Return of The Djody

Posted: Juli 10, 2011 in Sosok

Setiawan Djody di studio musik di rumahnya

Setiawan Djody kembali memetik gitar,kembali menulis lagu,kembali bernyanyi.Ini pertanda bagus.Belakangan ini bersama sahabat sahabatnya Setiawan Djody kerap bernyanyi di karaoke.Lalu ikut menyumbang lagu saat menikmati secawan kopi di sebuah kafe.Bahkan 30 Juni silam Djody ikut tampil di atas pentas Hard Rock Café Jakarta dalam acara bertajuk #Retweet yang menampilkan KJP,Fariz RM dan Once.Di acara itu saya menjadi pemandu acara.Sebelum memainkan lagu bersama dukungan Totok Tewel (gitar),Doddy Keswara Katamsi (vokal),Tony Roxx (bass),Edi Daromi (keyboards) serta dua drummer Ikmal Tobing dan Bakar Muftein ,saya bertanya ke Setiawan Djody :”Apa yang membuat anda tertarik kembali bermusik”.Dengan senyum yang menyunggging Djody berkata lirih :”Karena musik adalah hidup saya.Musik adalah jiwa saya”.Jrenggg.Malam itu Setiawan Djody seperti tengah melakukan sebuah pemanasan dari sesuatu yang akan digarapanya lagi dalam bentuk kolosal seperti yang pernah dilakukannya di tahun 1990 melalui medium Kantata Takwa.

Sejak bulan lalu saya terlibat beberapa perbincangan dengan Setiawan Djody.Bukan perbincangan formal dan berat.Tapi lebih kesebuah silaturahmi yang telah sekian lama berjarak.Dalam sebuah percakapan di restauran Mandarin di kawasan Pecenongan yang juga dihadiri Once dan beberapa kawan lain,Setiawan Djody bertutur tentang niatnya untuk kembali di pelataran musik Indonesia.”Sudah saatnya saya kembali” ungkapnya lirih sembari tersenyum.

“Saya sudah merencanakan untuk menghidupkan lagi Kantata Takwa.Tapi kali ini dengan nama Kantata Baroque” tukasnya.

“Kenapa tidak Kantata Takwa saja mas ?” sergah saya.

“Nama Takwa itu terlalu berat.Jadi saya malah tertarik untuk menggantinya dengan Baroque.Baroque itu adalah sebuah pencapaian seni.Dulu saya sempat merasa aneh ketika Jabo memberi nama grupnya Sirkus Baroque” imbuhnya lagi.

Memang belakangan ini Setiawan Djody,sang maesenas ini banyak melakukan pemanasan.Diantaranya adalah ikut tampil dalam konser Sirkus Baroque yang digelar di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Mei lalu.

“Itu sebetulnya hanya spontanitas saja.Jabo menarik saya ke pentas untuk bernyanyi.Iwan juga ditarik Jabo ke atas pentas.Lalu ada Naniel.Dan kita kemudian membawakan Bento.Sambutan malam itu membuat saya yakin” kata Setiawan Djody yang rambutnya telah putih keperakan.

Tanggal 23 Juni 2011 silam lalu saya berada di rumah kediaman Setiawan Djody yang terletak dikawasan Kemanggisan Jakarta.Saat itu ada KJP dan Once yang melakukan latihan untuk konser #Retweet bersama Setiawan Djody.

Perbincangan pun berlanjut.Secara kebetulan malam itu mengingatkan saya pada kehebohan Kantata Takwa yang tampil secara kolosal di Stadion Senayan Jakarta (sekarang Gelora Bung Karno) tepat pada tanggal yang sama 23 Juni 1990.Setiawan Djody pun bertutur kilas balik tentang konser terbesar musik di Indonesia sepanjang zaman itu.

“Saat itu saya memang ingin melakukan semacam gerakan perubahan.Dan saya yakin itu bisa tercapai dengan musik” papar Setiawan Djody.

Konser yang juga diabadikan dalam film yang dibesut Erros Djarot dan Gotot Prakoso itu tak berlebihan jika dianggap sebagai sebuah milestone.Bukan lagi gerakan musik belaka tapi telah berubah menjadi gerakan budaya.

Setidaknya itu terlihat dalam Kantata Takwa yang melibatkan nama WS Rendra,Iwan Fals,Sawung Jabo,Yockie Surjoptajogo dan berderet-deret pemusik terbaik Indonesia saat itu.

Lagu lagu seperti Kantata Takwa,Kesaksian hingga Paman Doblang seperti ingin mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang menyimpang dari tatanan sosial politik di negeri ini yang saat itu dikendalikan rezim Orde Baru yang maha kuat dan super sakti.

Kesaksian Kantata Takwa itu kian diperkuat dengan dua lagu yang diambil dari kelompok Swami Bento dan Bongkar  yang didukung Iwan Fals,Sawung Jabo,Naniel,Nanu,Yockie Surjoprajogo,alamrahum Innisisri dan Setiawan Djody.

Lagu Bento dan Bongkar setidaknya sat itu menjadi semacam anthem rakyat yang tertindas.

Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutive
Tokoh papan atas atas s’galanya asyik . . . . . . . . .
Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal jagal apa saja
Yang penting aku menang aku senang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik sekali lagi asyik . . . . . . .

Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti oh . . . jagonya . .
Maling kelas teri bandit kelas coro itukan tong sampah
Siapa yang mau berguru datang padaku
Sebut tiga kali namaku Bento . . . .Bento . . . . Bento . . . . .
Asyik . . . . . . . ! ! ! ! ! ! Asyik . . . . . .

 

“Anda ikut dalam proses penciptaan lagu Bento.Sebetulnya siapa Bento itu ? ” tanya saya.

“Bento itu banyak di Indonesia.Bahkan lagu itu sebetulnya bisa juga merupakan kritik saya terhadap saya sendiri” papar Djody .

Bahkan untuk Kantata Baroque yang akan digelar kembali di Gelora Bung Karno pada November 2011 ini,lagu Bento akan dibawakan lagi dengan sedikit perubahan lirik dan judul lagunya diubah menjadi “Bento Barong”.

“Dalam Bento Barong liriknya antara lain saya ubah.Jika dulu “namaku Bento”,kini saya ubah jadi “Akulah Bento” ungkap Djody lagi.

Malam ini minggu 10 Juli 2011,Setiawan Djody melakukan silaturahmi di kediamannya bersama sejumlah pemusik dan juga jurnalis.”Sudah  lama saya tak melakukan kumpul kumpul dengan mereka” tutur Setiawan Djody .

Lalu kenapa saya melumuri judul tulisan ini dengan Return Of The Djody ? Karena entah kenapa usai berbincang bincang dengan Setiawan Djody saya teringat dengan salah satu sequel film fiksi ilmiah Star Wars bertajuk Return of The Jedi.

Jedi  adalah para anggota sebuah organisasi biarawan yang kuno dan luhur serta arif bijaksana, yang terkenal karena bakat mereka dalam menggunakan dan menghormati The Force. Dengan menggunakan benda-benda hidup di sekitar mereka untuk menggunakan The Force dan memainkan pedang cahaya khas mereka, para anggota Organisasi Jedi ini bertempur untuk mempertahankan kedamaian dan keadilan di Galactic Republic selama sekitar 20.000 hingga 25.000 tahun sebelum Perang Yavin.

Mungkin tak berlebihan jika Djody saya anggap sebagai Jedi.Djody tak menggunakan pedang cahaya,tapi gitar elektrik ya….representasi dari musik untuk menohok sejumlah ketimpangan dan keganjilan dalam konstelasi sosial maupun politik di negeri ini.

Ah….sudahlah jadi ngelantur ha ha ha.Yang jelas kembalinya Setiawan Djody menggamit pemusik seperti Iwan Fals dan yang lainnya moga-moga bukan sebuah pencitraan seperti yang dilakukan para pejabat pejabat negeri ini belakangan ini.

Denny Sakrie

Saya tengah ngobrol dengan Setiawan Djody sebelum konser di Hard Rock Cafe

Iklan
Komentar
  1. Novan Prasetyo berkata:

    semoga Kantata Baroque bisa membawa kenangan waktu saya masih kelas 1 SMP nonton konser kantat takwa di alun-alun kota solo

  2. dennysakrie63 berkata:

    Terimakasaih sudah mampir di blog saya ya

  3. gono berkata:

    Kantata apa saja kalau Rendra sudah nggak ada (Kesaksian, Paman Doblang dll) lantas di mana letak kekuatannya? Jangan-jangan hanya akan menjadi suatu konser rock biasa saja dengan (mungkin) para musikusnya yang piawai.

  4. D2N berkata:

    GW TUNGGU KABAR DAN MUSIKNYA KANTATA YG BARU GW KANGEN MA LAGU2 KANTATA YG 2 ALBUM,MOGA SUKSES TUK KANTATA BAROQUE

  5. surono berkata:

    siip….legend pda reunian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s