Fatamorgana Musik Pop Indonesia

Posted: Juli 12, 2011 in Opini

Gigi di panggung (Foto Rico Lie)

(Tulisan ini dimuat di koran Tempo Minggu 21 Desember 2008)

Musik pop Indonesia riuh pada 2008. Band-band tak terhitung hilir-mudik. Ada Nidji, Letto, Ungu, d’Masiv, The Rock, Andra & The Backbone, Yovie & The Nuno, Baron Soulmates, The Titans, Peterpan, Seurieus, Radja, Kerispatih, Maliq & D’Essentials.

Ada pula band-band lama yang masih aktif, seperti GIGI, Sheila On 7, Jikustik, Dewa 19, Padi, termasuk KLa Project, yang melakukan reuni dengan nama KLa Return.

Keriuhan itu kian menjadi-jadi dengan merebaknya band-band baru dengan warna seragam: pop (rasa) Melayu. Itu bermula dari Kangen Band yang diambil Warner Bros dari lembah “bajakan”. Kemudian bermunculan band setipe, seperti ST 12, Republik, Matta, Vagetoz, Wali, Pilot, Merpati, dan Hijau Daun. Umumnya mereka hanya mengandalkan satu hit.

Jika ingin tahu berapa banyak band macam ini, tinggal saksikan beberapa kanal televisi swasta yang menyiarkan acara musik sepanjang tahun ini. Misalnya ada Inbox di SCTV, Dahsyat di RCTI, dan Klik di ANTV.

Tak sedikit yang mencemooh kualitas musik band-band ini. Lihat saja lirik yang hanya berkutat dari soal selingkuh dan selingkuh. Pengungkapan yang dangkal bahkan mencuatkan epigonistik yang tebal. Simak lirik dari lagu Merpati, Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah:

Betapa kumengerti sebagai selingkuhanmu
Kuharus menjalani ikatan yang tersembunyi
Kumencoba bertahan meskipun menyakitkan
Tak menyisakan sebuah sesal di hatiku….

Atau simak lagu dari ST 12 bertajuk P.U.S.P.A:

Jangan jangan kau tak terima cintaku
Jangan jangan kau hiraukan pacarmu
Putuskanlah saja pacarmu
Lalu bilang I love you padaku….

Memang hal ini lumrah dalam musik pop. Namun, keseragaman musik dengan penurunan kualitas bermusik sangat kuat mencengkeram musik pop pada 2008. Bahkan major label seperti Warner Musik Indonesia maupun Sony Music Indonesia, yang dikenal cukup selektif

memilih artisnya, toh mengedepankan band seperti Kangen Band (Warner Music Indonesia) dan Vagetoz (Sony BMG Indonesia).

Sepertinya major label tengah limbung. Penjualan fisik menurun drastis. Bahkan kebangkrutan telah berada di depan mata. Badai pembajakan tiada henti. Warner bahkan mengejar Kangen Band, yang populer justru dari lapak-lapak bajakan di Sumatera.

Kerja major label memang bagaikan jalan pintas. Mengendus sebuah band yang tengah diminati khalayak, lalu membawanya ke bilik rekaman. Kambing hitam pun dicari: selera pasar.

Fenomena semacam ini selalu mengemuka secara periodik. Mari kita balik ke beberapa tahun silam. Ketika Rachmat Kartolo berjaya dengan lagu Patah Hati pada 1960-an, industri musik pop lalu menguntit kesuksesan lagu yang dikonotasikan cengeng tersebut.

Ketika Koes Plus menuai sukses pada awal 1970-an, seketika bermunculan band epigon yang meniru habis gaya bermusik Tonny Koeswoyo dan kawan-kawan itu.

Ingat pula tatkala mencuatnya lagu-lagu cengeng yang digagas Rinto Harahap pada 1980-an. Saat itu pula muncul pembonceng, seperti Pance Pondaag, Obbie Messakh, dan Wahyu O.S.

Toh, arus utama yang kian menggelegak itu pada akhirnya tiba pada titik nadir yang mencapai taraf paling membosankan. Pada saat itulah muncul counter yang bertolak belakang. Ada suatu yang baru dengan cepat memikat titik perhatian.

Misalnya, pada 1977, saat musik pop Indonesia terdengar sangat seragam, muncullah lagu-lagu yang melesat dari ajang Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors dan album Badai Pasti Berlalu. Mereka seolah menguak sebuah atmosfer musik baru dan memberi napas segar.

Lalu terdengarkah kini gerakan musik yang dipastikan akan menaklukkan pola pop seragam pada 2008 hingga memasuki 2009?

Jika kita teliti secara saksama, hal itu sudah mulai terdeteksi. Gerakan indie label yang semula seperti menganyam dunia sendiri secara perlahan mulai dilirik. Beberapa di antaranya seperti Mocca, White Shoes & Couples Company, Sore, The S.I.G.I.T, Zeke & The Popo, dan Efek Rumah Kaca. Mereka mulai menempati relung-relung penyimak musik pop Indonesia.

Tak hanya itu, band-band indie ini bahkan secara diam-diam mulai berekspansi ke luar Indonesia. White Shoes & Couples Company, misalnya, telah melakukan konser di beberapa kota di Amerika Serikat pada Maret dan Oktober 2008. Mereka tak hanya tampil di depan publik Indonesia di sana, tapi juga berhadapan langsung dengan warga negara itu.

Tak sedikit grup indie yang melakukan tur di mancanegara. Ini sebuah terobosan seiring dengan berkembangnya teknologi informatika yang menyediakan etalase musik dunia maya, seperti Myspace hingga YouTube. Dengan mengunggah musik di situs-situs online, karya-karya pemusik Indonesia mulai menjelajah ke seantero jagat.

White Shoes & Couples Company bahkan menjalin kontrak dengan label Minty Fresh di Amerika Serikat. Produk indie label seperti dari Aksara Records, Fastforward, Sinjitos, dan Nubuzz mulai ikut berdampingan dipajang dalam gerai musik di berbagai kota besar.

Band-band dengan keragaman genre musik perlahan mulai bergeming, seperti RAN, Soul Seven, Everybody Loves Irene, Soulvibe, dan Sister Duke. Bahkan ada yang melakukan hibrida musik, seperti Bondan Prakoso & Fade 2 Black, yang memempelaikan hip-hop dan keroncong.

Lihat pula terobosan kelompok Suarasama yang menghibridakan musik Gondang, Zapin, dan world music. Suarasama memang mendapat pujian dari berbagai belahan dunia lewat album Fajar di Atas Awan.

Di tengah-tengah berkumandangnya lagu-lagu pop (rasa) Melayu, tiba-tiba mencuat, misalnya, lagu Kepompong dari Sind3ntosca. Lirik mereka sangat bertolak belakang dengan keseragaman tema dari gugusan musik arus utama.

Kulminasi dari musik pop beraroma seragam sepertinya hanya tinggal menunggu waktu. Menyimak lirik Kepompong, mencuatkan semacam oasis yang menyejukkan:

Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah….

Pada akhirnya, kedigdayaan musik pop Indonesia semestinya tak hanya sebatas fatamorgana.

Denny Sakrie, Pengamat musik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s