenahi perangkat musiknya seusai konser di Merdeka Hall. Dia sama sekali tak memakai roadies seperti lazimnya pemusik profesional. Sosok John McLaughlin sangat jauh dari seorang virtuoso gitar. Sangat bersahaja

Tulisan Denny Sakrie di majalah Tempo edisi 18 Juni 2007

John McLaughlin bersama Shakti di Kuala Lumpur 2007

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s