Siapa Yang Berhak Atas Nama Sebuah Band ?

Posted: Juni 29, 2011 in Wawasan

Jangan sekali-kali menganggap remeh terhadap nama sebuah band. Ini serius. Karena ketika pecah konflik dalam tubuh band, maka lazimnya akan berakhir dengan perebutan siapakah yang tetap mempertahankan atau memakai nama band yang awalnya disepakati sebagai milik bersama.

Ada beberapa contoh yang patut disimak, misalnya band rock progresif Inggris Yes di tahun 1989 berseteru dengan beberapa personil dan mantan personil Yes yang juga menggunakan nama yang sama. Akhirnya salah satu pihak bersedia tidak memakai nama Yes, melainkan inisial dari nama belakang mereka masing-masing Anderson, Bruford Wakeman & amp; Howe setelah kasus perebutan hak penggunaan nama band itu berlanjut di meja pengadilan.

Lalu ada lagi kasus perebutan hak pemakaian nama Pink Floyd yang juga diteruskan ke pengadilan. Ini terjadi diparuh dasawarsa 80-an saat Roger Waters, yang telah keluar dari Pink Floyd menuntut ketiga rekannya Nick Mason, Rick Wright dan Dave Gilmour karena tetap menggunakan nama Pink Floyd. Roger Waters akhirnya kalah di pengadilan, dan nama Pink Floyd haknya dipegang oleh 3 personil Pink Floyd yang lain. Pink Floyd itu sendiri merupakan nama yang diberikan oleh Syd Barrett, personil Pink Floyd yang telah mengundurkan diri di era 70-an.

Di Indonesia almarhum Deddy Stanzah dikenal sebagai pendiri dan pemberi nama The Rollies, ketika bersama teman-temannya membentuk kelompok musik di tahun 1967. Namun ketika Deddy Stanzah dipecat dari The Rollies karena kelakuannya yang melanggar disiplin di tahun 1973, Deddy tidak lagi memiliki kuasa atas kepemilikan nama The Rollies. Deddy akhirnya membentuk band lain dengan nama Superkid bersama Jelly Tobing dan Deddy Dorres. Seandainya ada semacam agreement pada awal pembentukan band, atau setidaknya nama the Rollies di daftarkan di Kantor Hak Cipta dan Paten oleh Deddy Stanzah, maka nama itu tetap dimiliki oleh Deddy Stanzah sebagai pencipta nama band.

Jelas sudah bahwa penggunaan nama band menjadi bagian yang tak bisa dianggap remeh lagi. Apalagi kejadian seperti diatas juga banyak ditemui dalam kancah dunia band di Indonesia.

Biasanya pada awal terbentuknya band, dimulai dengan kesepakatan menamakan band sebagai jati diri. Nah, disini sering kali terjadi hal-hal yang tak ndiinginkan ketika band tersebut mulai berbenturan dengan berbagai konflik yang pelik. Konflik dengan label rekaman, manajemen termasuk yang terbesar adalah konflik sesama anak band yang sangat krusial. Ujung-ujungnya adalah perebutan nama band sebagai jati diri atau identitas band. Hal ini kian meruncing jikalau band yang tengah bermasasalah telah memiliki nama besar yang disegani dan mumpuni. Konflik pun bisa berlangsung kian alot.

Sudah sepatutnyalah anak band lebih memahami bahasa hukum untuk menghadapi kasus kasus semacam ini. Mau tidak mau persoalan legalitas harus ditelaah lebih jauh lagi tentunya. Pemilihan atau penggunaan nama termasuk logo atau ikon untuk sebuah kelompok musik merupakan representasi dari band beserta konsep musik yang dipancangkan melalui sebuah kesepakatan. Nama itu kian memiliki makna dan harkat ketika musik dari kelompok musik itu mulai dikenali publik secara luas.

Dalam hal ini jalan keluar yang harus diambil saat pembentukan sebuah band adalah melakukan band Agreement atau Perjanjian Band yang merinci secara detil dan akurat perihal siapa yang berhak menggunakan atau memiliki nama band itu. Apakah atas nama perseorangan atau secara bersama? Dengan klausul-klausul seperti itulah apabila  terjadi konflik atau kemelut dalam tubuh band, setidaknya bisa diambil tindakan hukum yang jelas dan tepat.

Perjanjian secara hukum itu pada galibnya mengikuti kaidah hukum perjanjian seperti yang termaktub dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Jika perjanjian band secara hukum telah dibuat sejak awal band berdiri, paling tidak hal ini bisa menjadi medium untuk mengatasi berbagai kemungkinan konflik  yang bisa muncul dalam eksistensi sebuah band.

Bagi anak band yang patut dicamkan bahwa bermusik tak hanya sebatas bermain musik secara total,tapi juga harus tetap hirau pada azas azas hukum  yang berlaku.

Tak ada salahnya jika sejak dini sudah mulai mengakrabkan diri dengan piranti-piranti hukum yang kelak akan dipakai pada saat tengah berhadapan dengan permasalah hukum.

Iklan
Komentar
  1. arif berkata:

    selain kasus plagiat lagu, ternyata kasus nama juga ada. perdata lagi

  2. Prakoso berkata:

    Mas Denny. Kalo saya mau memproduksi merchandise seperti kaos bergambar logo2 band terkenal atau sampul2 PH, kaset, disc apakah harus minta ijin ke label atau cukup ke KCI misalnya? Terus cara bayar royaltynya gimana?
    Atau tidak perlu? Karena dengan demikian saya toh turut mempromosikan album mereka?
    Saya suka sekali artwork sampul2 album musik itu keren2.
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s