Mengenang Drummer Lintas Genre Uce Haryono (1960-2011)

Posted: Mei 5, 2011 in Obituari

Karimata 1986 Aminoto Kosin,Uce Haryono,Candra Darusman,Erwin Gutawa dan Denny TR

Gusti Udwin Haryono Hudioro (foto Djajusman Joenoes)

Uce Hariono bersama Karimata Band

Bersama reuni Karimata di Java Jazz International Festival (foto Aeronotics))

Uce Haryono bersama Swara Maharddhika Band (1979) Foto Novapenta

Reuni Transs 12 Maret 2011 di rumah Fariz RM,Bintaro Jaya

Uce tergabung dengan Karimata (1986) mengiringi Ruth Sahanaya

Semalam saat saya rebah untuk tidur tiba-tiba ponsel saya berdering.Ternyata telepon dari Yudhis Dwikorana,komposer,gitaris,produser yang dulu tergabung dalam Guest Band.”Maaf Den,ganggu gak ?.Gini Uce terjatuh pas lagi main bareng Alligator,itu bandnya Mahir Blues yang suka main blues rock.Sekarang gua di SOS Antasari nganterin Uce…kondisinya kritis” demikian tutur Yudhis rada panik sekitar jam 22.48.Saya lalu buru buru ngetwit :” Drummer Uce Haryono jatuh collapse saat main bers Alligator Band.Skrg Uce di SOS Antasari dibawa oleh @yudisdwiko.Tak berapa lama kemudian saya menelpon balik ke Yudhis.Dengan suara gemetar dan menahan sedih Yudhis berujar :”Den Uce telah pergi…….”
Malam itu Uce bermain drum mendukung band Alligator.Ketika tengah membawakan lagu blues rock “Stone Free” nya Jimi Hendrix,mendadak Uce menunduk seolah mengambil stik drum.Tapi ternyata Uce malah terjatuh dengan bibir terkatup menahan sakit yang teramat sangat.
Seketika saya tersentak.Saya masih ingat,30 April lalu Uce Haryono kembali bergabung dengan Chaseiro,grup musik yang didukungnya sejak tahun 1979 lewat album “Pemuda” yang dirilis tahun 1979.Penampilan terakhir Uce bersama Chaseiro dan Vina Panduwinata itu berlangsung di Airnan Lounge Sultan Hotel.Sayang saya tak bisa hadir melihat pertunjukan langka itu.Kenapa langka ? Karena Candra Darusman dedengkot terdepan Chaseiro juga ikut bermain.Juga Vina Panduwinata,penyanyi bahenol yang sejak tahun 1982 posisi drumnya di bilik rekaman selalu dimainkan oleh Gusti Udwin Haryono Hudioro,demikian nama lengkap lelaki berdarah Kalimantan yang lahir tanggal 30 Maret 1960 itu.
Seingat saya,terakhir bertemu Uce di bulan Oktober 2010 silam di Istora Senayan Jakarta pada event Jakarta Blues Festival 2nd 2010 yang digelar INA Blues.Saat itu Uce Haryono bermain drum untuk Noor Bersaudara dan INA Blues All Stars yang dikomandani Oding Nasution.Saya sempat berbincang lama dengan Uce saat itu.Beberapa hari sebelumnya saya bahkan mewawancarai Uce Haryono dalam rangka menulis “50 Greatest Indonesian Drummer” untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2010.
30 Maret 2011 lalu Uce yang memiliki seorang puteri ini genap berusia 51 tahun.Dua minggu sebelumnya,tepatnya 12 Maret 2011 di kediaman Fariz RM di kawasan Bintaro Jaya,Uce Haryono datang untuk melakukan temu kangen dengan pendukung band Transs,yang dibentuk Fariz RM pada tahun 1981 .Temu kangen Trans situ memang penuh kejutan dan mengharukan.Di rumah Fariz hadir Erwin Gutawa (bass),Djundi Karjadi (keyboard),Uce Haryono (drums),Hafil Perdanakusumah (flute,vokal),Eddy Harris (keyboards),Dandung Sadewa (gitarmvokal) minus Wibi AK pemain perkusi yang telah meninggal dunia .
Menurut Fariz RM band Transs dibentuknya setelah melihat bakat bakat musik yang luar biasa dikalangan anak SMA.”Jaman itu sering diadakan Festival Band antar SMA.Nah yang jagoan jagoannya saya ajak bikin band.Uce dari SMA XI Bulungan,Erwin dari SMA VI Bulungan lalu ada Eddy dan Djundi dari SMA Kanisius” ungkap Fariz RM.Transs di tahun 1981 merilis album “Hotel San Vicente”.
Tapi sejak tahun 1979 Uce Haryono sudah diajak pula bergabung di band Swara Maharddhika yang dibentuk Guruh Soekarno Putera dan Junaidi Salat.Di tahun yang sama Uce juga menjadi drummer untuk kelompok Chaseiro.Kakak kandung Uce,Edwin “Eddy” Hudioro adalah mahasiswa Ekonomo UI yang menjadi peniup flute Chaseiro.Eddy kemudian mengajak Uce untuk membantu rekaman Chaseiro yang perdana di Musica Studios.Walhasil Uce yang kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pancasila itu juga lebih dikenal sebagai anggota Chaseiro.
Permainan drum Uce yang halus,artistik dan akurat merupakan daya pikat untuk sebuah rekaman.Inilah yang menghantar Uce menjadi session drummer paling sibuk di sepanjang dekade 80-an hingga 90-an. Cobalah bongkar kaset-kaset era 80-an,maka anda akan menemukan nama yang itu-itu juga : Uce Haryono.Mulai dari Chaseiro,Guruh Soekarno Putera,Chrisye,Iwan Fals,Vina Panduwinata,Ebiet G Ade,Freddie Tamaela,Ruth Sahanaya dan masih sederet panjang lagi.Bahkan Uce tergabung dalam begitu banyak band diantaranya Black Fantasy,Karimata,Spirit,Kasran Frontal hingga Bayou di era 90an.
“Saat aktif di industri rekaman thn 80-an yan Drummer Lintas Genre,Uce Haryono (1961-2011)
Semalam saat saya rebah untuk tidur tiba-tiba ponsel saya berdering.Ternyata telepon dari Yudhis Dwikorana,komposer,gitaris,produser yang dulu tergabung dalam Guest Band.”Maaf Den,ganggu gak ?.Gini Uce terjatuh pas lagi main bareng Alligator,itu bandnya Mahir Blues yang suka main blues rock.Sekarang gua di SOS Antasari nganterin Uce…kondisinya kritis” demikian tutur Yudhis rada panik sekitar jam 22.48.Saya lalu buru buru ngetwit :” Drummer Uce Haryono jatuh collapse saat main bers Alligator Band.Skrg Uce di SOS Antasari dibawa oleh @yudisdwiko.Tak berapa lama kemudian saya menelpon balik ke Yudhis.Dengan suara gemetar dan menahan sedih Yudhis berujar :”Den Uce telah pergi…….”
Malam itu Uce bermain drum mendukung band Alligator.Ketika tengah membawakan lagu blues rock “Stone Free” nya Jimi Hendrix,mendadak Uce menunduk seolah mengambil stik drum.Tapi ternyata Uce malah terjatuh dengan bibir terkatup menahan sakit yang teramat sangat.
Seketika saya tersentak.Saya masih ingat,30 April lalu Uce Haryono kembali bergabung dengan Chaseiro,grup musik yang didukungnya sejak tahun 1979 lewat album “Pemuda” yang dirilis tahun 1979.Penampilan terakhir Uce bersama Chaseiro dan Vina Panduwinata itu berlangsung di Airnan Lounge Sultan Hotel.Sayang saya tak bisa hadir melihat pertunjukan langka itu.Kenapa langka ? Karena Candra Darusman dedengkot terdepan Chaseiro juga ikut bermain.Juga Vina Panduwinata,penyanyi bahenol yang sejak tahun 1982 posisi drumnya di bilik rekaman selalu dimainkan oleh Gusti Udwin Haryono Hudioro,demikian nama lengkap lelaki berdarah Kalimantan yang lahir tanggal 30 Maret 1961 itu.
Seingat saya,terakhir bertemu Uce di bulan Oktober 2010 silam di Istora Senayan Jakarta pada event Jakarta Blues Festival 2nd 2010 yang digelar INA Blues.Saat itu Uce Haryono bermain drum untuk Noor Bersaudara dan INA Blues All Stars yang dikomandani Oding Nasution.Saya sempat berbincang lama dengan Uce saat itu.Beberapa hari sebelumnya saya bahkan mewawancarai Uce Haryono dalam rangka menulis “50 Greatest Indonesian Drummer” untuk majalah Rolling Stone Indonesia edisi November 2010.
30 Maret 2011 lalu Uce yang memiliki seorang puteri ini genap berusia 50 tahun.Dua minggu sebelumnya,tepatnya 12 Maret 2011 di kediaman Fariz RM di kawasan Bintaro Jaya,Uce Haryono datang untuk melakukan temu kangen dengan pendukung band Transs,yang dibentuk Fariz RM pada tahun 1981 .Temu kangen Trans situ memang penuh kejutan dan mengharukan.Di rumah Fariz hadir Erwin Gutawa (bass),Djundi Karjadi (keyboard),Uce Haryono (drums),Hafil Perdanakusumah (flute,vokal),Eddy Harris (keyboards),Dandung Sadewa (gitarmvokal) minus Wibi AK pemain perkusi yang telah meninggal dunia .
Menurut Fariz RM band Transs dibentuknya setelah melihat bakat bakat musik yang luar biasa dikalangan anak SMA.”Jaman itu sering diadakan Festival Band antar SMA.Nah yang jagoan jagoannya saya ajak bikin band.Uce dari SMA XI Bulungan,Erwin dari SMA VI Bulungan lalu ada Eddy dan Djundi dari SMA Kanisius” ungkap Fariz RM.Transs di tahun 1981 merilis album “Hotel San Vicente”.
Tapi sejak tahun 1979 Uce Haryono sudah diajak pula bergabung di band Swara Maharddhika yang dibentuk Guruh Soekarno Putera dan Junaidi Salat bersama personil alm Maully (piano),alm Wibi AK (perkusi),Barin Reza (gitar),Hendro (gitar),Raymond (bass) dan Hafil Perdana Kusuma (flute).

Di tahun yang sama Uce juga menjadi drummer untuk kelompok Chaseiro.Kakak kandung Uce,Edwin “Eddy” Hudioro adalah mahasiswa Ekonomo UI yang menjadi peniup flute Chaseiro.Eddy kemudian mengajak Uce untuk membantu rekaman Chaseiro yang perdana di Musica Studios.Walhasil Uce yang kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Pancasila itu juga lebih dikenal sebagai anggota Chaseiro.
Permainan drum Uce yang halus,artistik dan akurat merupakan daya pikat untuk sebuah rekaman.Inilah yang menghantar Uce menjadi session drummer paling sibuk di sepanjang dekade 80-an hingga 90-an. Cobalah bongkar kaset-kaset era 80-an,maka anda akan menemukan nama yang itu-itu juga : Uce Haryono.Mulai dari Chaseiro,Guruh Soekarno Putera,Chrisye,Iwan Fals,Vina Panduwinata,Ebiet G Ade,Freddie Tamaela,Ruth Sahanaya dan masih sederet panjang lagi.Bahkan Uce tergabung dalam begitu banyak band diantaranya Black Fantasy,Karimata,Spirit,Kasran Frontal hingga Bayou di era 90an.
“Saat aktif di industri rekaman thn 80-an yang lalu, aku sering minta Uce H. utk memainkan drumsnya. Permainan hi-hatnya saat itu khas sekali. Permainannya yg tidak berlebihan dan kerendahan hatinya itulah yg membuat Uce jadi drummer favorit, khususnya d era 80-an” komentar Addie MS semalam.
Tak sedikit yang membanding-bandingkan gaya permainan drum Uce dengan Steve Gadd maupun almarhum Jeff Porcaro,yang dikenal sebagai session drummer allround dan terlaris.
Selamat jalan Uce…………

Komentar
  1. alibudi mengatakan:

    Terima kasih atas infonya yang lengkap ya mas. Saya turut merasa kehilangan atas figur seorang drummer yang pernah jadi inspirasi buat saya sebagai pemain drum. Terlebih almarhum masih terus nge-drum sampai akhir hayatnya, sehingga buat saya, beliau merupakan drummer sejati. melihat seorang Uce Haryono sudah seperti melihat sebuah catatan perjalanan drum scene indonesia dari jaman ke jaman. Selamat jalan sang guru yang tidak pernah langsung mengajarkan ilmu kepada saya.

  2. reza mengatakan:

    Selamat jalan om uce haryono,smoga amal n ibadah beliau d terima اَللّهُ swt..
    Amin..
    Aku blm pernah ktmu beliau,tp 1 hari sblum nya tiba2 aku ngobrol soal om uce dgn om rudy subekti comment soal tangan kiri om uce yg cedera
    Ya,emng ga jodoh ktmu sm om uce
    Tp,beliau ud tenang kok skrg..
    Amin😀

    Regards,
    Reza

  3. billy mengatakan:

    numpang share ke fb ya gan , Respect to Om Uce…

  4. Astie Soenarjo mengatakan:

    Innalillahi wa inna illaihi rojiun.. Skalipun kita hanya sebentar2 saja berkirim2 kabar lewat bebe dan Süϑάн beberapa lama kita tidak saling menyapa mungkin krn rutinitas krj kita msg2, ttp saya bgitu kehilangan seorang teman seorang kakak sebaik mas Uce.Selamat Jalan mas .. Doa kami selalu menyertaimu. Amin..
    Astie Soenarjo dan Kel.

  5. Cap Jie Kie mengatakan:

    Innalillahi wa inna illaihi rojiun.. Skalipun kita hanya sebentar2 saja berkirim2 kabar lewat bebe dan Süϑάн beberapa lama kita tidak saling menyapa mungkin krn rutinitas krj kita msg2, ttp saya bgitu kehilangan seorang teman seorang kakak sebaik mas Uce.Selamat Jalan mas .. Doa kami selalu menyertaimu. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s